Monthly Archives: November 2015

Van Der Steur, sang Santo penyelamat Anak-anak

Standard

Siapa yang belum pernah mendengar nama “pandestiran”? Bagi orang Kota Magelang yang berusia di atas 50 tahun pasti akan yau dengan nama ini. Ya, nama ini merujuk pada nama seorang tokoh terkenal di jamannya yaitu Pa van De Steur. Seorang Belanda yang peduli terhadap anak-anak terlantar. Beliau lahir pada tahun 1865 dan meninggal 1945 di Magelang.

Van der Steur bisa di anggap sebagai seorang santo karena selama ini dari panti asuhan yang didirikannya  mampu mengasuh sekitar 7000 anak. Lokasi panti asuhannya sendiri berada di Meteseh, sebelah utara Residenan.

https://indischelezingen.files.wordpress.com/2014/06/wpsteur.jpg?w=316&h=234

Anak-anak yang menjadi anak asuhnya kebanyakan adalah anak-anak yang ayahnya yang menjadi tentara Belanda meninggal karena perang. Orangtua mereka kebanyakan menjadi tentara KNIL dan berasal dari daerah Maluku dan sekitarnya.

Vier foto’s op één bladzijde: De weeskinderen in Huize Oranje Nassau, opgericht door Johannes(‘Pa’) van der Steur(1865-1945), zendeling in Nederlands-Indië. Te zien zijn o.a. een klaslokaal en een naaiatelier. Magelang, 1930.

sumber : Koninklijke Bibliotheek

Ada empat foto tentang bangunan ‘ Huize Oranje Nassau ‘ penampungan anak yatim yang didirikan Johannes ‘Pa’ Van de Steur (1865 – 1945 ), Seorang misionaris Belanda. Pada foto di atas Nampak ruang kelas tengah mengajarkan jahit menjahit dan nampak juga ruang dalam yang menyerupai sebuah kapel. Lokasi foto ini diambil di Magelang 1930

Plengkung, Bangunan Bersejarah yang Terancam Rusak karena Vandalisme

Standard

Plengkung, siapa yang tidak kenal dengan bangunan nan eksotis ini. Bangunan fenomenal yang di bangun pada tahun 1883 ini masih berdiri tegak hingga kini. Bangunan setinggi 7 meter ini pada bagian atasnya merupakan selokan air yang bernama ‘boog kotta leiding” atau terkenal sengan sebutan Kali Kota. Nah Kali Kota ini berfungsi untuk mengalirkan air irigasi dengan sumber dari kali manggis yang ada di Pucangsari. Mengalir sejauh 5 km menuju ke Kampung jambon.

Yang menarik adalah posisi adalah boog kali kota posisinya lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Dan pada bagian tertentu, pada bagian bawahnya terdapat terowongan yang si sebut dengan Plengkung. Plengkung di buat karena ada jalan yang melintas di bawah boog kali kota tsb. Nah pada aliran air dari boog kali kota tersebut terdapat 3 Plengkung, yaitu Plengkung Baru di Badaan, Plengkung Lama di dekat SMK 3 [jl. Piere Tendean] dan Plengkung Tengkon di Jl. Daha.

Plengkung Baru

Plengkung Lama

Plengkung Tengkon

Tetapi sangat di sayangkan bahwa Keajaiban yang di miliki Kota Magelang ini kini terancam rusak oleh ulah tangan-tangan jahil para vandal. Seperti beberapa foto di bawah ini.

Upaya Pemkot Magelang sebenarnya sudah semaksimal mungkin dalam upaya mengurangi aksi vandalisme ini. Salah satunya adalah selalu mengecat kembali aksi coret-coret ini. Akan tetapi ketika sudah bersih maka aksi ini kembali lagi mengotori Plengkung.

Aksi vandalisme biasanya di lakukan pada malam hari di saat sepi. Tentu saja aksi ini tidak diperkenankan apaun alasannya, karena sudah mengganggu ketertiban dan mengancam kelestaraian Plengkung sebagai cagar budaya.

Bayeman, kawasan elit di masanya

Standard

Bayeman, sebuah nama kawasan si wilayah Kota Magelang. Sebuah kawasan yang ada di sisi barat laut sari Bukit Tidar dan beberapa ratuys meter dari Aloon-aloon Kota Magelang. Nama kampung ini sudah ada sejak jaman Magelang masih berwujud Kademangan. Bahkan dalam beberapa literatur nama kampung ini dapat di ketemikan. Pada jaman dulu Bayeman merupakan perkebunan tanaman bayam. Sehingga kawasan ini di sebut dengan Bayeman.

Sebuah jalan membelah kawasan ini dari selatan menuju ke utara. Di jaman Belanda, sepanjang jalan ini menjadi hunian eksklusif bagi orang-orang Belanda. Rumah-rumah nan cantik dengan berbagai arsitekturnya mulai di bangun. Apalagi kondisi tanah yang memungkinkan para pemilik rumah bisa membangun rumah dengan menghadap ke Gunung Sumbing dan Perbukitan Giyanti di sebelah barat.

tahun 1910

 

Dahulu di awal tahun 1900 ruas jalan Bayeman ini bernama “moordenaarslaan”, yang artinya jalan yang mengerikan. Karena saat dulu kondisi jalan masih sempit, berwujud tanah dan pada sisi barat merupakan jurang. Seringkali kendaraan bermotor terperosok ke jurang tsb.

Jalan Bayeman ini pada masanya pada sisi jalan kanan dan kirinya banyak tumbuh pohon Asem dan Kenari, sehingga terasa teduh ketika masyarakat melewati jalan ini.

Jalan Bayeman tahun 1950an

Mahasisiwa UNNES Semarang adakan seminar sejarah Perjuangan Rakyat Tulung

Standard

Bapak Abak Roflin [tengah berbatik dan berpeci] dan Ibu Woro Dofian [tengah berjilbab kuning] sebagai nara sumber sejarah [foto : Wisoyoko Magelang]

70 tahun yang lalu telah terjadi sebuah peristiwa nan kelam dalam sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaannya. Ya, saat itu pada tanggal 28 Oktober 1945, tentara bantuan Jepang dari Semarang sebanyak 7 truk menurunkan personelnya di pertigaan jalan Payaman pada jam 08.00 WIB. Tentara Kido Butai dibagi menjadi 2 kelompok untuk menyerang Kota Magelang. Kelompok pertama dari pertigaan Payaman terus bergerak ke Selatan. Kelompok kedua menuju kearah barat sampai di mata air Kalibening, kemudian ke selatan melalui menelusuri Sungai Bening menuju Kampung Tulung.
Di sebuah dapur umum inilah Tentara Kido Butai menembaki setiap orang yang berada dihadapannya, tidak ada belas kasihan sehingga baik laki-laki, perempuan, dan anak kecil pun menjadi korban kekejaman. Puluhan rakyat meninggal karena kekejaman tentara Jepang ini. Rakyat Magelang menangis kala mengingat kisah tragis ini.

Nah kisah sejarah inilah yang coba di angkat dalam acara tentang Seminar Konservasi Kesejarahan dengan penyelenggara oleh Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Kegiatan ini mengambil tema Acara “Rekam Jejak Sejarah Perjuangan Rakyat di Kampung Tulung Magelang”.
Acara yang di laksanakan pada hari Sabtu 21 November 2015 bertempat di halaman rumah Ibu Dovian Widarso Kampung Tulung Kel. Magelang Kota Magelang. Sebagaimana di ketahui, rumah milik ibu Dovian ini pada masa perjuangan dulu merupakan dapur umum untuk pejuang [BKR].

Dalam acara ini menghadirkan 2 narasumber yaitu Bapak Abak Roflin (Mantan Tentara BKR) yang menjadi saksi mata saat periwtisa itu terjadi dan Ibu Dovian Widarso selaku pemilik eks dapur umum [ahli waris].

Kegiatan yang di hadiri oleh selitar 100 orang ini berasal dari masyarakat Kampung Tulung, Komunitas KOTA TOEA MAGELANG, MAGELANG KEMBALI, pelajar, dinas, mahasisiwa UNNES, kelurahan , dll. Madyarakat setempat berharap bahwa sejarah yang ada di kampung Tulung ini jangan sampai hilang. Karena itu masyarakat meminta kepada pemerintah Kota Magelang agar Kampung Tulun bisa menjadi Kampung Pahlawan.

Monumen Sejarah di Kampung Tulung