Monthly Archives: December 2013

EVENT KOTA TOEA MAGELANG DI TAHUN 2013 : 15 EVENT DALAM 12 BULAN !

Standard

Tak terasa tahun 2013 akan segera berlalu. Tak terasa pula 365 hari akan segera berganti menghitung ulang di tahun yang baru pula. Detik menuju menit akan mengubahnya menjadi catatan hari, bulan dan tahun. Tidak ada yang bisa menahannya barang sedetik saja. Di tahun 2013 ini di kalangan para pegiat heritage dicanangkan sebagai “TAHUN PUSAKA INDONESIA 2013”. Di mana berbagai komunitas, organisasi maupun perkumpulan berlomba-lomba membuat berbagai kegiatan yang bertema tentang pusaka. Tak terkecuali dengan yang ada di Magelang.

Selama setahun pula Komunitas KOTA TOEA MAGELANG mencoba berusaha mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertema history dan heritage. Tujuannya adalah untuk lebih mengedukasi masyarakat akan pentingnya sejarah dan pelestarian cagar budaya. tidak bisa tidak bahwa kunci pelestarian selain ada pada pemerintah juga ada pada masyarakat. Tetapi cara untuk mengedukasi tentu dengan cara yang sederhana, mudah , murah dan mengasyikan. Oleh karena itu maka acara-acara yang di adakan lebih bersifat santai namun serius tanpa harus meninggalkan misi utama, yaitu edukasi.

Berbagai kegiatan itu tidak melulu di laksanakan pada satu tempat, satu tema ataupun satu waktu. Tetapi acara yang di gelar merupakan acara yang di kemas sedemikian rupa sehingga bagi peserta yang mengikuti akan merasa enjoy menikmati. Acara itu bisa di dalam ruangan maupun luar ruangan. Kalau di dalam ruangan biasanya seperti acara sarasehan, bedah buku, remboeg sedjarah, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan di luar ruangan biasanya berupa jelajah atau berpetualang di alam bebas.

Yang istimewa dari acara yang di gelar selama satu tahun tidak ada yang sama, baik mengenai tema maupun konten acara. Seperti diketahui bahwa dalam setahun KOTA TOEA MAGELANG berhasil menggelar event sebanyak 15 kali ! Sungguh hal yang luar biasa mengingat kegiatan yang di adakan sifatnya mengalir tanpa perencanaan yang di agendakan jauh -jauh hari.

Acara yang di adakan lebih berupa menggali sejarah di seputar Magelang dan sekitarnya. Seperti di ketahui bahwa masuh banyak masyarakat Magelang yang belum mengenal wilayahnya sendiri, baik di kota maupiun kabupaten. Hal ini tentunya sungguh ironis mengingat wilayah Magelang kaya akan sejarah, baik peninggalan dari era Hindu, Budha, Islam, Kolonial, Tradisional/Jawa, Tionghoa dll. Nah untuk itu maka KOTA TOEA MAGELANG sebagai sebuah komunitas yang berbasis history dan heritage merasa terpanggil untuk mengenalkannya kepada masyarakat.

Event yang PERTAMA di bulan Januari adalah mengenai ““Djedjak Sedjarah Kota Magelang tahoen 1923” Minggu 13 Januari 2013 di Museum BPK Kompleks Eks Karesidenan Kedu Kota Magelang. Acara ini mengupas kondisi Kota Magelang di tahun 1923 berdasarkan sebuah peta kuno berjudul Stadskaart Magelang 1923 koleksi dari Topen Museum.

Peserta berfoto bersama usai kegiatan “Djedjak Sedjarah Kota Magelang tahoen 1923”

Yang menjadi kajian terpenting di tahun 2013 adalah tentang permasalahan perlindungan cagar budaya di Kota Magelang yang pada saat itu menjadi topik hangat di kalangan pemerintahan, media dan masyarakat. Pada saat itu permasalahan ini sudah di bahas di level pemerintahan, baik antara Pemerintah Kota Magelang dan DPRD. KOTA TOEA MAGELANG/KTM pun juga terlibat dalam pembahasan Raperda Cagar Budaya. Maka dari itu KTM mengambil inisiatif untuk mengadakan event sendiri dengan menghadirkan beberapa nara sumber, di antaranya adalah Wahyu Utami [pemerhati heritage Magelang], Suko Tri Cahyo [Kepala Disporabudpar Kota], Eddy Sutrisno dan Waluyo yang mana keduanya adalah anggota dewan khususnya komisi C yang menangani tentang Raperda Cagar Budaya.

Event KEDUA ini di adakan 27 Januari di Museum BPK kompleks gedung Eks Karesidenan Kedu Jl. Diponegoro.

flyer publikasi event

Pemaparan dari Wahyu Utami tentang kondisi Kota Magelang

Event yang KETIGA adalah “DJELADJAH PETJINAN” yang di adakan pada tanggal 17 Februari. Tujuan kegiatan ini untuk lebih mengenalkan sejarah Pecinan di Kota Magelang, baik sejarahnya, maupun sosial dan budayanya. Beberapa lokasi kunjungan adalah di kelenteng Liong Hok Bio, kawasan Pecinan, Gedung Bunder di Jaranan, Pabrik cerutu “Ko Kwat Ie” di Prawirokusuman, rumah peninggalan Ko Kwat Ie di Juritan eks sekolah Cina THHK, dan pengrajin Barongsai di Tengkon.

Peserta berfoto bersama di depan kelenteng Liong Hok Bio

Djeladjah Petjinan di depan Gedung Bunder

Di bulan April event besar menyambut Hari Jadi Magelang telah menanti. Acara tahunan ini bertajuk Pameran “Magelang Tempo Doeloe” yang di gelar di area kompleks Gedung Eks Karesidenan Kedu di Jl. Diponegoro Magelang. Dan merupakan acara yang KEEMPAT yang di laksanakan.

Pameran ini merupakan event yang di dukung penuh oleh pemerintah kota Magelang bersama Dewan Kesenian Kota magelang dan berbagai komunitas perintis event yaitu Komunitas Sepeda Kuno Old Bikers VOC Magelang dan KOTA TOEA MAGELANG. Berbagai sub acara di adakan seperti pameran foto Magelang Tempo Doeloe, pameran Sepeda Kuno, Motor antik, mobil kuno, barang-barang antik, kuliner tradisional, Pameran arsip kuno, uang kuno, jelajah, sarasehan, pementasan kesenian tradisional, dll.

Suasana pameran Magelang Tempo Doeloe

Mobil kuno di pajang di pameran MTD

Event KELIMA adalah  sarasehan mengenai “NAMA-NAMA DJALAN TEMPO DOELOE TAHUN 1935 DI KOTA MAGELANG” yang di adakan bekerja sama dengan Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang. Acara ini di laksanakan untuk memeriahkan  Pameran Buku dan Arsip di Gedung Tri Bhakti Kota Magelang 19 Mei 2013. Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/05/21/liputan-dari-remboeg-sedjarah-nama-nama-djalan-tempo-doeloe-tahoen-1935-di-kota-magelang/

Peserta berpose setelah acara selesai

Di tanggal 9 Juni sudah menunggu event KEENAM berikutnya yaitu DJELADJAH DJALOER SPOOR, djoeroesan : Sejang-Tjandi Oemboel. Jalur mati ini sangat asyik untuk di jelajahi mengingat rutenya melewati sawah, hutan, dan perkampungan dengan pesona pemandangan yang indah dan petualangan yang yang mengasyikan. Selengkapnya di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/06/19/liputan-dari-even-djeladjah-djaloer-spoor-djoeroesan-setjang-tjandi-oemboel-minggu-9-juni-2013/

Di depan Stasiun Secang

Peserta berada di depan eks stasiun Candi Umbul yang tinggal reruntuhan banguan saja

Di bulan Juli tepatnya di tanggal 7 ada 2 kegiatan yang di adakan [event ke TUJUH dan KEDELAPAN] , yaitu DJELADJAH PLENGKOENG dan AKSI BERSIH MAKAM VAN DER STEUR.

Untuk DJELADJAH PLENGKOENG  sangat mengasyikan karena lokasi yang di jadikan tujuan berada di tengah kota. Menempuh rute dari  Pucangsari-Kebondalem-Badaan-Poncol-Aloon2-Tengkon-Bayeman hingga Jagoan sepanjang lebih dari 5 kilometer. Fungsi saluran air di atas bangunan ini untuk mengairi sawah, menyirami tanaman, menggelontor kotoran dll. selengkapnya ada di sini https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/07/15/liputan-djeladjah-plengkoeng-bersama-komunitas-kota-toea-magelang/

Nampang di atas Plengkung Baru Badaan yang di bangun tahun 1920

Di atas Plengkung Lama yang di bangun tahun 1883

Sedangkan Aksi Bersih di Makam Van der Steur ada di sini https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/07/19/komunitas-kota-toea-magelang-adakan-aksi-sosial-bersih-bersih-makam-tokoh-legendaris-pa-van-der-steur/.

Van der Steur merupakan tokoh kemanusiaan yang sangat peduli kepada anak-anak. Lokasi makamnya ada di kompleks eks Kerkhoof di Jalan Ikhlas Kota Magelang. Semasa hidupnya telah mengasuh sebanyak 7000 anak asuh.

Mendengarkan penjelasan dari Bu Tatik  seorang yang di percaya untuk mengelola makam

Saat bersih-bersih area makam van der Steur

Sesudah puasa dan masih hangat dengan suasana lebaran, KTM menggelar event KESEMBILAN yang bertajuk DJOEMPA KERABAT KOTA TOEA MAGELANG yang di adakan di warung Makan Voor de Tidar jagoan. Selengkapnya di https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.633642623333869&type=1

Tujuan kegiatan ini tidak hanya sekedar bersilaturahmi, tetapi juga untuk sarana memberi masukan, kritikan, saran dan pendapat Kerabat KTM terhadap keberadaan komunitas.

Suasana DJOEMPA KERABAT KTM

Pada tanggal 1 September juga di adakan bedah skripsi dari seorang mahasiswa UGM jogja tentang”Orang-orang Indo Di Magelang 1906-1942″ oleh Teddy Harnawan.

Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/09/07/di-bawah-bayang-bayang-modernitas-orang-orang-indo-di-kota-magelang-1906-1942-2/ dan http://hamidanwar.blogspot.com/2013/09/siapa-sangka-gaya-hidup-orang-indo-di.html

Nara sumber sedang presentasi

suasana saat peserta mengikuti kegiatan

di bulan September, Olivier Johannes dari Belanda hadir ke Magelang untuk berbagi ilmunya. Event KESEBELAS ini sangat spesial sekali dengan kehadiran olivier Johannes dari Belanda. Apalagi materi acaranya tentang bedah buku yang dia tulis. Buku tersebut mengungkap kartu pos lawas yang pernag beredar di Hindia Belanda yang menceritakan tentang Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe.

Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/09/22/bedah-buku-pekerdja-di-djawa-tempo-doeloe-bersama-olivier-johannes-raap-dari-belanda/ dan di https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.652564654774999&type=1

Peserta foto bersama di depan lokasi acara usai acara berlangsung

Event KEDUABELAS adalah DJELADJAH SITOES & TJANDI DI TEMANGGOENG yang dilaksanakan pada tanggal 13 oKTOBER. Tempat yang dikunjungi adalah Gondosuli, Pringapus, Jumprit , Liyangan dan beberapa situs di sekitarnya.

Foto-foto kegiatan ada disini https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.664966023534862&type=1

Foto dulu sebelum berangkat

di situs Liyangan

di Candi Pringapus

Di Candi Gondosuli

Event KETIGABELAS adalah inventarisasi bangunan era kolonial di Kota Magelang kerjasama antara Jurusan Arkeologi Fak. Ilmu Budaya UGM Jogajakarta yang di laksanakan pada tanggal 16-17 Vovember 2013. Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/12/07/ugm-dan-kota-toea-magelang-inventarisasi-bangunan-cagar-budaya-kota-magelang/

saat kunjungan ke Gedung Bunder dan Pecinan

Event KEEMPATBELAS adalah DJEDJAK 200 TAHOEN SEDJARAH KABOEPATEN MAGELANG. Seperti di ketahui, dahulu Danukromo menjadi bupati pertama yang memerintah Magelang di tahun 1810. Jejak sejarahnya masih dapat di temui hingga kini seperti Masjid Agung Kauman dan Alun-alun. Sejarahnya seperti terlewatkan begitu saja sehingga oleh KTM perlu di ungkap riwayatnya. Termasuk keberadaan trah dan keturunannya yang masih ada hingga kini.

Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/12/07/even-minggu-1-desember-2013-latjak-djedjak-200-tahoen-sedjarah-kaboepaten-magelang/

silaturahmi dengan Mbah Mad, keturunan dari Danuningrat

Silaturahmi dengan Eyang Romlah, keturunan dari Danusugondo

Event KELIMABELAS adalah KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG dengan menghadirkan Dr. Wahyu Utami seorang pemerhati heritage di Magelang. Dr. Wahyu Utami merupakan putra asli Magelang yang dalam disertasinya mengungkap keberadaan Magelang dalam konsep saujana dimana Magelang di kitari oleh 7 gunung dan 2 sungai. Dr. Wahyu Utami merupakan doktor ketiga di UGM yang mengangkat saujana dalam disertasinya. Dalam usia kurang dari 40 tahun telah mampu meraih gelar kedoktorannya di UGM Jogjakarta.

Wahyu Utami [tengah berjilbab] dengan kawan KTM saat sesudah ujian terbuka promosi doktor 9 Desember 2013.

Hasil liputan selengkapnya ada di http://hamidanwar.blogspot.com/2013/12/magelang-setitik-surga-di-muka-bumi.html

hanya satu kata untuk event yang di gelar oleh KTM, LUAR BIASA…

Terimakasih buat Kerabat KTM yang sudah mendukung penuh kegiatan2 yang di adakan. Spesial buat Ryan Corleone yang slalu membantu pembuatan flyer publikasi event . Thanks for all yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Juga buat kawan2 yang foto2nya dan liputannya kami “pinjam”. Dan semoga bermanfaat buat kita semua.

SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG !

MAGELANG, THE HERITAGE CITY !

penulis : Bagus Priyana

foto-foto : Kerabat KOTA TOEA MAGELANG

Riwayat Singkat Pendirian Kabupaten Magelang

Standard

Gubernur Jenderal Janssens menggantikan Herman Willem Daendels (1808-1811) sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Janssens pada masa pemerintahannya menghadapi kesulitan untuk memulihkan pertahanan yang belum stabil. Pada tanggal 3 Agustus 1811, Inggris yang dipimpin oleh LORD MINTO meminta agar Janssens menyerahkan Jawa kepada Inggris, tetapi di tolak sehingga terjadilah peperangan diantara keduanya.

       Lord Minto memimpin Inggris dan berhasil mengalahkan Janssens yang menyerah di Tuntang pada tanggal 17 September 1811. Hal ini di tandai dengan penandatanganan REKAPITULASI TUNTANG yang isinya bahwa Belanda menyerah dari Inggris. THOMAS STAMFORD RAFFLES akhirnya di tugaskan menjadi gubernur jenderal di Hindia Belanda.

       Saat masa pemerintahannya, Raffles mengembalikan wilayah Kedu kepada Kasultanan Jogjakarta. Pada bulan April 1812 Raffles melakukan penyerangan ke Kasultanan Jogjakarta karena Sultan Hamengkubuwono telah bersekongkol dengan Kasunanan Surakarta untuk memberontak terhadap Inggris (terkenal dengan nama Gegeran Sepoi/Sepei). Yang pada akhirnya Kasultanan Jogjakarta di paksa membayar dan menanngung beaya perang yang telah dikeluarkan oleh Inggris.

       Pada tanggal 1 Agustus 1812 Raffles merampas beberapa wilayah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta, termasuk wilayah Kedu (yang saat itu meliputi Kabupaten Magelang dan kabupaten Temanggung). Melihat begitu strategisnya Magelang yang berada ditengah-tengah Jawa, maka dipilihlah kawasan ini menjadi ibukota nagari Kabupaten Magelang oleh pemerintah Inggris saat itu. Dan pada tanggal 30 November 1813 Inggris mengangkat bupati kepatihan pada Kasultanan Jogjakarta yang bernama ALWI BIN SAID ABDAR RAHIM BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar MAS NGABEHI DANUKROMO.

       Pada masa pemerintahannya Mas Ngabehi Danukromo membangun Aloon-aloon, masjid dan rumah bupati di utara Aloon-aloon. Hal ini diperjelas dalam majalah MAGELANG VOORRUIT terbitan tahun 1936.

“Danuningrat I ( Danukromo) mendirikan rumah kabupaten (regentwoning), masjid (groote moskee) dan Aloon-aloon. Boleh dipandang sebagai yang mendirikan negeri Magelang.” (MAGELANG VOORRUIT, TENTOONSTILLINGSUITGAVE 1936)

       Pemerintahan Raffles di Hindia Belanda berlangsung tidaklah lama. Karena di Eropa terjadi perubahan politik. Dalam perjanjian London di jelaskan Belanda akan menerima kembali daerah jajahannya di Hindia Belanda yang dahulu direbut oleh Inggris.

       Penyerahan wilayah Hindia Belanda dari Inggris kepada Belanda dilakukan pada tanggal 19 Agustus 1816 di Benteng Willem I Ambarawa. Dengan Inggris diwakili oleh JOHN FENDALL sedangkan Belanda di wakili oleh BUYSKES, ELOUT dan VAN DER CAPELLEN. Maka berakhirlah kekuasaan Inggris di wilayah Hindia Belanda. dan kembalilah pemerintah kolonial Belanda.

       Meski kekuasaan Inggris sudah berakhir, tetapi Belanda mengangkat kembali Mas Ngabehi Danukromo sebagai Regent atau Bupati Magelang dengan gelar RADEN ARYO DANUNINGRAT. Pada masa bupati ini dilakukanlah pembenahan tata kota dengan membuat jalan-jalan sehingga menjadi lebar dan baik.

       Saat terjadi Perang Diponegoro (Java Oorlog, 1825-1830), Danuningrat terlibat dalam perang besar melawan pasukan Diponegoro. Saat berperang di Dimaya (Jumoyo Salam Magelang) Danuningrat meninggal, peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 September 1826.

       Untuk mengatasi kekosongan kekuasaan , pemerintah Belanda mengangkat putra Danuningrat yang bernama HAMDANI BIN ALWI BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar RAA DANUNINGRAT II. Tetapi sayang pada tahun 1862 Danuningrat II melepaskan jabatannya yang di pegang selama 36 tahun. Dan di gantikan oleh puteranya bernama SAID BIN HAMDANI BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar RT DANUNINGRAT III. Tetapi pada tahun 1878 Danuningrat III melepaskan jabatannya dan pemeritah Belanda mengangkat puteranya yang bernama SAYID ACHMAD BIN SAID BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar DANUKUSUMO.

       Pada tahun 1908 Danukusumo mengundurkan diri dari jabatannya dan digantikan oleh saudaranya yang bernama MUHAMMAD BIN SAID BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar RAA TUMENGGUNG DANUSUGONDO yang memerintah sampai tahun 1935. Dimana Danusugondo merupakan keturunan terakhir dari trah Danuningrat yang menjadi Bupati Magelang. Danusugondo pada masa pemerintahannya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap rakyatnya.Sampai tahun 1935 Danusugondo memerintah Kabupaten Magelang dan digantikan oleh SOSRODIPROJO hingga tahun 1945.

ASURANSI JIWA BERSAMA BUMIPUTERA 1912, 100 TAHUN MERETAS SEJARAH

Standard

STATUTEN

Onderlinge Levensverzekering Maatschappij Boemi Poetera

Fatsal 1.

“Perserikatan O.L.Mij Boemi Poetera didirikan boeat 29 tahoen lamanja,

moelai pada satoe hari boelan Februari seriboe sembilan ratoes doea

belas di Magelang.

… Didalam fatsal-fatsal statuten jang bertoeroet ini, maka njatalah perserikatan ini dinamai “Maatschappij (Persekoetoean.)”

Kalimat seperti di atas itulah yang menjadi dasar atas pembentukan

AJB Bumi Putera 1912 di Magelang. Kalimat tersebut merupakan pasal 1

dari anggaran dasar dari perusahaan tersebut. Sebuah asuransi milik

pribumi yang mampu bertahan selama 100 tahun. Dan siapa sangka asuransi

legendaris ini lahir di kota kita tercinta, Magelang. Ya tepatnya lahir

pada tanggal 12 Februari 1912. Lalu bagaimanakah sebenarnya proses

kelahiran Asuransi Jiwa Bersama/AJB Bumi Putera ini ?

Sesudah

berdirinya Boedi Oetomo di Batavia/Jakarta, maka berpengaruh pula

terhadap perkembangan pendirian organisasi yang lain yang ada di daerah.

Baik yang bersifat sosial, budaya maupun politik. Salah satunya adalah

pembentukan Perserikatan Guru-guru Hindia Belanda [PGHB]. Terbentuknya

PGHB merupakan cita-cita dari Kartosoedirjo dan usaha dari KH Soebroto,

Adimidjojo dan M Ng. Dwidjosewojo. Sehingga berdirilah pada tahun 1910

perhimpunan guru-guru yang pertama di Magelang yaitu PGHB.

Pada

waktu itu yang menjadi President adalah KH Soebroto, Sekretaris R

Danoekartiko, penningmeester (bendahara) M Adimidjojo, sedang Boediardjo

menjadi adviseurnya (penasehat).

Pada tanggal 26 Agustus 1912 dapat

dilangsungkanlah kongres PGHB di Jogjakarta. Maka di tetapkanlah

perubahan pengurus (Bestuur) yaitu Ketua KH Soebroto, sekretaris M Ng.

Dwidjosewojo, Penningmeester (bendahara), M Adimidjojo, dan Boediardjo

tetap menjadi adviseurnya.

‎[lanjutan] Pada tanggal 18 Desember 1912 pemerintah Belanda mengeluarkan Besluit atau surat keputusan nomer 49 tentang pengakuan PGHB sebagai Rectpersoon/badan hukum. Maka resmilah mulai saat itu PGHB berdiri. Tujuan dari organisasi ini adalah :
1. Berikhtiar memperbaiki dan menambah banyaknya pengajaran dan sekolah-sekolah bagi bangsa Indonesia.
2. Berusaha memperbaiki nasib dan derajat guru-guru bangsa Indonesia, baik tentang pengetahuannya maupun tentang keselamatan hidupnya.
Untuk mencapai maksud itu PGHB mengeluarkan orgaannya atau media cetak sebagai media publikasi. Awalnya bernama ‘DWIDJO OETOMO’ dan di pimpin langsung oleh Dwidjosewojo. Pada perkembangan berikutnya media ini berganti nama menjadi ‘MEDAN GOEROE HINDIA’.
Pada permulaan tahun 1910 sewaktu Dwidjosewojo menjadi guru bahasa Jawa di sebuah sekolah guru di Jogja, beliau menerima sebuah verrslag/surat penawaran berangka tahun 1908 dari direktur sebuah perusahaan asuransi jiwa bernama NILLMIJ. Surat penawaran tersebut di pelajarinya dengan seksama. Dan hal ini menimbulkan angan-angan pada diri beliau untuk mendirikan suatu Levensverzekering Mij. atau perusahaan asuransi jiwa. Cita-cita ini beliau usulkan dan di bicarakan dalam Algemeene vergadering Boedi Oetomo di Jogja pada tahun 1910. Putusan Vergadering dengan aklamasi menerima dengan baik usul itu. Akan tetapi selanjutnya Boedi Oetomo tidak lantas berusaha mendirikan Levenszekering Mij./perusahaan asuransi jiwa ini.

‎[lanjutan] Pada tanggal 12 Februari 1912, PGHB mengadakan Leden vergadering yang mana Dwidjosewojo menguraikan maksud akan mendirikan Levensverzekering Mij yang hanya untuk guru-guru bumiputera di Hindia Belanda. Solidaritas di kalangan guru-guru yang terbentuk karena persamaan nasib, telah membuat gagasan Dwidjosewojo memperoleh sambutan hangat dan positif. Di kongres pertama PGHB di Magelang itu dengan aklamasi menerima usulan itu. Dan akhirnya terbentuklah sebuah perusahaan asuransi jiwa khusus untuk kalangan guru-guru anggota PGHB yang bernama ‘Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB’ dan disingkat dengan OL Mij. PGHB yang berkedudukan di Magelang.
Yang menarik adalah pilihan bentuk usaha ‘Onderlinge’ dan bukan NV [Perseroan Terbatas] atau bentuk lainnya. Salah satu pertimbangannya adalah onderling pada waktu itu dapat di dirikan tanpa harus menyediakan modal lebih dahulu. Perlu di ketahui pula bahwa pada waktu itu belum ada undang-undang yang mengatur tentang perasuransian, khususnya asuransi jiwa. Semua kegiatan usaha di atur berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Dagang [W. v. K.] dan Kitab Undang-undang Hukum Perdata [B. W.] yang di buat pada pertengahan abad 19.

‎[lanjutan] Pada waktu itu OL Mij. PGHB dipimpin langsung oleh pengurus besar PGHB, yaitu sbb :
Direktur : MKH Soebroto
Sekretaris : MNg. Dwidjosewojo
Bendahara : M Adimidjojo
Sumber lain menyebutkan bahwa Dwidjosewojo tidak menjabatsebagai sekretaris namun sebagai komisaris.
Kelanjutan dan perkembangan usaha dari OL Mij PHGB rupanya kurang menggembirakan. Dalam Rapat Umum Anggota Bumiputera 1912 pada tahun 1941, Dwidjosewojo selaku komisaris mengisahkan kembali keadaan perusahaan pada awal berdirinya. Pada waktu itu ada usulan supaya keanggotaan perusahaan asuransi jiwa terbuka juga untuk umum, tidak hanya untuk guru-guru saja. Tetapi hal ini mendapatkan kendala karena perusahaan belum dapat memikul beaya administrasi dan propaganda yang besar.
Lalu para pengurus PGHB berusaha mendapatkan subsidi dari pemerintah. Setelah OL Mij PGHB diperiksa secara seksama oleh utusan pemerintah, maka Hoof Bestuur PGHB mulai bulan Oktober 1913 memperoleh subsidi sebesar f 300 setiap bulan. Akan tetapi dengan perjanjian bahwa OL Mij. PGHB hanya di buka untuk pegawai negeri/Gouvernement dan pegawai Swapraja/Zelfbestuur di Hindia Belanda saja. Artinya bahwa kalangan swasta tidak boleh di masukkan menjadi anggota.
Dengan menerima subsidi itu mulai bulan Oktober 1913 seharusnya OL Mij PGHB sudah melakukan perubahan dalam organisasi usahanya karena terikat dengan syarat pemberian subsidi tersebut. Tapi proses ini tidak dapat dilakukan dengan segera. Sebab OL Mij PGHB merupakan bagian langsung dari PGHB yang telah mempunyai status badan hukum yaitu Besluit tanggal 18 Desember 1912.

[lanjutan] Walaupun OL Mij PGHB memiliki anggaran dasar sendiri, tapi pemberian subsidi itu di tujukan kepada organisasi induknya yaitu PGHB. Hal ini karena pada waktu pengajuan subsidi tersebut memang atas nama Pengurus Besar PGHB yaitu MKH Soebroto dan MNg. Dwidjosewojo, masing-masing selaku Ketua dan Sekretaris tertanggal 25 September 1913. Maka melihat kondisi seperti ada usulan dari seorang verzekerde untuk mengubah nama OL Mij. PGHB karena ternyata perusahaan asuransi jiwa ini bukan hanya untuk guru saja tapi juga untuk kaum priyayi bumiputera. Atas usulan itu maka vergadering meluluskan pergantian nama itu. Dari semula bernama “Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB” menjadi “Onderlinge Levensverzekering Maatschappij Boemi Poetera”.
Perubahan nama ini di umumkan melalui majalah resmi PGHB yaitu Dwidjo Oetomo edisi 25 Desember 1914. Nah ada hal yang menarik tentang ini. Pada rancangan Anggaran Dasar OL Mij Boemi Poetera seperth yang tercantum pada awal tulisan ini bahwa pendirian OL Mij. Boemi Poetera adalah pada tanggal 1 Februari 1912. Padahal OL Mij. Boemi Poetera sendiri merupakan kelanjutan dari OL Mij. PGHB, karena semua urusan asuransi tetap dilanjutkan oleh OL Mij. Boemi Poetera tanp ada perubahan. (catatan : belum diketahui secara pasti mengapa dalam rancangan Anggaran Dasar/statuten tertulis 1 Februari 1912. Sedangkan peringatan kelahiran Asuransi Jiwa Bersama/AJB Bumiputra pada tanggal 12 Februari 1912. Barangkali ini merujuk pada pembentukan OL Mij. PGHB pada waktu kongres pertama PGHB di Magelang pada tanggal 12 Februari 1912)
Pada rapat anggota OL Mij. PGHB di Semarang tanggal 5-7 November 1914, selain melakukan perubahan nama perusahaan juga memilih pengurus baru, sbb :
Direktur : MKH Soebroto
Sekretaris : R Soehari
Bendahara : M Adimidjojo
Presiden Komisaris : MNg. Dwidjosewojo
Komisaris : R Hasan
Komisaris : M Djajasoedira
Demikianlah sejarah kelahiran AJB Bumiputera 1912 melalui perjuangan yang panjang. Antara Boedi Oetomo, PGHB dan AJB Bumiputera saling berkaitan.

Sumber : dirangkum dari buku BUMIPUTERA 1912 MENYONGSONG ABAD 21 edisi tahun 1992 dengan penyelarasan bahasa dan edit seperlunya.

MENYUSURI JEJAK SEJARAH TOKO DAN USAHA DAGANG ETNIS TIONGHOA DI KOTA MAGELANG DI TAHUN 1935-1938

Standard

Pada jaman dulu untuk memudahkan

pengawasan terhadap masyarakat Tionghoa maka kelompok etnis ini oleh

Belanda di zoningisasi pada suatu kawasan tertentu. Kawasan tersebut di

sebut dengan Pecinan [Jalan Pemuda sekarang ini]. Pada waktu itu etnis

Tionghoa hanya di ijinkan untuk berdagang saja. Ma…ka

banyak orang Tionghoa yang membuka usaha dagang, misalnya toko dan

usaha dagang yang lain. Baik itu toko pakaian, kelontong, obat, sepeda,

emas, pabrik cerutu, rokok dll.

Nah dari 2 buah buku lama berjudul

WETENSWAARDIGHEDEN VAN MAGELANG tahun 1935 dan CHINA tahun 1938,

berhasil saya kumpulkan nama-nama usaha milik masyarakat Tionghoa pada

saat itu. Misalnya Pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Prawirokoesoeman/Jalan

Tarumanegara, Toko Ong Hok Liem yang menjual rokok dan cerutu di

Pecinan, Toko Tan yang menjual aki, bensin, raket dan bola tenis di

Pecinan, Penjahit Kleermakerij THKO di Pecinan, Toko rokok Ong Sioe Sing

di Pecinan, toko petromak dan lampu Fa. Pwee Sing di Pecinan,

Colportage Boekhandel di Groote weg Noord 64, Tabakhandel Liem Gwan San,

eksportir tembakau Oei Kok Tien di Tidarweg 22, Toko kain Liem Tjan

Hien & Co di Grooteweg Zuid 166, eksportir tembakau Ko IK Soei di

Djoeritan Zuid, autobusonderneming Parmadi, AM JAVA Bussen, Studio foto

Oen Liem di Chinnese Kampement street 93, Toko Obat Tek Tjie Yok Fong di

Groote weg Zuid 112, Hotel Joe Jan di Groote weg Zuid 139, Toko

Himalaij di Pontjol 19, Toko mebel dan gramophon Tjong & Co di

Pontjol 29, Boekhandel Liberty di Groote Weg Zuid 14, Industri Sigaret

Lo Ban Tjiang, Kamar Obat Eng Tay Hoo di Pecinan 121, Toko Mas Heng Seng

di Petjinan 28, pabrik cerutu Poetri Rimba oleh The Kiem Toen, hotel

dan restoran Tay Tong di Groote Weg Zuid 149, toko bunga Veronica di

Groote weg Noord 39 Pontjol, hotel dan restoran Khoe A Bwan di Petjinan,

bis ADAM GRABAG milik Tan Sing Djiang, dll.

Pada waktu dulu Jalan Pemuda

di kota Magelang di sebut juga dengan nama Patjinan, Petjinan, Pecinan,

Chinnese Kampement street, Groote weg Zuid dan Pemuda Selatan.

Kisah hidup OEI HONG KIAN, Dokter Gigi Soekarno dari Kota Magelang, Peranakan Yang Hidup dalam Tiga Kebudayaan

Standard

Biografi atau otobiografi di Indonesia biasanya mengenai sukses seseorang. Jarang tentang kehidupan pribadinya lengkap sampai ke detail-detailnya. Biasanya juga ditulis menjelang usia 70 tahun. Otobiografi Oei Hong Kian, berjudul Oei Hong Kian, Kind van het Land, Peranakan-Chinezen in Drie Culturen dan diterbitkan Intisari (Maret 2001) dengan judul Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno, Peranakan Yang Hidup dalam Tiga Kebudayaan ini agak unik karena selain kisahnya dimulai dari saat kakek buyutnya datang dari Cina ke Jawa, buku ini juga ditulis menjelang usia 80 tahun.

Dan yang perlu di garis bawahi adalah Oei Hong Kian ini adalah orang Tionghoa kelahiran Kota Magelang. Sampai kini rumahnya masih berdiri tegak di jalan Tidar, tepatnya di timur RSU Tidar Magelang [sebelah selatan Apotik Pendawa]. Bagaimana cerita selengkapnya ? Inilah sekelumit cerita sejarah dari Oei Hong Kian yang harus anda baca.

Kisahnya dimulai ketika pada suatu hari di bulan Februari 1858 Oei Tiauw Ting duduk di puncak bukit menghadap ke teluk yang luas di Fujian atau Hokkian. Tujuan Tiauw Ting pergi ke tempat sunyi itu untuk bisa berpikir dengan tenang tentang masa depannya. Ayahnya sudah tua dan sebagai anak sulung tanggung jawabnya berat.

Sejak lahir 30 September 1830 ia selalu mengalami kesusahan. Bencana alam, banjir, kelaparan, wabah, dan banditisme melanda negaranya yang imbasnya menimpa keluarganya. Bahkan dengan kerja keras pun hasil sawah tidak bisa memenuhi kebutuhan.

Untung masih ada usaha penangkapan ikan. Namun laut pun tidak selalu aman. Perompak sering bermain kucing-kucingan. Kemudian menyusul ancaman perang dari Inggris dan pecahlah Perang Candu tahun 1839. Cina yang enggan dijadikan tujuan ekspor candu tak berdaya menghadapi kapal besi yang pipih. Pada perjanjian Nanking 28 Agustus 1842 pemerintah Qing dipaksa melepaskan Hongkong. Lima pelabuhan harus dibuka, termasuk Xiamen. Ketagihan candu merebak mengerikan. Pemerintah Qing terpaksa menaikkan pajak untuk membayar utang pada Barat. Para warlord, yaitu para penguasa setempat yang memiliki pasukan bersenjata, ikut meminta cukai. Rakyat tambah menderita.

Pada saat itulah ayah Tiauw Ting diam-diam menghubungi seorang thauke, orang yang secara berkala bolak-balik dari Nanyang (arti harfiah: Laut Selatan, namun makna sebenarnya kawasan Asia Tenggara – Red.) ke Cina. Thauke bisa membantu mereka yang ingin mengadu untung dengan membawa mereka naik jung laik layar dan menghubungkan mereka dengan rekan senegaranya di perantauan. Ia merekomandasikan Pulau Jawa yang memiliki iklim baik, cocok untuk tempat tinggal. Di sana banyak orang Cina. Hubungan erat antara orang sedaerah, terutama yang nama keluarganya sama, dipegang teguh. Lagi pula thauke itu mengenal banyak perantau yang bermarga Oei. Itulah yang mendorong Oei Tjeeng Gwan, ayah Tiauw Ting, untuk mengirim ketiga anak laki-lakinya ke Semarang. Waktu itu Tiauw Ting berusia 28 tahun. Keputusan ayah mereka sudah bulat.

Dijodohkan di kapal

Mereka akan berangkat sehari setelah pesta musim semi (Tahun Baru Imlek – Red.) tanggal 25 Februari. Thauke itu ternyata orang yang praktis. Ia memberi tahu ukuran keranjang yang tepat untuk dibawa, supaya bisa ditumpuk dan tidak makan tempat. Ia juga memberi tahu pakaian yang cocok dibawa untuk dipakai di tempat beriklim panas. Atas petunjuknya pula mereka membawa mangkuk porselin yang bisa dijual mahal di Jawa. Atas inisiatif sendiri Tiauw Ting juga berhasil membeli satu perangkat barang kerajinan lak indah dengan harga murah.

Ibunya tidak bisa menahan air mata ketika ketiga putranya pamit. Sebuah kapal nelayan milik teman membawa mereka ke Xiamen. Di sini jung besar sudah menunggu.

Biarpun Tiauw Ting senantiasa mabuk laut, ia mendapat banyak kenalan di kapal sehingga dalam beberapa hari mereka sudah seperti keluarga. Di antara penumpang itu ada seorang pria berusia 49 tahun, Oei Kim San namanya, yang kembali ke Semarang setelah menjenguk keluarga. Karena kebetulan nama keluarganya sama, ketiga bersaudara itu diminta untuk tinggal di rumahnya.

Setelah lebih akrab, saat cuma berdua dengan Tiauw Ting, Paman Kim San bercerita tentang teman dan tetangganya, The Sie Tiong, yang juga dari Hokkian, pedagang porselin dan keramik. Usahanya maju. Mungkin Tiauw Ting bisa belajar berdagang padanya.

Kebetulan Paman Sie Tiong juga mempunyai putri cantik berusia 17 tahun. Gadis itu dilahirkan bertepatan dengan tibanya kiriman piring dari Cina ke rumahnya. Piring itu ternyata menghasilkan banyak uang, sehingga ibunya, seorang wanita Jawa, memberinya nama Piring. Paman Kim San bertanya apakah Tiauw Ting keberatan kalau dijodohkan dengan Piring? Tiauw Ting yang tidak tahu siapa-siapa di rantau, tidak keberatan.

Setelah berlayar 30 hari, ada pengumuman bahwa mereka sudah tiba di Semarang. Semua bergegas ke tempat penyimpanan barang. Dermaga tempat jung itu berlabuh disebut bum. Setelah terjadi kesepakatan antarathauke dengan pria-pria yang menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat, tak lama kemudian orang-orang itu datang membawa perahu-perahu kecil yang akan membawa thauke dan para penumpang ke kota. Tiauw Ting dan saudaranya ikut Paman Kim San naik gerobak ditarik sapi, karena mereka tidak tinggal di tepi sungai. Ternyata Paman Kim San tinggal di tepi pecinan. Rumah-rumahnya mirip di Cina. Mereka disambut ramah oleh istri Paman Kim San yang sayang hanya bisa berbahasa Hokkian sedikit.

Keesokan harinya setelah sarapan Tiauw Ting sudah diajak berkunjung ke Paman Sie Tiong, teman Paman Kim San yang dibicarakan di kapal. Karena sedang sibuk, mereka berjanji akan kembali malam harinya. Dari situ mereka langsung ke kantor pemerintahan untuk mengurus pendaftaran sebagai pendatang baru. Kantor itu kebetulan dekat dengan Klenteng Tay Kak Sie. Setelah itu mereka juga tidak lupa ke Klenteng Sam Po Kong.

Tanpa membuang waktu malam itu juga Paman Kim San melamar Piring untuk Tiauw Ting. Tentu setelah sebelumnya dibicarakan antara Bibi Kim San dan Sie Tiong. Perkawinan akan dilaksanakan tiga minggu kemudian.

Tiba saat sibuk untuk para wanita. Selama menunggu hari besar itu Tiauw Ting banyak bicara dengan calon mertuanya, tetapi calon istrinya masih rahasia. Paman Sie Tiong menyarankan agar mereka sebaiknya kelak tinggal di Magelang.

Sebulan setelah pesta perkawinan besar-besaran itu pasangan baru itu berangkat ke Magelang. Pagi-pagi buta Piring harus pamitan pada ibunya untuk ikut suami yang masih asing. Mereka naik kereta yang ditarik empat kuda kurus. Di tanjakan Gombel yang terkenal terjal, penumpang harus turun dan kuda diganti dengan empat ekor sapi. Piring ditandu. Sampai di atas, kuda dipasang lagi. Mereka menginap semalam di Ambarawa di rumah famili untuk meneruskan perjalanan keesokan harinya menuju Magelang.

Naksir Gadis Hijau

Waktu itu penduduk Magelang berjumlah 20.000 orang, di antaranya 2.400 penduduk Cina dan 200 Eropa. Tiauw Ting mulai berdagang kecil-kecilan dan Piring membuka toko. Usahanya berjalan lancar. Dua tahun setelah menikah lahirlah anak laki-laki. Akhirnya, mereka dikaruniai sepuluh anak, enam laki-laki dan empat perempuan.

Nasib Tiauw Ting terlalu baik. Namun, malapetaka melandanya seperti sambaran petir di siang bolong. Di Semarang ia sempat berkenalan dengan Oei Tjie Sien, yang datang dengan jung sebelumnya. Tjie Sien yang mendirikan perusahaan Kian Gwan adalah cina kolot. Lain dengan putranya, Oei Tiong Ham, yang terkenal mata keranjang. Ketika berkunjung ke Magelang, ia berkenalan dengan putri sulung Tiauw Ting, Kiem Hong. Karena diiming-imingi kehidupan enak, Kiem Hong berhasil dibujuk untuk lari. Namun setelah beberapa tahun ia sudah dicampakkan dari posisi gundik favorit. Di makam Tiauw Ting, nama Kiem Hong tidak disebut.

Salah seorang anak laki-laki Tiauw Ting ialah Tjing Lien yang menikah dengan Sik Nio alias Wineh, nama Jawanya. Itulah kakek dan nenek Oei Hong Kian (OHK). Dua tahun setelah menikah mereka mendapat anak laki-laki pada hari capgome, tepatnya tanggal 16 Februari 1897. Ia diberi nama Oei Kok Poo, yang tidak lain ayah OHK.

Oei Hong Kian sendiri dilahirkan 23 Februari 1921 sebagai anak sulung. Sejak kecil ia bukan anak yang manis. Diam-diam ia pernah ikut tukang kebun untuk menonton permainan Nini Thowok (semacam jailangkung) pada malam hari. Malah sewaktu tinggal di rumah kakeknya di Magelang, ia pernah mengisap cerutu kakek sampai mabuk, menggunting rambut gadis tetangga, dan bermain di tanah kosong ditemani Koos – salah seorang pembantu di rumah kakeknya – kalau sedang malas bersekolah.

Setelah lulus Hollands Chinese School (HCS) di Magelang, ia masuk Hogere Burger School (HBS) di Semarang. Waktu itu ia kos pada seorang Belanda, pedagang sepeda, yang menikah dengan seorang wanita Jepang. Di HBS itulah ia diam-diam menaruh hati pada Evergreen, gadis cina yang sering memakai pakaian hijau. Waktu itu OHK masih merasa sebagai orang udik lagi pemalu. Kekaguman itu ia simpan dalam-dalam. Setiap sore ia lewat di muka rumahnya untuk mencoba melihat gadis pujaannya itu barang sejenak. Perhatiannya pada gadis itu ternyata ketahuan juga. Sedikitnya oleh salah seorang dari sekian banyak pengagum Evergreen. Jantje Liem, yang terkenal jago berkelahi, rupanya merasa OHK melangkah terlalu jauh. Tiba-tiba saja Liem merenggutnya dari sepeda dan memukulinya. OHK pun merasa tergugah untuk berkelahi demi Evergreen.

Namun rupanya Evergreen memang bukan jodohnya. OHK lalu berkenalan dengan calon istrinya kelak, Hermien, yang tujuh tahun lebih tua. Perkenalan atas inisiatif Kiem Soei, teman sekolah OHK yang lebih tua dan lebih matang darinya itu, berlangsung di pasar malam di Semarang. Itulah pertama kalinya OHK pergi dengan perempuan. Perbedaan usia yang cukup mencolok – sebaya dengan bibinya yang setiap hari memandikan OHK ketika masih tinggal di rumah kakeknya – bukan soal besar bagi mereka.

Ketika lulus HBS, ia sebetulnya ingin ke Belanda untuk meneruskan pelajaran. Namun sudah keburu pecah Perang Dunia II di Eropa. Ia akhirnya mendaftarkan diri di STOVIT, sekolah pendidikan kedokteran gigi di Surabaya. Salah seorang asisten waktu itu ialah drg. Moestopo, yang kemudian mendirikan Universitas Prof. Dr. Moestopo. OHK belum lulus ketika Jepang masuk. Lalu ia pulang ke Magelang. Mien – panggilan akrab Hermien – waktu itu tinggal di Yogya.

Melanjutkan sekolah di Belanda

Masa pendudukan Jepang sangat menjemukan karena ia terpaksa menganggur. Usaha untuk memulai sesuatu gagal. Untung ia mempunyai teman yang membeli barang orang Belanda yang perlu uang. Di antara barang-barang itu ada banyak piringan hitam yang diputar pada malam hari bersama teman-teman.

Selama itu hubungan dengan Mien di Yogya berjalan terus. Di kediaman Mien itu ia bertemu dengan Raden Mohammed Achmad, bupati Kuningan, ayah Mr. Maria Ulfah Santoso, yang baru saja diangkat menjadi menteri sosial dalam Kabinet Sjahrir kedua. Ibu Mien kadang-kadang membantu mereka, misalnya secara bekala membelikan beras bermutu baik.

Adik-adik Mien membuka toko kecil yang sering didatangi kaum muda Indonesia. Dari sana Mien mendapat seorang pelanggan yang tidak lain calon Ny. Hatta, yang nantinya menjadi istri wakil presiden Republik Indonesia. Mien diminta menjahitkan baju pengantinnya.

Pada tanggal 29 Juli (’45 atau ’46?) di Yogya OHK kedatangan temannya yang sakit TBC. Temannya itu ingin mengunjungi pacarnya di Surabaya. Pak Achmad yang kebetulan mendengar percakapan itu keesokan harinya mengatakan bahwa tanggal 31 Juli teman yang sakit itu bisa menumpang kereta api ke Batavia. Ia akan membantu untuk memperoleh izin khusus hari itu juga. Pada tanggal 31 pagi buta OHK didatangi Pak Achmad dengan saran apakah ia tidak mau ikut ke Batavia juga, gratis.

Jelas, OHK tidak mempunyai waktu untuk pamit pada orang tuanya di Magelang. Pada pukul 23.15 hari itu juga ia bersama Mien berangkat naik andong ke Stasiun Tugu, yang remang-remang hampir kosong. Kereta api menurut rencana akan berangkat pukul 24.00. Namun ternyata kereta api baru tiba pukul satu lebih. Mereka hanya naik kereta api sampai Cirebon. Dari situ mereka dinaikkan kapal tangker berawak Jepang ke Batavia. Di situ Mien ditampung teman dan OHK tinggal bersama temannya yang sakit di tempat lain.

Lalu harus ngapain di Batavia? STOVIT tidak dibuka lagi dan di Batavia tidak ada sekolah dokter gigi. OHK menulis surat ke Utrecht apakah ia bisa meneruskan pelajaran di sana. Ternyata mungkin, tetapi bagaimana agar sampai di Belanda? Ia disarankan untuk menghubungi palang merah dan disarankan untuk minta bea siswa Malino. Namun saran itu ditolak. Untung mereka akhirnya bisa berangkat juga naik kapal Kota Inten sebagai pembantu di bagian rumah tangga kapal.

Namun sebelumnya mereka bermaksud untuk menikah dulu. Itu terjadi pada tanggal 2 September 1946. Mereka naik kapal pada 8 Oktober dan pada 2 November kapal Kota Inten dihela kapal tunda memasuki Nieuwe Waterweg. Dua hari kemudian mereka sudah mendapat pemondokan di Utrecht tanpa kamar mandi, sehingga mereka harus membayar 25 sen untuk mandi di tempat mandi umum.

Dekan yang khusus mengurusi mahasiswa memberinya persekot tanpa bunga dari pemerintah. Uang itu harus dibayar kembali setelah lulus kepada pemerintah Indonesia. Dengan tunjangan 100 gulden dan kiriman uang bulanan dari orang tuanya, mereka bisa hidup pas-pasan. Uang kuliah sebesar 335 gulden cukup dibayar dengan menandatangani surat utang.

Akhir bulan April ternyata Mien hamil. Biarpun keuangan masih sulit, berita itu disambut dengan gembira. Kedatangan si kecil juga menjadi dorongan untuk menyelesaikan studinya secepat mungkin. Selain itu ia juga sudah mengajukan permintaan pinjaman besar untuk membeli peralatan kedokteran gigi. Kalau dikelola dengan cermat, masih ada sisa sedikit untuk si kecil. Bayi itu lahir pada 12 Desember 1947 dan pada 17 Desember OHK lulus sebagai dokter gigi.

Pasiennya orang-orang besar

Pada 5 Januari 1949 OHK sudah menerima surat dari Kementerian Kawasan Seberang Laut untuk dikirim ke Indonesia. Namun sebelumnya ia ingin berpraktik dulu di Belanda.

Setelah keadaan politik di Indonesia membaik, mereka akhirnya mengambil keputusan untuk kembali ke Indonesia. Tepatnya pada 21 Desember 1949 mereka diantar sanak keluarga naik kapal Willem Ruys. Dari atas geladak mereka melihat keluarga Mien dan keluarga Oei sedang menunggu di pelabuhan Batavia untuk menyambut mereka.

Di Jakarta mereka tinggal di rumah yang disewa oleh orang tua Mien. Untung ia cepat mendapat pekerjaan. Seorang rekan memberi kesempatan bekerja di tempat pratiknya kalau tidak sedang dipakai. Selama itu Mien terus mencari tempat tinggal, yang waktu itu susah karena perumahan masih diatur oleh Huisvesting Organisatie Batavia (HOB). Namun secara kebetulan Mien berhasil menemukan rumah di Jln. Serang 12 (sekarang Jln. Syamsuridzal??) persis menurut ramalan ketika ia masih di Belanda.

OHK langsung membuka praktik dan di luar dugaan laris. Banyak di antara pasiennya namanya sekarang menghiasi jalan-jalan di Jakarta seperti Jln. Sutan Sjahrir, Jln. Rasuna Said, Jln. Soekardjo Wirjopranoto, Jln. Suwirjo, Jln. S. Parman, Jln. Syamsuridzal, dsb.

Tidak lama kemudian ia giat dalam organisasi Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Dibentuklah tim nasional yang terdiri atas rekan Abdulkadir, Soeria Soemantri, Soelarko, Jetty dan Rizali Noor, Slamet Sudomo, dan OHK.

Ia juga sempat ikut membangun kedokteran gigi di Indonesia. Ketika tahun 1950 Indonesia mengambil alih bidang kedokteran gigi dari Belanda, hanya ada 120 dokter gigi, termasuk orang Belanda, untuk melayani lebih dari 72 juta penduduk. Peralatan material dan obat-obatan tidak ada. Dokter gigi hanya ada di kota-kota besar.

Dalam buku yang ditulis seorang dokter gigi Jerman ia membaca, “Jangan membuat teman Anda menjadi pasien, tetapi jadikanlah pasien teman Anda”. Kalimat itu dia perhatikan dengan betul.

Sayangnya, lebih dari sekali ia mengalami pasiennya ditangkap tanpa proses karena keyakinan politiknya. Salah satunya ialah Mochtar Lubis. Koran di mana ia menjadi pemimpin redaksinya dibredel, dan ia dijemput dari rumah tanpa sempat pamit pada istrinya. Untung mereka masih bisa bertemu seperempat jam dalam praktiknya.

Dari pasiennya OHK sering menerima bunga dan kue pada hari raya. Dari Priyono, Adam Malik, Herawati Diah, Djatikusumo, dan banyak lagi yang kembali ke Jakarta setelah menjadi dubes ia mendapat oleh-oleh. Pernah ia mendapat lemari es dan AC dari seorang pasien.

Pernah pula ia menemukan sebuah akuarium iklan laut yang sangat indah di ruang keluarganya. Pengirimnya ternyata dubes Arab Saudi. Dalam kartu yang menyertainya, ia meminta agar ikan-ikan itu dipelihara. Ia dipanggil pulang untuk menduduki jabatan penting saat baru dua bulan bertugas di Jakarta.

Mayjen S. Parman tak balik lagi

Untuk merawat gigi, karyawan Kedutaan Amerika boleh pergi ke pangkalan Amerika di Filipina. Pada suatu hari tiba-tiba Dubes Howard Jones menderita sakit gigi hebat. Dubes Inggris yang sudah berjanji untuk datang merawatkan gigi ke tempat praktiknya merelakan janjinya untuk rekan sejawatnya. Sejak itu Pak Dubes Amerika menganggap, karyawan kedutaan tidak perlu ke Filipina untuk merawat atau menyembuhkan sakit gigi.

Hubungan baik dengan pasien itu juga diteruskan di luar negeri. Ketika pada musim panas tahun 1957 OHK dan Mien berlibur ke Belanda, dalam perjalanan kembali ke Indonesia mereka menginap di kediaman teman mereka Bambang Soegeng yang waktu itu dubes Vatikan. Kala itu mereka berkesempatan beraudiensi dengan Sri Paus.

Selasa 28 September 1965 Mayjen S. Parman duduk di kursi kamar praktiknya. Perawakannya kecil, tetapi mutunya tinggi. Ia asisten I KSAD. Hobinya bermain dengan kereta api mini. Pada hari Senin itu ia datang untuk memasang “jembatan” pada giginya. Ketika diminta kembali seminggu lagi untuk diperiksa, ia menjawab bahwa ia tidak bisa datang sepanjang bulan Oktober karena akan sibuk sekali. Supaya sempat datang, ia diberi OHK waktu khusus yaitu pukul 15.45 hari Kamis 30 September. “Jembatan” itu ternyata baik. Setiba di rumahnya ia menulis pesan di papan di dinding kamar kerjanya agar asistennya membayarkan rekening dokter gigi. Subuh tanggal 1 Oktober ia dijemput Cakrabirawa dengan alasan dipanggil menghadap Presiden Soekarno.

Ketika sore harinya pukul 16.00 OHK membuka praktik, setengah jam kemudian datang ajudan Jenderal Parman untuk membayar rekening bosnya. Katanya, pukul 04.30 Pak Jenderal dipanggil Presiden Soekarno dan sampai saat itu belum pulang. Baru setelah praktik selesai, OHK tahu bahwa enam jenderal dan seorang kapten telah dibunuh.

Merawat gigi Soekarno

Suatu pagi di awal tahun 1967 ia dikunjungi dr. Tan, dokter pribadi Presiden Soekarno. Katanya, Bung Karno sakit gigi. Tawaran itu diterima dan ia langsung diajak ke istana. Alangkah kagetnya ketika ternyata peralatan di sana sudah kuno, berasal dari gudang NICA, warisan Belanda. Terpaksa peralatan miliknya bolak-balik dibawa ke istana naik truk. Setelah perawatan selesai, OHK tidak boleh langsung pulang. Ia diminta untuk minum teh dulu ditemani cemilan pisang goreng.

Setelah Sidang Istimewa MPRS tanggal 7 – 12 maret 1967 diputuskan untuk menarik kembali mandat yang mereka berikan kepada Pemimpin Besar Revolusi, BK harus keluar dari Istana Merdeka dan mendapat tahanan rumah di Bogor.

OHK sudah tidak mengira akan bertemu dengan BK lagi. Permulaan 1967 ia mendapat kunjungan seseorang yang memperkenalkan diri sebagai doker pribadi BK. Katanya, BK ingin dirawat lagi dan akan datang ke tempat praktik di rumah. Ternyata BK datang naik Mercedes 600 dengan kawalan ketat.

Waktu itu tahun 1968. OHK sudah mengambil keputusan untuk pindah ke Belanda dan saat itu sudah dekat. Ketika BK datang bulan Maret, akan dia beri tahu tentang keputusan itu. Ketika itu BK perlu tambalan emas yang harus dicor dulu. Mereka berjanji tanggal 21 Maret akan kembali. OHK lupa bahwa tanggal 21 Maret ada sidang MPR yang berlangsung sampai 30 Maret. Tanggal 21 Maret BK tidak bisa datang. Juga tidak hari-hari berikutnya. Padahal pada 30 Maret mereka sudah harus berangkat. Jadi, tidak sempat pamit.

Kehidupan di Belanda sangat berbeda dibandingkan dengan di Indonesia dan nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tuanya. Semua sudah begitu teratur, sehingga kehidupan bisa diibaratkan kali kecil yang mengalir dengan tenang. Namun cara berpikir Belanda yang tanpa tabu dan semua boleh, juga merupakan perubahan besar. Alangkah kagetnya ketika putrinya berkata bahwa ia ingin tinggal sendiri dan tidak mau diatur oleh oang tua.

Putri-putrinya sekarang sudah menikah dan mempunyai anak. Cucu perempuan sulungnya bahkan sudah belajar ekonomi. Putranya tidak mau mempunyai anak. Dengan temannya ia merasa sudah mendapat cukup hiburan dari delapan kemenakannya. Istrinya waktu buku ini ditulis juga sudah mulai sakit-sakitan dan bahkan kemudian meninggal.

Buku itu diakhiri dengan napak tilas ke tempat leluhurnya berasal. Total ia pergi ke Cina empat kali bersama Mien, istrinya. Pada kunjungan kedua tahun 1983, begitu tiba di Xiamen, ia langsung menghubungi kantor Huakiau. Ia membawa salinan ijazah sekolah ayahnya. Di situ ditulis bahwa kakeknya berasal dari Shimajie, Longxi, Zhangzou di Propinsi Fujian.

Dalam perjalanan dilihatnya pemandangan yang identik dengan daerah antara Magelang dan Yogya. Di mana-mana ada kebun tebu. Andaikata rumah Cina itu diganti dengan rumah Indonesia, seakan-akan mereka berada di sekitar Muntilan. Sayang mereka tidak bisa menemukan rumah keluarga nenek moyangnya. Tapi sekolahnya masih ada.

Pemandu juga menemani mereka ke kaki sebuah bukit tempat mereka bisa melihat kota pelabuhan Amoy. Mungkin itu bukit tempat kakek buyutnya merenung sebelum memutuskan beremigrasi ke Nanyang.

Untuk menelusuri jejak kakek buyut, mereka memutuskan kembali ke Hong Kong dengan kapal. Pada 1 November 1983 mereka menumpang kapal motor Gulangyu. Mereka melewati Pulau Gulangyu yang bagus ketika keluar dari teluk. Pada sisi kanan mereka melihat pegunungan di Fujian Selatan yang bertambah lama bertambah kecil. Saat itu ia menjadi lebih yakin bahwa kakek buyutnya itu memang orang pemberani.

[sumber : http://agnesdavonar.gerychocolatos.com/?p=2251

ARSITEKTUR INDIS DI INDONESIA [2]

Standard

Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia dibagi

menjadi 4 periode (Hadinoto dalam Sukawi, 2009), yaitu:

1. Abad 16 – Tahun 1800an

Indonesia masih disebut sebagai Netherland Indische di bawah

kekuasaan VOC. Bangunan perkotaan orang Belanda pada periode ini masih

bergaya Eropa dengan bentuknya cenderung panjang dan sempit, atap curam,

dan dinding depan bertingkat bergaya Belanda di ujung teras. Bangunan

ini tidak memiliki orientasi bentuk yang jelas, atau tidak beradaptasi

dengan iklim dan lingkungan setempat.

2. Tahun 1800an – Tahun 1902

Terbentuk gaya arsitektural The Dutch Colonial Villa. Gaya

ini merupakan gaya arsitektur Neo-Klasik yang melanda Eropa (terutama

Perancis) yang diterjemahkan secara bebas, menghasilkan gaya Hindia

Belanda bercitra kolonial disesuaikan dengan lingkungan lokal, iklim,

dan material yang tersedia pada masa itu, yang kemudian dikenal sebagai

Indische

Architectuur, atau rumah Landhuis, yang merupakan tipe rumah

tinggal di seluruh Hindia Belanda pada masa itu. Tipe rumah ini memiliki

karakter sebagai berikut:

  • Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang makan), dan didalamnya terdapat serambi tengah menuju ruang tidur dan kamar-kamar lainnya.
  • Pilar menjulang ke atas gaya Yunani dan terdapat gevel (mahkota) di atas serambi depan dan belakang.
  • Menggunakan atap perisai.

3. Tahun 1902 – 1920

Kaum liberal Belanda pada masa antara tahun 1902 mendesak politik

etis diterapkan di tanah jajahan. Sejak itu permukiman orang Belanda di

Indonesia tumbuh dengan cepat. Indische Architectuur terdesak,

digantikan dengan standar arsitektur modern yang berorientasi ke

Belanda.

4. Tahun 1920 – 1940

Pada awal abad 20, arsitek-arsitek Belanda memunculkan pendekatan

untuk rancangan arsitektur di Hindia Belanda. Aliran baru ini semula

masih memegang unsur-unsur dasar bentuk klasik, memasukkan unsur-unsur

yang terutama dirancang untuk mengantisipasi matahari dan hujan lebat

tropis. Selain unsur-unsur arsitektur tropis, juga memasukkan

unsur-unsur tradisional Indonesia sehingga menjadi konsep yang eklektis.

Dari penjelasan diatas, dapat dirumuskan bahwa perkembangan

arsitektur Indis di Indonesia berawal dari penguasaan Indonesia oleh

VOC. Pada awalnya gaya arsitektur masih menggunakan gaya tradisional

Belanda, namun seiring perjalanan waktu, gaya ini terus berkembang,

mulai dari penyesuaian terhadap iklim tropis, hingga penyesuaian

terhadap unsur-unsur arsitektur tradisional Indonesia.

Arsitek-arsitek Belanda melakukan berbagai pendekatan untuk rancangan

arsitektur di Hindia Belanda. Selain unsur-unsur tropis, juga

memasukkan unsur-unsur tradisional Indonesia (Hadinoto dalam Sukawi,

2009). Dan dalam mempelajari arsitektur tradisional Indonesia, mereka

menekankan agar desain tersebut dapat bersahabat dengan iklim dan

kondisi lainnya. (Sidharta, 1998)

Disebutkan beberapa inovasi dalam desain menanggapi iklim tropis

adalah (Sidharta, 1998):

1. membuat beranda terbuka di depan, belakang, atau

sekeliling bangunan.

2. overhang yang lebar untuk melindungi permukaan

dinding dan jendela dari sinar matahari langsung dan hujan.

3. ketinggian plafon 4m dan ventilasi alamiah diatas

pintu dan jendela.

4. taman tropis dengan pepohonan yang cukup

Sedangkan penggunaan dari unsur seni tradisional, diterapkan pada

ragam hiasnya. Arsitek Belanda menghargai detail-detail yang penuh

ekspresi dan mengagumkan pada seni tradisional Indonesia sehingga

dijadikan ilham sebagai bahan ide untuk membangun arsitektur modern di

Hindia Belanda (Soekiman, 2000).

Ragam hias pada bangunan berarsitektur Indis dapat dilihat pada

(Soekiman, 2000):

1. Bentuk atap dan hiasan kemuncak

Bentuk atap dapat menggunakan bentuk model Belanda, dapat pula

menggunakan bentuk atap tradisional Indonesia seperti joglo, limasan,

pencu, rumah kampung, dan sebagainya. Sedangkan untuk material

menggunakan material yang terdapat di lingkungan seperti genteng, bambu,

daun pohon palem, rerumputan, dan sebagainya.

Contoh bangunan Indis beratap

joglo

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

Sedangkan hiasan kemuncak dapat berupa:

a)      Penunjuk arah tiupan angin (windwijzer)

Contoh windwijzer

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat

Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

b)      Hiasan puncak atap (Nok Acreterie) dan cerobong asap semu

Contoh hiasan puncak atap dan

cerobong asap semu

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

c)      Hiasan kemuncak tampak depan (geveltoppen)

Contoh geveltoppen

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

2. Tadhah angin

Di Belanda, ragam hias pada tadhah angin memiliki makna simbolik,

namun pada bangunan Indis di Indonesia, ragam hias itu sudah kehilangan

maknanya dan hanya berfungsi sebagai hiasan.

3. Ragam hias pasif dari material logam

Ragam hias yang melengkapi bagian rumah dari bahan besi, misal untuk

pagar serambi (stoep), penyangga atap emper bagian depan dan belakang

rumah (kerbil), penunjuk arah mata angin, lampu halaman, lampu dinding,

dan kursi kebun.

Contoh ragam hias pasif

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

4. Tubuh Bangunan

Ragam hias yang terdapat pada tubuh bangunan seperti kolom bangunan

dan lubang angin. Ragam hias pada lubang angin dapat berupa ukiran.

Sedangkan pada kolom bangunan menggunakan gaya Doria, Ionia, dan

Korinthia yang susunannya terdiri atas kepala, tubuh, dan kaki tiang.

Contoh ragam hias kolom

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

sebenernya ada banyak banget

data yang  belon aku masukin, kalo tertarik n mao tau lebih jauh, aku

saranin baca buku2 dibawah ini.

Daftar Pustaka

Sidharta. 1998. Arsitektur dan Pendidikannya. Jurusan

Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Semarang

Soekiman, Djoko, Prof, Dr. 2000.

Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup

Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX). Yayasan

Bentang Budaya. Yogyakarta.

Sukawi. 2009.

”Pengaruh Arsitektur Indis Pada Rumah Kauman

Semarang”, Tesa Arsitektur. Vol 7 No 1 hal 1-65.

Magelang, Kota Bersejarah Bagi Perkembangan Pegadaian

Standard

Awal mula pegadaian di Era Kolonial

Sejarah Pegadaian dimulai pada saat Pemerintah Belanda (VOC) mendirikan Bank van Leening yaitu sebuah lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai, lembaga ini pertama kali didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746.

Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda yaitu dari tahun 1811-1816,  Bank Van Leening milik pemerintah dibubarkan, dan masyarakat diberi keleluasaan untuk mendirikan usaha pegadaian asal mendapat lisensi dari Pemerintah daerah setempat (“liecentie stelsel”). Namun metode tersebut nampaknya  berdampak buruk bagi pemegang lisensi yang menjalankan praktek rentenir atau lintah darat yang dirasakan kurang menguntungkan bagi pemerintah berkuasa (Inggris). Oleh karena itu metode “liecentie stelsel” diganti menjadi “pacth stelsel” yaitu pendirian pegadaian diberikan kepada umum yang mampu membayar pajak yang tinggi kepada pemerintah daerah.

Pada saat Belanda berkuasa kembali, pacth stelsel tetap dipertahankan dan menimbulkan dampak yang sama. Pemegang hak ternyata banyak melakukan penyelewengan dalam menjalankan bisnisnya. Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda menerapkan apa yang disebut dengan “culture stelsel” di mana dalam kajian tentang pegadaian saran yang dikemukakan adalah sebaiknya kegiatan pegadaian ditangani sendiri oleh pemerintah agar dapat memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan  Staatsblad No. 131 tanggal 12 Maret 1901 yang mengatur bahwa usaha Pegadaian merupakan monopoli Pemerintah. Maka dari itupada  tanggal 1 April 1901 didirikanlah Pegadaian Negara pertama di Sukabumi. Selanjutnya karena tanggal tersebut sangat bersejarah maka setiap tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian.

Pada masa pendudukan Jepang gedung kantor pusat Jawatan Pegadaian yang terletak di jalan Kramat Raya 162, Jakarta dijadikan tempat tawanan perang dan kantor pusat Jawatan Pegadaian dipindahkan ke jalan Kramat Raya 132. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada masa pemerintahan Jepang baik dari sisi kebijakan maupun struktur organisasi Jawatan Pegadaian. Jawatan Pegadaian dalam bahasa Jepang disebut ‘Sitji Eigeikyuku’, Pimpinan Jawatan Pegadaian dipegang oleh orang Jepang yang bernama Ohno-San dengan wakilnya orang pribumi yang bernama M. Saubari.

pegadaian di era Era Kemerdekaan

Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia, kantor Jawatan Pegadaian sempat pindah ke Karanganyar, sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen karena situasi perang yang kian memanas akibat Agresi Militer Belanda II yang akhirnya memaksa kantor Jawatan Pegadaian dipindah lagi ke Magelang. Pasca perang kemerdekaan kantor Jawatan Pegadaian kembali lagi ke Jakarta dan Pegadaian dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia.