Monthly Archives: October 2016

Liputan DJELADJAH PERKEBOENAN #1

Standard

Untuk pertama kalinya Komunitas KOTA TOEA NAGELANG mengadakan kegiatan bertema perkebunan. Tidak seperti biasanya yang mengambil obyek berupa bangunan fisik dan budaya tapi kali ini mengambil tema yang berbeda dari yang sebelumnya.

Sebagaimana diketahui bahwa sejak jaman Belanda bumi Magelang menjadi salah satu pusat perkebunan, terutama kopi. salah satu tempat yang menjadi pusat perkebunan terutama kopi yaitu di daerah Grabag.

Acara yang dilaksanakan pada hari Minggu Legi 23 Oktober ini didikuti oleh sekitar 145 orang yang berasal dari berbagai daerah seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, Aceh dan Magelang sendiri.

Desa Ngrancah Grabag menjadi tempat tujuan penjelajahan kali ini. Berjarak 26 km dari kota Magelang, berada di kaki Bukit Kelir yang rimbun dengan perkebunan kopi. Berdekatan dengan kawasan Losari dengan hotel yang terkenal itu.

Rute menuju Desa Ngrancah dari Magelang

Rute penjelajahan di Desa Ngrancah

Berikut ini beberapa dokumentasi kegiatan

Perjalanan menuju Ngrancah

 

Budayawan: Serat Centhini Didekatkan kepada Pembaca

Standard

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kanan) menyaksikan lukisan tentang Serat Centhini setelah membuka Borobudur Writers and Cultural Festival Ke-5 di Hotel Atria Kota Magelang, Rabu (5/10) malam. (Foto: Hari Atmoko/ANTARAJATENG.COM).
Magelang, Antara Jateng – Serat Centhini karya para pujangga zaman Kasunanan Surakarta dipimpin Sri Susuhunan Pakubuwana V (1785-1823), oleh sejumlah pihak didekatkan kepada pembacanya dalam beberapa bahasa, kata budayawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Budi Subanar.

“Serat Centhini mengajak pembaca untuk mengembara, sebagaimana dilakukan dua tokoh dalam serat itu, Cebolang dan Amongraga,” katanya dalam rangkaian pembukaan Borobudur Writers and Cultural Festival di Magelang, Rabu malam.

Acara yang berlangsung pada 5-8 Oktober 2016 di Magelang dan kawasan Candi Borobudur Kabupaten Magelang diselenggarakan oleh Yayasan Samana itu, dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan antara lain dihadiri Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif Endah Wahyu Sulistianti dan Anggota Komisi X DPR RI Bambang Sutrisno.

Ia menjelaskan pada 2006 di London, Inggris, diluncurkan terjemahan Serat Centhini dalam bahasa Inggris yang dibuat Profesor Suwito Santosa (almarhum).

“Hari ini, 10 tahun kemudian, dalam BWCF Ke-5 ‘di-launching’ Buku Syair Tambangraras yang telah dikerjakan Tim Alocita sejak 20 tahun lalu,” katanya. Tim Alocita yang dipimpin Dr Emanuel Subangun itu, antara lain terdiri atas Dorothea Rosa Herliany, Profesor Sangidu, dan Dr Luwiyanto.

Ia mengatakan satu tim lainnya dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang melanjutkan karya terjemahan yang telah dirintis sejak 1992 oleh Dr Darusuprapto, beberapa tahun lalu juga telah menyelesaikan terjemahan dalam bahasa Indonesia atas 12 jilid Serat Centhini.

“Beberapa peristiwa tersebut menunjukkan Serat Centhini yang telah dihasilkan oleh para pujangga zaman Pakubuwono V, oleh sejumlah pihak didekatkan kepada para pembacanya dalam beberapa bahasa,” kata Budi Subanar yang juga bagian dari Tim Kerja BWCF.

Pada kesempatan itu, ia menjelaskan secara umum tentang tokoh Cebolang dan Amongraga, dua tokoh dalam Serat Centhini.

“Dua tokoh dalam Centhini memang secara fisik dan pengetahuan mengajak para pembaca Centhini untuk mengembara,” ujarnya.

Ia mengatakan kisah Cebolang mengetengahkan berbagai khasanah pengetahuan sehingga tidak mengherankan Serat Centhini disebut sebagai “Ensiklopedi Kebudayaan Jawa”.

Pengembaraan Amongraga, katanya, sebagian merupakan pengembaraan simbolik. Bersama pasangannya, Tambangraras, ia melewatkan malam-malam pertama pernikahannya selama 40 hari 40 malam, dan mengisinya dengan berbagai cerita kepada isterinya.

Mereka, katanya, tidak menikmati malam-malam tersebut sebagaimana layaknya pasangan pengantin baru. Amongraga malah mengisinya dengan berbagai ajaran yang merupakan tradisi sufi, tasawuf.

“Di situlah kekayaan Serat Centhini berada. Perkaranya, orang banyak terperangkap seolah-olah Serat Centhini berada di pinggiran kisah-kisah yang membingkainya,” katanya.

Pada peluncuran Buku Syair Tambangraras itu, disuguhkan penggalan kisah dalam Serat Centhini melalui tembang Jawa langgam Asmaradana dan pembacaan penggalan lain dari kisah Cebolang.

Budayawan Budi Subanar menyerahkan Buku Syair Tembangraras kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, sedangkan Emanuel Subangun menyerahkan buku serupa kepada Direktur Yayasan Samana Yoke Darmawan, Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Bekraf Endah Wahyu Sulistianti, dan Anggota DPR Bambang Sutrisno.

Rangkaian BWCF Ke-5, antara lain seminar tentang Serat Centhini dan kitab-kitab Nusantara, pameran fotografi, lokakarya penulisan cerita pendek, pameran lukisan, musyawarah penerbit, dan pentas berbagai kesenian.

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © 2016

AGENDA KTM – DJELADJAH PERKEBOENAN #1 : Ngrancah Grabag Minggu 23 Oktober 2016

Standard

AGENDA KTM – DJELADJAH PERKEBOENAN #1

Kopi adalah salah satu komoditi terpenting yang di hasilkan dari bumi Magelang. Daerah di deretan perbukitan di utara Grabag ini menjadi tempat yang cocok untuk ditanami karena memiliki hawa sejuk, tanah yang subur dan selalu disinari hangatnya matahari.
Ngrancah, sebuah desa di kaki Bukit Kelir yang warganya mulai menggeliat lagi seiring semakin banyaknya penggemar kopi.

Ribuan hektar perkebunan kopi menjadi andalan masyarakat setempat sejak jaman Belanda dahulu hingga kini.
Ngrancah, sebuah desa di kaki Bukit Kelir yang warganya mulai menggeliat lagi seiring semakin banyaknya penggemar kopi.
Sejarah sejak seratusan tahun yang lalu menjadikan desa ini pantas untuk dikunjungi.

Tapi seperti apakah kondisinya kini, apakah kopi akan mampu lebih “menghangatkan” warga desa ini?
Yuk ikuti acara berikut ini :

#ACARA
– Nama Acara : DJELADJAH PERKEBOENAN #1 : GRABAG
– Hari, tanggal : Minggu, 23 Oktober 2016
– Jam Kumpul : 06.45 – 07.45 wib
– Jam Berangkat : 07.45 wib

#TEMPAT #KUMPUL
– Tempat Kumpul : halaman parkir Ruko Kalimas Jl. Kalimas [timur SMPN 3 Kota Magelang] atau dari lampu bangjo/traficlight Menowo ke arah timur sekitar 500 meter, kanan jalan. Jalan menuju Pucang.

#KONTRIBUSI
– Kontribusi : Rp 25.000,-
– Perincian : snack pagi Rp 5.000, makan siang tradisional & kopi Rp 10.000, workshop kopi Rp 5.000, kas kampung & tiket lokasi Rp 5.000,-

#PENDAFTARAN
Cara pendaftaran :
– ketik PERKEBOENAN #1 [spasi] Nama Anda,
– kirim ke: 0878 32 6262 69 atau

– ketik PERKEBOENAN #1 [spasi] Nama Anda, kirim ke bawah postingan flyer publikasi event ini.
Pendaftaran paling telat hari Jumat 21 Oktober 2016 jam 18.00 wib.

SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG.

#NB :
PETUNJUK TEKNIS KEGIATAN
1. Peserta wajib bersepeda motor/mobil yang WAJIB dilengkapi dengan syarat wajib berkendara [SIM, STNK, helem, dll].
Wajib berhati-hati, menjaga ketertiban dan kenyamanan berlalu lintas selama kegiatan berlangsung [safety riding].
Wajib menyiapkan mantol/jas hujan atau payung.

2. Peserta wajib sarapan pagi dulu karena snack pagi baru dibagikan di lokasi acara di Desa Ngrancah.

3. Peserta wajib mendaftar dulu untuk mempermudah proses penyiapan kegiatan [snack, makan siang, jelajah]. Paling telat Jumat 21 Oktober jam 18.00.
Pembayaran kontribusi di bayarkan saat daftar ulang peserta sebelum kegiatan dilaksanakan yaitu pada jam 06.45 – 07.45 wib di tempat kumpul di Ruko Kalimas [timur SMPN 3 Kota Magelang].

4. Peserta wajib memakai sepatu atau sandal yang layak dipakai untuk kegiatan jelajah. Diharapkan untuk membawa topi dan pakaian cadangan.

5. Dari Kota Magelang menuju Desa Ngrancah sejauh 26 km yang bisa ditempuh sekitar 45 menit dengan rute sbb :
Magelang – Pucang – Kayupuring – Grabag – Pagonan – Ngrancah.

6. Rute jelajah sejauh 2 km, pulang pergi sejauh 4 km dengan kondisi medan landai berupa jalan desa sebagian dengan cor semen [sepanjang 1 km] dan jalan setapak berbatu [sepanjang 1 km]. Diperkirakan memakan waktu 1,5 jam berjalan santai.

7. Selesai jelajah akan ada workshop tentang kopi. Dilanjutkan dengan makan siang bersama dengan menu tradisional khas desa setempat.

8. Hal-hal yang belum tertulis pada lembar petunjuk teknis ini akan disampaikan kemudian.

SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG.