Monthly Archives: June 2016

Waktu dalam Genggaman Festival Lima Gunung

Standard

Sitras Anjilin (kanan), salah satu petinggi Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, menghitung waktu yang dianggap baik untuk penyelenggaraan Festival Lima Gunung XV/2016, beberapa waktu lalu. Fesvital Lima Gunung XV jatuh pada 21-24 Juli 2016 dengan tema besar “Pala Kependhem”. (Hari Atmoko/dokumen).

Magelang, Antara Jateng – Di pojok Candi Asu dekat Kali Tringsing kawasan Gunung Merapi Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sitras Anjilin, salah satu petinggi Komunitas Lima Gunung bercerita jelimet tentang penentuan waktu yang baik dalam tradisi budaya masyarakat Jawa.

Pada prinsipnya, segala waktu atau hari tidak ada yang buruk. Akan tetapi, Sitras memahami bahwa orang Jawa membutuhkan perasaan hati yang nyaman dan mantap terkait dengan penentuan waktu untuk melakukan suatu aktivitas yang bermakna.

Mereka ingin suatu momentum menjadi istimewa, baik menyangkut tempat yang dipilih, bentuk hajatan yang dikemas, maupun waktu yang secara titis diputuskan.

“Menghindari ‘sangaran’ (Hal yang mendatangkan bala atau musibah, red.) tahun, misalnya hari yang untuk tanggal 1 Sura tidak boleh. Itu keyakinan dalam Jawa,” kata Sitras yang juga pemimpin Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, sekitar delapan kilometer barat daya puncak Gunung Merapi.

Ihwal tersebut dituturkannya di sudut candi itu, terkait dengan proses alamiah Komunitas Lima Gunung memutuskan penentuan waktu berdasarkan penghitungan kalender Jawa secara jelimet untuk hari festival tahunan mereka.

Sejak festival keempat atau pada 2005 hingga tahun ini yang bakal digelar pada 21-24 Juli 2016 di kawasan antara Gunung Merapi-Merbabu Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, komunitas beranggotakan seniman petani kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh itu, melakukan penghitungan waktu untuk menentukan hari festivalnya.

Sitras yang juga tokoh kejawen komunitas tersebut selalu secara resmi, melalui rapat petinggi komunitas, mendapatkan daulat menghitung waktu untuk penyelenggaraan Festival Lima Gunung.

Ia memperoleh kepandaian menghitung waktu yang dianggap baik secara kejawen dari Romo Yoso Soedarmo (almarhum), orang tuanya yang juga pendiri Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor (1937).

Pada festival setahun sebelumnya atau Festival Lima Gunung Ke-3 Tahun 2004, kendaraan seorang tamu festival terperosok saat melintasi jalan beraspal berupa tanjakan di kawasan hutan Gunung Merbabu. Mobil itu jatuh ke jurang sedalam sekitar 15 meter. Tidak ada korban dalam peristiwa yang dianggap sebagai musibah, namun tidak menimbulkan kehebohan massa waktu itu.

“Mulai festival tahun berikutnya, kami menentukan waktu dengan lebih baik, menggunakan pendekatan kearifan lokal, menggunakan penghitungan Jawa,” ujarnya pagi itu di pojok Candi Asu, sebelum terlibat dalam aksi warga secara kultural, menolak penambangan pasir Gunung Merapi secara ilegal menggunakan alat berat.

Rapat petinggi komunitas bersama para pemuka warga Dusun Keron beberapa bulan lalu membahas waktu penyelenggaraan Festival Lima Gunung XV/2016. Ungkapan bersifat formal untuk penyerahan daulat pencarian hari yang baik untuk festival, diserahkan secara resmi oleh Ketua RT01/RW11 dusun setempat, Tugiman, kepada peserta rapat.

“Untuk penentuan waktu festival, kami serahkan kepada Komunitas Lima Gunung. Secara umum, kami warga di sini siap menjadi tuan rumah,” ujar Tugiman dalam bahasa Jawa “kromo inggil” (halus).

Seketika para petinggi komunitas secara bersama-sama memalingkan wajahnya ke arah Sitras Anjilin. Sitras pun menyatakan sebenarnya di setiap desa hingga saat ini memiliki orang-orang tertentu yang bisa melakukan penghitungan secara kejawen untuk menentukan waktu bagi warganya yang hendak hajatan.

“‘Sumonggo’ (Silakan, red.) Pak Sitras,” kata Riyadi salah satu pemimpin Komunitas Lima Gunung yang siang tersebut memimpin rapat di rumah pemimpin Sanggar Saujana Keron, Sujono.
Riyadi menyilakan Sitras menghitung waktu yang tepat, sedangkan Sujono beranjak dari tempatnya bersila lalu menurunkan kalender dari dinding rumahnya untuk perangkat Sitras menentukan waktu festival.

Peserta rapat hanya memberikan ancar-ancar hari festival, yakni setelah Lebaran 2016. Hari Lebaran dalam kelender Masehi tahun ini dengan telah diterakan dalam warna merah, jatuh pada 6-7 Juli 2016.

Konsentrasi dan seluruh daya kepandaian Sitras yang diperoleh sebagai warisan kearifan lokalpun, kemudian dituangkan dalam pencarian waktu festival. Telunjuknya bergerak-gerak menyusuri setiap angka tanggal dalam kalender yang digelar di depannya bersila.

Pada kesimpulannya, Festival Lima Gunung XV dengan tema besar “Pala Kependhem” jatuh pada 21-24 Juli 2016. Tema festival menunjuk kepada berbagai hasil olah pertanian untuk ketahanan pangan yang bersifat terpendam, antara lain singkong, ubi, tales, dan gembili.

Sitras mengumumkan waktu untuk festival dalam rapat seketika itu pula, dan kemudian semua yang hadir menyatakan persetujuan. Keputusan tentang hari festival tahun inipun kemudian ditabuh dengan perasaan batin semua peserta rapat yang terkesan lega.

Memang tidak mudah memahami cara penghitungan waktu atau hari yang dianggap baik untuk suatu hajatan dalam masyarakat Jawa, antara lain karena menggunakan rumus-rumus tertentu, ada sifat angka baik ganjil maupun genap untuk setiap hari dan pasaran, termasuk mempertimbangkan jatuhnya hari pada tahun sebelumnya.

“Termasuk ada ‘dino taliwangke’ (hari yang tidak boleh dipakai). Setiap bulan ada satu hari ‘taliwangke’, mulai dari Maulud, sampai tiga tahun ke depannya. Cari tanggal yang tidak dihindari,” ucap Sitras.

Ia menyebut sejumlah primbon sebagai dasar penentuan hari yang dianggap baik itu, antara lain Bental Jemur, Laduni, Rahasia Mujorobat, dan Adamakno.

Namun, Sitras yang hingga saat ini menjadi rujukan warga desa-desa sekitarnya dalam penentuan hari baik untuk hajatan itu, menggunakan primbon Laduni yang dipelajari dan diturunkan secara lisan selama bertahun-tahun oleh orang tuanya.

Hajatan warga desa-desa yang masih menggunakan penghitungan waktu berdasarkan kejawen, antara lain pesta pernikahan, supitan, atau pembangunan rumah. Bagi Komunitas Lima Gunung, festival tahunan mereka yang diselenggarakan secara mandiri itu, termasuk dalam kategori hajatan.

“Untuk melangkah, tentu butuh hati yang mantap. Penghitungan waktu juga menjadi penting untuk memantapkan hati,” katanya.

Begitu waktu untuk festival telah digenggam, selanjutnya dengan hati mantap para pegiat Komunitas Lima Gunung dan warga Keron yang menjadi tuan rumah festival, melakukan berbagai persiapan menuju puncak agenda tahunanpada 21-24 Juli 2016.

Berbagai persiapan, antara lain kerja bakti warga menghiasi wajah dusun, membuat panggung pertunjukkan, menyiapkan areal parkir kendaraan, mengatur jadwal dan pengemasan pementasan kesenian, menyiapkan tempat transit tamu festival, mendata rumah-rumah warga untuk menginap secara gratis tamu festival, dan persiapan berbagai suguhan makanan.

Dalam perspektif pariwisata pada umumnya, penyelenggaraan festival seni budaya dianjurkan setahun sebelumnya sudah diputuskan demi kepentingan promosi atau mendatangkan banyak pengunjung, termasuk dari luar negeri. Namun, tidak demikian rupanya untuk Festival Lima Gunung yang sudah mendunia itu.

Kalau berbagai kalangan dan jejaringnya menanyakan tentang kapan hari festival, mungkin mereka akan mendapat jawaban dari para petinggi Komunitas Lima Gunung dengan ucapan, “Menunggu wangsit”, yang maksudnya waktunya mesti dihitung dengan baik supaya penyelenggaraan berlandaskan kebersamaan hati yang mantap.

Selama ini, ribuan orang, baik warga dari lokal desa-desa, kota-kota besar, tokoh-tokoh kondang, pelaku seni, maupun pemerhati budaya dari luar negeri pun, tetap mementingkan hadir, ikut pentas, atau menyimak kabar terkait dengan Festival Lima Gunung.

Apalagi, Komunitas Lima Gunung sesungguhnya tidak ingin muluk-muluk mengejar kehadiran penonton dan peserta dari luar daerah dalam jumlah yang banyak sebagai ukuran sukses kasat mata atas penyelenggaraan festival.

Waktu untuk berfestival sebagai saat yang dianggap baik untuk mencapai puncak pemaknaan nilai-nilai budaya silaturahim kelompok-kelompok seniman petani dusun yang tergabung dalam komunitas dan yang mereka hidupi selama ini.

Para tamu dan kelompok seniman lainnya dari luar komunitas yang menghadiri pergelaran itu pun, masuk secara ikhlas serta gembira dalam genggaman waktu Festival Lima Gunung.

Waktu yang menggenggam festival mereka, memang untuk mengajak siapa saja bersama-sama mencapai puncak kebahagiaan batin. Tetap sulit kebahagiaan itu kalau mau diukur sekadar capaian materiil, tetapi selama ini gereget waktu Festival Lima Gunung bisa dirasakan.

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © 2016

sumber : http://www.antarajateng.com/detail/waktu-dalam-genggaman-festival-lima-gunung.html#.V1-Sab2QCiI.facebook

50 Grup Kesenian Pentas di Festival Lima Gunung

Standard

Rapat persiapan Festival Lima Gunung XV/2016 sambil berbuka puasa di salah satu rumah pegiat Komunitas Lima Gunung di Desa Sudimoro, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Minggu (26/6) sore. (Hari Atmoko/dokumen).

Magelang, Antara Jateng – Sedikitnya 50 grup kesenian bakal ikut menggelar pementasan pada agenda tahunan, Festival Lima Gunung XV/2016, yang diselenggarakan secara mandiri oleh para seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

“Berbagai kelompok kesenian yang ikut dalam festival kami tahun ini, selain oleh berbagai grup kesenian Komunitas Lima Gunung, juga dari berbagai kelompok lain di Magelang, dan juga mereka dari berbagai komunitas di kota-kota besar,” kata Ketua Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Supadi Haryanto di Magelang, Minggu malam.

Festival Lima Gunung XV rencananya berlangsung di kawasan antara Gunung Merapi dan Merbabu di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang pada 21-24 Juli 2016, sedangkan pembukaannya di Candi Gunung Wukir, Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang pada 19 Juli 2016.

Ia mengatakan berbagai kesenian yang bakal dipentaskan, antara lain tarian dan musik baik tradisonal maupun kontemporer, performa dan instalasi seni berbahan alam, kirab budaya, peluncuran buku, pameran seni rupa, prosesi ritual, dan pidato kebudayaan.

“Berbagai persiapan panitia dan koordinasi dengan berbagai grup dari luar kota hingga saat ini terus kami lakukan,” ujarnya usai rapat lanjutan persiapan kegiatan itu di salah satu rumah pegiat Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Menoreh) yang juga dalang, Sih Agung Prasetyo, di Desa Sudimoro, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.

Ia mengatakan tema besar Festival Lima Gunung XV/2016 adalah “Pala Kependhem”. Tema itu secara harfiah menunjuk kepada kekuatan ketahanan pangan dari hasil pertanian yang sifatnya terpendam dalam tanah, antara lain singkong, ubi, talas, dan gembili.

Namun, ujarnya, secara simbolis, tema tersebut hendak menunjuk kepada kekayaan bumi Nusantara (Jawa), sebagaimana tertulis dalam Prasasti Canggal (Ditemukan di Candi Gunung Wukir) tentang kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, dan ketenteraman Jawadwipa pada masa lampau.

Festival yang digelar oleh komunitas seniman petani tersebut hingga saat ini dikenal luas dan bahkan hingga luar negeri, terutama karena bertumpu kepada kekuatan sanak kadang dan semangat kemandirian.

“Tanpa proposal dan tanpa sponsor,” kata Supadi yang juga seorang juragan sayuran di kawasan Gunung Andong, Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang itu.

Dinamika kehidupan komunitas selama ini dengan inspirator utama budayawan yang juga dikenal sebagai Presiden Komunitas Lima Gunung, Sutanto Mendut. Para petinggi komunitas menyebut penyelenggaraan festivalnya sebagai tidak berembuk duit.

Penyelenggaraan festival mereka selama ini, selalu menjadi daya pikat kehadiran ribuan orang, termasuk antara lain para tokoh nasional, kalangan budayawan, rohaniwan, pemerhati seni, dan akademisi lintas disiplin ilmu.

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © 2016

sumber : http://www.antarajateng.com/detail/50-grup-kesenian-pentas-di-festival-lima-gunung.html#.V2_aOQwGUr8.facebook

Agenda Acara FESTIVAL LIMA GUNUNG [FLG] XV 21-24 Juli 2016

Standard

SELASA, 19 JULI 2016 pukul 15:00 – selesai
Tempat di Candi Gunung Wukir, Dusun Carikan, Desa Kadiluwih, Kec. Salam, Kab. Magelang

Acara: Pembukaan FLG ke-15 dan Refleksi Peradaban Leluhur Mataram Kuno, Do’a Bersama, Peluncuran Buku Komunitas Lima Gunung, Pidato Kebudayaan, dan Makan Pala Kependhem bersama.
Pengisi Acara: Komunitas Lima Gunung, Warga Dusun Carikan, Ayu Permata ISI Yogyakarta, Bohemian.

=========================================================================

KAMIS, 21 JULI 2016 pukul 13:00 – selesai
Tempat di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan, Kab. Magelang

Jadwal:
1. Drum Band dari SD IT Al-Muhajirin, Sawangan, Kab. Magelang.
2. Tari “Buto Ijo” dari Dusun Dhadhapan, Desa Ketep, Sawangan, Kab. Magelang.
3. Pembukaan Pameran Seni Rupa.
4. Tari “Geol-geol” dari Universitas Negeri Semarang.
5. Tari dari SD Krogowanan, Sawangan, Kab. Magelang.
6. Tari dari SMP Santa Maria, Sawangan, Kab. Magelang.
7. Tari “Reog” dari Dusun Karangrejo, Desa Krogowanan, Sawangan, Kab. Magelang.
8. Tari “Kubrosiswo” dari Dusun Nglulang, Desa Krogowanan, Sawangan, Kab. Magelang.
9. Jathilan dari Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Sawangan, Kab. Magelang.
10. Sendratari dari SD Sronalan, Sawangan, Kab. Magelang.

=========================================================================

PETA Lokasi Festival Lima Gunung XV Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan. Kab Magelang Google Maps -7.522437, 110.342338

[sumber : A’ari Kusuma]

==================================================================

JUMAT, 22 JULI 2016 pukul 13:00 – selesai
Tempat di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan, Kab. Magelang
Jadwal:
1. Tari “Grasak” dari Dusun Kopeng.
2. Tari “Obros” dari Komunitas Lereng Menoreh, Dusun Petugan, Salaman, Magelang.
3. Sendratari Kidung Karmawibangga dari Cebongan, Windusari.
4. Tari “Soreng Penangsang” dari Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kec. Pakis, Kab. Magelang.
5. Tari “Jang Juang” dari Yog(y)a, Yogyakarta.
6. Tari dari celeng dot com, Yogyakarta.
7. Tari “Sigrak” dari Widya Nata, Yogyakarta.
8. Tari dari Wisnu Dance Company, Yogyakarta.
9. Tari dari Ryan, Yogyakarta.

=======================================================================

http://statik.tempo.co/?id=428142&width=620

SABTU, 23 JULI 2016 pukul 13:00 – selesai
Tempat di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan, Kab. Magelang
Jadwal:
1. Musik dari Ki Sodong, Sodongan, Borobudur, Magelang.
2. Musik dari UKSW, Salatiga.
3. Tari “Barong Abang” dari Karang Taruna Manunggal Sejati, Dusun Jati Pakel, Desa Tanggulangin, Kec. Jatisrono, Kab. Wonogiri.
4. Tari dari Etta Ayodya, Yogyakarta.
5. Tari Bantengan dan Singo Budoyo dari Padepokan Gunung Wukir & Kampung Cempluk, Malang.
6. Tari dari Satriyo Ayodya, Yogyakarta.
7. Tari “Ngoser Banyumasan” dari Universitas Negeri Semarang.
8. Tari dari Elisabeth Nila, Yogyakarta.
9. Tari dari Melati Suryodarmo, Solo.
10. Tari “Topeng Losari” dari Nanik, Cirebon.
11. Tari dari Sanggar Kinanti Sekar Rahina, Yogyakarta.
12. Dangdut Kontemporer dari Kang Iman Festival Gunungan, Kota Parahyangan, Bandung.
13. Musik “Suara Bumi” dari Nareswara, Yogyakarta.
14. Forum Kilometer Nol dari Borobudur, Magelang.
15. Tari “Renuka” dan “Jathilan” dari Loka Art, Yogyakarta.
16. Performance Ganjel Lumbung dari Saka Galeri, Solo.
17. Tari “Dua Sisi” dari Kirana Laksita, Solo.
18. Joko Aswoyo ISI Surakarta.
19. Kethoprak HIMA Jawa dari Universitas Negeri Yogyakarta.

===========================================================================

MINGGU, 24 JULI 2016 pukul 13:00 – selesai
Tempat di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan, Kab. Magelang
Jadwal:
1. Kirab “Pala Kependhem” oleh KLG dan pengisi acara yang lain.
2. Pemukulan Gong, pidato panitia dan tokoh budayawan dalam kota maupun luar kota.
3. Tari “Jingkrak Sundang” dari Keron, Krogowanan, Sawangan, Magelang.
4. Tari “Trunthung Ora Dibahas” dari Warangan, Merbabu, Magelang.
5. Tari “Titis Cahyo Mudi” dari Krandegan, Sumbing, Magelang.
6. Tari “Gunungan” dari Sanggar Wonolelo, Bandongan, Magelang.
7. Tari “Kuda Lumping” dari Mantran Wetan, Ngablak, Magelang.
8. Tari dari Nungki, Yogyakarta.
9. Tari dari Wargo Budoyo, Gejayan, Pakis, Magelang.
10. Wayang Waton dengan lakon “Bomanarakasura Lahir” dari Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang.
11. Musik dari Bohemian Yogyakarta, Wukir Suryadi Malang, Arif Planet Bambu Ubud Bali.
12. Musik dari Jodhokemil, Magelang.
13. Kethoprak Budi Aji dari Sawangan, Magelang.

https://i0.wp.com/berita.suaramerdeka.com/smcetak/konten/uploads/2015/08/01SM18H15NAS-br-01.jpg

 

 

Gantungan Kunci KOTA TOEA MAGELANG

Standard

Gantungan Kunci KOTA TOEA MAGELANG
– Desain :
#1 “LAMBANG MAGELANG TEMPO DOELOE”
#2 “WATERTOREN 1920”
– Bahan : Kulit Asli
– Harga : @ Rp 15.000,-
– Bisa di dapatkan di :
1. Toko Oleh-oleh GETUK ECO Jl. Panjaitan No. 5 Jambon Kota Magelang [ 500 meter selatan Aloon-aloon).
Buka dari jam 7 pagi – 9 malam.
2. Penjualan online, COD dalam kota & Pemesanan Luar Kota bisa hubungi :
Bagus Priyana 087832626269 – 085729571921
SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG!

Kaos KOTA TOEA MAGELANG #7

Standard

Kaos KOTA TOEA MAGELANG #7
– Desain : Lambang Magelang Tempo Doeloe”
– Warna : hitam lengan pendek
– Bahan : katun kombet yang nyaman di pakai
– Ukuran & Harga :
S Rp 62.000,-
M Rp 67.000,-
L Rp 72.000,-
XL Rp 77.000,-
XXL Rp 82.000,-
– Bisa di dapatkan di :
1. Toko Oleh-oleh GETUK ECO Jl. Panjaitan No. 5 Jambon Kota Magelang [ 500 meter selatan Aloon-aloon).
Buka dari jam 7 pagi – 9 malam.
2. Penjualan online, COD dalam kota & Pemesanan Luar Kota bisa hubungi :
Bagus Priyana 087832626269 – 085729571921
SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG!

Kaos KOTA TOEA MAGELANG #4

Standard

Kaos KOTA TOEA MAGELANG #4
– Desain : “WATERTOREN 1920”
– Warna : hitam lengan pendek
– Bahan : katun kombet yang nyaman di pakai
– Ukuran & Harga :
S Rp 62.000,-
M Rp 67.000,-
L Rp 72.000,-
XL Rp 77.000,-
XXL Rp 82.000,-
– Bisa di dapatkan di :
1. Toko Oleh-oleh GETUK ECO Jl. Panjaitan No. 5 Jambon Kota Magelang [ 500 meter selatan Aloon-aloon).
Buka dari jam 7 pagi – 9 malam.
2. Penjualan online, COD dalam kota & Pemesanan Luar Kota bisa hubungi :
Bagus Priyana 087832626269 – 085729571921
SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG!

Kaos KOTA TOEA MAGELANG #4

Standard

Kaos KOTA TOEA MAGELANG #4
– Desain : “WATERTOREN 1920”
– Warna : coklat tua lengan pendek
– Bahan : katun kombet yang nyaman di pakai
– Ukuran & Harga :
S Rp 62.000,-
M Rp 67.000,-
L Rp 72.000,-
XL Rp 77.000,-
XXL Rp 82.000,-
– Bisa di dapatkan di :
1. Toko Oleh-oleh GETUK ECO Jl. Panjaitan No. 5 Jambon Kota Magelang [ 500 meter selatan Aloon-aloon).
Buka dari jam 7 pagi – 9 malam.
2. Penjualan online, COD dalam kota & Pemesanan Luar Kota bisa hubungi :
Bagus Priyana 087832626269 – 085729571921
SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG!