Monthly Archives: December 2015

KANTOR PERTAMA ASURANSI JIWA BERSAMA BUMIPUTERA 1912 MAGELANG, SEBUAH MISTERI HINGGA KINI

Standard

AJB Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asuransi jiwa nasional yang pertama dan tertua di Indonesia. Perusahaan asuransi ini terbentuk pada tanggal 12 Februari 1912, di Magelang, Jawa Tengah, dengan nama Onderlinge Levensverzekering Maatschapij PGHB (bahasa Belanda) disingkat dengan O.L Mij. PGHB atau lebih dikenal dengan bahasa Inggrisnya Mutual Life Insurance (Asuransi Jiwa Bersama). Dengan bentuk badan usaha yang seperti ini, maka pemilik perusahaan adalah Para Pemegang Polis.O.L Mij PGHB didirikan berdasarkan keputusan dalam sidang pada Kongres Perserikatan Guru-guru Hindia Belanda yang pertama di Magelang, saat itu pesertanya hanya terbatas pada kalangan guru-guru saja. Para peserta kongres pun menyambut positif. Jumlah peserta yang terdaftar sebagai anggota O.L Mij. PGHB, baru 5 orang.

old photo

Tiga Orang Guru Pendiri AJB Bumiputera 1912

Karena perusahaan ini dibentuk oleh para guru, maka pengurusnya pun untuk pertama kali, hanya terdiri dari tiga orang Pengurus PGHB, yang terdiri dari:

1. Mas Karto Hadi (M.K.H) Soebroto, sebagai Direktur.

2. Mas Ngabehi (M.Ng) Dwidjosewojo, sebagai Presiden Komisaris.

3. Mas (M) Adimidjojo, sebagai Bendahara.

Dengan bertambahnya anggota, maka para pengurus sepakat untuk mengubah nama perusahaannya. Berdasarkan Rapat Anggota/Pemegang Polis di Semarang, November 1914, nama O.L Mij. PGHB diubah menjadi O.L Mij. Boemi Poetra.

Pada tahun 1942 ketika Jepang berada di Indonesia, nama O.L Mij. Boemi Poetra yang menggunakan bahasa asing segera diganti. Maka pada tahun 1943 O.L Mij. Boemi Poetra kembali diubah namanya menjadi Perseroan Pertanggungan Djiwa (PTD) Boemi Poetra, yang merupakan satu-satunya perusahaan asuransi jiwa nasional yang tetap bertahan. Namun karena dirasa kurang memiliki rasa kebersamaan, maka pada tahun 1953 PTD Boemi Poetra dihapuskan. Dan, hingga sekarang terkenal dengan nama Asuransi Jiwa Bersama (AJB) di depan nama Bumiputera 1912 yang merupakan bentuk badan hukum.

Permodalan AJB Bumiputera 1912

AJB Bumiputera 1912 memulai usahanya dengan modal awal nol sen. Dengan demikian, perusahaan asuransi ini berbentuk onderling atau mutual (Usaha Bersama), karena perusahaan dapat didirikan tanpa harus menyediakan modal lebih dahulu. Uang yang diterima perusahaan untuk pertama kalinya berasal dari kelima peserta kongres PGHB yang menjadi O.L Mij. PGHB. Syarat utamanya dalah bahwa ganti rugi tidak akan diberikan kepada ahli waris pemegang polis yang meninggal sebelum polisnya berjalan selama tiga tahun penuh. Perusahaan ini hanya mengutamakan pembayaran premi sebagai modal kerjanya dan tidak mendapatkan honorarium bagi para pengurusnya, sehingga mereka bekerja
dengan sukarela.

Misteri Letak Kantor Asuransi Pertama

Asuransi Jiwa Bumiputera 1912 berdiri pertama kali di Magelang. Tetapi belum di ketahui dimana pertama kali kantor asuransi ini berada. Beberapa sumber mengatakan bahwa kantor asuransi ini terletak di jalan Bayeman, Aloon2 Utara dan Poncol.
Tetapi sumber lain juga menyebutkan bahwa kantor pertama ada di jalan Tidar.
Sebuah foto di bawah ini menggambarkan dari gedung Asuransi Bumiputera di Magelang Tahun 1914 dengan beaya sebesar f 800 (delapan ratus gulden) yang di bangun di atas tanah milik MKH Serta (pendiri asuransi tsb).

Aksi Bersih-bersih Cagar Budaya

Standard

Kondisi Plengkung Baru dan Plengkung Lama sungguh memprihatinkan. Bangunan cagar budaya ini tak lagi cantik karena ulah tangan-tangan jahil yang merusak keindahannya dengan mencoret-coret dinding temboknya. Aksi vandalisme ini tentunya sangat memprihatinkan karena selain merusak keindahan juga mengancam kelestarian bangunan yang berusia hampir 1 abad ini.

Karena itulah Komunitas KOTA TOEA MAGELANG berupaya memulihkan kondisi Plengkung agar seperti semula. Maka pada hari minggu 20 Desember 2015 di adakanlah aksi bersih-bersih pada kedua bangunan cagar budaya ini. Tujuan kegiatan ini agar kondisi Plengkung Lama dan Plengkung Baru tetap cantik dan lestari.

Kegiatan ini di suport oleh para relawan yang berasal dari KOTA TOEA MAGELANG dan seksdi Kebersihan pada Dinad Kebersihan, Pertamanan dan Tata Kota Magelang.

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan.

 

 

Rel Kereta Api Seputar Temanggung – Parakan di Jaman Dulu

Standard

Jalur kereta api Secang-Parakan merupakan jalur kereta api nonaktif yang menghubungkan Stasiun Secang dan Stasiun Parakan. Jalur ini terletak di Daerah Operasi VI Yogyakarta. Jalur ini dahulu melayani kereta-kereta api yang digunakan untuk melayani angkutan tembakau di Temanggung. Jalur ini dibangun pada tahun 1907 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), atas jasa Ho Tjong An, seorang pemborong (aannemer) Tionghoa.

Proses pembangunan jalur kereta api antara Ambarawa-Secang, Magelang-Secang dan Secang-Temanggung-Parakan, tentunya tidak bisa melupakan jasa seorang aannemer/pemborong bernamaHo Tjong An. Ho Tjong An terlahir di Tungkwan, Canton Cina pada tahun 1841.
Berikut ini kami kutip dari majalah SINPO terbitan tahun 1919 yang menceritakan tentang sosok Ho Tjong An tersebut:
“Begitoe pakerdjahan itu selese, toean Ho soeda borong poela pakerdjahan memboeka djalanan kreta api antara Willem I-Setjang, Magelang-Setjang dan Setjang-Parakan. Grondverzet antara Setjang-Parakan ada 143.000 M3”.
“Grondverzet jang ia mesti bikin antara Ambarawa-Setjang, toean Ho Tjong An trima boeat harga f 390.000,- kerna boekan sedikit djoerang jang mesti di potong agar tida kliwat menandjak. Koeli jang di pake setiap harinja tida koerang dari 3000 orang.
Kamoedian pakerdjahan ini ia samboeng boeat boeka tanah jang hoeboengkan antara Magelang-Setjang dan Setjang – Parakan, jang ia borong boet harga f 350.000,-.
(“Satoe aannemer kreta api Tionghoa”, majalah Sinpo tahun 1919)
Dalam tulisan tersebut di tuliskan bahwa pengerjaan jalur KA antara Ambarawa-Secang menghabiskan beaya sebesar f 390.000,- (Guilders Belanda). Dan jalur antara Magelang-Secang dan Secang-Parakan menghabiskan beaya sebesar f 350.000,- (Guilders Belanda). Jumlah yang sangat besar diwaktu itu.
Jalur Magelang-Secang mulai beroperasi pada tanggal 15 Mei 1903, jalur Secang-Temanggung beroperasi 3 Januari 1907, jalur Secang-Ambarawa beroperasi 1 Februari 1905 dan jalur Temanggung-Parakan beroperasi 1 Juli 1907

Foto : Rel kereta api menjelang Stasiun Temanggung di Banyu Urip. Pada sisi atas rel terdapat jembatan penyeberangan buat masyarakat setempat. Tampak di latar belakang adalah Gunung Sumbing

Ho Tjong An sebagai seorang insinyur yang tentunya sudah mempunyai pemikiran modern waktu itu, insinyur yang lahir di Tungkwan, Canton pada tahun 1841 tersebut tetap menggaji kuli lokal, serta menghargai kepercayaan lokal dimana pada waktu itu, masyarakat pribumi masih banyak yang percaya terhadap batu. pohon, makam, dan kawasan yang dikeramatkan. Maka dari itu, sengaja membelokkan beberapa jalur kereta api tersebut karena jika tidak dilaksanakan, kuli tidak akan mau untuk mengerjakan. Belokan belokan ini terjadi di Payaman – Secang, dan daerah perbatasan Magelang – Temanggung di barat Secang sampai di Kota Temanggung.
Stasiun Secang merupakan stasiun paling strategis di seputar Magelang dan Temanggung. Hal ini karena posisinya yang berada di 3 jalur, yaitu antara Magelang, Temanggung – Parakan dan Ambaraw.. Karena begitu strategisnya maka Stasiun Secang lebih luas dan memiliki jalur perlintasan lebih banyak, apalagi jenis loko yang melayani jurusan ke Ambarawa juga beda dikarenakan memakai rel bergerigi untuk melewati tanjakan di wilayah pegunungan.
Antara Stasiun Secang menuju Temanggung melewati stasiun kecil yaitu Stasiun Kranggan. Stasiun Kranggan juga berfungsi mengangkut hasil bumi masyarakat sekitar. Di stasiun ini juga pernah menjadi saksi tergulingnya gerbong kereta yang terlepas dari lokonya. Peristiwa ini membawa korban yang sangat banyak.
Di jalur antara Stasiun Temanggung – Parakan terdapat Stasiun Kedu yang berada di sisi jalan raya. Di wilayah Dusun Watukarung Desa Campursari Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung, terdapat jalur kereta api yang melintang di atas jalan raya, mirip dengan Plengkung yang ada di Kota Magelang. Antara jalur kereta api ini dari Stasiun Kedu sampai dengan Parakan rutenya di buat memutar. Hal ini dikarenakan jalan yang sedikit menanjak.

Stasiun Temanggung tahun

Jembatan kereta api di atas Kali Kuwas

Stasiun Parakan tahun 1910 [tropenmuseum]

Sedangkan Stasiun Parakan gaya arsitektur bangunan pun sangat istimewa. Bisa dikatakan persis dengan Stasiun Temanggung. Stasiun Parakan merupakan stasiun awal dan akhir bagi kereta api yang melayani jalur ini, sehingga di Stasiun Parakan ini ada alat pemutar loko. Stasiun Parakan berperan penting dalam pengangkutan tembakau dan hasil bumi yang lain dari masyarakat Temanggung.

Candi Selogriyo di Tempo Doeloe

Standard

Berkas:Candi Selogriyo Hindu Temple of Java A 2013.jpg

Candi Selogriyo berada di lereng timur kumpulan tiga bukit, yakni Bukit Condong, Giyanti, dan Malang, dengan ketinggian 740 mdpl. Secara administratif, candi ini berada di Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang.

Route yang terdekat adalah jalur Magelang-Bandongan. Sesampai di Pasar Bandongan belok ke kanan menuju kecamatan Windusari sejauh kira-kira 5 km. Di sebuah pertigaan terdapat papan petunjuk arah ke candi ini.

Arsitektur Indonesia Klasik berlatar belakang agama Hindu ini menghadap ke arah timur. Salah satu keistimewaan candi tanpa perwara ini adalah kemuncaknya yang berbentuk buah keben. Kemuncak tersebut disebut amalaka. Di empat sisi dinding bangunan candi terdapat lima relung tempat arca-arca perwujudan dewa. Arca-arca tersebut adalah Durga Mahisasuramardini (dinding utara), Ganesha (dinding barat), Agastya (dinding selatan), serta Nandiswara dan Mahakala (dinding timur). Tetapi sayangnya beberapa arca ini dalam kondisi telah rusak. Terutama banyak kepala arca yang rusak dan bahkan telah hilang.

Lalu seperti apakah kondisi candi dan arca-arca yang terdapat di Candi Selogriyo di jaman dahulu?

Candi Selogriyo di tahun 1947

Arca di Tjandi Selogrijo,  pada tahun 1890

[fot : koleksi Joep Walter]