Category Archives: Sejarah

Riwayat Singkat Pendirian Kabupaten Magelang

Standard

Gubernur Jenderal Janssens menggantikan Herman Willem Daendels (1808-1811) sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Janssens pada masa pemerintahannya menghadapi kesulitan untuk memulihkan pertahanan yang belum stabil. Pada tanggal 3 Agustus 1811, Inggris yang dipimpin oleh LORD MINTO meminta agar Janssens menyerahkan Jawa kepada Inggris, tetapi di tolak sehingga terjadilah peperangan diantara keduanya.

       Lord Minto memimpin Inggris dan berhasil mengalahkan Janssens yang menyerah di Tuntang pada tanggal 17 September 1811. Hal ini di tandai dengan penandatanganan REKAPITULASI TUNTANG yang isinya bahwa Belanda menyerah dari Inggris. THOMAS STAMFORD RAFFLES akhirnya di tugaskan menjadi gubernur jenderal di Hindia Belanda.

       Saat masa pemerintahannya, Raffles mengembalikan wilayah Kedu kepada Kasultanan Jogjakarta. Pada bulan April 1812 Raffles melakukan penyerangan ke Kasultanan Jogjakarta karena Sultan Hamengkubuwono telah bersekongkol dengan Kasunanan Surakarta untuk memberontak terhadap Inggris (terkenal dengan nama Gegeran Sepoi/Sepei). Yang pada akhirnya Kasultanan Jogjakarta di paksa membayar dan menanngung beaya perang yang telah dikeluarkan oleh Inggris.

       Pada tanggal 1 Agustus 1812 Raffles merampas beberapa wilayah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta, termasuk wilayah Kedu (yang saat itu meliputi Kabupaten Magelang dan kabupaten Temanggung). Melihat begitu strategisnya Magelang yang berada ditengah-tengah Jawa, maka dipilihlah kawasan ini menjadi ibukota nagari Kabupaten Magelang oleh pemerintah Inggris saat itu. Dan pada tanggal 30 November 1813 Inggris mengangkat bupati kepatihan pada Kasultanan Jogjakarta yang bernama ALWI BIN SAID ABDAR RAHIM BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar MAS NGABEHI DANUKROMO.

       Pada masa pemerintahannya Mas Ngabehi Danukromo membangun Aloon-aloon, masjid dan rumah bupati di utara Aloon-aloon. Hal ini diperjelas dalam majalah MAGELANG VOORRUIT terbitan tahun 1936.

“Danuningrat I ( Danukromo) mendirikan rumah kabupaten (regentwoning), masjid (groote moskee) dan Aloon-aloon. Boleh dipandang sebagai yang mendirikan negeri Magelang.” (MAGELANG VOORRUIT, TENTOONSTILLINGSUITGAVE 1936)

       Pemerintahan Raffles di Hindia Belanda berlangsung tidaklah lama. Karena di Eropa terjadi perubahan politik. Dalam perjanjian London di jelaskan Belanda akan menerima kembali daerah jajahannya di Hindia Belanda yang dahulu direbut oleh Inggris.

       Penyerahan wilayah Hindia Belanda dari Inggris kepada Belanda dilakukan pada tanggal 19 Agustus 1816 di Benteng Willem I Ambarawa. Dengan Inggris diwakili oleh JOHN FENDALL sedangkan Belanda di wakili oleh BUYSKES, ELOUT dan VAN DER CAPELLEN. Maka berakhirlah kekuasaan Inggris di wilayah Hindia Belanda. dan kembalilah pemerintah kolonial Belanda.

       Meski kekuasaan Inggris sudah berakhir, tetapi Belanda mengangkat kembali Mas Ngabehi Danukromo sebagai Regent atau Bupati Magelang dengan gelar RADEN ARYO DANUNINGRAT. Pada masa bupati ini dilakukanlah pembenahan tata kota dengan membuat jalan-jalan sehingga menjadi lebar dan baik.

       Saat terjadi Perang Diponegoro (Java Oorlog, 1825-1830), Danuningrat terlibat dalam perang besar melawan pasukan Diponegoro. Saat berperang di Dimaya (Jumoyo Salam Magelang) Danuningrat meninggal, peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 September 1826.

       Untuk mengatasi kekosongan kekuasaan , pemerintah Belanda mengangkat putra Danuningrat yang bernama HAMDANI BIN ALWI BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar RAA DANUNINGRAT II. Tetapi sayang pada tahun 1862 Danuningrat II melepaskan jabatannya yang di pegang selama 36 tahun. Dan di gantikan oleh puteranya bernama SAID BIN HAMDANI BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar RT DANUNINGRAT III. Tetapi pada tahun 1878 Danuningrat III melepaskan jabatannya dan pemeritah Belanda mengangkat puteranya yang bernama SAYID ACHMAD BIN SAID BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar DANUKUSUMO.

       Pada tahun 1908 Danukusumo mengundurkan diri dari jabatannya dan digantikan oleh saudaranya yang bernama MUHAMMAD BIN SAID BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar RAA TUMENGGUNG DANUSUGONDO yang memerintah sampai tahun 1935. Dimana Danusugondo merupakan keturunan terakhir dari trah Danuningrat yang menjadi Bupati Magelang. Danusugondo pada masa pemerintahannya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap rakyatnya.Sampai tahun 1935 Danusugondo memerintah Kabupaten Magelang dan digantikan oleh SOSRODIPROJO hingga tahun 1945.

ASURANSI JIWA BERSAMA BUMIPUTERA 1912, 100 TAHUN MERETAS SEJARAH

Standard

STATUTEN

Onderlinge Levensverzekering Maatschappij Boemi Poetera

Fatsal 1.

“Perserikatan O.L.Mij Boemi Poetera didirikan boeat 29 tahoen lamanja,

moelai pada satoe hari boelan Februari seriboe sembilan ratoes doea

belas di Magelang.

… Didalam fatsal-fatsal statuten jang bertoeroet ini, maka njatalah perserikatan ini dinamai “Maatschappij (Persekoetoean.)”

Kalimat seperti di atas itulah yang menjadi dasar atas pembentukan

AJB Bumi Putera 1912 di Magelang. Kalimat tersebut merupakan pasal 1

dari anggaran dasar dari perusahaan tersebut. Sebuah asuransi milik

pribumi yang mampu bertahan selama 100 tahun. Dan siapa sangka asuransi

legendaris ini lahir di kota kita tercinta, Magelang. Ya tepatnya lahir

pada tanggal 12 Februari 1912. Lalu bagaimanakah sebenarnya proses

kelahiran Asuransi Jiwa Bersama/AJB Bumi Putera ini ?

Sesudah

berdirinya Boedi Oetomo di Batavia/Jakarta, maka berpengaruh pula

terhadap perkembangan pendirian organisasi yang lain yang ada di daerah.

Baik yang bersifat sosial, budaya maupun politik. Salah satunya adalah

pembentukan Perserikatan Guru-guru Hindia Belanda [PGHB]. Terbentuknya

PGHB merupakan cita-cita dari Kartosoedirjo dan usaha dari KH Soebroto,

Adimidjojo dan M Ng. Dwidjosewojo. Sehingga berdirilah pada tahun 1910

perhimpunan guru-guru yang pertama di Magelang yaitu PGHB.

Pada

waktu itu yang menjadi President adalah KH Soebroto, Sekretaris R

Danoekartiko, penningmeester (bendahara) M Adimidjojo, sedang Boediardjo

menjadi adviseurnya (penasehat).

Pada tanggal 26 Agustus 1912 dapat

dilangsungkanlah kongres PGHB di Jogjakarta. Maka di tetapkanlah

perubahan pengurus (Bestuur) yaitu Ketua KH Soebroto, sekretaris M Ng.

Dwidjosewojo, Penningmeester (bendahara), M Adimidjojo, dan Boediardjo

tetap menjadi adviseurnya.

‎[lanjutan] Pada tanggal 18 Desember 1912 pemerintah Belanda mengeluarkan Besluit atau surat keputusan nomer 49 tentang pengakuan PGHB sebagai Rectpersoon/badan hukum. Maka resmilah mulai saat itu PGHB berdiri. Tujuan dari organisasi ini adalah :
1. Berikhtiar memperbaiki dan menambah banyaknya pengajaran dan sekolah-sekolah bagi bangsa Indonesia.
2. Berusaha memperbaiki nasib dan derajat guru-guru bangsa Indonesia, baik tentang pengetahuannya maupun tentang keselamatan hidupnya.
Untuk mencapai maksud itu PGHB mengeluarkan orgaannya atau media cetak sebagai media publikasi. Awalnya bernama ‘DWIDJO OETOMO’ dan di pimpin langsung oleh Dwidjosewojo. Pada perkembangan berikutnya media ini berganti nama menjadi ‘MEDAN GOEROE HINDIA’.
Pada permulaan tahun 1910 sewaktu Dwidjosewojo menjadi guru bahasa Jawa di sebuah sekolah guru di Jogja, beliau menerima sebuah verrslag/surat penawaran berangka tahun 1908 dari direktur sebuah perusahaan asuransi jiwa bernama NILLMIJ. Surat penawaran tersebut di pelajarinya dengan seksama. Dan hal ini menimbulkan angan-angan pada diri beliau untuk mendirikan suatu Levensverzekering Mij. atau perusahaan asuransi jiwa. Cita-cita ini beliau usulkan dan di bicarakan dalam Algemeene vergadering Boedi Oetomo di Jogja pada tahun 1910. Putusan Vergadering dengan aklamasi menerima dengan baik usul itu. Akan tetapi selanjutnya Boedi Oetomo tidak lantas berusaha mendirikan Levenszekering Mij./perusahaan asuransi jiwa ini.

‎[lanjutan] Pada tanggal 12 Februari 1912, PGHB mengadakan Leden vergadering yang mana Dwidjosewojo menguraikan maksud akan mendirikan Levensverzekering Mij yang hanya untuk guru-guru bumiputera di Hindia Belanda. Solidaritas di kalangan guru-guru yang terbentuk karena persamaan nasib, telah membuat gagasan Dwidjosewojo memperoleh sambutan hangat dan positif. Di kongres pertama PGHB di Magelang itu dengan aklamasi menerima usulan itu. Dan akhirnya terbentuklah sebuah perusahaan asuransi jiwa khusus untuk kalangan guru-guru anggota PGHB yang bernama ‘Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB’ dan disingkat dengan OL Mij. PGHB yang berkedudukan di Magelang.
Yang menarik adalah pilihan bentuk usaha ‘Onderlinge’ dan bukan NV [Perseroan Terbatas] atau bentuk lainnya. Salah satu pertimbangannya adalah onderling pada waktu itu dapat di dirikan tanpa harus menyediakan modal lebih dahulu. Perlu di ketahui pula bahwa pada waktu itu belum ada undang-undang yang mengatur tentang perasuransian, khususnya asuransi jiwa. Semua kegiatan usaha di atur berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Dagang [W. v. K.] dan Kitab Undang-undang Hukum Perdata [B. W.] yang di buat pada pertengahan abad 19.

‎[lanjutan] Pada waktu itu OL Mij. PGHB dipimpin langsung oleh pengurus besar PGHB, yaitu sbb :
Direktur : MKH Soebroto
Sekretaris : MNg. Dwidjosewojo
Bendahara : M Adimidjojo
Sumber lain menyebutkan bahwa Dwidjosewojo tidak menjabatsebagai sekretaris namun sebagai komisaris.
Kelanjutan dan perkembangan usaha dari OL Mij PHGB rupanya kurang menggembirakan. Dalam Rapat Umum Anggota Bumiputera 1912 pada tahun 1941, Dwidjosewojo selaku komisaris mengisahkan kembali keadaan perusahaan pada awal berdirinya. Pada waktu itu ada usulan supaya keanggotaan perusahaan asuransi jiwa terbuka juga untuk umum, tidak hanya untuk guru-guru saja. Tetapi hal ini mendapatkan kendala karena perusahaan belum dapat memikul beaya administrasi dan propaganda yang besar.
Lalu para pengurus PGHB berusaha mendapatkan subsidi dari pemerintah. Setelah OL Mij PGHB diperiksa secara seksama oleh utusan pemerintah, maka Hoof Bestuur PGHB mulai bulan Oktober 1913 memperoleh subsidi sebesar f 300 setiap bulan. Akan tetapi dengan perjanjian bahwa OL Mij. PGHB hanya di buka untuk pegawai negeri/Gouvernement dan pegawai Swapraja/Zelfbestuur di Hindia Belanda saja. Artinya bahwa kalangan swasta tidak boleh di masukkan menjadi anggota.
Dengan menerima subsidi itu mulai bulan Oktober 1913 seharusnya OL Mij PGHB sudah melakukan perubahan dalam organisasi usahanya karena terikat dengan syarat pemberian subsidi tersebut. Tapi proses ini tidak dapat dilakukan dengan segera. Sebab OL Mij PGHB merupakan bagian langsung dari PGHB yang telah mempunyai status badan hukum yaitu Besluit tanggal 18 Desember 1912.

[lanjutan] Walaupun OL Mij PGHB memiliki anggaran dasar sendiri, tapi pemberian subsidi itu di tujukan kepada organisasi induknya yaitu PGHB. Hal ini karena pada waktu pengajuan subsidi tersebut memang atas nama Pengurus Besar PGHB yaitu MKH Soebroto dan MNg. Dwidjosewojo, masing-masing selaku Ketua dan Sekretaris tertanggal 25 September 1913. Maka melihat kondisi seperti ada usulan dari seorang verzekerde untuk mengubah nama OL Mij. PGHB karena ternyata perusahaan asuransi jiwa ini bukan hanya untuk guru saja tapi juga untuk kaum priyayi bumiputera. Atas usulan itu maka vergadering meluluskan pergantian nama itu. Dari semula bernama “Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB” menjadi “Onderlinge Levensverzekering Maatschappij Boemi Poetera”.
Perubahan nama ini di umumkan melalui majalah resmi PGHB yaitu Dwidjo Oetomo edisi 25 Desember 1914. Nah ada hal yang menarik tentang ini. Pada rancangan Anggaran Dasar OL Mij Boemi Poetera seperth yang tercantum pada awal tulisan ini bahwa pendirian OL Mij. Boemi Poetera adalah pada tanggal 1 Februari 1912. Padahal OL Mij. Boemi Poetera sendiri merupakan kelanjutan dari OL Mij. PGHB, karena semua urusan asuransi tetap dilanjutkan oleh OL Mij. Boemi Poetera tanp ada perubahan. (catatan : belum diketahui secara pasti mengapa dalam rancangan Anggaran Dasar/statuten tertulis 1 Februari 1912. Sedangkan peringatan kelahiran Asuransi Jiwa Bersama/AJB Bumiputra pada tanggal 12 Februari 1912. Barangkali ini merujuk pada pembentukan OL Mij. PGHB pada waktu kongres pertama PGHB di Magelang pada tanggal 12 Februari 1912)
Pada rapat anggota OL Mij. PGHB di Semarang tanggal 5-7 November 1914, selain melakukan perubahan nama perusahaan juga memilih pengurus baru, sbb :
Direktur : MKH Soebroto
Sekretaris : R Soehari
Bendahara : M Adimidjojo
Presiden Komisaris : MNg. Dwidjosewojo
Komisaris : R Hasan
Komisaris : M Djajasoedira
Demikianlah sejarah kelahiran AJB Bumiputera 1912 melalui perjuangan yang panjang. Antara Boedi Oetomo, PGHB dan AJB Bumiputera saling berkaitan.

Sumber : dirangkum dari buku BUMIPUTERA 1912 MENYONGSONG ABAD 21 edisi tahun 1992 dengan penyelarasan bahasa dan edit seperlunya.

MENYUSURI JEJAK SEJARAH TOKO DAN USAHA DAGANG ETNIS TIONGHOA DI KOTA MAGELANG DI TAHUN 1935-1938

Standard

Pada jaman dulu untuk memudahkan

pengawasan terhadap masyarakat Tionghoa maka kelompok etnis ini oleh

Belanda di zoningisasi pada suatu kawasan tertentu. Kawasan tersebut di

sebut dengan Pecinan [Jalan Pemuda sekarang ini]. Pada waktu itu etnis

Tionghoa hanya di ijinkan untuk berdagang saja. Ma…ka

banyak orang Tionghoa yang membuka usaha dagang, misalnya toko dan

usaha dagang yang lain. Baik itu toko pakaian, kelontong, obat, sepeda,

emas, pabrik cerutu, rokok dll.

Nah dari 2 buah buku lama berjudul

WETENSWAARDIGHEDEN VAN MAGELANG tahun 1935 dan CHINA tahun 1938,

berhasil saya kumpulkan nama-nama usaha milik masyarakat Tionghoa pada

saat itu. Misalnya Pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Prawirokoesoeman/Jalan

Tarumanegara, Toko Ong Hok Liem yang menjual rokok dan cerutu di

Pecinan, Toko Tan yang menjual aki, bensin, raket dan bola tenis di

Pecinan, Penjahit Kleermakerij THKO di Pecinan, Toko rokok Ong Sioe Sing

di Pecinan, toko petromak dan lampu Fa. Pwee Sing di Pecinan,

Colportage Boekhandel di Groote weg Noord 64, Tabakhandel Liem Gwan San,

eksportir tembakau Oei Kok Tien di Tidarweg 22, Toko kain Liem Tjan

Hien & Co di Grooteweg Zuid 166, eksportir tembakau Ko IK Soei di

Djoeritan Zuid, autobusonderneming Parmadi, AM JAVA Bussen, Studio foto

Oen Liem di Chinnese Kampement street 93, Toko Obat Tek Tjie Yok Fong di

Groote weg Zuid 112, Hotel Joe Jan di Groote weg Zuid 139, Toko

Himalaij di Pontjol 19, Toko mebel dan gramophon Tjong & Co di

Pontjol 29, Boekhandel Liberty di Groote Weg Zuid 14, Industri Sigaret

Lo Ban Tjiang, Kamar Obat Eng Tay Hoo di Pecinan 121, Toko Mas Heng Seng

di Petjinan 28, pabrik cerutu Poetri Rimba oleh The Kiem Toen, hotel

dan restoran Tay Tong di Groote Weg Zuid 149, toko bunga Veronica di

Groote weg Noord 39 Pontjol, hotel dan restoran Khoe A Bwan di Petjinan,

bis ADAM GRABAG milik Tan Sing Djiang, dll.

Pada waktu dulu Jalan Pemuda

di kota Magelang di sebut juga dengan nama Patjinan, Petjinan, Pecinan,

Chinnese Kampement street, Groote weg Zuid dan Pemuda Selatan.

Kisah hidup OEI HONG KIAN, Dokter Gigi Soekarno dari Kota Magelang, Peranakan Yang Hidup dalam Tiga Kebudayaan

Standard

Biografi atau otobiografi di Indonesia biasanya mengenai sukses seseorang. Jarang tentang kehidupan pribadinya lengkap sampai ke detail-detailnya. Biasanya juga ditulis menjelang usia 70 tahun. Otobiografi Oei Hong Kian, berjudul Oei Hong Kian, Kind van het Land, Peranakan-Chinezen in Drie Culturen dan diterbitkan Intisari (Maret 2001) dengan judul Oei Hong Kian, Dokter Gigi Soekarno, Peranakan Yang Hidup dalam Tiga Kebudayaan ini agak unik karena selain kisahnya dimulai dari saat kakek buyutnya datang dari Cina ke Jawa, buku ini juga ditulis menjelang usia 80 tahun.

Dan yang perlu di garis bawahi adalah Oei Hong Kian ini adalah orang Tionghoa kelahiran Kota Magelang. Sampai kini rumahnya masih berdiri tegak di jalan Tidar, tepatnya di timur RSU Tidar Magelang [sebelah selatan Apotik Pendawa]. Bagaimana cerita selengkapnya ? Inilah sekelumit cerita sejarah dari Oei Hong Kian yang harus anda baca.

Kisahnya dimulai ketika pada suatu hari di bulan Februari 1858 Oei Tiauw Ting duduk di puncak bukit menghadap ke teluk yang luas di Fujian atau Hokkian. Tujuan Tiauw Ting pergi ke tempat sunyi itu untuk bisa berpikir dengan tenang tentang masa depannya. Ayahnya sudah tua dan sebagai anak sulung tanggung jawabnya berat.

Sejak lahir 30 September 1830 ia selalu mengalami kesusahan. Bencana alam, banjir, kelaparan, wabah, dan banditisme melanda negaranya yang imbasnya menimpa keluarganya. Bahkan dengan kerja keras pun hasil sawah tidak bisa memenuhi kebutuhan.

Untung masih ada usaha penangkapan ikan. Namun laut pun tidak selalu aman. Perompak sering bermain kucing-kucingan. Kemudian menyusul ancaman perang dari Inggris dan pecahlah Perang Candu tahun 1839. Cina yang enggan dijadikan tujuan ekspor candu tak berdaya menghadapi kapal besi yang pipih. Pada perjanjian Nanking 28 Agustus 1842 pemerintah Qing dipaksa melepaskan Hongkong. Lima pelabuhan harus dibuka, termasuk Xiamen. Ketagihan candu merebak mengerikan. Pemerintah Qing terpaksa menaikkan pajak untuk membayar utang pada Barat. Para warlord, yaitu para penguasa setempat yang memiliki pasukan bersenjata, ikut meminta cukai. Rakyat tambah menderita.

Pada saat itulah ayah Tiauw Ting diam-diam menghubungi seorang thauke, orang yang secara berkala bolak-balik dari Nanyang (arti harfiah: Laut Selatan, namun makna sebenarnya kawasan Asia Tenggara – Red.) ke Cina. Thauke bisa membantu mereka yang ingin mengadu untung dengan membawa mereka naik jung laik layar dan menghubungkan mereka dengan rekan senegaranya di perantauan. Ia merekomandasikan Pulau Jawa yang memiliki iklim baik, cocok untuk tempat tinggal. Di sana banyak orang Cina. Hubungan erat antara orang sedaerah, terutama yang nama keluarganya sama, dipegang teguh. Lagi pula thauke itu mengenal banyak perantau yang bermarga Oei. Itulah yang mendorong Oei Tjeeng Gwan, ayah Tiauw Ting, untuk mengirim ketiga anak laki-lakinya ke Semarang. Waktu itu Tiauw Ting berusia 28 tahun. Keputusan ayah mereka sudah bulat.

Dijodohkan di kapal

Mereka akan berangkat sehari setelah pesta musim semi (Tahun Baru Imlek – Red.) tanggal 25 Februari. Thauke itu ternyata orang yang praktis. Ia memberi tahu ukuran keranjang yang tepat untuk dibawa, supaya bisa ditumpuk dan tidak makan tempat. Ia juga memberi tahu pakaian yang cocok dibawa untuk dipakai di tempat beriklim panas. Atas petunjuknya pula mereka membawa mangkuk porselin yang bisa dijual mahal di Jawa. Atas inisiatif sendiri Tiauw Ting juga berhasil membeli satu perangkat barang kerajinan lak indah dengan harga murah.

Ibunya tidak bisa menahan air mata ketika ketiga putranya pamit. Sebuah kapal nelayan milik teman membawa mereka ke Xiamen. Di sini jung besar sudah menunggu.

Biarpun Tiauw Ting senantiasa mabuk laut, ia mendapat banyak kenalan di kapal sehingga dalam beberapa hari mereka sudah seperti keluarga. Di antara penumpang itu ada seorang pria berusia 49 tahun, Oei Kim San namanya, yang kembali ke Semarang setelah menjenguk keluarga. Karena kebetulan nama keluarganya sama, ketiga bersaudara itu diminta untuk tinggal di rumahnya.

Setelah lebih akrab, saat cuma berdua dengan Tiauw Ting, Paman Kim San bercerita tentang teman dan tetangganya, The Sie Tiong, yang juga dari Hokkian, pedagang porselin dan keramik. Usahanya maju. Mungkin Tiauw Ting bisa belajar berdagang padanya.

Kebetulan Paman Sie Tiong juga mempunyai putri cantik berusia 17 tahun. Gadis itu dilahirkan bertepatan dengan tibanya kiriman piring dari Cina ke rumahnya. Piring itu ternyata menghasilkan banyak uang, sehingga ibunya, seorang wanita Jawa, memberinya nama Piring. Paman Kim San bertanya apakah Tiauw Ting keberatan kalau dijodohkan dengan Piring? Tiauw Ting yang tidak tahu siapa-siapa di rantau, tidak keberatan.

Setelah berlayar 30 hari, ada pengumuman bahwa mereka sudah tiba di Semarang. Semua bergegas ke tempat penyimpanan barang. Dermaga tempat jung itu berlabuh disebut bum. Setelah terjadi kesepakatan antarathauke dengan pria-pria yang menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat, tak lama kemudian orang-orang itu datang membawa perahu-perahu kecil yang akan membawa thauke dan para penumpang ke kota. Tiauw Ting dan saudaranya ikut Paman Kim San naik gerobak ditarik sapi, karena mereka tidak tinggal di tepi sungai. Ternyata Paman Kim San tinggal di tepi pecinan. Rumah-rumahnya mirip di Cina. Mereka disambut ramah oleh istri Paman Kim San yang sayang hanya bisa berbahasa Hokkian sedikit.

Keesokan harinya setelah sarapan Tiauw Ting sudah diajak berkunjung ke Paman Sie Tiong, teman Paman Kim San yang dibicarakan di kapal. Karena sedang sibuk, mereka berjanji akan kembali malam harinya. Dari situ mereka langsung ke kantor pemerintahan untuk mengurus pendaftaran sebagai pendatang baru. Kantor itu kebetulan dekat dengan Klenteng Tay Kak Sie. Setelah itu mereka juga tidak lupa ke Klenteng Sam Po Kong.

Tanpa membuang waktu malam itu juga Paman Kim San melamar Piring untuk Tiauw Ting. Tentu setelah sebelumnya dibicarakan antara Bibi Kim San dan Sie Tiong. Perkawinan akan dilaksanakan tiga minggu kemudian.

Tiba saat sibuk untuk para wanita. Selama menunggu hari besar itu Tiauw Ting banyak bicara dengan calon mertuanya, tetapi calon istrinya masih rahasia. Paman Sie Tiong menyarankan agar mereka sebaiknya kelak tinggal di Magelang.

Sebulan setelah pesta perkawinan besar-besaran itu pasangan baru itu berangkat ke Magelang. Pagi-pagi buta Piring harus pamitan pada ibunya untuk ikut suami yang masih asing. Mereka naik kereta yang ditarik empat kuda kurus. Di tanjakan Gombel yang terkenal terjal, penumpang harus turun dan kuda diganti dengan empat ekor sapi. Piring ditandu. Sampai di atas, kuda dipasang lagi. Mereka menginap semalam di Ambarawa di rumah famili untuk meneruskan perjalanan keesokan harinya menuju Magelang.

Naksir Gadis Hijau

Waktu itu penduduk Magelang berjumlah 20.000 orang, di antaranya 2.400 penduduk Cina dan 200 Eropa. Tiauw Ting mulai berdagang kecil-kecilan dan Piring membuka toko. Usahanya berjalan lancar. Dua tahun setelah menikah lahirlah anak laki-laki. Akhirnya, mereka dikaruniai sepuluh anak, enam laki-laki dan empat perempuan.

Nasib Tiauw Ting terlalu baik. Namun, malapetaka melandanya seperti sambaran petir di siang bolong. Di Semarang ia sempat berkenalan dengan Oei Tjie Sien, yang datang dengan jung sebelumnya. Tjie Sien yang mendirikan perusahaan Kian Gwan adalah cina kolot. Lain dengan putranya, Oei Tiong Ham, yang terkenal mata keranjang. Ketika berkunjung ke Magelang, ia berkenalan dengan putri sulung Tiauw Ting, Kiem Hong. Karena diiming-imingi kehidupan enak, Kiem Hong berhasil dibujuk untuk lari. Namun setelah beberapa tahun ia sudah dicampakkan dari posisi gundik favorit. Di makam Tiauw Ting, nama Kiem Hong tidak disebut.

Salah seorang anak laki-laki Tiauw Ting ialah Tjing Lien yang menikah dengan Sik Nio alias Wineh, nama Jawanya. Itulah kakek dan nenek Oei Hong Kian (OHK). Dua tahun setelah menikah mereka mendapat anak laki-laki pada hari capgome, tepatnya tanggal 16 Februari 1897. Ia diberi nama Oei Kok Poo, yang tidak lain ayah OHK.

Oei Hong Kian sendiri dilahirkan 23 Februari 1921 sebagai anak sulung. Sejak kecil ia bukan anak yang manis. Diam-diam ia pernah ikut tukang kebun untuk menonton permainan Nini Thowok (semacam jailangkung) pada malam hari. Malah sewaktu tinggal di rumah kakeknya di Magelang, ia pernah mengisap cerutu kakek sampai mabuk, menggunting rambut gadis tetangga, dan bermain di tanah kosong ditemani Koos – salah seorang pembantu di rumah kakeknya – kalau sedang malas bersekolah.

Setelah lulus Hollands Chinese School (HCS) di Magelang, ia masuk Hogere Burger School (HBS) di Semarang. Waktu itu ia kos pada seorang Belanda, pedagang sepeda, yang menikah dengan seorang wanita Jepang. Di HBS itulah ia diam-diam menaruh hati pada Evergreen, gadis cina yang sering memakai pakaian hijau. Waktu itu OHK masih merasa sebagai orang udik lagi pemalu. Kekaguman itu ia simpan dalam-dalam. Setiap sore ia lewat di muka rumahnya untuk mencoba melihat gadis pujaannya itu barang sejenak. Perhatiannya pada gadis itu ternyata ketahuan juga. Sedikitnya oleh salah seorang dari sekian banyak pengagum Evergreen. Jantje Liem, yang terkenal jago berkelahi, rupanya merasa OHK melangkah terlalu jauh. Tiba-tiba saja Liem merenggutnya dari sepeda dan memukulinya. OHK pun merasa tergugah untuk berkelahi demi Evergreen.

Namun rupanya Evergreen memang bukan jodohnya. OHK lalu berkenalan dengan calon istrinya kelak, Hermien, yang tujuh tahun lebih tua. Perkenalan atas inisiatif Kiem Soei, teman sekolah OHK yang lebih tua dan lebih matang darinya itu, berlangsung di pasar malam di Semarang. Itulah pertama kalinya OHK pergi dengan perempuan. Perbedaan usia yang cukup mencolok – sebaya dengan bibinya yang setiap hari memandikan OHK ketika masih tinggal di rumah kakeknya – bukan soal besar bagi mereka.

Ketika lulus HBS, ia sebetulnya ingin ke Belanda untuk meneruskan pelajaran. Namun sudah keburu pecah Perang Dunia II di Eropa. Ia akhirnya mendaftarkan diri di STOVIT, sekolah pendidikan kedokteran gigi di Surabaya. Salah seorang asisten waktu itu ialah drg. Moestopo, yang kemudian mendirikan Universitas Prof. Dr. Moestopo. OHK belum lulus ketika Jepang masuk. Lalu ia pulang ke Magelang. Mien – panggilan akrab Hermien – waktu itu tinggal di Yogya.

Melanjutkan sekolah di Belanda

Masa pendudukan Jepang sangat menjemukan karena ia terpaksa menganggur. Usaha untuk memulai sesuatu gagal. Untung ia mempunyai teman yang membeli barang orang Belanda yang perlu uang. Di antara barang-barang itu ada banyak piringan hitam yang diputar pada malam hari bersama teman-teman.

Selama itu hubungan dengan Mien di Yogya berjalan terus. Di kediaman Mien itu ia bertemu dengan Raden Mohammed Achmad, bupati Kuningan, ayah Mr. Maria Ulfah Santoso, yang baru saja diangkat menjadi menteri sosial dalam Kabinet Sjahrir kedua. Ibu Mien kadang-kadang membantu mereka, misalnya secara bekala membelikan beras bermutu baik.

Adik-adik Mien membuka toko kecil yang sering didatangi kaum muda Indonesia. Dari sana Mien mendapat seorang pelanggan yang tidak lain calon Ny. Hatta, yang nantinya menjadi istri wakil presiden Republik Indonesia. Mien diminta menjahitkan baju pengantinnya.

Pada tanggal 29 Juli (’45 atau ’46?) di Yogya OHK kedatangan temannya yang sakit TBC. Temannya itu ingin mengunjungi pacarnya di Surabaya. Pak Achmad yang kebetulan mendengar percakapan itu keesokan harinya mengatakan bahwa tanggal 31 Juli teman yang sakit itu bisa menumpang kereta api ke Batavia. Ia akan membantu untuk memperoleh izin khusus hari itu juga. Pada tanggal 31 pagi buta OHK didatangi Pak Achmad dengan saran apakah ia tidak mau ikut ke Batavia juga, gratis.

Jelas, OHK tidak mempunyai waktu untuk pamit pada orang tuanya di Magelang. Pada pukul 23.15 hari itu juga ia bersama Mien berangkat naik andong ke Stasiun Tugu, yang remang-remang hampir kosong. Kereta api menurut rencana akan berangkat pukul 24.00. Namun ternyata kereta api baru tiba pukul satu lebih. Mereka hanya naik kereta api sampai Cirebon. Dari situ mereka dinaikkan kapal tangker berawak Jepang ke Batavia. Di situ Mien ditampung teman dan OHK tinggal bersama temannya yang sakit di tempat lain.

Lalu harus ngapain di Batavia? STOVIT tidak dibuka lagi dan di Batavia tidak ada sekolah dokter gigi. OHK menulis surat ke Utrecht apakah ia bisa meneruskan pelajaran di sana. Ternyata mungkin, tetapi bagaimana agar sampai di Belanda? Ia disarankan untuk menghubungi palang merah dan disarankan untuk minta bea siswa Malino. Namun saran itu ditolak. Untung mereka akhirnya bisa berangkat juga naik kapal Kota Inten sebagai pembantu di bagian rumah tangga kapal.

Namun sebelumnya mereka bermaksud untuk menikah dulu. Itu terjadi pada tanggal 2 September 1946. Mereka naik kapal pada 8 Oktober dan pada 2 November kapal Kota Inten dihela kapal tunda memasuki Nieuwe Waterweg. Dua hari kemudian mereka sudah mendapat pemondokan di Utrecht tanpa kamar mandi, sehingga mereka harus membayar 25 sen untuk mandi di tempat mandi umum.

Dekan yang khusus mengurusi mahasiswa memberinya persekot tanpa bunga dari pemerintah. Uang itu harus dibayar kembali setelah lulus kepada pemerintah Indonesia. Dengan tunjangan 100 gulden dan kiriman uang bulanan dari orang tuanya, mereka bisa hidup pas-pasan. Uang kuliah sebesar 335 gulden cukup dibayar dengan menandatangani surat utang.

Akhir bulan April ternyata Mien hamil. Biarpun keuangan masih sulit, berita itu disambut dengan gembira. Kedatangan si kecil juga menjadi dorongan untuk menyelesaikan studinya secepat mungkin. Selain itu ia juga sudah mengajukan permintaan pinjaman besar untuk membeli peralatan kedokteran gigi. Kalau dikelola dengan cermat, masih ada sisa sedikit untuk si kecil. Bayi itu lahir pada 12 Desember 1947 dan pada 17 Desember OHK lulus sebagai dokter gigi.

Pasiennya orang-orang besar

Pada 5 Januari 1949 OHK sudah menerima surat dari Kementerian Kawasan Seberang Laut untuk dikirim ke Indonesia. Namun sebelumnya ia ingin berpraktik dulu di Belanda.

Setelah keadaan politik di Indonesia membaik, mereka akhirnya mengambil keputusan untuk kembali ke Indonesia. Tepatnya pada 21 Desember 1949 mereka diantar sanak keluarga naik kapal Willem Ruys. Dari atas geladak mereka melihat keluarga Mien dan keluarga Oei sedang menunggu di pelabuhan Batavia untuk menyambut mereka.

Di Jakarta mereka tinggal di rumah yang disewa oleh orang tua Mien. Untung ia cepat mendapat pekerjaan. Seorang rekan memberi kesempatan bekerja di tempat pratiknya kalau tidak sedang dipakai. Selama itu Mien terus mencari tempat tinggal, yang waktu itu susah karena perumahan masih diatur oleh Huisvesting Organisatie Batavia (HOB). Namun secara kebetulan Mien berhasil menemukan rumah di Jln. Serang 12 (sekarang Jln. Syamsuridzal??) persis menurut ramalan ketika ia masih di Belanda.

OHK langsung membuka praktik dan di luar dugaan laris. Banyak di antara pasiennya namanya sekarang menghiasi jalan-jalan di Jakarta seperti Jln. Sutan Sjahrir, Jln. Rasuna Said, Jln. Soekardjo Wirjopranoto, Jln. Suwirjo, Jln. S. Parman, Jln. Syamsuridzal, dsb.

Tidak lama kemudian ia giat dalam organisasi Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Dibentuklah tim nasional yang terdiri atas rekan Abdulkadir, Soeria Soemantri, Soelarko, Jetty dan Rizali Noor, Slamet Sudomo, dan OHK.

Ia juga sempat ikut membangun kedokteran gigi di Indonesia. Ketika tahun 1950 Indonesia mengambil alih bidang kedokteran gigi dari Belanda, hanya ada 120 dokter gigi, termasuk orang Belanda, untuk melayani lebih dari 72 juta penduduk. Peralatan material dan obat-obatan tidak ada. Dokter gigi hanya ada di kota-kota besar.

Dalam buku yang ditulis seorang dokter gigi Jerman ia membaca, “Jangan membuat teman Anda menjadi pasien, tetapi jadikanlah pasien teman Anda”. Kalimat itu dia perhatikan dengan betul.

Sayangnya, lebih dari sekali ia mengalami pasiennya ditangkap tanpa proses karena keyakinan politiknya. Salah satunya ialah Mochtar Lubis. Koran di mana ia menjadi pemimpin redaksinya dibredel, dan ia dijemput dari rumah tanpa sempat pamit pada istrinya. Untung mereka masih bisa bertemu seperempat jam dalam praktiknya.

Dari pasiennya OHK sering menerima bunga dan kue pada hari raya. Dari Priyono, Adam Malik, Herawati Diah, Djatikusumo, dan banyak lagi yang kembali ke Jakarta setelah menjadi dubes ia mendapat oleh-oleh. Pernah ia mendapat lemari es dan AC dari seorang pasien.

Pernah pula ia menemukan sebuah akuarium iklan laut yang sangat indah di ruang keluarganya. Pengirimnya ternyata dubes Arab Saudi. Dalam kartu yang menyertainya, ia meminta agar ikan-ikan itu dipelihara. Ia dipanggil pulang untuk menduduki jabatan penting saat baru dua bulan bertugas di Jakarta.

Mayjen S. Parman tak balik lagi

Untuk merawat gigi, karyawan Kedutaan Amerika boleh pergi ke pangkalan Amerika di Filipina. Pada suatu hari tiba-tiba Dubes Howard Jones menderita sakit gigi hebat. Dubes Inggris yang sudah berjanji untuk datang merawatkan gigi ke tempat praktiknya merelakan janjinya untuk rekan sejawatnya. Sejak itu Pak Dubes Amerika menganggap, karyawan kedutaan tidak perlu ke Filipina untuk merawat atau menyembuhkan sakit gigi.

Hubungan baik dengan pasien itu juga diteruskan di luar negeri. Ketika pada musim panas tahun 1957 OHK dan Mien berlibur ke Belanda, dalam perjalanan kembali ke Indonesia mereka menginap di kediaman teman mereka Bambang Soegeng yang waktu itu dubes Vatikan. Kala itu mereka berkesempatan beraudiensi dengan Sri Paus.

Selasa 28 September 1965 Mayjen S. Parman duduk di kursi kamar praktiknya. Perawakannya kecil, tetapi mutunya tinggi. Ia asisten I KSAD. Hobinya bermain dengan kereta api mini. Pada hari Senin itu ia datang untuk memasang “jembatan” pada giginya. Ketika diminta kembali seminggu lagi untuk diperiksa, ia menjawab bahwa ia tidak bisa datang sepanjang bulan Oktober karena akan sibuk sekali. Supaya sempat datang, ia diberi OHK waktu khusus yaitu pukul 15.45 hari Kamis 30 September. “Jembatan” itu ternyata baik. Setiba di rumahnya ia menulis pesan di papan di dinding kamar kerjanya agar asistennya membayarkan rekening dokter gigi. Subuh tanggal 1 Oktober ia dijemput Cakrabirawa dengan alasan dipanggil menghadap Presiden Soekarno.

Ketika sore harinya pukul 16.00 OHK membuka praktik, setengah jam kemudian datang ajudan Jenderal Parman untuk membayar rekening bosnya. Katanya, pukul 04.30 Pak Jenderal dipanggil Presiden Soekarno dan sampai saat itu belum pulang. Baru setelah praktik selesai, OHK tahu bahwa enam jenderal dan seorang kapten telah dibunuh.

Merawat gigi Soekarno

Suatu pagi di awal tahun 1967 ia dikunjungi dr. Tan, dokter pribadi Presiden Soekarno. Katanya, Bung Karno sakit gigi. Tawaran itu diterima dan ia langsung diajak ke istana. Alangkah kagetnya ketika ternyata peralatan di sana sudah kuno, berasal dari gudang NICA, warisan Belanda. Terpaksa peralatan miliknya bolak-balik dibawa ke istana naik truk. Setelah perawatan selesai, OHK tidak boleh langsung pulang. Ia diminta untuk minum teh dulu ditemani cemilan pisang goreng.

Setelah Sidang Istimewa MPRS tanggal 7 – 12 maret 1967 diputuskan untuk menarik kembali mandat yang mereka berikan kepada Pemimpin Besar Revolusi, BK harus keluar dari Istana Merdeka dan mendapat tahanan rumah di Bogor.

OHK sudah tidak mengira akan bertemu dengan BK lagi. Permulaan 1967 ia mendapat kunjungan seseorang yang memperkenalkan diri sebagai doker pribadi BK. Katanya, BK ingin dirawat lagi dan akan datang ke tempat praktik di rumah. Ternyata BK datang naik Mercedes 600 dengan kawalan ketat.

Waktu itu tahun 1968. OHK sudah mengambil keputusan untuk pindah ke Belanda dan saat itu sudah dekat. Ketika BK datang bulan Maret, akan dia beri tahu tentang keputusan itu. Ketika itu BK perlu tambalan emas yang harus dicor dulu. Mereka berjanji tanggal 21 Maret akan kembali. OHK lupa bahwa tanggal 21 Maret ada sidang MPR yang berlangsung sampai 30 Maret. Tanggal 21 Maret BK tidak bisa datang. Juga tidak hari-hari berikutnya. Padahal pada 30 Maret mereka sudah harus berangkat. Jadi, tidak sempat pamit.

Kehidupan di Belanda sangat berbeda dibandingkan dengan di Indonesia dan nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tuanya. Semua sudah begitu teratur, sehingga kehidupan bisa diibaratkan kali kecil yang mengalir dengan tenang. Namun cara berpikir Belanda yang tanpa tabu dan semua boleh, juga merupakan perubahan besar. Alangkah kagetnya ketika putrinya berkata bahwa ia ingin tinggal sendiri dan tidak mau diatur oleh oang tua.

Putri-putrinya sekarang sudah menikah dan mempunyai anak. Cucu perempuan sulungnya bahkan sudah belajar ekonomi. Putranya tidak mau mempunyai anak. Dengan temannya ia merasa sudah mendapat cukup hiburan dari delapan kemenakannya. Istrinya waktu buku ini ditulis juga sudah mulai sakit-sakitan dan bahkan kemudian meninggal.

Buku itu diakhiri dengan napak tilas ke tempat leluhurnya berasal. Total ia pergi ke Cina empat kali bersama Mien, istrinya. Pada kunjungan kedua tahun 1983, begitu tiba di Xiamen, ia langsung menghubungi kantor Huakiau. Ia membawa salinan ijazah sekolah ayahnya. Di situ ditulis bahwa kakeknya berasal dari Shimajie, Longxi, Zhangzou di Propinsi Fujian.

Dalam perjalanan dilihatnya pemandangan yang identik dengan daerah antara Magelang dan Yogya. Di mana-mana ada kebun tebu. Andaikata rumah Cina itu diganti dengan rumah Indonesia, seakan-akan mereka berada di sekitar Muntilan. Sayang mereka tidak bisa menemukan rumah keluarga nenek moyangnya. Tapi sekolahnya masih ada.

Pemandu juga menemani mereka ke kaki sebuah bukit tempat mereka bisa melihat kota pelabuhan Amoy. Mungkin itu bukit tempat kakek buyutnya merenung sebelum memutuskan beremigrasi ke Nanyang.

Untuk menelusuri jejak kakek buyut, mereka memutuskan kembali ke Hong Kong dengan kapal. Pada 1 November 1983 mereka menumpang kapal motor Gulangyu. Mereka melewati Pulau Gulangyu yang bagus ketika keluar dari teluk. Pada sisi kanan mereka melihat pegunungan di Fujian Selatan yang bertambah lama bertambah kecil. Saat itu ia menjadi lebih yakin bahwa kakek buyutnya itu memang orang pemberani.

[sumber : http://agnesdavonar.gerychocolatos.com/?p=2251

ARSITEKTUR INDIS DI INDONESIA [2]

Standard

Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia dibagi

menjadi 4 periode (Hadinoto dalam Sukawi, 2009), yaitu:

1. Abad 16 – Tahun 1800an

Indonesia masih disebut sebagai Netherland Indische di bawah

kekuasaan VOC. Bangunan perkotaan orang Belanda pada periode ini masih

bergaya Eropa dengan bentuknya cenderung panjang dan sempit, atap curam,

dan dinding depan bertingkat bergaya Belanda di ujung teras. Bangunan

ini tidak memiliki orientasi bentuk yang jelas, atau tidak beradaptasi

dengan iklim dan lingkungan setempat.

2. Tahun 1800an – Tahun 1902

Terbentuk gaya arsitektural The Dutch Colonial Villa. Gaya

ini merupakan gaya arsitektur Neo-Klasik yang melanda Eropa (terutama

Perancis) yang diterjemahkan secara bebas, menghasilkan gaya Hindia

Belanda bercitra kolonial disesuaikan dengan lingkungan lokal, iklim,

dan material yang tersedia pada masa itu, yang kemudian dikenal sebagai

Indische

Architectuur, atau rumah Landhuis, yang merupakan tipe rumah

tinggal di seluruh Hindia Belanda pada masa itu. Tipe rumah ini memiliki

karakter sebagai berikut:

  • Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, pilar di serambi depan dan belakang (ruang makan), dan didalamnya terdapat serambi tengah menuju ruang tidur dan kamar-kamar lainnya.
  • Pilar menjulang ke atas gaya Yunani dan terdapat gevel (mahkota) di atas serambi depan dan belakang.
  • Menggunakan atap perisai.

3. Tahun 1902 – 1920

Kaum liberal Belanda pada masa antara tahun 1902 mendesak politik

etis diterapkan di tanah jajahan. Sejak itu permukiman orang Belanda di

Indonesia tumbuh dengan cepat. Indische Architectuur terdesak,

digantikan dengan standar arsitektur modern yang berorientasi ke

Belanda.

4. Tahun 1920 – 1940

Pada awal abad 20, arsitek-arsitek Belanda memunculkan pendekatan

untuk rancangan arsitektur di Hindia Belanda. Aliran baru ini semula

masih memegang unsur-unsur dasar bentuk klasik, memasukkan unsur-unsur

yang terutama dirancang untuk mengantisipasi matahari dan hujan lebat

tropis. Selain unsur-unsur arsitektur tropis, juga memasukkan

unsur-unsur tradisional Indonesia sehingga menjadi konsep yang eklektis.

Dari penjelasan diatas, dapat dirumuskan bahwa perkembangan

arsitektur Indis di Indonesia berawal dari penguasaan Indonesia oleh

VOC. Pada awalnya gaya arsitektur masih menggunakan gaya tradisional

Belanda, namun seiring perjalanan waktu, gaya ini terus berkembang,

mulai dari penyesuaian terhadap iklim tropis, hingga penyesuaian

terhadap unsur-unsur arsitektur tradisional Indonesia.

Arsitek-arsitek Belanda melakukan berbagai pendekatan untuk rancangan

arsitektur di Hindia Belanda. Selain unsur-unsur tropis, juga

memasukkan unsur-unsur tradisional Indonesia (Hadinoto dalam Sukawi,

2009). Dan dalam mempelajari arsitektur tradisional Indonesia, mereka

menekankan agar desain tersebut dapat bersahabat dengan iklim dan

kondisi lainnya. (Sidharta, 1998)

Disebutkan beberapa inovasi dalam desain menanggapi iklim tropis

adalah (Sidharta, 1998):

1. membuat beranda terbuka di depan, belakang, atau

sekeliling bangunan.

2. overhang yang lebar untuk melindungi permukaan

dinding dan jendela dari sinar matahari langsung dan hujan.

3. ketinggian plafon 4m dan ventilasi alamiah diatas

pintu dan jendela.

4. taman tropis dengan pepohonan yang cukup

Sedangkan penggunaan dari unsur seni tradisional, diterapkan pada

ragam hiasnya. Arsitek Belanda menghargai detail-detail yang penuh

ekspresi dan mengagumkan pada seni tradisional Indonesia sehingga

dijadikan ilham sebagai bahan ide untuk membangun arsitektur modern di

Hindia Belanda (Soekiman, 2000).

Ragam hias pada bangunan berarsitektur Indis dapat dilihat pada

(Soekiman, 2000):

1. Bentuk atap dan hiasan kemuncak

Bentuk atap dapat menggunakan bentuk model Belanda, dapat pula

menggunakan bentuk atap tradisional Indonesia seperti joglo, limasan,

pencu, rumah kampung, dan sebagainya. Sedangkan untuk material

menggunakan material yang terdapat di lingkungan seperti genteng, bambu,

daun pohon palem, rerumputan, dan sebagainya.

Contoh bangunan Indis beratap

joglo

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

Sedangkan hiasan kemuncak dapat berupa:

a)      Penunjuk arah tiupan angin (windwijzer)

Contoh windwijzer

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat

Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

b)      Hiasan puncak atap (Nok Acreterie) dan cerobong asap semu

Contoh hiasan puncak atap dan

cerobong asap semu

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

c)      Hiasan kemuncak tampak depan (geveltoppen)

Contoh geveltoppen

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

2. Tadhah angin

Di Belanda, ragam hias pada tadhah angin memiliki makna simbolik,

namun pada bangunan Indis di Indonesia, ragam hias itu sudah kehilangan

maknanya dan hanya berfungsi sebagai hiasan.

3. Ragam hias pasif dari material logam

Ragam hias yang melengkapi bagian rumah dari bahan besi, misal untuk

pagar serambi (stoep), penyangga atap emper bagian depan dan belakang

rumah (kerbil), penunjuk arah mata angin, lampu halaman, lampu dinding,

dan kursi kebun.

Contoh ragam hias pasif

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

4. Tubuh Bangunan

Ragam hias yang terdapat pada tubuh bangunan seperti kolom bangunan

dan lubang angin. Ragam hias pada lubang angin dapat berupa ukiran.

Sedangkan pada kolom bangunan menggunakan gaya Doria, Ionia, dan

Korinthia yang susunannya terdiri atas kepala, tubuh, dan kaki tiang.

Contoh ragam hias kolom

Sumber: Kebudayaan Indis dan Gaya

Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX)

sebenernya ada banyak banget

data yang  belon aku masukin, kalo tertarik n mao tau lebih jauh, aku

saranin baca buku2 dibawah ini.

Daftar Pustaka

Sidharta. 1998. Arsitektur dan Pendidikannya. Jurusan

Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Semarang

Soekiman, Djoko, Prof, Dr. 2000.

Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup

Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII – Medio Abad XX). Yayasan

Bentang Budaya. Yogyakarta.

Sukawi. 2009.

”Pengaruh Arsitektur Indis Pada Rumah Kauman

Semarang”, Tesa Arsitektur. Vol 7 No 1 hal 1-65.

Magelang, Kota Bersejarah Bagi Perkembangan Pegadaian

Standard

Awal mula pegadaian di Era Kolonial

Sejarah Pegadaian dimulai pada saat Pemerintah Belanda (VOC) mendirikan Bank van Leening yaitu sebuah lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai, lembaga ini pertama kali didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746.

Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda yaitu dari tahun 1811-1816,  Bank Van Leening milik pemerintah dibubarkan, dan masyarakat diberi keleluasaan untuk mendirikan usaha pegadaian asal mendapat lisensi dari Pemerintah daerah setempat (“liecentie stelsel”). Namun metode tersebut nampaknya  berdampak buruk bagi pemegang lisensi yang menjalankan praktek rentenir atau lintah darat yang dirasakan kurang menguntungkan bagi pemerintah berkuasa (Inggris). Oleh karena itu metode “liecentie stelsel” diganti menjadi “pacth stelsel” yaitu pendirian pegadaian diberikan kepada umum yang mampu membayar pajak yang tinggi kepada pemerintah daerah.

Pada saat Belanda berkuasa kembali, pacth stelsel tetap dipertahankan dan menimbulkan dampak yang sama. Pemegang hak ternyata banyak melakukan penyelewengan dalam menjalankan bisnisnya. Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda menerapkan apa yang disebut dengan “culture stelsel” di mana dalam kajian tentang pegadaian saran yang dikemukakan adalah sebaiknya kegiatan pegadaian ditangani sendiri oleh pemerintah agar dapat memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan  Staatsblad No. 131 tanggal 12 Maret 1901 yang mengatur bahwa usaha Pegadaian merupakan monopoli Pemerintah. Maka dari itupada  tanggal 1 April 1901 didirikanlah Pegadaian Negara pertama di Sukabumi. Selanjutnya karena tanggal tersebut sangat bersejarah maka setiap tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian.

Pada masa pendudukan Jepang gedung kantor pusat Jawatan Pegadaian yang terletak di jalan Kramat Raya 162, Jakarta dijadikan tempat tawanan perang dan kantor pusat Jawatan Pegadaian dipindahkan ke jalan Kramat Raya 132. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada masa pemerintahan Jepang baik dari sisi kebijakan maupun struktur organisasi Jawatan Pegadaian. Jawatan Pegadaian dalam bahasa Jepang disebut ‘Sitji Eigeikyuku’, Pimpinan Jawatan Pegadaian dipegang oleh orang Jepang yang bernama Ohno-San dengan wakilnya orang pribumi yang bernama M. Saubari.

pegadaian di era Era Kemerdekaan

Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia, kantor Jawatan Pegadaian sempat pindah ke Karanganyar, sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen karena situasi perang yang kian memanas akibat Agresi Militer Belanda II yang akhirnya memaksa kantor Jawatan Pegadaian dipindah lagi ke Magelang. Pasca perang kemerdekaan kantor Jawatan Pegadaian kembali lagi ke Jakarta dan Pegadaian dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia. 

DAFTAR NAMA BOEPATI MAGELANG DARI MASA KE MASA

Standard
De regent van Magelang, vermoedelijk Raden Toemenggoeng DanoeningratBeschrijving/Description: De regent van Magelang, vermoedelijk Raden Toemenggoeng Danoeningrat
Signatuur/Imagecode: 75351
Albumnummer/Albumnumber: 120
Albumtitel:
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Magelang,Jawa Tengah,Indonesia
Formaat/Size: 9,5x6cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1860
Herkomst/Provenance: Onbekend
1. Danoekromo / Alwi / Alwi bin Said Abdar Rahim Bach Caiban / Danoeningrat I (1812-1816 masa Inggris berkuasa) dan 1816-1826 (masa Belanda berkuasa)
2. Danoeningrat II / Hamdani / Hamdani bin Alwi Bach Caiban (1826-1862)
3. Danoeningrat III / Said / Said bin Hamdani Said Bach Caiban (1862-1878)
4. Danoekusoemo / Achmad / Sayid Achmad bin Said Bach Caiban (1878-1908)
5. Danoesoegondo / Muhammad bin Said Bach Caiban (1908-1939)
Raden Adipati Ario Danoesoegondo van Magelang met Raden AjoeBeschrijving/Description: Raden Adipati Ario Danoesoegondo van Magelang met Raden Ajoe
Signatuur/Imagecode: 12757
Albumnummer/Albumnumber: 55
Albumtitel: De Regenten van Midden-Java en hunne Raden Ajoe’s
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Magelang,indigenous administrators,women,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoesoegondo, R.A.A.
Formaat/Size: 16×11,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Maker/Artist: Hisgen & Co., O. / Semarang
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1930
Herkomst/Provenance: Gulik, R.H. van
6. R.A.A. SASTRODIPRODJO (1939-1945)
7. R.A.A SAID PRAWIROSASTRO (1945-1946)
8. R. Judodibroto (1946-1954)
9. MG Arwoko (1954-1957)
10. Sugeng Sumodilogo (1957-1960)
11. Drs. Adnan Widodo (1960-1967)
12. Drs. H. Achmad (1967-1979)
13. Drh. Soepardi (1979-1983)
14. Pj. Bupati Drs. Al. Soelistyo (1983-1984)
15. H. Mohammad Solihin (1984-1994)
16. H. Kol. Inf. Kardi (1994-1999)
17. Drs. H. Hasyim Affandi (1999-2004)
18. Ir.H. Singgih Sanyoto (2004-2013)
19. Zaenal Arifin (2013-…)
NB :
  1. Masa jabatan Danoesoegondo berbeda antara satu sumber dg sumber lain. Ada yg mengatakan hingga 1935, 1938, 1939, 1942, ada pula yg mengatakan diangkat 1939. Namun sumber paling kuat dan logis adalah dari B.C. de Jonge, Herinneringen · dbnl, yaitu 1908-1939.
  2. KRT.Said Prawirosastro diangkat September 1939 dan berkuasa hingga 1945. Adapun Danoesoegondo dilengserkan secara resmi pada tanggal 9 Desember 1939, ada kemungkinan tanggal ini dipilih hanya untuk formalitas/dipaskan tanggal yg sama ketika dia diangkat menjadi Bupati Magelang.  KRT.Said Prawirosastro ini memerintah Magelang pada 1939 hingga 1945.
  3. RAA Sosrodiprojo benar memang menjadi bupati Magelang namun tahun 1945-1946. Sumber data adalah “JAKA SANGKRIB DAN HARI JADI KEBUMEN”. Disitu dicantumkan bahwa bupati KRT. Said Prawirosastro memerintah Kebumen pada 1945-1947. Bupati ini semula menjadi Bupati Magelang dan kedudukannya di Magelang digantikan oleh R.A.A. Sosrodiprojo (Adik Arungbinang VII atau kakak Arungbinang VIII).

Di Bawah Bayang-bayang Modernitas: Orang-orang Indo di Kota Magelang, 1906-1942

Standard

Di Bawah Bayang-bayang Modernitas:

Orang-orang Indo di Kota Magelang, 1906-1942

Tedy Harnawan[1]

A.     Dari Manakah Orang-orang Indo di Magelang?

            Orang-orang Indo di Magelang banyak yang telah melakukan pernikahan secara resmi dan membentuk keluarga. Mereka menikah dengan laki-laki Eropa totok yang bekerja sebagai tentara atau pegawai pemerintah. Mereka juga memiliki rumah-rumah pribadi yang berada di kota di sekitar alun-alun kota atau dekat tangsi militer.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d8/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_echtpaar_Pietermaat_met_Mej._Mulder_op_de_veranda_van_hun_woning_op_de_suikeronderneming_Kalibagor._TMnr_60004317.jpg

Gaya hidup orang Indo dapat terlihat dari penampilannya. Tapi foto di atas sangat unik karena si bule memakai kebaya dan jarit batik yang identik dengan pribumi. [foto : Tropen Museum]

1.                      Pengusaha Perkebunan dan Para Ambtenaar

Jumlah orang Indo di perkebunan menjadi yang paling sedikit di Magelang. Mereka adalah anak-anak orang Indo yang terpandang karena memiliki tanah yang luas.[1] Anak-anak ini mendapat sekolah yang lebih baik dari anak-anak Indo yang lainnya. Sejak Magelang menjadi daerah kotapradja, pegawai pemerintah banyak yang dipegang oleh laki-laki Eropa dan Indo. Mereka disebut para ambtenaar. Anak-anak pegawai (ambtenaar) ini cukup banyak. Mereka juga lahir dari laki-laki Eropa dan perempuan pribumi yang mendapat pendidikan memadai dan bekerja sebagai juru tulis, pemilik toko-toko dagang atau pelayan toko.[2]

Orang-orang yang duduk dalam pemerintahan cukup banyak. Orang-orang Eropa selalu mengisi jabatan-jabatan strategis. Di Magelang atau di kota-kota lainnya, pada dasarnya para ambtenaar yang berasal dari orang Eropa, pribumi dan Cina ini terbagi ke dalam dua wilayah pekerjaan, yaitu mereka yang bekerja untuk pemerintah (sipil) dan pegawai swasta. Mereka yang bekerja sebagai pegawai sipil bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda yang bertugas sesuai birokrasi pemerintahan.  Orang-orang Indo yang bekerja sebagai pegawai swasta banyak yang bekerja di bidang pariwisata. Mereka mendirikan toko-toko, hotel-hotel. Banyak diantara mereka yang bekerja menjadi pemandu wisata karena kemampuan bahasa Melayu dan Belanda sangat bagus.[3] Sebagain dari mereka juga mampu berbahasa Inggris dengan baik.

Orang-orang sipil bekerja di kantor-kantor pemerintahan bekerja sebagai residen, asisten residen, sekretaris, juru tulis dan kepala-kepala bagian yang mengepalai suatu badan tertentu. Dari catatan pengeluaran gaji bisa diketahui jabatan-jabatan yang diduduki orang-orang ini. Pada tahun 1930, orang-orang Eropa di kota Magelang banyak yang bekerja sebagai opas kantor (kantoor oppasser), pegawai kantor (persooneel), sekretaris (secretarie), komisaris (commisarie), ajudan komisaris (adjudant commisarie) dan komisaris besar (hoofd commisarie).[4]

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/KITLV-AchterkampementMagelang1910.jpg

Blok tangsi di Magelang

Orang-orang Indo sipil ada yang bekerja dalam kemiliteran. Mereka yang hidup di dalam lingkungan tangsi adalah orang-orang militer. Jabatan tinggi dipegang oleh Eropa totok sementara jabatan di bawahnya dipegang oleh orang-orang Indo seperti juru tulis dan pengajar di dalam tangsi. Namun, orang-orang Indo justru lebih banyak dari istri-istri anggota militer dan anak-anaknya. Mereka membina keluarga di dalam maupun di luar tangsi. Mereka  sebagian besar adalah para pendatang yang tinggal di kota Magelang selama masa tugasnya. 

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/de%20tuin%20van%20java/GebouwvandeHoofdwachtProvoosthuisMilitaireMagelang1927.jpg

Markas tangsi militer Belanda di Magelang

Salah satu yang harus disebut sebagai orang-orang yang bekerja di dalam lingkungan sipil adalah polisi. Anggota polisi ini sebenarnya bekerja antara sipil dan militer. Sejak reorganisasi kepolisian tahun 1897, salah satu perubahan yang terjadi adalah diresmikannya kepolisian bersenjata (gewapende politie). Mereka berkedudukan diantara kepolisian dan militer sebagai unit cadangan yang dipersenjatai yang berada di bawah kendali pemerintah sipil.[5] Di kota Magelang, sebagian besar jabatan mereka adalah sebagai polisi kota (stadspolitie), polisi lapangan (veldpolitie), reserse (recherche) dan agen (agent). Dalam beberapa laporan, jumlah polisi ini lebih banyak dijabat oleh orang-orang pribumi.

 

2.      “Anak-anak Kolong” dan Steurtjes

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/15/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Tehuis_van_vader_Van_der_Steur_voor_verwaarloosde_kinderen_te_Magelang_Java_TMnr_10002248.jpg

Van der Steur dengan kawan-kawannya [tropen museum]

Kehidupan para tentara di Magelang pada abad ke-19 sangat buruk. Dari 2.384 kepala keluarga militer, sebanyak 17% tentara Eropa hidup dalam kemiskinan dan sepertiga dari mereka adalah para pensiunan tentara yang hidup sangat miskin dan menjual minuman alkohol ilegal, melakukan praktik prostitusi dan perjudian.[6] Mereka banyak yang hidup dengan gundik-gundik yang tinggal di kampung-kampung sehingga banyak melahirkan anak-anak di luar nikah. Anak-anak itu lalu disebut sebagai “anak kolong”[7] yang sangat banyak di Magelang.

https://lh5.googleusercontent.com/-CLIJCvJ06vw/TChrhq3Pz8E/AAAAAAAAQPQ/t-W9oYXR1kY/s250-c-k-no/270609PartyPaVanDerSteur

Van der Steur dengan istri

Orang-orang Eropa dan Indo banyak yang menempati posisi dalam militer. Mayoritas pegawai-pegawai kemiliteran ini telah menikah. Berdasarkan pengakuan seorang anak Indo yang ayahnya bekerja sebagai KNIL di Magelang menjelang akhir periode kolonial, orang-orang Indo banyak yang bekerja di dinas militer yang menghasilkan “anak kolong” atau “anak tangsi” dari gundik para pribumi.[8] Ia mengatakan bahwa rumah-rumah dinas militer di Magelang sangat banyak didiami oleh keluarga-keluarga Indo, khususnya istri-istri mereka. Mereka ada yang tinggal di dalam tangsi militer namun kebanyakan dari mereka tinggal di perkampungan.

Kehidupan militer di Magelang sebelum abad ke-20 dikenal sangat keras bahkan lebih buruk daripada hidup di kompleks perkampungan. Tentara-tentara militer Eropa di Magelang adalah laki-laki peminum minum-minuman keras ilegal dan kebiasaan mereka yang sering mendatangi rumah bordil.[9] Dalam keadaan yang demikian, seorang pastur Kristen bernama Van der Steur tampil sebagai sosok penyelamat moral-moral bejat tentara militer Eropa di Magelang, terutama anak-anak yang lahir tidak sah.

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/09/03b8d-2pavandersteurtemiddenvaneengroepjeindokinderendienietmeerbijhunmoederkondenwonen1906javamagelang.jpg

Van der Steur dengan anak-anak asuhnya

Pada Januari 1893, ia tiba di Magelang. Ia kemudian menyewa rumah kecil seharga f 20 per bulan dan membangun pendopo kecil yang kemudian kompleks rumahnya ini disebut sebagai Oranje Nassau. Misi van der Steur sangat berhubungan dengan misi Kristen dan kemiliteran. Suatu hari, seorang tentara bersenjata yang sedang mabuk menghampiri Van der Steur dan berkata “Bapak, jika anda adalah seseorang pribadi yang benar-benar taat kepada Tuhan, pergilah ke kampung. Di sana ada seorang bekas tentara Italia yang memiliki empat anak Indo dan seorang wanita pribumi yang hidup dalam kemiskinan.”[10] Setelah kejadian tersebut, Van der Steur mendirikan panti asuhan yang semakin berkembang dan berjuang mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonial saat itu.

Banyaknya anak-anak Indo yang diasuh menjelaskan suatu gaya hidup pergundikan para tentara Eropa di Magelang. Anak-anak Indo di panti asuhan ini kemudian juga berdatangan dari luar kota. Jumlah anak-anak panti asuhan Van der Steur dilaporkan mencapai 800 anak tertanggal sampai 31 Desember 1907. Jumlah anak paling banyak yang diasuh adalah anak-anak tentara hasil pergundikan yang tidak diakui secara sah.

Jumlah anak-anak tentara menjadi mayoritas anak-anak panti asuhan dibandingkan dengan anak-anak pegawai sipil. Dari sekian jumlah anak-anak tersebut, sebagian besar merupakan anak-anak hasil pergundikan yang jumlahnya hampir lima belas kali lipat dari jumlah anak-anak yang lahir secara sah. Dari sekian banyak anak-anak yang diasuh, anak-anak yang tidak memiliki orangtua ternyata lebih banyak namun menunjukkan jumlah yang sebanding dengan anak-anak yang tidak memiliki ayah atau ibu atau anak-anak miskin yang tidak diurus orangtuanya. Di sini bisa disimpulkan bahwa Magelang memiliki masalah serius dengan pergundikan oleh para tentara militer.

https://i2.wp.com/gw.geneanet.org/file/genewebfile/p/v/pvandorssen/Pa_van_der_Steur.jpg

Van der Steur

Orang-orang Indo kelahiran Magelang mayoritas adalah orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Mereka lahir dari para tentara yang menikah dengan perempuan lokal dan memutuskan untuk tinggal di perkampungan setelah masa tugasnya selesai. Anak-anak yang lahir dari keluarga yang demikian yang akhirnya masuk ke panti asuhan Van der Steur.

 

B.     Gaya Hidup Orang-orang Indo Di Tengah Kota Magelang

Pada permulaan abad ke-20, kebudayaan Indis menurut Djoko Soekiman telah bergeser ke arah urban life.[11] Abad modern memperlihatkan simbol-simbolnya yang baru. Dampak paling signifikan di abad ke-20 adalah semakin kuatnya pemisahan etnis dan ras di dalam masyarakat. Semakin banyaknya orang-orang Eropa totok di Hindia Belanda menyebabkan sebuah pandangan baru bagi orang-orang Indo yang masih memiliki darah Eropa.

 

A)      Menggosip dalam Societeit

Istri dari laki-laki Eropa sebagian besar waktunya hanya dihabiskan di rumah. Untuk menjalin keeratan hubungan dengan sesama perempuan Eropa, mereka berinisiatif untuk mengadakan perkumpulan-perkumpulan. Persatuan ini berkembang pesat seperti Vereeniging van Huisvrouwen van Nederlands Indie yang membuka cabang di kota-kota besar di Jawa. Mereka bahkan mencetak majalah di berbagai kota dengan pusat kantornya di Bandung. Kota-kota tersebut antara lain Batavia, Buitenzorg, Cheribon, Djokja, Malang, Medan, Palembang, Semarang, Soekabumi, Soerabaia dan Solo. Magelang juga menjadi salah satu kota yang bergabung dalam perkumpulan ini.

Societeit de Eendracht di utara Aloon-aloon, tempat orang-orang Belanda dan Indo berdansa [foto : KITLV]

Seperti Vereeniging van Huisvrouwen van Nederlands Indie, para perempuan Eropa di Magelang juga menerbitkan majalah yang dinamakan Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen Magelang. Apa yang menginspirasi tulisan-tulisan di dalam majalah ini menunjukkan sebuah parameter gaya hidup baru yang sebenarnya terbatas bagi para perempuan-perempuan kelas menengah ke atas. Para anggota perkumpulan perempuan dan societeit kemudian tidak bisa dipisahkan. Para anggota perkumpulan ini mayoritas juga menjadi anggota Societeit. Pemimpin pertamanya adalah Mevrouw van Gorkom yang juga istri pengusaha toko Apotheek van Gorkom yang sering menjual bahan-bahan kecantikan.[12]

Tempat berdansa para Sinyo dan Noni di Societeit de Eendracht

Salah satu societeit atau soos yang paling terkenal di Magelang adalah De Eendracht yang berada di alun-alun kota. Anggota Soos ini adalah para istri-istri pejabat tinggi atau jabatan penting lainnya dalam pemerintah. Tidak semua perempuan Indo biasa percaya diri untuk masuk ke dalam Soos ini.[13] Kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah mengadakan perkumpulan bersama, kunjungan wisata dan demo masak. Keuntungan yang bisa didapatkan menjadi anggota perkumpulan ini ialah mendapatkan potongan harga pada beberapa toko-toko di Magelang. Seluruh kegiatan sering diadakan di dalam gedung Soos ini. Pemerintah Kotapradja Magelang menetapkan pajak bangunan societeit sebesar f 75.[14]

Tempat bermain bola sodok di societeit

Selain Societeit De Eendracht, terdapat juga Societeit De Militair yang berada di dalam tangsi Magelang. Societeit ini lebih dipergunakan oleh keluarga-keluarga dan istri-istri pejabat militer yang kelasnya lebih rendah. Banyaknya orang Cina di kota Magelang membuat pemerintah juga membangun societeit untuk mereka. Societeit ini berada di Pecinan.

 

B) Bersolek ala keluarga Dames dan Heeren

Penyebutan dames sering digunakan pada majalah-majalah populer di Hindia Belanda untuk menyebut perempuan-perempuan berstatus Eropa yang lebih mengacu pada perempuan-perempuan yang telah bersuami. Keluarga seperti dames dan heeren[15] kemudian menjadi cerminan keluarga yang ideal bagi orang-orang Indo. Perempuan Indo sangat memperhatikan penampilan karena meniru perempuan Eropa totok. Tempat paling cocok untuk berdandan adalah salon. Salon menjadi ruang baru untuk menata diri khususnya para perempuan.

https://i2.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/de%20tuin%20van%20java/de%20tuin%202/EuropesevrouwenvooreenwoningteMagelang1900.jpg

Lihatlah gaun yang di pakai oleh para noni-noni ini.

“Salon Stiller” di Groote Weg Noord melayani penataan gaya-gaya rambut model terbaru. Gaya rambut pendek saat itu menjadi tren paling menarik untuk perempuan dewasa. Gaya rambut pendek ikal dan keriting menjadi sangat populer. “Salon Stiller” mampu melayani para pelanggan untuk membuat rambut tetap terlihat ikal dan basah. Demo-demo kecantikan terkadang diadakan secara eksklusif di dalam Societeit Een Dracht.

Setelah berdandan rapi, hal yang paling penting lainnya adalah parfum. Parfum memberikan kesan wangi dan bugar. Dalam majalah Onze Samenleving, para perempuan Eropa dan Indo sangat menyarankan para wanita untuk selalu memakai parfum setiap hari. Aktivitas dengan orang-orang pasar yang bau dan bercampur dengan orang-orang peminum alkohol harus diatasi dengan memakai parfum berbau wangi.[16] Parfum dapat dibeli di toko-toko Eropa di kota Magelang seperti di “Apotik van Gorkom &  Co.” yang menjual parfum-parfum impor dari Paris.

Adopsi pakaian Barat sebagai kostum perempuan di Jawa dimulai di kalangan kaum Indo.[17] Perempuan Indo di Magelang masih menggunakan kebaya putih dan kain sarung. Pakaian-pakaian Barat hanya digunakan untuk bepergian atau bertemu dengan teman di luar rumah. Iklim Hindia Belanda yang ekstrim menginspirasi perempuan-perempuan Eropa dan Indo untuk memakai mode pakaian empat musim seperti di Eropa. Di kota Magelang yang cukup sejuk dan dingin, pakaian musim semi banyak yang sedang menjadi pusat perhatian para penjahit pakaian, misalnya blouse, ikat pinggang, dasi dan topi. Paris masih menjadi tren mode sampai tahun 1930an disamping London dan Amerika.

Dalam hal gaya mode pakaian, peran penjahit (tailleur) menjadi sangat penting. Para perempuan Eropa dan Indo kaya di kota Magelang lebih memilih untuk menjahitkan bajunya pada penjahit profesional walaupun bisa dibeli di toko busana Eropa di Semarang.

C)  Lezatnya Hidangan Eropa

Anak-anak Van der Steur biasanya makan tiga kali sehari dengan nasi, daging, ikan, sayuran dan kadang-kadang dengan sambal. Biasanya mereka akan makan makanan yang spesial hanya pada hari Sabtu. Namun, sebagai kepala panti asuhan, Van der Steur melarang anak-anak panti asuhan makan makanan yang mengandung banyak gula. Makanan-makanan Eropa seperti lemonade, kue-kue manis, roti isi keju, selai dan daging hanya bisa dinikmati tiga kali dalam setahun dalam acara-acara perayaan seperti Hari Natal, Hari Ulang Tahun Ratu Belanda dan Hari Ulang Tahun Van der Steur. Mereka masih mendapatkan makanan yang lebih layak dibandingkan dengan anak-anak yang tinggal di perkampungan.

Anak-anak Indo dalam keluarga kaya makan daging dan roti hampir setiap hari. Ibu-ibu mereka sangat pandai memasak masakan Eropa dan setiap hidangan selalu menampilkan resep-resep Eropa yang didominasi oleh daging setiap minggunya. Makanan dengan bahan daging yang paling sering dimasak adalah steak. Daging-daging yang menjadi bahan dasar pembuatan steak adalah daging sapi (rundvleesch) dan daging babi (varkensvleesch). Dari harga pasar, daging babi lebih mahal daripada daging sapi.[18] Keluarga Indo yang beragama Kristen atau Katolik sangat menyukai daging babi atau dendeng tjeleng. Ketersediaan daging di kota Magelang didukung adanya rumah-rumah potong hewan (slachthuis) seperti di Muntilan.[19] Selain itu, schotel dan biefstuk merupakan makanan Eropa yang paling populer di dalam keluarga Indo.

Toko-toko di Magelang banyak yang menjual makanan dan minuman dari Eropa. Pesta-pesta, perayaan atau pertemuan penting sering memesan makanan-makanan Eropa seperti roti taart, kue coklat, biskuit, roti kering, susu dan buah-buahan kaleng. Banyak sekali toko-toko yang mulai menjual roti siap makan atau toko yang menjual bahan-bahan mentah bagi yang ingin mencoba-coba di rumah. Jalan Groote Weg merupakan pusat toko-toko perbelanjaan.

 

D)      Kemeriahan Pesta-pesta

Pesta harus diadakan untuk merayakan hari-hari spesial dalam keluarga Indo. pesta-pesta itu bisa berupa perayaan ulang tahun, perayaan perkawinan atau perayaan penerimaan tamu keluarga jauh dari luar kota. Keluarga yang mengadakan pesta akan berusaha menyediakan kemeriahan pesta sesuai kemampuan finansial mereka. Namun, beberapa hal yang harus ada dalam setiap kemeriahan pesta adalah makanan, champagne dan bunga.

Minuman beralkohol di kota Magelang sudah banyak dijual di toko-toko, terutama toko-toko milik orang Cina[20]. Bir dengan merk-merk terkenal seperti Anker, Heinekens, Diamant, Rex dan Java juga diperjualbelikan di toko “Pong”, “Victoria”, “Bie Sing Hoo” dan “Tang Ing Tjoan”. (lampiran hlm. 199). Ayah John Schell selalu minum Jenever ketika makan siang yang diberi sedikit gula yang sudah disiapkan djongos.[21]

http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/2606_1047404827367_3855687_n.jpg

Pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Prawirokusuman Magelang

Sambil meneguk bier atau champagne, orang-orang Eropa juga merokok. Di kota Magelang sudah berdiri pabrik cerutu dan pabrik rokok. Pabrik cerutu pertama kali yang didirikan adalah pabrik cerutu Ko Kwat Ie. Pabrik cerutu lainnya adalah pabrik “Aroma” yang didirikan tahun 1924 namun baru pada tahun 1931 mendapatkan kesuksesan besar.[22] Hasil cerutu dari pabrik ini bahkan dipasarkan ke luar negeri seperti Siam, Shanghai, Singapura, Belanda dan Afrika.

https://lh6.googleusercontent.com/-R2imUlOmXeg/TXEW3Ji80jI/AAAAAAAAAS8/D_2KxEDFUuA/s320/DSC00533.JPG

cerutu Ko Kwat Ie

Salah satu perayaan terbesar yang pernah digelar di kota Magelang adalah upacara penyambutan Gubernur Jendral Hindia Belanda. Sepanjang jalanan kota dihiasi dengan lengkungan-lengkungan yang dihias dengan karangan bunga yang mewah. Bendera-bendera Hindia Belanda juga dipasang di sepanjang jalan Pecinan dan Residentielaan. Biaya untuk menyambut perayaan itu mencapai 2.000 gulden.[23] Di lingkungan militer, perayaan besar seperti St. Nicolaas menyedot banyak publik kota Magelang, khususnya anak-anak. Perayaan ini dirayakan oleh sekitar 1.520 anak-anak yang diadakan sore hari.[24] Perayaan besar tertentu menjadi agenda tahunan untuk melakukan karnaval di jalanan kota. Mobil, bunga dan kuda menjadi simbol perayaan besar. Para penonton merasa takut karena banyaknya pasukan berkuda yang banyak.[25]

Kebutuhan bunga tidak hanya dibutuhkan untuk menghias kebun rumah, namun juga menjadi kebutuhan pesta. Sebuah ungkapan umum yang berbunyi “katakan dengan bunga” menjadi bagian dari gaya hidup di lingkungan orang-orang Eropa di Hindia Belanda.[26] Bunga kemudian menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Banyak orang Eropa yang memiliki bloemkweekerij[27] untuk mendapatkan laba yang besar. Bisnis toko bunga (florist) banyak digeluti oleh para perempuan Eropa. Rangkaian-rangkaian bunga pun dijual di toko-toko bunga seperti Toko “Vanda”, Toko “Veronica” dan Toko “Art Floral”. Toko bunga “Art Floral” dan toko bunga “Vanda” sering menjadi langganan perempuan-perempuan Indo dan Eropa untuk mengadakan pesta-pesta di societeit Magelang.

 

E)       Layar Bioskop, Panggung Opera dan Musik

http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/307333_2142004711680_961846577_a.jpg

Al Hambra, bioskop ternama di jamannya

Sebelum Magelang memiliki gedung bioskop, societeit-societeit sudah memiliki bioskop kecil sendiri. Dari laporan notulen, pengadaan gedung bioskop bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih karena bisa dinikmati khalayak umum.[28] Magelang meresmikan pembangunan dua bioskop yang sangat populer yaitu Roxy Theater dan Alhambra Theater. Roxy Theater awalnya menyewa gedung di depan alun-alun dengan membayar uang muka sebesar f 2.500 dan harus membayar pajak bioskop sebesar f 400 per bulan.[29] Bioskop ini juga berdekatan dengan Societeit De Eendracht. Bangunannya pun cukup megah dengan struktur batu bata yang kuat dan dicat warna putih. Film-film yang ditayangkan adalah film-film dari luar negeri. Pemilik bioskop ini adalah orang Cina yang bernama Kho Tjie Ho. Bisnis perfilman di Magelang dimonopoli oleh orang Cina tetapi mayoritas konsumennya adalah orang-orang Eropa.

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/09/b2387-jimmy26sally.jpg

Poster film di bioskop Al Hambra

Selain menonton layar film, orang-orang di kota dihibur oleh beberapa musisi-musisi opera yang mengadakan konser. Konser-konser opera menjadi alternatif hiburan yang baru di kota Magelang. Salah satu musisi yang pernah diberitakan di koran adalah musisi Rusia bernama Mirovitch dan Piastro.[30] Mereka sukses memberikan antusiasme tinggi para penikmat opera di kota Magelang.

Anak-anak Indo di dalam panti asuhan Van der Steur dilatih bermain orkes musik (muziekkapel). Orkes musik ini hanya dilatih untuk anak-anak laki-laki saja. Mereka belajar meniup alat-alat musik Eropa yang belum pernah mereka nikmati sebelumnya. Masing-masing anak akan membawa satu alat musik seperti klarinet, trompet dan drum. Dalam beberapa kesempatan mereka diminta untuk mengisi berbagai acara besar seperti karnaval atau perayaan besar lainnya.

 

F)     Pelesir

 

Di abad ke-20, siapa saja bisa menikmati perjalanan wisata jika memiliki penghasilan yang lebih. Berdasarkan laporan buku kas tahunan diketahui banyaknya biaya perjalanan (reiskosten) yang dikeluarkan pemerintah cukup besar. Selain gaji pokok yang mereka terima, mereka juga menerima tunjangan gaji perjalanan yang hampir setengah dari gaji pokok. Tunjangan gaji perjalanan para pejabat di Magelang adalah tunjangan tertinggi di Karesidenan Kedu. Tingginya biaya tunjangan dikarenakan Magelang adalah ibukota karesidenan Kedu. Besarnya tunjangan juga disebabkan karena pendapatan daerah yang cukup tinggi.

Orang-orang Eropa kaya di kota Magelang sangat suka bepergian. Hari minggu dipilih karena hari libur dan waktu istirahat dari pekerjaan mereka yang sibuk. Selain pergi ke gereja, mereka akan pergi ke luar kota atau ke daerah objek wisata. Mereka naik mobil, delman (deeleman) atau kuda. Disamping tjikar dan grobak, sado dan delman menjadi transportasi yang akrab karena telah menggunakan roda karet dan digerakkan oleh motor.[31]

Ibu-ibu rumah tangga Indo sering mengajak anak-anaknya untuk berenang. Fasilitas kolam renang disediakan di Hotel Loze yang sangat populer di kota Magelang. Air kolam renang di hotel ini sangat jernih. Anak-anak Indo menengah ke atas sering berenang di sini, namun tidak semua anak dapat berenang di sini.

https://i2.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/de%20tuin%20van%20java/381161_2684714790331_1669103731_n.jpg

Kolam renang di Hotel Loze

 

G)      Kamera-kamera

Salah satu yang paling terkenal adalah Lee Brothers Studio yang berpusat di Singapura dan membuka tiga cabang di Hindia Belanda, yaitu di Batavia, Magelang dan Bandung.[32] Dalam sebuah foto kuno, tergambar dengan jelas sebuah keluarga yang harmonis. Dalam satu kursi kayu duduk seorang perempuan Indo dengan gaun warna abu-abu. Di sebelah kirinya duduk anak laki-lakinya. Dia menggunakan kaos kaki panjang dan sepatu kulit hitam yang sangat mengkilat. Di sebelah kanannya berdiri kedua anak perempuannya. Di sudut kanan bawah tertulis dengan samar-samar Midori Magelang.

Midori ialah studio foto di kota Magelang yang sangat terkenal. Dalam iklannya ditulis Japansch Fotografisch-Atelier. Sesuai dengan namanya, Midori adalah orang Jepang yang membuka usaha fotografi. Ahli fotografer Midori sangat profesional. Jasa pemotretan bisa dilakukan di dalam studio (atelier opnamen) atau di luar studio (buiten opnamen) yang bisa ditelepon untuk datang ke rumah. Pemotretan juga bisa dilakukan di malam hari dengan penerangan yang dipersiapkan dengan alat-alat yang modern. Studio ini juga menyediakan pembuatan dan pemasangan figura foto. Letak studio foto ini berada di Groote Weg Zuid No. 116.

 

H)      Mempercantik Rumah dan Berkebun

Hal yang paling utama ialah menjaga kebun di depan rumah. Tepat di pinggiran beranda biasanya mereka menaruh pot-pot besar yang ditanami bunga-bunga atau tumbuh-tumbuhan hijau. Bagaimanapun juga, perempuan Indo harus bisa merawat bunga dengan baik karena cita rasa kebun Hindia tidak dimiliki perempuan-perempuan Eropa totok.[33] Berkebun sudah menjadi kebiasaan orang-orang Indo di dalam rumah untuk mengisi waktu luang mereka. Sudah sangat wajar bila berkunjung ke rumah mereka akan disambut dengan banyaknya pot-pot bunga yang besar dan terawat dengan baik.

Penanaman bunga yang paling baik adalah akhir musim hujan.[34] Benih-benih bunga bisa dipesan di toko-toko bunga di kota Magelang. Tanaman-tanaman yang akan ditanam di dalam bak harus ditusuk dengan bambu kecil agar udara masuk ke dalam tanah dalam pot. Tanaman yang paling direkomendasikan bagi kebun rumah di Magelang adalah jenis Zinnia, Phlox dan Petunia karena dapat tumbuh dengan bagus di Magelang.[35] Selain mudah dirawat juga memiliki variasi bunga warna-warni. Pupuk-pupuk bunga sudah banyak dijual di Magelang. Penyiraman harus selalu dilakukan setiap hari terutama saat musim kemarau.

 

I) Dimana Anjingku?

Dalam transformasi gaya hidup yang unik abad 20 adalah orang-orang kaya yang mulai memelihara binatang peliharaan. Binatang-binatang itu biasanya anjing, burung kakatua, kucing dan kuda. Di kantor pemerintahan, anjing-anjing juga dipelihara. Dalam laporan keuangan, biaya pemeliharaan anjing mencapai f 140 per bulan.[36] Anjing peliharaan harus anjing yang jinak dan bukan anjing kampung yang kotor dan senang berkeliaran di kampung-kampung. Anjing kampung (pariah dogs) sangat banyak di kampung dan desa-desa.[37] Bagaimanapun juga, anjing rumah itu anjing yang bersih dan gemuk. Adanya akses dokter hewan di kota Magelang menjadi profesi yang menguntungkan karena dibayar f 25.[38]

Sebuah keluarga Indo kaya di Jawa ataupun di Magelang, kuda dipelihara untuk transportasi alternatif pribadi. Kuda ini juga bisa dipakai untuk belajar bermain pacuan kuda di lapangan terbuka seperti di lapangan Bukit Tidar. Dalam laporan keuangan pemerintah Begrooting Boek Magelang tahun 1930 bagian Laporan Perbaikan dan Perlengkapan Personil Polisi Eropa (Vergoeding van Kleeding en Uitrusting European of Het Persoonel Veld Politie), makanan kuda (paarden fourage) dan biaya perawatan kuda selalu ada dalam laporan keuangan setiap tahunnya.[39]


[1]Mahasiswa Jurusan Sejarah, Universitas Gadjah Mada 2009.

[2]Wawancara dengan Andries Schell de Nijs, Sabtu 20 April 2013, pukul 23.26 WIB.

 [3]Wawancara dengan Andries Schell de Nijs, Sabtu 20 April 2013, pukul 23.26 WIB.

 [4]M. McMillan, A Journey To Java, (London: Holden & Hardingham, 1914), hlm. 89.

 [5]Begrooting Boeks Magelang, 1930.

[6] Marieke Bloembergen, Polisi di Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan, (Jakarta: Kompas, 2011), hlm. 71.

 [7]Hanneke Ming, “Barrack-Concubinage in Netherlands Indies 1887-1920” dalam jurnal Southeast Asia Publications di Cornell University, hlm. 76.

 [8]“Anak Kolong” adalah sebutan bagi anak-anak yang lahir dan hidup di dalam lingkungan militer dari hubungan pergundikan yang tidak sah.

 [9]Wawancara dengan Andries Schell de Nijs, Sabtu 20 April 2013, pukul 23.26 WIB.

 [10]Nederlandsch Indie Oud & Nieuw, tahun 1916, hlm. 411.

 [11]C.H.G.H. Brakke, Pa van der Steur: Vader van 7000 Kinderen, hlm. 30.

 [12]Djoko Soekiman, Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2011), hlm. 83.

 [13]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, Mei 1938, hlm. 13.

 [14]Wawancara dengan Andries Schell De Nijs, Sabtu 6 April 2013, pukul 17.24 WIB.

 [15]Notulen van de Openbare Vergadering van den Gemeenteraad van Magelang, hari Senin tanggal 30 Januari 1922, hlm. 26.

 [16]Heeren berasal dari bahasa Belanda untuk menyebut laki-laki yang telah beristri dan merupakan arti berlawanan dari Dames.

 [17]Onze Samenleving, tahun 1923.

 [18]Jean Gelman Taylor, “Kostum dan Gender di Jawa Kolonial Tahun 1800-1940” dalam buku Henk Schulte Nordholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan, (Yogyakarta: LkiS), hlm. 122-123.

 [19]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 27 Juni 1939, hlm. 29.

 [20]Begrooting Regentschap Magelang, tahun 1930, ANRI.

 [21]Minuman seperti champagne dan Jenever dijual di toko “Liong Hoe Ging”, Toko “Ong Hok Liem” dan Toko “Nanking”.

 [22]Wawancara dengan John Schell De Nijs, Sabtu 6 April 2013, pukul 17.24 WIB.

 [23]Parada Harahap, Indonesia Sekarang, (Jakarta: Bulan Bintang, 1952), hlm. 141-142.

[24]Weekblad voor Indie, 12 November 1912, hlm. 723-724.

 [25]Het Nieuws van den Dag, hari Rabu, 7 Desember 1921.

 [26]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 1939, hlm. 10.

 [27]H.W. Ponder, Javanese Panorama, (London: Seeley, Service & Co.), hlm. 195.

 [28]Sebuah tempat untuk menanam kebun bunga dan membibitkan benih sendiri. Bisnis ini banyak digeluti oleh orang-orang Eropa. Biaya penanaman bunga di Hindia Belanda masih terbilang lebih murah dibandingkan di Eropa. Para pekerja kebun bunga mayoritas adalah para perempuan pribumi yang dibayar sangat murah, sekitar 20 sen. Permintaan bunga semakin meningkat dan keuntungan menjadi penjual bunga dalam toko bunga (florist) lebih menguntungkan. Baca buku H.W. Ponder, ibid.,

 [29]Notulen van de Openbare Vergadering van den Gemeenteraad van Magelang, 8 Juni 1922, hlm.112.

 [30]Notulen van de Openbare Vergadering van den Gemeenteraad van Magelang, 8 Juni 1922, hlm.112.

                                                                                                                        

[31]Het Nieuws van den Dag, hari Sabtu, 26 Februari 1916.

 [32]Rudolf Mrazek, Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni, op.cit., hlm. 25.

 [33]ibid.

 [34]Breton De Nijs, Bayangan Memudar: Kehidupan Sebuah Keluarga Indo, op.cit., hlm 159.

 [35]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 17 Mei 1938, hlm. 11.

 [36]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 17 Mei 1938, hlm. 13.

 [37]Begrooting Regentschap Magelang, tahun 1930, ANRI.

 [38]H.W. Ponders, op.cit., hlm. 233.

 [39]Begrooting Regentschap Magelang, tahun 1930, ANRI.

 [40]Binnenland Bestuur, ANRI.

 

Ketika Kereta Api Berjaya di Tanah Jawa

Standard

Stasiun Kereta Api Ambarawa

Sejarah transportasi kereta api di Indonesia mungkin termasuk yang tertua di dunia.  Pada tahun 1864, pemerintah kolonial Hindia Belanda sudah membangun lintasan rel dari Semarang ke Vorstenlanden(Solo dan Yogyakarta), hanya terpaut 34 tahun sejak kemunculan kereta api pertama di Inggris. Tergolong cepat pada waktu itu, mengingat jauhnya jarak dunia Barat dan Timur, serta terbatasnya moda angkutan antar benua yang hanya mengandalkan kapal laut.

Ilustrasi Stasiun Tanggung di Purwodadi

Hadirnya kereta api di Indonesia, berawal dengan berdirinya perusahaan swasta NV Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 27 Agustus 1863. Sekitar enam tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 10 April 1869, Pemerintah Hindia Belanda juga mendirikan perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS). Pendirian SS ini dilatarbelakangi adanya kesulitan dalam pembangunan jalur kereta, misalnya masalah finansial. Namun, ide pembangunan jaringan jalur kereta api telah dikemukakan oleh Kolonel JHR Van Der Wijk, seorang petinggi Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), pada 5 Agustus 1840, 23 tahun sebelum NISM didirikan. Menurut Kolonel JHR Van Der Wijk kereta api merupakan salah satu jalan keluar untuk mengatasi masalah pengangkutan dan akan sangat menguntungkan dalam bidang pertahanan. Ide awal yang ia rencanakan adalah pembangunan jalur kereta api Batavia-Surabaya melalui Yogyakarta dan Surakarta. Pemerintah Hindia Belanda menerima ide itu, tetapi jalur yang dibangun  malah  menghubungkan Semarang dengan Surakarta dan Yogyakarta.

Kantor pusat NISM di Semarang, sekarang kita mengenalnya dengan sebutan Lawang Sewu.

NISM sendiri didirikan setelah mendapatkan izin dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Mr. L.A.J.W. Baron Sloet Van De Beele untuk membangun jalur Kemijen-Tanggung yang berjarak 26 km. Pembangunan jalur kereta api di Jawa, kemudian dilakukan pada 17 Juni 1864, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke- 52  Van De Beele. Jalur Kemijen-Tanggung selesai dan mulai dipergunakan pada 10 Agustus 1867. Jalur Kemijen-Tanggung ini kemudian diperpanjang hingga sampai Yogyakarta melalui Surakarta dan mulai dipergunakan pada 10 Juni 1872. Selesainya jalur baru ini sekaligus menandai masuknya kereta api untuk pertama kali ke wilayah Yogyakarta. Stasiun Lempuyangan kemudian dibuka dan diresmikan pada 2 Maret 1882. Semua jalur tersebut dikuasai dan dikelola oleh NV. NISM (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij / Perusahaan Kereta Api Hindia-Belanda).

Pelopor pembangunan kereta api di Jawa adalah Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij atau NISM. Walau sebelumnya ijin konsesi sempat ditolak oleh Pemerintah Hindia Belanda dan mengalami masalah keuangan pada masa pembangunan, akhirnya rel kereta api antara Semarang – Vorstenlandenselesai dibangun tahun 1871.

Foto dan peta tempo doeloe tentang perkeretaapian antara Kedungjati dan Ambarawa

Thomas H. Reid dalam buku yang ditulisnya, “Across the Equator” (1908), mengutip pengalaman temannya yang pernah menumpang kereta api dari Semarang ke Yogyakarta sebagai berikut :

“Perjalanan dari Samarang ke Djocjakarta biasanya ditempuh melalui Solo(Soerakarta), tapi rute ini biasa-biasa saja karena cuma melintasi dataran rendah yang dipenuhi persawahan. Aku menyarankan rute yang lebih menarik melalui (benteng) Willem I.  Ada kereta yang berangkat pukul 5.57 atau 8.17 pagi dan sampai di Djocja pukul 2.16 atau 5.10 sore.  Kereta yang berangkat pukul 10.50 cuma sampai Magelang, jadi akhirnya aku menumpang kereta yang berangkat pukul 2.9 siang, dan setelah sampai di stasiun Kedoeng Djattie, kami pun pindah ke kereta lain. Selama dua jam berikutnya, kereta melintasi kaki-kaki bukit, hutan dan padang rumput yang indah, silih berganti dengan pemandangan lembah, sawah dan bukit-bukit di kejauhan saat kereta merayap naik ke Willem I.  Tempat ini kami capai pada pukul 5 sore, dimana kami bisa merasakan sejuknya semilir angin dan menikmati keindahan alam serta matahari terbenam di gunung kecil di depan hotel.“Keesokan harinya pada pukul 8.54, aku ikut kereta api yang berangkat dari Semarang pukul 5.57 dan tak lama kemudian sampai di sebuah stasiun dimana lokomotifnya ditukar dengan loko cog-wheel karena daerah yang akan kami lewati nanti terlalu berat bagi loko biasa. Kereta kemudian berjalan lagi memutari bukit-bukit yang dipenuhi ladang hingga ke puncaknya. Kereta pun terus naik ke atas hingga kami bisa merasakan udara yang sangat menyegarkan. Tiffin (makan siang) harus dipesan melalui kondektur sebelumnya dan akan diantarkan ke gerbong. “Kira-kira pukul satu siang loko kereta diganti lagi, dan perjalanan ke Djocja pun dimulai melalui Magelang. Bagi mereka yang ingin mengunjungi Samarang, aku sangat menyarankan rute ini.”

https://i1.wp.com/www.merbabu.com/gunung/merbabu_tempo_dulu/kereta.jpeg

Kereta uap saat melewati rel bergerigi di perbukitan Bedono

 Terhitung ada sebuah perusahaan kereta api negara dan 16 perusahaan kereta api swasta yang beroprasi di Jawa. Adapun perusahaan kereta api dan trem  yang mendapat konsesi di Jawa:

1. Staats Spoorwegen (SS),

2. Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM),

3. Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS),

4. Javaasche Spoorweg Maatschappij (JSM),

5. Poerwodadi Goendih Stoomtram Maatschappij (PGSM),

6. Bataviaasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS),

7. Ooster Java Stoomtram Maatschappij (OJS),

8. Surabaja Solosche Tramweg Maatschappij (SoTM),

9. Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS),

10. Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS),

11. Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (PoSM),

12. Bataviaasche Stoomtram Maatschappij (BSTM),

13. Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM),

14. Kediri Stoomtram Matschappij (KSM),

15. Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM),

15. Babat Djombang Stoomtram Maatschappij (BDSM),

16. Malang Stoomtram Maatschappij (MS)

 Stasiun Magelang Pasar tempo doeloe

Perkembangan transportasi ini begitu pesat.  Jika pada tahun 1864 panjang rel yang dibangun baru 25 km, pada tahun 1900 lintasannya sudah mencapai 3.338 km, bertambah 133 kali lipat dalam kurun waktu 36 tahun! Suatu pencapaian luar biasa yang pernah ditorehkan bangsa Belanda di negeri jajahannya.

Stasiun Magelang Kota

Salam Railfans

Caesar 271111

*dari berbagai sumber