Monthly Archives: September 2013

Bedah Buku “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe” bersama Olivier Johannes Raap dari Belanda

Standard

Buku berjudul “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe” ini bisa jadi merupakan salah satu buku yang paling gamblang menjelaskan kondisi perekonomian rakyat Jawa di masa Kolonial Belanda di medio tahun 1890-1940-an. Betapa tidak, buku setebal 208 halaman karya Olivier Johannes Raap mampu menampilkan ratusan potret kehidupan masyarakat pekerja di Pulau Jawa yang didapat dari koleksi kartu pos dan foto kuno milik penulis yang jumlahnya mencapai ratusan. Dalam setiap foto, Olivier Johannes menambahkan ilustrasi dan keterangan yang jelas dan menarik seputar foto tersebut. Maka tak heran jika buku terbitan Galang Press itu langsung menjadi best seller di kelasnya, cetakan pertama sebanyak 3000 eksemplar langsung ludes hanya dalam hitungan bulan.

Nah, menilik karya yang bagus dari seorang Olivier Johannes Raap ini, Komunitas Kota Toea berinisiatif untuk menggelar acara bedah buku “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe”. Tak tanggung-tanggung, Sang Penulis, Olivier Johannes didaulat langsung untuk menjadi Narasumber.

Bertempat di Latar Kuncung Bawuk, Kampung Pasar Anyar  Mertoyudan, Hari Kamis malam, tanggal 19 september 2013. Latar Kuncung Bawuk yang mempunyai bangunan inti berbentuk Joglo lawas dinilai cocok dengan tema buku yang dibedah, yaitu Tempo Doeloe, terlebih dengan adanya hiburan musik keroncong yang dibawakan dengan sangat indah dan merdu oleh seniman Latar Kuncung Bawuk membuat suasana bedah buku malam itu terasa sangat berkesan.

Acara bedah buku ini berlangsung meriah dan sukses. Peserta membludak, bahkan sampai ada beberapa peserta yang tak kebagian modul materi ringkasan buku yang sudah disiapkan oleh panitia. Sebagian besar peserta berasal dari kalangan pelajar (terutama anak SMA 4 yang datang khusus atas ajakan sang guru sejarah).

Magnet Olivier Johannes Raap yang di dunia maya lebih dikenal sebagai Priambodo Prayitno memang benar-benar dahsyat, terbukti dari banyaknya peserta yang hadir, banyak diantaranya yang berasal dari luar daerah, diantaranya Klaten, Semarang, Jogja, Solo, bahkan sampai ada yang berasal dari Pamekasan. Semuanya khusus datang ke Magelang untuk mengikuti acara bedah buku Olivier Johannes ini.

Penyerahan kenang-kenangan dari Soli Saroso [KTM] kepada Olivier Johannes, sebuah foto Menara Air Minum di tahun 1950-an

Acara bedah buku dimulai sekitar jam setengah delapan malam, setelah sebelumnya didahului dengan penyerahan cindera mata dari Komunitas Kota Toea Magelang kepada Mas Olivier Johannes, hiburan keroncong, dan juga acara mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang Mas Yusuf Kusuma, salah satu anggota Komunitas Kota Toea Magelang yang baru saja meninggal dunia.

Olivier Johannes, sang meneer yang lebih senang dipanggil dengan panggilan Mas Oli ini sudah berkali-kali datang ke Indonesia, sehingga iapun sangat lancar berbahasa Indonesia.

Kalau boleh dibilang, buku karya Mas Oli ini lebih pantas dibilang sebagai kliping yang dibukukan, hanya saja materinya bukan dari koran atau majalah, melainkan gambar foto kuno maupun kartu pos. Maka tak mengherankan jika acara bedah bukunya lebih bersifat retelling tentang keseluruhan isi buku.

Dalam pemaparannya, Mas Oli menjelaskan tentang berbagai profesi mata pencaharian yang dijalani oleh masyarakat jawa di masa kolonial dari mulai pejabat tinggi sampai pekerja rendah, dari mulai penduduk pribumi, chinese, sampai ekspatriat, semuanya dikupas tuntas oleh Mas Oli.

Berbagai profesi yang dipaparkan antara lain pedagang kecil (tukang kopi, penjual semanggi, penjual tebu, dll), pertokoan dan warung (warung makan, rumah madat, toko alat kerja, dll), kerajinan (pembuat tikar, keris, wayang, genting, dll), pengabdi dan penjual jasa (babu, kusir sado, pemukul gembreng, dll), keahlian (bekerja bangunan, tukang pijat, dukun, dll), seniman (pengamen, penari ular, tayub, dll) pemerintahan (peronda, abdi dalem, prajurit, dll), pertanian dan perikanan (penumbuk padi, pengupas kapuk, pencari kayu bakar, dll), perindustrian (pabrik es, rumah jagal, penggilingan kedelai, dll).

Pembawaan mas Oli yang ramah dan hangat membuat suasana bedah buku menjadi sangat cair.

Acara bedah buku ini terbilang sangat interaktif, hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang diajuakan oleh peserta bedah buku pada Mas Oli di sesi tanya jawab yang kesemuanya bisa dijawab dengan cukup memuaskan oleh Mas Oli.

Di penghujung pemaparan, Mas Olivier Johannes menceritakan proses bagaimana ia bisa mengumpulkan foto-foto dan kartu pos jadul yang menjadi koleksinya. Butuh waktu sampai delapan tahun bagi Mas Olivier Johannes untuk bisa mengumpulkan koleksi-koleksinya, sebagian besar ia dapatkan dari pasar loak, sebagian lagi ia dapatkan dari penjual online.

Acara bedah buku akhirnya usai jam setengah sebelas malam. Di akhir acara, seperti prosesi bedah buku umumnya, Mas Oli sebagai penulis dengan ramah melayani para peserta yang berebut tanda tangan dan meminta foto bersama.

Foto bersama seusai acara berlangsung dengan seluruh peserta

Acara dipungkasi dengan foto bersama Mas Olivier Johannes beserta seluruh peserta di depan Latar Kuncung Bawuk. Sungguh acara bedah buku yang sangat menarik, berkesan, dan bermanfaat, semoga kedepannya, Komunitas KOTA TOEA MAGELANG bisa kembali menggelar acara bedah buku dengan Narasumber lain yang tak kalah berkelas dari Mas Olivier Johannes. Salam Budaya!!

Foto      : Pak Widoyoko Magelang

Penulis : Agus Mulyadi [Gus Mul]

Editor   : Bagus Priyana

Agenda KOTA TOEA MAGELANG – Kamis 19 September 2013

Standard

Buku karya Olivier Johannes yang berjudul “PEKERDJA DI DJAWA TEMPO DOELOE” ini memberikan gambaran kehidupan masyarakat di Pulau Jawa pada periode tahun 1890-1940-an melalui lebih dari 140 kartu pos kuno dan foto kuno dari koleksi penulis. Semua ilustrasi bertema profesi-profesi tradisional. Dari pejabat tinggi sampai pekerja rendah, baik profesi untuk kaum wanita maupun kaum pria bahkan juga pekerjaan untuk anak-anak. Semua kartu pos diproduksi dari foto-foto karya beberapa fotografer ternama dan banyak juga dari fotografer anonim. Namun semua foto merupakan karya profesional yang indah.

Gambar dalam buku ini juga disertai dengan penjelasan-penjelasan informatif, seperti informasi tentang baju yang dipakai, alat yang digunakan dan lokasi yang mewakili foto. Olivier Johannes tidak hanya membicarakan tentang pekerjaan mereka saja tetapi dia akan mengantar anda juga untuk menyelami latar belakang sisi sosial dan budaya secara lebih detil dengan memperlihatkan gambar-gambar dari sisi lain.

Selain itu buku ini enak untuk dibuka-buka maupun juga untuk dibaca. Gambar-gambarnya sangat menarik untuk dilihat dan menyenangkan untuk dipakai sebagai bahan pelajaran maupun bahan hiburan semata baik bagi generasi tua maupun muda. Buku yang unik ini akan memperlihatkan koleksi luar biasa sebagai mesin waktu yang mengantar anda ke kehidupan sehari-hari tempo dulu.

Jika Anda ingin lebih tahu tentang kondisi pada waktu itu, ayo ikuti
bedah buku karya Olivier Johannes ini.

#TEMA
– Bedah Buku : “PEKERDJA DI DJAWA TEMPO DOELOE”
– Narasumber : OLIVIER JOHANNES [dari Belanda]

#PADA:
– Hari / tanggal : Kamis / 19 September 2013
– Waktu : 18.00 – 21.00 WIB
– Tempat : LATAR “KUNCUNG BAWUK”
Jl. Kartini Pasar Anyar, Mertoyudan Magelang.
No Telepon: (0293) 5570177

#lokasi:
[150 meter sebelah timur Polsek Mertoyudan Magelang / seberang timur jalan Raya Magelang – Jogja atau arah tenggara Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Magelang [UMM]

GRATIS … !!!

Cara pendaftaran :
Ketik : PEKERDJA [spasi] Nama Anda
kirim ke 0878 32 6262 69

Liputan dari Remboeg Sedjarah : Sejarah Kelam Orang Indo Di Magelang.

Standard

MAGELANG SELATAN-

Komunitas Kota Toea Magelang sebuah komunitas pencinta sejarah mengadakan kegiatan Sarasehan Remboeg Sedjarah dengan bertempat di sebuah rumah makan di Mertoyudan Magelang, Minggu (01/09) pukul 18.30 WIB.

Dalam kegiatan tersebut membahas tema “Orang-orang Indo di Kota Magelang periode 1906-1942” sebuah artikel dari hasil skripsi Tedy Harnawan Sarjana Sejarah UGM.
“Cukup menarik dalam paparan narasumber kali ini membawakan pengetahuan baru bagi komunitas ini, karena cukup minim data yang bisa didapat terkait dengan keberadaan orang Indo di Magelang,” ucap Bagus Priyana Koordinator Komunitas Kota Toea.Dalam paparannya Tedy tertarik mengulas keberadaan orang Indo yang berdomisili di Magelang.
Sebutan orang Indo sendiri adalah peranakan hasil perkawinan pribumi dengan warga eropa. Dimana dalam masa itu orang Indo tersebut mengalami diskriminasi dari orang-orang eropa yang kala itu berstatus sebagai penjajah bangsa Indonesia.
Banyak faktor yang melatar belakangi lahirnya orang Indo, salah satunya adalah pada saat itu penjajah banyak mengirim tentara (KNIL Belanda), dimana para tentara tersebut datang tanpa membawa keluarganya, karena biaya hidup akan melonjak, tentu saja pihak Belanda tidak mau menanggung hal tersebut.
Tedy Harnawan [kiri] sang nara sumber sedang mempresentasikan makalahnya
Karena itu banyak tentara penjajah (entah menikah resmi atau tidak) memilih wanita pribumi sebagai tempat melepas hasrat tersebut. Atas perbuatan itu banyak lahir orang Indo, namun kebanyakan nasib mereka terlantar, bahkan hidup di garis kemiskinan. Hal tersebut mengetuk hati Van der Steur untuk membuat panti penampungan untuk menampung anak-anak orang Indo tersebut, panti tersebut terletak di sebelah utara gedung Eks Karisidenan Kedu Magelang.
“Banyak orang Indo yang ditinggal oleh ayah mereka yang berstatus tentara, dimana harus berperang. Dan para wanita pribumi ini ada yang terpaksa menjadi gundik karena posisi tersebut,” tutur Bagus yang menjadi moderator saat pemaparan berlangsung.
Salah satu bentuk diskriminasi tersebut adalah, tidak diterima di kalangan Eropa, seperti tidak boleh berenang bersama orang Eropa. Namun demikian orang Indo berusaha mendapat tempat di kalangan Eropa, seperti dengan berdandan gaya Eropa, makanan Eropa, dan gaya hidup Eropa lainnya.
Di hadiri juga oleh Cameron, mahasisiwa S3 UGM dari Amerika Serikat
“Karena pada saat itu pribumi dianggap sebagai kelas no 3, sedangkan kelas no 2 dihuni oleh pendatang timur jauh, sedangkan kelas utama adalah orang Eropa. Maka orang Indo enggan masuk ke pribumi, namun ditolak di kalangan Eropa oleh sebab itu mereka mengambil gaya hidup Eropa agar diterima.
Namun nasib orang Indo di jaman sekarang berbeda, mereka cenderung menempati status sosial yang tinggi, terbukti wajah Indo lebih mudah menjadi artis,” pungkas Bagus.(mg22)..
BERBAGI WAWASAN. Sarasehan Remboeg Sedjarah Komunitas Kota Toea, berbagi wawasan sejarah orang Indo di Magelang pada masa kolonialis.
Para peserta berfoto bersama di depan lokasi acara di Latar Kuncung Bawuk

Di Bawah Bayang-bayang Modernitas: Orang-orang Indo di Kota Magelang, 1906-1942

Standard

Di Bawah Bayang-bayang Modernitas:

Orang-orang Indo di Kota Magelang, 1906-1942

Tedy Harnawan[1]

A.     Dari Manakah Orang-orang Indo di Magelang?

            Orang-orang Indo di Magelang banyak yang telah melakukan pernikahan secara resmi dan membentuk keluarga. Mereka menikah dengan laki-laki Eropa totok yang bekerja sebagai tentara atau pegawai pemerintah. Mereka juga memiliki rumah-rumah pribadi yang berada di kota di sekitar alun-alun kota atau dekat tangsi militer.

https://i2.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d8/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_echtpaar_Pietermaat_met_Mej._Mulder_op_de_veranda_van_hun_woning_op_de_suikeronderneming_Kalibagor._TMnr_60004317.jpg

Gaya hidup orang Indo dapat terlihat dari penampilannya. Tapi foto di atas sangat unik karena si bule memakai kebaya dan jarit batik yang identik dengan pribumi. [foto : Tropen Museum]

1.                      Pengusaha Perkebunan dan Para Ambtenaar

Jumlah orang Indo di perkebunan menjadi yang paling sedikit di Magelang. Mereka adalah anak-anak orang Indo yang terpandang karena memiliki tanah yang luas.[1] Anak-anak ini mendapat sekolah yang lebih baik dari anak-anak Indo yang lainnya. Sejak Magelang menjadi daerah kotapradja, pegawai pemerintah banyak yang dipegang oleh laki-laki Eropa dan Indo. Mereka disebut para ambtenaar. Anak-anak pegawai (ambtenaar) ini cukup banyak. Mereka juga lahir dari laki-laki Eropa dan perempuan pribumi yang mendapat pendidikan memadai dan bekerja sebagai juru tulis, pemilik toko-toko dagang atau pelayan toko.[2]

Orang-orang yang duduk dalam pemerintahan cukup banyak. Orang-orang Eropa selalu mengisi jabatan-jabatan strategis. Di Magelang atau di kota-kota lainnya, pada dasarnya para ambtenaar yang berasal dari orang Eropa, pribumi dan Cina ini terbagi ke dalam dua wilayah pekerjaan, yaitu mereka yang bekerja untuk pemerintah (sipil) dan pegawai swasta. Mereka yang bekerja sebagai pegawai sipil bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda yang bertugas sesuai birokrasi pemerintahan.  Orang-orang Indo yang bekerja sebagai pegawai swasta banyak yang bekerja di bidang pariwisata. Mereka mendirikan toko-toko, hotel-hotel. Banyak diantara mereka yang bekerja menjadi pemandu wisata karena kemampuan bahasa Melayu dan Belanda sangat bagus.[3] Sebagain dari mereka juga mampu berbahasa Inggris dengan baik.

Orang-orang sipil bekerja di kantor-kantor pemerintahan bekerja sebagai residen, asisten residen, sekretaris, juru tulis dan kepala-kepala bagian yang mengepalai suatu badan tertentu. Dari catatan pengeluaran gaji bisa diketahui jabatan-jabatan yang diduduki orang-orang ini. Pada tahun 1930, orang-orang Eropa di kota Magelang banyak yang bekerja sebagai opas kantor (kantoor oppasser), pegawai kantor (persooneel), sekretaris (secretarie), komisaris (commisarie), ajudan komisaris (adjudant commisarie) dan komisaris besar (hoofd commisarie).[4]

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/KITLV-AchterkampementMagelang1910.jpg

Blok tangsi di Magelang

Orang-orang Indo sipil ada yang bekerja dalam kemiliteran. Mereka yang hidup di dalam lingkungan tangsi adalah orang-orang militer. Jabatan tinggi dipegang oleh Eropa totok sementara jabatan di bawahnya dipegang oleh orang-orang Indo seperti juru tulis dan pengajar di dalam tangsi. Namun, orang-orang Indo justru lebih banyak dari istri-istri anggota militer dan anak-anaknya. Mereka membina keluarga di dalam maupun di luar tangsi. Mereka  sebagian besar adalah para pendatang yang tinggal di kota Magelang selama masa tugasnya. 

https://i0.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/de%20tuin%20van%20java/GebouwvandeHoofdwachtProvoosthuisMilitaireMagelang1927.jpg

Markas tangsi militer Belanda di Magelang

Salah satu yang harus disebut sebagai orang-orang yang bekerja di dalam lingkungan sipil adalah polisi. Anggota polisi ini sebenarnya bekerja antara sipil dan militer. Sejak reorganisasi kepolisian tahun 1897, salah satu perubahan yang terjadi adalah diresmikannya kepolisian bersenjata (gewapende politie). Mereka berkedudukan diantara kepolisian dan militer sebagai unit cadangan yang dipersenjatai yang berada di bawah kendali pemerintah sipil.[5] Di kota Magelang, sebagian besar jabatan mereka adalah sebagai polisi kota (stadspolitie), polisi lapangan (veldpolitie), reserse (recherche) dan agen (agent). Dalam beberapa laporan, jumlah polisi ini lebih banyak dijabat oleh orang-orang pribumi.

 

2.      “Anak-anak Kolong” dan Steurtjes

https://i1.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/15/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Tehuis_van_vader_Van_der_Steur_voor_verwaarloosde_kinderen_te_Magelang_Java_TMnr_10002248.jpg

Van der Steur dengan kawan-kawannya [tropen museum]

Kehidupan para tentara di Magelang pada abad ke-19 sangat buruk. Dari 2.384 kepala keluarga militer, sebanyak 17% tentara Eropa hidup dalam kemiskinan dan sepertiga dari mereka adalah para pensiunan tentara yang hidup sangat miskin dan menjual minuman alkohol ilegal, melakukan praktik prostitusi dan perjudian.[6] Mereka banyak yang hidup dengan gundik-gundik yang tinggal di kampung-kampung sehingga banyak melahirkan anak-anak di luar nikah. Anak-anak itu lalu disebut sebagai “anak kolong”[7] yang sangat banyak di Magelang.

https://lh5.googleusercontent.com/-CLIJCvJ06vw/TChrhq3Pz8E/AAAAAAAAQPQ/t-W9oYXR1kY/s250-c-k-no/270609PartyPaVanDerSteur

Van der Steur dengan istri

Orang-orang Eropa dan Indo banyak yang menempati posisi dalam militer. Mayoritas pegawai-pegawai kemiliteran ini telah menikah. Berdasarkan pengakuan seorang anak Indo yang ayahnya bekerja sebagai KNIL di Magelang menjelang akhir periode kolonial, orang-orang Indo banyak yang bekerja di dinas militer yang menghasilkan “anak kolong” atau “anak tangsi” dari gundik para pribumi.[8] Ia mengatakan bahwa rumah-rumah dinas militer di Magelang sangat banyak didiami oleh keluarga-keluarga Indo, khususnya istri-istri mereka. Mereka ada yang tinggal di dalam tangsi militer namun kebanyakan dari mereka tinggal di perkampungan.

Kehidupan militer di Magelang sebelum abad ke-20 dikenal sangat keras bahkan lebih buruk daripada hidup di kompleks perkampungan. Tentara-tentara militer Eropa di Magelang adalah laki-laki peminum minum-minuman keras ilegal dan kebiasaan mereka yang sering mendatangi rumah bordil.[9] Dalam keadaan yang demikian, seorang pastur Kristen bernama Van der Steur tampil sebagai sosok penyelamat moral-moral bejat tentara militer Eropa di Magelang, terutama anak-anak yang lahir tidak sah.

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/09/03b8d-2pavandersteurtemiddenvaneengroepjeindokinderendienietmeerbijhunmoederkondenwonen1906javamagelang.jpg

Van der Steur dengan anak-anak asuhnya

Pada Januari 1893, ia tiba di Magelang. Ia kemudian menyewa rumah kecil seharga f 20 per bulan dan membangun pendopo kecil yang kemudian kompleks rumahnya ini disebut sebagai Oranje Nassau. Misi van der Steur sangat berhubungan dengan misi Kristen dan kemiliteran. Suatu hari, seorang tentara bersenjata yang sedang mabuk menghampiri Van der Steur dan berkata “Bapak, jika anda adalah seseorang pribadi yang benar-benar taat kepada Tuhan, pergilah ke kampung. Di sana ada seorang bekas tentara Italia yang memiliki empat anak Indo dan seorang wanita pribumi yang hidup dalam kemiskinan.”[10] Setelah kejadian tersebut, Van der Steur mendirikan panti asuhan yang semakin berkembang dan berjuang mendapatkan subsidi dari pemerintah kolonial saat itu.

Banyaknya anak-anak Indo yang diasuh menjelaskan suatu gaya hidup pergundikan para tentara Eropa di Magelang. Anak-anak Indo di panti asuhan ini kemudian juga berdatangan dari luar kota. Jumlah anak-anak panti asuhan Van der Steur dilaporkan mencapai 800 anak tertanggal sampai 31 Desember 1907. Jumlah anak paling banyak yang diasuh adalah anak-anak tentara hasil pergundikan yang tidak diakui secara sah.

Jumlah anak-anak tentara menjadi mayoritas anak-anak panti asuhan dibandingkan dengan anak-anak pegawai sipil. Dari sekian jumlah anak-anak tersebut, sebagian besar merupakan anak-anak hasil pergundikan yang jumlahnya hampir lima belas kali lipat dari jumlah anak-anak yang lahir secara sah. Dari sekian banyak anak-anak yang diasuh, anak-anak yang tidak memiliki orangtua ternyata lebih banyak namun menunjukkan jumlah yang sebanding dengan anak-anak yang tidak memiliki ayah atau ibu atau anak-anak miskin yang tidak diurus orangtuanya. Di sini bisa disimpulkan bahwa Magelang memiliki masalah serius dengan pergundikan oleh para tentara militer.

https://i2.wp.com/gw.geneanet.org/file/genewebfile/p/v/pvandorssen/Pa_van_der_Steur.jpg

Van der Steur

Orang-orang Indo kelahiran Magelang mayoritas adalah orang-orang yang hidup dalam kemiskinan. Mereka lahir dari para tentara yang menikah dengan perempuan lokal dan memutuskan untuk tinggal di perkampungan setelah masa tugasnya selesai. Anak-anak yang lahir dari keluarga yang demikian yang akhirnya masuk ke panti asuhan Van der Steur.

 

B.     Gaya Hidup Orang-orang Indo Di Tengah Kota Magelang

Pada permulaan abad ke-20, kebudayaan Indis menurut Djoko Soekiman telah bergeser ke arah urban life.[11] Abad modern memperlihatkan simbol-simbolnya yang baru. Dampak paling signifikan di abad ke-20 adalah semakin kuatnya pemisahan etnis dan ras di dalam masyarakat. Semakin banyaknya orang-orang Eropa totok di Hindia Belanda menyebabkan sebuah pandangan baru bagi orang-orang Indo yang masih memiliki darah Eropa.

 

A)      Menggosip dalam Societeit

Istri dari laki-laki Eropa sebagian besar waktunya hanya dihabiskan di rumah. Untuk menjalin keeratan hubungan dengan sesama perempuan Eropa, mereka berinisiatif untuk mengadakan perkumpulan-perkumpulan. Persatuan ini berkembang pesat seperti Vereeniging van Huisvrouwen van Nederlands Indie yang membuka cabang di kota-kota besar di Jawa. Mereka bahkan mencetak majalah di berbagai kota dengan pusat kantornya di Bandung. Kota-kota tersebut antara lain Batavia, Buitenzorg, Cheribon, Djokja, Malang, Medan, Palembang, Semarang, Soekabumi, Soerabaia dan Solo. Magelang juga menjadi salah satu kota yang bergabung dalam perkumpulan ini.

Societeit de Eendracht di utara Aloon-aloon, tempat orang-orang Belanda dan Indo berdansa [foto : KITLV]

Seperti Vereeniging van Huisvrouwen van Nederlands Indie, para perempuan Eropa di Magelang juga menerbitkan majalah yang dinamakan Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen Magelang. Apa yang menginspirasi tulisan-tulisan di dalam majalah ini menunjukkan sebuah parameter gaya hidup baru yang sebenarnya terbatas bagi para perempuan-perempuan kelas menengah ke atas. Para anggota perkumpulan perempuan dan societeit kemudian tidak bisa dipisahkan. Para anggota perkumpulan ini mayoritas juga menjadi anggota Societeit. Pemimpin pertamanya adalah Mevrouw van Gorkom yang juga istri pengusaha toko Apotheek van Gorkom yang sering menjual bahan-bahan kecantikan.[12]

Tempat berdansa para Sinyo dan Noni di Societeit de Eendracht

Salah satu societeit atau soos yang paling terkenal di Magelang adalah De Eendracht yang berada di alun-alun kota. Anggota Soos ini adalah para istri-istri pejabat tinggi atau jabatan penting lainnya dalam pemerintah. Tidak semua perempuan Indo biasa percaya diri untuk masuk ke dalam Soos ini.[13] Kegiatan rutin yang sering dilakukan adalah mengadakan perkumpulan bersama, kunjungan wisata dan demo masak. Keuntungan yang bisa didapatkan menjadi anggota perkumpulan ini ialah mendapatkan potongan harga pada beberapa toko-toko di Magelang. Seluruh kegiatan sering diadakan di dalam gedung Soos ini. Pemerintah Kotapradja Magelang menetapkan pajak bangunan societeit sebesar f 75.[14]

Tempat bermain bola sodok di societeit

Selain Societeit De Eendracht, terdapat juga Societeit De Militair yang berada di dalam tangsi Magelang. Societeit ini lebih dipergunakan oleh keluarga-keluarga dan istri-istri pejabat militer yang kelasnya lebih rendah. Banyaknya orang Cina di kota Magelang membuat pemerintah juga membangun societeit untuk mereka. Societeit ini berada di Pecinan.

 

B) Bersolek ala keluarga Dames dan Heeren

Penyebutan dames sering digunakan pada majalah-majalah populer di Hindia Belanda untuk menyebut perempuan-perempuan berstatus Eropa yang lebih mengacu pada perempuan-perempuan yang telah bersuami. Keluarga seperti dames dan heeren[15] kemudian menjadi cerminan keluarga yang ideal bagi orang-orang Indo. Perempuan Indo sangat memperhatikan penampilan karena meniru perempuan Eropa totok. Tempat paling cocok untuk berdandan adalah salon. Salon menjadi ruang baru untuk menata diri khususnya para perempuan.

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/de%20tuin%20van%20java/de%20tuin%202/EuropesevrouwenvooreenwoningteMagelang1900.jpg

Lihatlah gaun yang di pakai oleh para noni-noni ini.

“Salon Stiller” di Groote Weg Noord melayani penataan gaya-gaya rambut model terbaru. Gaya rambut pendek saat itu menjadi tren paling menarik untuk perempuan dewasa. Gaya rambut pendek ikal dan keriting menjadi sangat populer. “Salon Stiller” mampu melayani para pelanggan untuk membuat rambut tetap terlihat ikal dan basah. Demo-demo kecantikan terkadang diadakan secara eksklusif di dalam Societeit Een Dracht.

Setelah berdandan rapi, hal yang paling penting lainnya adalah parfum. Parfum memberikan kesan wangi dan bugar. Dalam majalah Onze Samenleving, para perempuan Eropa dan Indo sangat menyarankan para wanita untuk selalu memakai parfum setiap hari. Aktivitas dengan orang-orang pasar yang bau dan bercampur dengan orang-orang peminum alkohol harus diatasi dengan memakai parfum berbau wangi.[16] Parfum dapat dibeli di toko-toko Eropa di kota Magelang seperti di “Apotik van Gorkom &  Co.” yang menjual parfum-parfum impor dari Paris.

Adopsi pakaian Barat sebagai kostum perempuan di Jawa dimulai di kalangan kaum Indo.[17] Perempuan Indo di Magelang masih menggunakan kebaya putih dan kain sarung. Pakaian-pakaian Barat hanya digunakan untuk bepergian atau bertemu dengan teman di luar rumah. Iklim Hindia Belanda yang ekstrim menginspirasi perempuan-perempuan Eropa dan Indo untuk memakai mode pakaian empat musim seperti di Eropa. Di kota Magelang yang cukup sejuk dan dingin, pakaian musim semi banyak yang sedang menjadi pusat perhatian para penjahit pakaian, misalnya blouse, ikat pinggang, dasi dan topi. Paris masih menjadi tren mode sampai tahun 1930an disamping London dan Amerika.

Dalam hal gaya mode pakaian, peran penjahit (tailleur) menjadi sangat penting. Para perempuan Eropa dan Indo kaya di kota Magelang lebih memilih untuk menjahitkan bajunya pada penjahit profesional walaupun bisa dibeli di toko busana Eropa di Semarang.

C)  Lezatnya Hidangan Eropa

Anak-anak Van der Steur biasanya makan tiga kali sehari dengan nasi, daging, ikan, sayuran dan kadang-kadang dengan sambal. Biasanya mereka akan makan makanan yang spesial hanya pada hari Sabtu. Namun, sebagai kepala panti asuhan, Van der Steur melarang anak-anak panti asuhan makan makanan yang mengandung banyak gula. Makanan-makanan Eropa seperti lemonade, kue-kue manis, roti isi keju, selai dan daging hanya bisa dinikmati tiga kali dalam setahun dalam acara-acara perayaan seperti Hari Natal, Hari Ulang Tahun Ratu Belanda dan Hari Ulang Tahun Van der Steur. Mereka masih mendapatkan makanan yang lebih layak dibandingkan dengan anak-anak yang tinggal di perkampungan.

Anak-anak Indo dalam keluarga kaya makan daging dan roti hampir setiap hari. Ibu-ibu mereka sangat pandai memasak masakan Eropa dan setiap hidangan selalu menampilkan resep-resep Eropa yang didominasi oleh daging setiap minggunya. Makanan dengan bahan daging yang paling sering dimasak adalah steak. Daging-daging yang menjadi bahan dasar pembuatan steak adalah daging sapi (rundvleesch) dan daging babi (varkensvleesch). Dari harga pasar, daging babi lebih mahal daripada daging sapi.[18] Keluarga Indo yang beragama Kristen atau Katolik sangat menyukai daging babi atau dendeng tjeleng. Ketersediaan daging di kota Magelang didukung adanya rumah-rumah potong hewan (slachthuis) seperti di Muntilan.[19] Selain itu, schotel dan biefstuk merupakan makanan Eropa yang paling populer di dalam keluarga Indo.

Toko-toko di Magelang banyak yang menjual makanan dan minuman dari Eropa. Pesta-pesta, perayaan atau pertemuan penting sering memesan makanan-makanan Eropa seperti roti taart, kue coklat, biskuit, roti kering, susu dan buah-buahan kaleng. Banyak sekali toko-toko yang mulai menjual roti siap makan atau toko yang menjual bahan-bahan mentah bagi yang ingin mencoba-coba di rumah. Jalan Groote Weg merupakan pusat toko-toko perbelanjaan.

 

D)      Kemeriahan Pesta-pesta

Pesta harus diadakan untuk merayakan hari-hari spesial dalam keluarga Indo. pesta-pesta itu bisa berupa perayaan ulang tahun, perayaan perkawinan atau perayaan penerimaan tamu keluarga jauh dari luar kota. Keluarga yang mengadakan pesta akan berusaha menyediakan kemeriahan pesta sesuai kemampuan finansial mereka. Namun, beberapa hal yang harus ada dalam setiap kemeriahan pesta adalah makanan, champagne dan bunga.

Minuman beralkohol di kota Magelang sudah banyak dijual di toko-toko, terutama toko-toko milik orang Cina[20]. Bir dengan merk-merk terkenal seperti Anker, Heinekens, Diamant, Rex dan Java juga diperjualbelikan di toko “Pong”, “Victoria”, “Bie Sing Hoo” dan “Tang Ing Tjoan”. (lampiran hlm. 199). Ayah John Schell selalu minum Jenever ketika makan siang yang diberi sedikit gula yang sudah disiapkan djongos.[21]

https://i0.wp.com/sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/2606_1047404827367_3855687_n.jpg

Pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Prawirokusuman Magelang

Sambil meneguk bier atau champagne, orang-orang Eropa juga merokok. Di kota Magelang sudah berdiri pabrik cerutu dan pabrik rokok. Pabrik cerutu pertama kali yang didirikan adalah pabrik cerutu Ko Kwat Ie. Pabrik cerutu lainnya adalah pabrik “Aroma” yang didirikan tahun 1924 namun baru pada tahun 1931 mendapatkan kesuksesan besar.[22] Hasil cerutu dari pabrik ini bahkan dipasarkan ke luar negeri seperti Siam, Shanghai, Singapura, Belanda dan Afrika.

https://lh6.googleusercontent.com/-R2imUlOmXeg/TXEW3Ji80jI/AAAAAAAAAS8/D_2KxEDFUuA/s320/DSC00533.JPG

cerutu Ko Kwat Ie

Salah satu perayaan terbesar yang pernah digelar di kota Magelang adalah upacara penyambutan Gubernur Jendral Hindia Belanda. Sepanjang jalanan kota dihiasi dengan lengkungan-lengkungan yang dihias dengan karangan bunga yang mewah. Bendera-bendera Hindia Belanda juga dipasang di sepanjang jalan Pecinan dan Residentielaan. Biaya untuk menyambut perayaan itu mencapai 2.000 gulden.[23] Di lingkungan militer, perayaan besar seperti St. Nicolaas menyedot banyak publik kota Magelang, khususnya anak-anak. Perayaan ini dirayakan oleh sekitar 1.520 anak-anak yang diadakan sore hari.[24] Perayaan besar tertentu menjadi agenda tahunan untuk melakukan karnaval di jalanan kota. Mobil, bunga dan kuda menjadi simbol perayaan besar. Para penonton merasa takut karena banyaknya pasukan berkuda yang banyak.[25]

Kebutuhan bunga tidak hanya dibutuhkan untuk menghias kebun rumah, namun juga menjadi kebutuhan pesta. Sebuah ungkapan umum yang berbunyi “katakan dengan bunga” menjadi bagian dari gaya hidup di lingkungan orang-orang Eropa di Hindia Belanda.[26] Bunga kemudian menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Banyak orang Eropa yang memiliki bloemkweekerij[27] untuk mendapatkan laba yang besar. Bisnis toko bunga (florist) banyak digeluti oleh para perempuan Eropa. Rangkaian-rangkaian bunga pun dijual di toko-toko bunga seperti Toko “Vanda”, Toko “Veronica” dan Toko “Art Floral”. Toko bunga “Art Floral” dan toko bunga “Vanda” sering menjadi langganan perempuan-perempuan Indo dan Eropa untuk mengadakan pesta-pesta di societeit Magelang.

 

E)       Layar Bioskop, Panggung Opera dan Musik

https://i1.wp.com/photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/307333_2142004711680_961846577_a.jpg

Al Hambra, bioskop ternama di jamannya

Sebelum Magelang memiliki gedung bioskop, societeit-societeit sudah memiliki bioskop kecil sendiri. Dari laporan notulen, pengadaan gedung bioskop bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih karena bisa dinikmati khalayak umum.[28] Magelang meresmikan pembangunan dua bioskop yang sangat populer yaitu Roxy Theater dan Alhambra Theater. Roxy Theater awalnya menyewa gedung di depan alun-alun dengan membayar uang muka sebesar f 2.500 dan harus membayar pajak bioskop sebesar f 400 per bulan.[29] Bioskop ini juga berdekatan dengan Societeit De Eendracht. Bangunannya pun cukup megah dengan struktur batu bata yang kuat dan dicat warna putih. Film-film yang ditayangkan adalah film-film dari luar negeri. Pemilik bioskop ini adalah orang Cina yang bernama Kho Tjie Ho. Bisnis perfilman di Magelang dimonopoli oleh orang Cina tetapi mayoritas konsumennya adalah orang-orang Eropa.

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/09/b2387-jimmy26sally.jpg

Poster film di bioskop Al Hambra

Selain menonton layar film, orang-orang di kota dihibur oleh beberapa musisi-musisi opera yang mengadakan konser. Konser-konser opera menjadi alternatif hiburan yang baru di kota Magelang. Salah satu musisi yang pernah diberitakan di koran adalah musisi Rusia bernama Mirovitch dan Piastro.[30] Mereka sukses memberikan antusiasme tinggi para penikmat opera di kota Magelang.

Anak-anak Indo di dalam panti asuhan Van der Steur dilatih bermain orkes musik (muziekkapel). Orkes musik ini hanya dilatih untuk anak-anak laki-laki saja. Mereka belajar meniup alat-alat musik Eropa yang belum pernah mereka nikmati sebelumnya. Masing-masing anak akan membawa satu alat musik seperti klarinet, trompet dan drum. Dalam beberapa kesempatan mereka diminta untuk mengisi berbagai acara besar seperti karnaval atau perayaan besar lainnya.

 

F)     Pelesir

 

Di abad ke-20, siapa saja bisa menikmati perjalanan wisata jika memiliki penghasilan yang lebih. Berdasarkan laporan buku kas tahunan diketahui banyaknya biaya perjalanan (reiskosten) yang dikeluarkan pemerintah cukup besar. Selain gaji pokok yang mereka terima, mereka juga menerima tunjangan gaji perjalanan yang hampir setengah dari gaji pokok. Tunjangan gaji perjalanan para pejabat di Magelang adalah tunjangan tertinggi di Karesidenan Kedu. Tingginya biaya tunjangan dikarenakan Magelang adalah ibukota karesidenan Kedu. Besarnya tunjangan juga disebabkan karena pendapatan daerah yang cukup tinggi.

Orang-orang Eropa kaya di kota Magelang sangat suka bepergian. Hari minggu dipilih karena hari libur dan waktu istirahat dari pekerjaan mereka yang sibuk. Selain pergi ke gereja, mereka akan pergi ke luar kota atau ke daerah objek wisata. Mereka naik mobil, delman (deeleman) atau kuda. Disamping tjikar dan grobak, sado dan delman menjadi transportasi yang akrab karena telah menggunakan roda karet dan digerakkan oleh motor.[31]

Ibu-ibu rumah tangga Indo sering mengajak anak-anaknya untuk berenang. Fasilitas kolam renang disediakan di Hotel Loze yang sangat populer di kota Magelang. Air kolam renang di hotel ini sangat jernih. Anak-anak Indo menengah ke atas sering berenang di sini, namun tidak semua anak dapat berenang di sini.

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/de%20tuin%20van%20java/381161_2684714790331_1669103731_n.jpg

Kolam renang di Hotel Loze

 

G)      Kamera-kamera

Salah satu yang paling terkenal adalah Lee Brothers Studio yang berpusat di Singapura dan membuka tiga cabang di Hindia Belanda, yaitu di Batavia, Magelang dan Bandung.[32] Dalam sebuah foto kuno, tergambar dengan jelas sebuah keluarga yang harmonis. Dalam satu kursi kayu duduk seorang perempuan Indo dengan gaun warna abu-abu. Di sebelah kirinya duduk anak laki-lakinya. Dia menggunakan kaos kaki panjang dan sepatu kulit hitam yang sangat mengkilat. Di sebelah kanannya berdiri kedua anak perempuannya. Di sudut kanan bawah tertulis dengan samar-samar Midori Magelang.

Midori ialah studio foto di kota Magelang yang sangat terkenal. Dalam iklannya ditulis Japansch Fotografisch-Atelier. Sesuai dengan namanya, Midori adalah orang Jepang yang membuka usaha fotografi. Ahli fotografer Midori sangat profesional. Jasa pemotretan bisa dilakukan di dalam studio (atelier opnamen) atau di luar studio (buiten opnamen) yang bisa ditelepon untuk datang ke rumah. Pemotretan juga bisa dilakukan di malam hari dengan penerangan yang dipersiapkan dengan alat-alat yang modern. Studio ini juga menyediakan pembuatan dan pemasangan figura foto. Letak studio foto ini berada di Groote Weg Zuid No. 116.

 

H)      Mempercantik Rumah dan Berkebun

Hal yang paling utama ialah menjaga kebun di depan rumah. Tepat di pinggiran beranda biasanya mereka menaruh pot-pot besar yang ditanami bunga-bunga atau tumbuh-tumbuhan hijau. Bagaimanapun juga, perempuan Indo harus bisa merawat bunga dengan baik karena cita rasa kebun Hindia tidak dimiliki perempuan-perempuan Eropa totok.[33] Berkebun sudah menjadi kebiasaan orang-orang Indo di dalam rumah untuk mengisi waktu luang mereka. Sudah sangat wajar bila berkunjung ke rumah mereka akan disambut dengan banyaknya pot-pot bunga yang besar dan terawat dengan baik.

Penanaman bunga yang paling baik adalah akhir musim hujan.[34] Benih-benih bunga bisa dipesan di toko-toko bunga di kota Magelang. Tanaman-tanaman yang akan ditanam di dalam bak harus ditusuk dengan bambu kecil agar udara masuk ke dalam tanah dalam pot. Tanaman yang paling direkomendasikan bagi kebun rumah di Magelang adalah jenis Zinnia, Phlox dan Petunia karena dapat tumbuh dengan bagus di Magelang.[35] Selain mudah dirawat juga memiliki variasi bunga warna-warni. Pupuk-pupuk bunga sudah banyak dijual di Magelang. Penyiraman harus selalu dilakukan setiap hari terutama saat musim kemarau.

 

I) Dimana Anjingku?

Dalam transformasi gaya hidup yang unik abad 20 adalah orang-orang kaya yang mulai memelihara binatang peliharaan. Binatang-binatang itu biasanya anjing, burung kakatua, kucing dan kuda. Di kantor pemerintahan, anjing-anjing juga dipelihara. Dalam laporan keuangan, biaya pemeliharaan anjing mencapai f 140 per bulan.[36] Anjing peliharaan harus anjing yang jinak dan bukan anjing kampung yang kotor dan senang berkeliaran di kampung-kampung. Anjing kampung (pariah dogs) sangat banyak di kampung dan desa-desa.[37] Bagaimanapun juga, anjing rumah itu anjing yang bersih dan gemuk. Adanya akses dokter hewan di kota Magelang menjadi profesi yang menguntungkan karena dibayar f 25.[38]

Sebuah keluarga Indo kaya di Jawa ataupun di Magelang, kuda dipelihara untuk transportasi alternatif pribadi. Kuda ini juga bisa dipakai untuk belajar bermain pacuan kuda di lapangan terbuka seperti di lapangan Bukit Tidar. Dalam laporan keuangan pemerintah Begrooting Boek Magelang tahun 1930 bagian Laporan Perbaikan dan Perlengkapan Personil Polisi Eropa (Vergoeding van Kleeding en Uitrusting European of Het Persoonel Veld Politie), makanan kuda (paarden fourage) dan biaya perawatan kuda selalu ada dalam laporan keuangan setiap tahunnya.[39]


[1]Mahasiswa Jurusan Sejarah, Universitas Gadjah Mada 2009.

[2]Wawancara dengan Andries Schell de Nijs, Sabtu 20 April 2013, pukul 23.26 WIB.

 [3]Wawancara dengan Andries Schell de Nijs, Sabtu 20 April 2013, pukul 23.26 WIB.

 [4]M. McMillan, A Journey To Java, (London: Holden & Hardingham, 1914), hlm. 89.

 [5]Begrooting Boeks Magelang, 1930.

[6] Marieke Bloembergen, Polisi di Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan, (Jakarta: Kompas, 2011), hlm. 71.

 [7]Hanneke Ming, “Barrack-Concubinage in Netherlands Indies 1887-1920” dalam jurnal Southeast Asia Publications di Cornell University, hlm. 76.

 [8]“Anak Kolong” adalah sebutan bagi anak-anak yang lahir dan hidup di dalam lingkungan militer dari hubungan pergundikan yang tidak sah.

 [9]Wawancara dengan Andries Schell de Nijs, Sabtu 20 April 2013, pukul 23.26 WIB.

 [10]Nederlandsch Indie Oud & Nieuw, tahun 1916, hlm. 411.

 [11]C.H.G.H. Brakke, Pa van der Steur: Vader van 7000 Kinderen, hlm. 30.

 [12]Djoko Soekiman, Kebudayaan Indis: Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2011), hlm. 83.

 [13]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, Mei 1938, hlm. 13.

 [14]Wawancara dengan Andries Schell De Nijs, Sabtu 6 April 2013, pukul 17.24 WIB.

 [15]Notulen van de Openbare Vergadering van den Gemeenteraad van Magelang, hari Senin tanggal 30 Januari 1922, hlm. 26.

 [16]Heeren berasal dari bahasa Belanda untuk menyebut laki-laki yang telah beristri dan merupakan arti berlawanan dari Dames.

 [17]Onze Samenleving, tahun 1923.

 [18]Jean Gelman Taylor, “Kostum dan Gender di Jawa Kolonial Tahun 1800-1940” dalam buku Henk Schulte Nordholt (ed.), Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan, (Yogyakarta: LkiS), hlm. 122-123.

 [19]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 27 Juni 1939, hlm. 29.

 [20]Begrooting Regentschap Magelang, tahun 1930, ANRI.

 [21]Minuman seperti champagne dan Jenever dijual di toko “Liong Hoe Ging”, Toko “Ong Hok Liem” dan Toko “Nanking”.

 [22]Wawancara dengan John Schell De Nijs, Sabtu 6 April 2013, pukul 17.24 WIB.

 [23]Parada Harahap, Indonesia Sekarang, (Jakarta: Bulan Bintang, 1952), hlm. 141-142.

[24]Weekblad voor Indie, 12 November 1912, hlm. 723-724.

 [25]Het Nieuws van den Dag, hari Rabu, 7 Desember 1921.

 [26]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 1939, hlm. 10.

 [27]H.W. Ponder, Javanese Panorama, (London: Seeley, Service & Co.), hlm. 195.

 [28]Sebuah tempat untuk menanam kebun bunga dan membibitkan benih sendiri. Bisnis ini banyak digeluti oleh orang-orang Eropa. Biaya penanaman bunga di Hindia Belanda masih terbilang lebih murah dibandingkan di Eropa. Para pekerja kebun bunga mayoritas adalah para perempuan pribumi yang dibayar sangat murah, sekitar 20 sen. Permintaan bunga semakin meningkat dan keuntungan menjadi penjual bunga dalam toko bunga (florist) lebih menguntungkan. Baca buku H.W. Ponder, ibid.,

 [29]Notulen van de Openbare Vergadering van den Gemeenteraad van Magelang, 8 Juni 1922, hlm.112.

 [30]Notulen van de Openbare Vergadering van den Gemeenteraad van Magelang, 8 Juni 1922, hlm.112.

                                                                                                                        

[31]Het Nieuws van den Dag, hari Sabtu, 26 Februari 1916.

 [32]Rudolf Mrazek, Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni, op.cit., hlm. 25.

 [33]ibid.

 [34]Breton De Nijs, Bayangan Memudar: Kehidupan Sebuah Keluarga Indo, op.cit., hlm 159.

 [35]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 17 Mei 1938, hlm. 11.

 [36]Maandblad Vereeniging van Huisvrouwen te Magelang, 17 Mei 1938, hlm. 13.

 [37]Begrooting Regentschap Magelang, tahun 1930, ANRI.

 [38]H.W. Ponders, op.cit., hlm. 233.

 [39]Begrooting Regentschap Magelang, tahun 1930, ANRI.

 [40]Binnenland Bestuur, ANRI.

 

7th International Field School on Borobudur 2013 kembali di gelar

Standard

Center for Heritage Conservation

DEPARTMENT OF ARCHITECTURE AND PLANNING, 
FACULTY OF ENGINEERING
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA, 
INDONESIA

Call for Participants
7TH INTERNATIONAL FIELD SCHOOL 
ON BOROBUDUR SAUJANA HERITAGE

 

Theme
Local Communities’ Initiatives for the Evolutive Conservation

Venue
Yogyakarta & Borobudur, September 4-10, 2013
 
Co-organized by
Center for Heritage Conservation
 
In collaboration with
1. Kanki Laboratory
2. Jogja Heritage Society


INTRODUCTION
Saujana heritage or cultural landscape heritage is the inextricable unity between nature and manmade heritage in space and time, or the variety of interactive manifestation between manmade heritage and natural environment. The interaction of nature and culture has become a new perspective in global discourse of sciences especially those which concern with heritage conservation started in the end of the 80’s. However, in the Indonesian higher education as well as the discourse on the saujana has not well developed. Whereas in fact, Indonesia from Sabang to Merauke is a mosaic of one of the world’s largest diversity of saujana that needs interdisciplinary developed.

Borobudur Temple compound, which consists of Borobudur, Mendut and Pawon
Temples, was inscribed in the UNESCO’s World Heritage List No. 592 in the year 1991. The area of this compound has rich of natural and cultural potentials associated with the establishment of the temples existence. There are surrounding mountains, ancient lake, fertile soil, and rural atmosphere as well as everyday community life of cultural villages which performs the value and variety of interactive manifestation between manmade heritage and natural environment called saujana. However, in the last decade there has been a tremendous movement of the local communities to be more concerned into unbalance conservation and development on this World Cultural Heritage Sites. 

In order to response the comprehensive needs, in scientific as well as practical, on the conservation of Borobudur cultural landscape, since 2004, the International Field School of Borobudur Cultural Landscape Heritage Conservation (shortly named Borobudur Field School/BFS) has been annually organized by the Center for Heritage Conservation, Department of Architecture and Planning, Gadjah Mada University (UGM) in collaboration with Kanki Laboratory for Architecture and Human Environmental Planning, Graduate School of Urban Environmental Engineering, Kyoto University, Japan; Miyagawa Seminar, Dept. of Environmental System, Wakayama University, Japan; and Jogja Heritage Society. 

Every year, each BFS has emphasized on specific implementing techniques of cultural landscape conservation, including enhancing participants’ skill on the inventory, documentation and presentation some unique villages surrounding Borobudur Temple which are ignored in the Borobudur Temple conservation and development (1st BFS); developing village design guidelines (2nd BFS); emphasizing on the formulation of village design guidelines (3rd BFS); emphasizing on the various principles and issues on the regional context of Borobudur conservation planning (4th BFS); deeply learn various principles and issues on regional conservation planning of Borobudur (5th BFS); and emphasizing on participants’ skill in implementing techniques of saujana heritage conservation in the context of Borobudur as a National Strategic Area (6th BFS).

Those abovementioned programs have exhibited that each program had each own topic from micro to macro scale, from village to regional context. However, the focal point of Borobudur saujana heritage learning process has been the local community initiatives. Heritage conservation is likely a cultural movement. The involvement of the local community is an important aspect in resolving conservation through a bottom-up planning approach and support people as the center of conservation management. This year is marked as the Indonesian Heritage Year 2013 with the theme of “Heritage for Community Welfare”. The Seventh Borobudur Field School is, therefore, will focus on describing saujana (cultural landscape) heritage from the viewpoint of the local communities’ initiatives and to deeply discuss on the new academic idea of ‘Dynamic Authenticity’ and ‘Evolutive Conservation’ generated from those initiatives.

Peserta sedang di Punthuk Setumbu Borobudur di acara BFS 2012

OBJECTIVES
The objectives of the Field School program in general are:

  • To give participants a comprehension on conservation and management of saujana (cultural landscape), including historical buildings, setting and culture system, living culture and other natural environment components and its position of temples compounds as World Cultural Heritage Sites and its area as National Strategic Area.
  • To give participants understanding on local communities’ initiatives in conserving and managing their environment.
  • To enhance participant skill in implementing concepts, methods, conservation process and landscape management in the actual cases.
  • To enhance participant interest in saujana conservation.
  • To give participants experience in doing a research on saujana conservation directly in the field.

The objective of Field School program in a specific theme is emphasized on enhancing participants’ skill in critically understanding the local community initiatives and implementing techniques of rural saujana heritage conservation, including inventory, documentation, analysis, formulating village design guidelines, and presentation of a particular village area in Borobudur.

TIME AND VENUE

  • The program is organized for 7 days (September 4-10, 2013) in Yogyakarta as well as Borobudur area, Magelang Regency, Central Java. 
  • Participants will depart together from Gadjah Mada University, Yogyakarta to Borobudur on September 4, 2013. 
  • During the program, participants will stay in the modest accommodation in Yogyakarta and home-stays in Candirejo Village, Borobudur Sub-District.

ACTIVITY PROGRAM
In the Seventh International Field School on Borobudur Saujana Heritage, participants will experience fun learning activities, as follow:


PARTICIPANTS
The International Field School is limited to 25 participants, they are:

  1. Students from Indonesian or overseas universities who have concerns on cultural landscape heritage conservation.
  2. Lecturers, researchers from Indonesia or overseas universities with interdisciplinary sciences related to the program topic
  3. Parties who have concerns on cultural landscape heritage conservation (individuals, government, cultural and heritage associations, environmental associations, tourism experts, etc).

FACILITATORS

  1. Prof. DR. Kiyoko Kanki, Kanki Laboratory, Architecture and Human Environmental Planning, Graduate School of Urban, Environmental Engineering, Kyoto University, Japan
  2. DR. Ir. Laretna T. Adishakti, M.Arch, Center for Heritage Conservation, Dept. of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, UGM
  3. DR. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A, Center for Heritage Conservation, Dept. of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, UGM
  4. Ir. Titi Handayani, M.Arch, Jogja Heritage Society
  5. DR. Amiluhur Soeroso, SE., MM., M.Si, Center for Heritage Conservation, Dept. of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, UGM
  6. DR. Titin F. Irmawan, ST., MEng., Indonesian Heritage Trust
  7. Jack Priyatna, Jaringan Kerja Kepariwisataan Borobudur

FACILITIES

  1. Modest accommodation (homestay), meals and drinks during the program in Borobudur (September 4-9, 2013 – 6 days);
  2. Modest accommodation on September 3, 2013, 2013 in Yogyakarta (1days);
  3. Meals during the program
  4. Transportation, Yogyakarta-Borobudur – Borobudur-Yogyakarta and during the program in Borobudur;
  5. Program materials

FACILITES NOT INCLUDED

  1. Transportation of participants to Yogyakarta from original country/city
  2. Passport and visa arrangements
  3. Health insurance
  4. Additional field trip/heritage trail (post summer school) in Yogyakarta
  5. Accommodation in Yogyakarta outside the BSF program
  6. Personal expenses and equipments during the program

PROGRAM OPTIONAL
The organizer may organize additional heritage tours upon requested, but the fee is not included in Borobudur Field School registration fee, such as:

  • Mount Merapi area post-eruption, 
  • Jeron Beteng (Inside the Wall) Heritage Trail, 
  • Kotagede Heritage Trail, 
  • Imogiri & Batik Heritage Trail

REGISTRATION AND FEE
Participants of the International Field School may register to: 

Center for Heritage Conservation, Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada, Jl. Grafika 2, Sekip Yogyakarta, Indonesia. Telp. 62 274 544910. Fax: 62 274 580852

  • Registration to the Organizing Committee not later than June 30, 2013
  • Confirmation of participation by July 15, 2013
  • Registration fee USD 600 for general public/scholar and USD 500 for students. Registration fee can be transferred to Bank Account: Yeny Paulina Leibo, BNI 46 Branch UGM Yogyakarta, Indonesia, Number 0134104532
  • Contact Person: Sinta Carolina (she_jogja@yahoo.co)

ABOUT

  1. Center for Heritage Concervation (CHC) | Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Indonesia.
  2. Kanki Laboratory | Graduate School of Architecture and Architectural Engineering, Faculty of Engineering, Kyoto University, Japan, Chairperson of Sub-committee for Rural Cultural Landscape, Committee for Rural Planning, Architectural Institute of Japan.
  3. Jogja Heritage Society (JHS) | a local NGO which focuses on cultural heritage ini Jogja (Yogyakarta) Province, Indonesia.

Download the pdf. version of this information here.

Source: http://tahunpusaka2013.indonesianheritage.info/kalender/icalrepeat.detail/2013/09/04/72/-/borobudur-7th-international-field-school-on-borobudur-saujana-heritage.html