Monthly Archives: March 2013

Sejarah Nasional : Tanam Paksa dan Politik Etis di Tanah Hindia Belanda

Standard

Berahirnya perang Diponegoro (De Java Oorlog/Perang Jawa 1825-1830 ) membawa
malapetaka besar untuk penduduk Jawa khususnya Mancanegara kilen yaitu Kedoe
(Kedu) dan Banjoemas (Banyumas), wilayah ini jatuh ke tangan Belanda dari
kekuasaan Kasultanan Surakarta sebagai ganti atas biaya kekalahan perang.
Ini berlaku di seluruh tanah Jawa dan beberapa di luar pulau Jawa. Setelah
jatuh ke tangan Belanda wilayah-wilayah tersebut tidak lagi berada di bawah
kekuasaan kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh tanah Jawa. Namun
di bagi menjadi beberapa Propinsi – Karsidenan – Kabupaten – Distrik untuk
mengakomodasi kepentingan Belanda dalam mengeksploitasi sumber daya
alam dan sumber daya manusia.
Campur tangan pemerintah Belanda dalam menjalankan kekuasaannya
sangat terlihat sampai dengan wilayah Kabupaten dimana Residen (orang
Belanda) juga melakukan tugas monitoring langsung dengan menunjuk
seorang asisten Residen di setiap kabupaten untuk bekerja selevel dengan
Regent (Bupati).
Banjoemas Heritage
Graaf Johannes van den Bosch, pelopor Cultuurstelsel
Cultuurstelsel
Cultuurstelsel adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal
Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa
menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor yang
memang sangat di butuhkan pasar dunia, khususnya kopi, teh, tembakau,
tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah
kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan
kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah
harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik
pemerintah yang menjadi semacam pajak.
Banjoemas Heritage
Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) logo
Sistem tanam paksa diperkenalkan secara perlahan sejak tahun 1830 sampai tahun 1835. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada jaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah Belanda. Dan menjelang tahun 1840 sistem ini telah sepenuhnya berjalan di Jawa. Badan operasional sistem tanam paksa dipegang oleh Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) yang merupakan reinkarnasi VOC yang telah bangkrut. Dan aset tanam paksa memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia-Belanda pada 1835 hingga 1940.
Cultuurstelsel di Banjoemas (Banyumas)
Bencana Kelaparan.
Akibat tanam paksa ini, produksi beras dan berbagai bahan pangan semakin berkurang, dan harganya pun melambung. Pada tahun 1843, muncul bencana kelaparan di Cirebon, Jawa Barat. Kelaparan juga melanda Jawa Tengah, tahun 1850.
Berakhirnya Cultuurstelsel
Serangan-serangan dari orang-orang non-pemerintah mulai menggencar akibat terjadinya kelaparan dan kemiskinan yang terjadi menjelang akhir 1840-an di Grobogan,Demak,Cirebon. Gejala kelaparan ini diangkat ke permukaan dan dijadikan isu bahwa pemerintah telah melakukan eksploitasi yang berlebihan terhadap bumiputra Jawa.
Banjoemas Heritage
Agrarische Wet 1870 (Undang-undang Agraria 1870)
Undang-undang Agraria 1870
Yang bahasa belanda adalah Agrarische Wet 1870 diberlakukan pada tahun 1870 oleh Engelbertus de Waal (menteri jajahan) sebagai reaksi atas kebijakan pemerintah Hindia-Belanda di Jawa yang di pelopori oleh kaum Liberal. Latar belakang dikeluarkannya Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) antara lain karena kesewenangan pemerintah mengambil alih tanah rakyat. Politikus liberal yang saat itu berkuasa di Belanda tidak setuju dengan Tanam Paksa di Jawa dan ingin membantu penduduk Jawa sambil sekaligus keuntungan ekonomi dari tanah jajahan dengan mengizinkan berdirinya sejumlah perusahaan swasta. UU Agraria memastikan bahwa kepemilikan tanah di Jawa tercatat. Tanah penduduk dijamin sementara tanah tak bertuan dalam sewaan dapat diserahkan. UU ini dapat dikatakan mengawali berdirinya sejumlah perusahaan swasta di Hindia-Belanda.
Banjoemas Heritage
Buku Max Havelaar (1860) karya Douwes Dekker (Multatuli)
Banjoemas Heritage
Eduard Douwes Dekker (Multatuli)
Sedangkan kaum Humanis mengeluarkan beberapa karya sastra diantaranya adalah yang terkenal dengan buku Max Havelaar (1860) karya Douwes Dekker yang menggunakan nama samaran Multatuli. Dalam buku itu diceritakan kondisi masyarakat petani yang menderita akibat tekanan pejabat Hindia Belanda. Eduard Douwes Dekker adalah seorang Asisten Residen di Lebak, Banten. Seorang wartawan Raad van Indie, C. Th van Deventer membuat tulisan berjudul Een Eereschuld, yang membeberkan kemiskinan di tanah jajahan Hindia-Belanda. Tulisan ini dimuat dalam majalah De Gids yang terbit tahun 1899. Van Deventer dalam bukunya menghimbau kepada Pemerintah Belanda, agar memperhatikan penghidupan rakyat di tanah jajahannya. Dasar pemikiran van Deventer ini kemudian berkembang menjadi Politik Etis.
Politik Etis
Politik Etis atau Politik Balas Budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa.
Banjoemas Heritage
Conrad Theodore van Deventer
Banjoemas Heritage
Peter Brooshoft
Banjoemas Heritage
Wolter Robert baron van Hoëvell
Munculnya kaum Etis yang di pelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi yang terbelakang. Wolter Robert baron van Hoëvell seorang negarawan dan pendeta ini pada tahun 1848, ia menggalang demonstrasi di Batavia, dan mengajukan petisi untuk kebebasan pers, pembentukan sekolah-sekolah di daerah koloni (dalam hal ini di Jawa) dan perwakilan Hindia Belanda di Tweede Kamer.
Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tadi ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Van Deventer yang meliputi:
  • Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian.
  • Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi.
  • Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan.
Banyak pihak menghubungkan kebijakan baru politik Belanda ini dengan pemikiran dan tulisan-tulsian Van Deventer yang diterbitkan beberapa waktu sebelumnya, sehingga Van Deventer kemudian dikenal sebagai pencetus politik etis ini.
Kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan emigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. Hanya pendidikan yang berarti bagi bangsa Indonesia.
Banjoemas Heritage
DOOR DUISTERNIS TOT LICHT, buku karya Mr. J.H. Abendanon
yang berisi surat-surat R.A. Kartini yang di kirimkan kepadanya.
Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sangat berperan sekali dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia Belanda. Salah seorang dari kelompok etis yang sangat berjasa dalam bidang ini adalah Mr. J.H. Abendanon (1852-1925) yang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan selama lima tahun (1900-1905). Sejak tahun 1900 inilah berdiri sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah.

Mr. J.H. Abendanon (1852-1925) adalah yang merangkum semua surat RA. Kartini menjadi sebuah buku “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” (Habis Gelap Terbitlah Terang) dan merupakan teman dekat Snouck Hurgronje (Abdul Ghaffar) seorang teologi ahli sastra Arab. R.A. Kartini terlalu kritis untuk pemerintah Belanda apalagi sebagai seorang priyayi, sehingga pemerintah Belanda banyak memperkenalkan orang-orang Belanda untuk mengajari (Baca:Mengawal, meredam dan meluruskan) R.A Kartini diantaranya adalah Dr. Adriani (Pendeta), Annie Glasser (tangan kanan J.H. Abendanon), Estelle Zeehandelaar (Perempuan Yahudi Belanda) dan Nellie Van Kol (humanisme progresif) yang berperan mendangkalkan aqidah dan berusaha mengkristenkan RA Kartini. Maka bisa jadi pemikiran Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar (guru besar Universitas Indonesia) benar dimana “R.A.Kartini Pahlawan Wanita Bikinan Belanda“.

Sementara itu, dalam masyarakat telah terjadi semacam pertukaran mental antara orang-orang Belanda dan orang-orang pribumi. Kalangan pendukung politik etis merasa prihatin terhadap pribumi yang mendapatkan diskriminasi sosial-budaya. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka berusaha menyadarkan kaum pribumi agar melepaskan diri dari belenggu feodal dan mengembangkan diri menurut model Barat, yang mencakup proses emansipasi dan menuntut pendidikan ke arah swadaya.
Penyimpangan Politik Etis
Pada dasarnya kebijakan-kebijakan yang diajukan oleh van Deventer tersebut baik. Akan tetapi dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh para pegawai Belanda. Berikut ini penyimpangan penyimpangan tersebut.
  • Irigasi : Pengairan hanya ditujukan kepada tanah-tanah yang subur untuk perkebunan swasta Belanda. Sedangkan milik rakyat tidak dialiri air dari irigasi.
  • Edukasi : Pemerintah Belanda membangun sekolah-sekolah. Pendidikan ditujukan untuk mendapatkan tenaga administrasi yang cakap dan murah. Pendidikan yang dibuka untuk seluruh rakyat, hanya diperuntukkan kepada anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang mampu. Terjadi diskriminasi pendidikan yaitu pengajaran di sekolah kelas I untuk anak-anak pegawai negeri dan orang-orang yang berharta, dan di sekolah kelas II kepada anak-anak pribumi dan pada umumnya.
  • Migrasi : Migrasi ke daerah luar Jawa hanya ditujukan ke daerah-daerah yang dikembangkan perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini karena adanya permintaan yang besar akan tenaga kerja di daerah-daerah perkebunan seperti perkebunan di Sumatera Utara, khususnya di Deli, Suriname, dan lain-lain. Mereka dijadikan kuli kontrak. Migrasi ke Lampung mempunyai tujuan menetap. Karena migrasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja, maka tidak jarang banyak yang melarikan diri. Untuk mencegah agar pekerja tidak melarikan diri, pemerintah Belanda mengeluarkan Poenale Sanctie, yaitu peraturan yang menetapkan bahwa pekerja yang melarikan diri akan dicari dan ditangkap polisi, kemudian dikembalikan kepada mandor/pengawasnya.
Dari ketiga penyimpangan ini, terjadi karena lebih banyak untuk kepentingan pemerintahan Belanda.
Kritik Politik Etis
Pelaksanaan politik etis bukannya tidak mendapat kritik. Kalangan Indo, yang secara sosial adalah warga kelas dua namun secara hukum termasuk orang Eropa merasa ditinggalkan. Di kalangan mereka terdapat ketidakpuasan karena pembangunan lembaga-lembaga pendidikan hanya ditujukan kepada kalangan pribumi (eksklusif). Akibatnya, orang-orang campuran tidak dapat masuk ke tempat itu, sementara pilihan bagi mereka untuk jenjang pendidikan lebih tinggi haruslah pergi ke Eropa, yang biayanya sangat mahal. Ernest Douwes Dekker 1879-1950 (Danudirja Setiabudi) termasuk yang menentang ekses pelaksanaan politik ini karena meneruskan pandangan pemerintah kolonial yang memandang hanya orang pribumilah yang harus ditolong, padahal seharusnya politik etis ditujukan untuk semua penduduk asli Hindia Belanda (Indiers), yang di dalamnya termasuk pula orang Eropa yang menetap (blijvers)

Ada 3 Douwes Dekker yang berbeda dalam sejarah kita yaitu

  • Eduard Douwes Dekker (Multatuli), lahir di Amsterdam, Belanda, 2 Maret 1820 – meninggal di Ingelheim am Rhein, Jerman, 19 Februari 1887 pada umur 66 tahun, dialah yang terkenal dengan buku “Max Havelaar” (1860) yang memicu lahirnya politik Etis.
  • Dr. Ernest Douwes Dekker 1879-1950 (Danudirja Setiabudi), lahir di Pasuruan, Hindia-Belanda, 8 Oktober 1879 – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 pada umur 70 tahun adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia, dan merupakan angggota “Tiga Serangkai” bersama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat.
  • Camille Hugo Douwes Dekker 1877-1933 (assistent-resident) untuk Poerwokerto tahun 1918 hingga 1928, merupakan saudara laki-laki Eduard Douwes Dekker (Multatuli)

Baik Politik Cultuurstelsel maupun Politik Etis semua berjalan dan di dasari untuk kepentingan Belanda, dan kepentingan itu juga masih di tumpangi kepentingan-kepentingan yang lain. Yang tentunya masih saja ada penindasan dan diskriminasi.

Tulisan juga diambil dari berbagai sumber:
www.wikimu.com
collectie.tropenmuseum.nl
id.wikipedia.org/wiki/Christiaan_Snouck_Hurgronje
id.wikipedia.org/wiki/Eduard_Douwes_Dekker
id.wikipedia.org/wiki/Ernest_Douwes_Dekker
id.wikipedia.org/wiki/Perang_Diponegoro
id.wikipedia.org/wiki/Johannes_graaf_van_den_Bosch
id.wikipedia.org/wiki/Cultuurstelsel
www.uniknya.com
asetow.wordpress.com
www.nhm-eenkleinegeschiedenis.nl
www.gertjanbestebreurtje.com
www.nhm-eenkleinegeschiedenis.nl

Djeladjah Petjinan Magelang 2013

Standard

Untuk kesekian kalinya KOTA TOEA MAGELANG mengadakan event jelajah.Kali ini bertajuk DJELADJAH PETJINAN MAGELANG yang di adakan 17 februari 2013. sebanyak 40-an peserta mengikuti acara ini, antara lain dari Jakarta, Wonosobo, Jogjakarta, Surabaya dan Magelang sendiri.

Acara kunjungan dimulai dari kelenteng Liong Hok Bio di Aluun2 Selatan, menikmati Dawet Magelangan di Pasar Ngasem, Gedung Bunder di Jaranan, Pabrik Cerutu Ko Kwat Ie di Prawirokusuman, rumah Ko kwat Ie di Juritan Kidul, eks sekolah Tiong Hoa Hwa Kween/SMAN 3 sekarang, dan pengrajin barongsai di Tengkon.

Sejarah Magelang: Daftar Nama Residen Kedu di Jaman Kolonial

Standard

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Schoolkinderen_voor_het_residentiehuis_in_Magelang_tijdens_een_bezoek_van_Gouverneur-Generaal_BC_de_Jonge_TMnr_600374.jpg

Karesidenan Kedu tempat Residen Kedu tinggal,sekarang menjadi rumah dinas KepalaBakorwil IIKedu-Surakarta di Magelang.

[foto : COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Schoolkinderen_voor_het_residentiehuis_in_Magelang_tijdens_een_bezoek_van_Gouverneur-Generaal_BC_de_Jonge_TMnr_600374.jpg]

Situasi di Eropa membawa perubahan pemerintahan di Belanda. Pada tahun 1795 tentara Perancis menyerbu Belanda sehingga pangeran Willem V melarikan diri ke Inggris. Kerajaan Belanda (Holand) selanjutnya dipimpin oleh Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis. Louis Napoleon kemudian mengangkat Gubernur Jenderal untuk memerintah daerah kononial Hindia Belanda bernama Herman Willem Daendels. a. Masa pemerintahan H.W. Daendels di Indonesia (1808-1811)
Pada masa Daendels berkuasa, Prancis bermusuhan dengan Inggris dalam perang koalisi di Eropa. Maka tugas utama Dandels di Hindia Belanda adalah mempertahankan pulau Jawa dari serangan pasukan InggrisUntuk melaksanakan tugas tersebut langkah-langkah yang ditempuh H.W. Dandels adalah sebagai berikut:
1. Bidang Pertahanan
– Menambah jumlah prajurit menjadi 18.000 yang sebagian besar dari suku-suku bangsa di Indonesia (pribumi)
– Membangun benteng di beberapa kota dan pusat pertahananya di Kalijati Bandung
– Membangun jalan raya dari Anyer sampai Panarukan kurang lebih 1.000 kilometer yang diselesaikan dalam waktu 1 tahun dengan kerja paksa/rodi di setiap 7 kilometer dibangun pos jaga.

– Membangun armada laut dan pelabuhan armada dengan pusat di Surabaya

2. Bidang Keuangan antara lain:
– Mengeluarkan mata uang kertas
– Menjual tanah produktif milik rakyat kepada swasta sehingga muncul tanah swasta (partikelir) yang banyak dimiliki orang Cina, Arab, Belanda.
– Meningkatkan pemasukan uang dengan cara-cara sebelumnya (VOC) yaitu memborongkan pungutan pajak. Contingenten, Penanaman Kopi dll.

3. Bidang Pemerintahan :
– Membentuk sekretariat negara untuk membereskan administrasi negara
– Kedudukan Bupati sebagai penguasa tradisional diubah menjadi pegawai pemerintahan dan digaji.
– Memindahkan pusat pemerintahan dari Sunda Kelapa ke Welterreden (sekarang gedung Mahkamah Agung di Jakarta)
– Pulau Jawa dibagi menjadi 9 perfektuur/wilayah Karesidenan
– Membangun kantor-kantor pengadilan

Sisi negatif pemerintahan Daendels adalah membiarkan terus praktek perbudakan serta hubungan dengan raja-raja di Jawa yang buruk, sehingga menimbulkan perlawanan. Pada tahun 1811 Daendels ditarik ke Eropa digantikan oleh Gubernur Jendral Jansen yang semula bertugas di Tanjung Harapan (Afrika Selatan)

Tidak lama setelah Jansen memerintah, Inggris melakukan serangan atas wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda.

Pada saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1808, beliau melakukan tindakan dalam bidang pemerintahan diantaranya adalah membagi Pulau Jawa menjadi 9 perfektuur/Karesidenan. Karesidenan di pimpin oleh seorang Residen. Sedangkan untuk wilayah Kedu baru memiliki Residen pada tahun 1823. Di bawah ini nama-nama pejabat yang pernah menjadi Residen Kedu, sbb :

1. P. Ce Clereg 1823 [tahun mulai menjabat]

2. F. G. Valck 1827

3. D. F. Schaaf 1855

4. G. M. van de Graaff 1858

5. A. MT. Baron de Salis 1874

6. J. Heijting 8 Mei 1878

7. K. F. Bohl 31 Oktober 1882

8. J. A. Ament 5 Maret 1889

9. P. M. L. De Bruyn Prince 24 Juli 1896

10. J. H. F. Ter Meulen 10 Oktober 1901

11. P. Wijers 5 Maret 1906

12. J. J. Verwyk 12 Februari 1912

13. H. van Santwijk 15 Februari 1917

14. M. B. van Der Jagt 17 Juni 1922

15. J. D. De Vries 10 Mei 1927

16. J. van Pelt 5 Juli 1929

17. A. A. C. Linck 28 Juli 1933

18. H. J. Sonneveldt 16 Februari 1938

[sumber : Sang Ratu Adil, Kroniek Kehidupan dan Perjuangan Pangeran Dipanegara 1785-1855, jurusan Sejarah FIB UGM & BAKORWIL II PROP. JATENG dan dari berbagai sumber]

Sejarah Magelang : Foto Keluarga RT Danuningrat I (‘Alwi bin Ahmad ), Bupati Magelang Pertama

Standard

Foto Keluarga Eyang RT Danuningrat I (‘Alwi bin Ahmad )

Beschrijving/Description: De regent van Magelang (onder de pajoeng), Raden Toemenggoeng Danoekoesoema, ook wel Raden Toemenggoeng Danoeningrat genaamd, voor zijn huis met gevolg

Signatuur/Imagecode: 3481
Trefwoord/Keyword: gamelan,houses,indigenous administration,Magelang,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoekoesoema, R.T.
Formaat/Size: 17×24,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Techniek/Art technique: Albuminedruk
Maker/Artist: Woodbury & Page / Batavia
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1866
Bijzonderheden/Additional: 2e ex. opgenomen onder fotonummer 82946 (A 101)
Herkomst/Provenance: Onbekend

Beschrijving/Description: De regent van Magelang, vermoedelijk Raden Toemenggoeng Danoeningrat
Signatuur/Imagecode: 75351
Albumnummer/Albumnumber: 120
Albumtitel:
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Magelang,Jawa Tengah,Indonesia
Formaat/Size: 9,5x6cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1860
Herkomst/Provenance: Onbekend
Beschrijving/Description: Echtgenote van de regent van Magelang
Signatuur/Imagecode: 75352
Albumnummer/Albumnumber: 120
Albumtitel:
Trefwoord/Keyword: Magelang,women,Jawa Tengah,Indonesia
Formaat/Size: 9,5x6cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1860
Herkomst/Provenance: Onbekend

Beschrijving/Description: Raden Adipati Ario Danoesoegondo van Magelang met Raden Ajoe
Signatuur/Imagecode: 12757
Albumnummer/Albumnumber: 55
Albumtitel: De Regenten van Midden-Java en hunne Raden Ajoe’s
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Magelang,indigenous administrators,women,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoesoegondo, R.A.A.
Formaat/Size: 16×11,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Maker/Artist: Hisgen & Co., O. / Semarang
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1930
Herkomst/Provenance: Gulik, R.H. van

catatan:
Raden Toemenggoeng Hasan Danoediningrat
Raden Tumenggung yang kemudian bernama Raden Adipati Ario Danusugondo ini mulai memerintah Kabupaten Magelang pada 6 Desember 1939, menggantikan Raden Tumenggung Danukusumo.

Beschrijving/Description: Raden Ajoe Toemenggoeng Danoeningrat van Magelang met haar zoontje
Signatuur/Imagecode: 6596
Trefwoord/Keyword: Magelang,priyayi,women,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Raden Ajoe Toemenggoeng Danoeningrat
Formaat/Size: 9×5,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Techniek/Art technique: Albuminedruk
Maker/Artist: Veen, H.
Datum/Date: 1871
Bijzonderheden/Additional: Carte-de-visite
Collectie/Collection: Zoetelief, J.P.
Herkomst/Provenance: Zoetelief, Uit de nalatenschap van J.P.

Beschrijving/Description: Raden Mas Alwoe, zoon van de regent van Magelang, op 18-jarige leeftijd
Signatuur/Imagecode: 6597
Trefwoord/Keyword: Magelang,priyayi,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Alwoe, R.M.
Formaat/Size: 9×5,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Techniek/Art technique: Albuminedruk
Maker/Artist: Veen, H.
Datum/Date: 1871
Bijzonderheden/Additional: Carte-de-visite
Collectie/Collection: Zoetelief, J.P.
Herkomst/Provenance: Zoetelief, Uit de nalatenschap van J.P.
Beschrijving/Description: Raden Toemenggoeng Danoeningrat, regent van Magelang, en echtgenote
Signatuur/Imagecode: 6595
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Javanese,Magelang,women,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoeningrat, R.T.
Formaat/Size: 10×6,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Techniek/Art technique: Albuminedruk
Maker/Artist: Woodbury & Page / Java
Datum/Date: 1871
Bijzonderheden/Additional: Carte-de-visite. 2e ex. opgenomen onder fotonummer 85036 (A 414)
Herkomst/Provenance: Zoetelief, Uit de nalatenschap van J.P.

Beschrijving/Description: Raden Toemenggoeng Danoeningrat, regent van Magelang
Signatuur/Imagecode: 16329
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Javanese,Magelang,indigenous administrators,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoeningrat, R.T.
Formaat/Size: 7x5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1870
Herkomst/Provenance: Onbekend
Catatan:
Eyang RT Danuningrat I [Bupati Magelang Pertama] bernama asli  ‘Alwi putra Ahmad putra Muhammad Sa’id putra ‘Abdul Wahhab/Mujahid putra  Sulaiman Mojo Agung putra Abdurrahman Tajuddin / Sunan Pangkunegoro / Mbah Ratu Cirebon putra Umar Abihafsh putra Abdullah
‘Alwi bin Ahmad adalah adik Eyang Ki Mas Abdullah Raden Wedono Kartowijoyo Ponotogomo /KRT Alap-alap Kartadipuro Senopati Mataram Islam Petinggi Pasukan Berkuda Kasultanan Jogja yang mendapat pengarahan dari Pangeran Diponegoro ke Mancanegara Timur (Madiun). Panglima Daerah Mancanegara Timur (Madiun) yaitu Tumenggung Mas Kartadirjo yang pada akhirnya ditangkap oleh Belanda pada tanggal 9 Januari 1826 dan dibunuh. Sedang Tumenggung Alap-alap Kartadipura berhasil meloloskan diri dari penyergapan pasukan Belanda dengan cara menyamar.
catatan:
RT Alap-alap Kartadipura dan Mas Kartadirjo asal Madiun adalah 2 orang yang berbeda
 
Alwi bin Ahmad tewas terpenggal kepalanya di tangan anak buah Pangeran Diponegoro yang salah paham. Versi lain adanya pengkhianat yang memfitnah dan mengadu domba.
kakak kakek leluhur kita yang bernama Eyang  Hasyim putra Ahmad yang bergelar Raden Wongsorejo/RT Wongsodirjo I yang makam Keramat Kranda Sultan di Gambir Sawit  Umbulharjo Yogyakarta sejajar garis imajiner dengan Makam Kranda/Kerabat Sultan yaitu Kajengan kini Ngancar Prenggan Trunojayan Kotagede
 
 
Beschrijving/Description: Raden Toemenggoeng Danoeningrat III, regent van Magelang
Signatuur/Imagecode: 3860
Trefwoord/Keyword: Magelang,indigenous administrators,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Raden Toemenggoeng Daoeningrat III
Formaat/Size: 9x5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Maker/Artist: Veen, H.
Datum/Date: 1871
Bijzonderheden/Additional: Aan de achterkant van de foto staat geschreven: ‘Tanda engetan dari sobat baik Hamangkoe Daoeningrat, regent van Magelang. Oud 39 jaar. Gebooren den 25 Julij 1832’.
Collectie/Collection: Zoetelief, J.P.
Herkomst/Provenance: Onbekend
Beschrijving/Description: Receptie te Magelang ter gelegenheid van een jubileumfeest van de K.M.A. in Breda. Links (met bril) Raden Adipati Ario Danoesoegondo, regent van Magelang, rechts (vóór pilaar, met bril) burgemeester R.C.A.F.J. Nessel van Lissa van Magelang
Signatuur/Imagecode: 35261
Albumnummer/Albumnumber: 289
Trefwoord/Keyword: feasts,indigenous administration,Magelang,reception,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Nessel van Lissa, R.C.A.F.J.,Danoesoegondo, R.A.A.
Formaat/Size: 10x15cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1935
Bijzonderheden/Additional: H 1194
Collectie/Collection: Bijleveld-Visser, R.H.W.H.
Herkomst/Provenance: Bijleveld-Visser, Mevrouw R.H.W.H. / Hilversum
Beschrijving/Description: Regent R.A.A. Danoesoegondo van Magelang en zijn Raden Ajoe
Signatuur/Imagecode: 27788
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Magelang,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoesoegondo
Formaat/Size: 23×28,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1930
Herkomst/Provenance: Onbekend
Beschrijving/Description: Zoon van de regent van Magelang
Signatuur/Imagecode: 75353
Albumnummer/Albumnumber: 120
Albumtitel:
Trefwoord/Keyword: children,Magelang,Jawa Tengah,Indonesia
Formaat/Size: 10x6cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1860
Herkomst/Provenance: Onbekend

SEJARAH MAGELANG : NAMA-NAMA JALAN TEMPO DOELOE DI KOTA MAGELANG DI TAHUN 1935-1950-2000

Standard

Suasana Pontjalsche Weg di tahun 1910 atau Groote Weg Pontjol atau Jalan A Yani sekarang ini. Jalan ini berdampingan dengan rel kereta api jurusan Magelang-Jogjakarta [sumber : Delcampe.net]

Sejak jaman kolonial Belanda, pembangunan infrastruktur terus dilakukan. Berbagai jalan dibangun, perlebar dan di aspal. Kalau pada waktu itu kondisi jalan masih berupa tanah dan batu yg ditata (watu kricak). Tidak diketahui secara pasti kapan jalan-jalan itu mulai di aspal. Tapi ada sebuah data yang menyebutkan jika pada tahun 1937-1938 terjadi pengaspalan besar-besaran di berbagai jalan raya dan jalan kampung di kota Magelang.

Nah penamaan nama2 jalan pada waktu itu lebih bersifat kelokalan [lokal wisdom]. Hal ini tentunya sangat unik. Artinya penamaan jalan biasanya yang berkaitan dengan nama kampung setempat yang dilewati jalan tersebut. Misalnya Bottonweg karena dijalan tsb ada di kampung Botton. Atau bisa jg berdasarkan tema yaitu nama pulau, misalnya di kawasan seputar RST. Misalnya ada Sumatrastraat, Celebesstraat, Borneostraat, Javastraat dll. Ada lagi penamaan jalan karena ada bangunan khusus di tempat tsb. Misalnya Residentielaan karena disitu ada kantor Karesidenan. Oranjenassau-laan karena disitu ada kawasan van Der Steur yg aslinya dari Belanda (Oranjenassau-laan).

Berikut ini daftar nama-nama jalan tempo doeloe yang ada di Kota Magelang

di mana nama-nama jalan tersebut bersumber dr peta WEGENKAART GEMEENTE

MAGELANG tahun 1935 yang mana kami sepadankan perubahan-perubahan

nama-nama jalan di tahun 1950 dan 2000.

1. Groote weg Noord Dekil (1935) = Djalan Raja Dekil (1950) = Jl. A Yani (ruas Menowo-Kupatan, thn 2000)

2. Groote weg Noord Wates = Djalan Raja Wates = Jl. A Yani (ruas Poncol-Kebonpolo)

3. Groote weg Zusteran = Djalan Raja Susteran = Jl. A Yani (ruas Aloon-aloon-eks Polwil)

4. Groote weg Zuid Troenan = Djalan Raja Trunan = Jl. Sudirman

5. Ello-Djetis = Elo Djetis = Kalimas

6. Ijsfabriekslaan = Pabrik Es Kebonpolo = Selayar

7. Ello-Weg = Elo-Sanggrahan = Jl. Urip Sumoharjo

8. Ambonstraat = Ambon = Ambon

9. Ceramstraat = Seram = Seram

10. Balistraat = Bali = Bali

11. Sumatrastraat = Sumatra = Sumatra

12. Borneostraat = Kalimantan = Kalimantan

13. Javastraat = Djawa = Jawa

14. Celebesstraat = Sulawesi = Sulawesi

15. Molukkenstraat = Maluku = Maluku

16. Hospitaalweg = Rumah Sakit = Rumah Sakit Tentara

17. Exercitielaan = Kesatrian = Kesatrian

 18. Western-Kampementslaan = Kesatrian Kulon = Kesatrian Barat

 19. Noorder-Kampementslaan = Kesatrian Lor = Kesatrian Utara

20. Zuider-Kampementslaan = Kesatrian Kidul=Kesatrian Selatan

 21. Ooster-Kampemenslaan = Kesatrian Wetan = Kesatrian Timur

 22. Van Heutzlaan West  =  (belum terlacak nama sekarang)

 23. Van Heutzlaan Oost  =  –  =  Jl. Teuku Umar

 24. Djikstraweg = Kesatrian Lor = Kesatrian Utara (utara Pondok Sriti)

 25. Kroesenweg = Kesatrian Kidul = Kesatrian Selatan (selatan Pondok Sriti)

 26. Van Dalenweg  =  –  =  Jl. Untung Suropati

 27. Michielsenweg  =  –  =  Jl. Jangrono

 28. Generaal-Zwat  =  Ngentak Kwayuhan  =  Abimanyu

 29. Gelangan = Gelangan = Manggis

 30. Van Eijck-Park  =  –  =  Jl. Kyai Panjang

 31. Kawatan  =  Kawatan  =  Sigaluh

 32. Djoeritan Noord  =  Djuritan Lor  =  Majapahit

 33. Djoeritan Zuid = Djuritan Kidul = Jl. Sriwijaya

34. Pawirokoesoeman Wetan  = Pawirokusuman  =  Jl. Tarumanegara

 35. Sablongan  =  Sablongan  =  Jl. Kalingga

36. Nanggoelan/Pawirokoesoeman Koelon  =  Nanggulan  =  Jl. Medang

37. Kliwonan = Kliwonan/Djaranan = Jl. Sriwijaya

 38. Keplekan = Pasar = Jl. Mataram

 39. Karang Lor = Karang Lor/Paten = Jl. Singosari

 40. Karang Kidoel = Karang Kidul = Jl. Singosari

41. Voetpat-Karet = Candi Nambangan = Jl. Telaga Warna

42. Groote weg Noord Kramat  = Djalan Raja Kramat = Jl. A Yani (ruas Kupatan-Sambung)

 43. Groote weg Noord Menowo = Djalan Raja Menowo = Jl. A Yani (ruas Kebonpolo-Menowo)

 44. Groote weg Noord Pontjol = Djalan Raja Pontjol = Jl. A Yani (ruas eks Polwil-Rindam)

 45. Groote weg Zuid Patjinan = Djalan Raja Petjinan = Jl. Pemuda

 46. Badaan Noord = Badaan Lor/Potrobangsan = Jl. Pahlawan (ruas Badaan-Menowo)

 47. Badaan Zuid = Badaan Kidul = Jl. Pahlawan (ruas Badaan-Botton)

 48. Badaan Plein =  –  =  Jl. Ade Irma Suryani

 49. Plengkoeng Baroe = Plengkung Baru/II = Jl. Ade Irma Suryani

 50. Plengkoeng = Plengkung Lama/I = Jl. Piere Tendean

 51. Bottonweg = Botton = Jl. Pahlawan (ruas Panti Peri/Botton Balong-SMP 1)

 52. Progostraat = Diponegaran = Jl. Diponegoro (ruas Panti Peri-Perdana)

 53. Jordaanlaan = Botton/Panti Peri = Jl. Pahlawan (ruas PDAM-Botton Balong)

54. Residentielaan = Karesidenan/Pungkuran = Jl. Veteran

 55. Oranje-Nassaulaan = Diponegaran/Karesidenan = Jl. Diponegoro (ruas Perdana-Kejuron)

 56. Meteseh = Meteseh = Jl. Sentot Ali Basah Pawirodirjo

 57. Ngoepasan = Tjatjaban = Jl. Kyai Mojo

 58. Pastoran = Pendowo = Jl. Yos Sudarso

 59. Emmalaan/Kuil = –  =  Jl. Kartini

 60. Kaoeman = Kauman = Kauman

 61. Aloon2 Noord = Aloon2 Lor = Aloon-aloon Utara

 62. Aloon2 West = Aloon2 Kulon = Jl. Tentara Pelajar

 63. Aloon2 Zuid = Aloon2 Kidul = Aloon-aloon Selatan

 64. Kedjoeron = Kedjuron = Jl. Mayjen Sutoyo

 65. Bajemanweg = Bajeman = Jl. Tentara Pelajar

 66. Kerkopan = Kerkopan = Jl. Sutopo

 67. Sportlaan = Diponegaran = Jl. Diponegoro (ruas Kejuron-Jambon)

68. Djambonstraat = Djambon = Jl. Mayjen Panjaitan

69. Kebonstraat = Kebon = Jl. Pajang

70. Tengkonstraat = Tengkon = Jl. Daha

71. Kemirikerepstraat  = Kemirikerep = Jl. Pajajaran

72. Djenanganstraat = Djenangan =Jl. Jenggala

 73. Tidarweg = Tidar = Jl. Tidar

 74. Djagoan = Djagoan = Jl. Gatot Subroto

 75. Ringin Anom = Ringin Anom = Jl. Ringin Anom

 76. Botton I = Botton I = Jl. Botton I

 77. Botton II = Botton II = Jl. Botton II

 78. Djambon Wod = Djambon Wot = Jl. Merapi

79. Kemiriredjostraat = Kemiriredjo = Gg. Anggrek

80. Samban = Samban = Jl. Shinta

Nama-nama jalan di atas belum begitu akurat sekali karena ada beberapa ruas jalan yang belum terlacak. Informasi yang didapatkan di lapangan juga teramat minim sekali. Akan tetapi data di atas bisa di katakan sebagai sebuah informasi dan referensi yg tepat mengingat pada saat tahun 1935 baru waktu terbentuknya Staadsgemeente Magelang, artinya pada tahun tersebut untuk pertama kalinya kota kita memiliki Burgemeester/Walikota definitif.

Seperti diketahui status Gemeente Magelang baru terbentuk pd tahun 1906, tetapi jabatan Burgemeester masih dirangkap oleh Asisten Residen Kedu. Jadi suatu perkembangan yang baik ketika pada tahun 1935 Kota Magelang sudah memiliki 80 ruas jalan yang sudah di beri nama.

Peta tertua yang memuat daftar nama-nama jalan di Kota Magelang adalah Stadskaart tahun 1923.

Kalo di lihat dr daftar nama jalan di atas, kita tidak menemukan nama jalan yg ada di kawasan Gladiol. Hal ini karena pd saat itu kawasan tsb masih berupa pemakaman Tionghoa Singoranom. Baru pd tahun 1937 pemakaman itu di pindah ke Giriloyo dan Kawasan Kherkoff di lereng Bukit Tidar. Kemudian diatas lahan bekas pemakamam Singoranom tersebut di buatlah pemukiman yang kini terkenal dengan Kawasan Gladiol.

Dari sebuah foto lama yg saya miliki berhasil saya dapatkan nama jalan di tempat tsb, yaitu sbb :

1. BSM Nessel (1940) = Gladiol (1960) = Jl. MT Haryono (2000)

2. Gladiool Weg (1940) = Gladiol (1960) = Jl. Sugiyono (2000)

Demikian daftar nama2 jalan tempo doeloe di Kota Magelang ter update.

Semoga bermanfaat. SAVE HERITAGE & HISTORY IN MAGELANG !

(nb :

data ini belum pernah di publikasikan sama sekali lewat media on line sebelumnya. Baru kami munculkan di even Magelang Tempo Doeloe 2011 yang lalu. Peta asli Wegenkaart Gemeente Magelang 1935 yang memuat daftar nama jalan otentik ada pada saya)

[Bagus Priyana-Koordinator KOTA TOEA MAGELANG]