Monthly Archives: September 2015

BEDAH BOEKOE berjudul “KOTA DI DJAWA TEMPO DOELOE” bersama OLIVIER JOHANNES , 3 Oktober 2015

Standard

Agenda KOTA TOEA MAGELANG – 3 Oktober 2015

Event kali ini bertajuk BEDAH BOEKOE berjudul “KOTA DI DJAWA TEMPO DOELOE” bersama OLIVIER JOHANNES Ya, Olivier Johannes seorang penulis dan kolektor kartu pos dari Belanda akan datang dan berbagi ilmunya di Magelang.

Lewat bukunya yang merupakan kumpulan kartu pos tempo doeloe yang di kemas dalam sebuah buku berjudul “KOTA DI DJAWA TEMPO DOELOE”. Magelang menjadi salah satu kota di Jawa yang akan menjadi tempat bedah buku ini dalam event bertajuk GRAND TOUR BEDAH BOEKOE 2015. Kota lainnya adalah Jakarta, Bogor, Bandung, Cibiru, Jatinangor, Solo, Jogja, Semarang, Kediri, Surabaya dan Malang.

Jangan lupa, di buku ini memuat beberapa kartu pos tempo dulu yang bergambar tempat di Kota Magelang. Lalu seperti apa ya suasana Kota Magelang di jaman dahulu dalam sebuah kartu pos?

Buat anda yang berminat siap-siap saja untuk meluangkan waktu dan mengesampingkan acara yang lain. Ini dia agenda acaranya:

‪#‎ACARA‬
– Nama Acara : BEDAH BOEKOE berjudul “KOTA DI DJAWA TEMPO DOELOE”

‪#‎NARASUMBER‬
– Narasumber : OLIVIER JOHANNES dari Belanda

‪#‎PADA‬
– Hari, Tanggal : Sabtu, 3 Oktober 2015
– Jam : 18.30 -21.30 WIB

‪#‎TEMPAT‬
– Tempat : kantor Perpustakaan, Arsip & Dokumentasi Jl. Kartini No. 4 Komplek Gedung Bumi Kyai Sepanjang Kota Magelang
[300 meter sebelah barat Aloon-aloon Kota Magelang].

‪#‎PENDAFTARAN‬ & ‪#‎INFO‬
Cara Pendaftaran ketik : BEDAH BOEKOE [spasi] Nama Anda
kirim ke 0878 32 6262 69

ACARA EVENT KALI INI GRATIIIIIISSSS !

‪#‎NB‬ :
1. Mohon berpakaian bebas dan rapi. Pendaftaran ulang peserta di mulai dari pukul 18.30 – 19.30 WIB.
2. Ajak kawan yang lain agar dapat belajar sejarah dengan cara yang menyenangkan.
3. Acara akan di mulai pada pukul 19.30 WIB, usahakan untuk bisa hadir sebelum jam tersebut [18.30 – 19.30 WIB]

SAVE HERITAGE & HISTORY IN MAGELANG !

Menjelajahi Rel Kereta Api “Mati” Sepanjang Sembilan KM

Standard

Minggu 13 September 2015 lalu kembali
Komunitas Kota Toea Magelang mengadakan acara bertajuk “Djeladjah Djaloer Spoor #4”. Saya pun sangat antusias mengikuti event jelajah kali ini, seperti para peserta lainnya. Karena rute yang akan kami lewati sangatlah menantang. Kami harus berjalan kaki sejauh 9 Kilometer, dari Stasiun Bedono hingga Stasiun Ambarawa.
Baru pertama kali ini saya mengikuti jelajah jalur spoor bersama lebih dari seratus orang peserta.

Sekira pukul enam pagi kami berkumpul di halaman parkir Alfamart, Jln. Pahlawan, Kota Magelang.
Saya berangkat pagi pagi sekali karena saya takut ketinggalan, terlebih lagi Mas Bagus Priyana selaku koordinator Kota Toea Magelang sudah “mengancam”, bagi siapa yang telat bakalan ditinggal. 🙂
Pernah sekali saya mau ikut acara Kota Toea, saya telat dan akhirnya ditinggal. Hehe.


Sesampainya di tempat berkumpul, saya langsung daftar ulang. Ternyata belum banyak peserta yang hadir. Setelah lama menunggu akhirnya kami berangkat menuju Stasiun Bedono dengan mobil angkot yang sudah disediakan.

Foto : Facebook Pak Widoyoko Magelang

Perjalanan dari titik kumpul ke lokasi, yakni Stadiun Bedono memakan waktu kurang lebih 30 menit, dan akhirnya sampai juga di stasiun yang dibangun sejak pemerintahan Hindia Belanda itu.
Kesan pertama saat sampai di Stasiun Bedono, saya benar benar sumringah. Kompleks stasiun terlihat bersih dan terawat, cat temboknya juga terlihat baru. Di area stasiun juga dapat kita jumpai turn table dan pipa pengisi air untuk lokomotif.

Diatas sebuah bukit yang bertuliskan Stasiun Bedono terdapat sebuah tempat penampungan air yang yang dahulu digunakan untuk mengalirkan air ke stasiun untuk mengisi air di lokomotif-lokomotif yang berhenti.

Setelah puas melihat-lihat di Stasiun Bedono kami lanjut berjalan kaki ke arah utara. Nah, perjalanan yang cukup menantang, karena selain kami harus berjalan jauh, kami juga dihadapkan pada cuaca yang sedang panas-panasnya. Saya nggak bawa topi pula. Namun sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam yang cukup indah, mulai dari tegalan, perkebunan kopi hingga persawahan yang membentang luas.
Oh ya, dari Stasiun Bedono akan kita dapati rel gigi yang berguna untuk membantu lokomotif uap saat melewati dataran yang lebih tinggi atu lebih rendah. Selain itu dapat kita jumpai beberapa stoopplaast (pemberhentian untuk mengisi persediaan air).

Rel Gigi (foto : Pak Widoyoko Magelang)
Foto : Pak Widoyoko Magelang

Jalur kerata api ini membelah perbukitan dan beberapa kali kita akan melewati sedikit tanjakan dan turunan serta jalan yang berkelok-kelok.
Sesekali kita juga bakal menjumpai penduduk lokal yang mendorong kereta sederhana buatan tangan sendiri untuk mengangkut kayu bakar atau rumput untuk ternak.

Setelah berjalan sekira setengah jam akhirnya kami sampai di Stasiun Jambu. Stasiun Jambu berada pada ketinggian 479 mdpl. Disini kami beristirahat melepas lelah selama berjalan dari Stasiun Bedono. Di sekitar stasiun terbentang luas hijau persawahan. Angin sepoi-sepoi membelai dengan lembut.

Perjalanan pun kami lanjutkan lagi hingga ke Stasiun Ambarawa. Beberapa kali kami sempatkan buat beristirahat, karena perjalanan dari Stasiun Jambu ke Stasiun Ambarawa memang masih begitu jauh. Rasanya sudah nggak kuat lagi saya berjalan.

Setelah menempuh perjalana sekira tiga jam lebih, kami sampai juga di Stasiun Ambarawa. Perjuangan kami pun berakhir. Meski perjalanan kali ini sangat melelahkan, namun rasa capek dan pegal juga nggak terlalu kerasa, soalnya saya sudah terbiasa lari, lari dari kenyataan. Hehe.

Kami lalu masuk ke dalam dan melihat-lihat koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Harga tiket masuknya Rp 10.000 per orang. Museum ini memiliki koleksi 21 lokomotif uap. Kita juga bisa menaiki kereta wisata. Harga karcis kereta wisata Rp 50.000 per orang. Mahal memang buat ukuran kantong saya. Hehe.
Tapi sayang kemarin kami nggak naik kereta wisatanya. Yah, semoga kapan-kapan bisa naik kereta wisata di Museum Kereta Api Ambarawa. Ada yang mau menemani saya?

sumber : http://www.achmadmuttohar.web.id/2015/09/menjelajahi-rel-kereta-api-mati.html?spref=fb

Jalur Spoor Setengah Terabaikan

Standard

Acara Djeladjah Djaloer Spoor yang diselenggarakan oleh komunitas Kota Toea Magelang ( KTM ) seolah menjadi agenda tahunan yang dilakukan tiap bulan September. Hari Kereta Api di Indonesia yang diperingati setiap tanggal 28 September menjadi salah satu alasannya.

Tahun lalu saya bergabung dengan KTM menelusuri jalur kereta api mati dari Stasiun Bedono menuju Stasiun Umbul, cerita lengkapnya bisa klik di sini. Sedangkan tahun ini di bulan yang sama ( 13 September 2015 ), saya bergabung dengan seratus peserta yang lain menelusuri jalur kereta api tidak aktif yang lain, yaitu jalur kereta dari Stasiun Bedono menuju Stasiun Ambarawa.

Tak jauh dari titik kumpul peserta di “Alfamart – Pahlawan – Magelang”, telah berjajar sepuluh angkot atau angkutan kota yang akan membawa semua peserta ke Stasiun Bedono. Perjalanan dari Jalan Pahlawan, Magelang menuju Stasiun Bedono yang terletak di Kabupaten Semarang sendiri membutuhkan waktu sekitar 40 menit.

Stasiun Bedono
Stasiun Bedono
ruang tunggu Stasiun Bedono setelah direnovasi
ruang tunggu Stasiun Bedono setelah direnovasi

Kondisi Stasiun Bedono sekarang sungguh manglingi, sudah terlihat lebih cantik. Berbeda dengan ingatan setahun yang lalu di mana bangunan terlihat kusam, cat tembok banyak yang terkelupas serta kursi-kursi kayu di ruang tunggu yang belum layak pakai. Kini jauh lebih bersih dan rapi. Bahkan toilet dan menara air juga sudah dibenahi dengan petak-petak taman di depannya yang menunggu dihijaukan. Rupanya PT KAI tidak lupa dengan janjinya untuk menghidupkan beberapa jalur mati kereta api yang telah dibangun semasa pemerintahan Hindia Belanda di Nusantara.

Dari Stasiun Bedono, kami mulai berjalan ke utara arah Ambarawa. Akan melewati beberapa stoopplaast ( pemberhentian untuk mengisi persediaan air ) seperti stoopplaast Tempuran, Stasiun Jambu, stoopplaast Ampin Wetan, dan stoopplaast Karangkepoh. Peta dunia maya mencatat jaraknya hanya sekitar sepuluh kilometer saja, namun waktu tempuh malah dirasa lebih lama dibanding jelajah sebelumnya. Tentu ada pelajaran dan keseruan yang berbeda dengan sebelumnya, baik pemandangan maupun lintasan yang terbilang cukup membahayakan jika pejalan lengah.

jalur kereta api membelah bukit
jalur kereta api membelah bukit

Keluar dari Stasiun Bedono yang terletak di ketinggian 711 mdpl langsung disambut oleh rack railway atau rel gigi, pertanda akan ada tanjakan maupun turunan di jalur tersebut. Sistem rel pegunungan ini digunakan untuk membantu laju lokomotif uap saat melewati dataran lebih tinggi ataupun lebih rendah dengan kemiringan sekitar 6% dari jalur sebelumnya. Sama seperti rel gigi yang pernah saya lihat di jalur Stasiun Bedono – Stasiun Gemawang. Bedanya rel gigi di sini masih mencuat di atas tanah, tidak tertimbun aspal apalagi tertutup oleh pemukiman warga.

Memang betul jalan sedikit demi sedikit terasa menanjak, kadang disertai turunan dan sesekali belokan yang menyuguhkan pemandangan perbukitan yang mengagumkan. Jalur membelah bukit tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dengan pekerja yang banyak pula. Seperti jalur Secang – Umbul yang pernah saya jelajahi bersama KTM dua tahun silam, cerita lengkapnya baca –> Jalur Spoor Yang Terabaikan.

Berbicara tentang biaya jalur kereta api Magelang – Ambarawa, pernah ada seorang aanemer atau insinyur asal Temanggung bernama Ho Tjong An. Beliau lahir di Tungkwan, Canton pada tahun 1841 yang sejak kecil merantau ke Hindia Belanda bersama keluarganya. Sempat menetap di Semarang hingga mendirikan Toko Besi Thay Thjiang di Temanggung di usia senjanya.

Tahun 1899 pertama kalinya beliau menerima pekerjaan borongan membuat jalur kereta api jurusan Rembang-Blora-Cepu yang digagas oleh SJS – Samarang Joana Stoomtram Maatschappij dengan total biaya sekitar f 95.000,-. Proyek berikutnya datang dari NIS – Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij sekitar tahun 1900, beliau dipercaya membuka jalan kereta api antara Willem I – Secang, Magelang – Secang, dan Secang – Parakan dengan biaya borongan sebesar f 350.000,-. Angka yang terbilang sangat besar waktu itu. Karena luasnya area yang harus dikerjakan, Ho Tjong An memutuskan pindah rumah ke Temanggung.

Proyek itu diselesaikannya tiga tahun kemudian dan stasiun-stasiunnya mulai aktif antara tahun 1903-1905. Meski terbilang sebagai Tionghoa totok, Ho Tjong An terkenal sebagai pribadi yang menghargai kepercayaan lokal. Dulu masih banyak masyarakat yang percaya dengan batu, makam dan kawasan yang dikeramatkan, sehingga mereka mogok kerja jika diperintahkan membuka jalur di sekitar sana. Maka dari itu Ho Tjong An berulang kali membelokkan beberapa jalur hingga mengadakan selamatan di area tertentu agar ribuan pekerjanya mau meneruskan pekerjaannya.

Jalur kereta sepanjang Bedono menuju Jambu diwarnai pemandangan perbukitan dengan jalur rel gigi yang berkelok-kelok. Hamparan sawah dan beberapa jembatan ikut mengusir kebosanan selama satu setengah jam perjalanan menuju Stasiun Jambu. Sesekali terlihat penduduk lokal yang mendorong kereta rakitan sederhananya berisi penuh daun-daunan untuk ternak di sepanjang rel gigi.

melihat peta lama jalur kereta api Jawa Tengah
melihat peta lama jalur kereta api Jawa Tengah

Berjalan di atas rel kereta, memangnya nggak takut tertabrak kereta api yang melintas? Oh iya, lupa bilang jika jalur kereta dari Stasiun Bedono menuju Stasiun Ambarawa sudah tidak aktif lagi. Mulai dari Magelang – Secang – Temanggung – Bedono – Jambu – Ambarawa – Kedungjati jalurnya berhenti beroperasi sejak tahun 1976. Jalur Bedono – Ambarawa – Tuntang sempat diaktifkan sebagai jalur kereta wisata, namun sayangnya beberapa tahun terakhir jalur tersebut vakum sementara akibat renovasi Museum Kereta Api Ambarawa.

akhir dari rel gigi jalur Bedono - Jambu
akhir dari rel gigi jalur Bedono – Jambu

Akhir dari rel gigi menandakan bahwa jarak menuju Stasiun Jambu tinggal sedikit lagi. Stasiun Jambu yang terletak di ketinggian 479 mdpl sebenarnya merupakan halte, namun cukup besar dan bisa disinggahi layaknya stasiun yang dibangun di tengah jalur Bedono hingga Ambarawa. Di sinilah lokomotif uap yang semula berada di ekor guna mendorong gerbong-gerbong selama melewati tanjakan akan berpindah posisi di bagian kepala guna menarik gerbong-gerbong. Berlaku sebaliknya jika kereta melaju dari Ambarawa menuju Bedono.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, akibat renovasi museum yang berlangsung sejak empat tahun silam berimbas terhadap Stasiun Bedono maupun Stasiun Jambu. Nasib mereka setengah terabaikan, sudah tidak seramai dulu saat dipenuhi oleh wisawatan lokal maupun asing yang tengah menyewa kereta wisata dari maupun menuju Ambarawa.

Menurut Pak Adhitya Hatmawan, salah satu pegawai PT KAI di Stasiun Ambarawa yang ikut berjalan bersama rombongan KTM, jalur Bedono –  Jambu – Ambarawa akan diaktifkan lagi mulai tahun 2016 mendatang sebagai jalur kereta wisata. Mudah-mudahan rencana tersebut tidak meleset.

jembatan rel kereta api
jembatan rel kereta api

Kami kembali berjalan menelusuri jalur kereta api tidak aktif dari Jambu menuju Desa Karangkepoh dan Desa Ngampin hingga Ambarawa. Jalur yang kami lalui sudah lurus tanpa tanjakan lagi selama satu setengah jam ke depan, tapi betis rasanya sudah terlanjur pegal minta dioles balsem. 😀

Total waktu yang dihabiskan dari Bedono menuju Ambarawa yang menurut peta dunia maya hanya berjarak sepuluh kilometer adalah sekitar tiga setengah jam! Memang jaraknya terdengar tidak terlalu jauh, namun kenyataannya medan berkerikil tidak beraspal mulus, tanjakan halus hingga menyeberangi jembatan rel kereta yang bikin deg-deg ser menjadi faktor penghambat selama perjalanan.

Bentangan alam yang indah serta senyuman yang ditebarkan oleh penduduk setempat menjadi penyemangat untuk tiba di titik akhir Djeladjah Djaloer Spoor. Sama semangatnya menunggu janji PT KAI yang tengah giat menghidupkan jalur mati kereta api di Indonesia. Semoga janji tak tinggal janji belaka.

sumber : http://jejak-bocahilang.com/2015/09/22/jalur-spoor-setengah-terabaikan/

AGENDA EVENT KOTA TOEA MAGELANG – 13 SEPTEMBER 2015 “DJELADJAH DJALOER SPOOR #4”

Standard

Perkeretaapian di wilayah Magelang memiliki sejarah yang sangat panjang. Lebih dari 100 tahun lalu “ular besi” menjelajahi bumi Kedu Utara, menghubungkan wilayah Magelang – Temanggung – Parakan dan antara Magelang – Ambarawa. Kawasan Kedu Utara merupakan dataran yang berbukit-bukit, yang elok terbentang pada wilayah antara Magelang dan Ambarawa. Udara sejuk terasa, turun dari Gunung Andong dan Telomoyo menyelimuti kawasan tersebut.

Begitu kental kisah manis di masa lalu, terlihat “si ular besi” melintasi rel berjalan lurus. Asap hitam membumbung pekat di antara persawahan, tegalan dan perkebunan kopi. Kadang berjalan tertatih ketika melewati rel bergerigi menanjak antara Jambu menuju Bedono.
Itulah sang kereta api yang dahulu menjadi raja transportasi. Lalu seperti apa jejak-jejak sejarahnya di masa kini … ???

Ayo ikuti: “DJELADJAH DJALOER SPOOR #4”
Stasioen Bedono – Stasioen Djamboe – Stasioen Ambarawa
(heritage trail / trekking jalan kaki sejauh 9 km)

‪#‎PADA‬
– Hari : Minggu Kliwon, 13 September 2015
– Jam: 06.30 – selesai
– Tempat berkumpul : halaman parkir Alfamart Jl. Pahlawan Mbotton [depan SMPN 1] Kota Magelang [1 km utara Aloon-aloon Magelang].

‪#‎KONTRIBUSI‬
Kontribusi: Rp 25.000,-*)
(fasilitas: air mineral, snack & sarana transportasi antar jemput dari Magelang – Bedono & Ambarawa – Magelang)

NB:
*) belum termasuk tiket masuk ke Museum Kereta Api Ambarawa sebesar Rp 10.000,- per orang. Semoga saja surat yang akan kami kirimkan ke PT KAI bisa mendapat tiket gratis masuk ke museum.

‪#‎INFO‬ dan ‪#‎PENDAFTARAN‬
-Cara pendaftaran / info ketik: SPOOR #4 (spasi) Nama Anda
– kirim ke: 0878 32 6262 69

Pendaftaran peserta paling lambat hari Jumat Pon, 11 September 2015 jam 18.00 WIB.

‪#‎NB‬:
1. Peserta harus memiliki fisik yang prima karena akan menempuh rute sejauh kira-kira 9 km antara Stasiun Bedono – Stasiun Ambarawa dan ditempuh dengan berjalan kaki melewati bekas rel kereta api dengan pesona persawahan, perkebunan kopi dan pemandangan yang indah. Rute yang dilewati dalam kondisi gersang dengan cuaca kemarau yang terik.

Sewaktu survey, rute jelajah dapat di tempuh selama 4 jam. 3 jam dengan rute jalan menurun dan 1 jam dengan rute jalan mendatar.
Ada 3 pos sebagai tempat pemberhentian jelajah.

2. Peserta wajib memakai topi dan kaos lengan panjang untuk mengantisipasi panas, sepatu kets yang nyaman, pakaian cadangan, handuk kecil dan perlengkapan pribadi lainnya. Boleh juga membawa payung. Di sarankan memakai kaos warna terang, jangan yang berwarna gelap.

3. Peserta wajib sarapan pagi dulu karena akan menempuh perjalanan jelajah yang cukup jauh.

4. Peserta yang memakai sepeda motor di mohon untuk di parkir di Nikita Futsal [depan Alfamart] Jl Pahlawan [depan SMPN 1 Magelang]. Kemudian peserta akan berangkat dengan angkutan umum menuju Bedono dan di perkirakan memakan waktu 1 jam perjalanan.

5. Rundown acara :
– jam 06.30 – 07.15 WIB : daftar ulang peserta sekaligus pembayaran kontribusi
– jam 07.15 – 07.30 WIB : briefing dan penyampaian petunjuk teknis dari panitia
– jam 07.30 – 08.30 WIB : perjalanan menuju Bedono
– jam 08.30 – 09.00 WIB : persiapan penjelajahan
– jam 09.00 – 13.00 WIB : jelajah
– jam 13.00 – 15.00 WIB : istirahat, sholat, makan dan berkunjung di Museum Kereta Api Ambarawa.
– jam 15.00 WIB : perjalanan pulang ke Magelang.
– jam 16.00 WIB : selesai

6. Rundown dapat berubah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi selama perjalanan.

7. Makan siang di tanggung oleh masing-masing peserta.
[Tenang saja, di depan Museum Kereta Api Ambarawa banyak warung makan yang siap untuk di jelajahi]

8. Hal-hal lain yang belum di tentukan akan di informasikan kemudian.

9. Kenali negerimu, pahami sejarahnya, cintai bangsamu.

SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG