Monthly Archives: February 2013

Sejarah Magelang : Kerkhoof, Makam untuk Orang-orang Belanda

Standard

Image

Kota Magelang merupakan wilayah yang unik, nyaman untuk di tinggali dan menarik karena penuh dengan pesona pemandangan. Hal ini sudah terjadi sejak dulu kala, lebih-lebih di jaman kolonial Belanda. Baik warga Pribumi maupun kaum pendatang seperti Belanda, Cina ataupun Arab merasa nyaman hidup di kota ini. Menyadari hal demikian pemerintah kota saat itu berupaya memenuhi pelayanan bagi masyarakat umum. Apalagi sejak Magelang menjadi Gemeente di tahun 1906 dan Stadsgemeente di tahun 1929 pemerintah kota berupaya meningkatkan pelayanannya teutama penyediaan area pemakaman untuk warganya.

.

PEMAKAMAN BELANDA

Pada waktu itu area pemakaman untuk masing-masing etnis berbeda-beda

tempatnya. Untuk masyarakat Belanda sebagai area pemakaman ada di selatan Kampung Kejuron [kini Kampung Kerkopan] dan di Kampung Barakan di lereng Bukit Tidar.

Area pemakaman ini di sebut dengan EUROPEESCHE BEGRAAFPLAATS atau biasa di sebut dengan KERKHOOF atau lidah kita menyebutnya dengan nama “kerkop”.Di kawasan selatan Kampung Kejuron sendiri belum di ketahui secara pasti kapan area pemakaman ini mulai ada.Yang pasti pada peta Kota Magelang Stadskaart tahun 1923 kawasan pemakaman ini sudah ada. Area pemakaman ini membentang mulai depan penjara sampai ke barat berbatasan dengan di Residentielaan/Jalan Diponegoro sekarang ini,. Terus menuju ke selatan sampai Kampung Jambon Legok hingga ke timur membentuk area segi empat.

Akan tetapi pada perkembangan jaman dan dengan alasan penataan kota yaitu area pemakaman di sini oleh pemerintah kota praja di pindahkan ke kawasan Kampung Barakan. Peristiwa pemindahan ini terjadi pada tahun 1938-1941. Nah bekas area pemakaman ini lambat laun kini menjadi sebuah pemukiman penduduk yang bernama kampung Kerkopan.

Area pemakaman di Kampung Barakan sendiri menjadi tempat pemakaman Eropa yang di kelola oleh pemerintah kotapraja saat itu. Kawasan pemakaman ini terletak di Grooteweg Zuid/Jalan Jenderal Sudirman sekarang ini, tepatnya di lereng kaki Bukit Tidar sisi utara.Tempat pemakaman ini di bagi menjadi 2 bagian yaitu bagian Utama I dan II di mana masing-masing bagian di bagi lagi menjadi 4 kelas.Untuk bagian utama I peruntukkan bagi masyarakat Eropa, sedangkan untuk bagian utama II bagi pemakaman masyarakat pribumi dan  timur asing yang beragama Kristen.Tentu saja area pemakaman untuk bagian Utama I ada di area depan yang mudah di akses oleh masyarakat. sedangkan untuk kelas terendah ada di lokasi yang jauh dari akses jalan.

Yang unik adalah pemerintah kotapraja setempat juga mengenakan beaya bagi penggunaaan fasilitas bagi pemakaman.Misalnya jika memakamkan menggunakan kereta yang di ntarik oleh 6 kuda maka tarifnya sebesar f 50 gulden. Jika dengan 2 kuda maka tarifnya f 5 gulden. Termasuk penyediaan peti mati juga dikenakan tarif f 100 gulden jika menggunakan jenis pertama dan f 20 gulden jika untuk jenis keempat.

Untuk lokasi pemakaman bagi warga pribumi dan timur asing yang beragama Kristen lokasinya ada di sisi belakang. Akan tetapi dapat juga di makamkan di area bagian Utama I jika mampu membayar tarif seperti yang di kenakan untuk orang-orang Eropa.

Pada tahun 1945 seorang tokoh besar di masanya dan legendaris hingga kini bernama Johannes van der Steur di makamkan di sini. Lokasi makamnya ada di dekat pintu masuk gerbang Kerkhoof yang bisa di sebut sebagai makam Utama I karena begitu strategisnya. Dan makam dari Johannes van der Steur bersama dengan anak-anak asuhnya sampai kini tetap ada di belakang ruko-ruko di Jalan Ikhlas.

Pada tahun 1980an oleh pemerintah kota saat itu area pemakaman Kerkhoof di pindahkan ke berbagai tempat, seperti ke Giriloyo. Karena di area itu banyak makam-makam Belanda maka pada waktu itu pemerintah kota Magelang membuka iklan di surat kabar di negeri Belanda untuk mengabarkan pada ahli waris tentang rencana pembongkaran ini. Sejumlah dana di keluarkan untuk kegiatan ini. Jenasah orang Belanda ada juga yang di bawa dan di makamkan kembali di negeri Belanda oleh ahli warisnya.

Image

Gerbang Kerkhoof yang di bangun tahun 1906 [foto : www.flickr.com ]

Kawasan ini akhirnya di jadikan area pemukiman penduduk dan kios-kios. Dan akhirnya untuk mengenang peristiwa ini kawasan jalan yang melintas di sebut dengan Jalan Ikhlas yang merujuk pada keikhlasan karena banyak makam yang di pindah.Yang tersisa dari area pemakaman ini selain kompleks makam van der Steur adalah gerbang pintu masuk ke makam, masyarakat menyebutnya dengan nama Gerbang Kerkop. Gerbang Kerkop ini di bangun pada tahun 1906 dengan gaya arsitektur Empire style dengan pilar/kolom tinggi menjulang. Yang unik pada bagian dinding atas/fasadnya terukir nama berbahasa latin yaitu “MEMENTO MORI” yang artinya ingatlah selalu pada kematian.Tapi sayangnya tulisan ini sudah hilang.

Sejarah Perbioskopan di Kota Magelang : Gambar Hidoep Jang Soedah Redoep

Standard

Kota Magelang sebagai tempat hunian yang nyaman, memiliki fasilitas hiburan bermacam-macam. Salah satunya adalah bioskop. Dari jaman Belanda, Jepang, kemerdekaan hingga sekarang, keberadaan bioskop jatuh bangun menghiasi berbagai sudut kota. Jaman golden era, atau era abad 20 silam, ternyata banyak bioskop yang berdiri di Kota Magelang. Bioskop tersebut adalah: Bioskop Al Hambra (di Jordaanlaan, sebelah utara bank BNI di Panti Peri sekarang), Bioskop Roxy yang berubah nama menjadi Abadi di timur Aloon-aloon, kemudian berubah lagi menjadi Rahayu (sekarang: Gardena Dept. Store), Bioskop Kresna, Bioskop Bayeman, Bioskop Kartika (sekarang: Aula Kodim), Bioskop Mutiara (sekarang: SMA 3), Rejowinangun Theatre (sekarang: Gereja Alfa Omega), Bioskop Globe yang berubah nama menjadi Ampera dan kemudian berubah lagi menjadi Bhima (sekarang: bank CIMB Niaga), Bioskop Magelang Theatre dan Tidar Theatre. Sedemikian panjangnya cerita sejarah ini, membuat tidak banyak orang yang mengetahui tentang bioskop klasik tersebut, terlebih anak muda jaman sekarang.

Sangat miris mendengar bahwa pada saat ini bioskop yang tersisa hanya ada satu, yaitu Magelang Theatre juga sudah tutup menyusul saudara kembarnya Tidar Theatre yang per 1 Juli 2011 yang lalu sudah tidak beroperasi lagi. Sangat memprihatinkan apabila sarana hiburan masyarakat tersisihkan oleh masyarakat itu sendiri. Ini tidak lepas dari faktor eksternal juga, salah satunya adalah perkembangan teknologi yang semakin maju seiring perkembangan jaman.

Setiap individu memiliki kesan, cerita dan kisah tersendiri dengan hiburan rakyat ini. Dari masa ke masa pasti ada saja peristiwa yang terjadi, sehingga menjadi memori yang tak terlupakan. Untuk itu, berikut adalah sejarah perkembangan dari hiburan rakyat: Bioskop di Magelang.

Bioskop Al Hambra Di Jordanlaan, Sekarang Jl. Pahlawan, sebelah Utara Bank BNI 46

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2124946249157&set=o.128356500529153&type=3

Di jaman Belanda, Bioskop AL Hambra menjadi tempat terfavorit bagi sinyo dan noni Belanda untuk mencari hiburan. Letak bioskop ini ada di Jordanlaan (sekarang Jl.Pahlawan timur SMK Kristen/ utara Bank BNI 46). Gedung ini dibangun pada tahun 1920an ini oleh Sie Wie Tjioe,  yang pada saat itu hanya memutar film-film barat. Misal saja  film “ Jimmy and Sally “ yang diputar dari tanggal 31 Juli – 1 Agustus 1935.

Di jaman Jepang , bioskop AL Hambra tidak diperbolehkan memutar film barat dan hanya diperbolehkan mempertunjukkan sandiwara tonil. Pada masa Agresi Militer Belanda antara tahun 1947 – 1949, gedung ini dihancurkan. Di tahun 1970’an masyarakat sekitar menyebutnya dengan “ Gedung Bobrok “

Bioskop Roxy

Di masa Belanda juga ada bioskop Roxy (foto : tahun 1935) yang terletak di Alon-alon Timur. Pada masa setelah kemerdekaan berubah nama menjadi bioskop Abadi, dan berubah lagi menjadi bioskop Rahayu. Serta sekarang menjadi Gardena Dept.Store.

Pada masa sesudah kemerdekaan tepatnya di tahun 1955 berdirilah Bioskop Kresna dibekas Apotik Van Gorkom di Chinnese Kamp Street / Pecinan / Jl. Pemuda sekarang. Nah, pemilik Bioskop Kresna ini bernama Liem Ting Lok atau biasa dipanggil Bah Ting Lok. Rumahnya di belakang Bioskop Kresna atau di Jalan Sigaluh No.2 Kawatan. Bah Ting Liok yang juga mengelola Bioskop Bhima / dulu Globe di jalan Tidar dan Bioskop Arjuna di Muntilan.

iklan film bioskop Roxy

Bioskop Kresna Di Pecinan  

Nah, pada era tahun 60-80 an merupakan puncak kejayaan perbioskopan di Magelang. Banyak bioskop baru bermunculan, seperti Kartika Theater (sekarang Aula KODIM), Mutiara Theater (sekarang Aula SMA 3 Magelang), Rejowinangun Theater (sekarang Gereja Alfa Omega Tugu Wolu) dan Globe Theater di Jalan Tidar. Di masa jayanya Globe Theater pernah di kunjungi oleh Bung Karno diakhir tahun 1950an. Perkembangan jaman Globe Theater berubah nama menjadi Bioskop Ampera (berubah karena himbauan Bung Karno untuk memakai nama Indonesia). Lalu berubah lagi menjadi Bioskop Bhima sebelum akhirnya dibongkar (sekarang Bank Niaga Shooping).

Di masa tahun 60’an cara mempromosikan film yang akan diputar sangatlah unik yaitu dengan memakai sarang gerobak yang didorong. Sedangkan poster film yang akan diputar ditempelkan disamping kanan kiri gerobak itu. Nah, biar menarik didalam gerobak ada orang yang menabuh genderang berulang-ulang untuk menarik perhatian orang disepanjang jalan yang dilewati. Unik ya………………

info lanjutan dan refrensi:

http://www.merdeka.com/peristiwa/bioskop-kresna-tempat-taruna-akabri-habiskan-pesiar.html

Sejarah Magelang Theatre Dan Tidar Theatre

Nah, di era akhir 70’an dijaman Walikota Moch. Soebroto beroperasilah Bioskop Magelang Theater dan Tidar Theater. Kedua bioskop ini memakai eks gedung olah raga (GOR) yang dipindah di Sanden. Nah, eks GOR yang ditempati oleh kedua bioskop ini dulunya adalah eks Hotel LOZE (dibangun tahun 1840 oleh Th ID LOZE dan menjadi hotel ternama dengan fasilitas kolam renang). Sebelum menjadi GOR, tempat ini merupakan THR (Taman Hiburan Rakyat). Di dalam THR inilah tersedia bioskop misbar (gerimis bubar). Nah, THR yang di Magelang ini oleh Pemkot dibangun untuk meniru THR Surabaya.

Bahkan keberadaan THR di Magelang menjadi tempat hiburan istimewa karena berbagai grup musik atau grup kesenian tradisional pernah pentas disini. Sebut saja grup musik perempuan Dara Puspita, ataupun semacam grup ketoprak keliling / tobong Siswo Budaya, Gema Mataram, Ludruk Tuty Bintang Timur, Wayang Wong Tjipta Kawedar, Ngesti Pandhowo, Panca Murti dan Edhy Budhaya.

 

Foto: kolam renang di Hotel Loze

Kejayaan Bioskop MT dan TT terjadi antara tahun 80-90’an dimana setiap kali pemutaran film, berjubel masyarakat menyempatkan untuk menonton. Meski di saat itu juga ada Bioskop Rahayu, Kresna dan Bayeman. Apalagi jika di setiap hari Sabtu, Minggu dan hari libur dipastikan kursi penonton akan penuh sesak. Di musim lebaran, film-film semacam Trio Warkop Dono Kasino Indro, dan film silat semacam Brama Kumbara, Saur Sepuh, Mahkota Mayangkara, Tutur Tinular dll, akan dipenuhi penonton.

Foto: Hotel Loze (sekarang:Pelataran Magelang Theatre)

Foto: Hotel Loze (Sekarang: Matahari Dept Store)

dan realita mengatakan: 

Waktu yang terus berjalan ternyata mengubah nasib bioskop-bioskop ini. Merebaknya televisi swasta dan peredaran video di tahun 1990’an membuat bioskop-bioskop ini satu per satu gulung layar. Bioskop Rahayu, Bayeman, Kresna sudah mengakhiri masa hidupnya. Bioskop Rahayu menjadi Gardena Dept.Store, Bayeman dibongkar demikian pula dengan Kresna hanya tinggal puing-puing sisa bangunan. Bioskop-bioskop ini meninggalkan sejuta cerita yang tak kan terlupa oleh orang-orang yang pernah menikmati kejayaannya.

[Bagus Priyana-KOTA TOEA MAGELANG]