Monthly Archives: March 2015

Sekilas KOTA TOEA MAGELANG

Standard

KOTA TOEA MAGELANG atau KOmoenitas petjinTa & pelestAri bangoenan TOEA di MAGELANG merupakan sebuah komunitas yang berupaya untuk lebih menggali informasi tentang SEJARAH/HISTORY dan berusaha melestarikan berbagai peninggalan CAGAR BUDAYA/HERITAGE (tangible dan intangible) yang ada di Magelang dan sekitarnya.

Komunitas ini tidak hanya menitikberatkan pada bangunan tua berupa peninggalan jaman Hindu, Budha, Islam, Tionghoa ataupun Kolonial, namun juga mengulik info berupa heritage/pusaka yang bersifat intangible seputar Magelang dan sekitarnya.

KOTA TOEA MAGELANG mulai berdiri pada bulan November 2008 di Magelang. Beberapa even yang pernah di selenggarakan bisa berupa diskusi, sarasehan, jelajah, pameran, perawatan bangunan tua, hunting, pendokumentasian, pengarsipan dll.

KOTA TOEA MAGELANG mempunyai slogan:
“SAVE HERITAGE & HISTORY IN MAGELANG”

Beberapa event yang pernah diadakan adalah:
– Pameran Magelang Tempo Doeloe,
– Djeladjah Kota Toea,
– Remboeg KOTA TOEA,
– 89 Taoen Mertjoe Aer Minoem,
– Remboeg Sedjarah,
– Djeladjah Plengkoeng
– Perbioskopan Magelang
– Djeladjah Djaloer Spoor,
– 100 Tahoen Boemi Poetra,
– 100 Tahoen SMPN 1 Magelang
– Djeladjah Kali Manggis,
– Djeladjah Sitoes dan Tjandi Di Setjang,
– Kaoeman : Kampoeng Tempo Doeloe, dll.

MORE INFO:
1. soerat choesoes :
– kotatoeamagelang@ymail.com
– kotatoeamagelang@groups.facebook.com
– bagus_priyana@yahoo.co.id

2. sitoes :
www.kotatoeamagelang.wordpress.com
https://twitter.com/kotatoea_MGL

3. perhoeboengan :
– 0878 32 6262 69 (BAGUS PRIYANA)

‪#‎PENTING‬:
info aturan main posting di grup KTM ini:

1. TIDAK BOLEH ADA PROMO IKLAN BISNIS yaa termasuk tidak untuk kampanye parpol dalam bentuk apapun…. (untuk yang mau iklan bisnis / kampanye sudah disediakan di grup “Magelang” yang lain)

2. grup ini bersifat lebih menggali info heritage/pusaka (tangible dan intangible), khususnya yang ada di sekitar kawasan Magelang dan sekitarnya. Barangkali ada info sejarah atau pengalaman pribadi mengenai heritage/pusaka bisa di-share.

3. namun tidak menutup kemungkinan berbagi info yang lain, namun terkait dengan heritage/pusaka.

4. kalau upload foto bukan milik sendiri, wajib mencantumkan sumbernya.

5. Admin berhak menghapus postingan member grup KTM yang menimbulkan konflik SARA atau konflik dalam bentuk apapun (personal – non personal) yang tidak ada kaitannya dengan diskusi Heritage.

Terimakasih atas perhatiannya.

Segera Hadir pameran MAGELANG TEMPO DOELOE 13 – 17 Mei 2015

Standard

DI TJARI !
Sebuah pameran yang selalu menimbulkan kekangenan suasana tempo doeloe kembali hadir menyapa anda. Membuat anda merasa kembali ke suasana di masa lalu. Seolah-olah seperti sebuah mesin waktu yang membawa anda ke sekian puluh tahun yang lalu.
Berbagai benda2 lawas, kuliner jadul, pertunjukan, musik, pentas kesenian, jelajah sepeda tua. layar tancap, pameran foto Magelang Tempo Doeloe dan angkutan lawas, kerajinan, sarasehan, dll akan mengingatkan anda ke tempo doeloe.
Segera hadir Pameran MAGELANG TEMPO DOELOE yang akan di adakan di Aloon2 Kota Magelang 13 – 17 Mei mendatang.
Anda berminat mengikutinya dengan membuka stand di acara ini?
Hubungi saya di 087832626269 atau 085729571921[Bagus Priyana]

Nginguk Pameran Magelang Tempo Doeloe 2014

Untuk memeriahkan rangkaian acara peringatan hari jadi Kota Magelang yang ke 1108, Komunitas Kota Toea Magelang bekerja sama dengan pemerintah kota dan komunitas-komunitas lokal lainnya selalu menggelar acara Pameran Magelang Tempo Doeloe.

Event ini sudah menjadi agenda rutin sejak empat tahun lalu. Dan untuk penyelenggaraan tahun ini, event Pameran Magelang Tempo Doeloe digelar di Alun-alun kota Magelang dari tanggal 14-18 Mei 2014.

Pameran Magelang Tempo Doeloe adalah event pameran umum yang disusun dengan konsep Jaman Dulu. Karenanya hampir semuanya yang dipamerkan dalam event ini adalah materi-materi yang berbau jaman dulu alias jadul. Ada pameran barang-barang antik, kendaraan kuno, kuliner lawas, juga pameran produk-produk kerajinan UMKM. Tak hanya itu, event ini juga menampilkan aneka kegiatan pendukung seperti nonton bareng film perjuangan, bedah buku, diskusi sejarah, aneka lomba dan permainan bocah, sampai pertunjukan kesenian lokal.

Di hari ketiga penyelenggaraan kemarin, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk menyambangi pameran yang maha keren ini.

Seperti biasa, Saya datang mengenakan kaos loreng malvinas khas tentara. Kaos ini adalah satu kaos yang paling saya banggakan diantara setumpuk kaos yang saya punya.

Berikut adalah beberapa cuplikan gambar dari Pameran yang maha keren ini.

Sepeda Onthel Kuno VOC
Onthel lawas aneka rupa persembahan Komunitas VOC (Velocipede Old Classic)

Pak Supardi Komikus dan Mas Arif
Stand Pecinta Komik Lawas (tak ada Doraemon dan Detektif Conan disini). © Aké Ru

Pameran Magelang Tempo Doeloe
Pengunjung melihat foto-foto Bangunan Kota Magelang jaman dulu.

Uang Kuno
Pameran uang kuno, bisa dilihat, boleh dibeli, jangan diutil © Widoyoko

Tlatah Bocah
Kerajinan pahat dongklek bambu karya anak-anak SD dari komunitas Tlatah Bocah

Mobil Kuno
Gagahnya mobil-mobil kuno dari Magelang dan Daerah sekitarnya © Widoyoko

Barang-barang antik
Koleksi barang-barang antik, dari rantang makanan sampai radio

Sandiwara Radio Tutur Tinular
Koleksi kaset serial radio tutur tinular © Rizki Azhar (Magelang Daily Photo)

Egrang
Unjuk diri bermain Egrang, mainan tradisional yang semakin terpinggirkan © Widoyoko

Magelang kembali
Aksi teatrikal pertempuran “Magelang Kembali” © Widoyoko

Pripun mas mbak? Gayeng tho?

Gayeng sih mas, Tapi mas Agus sendiri mana? kok dari tadi ndak ikut nongol? Oh, tenang, saya juga ikut foto kok. Ini buktinya

Itu saya foto bareng Mas Mameth Hidayat, salah satu dedengkot komunitas Magelang Kembali. Maksud hati sih ingin berpose ala militer, sambil pegang senapan. Biar kelihatan seperti pejuang kemerdekaan Indonesia yang gagah perkakas.

Tapi kalau lihat foto di atas, kelihatannya tampang saya kok malah lebih nampak seperti tawanan perang pasca interogasi ketimbang pejuang kemerdekaan.

Foto bareng mas Mameth Hidayat di atas adalah satu-satunya foto saya selama kunjungan ke Pameran Magelang Tempo Doeloe. Maklum, saya datang sendirian, tanpa kawan, tanpa kekasih. jadi tak ada yang bisa dimintai tolong untuk memfoto saya terus menerus.

Btw, acaranya sangat menarik, seru, dan banyak membangkitkan kenangan masa lalu. Semoga di tahun depan, acara yang super gayeng ini bisa kembali dihelat.

Dan semoga, di perhelatan tahun berikutnya, saya sudah dikaruniai seorang kekasih, agar ada yang menemani (dan ada yang bisa dimintai tolong untuk memfoto). Wajar saja lah, karena datang ke acara sekeren ini tanpa ditemani seorang wanita rasanya kok begitu hambar dan menyiksa. Godaan psikologisnya begitu terasa.

Salam Magelang tempo Doeloe.

sumber : http://www.agusmulyadi.web.id/2014/05/nginguk-pameran-magelang-tempo-doeloe.html

Liputan Event DJELADJAH SITOES & TJANDI #4 di Bandongan & Windoesari 21 Maret 2015

Standard

Panorama Selogriyo, Duplikat Surga

Langit tampaknya tidak begitu bersahabat siang ini, Sabtu (21/3/2015). Setelah shalat dhuhur di masjid kampung setempat, kami segera melangkahkan kaki untuk memulai trekking ke Candi Selogriyo. Candi itu terletak disebuah bukit yang bisa dikatakan berada di lereng Sumbing. Jarak tempuh kami dari parkiran motor sekitar 1,5 Km. Gerimis menyambut kami sesaat setelah saya berempat bersama Bagus Priyana, Laras, dan Tintony. memulai perjalanan. Kami merupakan rombongan yang tersisa dari sekitar 100-an anggota jelajah. Oleh Bagus Priyana – yang merupakan koordinator komunitas, kami diarahkan melalui jalur bawah yang melewati lembah. “Turis-turis biasa dilewatkan oleh kru dari Amanjiwo melewati jalur ini. Lebih seru dan menantang”. Katanya untuk mengiming-imingi kami.


Setelah kami memakai jas hujan, jalan-jalan becek menyambut kami. Pematang sawah adalah menu utama, selain galuran – sebuah jalan kerbau yang licin dan berlumpur. Gemericik air sungai menemani kami sepanjang perjalanan dengan hamparan panorama epik perbukitan Giyanti. Akhirnya kami sampai di pelataran Candi Selogriyo hampir berbarengan dengan rombongan yang melewati jalur utama. Jalannya sudah dikonblok dan melewati lereng bukit.

Mungkin mereka sudah lelah dan lapar. Sebuah warung yang berada disebelah candi sudah dibooking dan kami kebagian makan siang gratis dengan menu pecel. Antrinya mirip pembagian daging kurban. Saya mengalah dengan memesan segelas kopi saja. Toh saya juga masih bawa bekal dua potong roti sekedar untuk menahan lapar. Siang ini, Selogriyo cukup cerah, beda dengan suasana sepanjang trekking. Candi ini terlihat diikat dengan tali pengaman. Pasca perbaikan 2008 silam, dinyatakan bahwa kondisi tanah di sekitar candi ini labil dan juga rawan longsor. Oleh BPCB – selaku pengelola akhirnya bagian tubuh candi diperkuat dengan tali dengan harapan tidak mudah rubuh.

Candi Hindu ini berada di ketinggian 704 mdpl dan secara administratif berada di Desa Kembangkuning Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang dan ditemukan oleh Residen Kedu pertama, Hartsman pada  1835. Menurut cerita yang berkembang candi dengan arti rumah dari batu ini merupakan candi yang dibangun oleh orang-orang pelarian dari Kerajaan Kadiri pada kisaran tahun 9 Masehi silam. Candi berukuran 4,2 meter persegi dengan ketinggian saya taksir 5-6 meter. Puncaknya model kemuncak dan berhias relief patung di masing-masing sisinya. Sayangnya, kepala patung-patung itu sudah tiada.

Berada di Selogriyo, serasa berada pada hamparan duplikat surga. Hijaunya rerumputan, dipadu dengan gagahnya perbukitan dengan udara yang sejuk. Meskipun waktu menunjukkan pukul tiga sore, rasa-rasanya kami tak ingin beranjak pulang dan masih ingin berlama-lama disana.

**

Candi Batur, Pemandian Kuno dibukit Sokorini.

Bukit itu bernama Sokorini. Seorang paruh baya bernama Wahyudi memandu kami untuk mendakinya. Siang ini kami berada di Desa Candisari, Windusari. Kami memarkir motor diujung kampung dengan pemandangan sawah nan elok. Dari situ, kami harus mendaki bukit sepanjang sekira setengah kilometer. Jalannya sudah dipaving sehingga memudahkan pendakian. Jangan mencoba nekat mengendarai motor ke atas jika tidak ingin terpeleset ataupun terpelanting. Jalan setapak ini memiliki elevasi hingga 45 derajat. Setiap jengkal kaki melangkah adalah ngos-ngosan yang tiada terkira. Dalam hati saya berharap berat badan saya bisa turun 2 Kg setelah acara selesai.

Setelah melewati belantara dengan beberapa selingan bambu petung dan beberapa rebungnya, kami sampai di lokasi kunjungan. Saya mengira lokasi itu adalah sebuah makam. Tapi saya salah. Namanya Candi Batur. Di puncak bukit ini kami bisa menemukan reruntuhan puing batu candi dengan beberapa diantaranya tampak bermotif batu hias (antefiks). Mameth Hidayat, seorang peserta menunjukkan kepada saya bahwa ada sebuah pintu gerbang menghadap ke barat. Namanya makara dengan ciri dua buah patung penjaga pintu.

 
Suasana Candi Batur
 
Puing bebatuan candi
 
Salah satu makara

Berdasarkan penuturan Wahyudi, ada dua versi cerita yang berkembang. Yang pertama adalah bahwa candi ini merupakan candi utuh yang sudah runtuh, dan yang kedua adalah pendapat yang menyatakan bahwa lokasi ini merupakan sebuah pemandian kuno. Saya pun berdecak kagum. Pendapat kedua dikuatkan dengan diketemukannya sisa-sisa talang air yang terbuat dari batu, berlokasi sekitar 30 meter dari lokasi utama dan tampak berhulu dari bukit dibelakangnya.

 
Talang air kuno

Dari atas bukit ini, dapat terlihat pemandangan Magelang hingga Temanggung Raya. Pikiran saya pun menerawang jauh saat orang-orang dahulu bermandi ria disini dengan berbahagia karena bisa mandi sekaligus melihat pemandangan indah dan mempesona. Amazing!

**

Benda-benda bersejarah berserakan di Bandongan

Kepala Desa Banyuwangi, H. Djahuri bersama Bagus Priyana

“Saya sangat berterimakasih dan mengapresiasi kedatangan bapak ibu, adek-adek, mas dan mbak-mbak rekan-rekan komunitas Kota Toea Magelang ke tempat kami” Pak Haji Djahuri, Kepada Desa Banyuwangi Kecamatan Bandongan pagi ini menyambut kami di tempat kerjanya. Pria berusia sekitar 60 tahun tersebut didampingi beberapa perangkat desa untuk memperlihatkan koleksi benda-benda bersejarah yang diketemukan dilingkungan desanya.

“Tanggal 21 Januari 2015 lalu benda-benda ini mulai disimpan di balai desa untuk menghindari pencurian dan pengrusakan” sambungnya mengawali cerita singkat tentang benda koleksinya. Ada sekurangnya 7 buah Yoni berbagai ukuran serta beberapa batu candi, ada yang kotak dan ada yang bulat. Yoni yang terbesar belum sanggup dimasukkan ke ruangan karena saking beratnya. Bagian cerat yoni itu sudah rusak. Kemungkinan besar karena sudah dicuri orang.

Saya berjumpa dengan Pak Kholiq, seorang pegawai kantor setempat yang berujar bahwa benda-benda ini ditemukan tidak hanya di persawahan saja. Ada yang ditengah perkampungan juga dikebun-kebun. Dia juga meyakini bahwa masih banyak benda-benda lain yang kini masih belum ditemukan. Dia juga berharap bahwa benda-benda tersebut meski sudah terdaftar pada Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng, tetapi akan tetap disimpan di kantor desa Banyuwangi sehingga bisa dijadikan ikon desa . “Supaya anak cucu kita tahu dan bisa melihat langsung bahwa disini ditemukan benda-benda bersejarah ini” tutupnya.

**

Di desa Trasan masih di kecamatan yang sama, ada sebuah rumah yang biasa disebut dengan rumah gobyok. Rumah itu mengadopsi model jengki dengan suasana jawa yang lebih kental. Halamannya hijau nan rimbun dengan berbagai tanaman. Beberapa patung menghiasi depan rumah itu dan Patung Diponegoro menunggang kuda menjadi satu yang paling ikonik.

 
Patung Diponegoro di depan Rumah Perjuangan

Rumah bercat kuning itu milik Begawat Gita, pria berusia 50 tahun itu menyambut kami dalam suasana khas tempo dulu. Bagian teras rumah yang luas bisa menampung kami yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Ada banyak lukisan tertempel pada bagian tembok kanan kiri. Menu-menu tradisional dihidangkan pada beberapa set meja kursi antik.

“Rumah ini adalah rumah perjuangan” ujarnya. Rumah peninggalan kakeknya itu dibangun pada kisaran 1920. Kakeknya yang saat itu menjadi lurah menjadikan bangunan itu aman dari serangan musuh. Tentu saja, karena saat itu rumah lurah juga berfungsi sebagai kantor desa. Bangunan itu dari awal hingga saat ini tidak mengalami perubahan bentuk. Hanya penggantian tembok yang dahulu dari kayu diganti dengan semen. Selain itu, termasuk tata letak perabotan rumah tangga seperti meja dan lain-lain tidak pernah dirubah. Begawat menuturkan bahwa pada masa agresi Belanda, rumah ini dijadikan markas oleh para gerilyawan yang berkumpul setiap malamnya untuk mengatur strategi.

Berdasar informasi yang saya peroleh juga, rumah gobyok ini sudah terdaftar sebagai Benda Cagar Budaya pada Pemerintah Kabupaten Magelang sejak tahun 2009. Rumah ini merupakan bukti perjuangan rakyat dalam melawan penjajahan.

**

Bagi anda pecinta sejarah, jika berkunjung ke Bandongan jangan ragu untuk mampir di Masjid Baitul Muttaqin di Desa Trasan. Lokasinya tidak jauh dari rumah perjuangan. Sekilas dari depan masjid ini memiliki model hampir sama dengan Masjid Agung Kota Magelang. Bagian atap serambinya mirip. Saat ini masjid terlihat bersih dan modern. Tapi siapa sangka, saat memasuk ruangan utama, kita akan dibuat terheran-heran.

Bagian dalam Masjid Tiban

Disana terdapat 16 tiang atau saka penyangga terbuat dari kayu. Satu tiangnya berdiameter sekitar 15 centimeter. Tiang warna cokelat itu malang melintang membuat ruangan terasa sempit. Salah satu tiang penyangga yang terlihat tidak mulus diyakini sebagai tiang tatal yang dibuat dari kayu kecil-kecil yang disatukan. Selain itu, terdapat mimbar dengan gaya jawa kuno yang masih terkontaminasi model India. Mimbar itu mirip singgasana dengan tanpa penutup kaki saat khotib berkhutbah. “Mimbar kayu ini masih asli. Hanya saja bagian bawah sudah disemen karena sudah rapuh” begitu ungkap seorang pemandu. Mimbar itu berada menjorok pada shaf dua.

Berdasar cerita warga, masjid ini juga sering disebut dengan masjid tiban. Karena tidak diketahui siapa yang membangun. Kisah turun-temurun menyebutkan bahwa Walisongo diyakini berperan dalam pembangunannya. Bagian utama masjid hingga sekarang dipertahankan bentuk aslinya. Begitu juga dengan bedug dan kentongan juga masih asli. Tidak ketinggalan, mustoko alias kubah masjid yang terbuat dari tanah liat itu juga masih asli.

Tradisi yang berkembang pada masyarakat setempat adalah malam selikuran. Selikuran yang berarti dua puluh satu adalah  saat menyambut malam ke 21 pada bulan ramadhan. Jamaah yang yang hadir pun tidak jarang yang datang dari luar kota. Saat perayaan itu, dihalaman masjid akan ditemui bermacam pedagang makanan dan minuman untuk sahur.

Satu lagi kisah unik tentang masjid ini adalah konon masjid ini dahulu tidak berlokasi ditempat yang sekarang ini melainkan pernah digeser secara ghaib sekitar 200 meter dalam suatu malam. Percaya?

 
Peserta berfoto bersama di depan Masjid Tiban

SUMBER : http://hamidanwar.blogspot.com/

Event bulan Maret 2015 DJELADJAH SITOES & TJANDI #4 di BANDONGAN & WINDOESARI

Standard

AGENDA KEGIATAN KTM JAYA – 21 Maret 2015

Bumi Magelang yang subur ini semenjak dahulu memiliki peradaban yang tinggi. Bagaikan harta karun yang tak ternilai harganya. Berbagai peninggalan bersejarah berserakan di wilayah ini, termasuk peninggalan berupa situs dan candi yang merupakan peninggalan di jaman Hindu dan Budha. Jejak-jejak sejarahnya masih bisa kita temukan hingga sekarang, baik berupa situs, artefak maupun candi.

Lalu seperti apakah yang dapat kita saksikan hingga kini… ???
Ayo ikuti ! “DJELADJAH SITOES & TJANDI #4” di Bandongan & Windusari

#Waktu & #Tempat

– Waktu : Sabtu Wage, 21 Maret 2015
– Jam : 07.00 WIB – selesai
– Tempat Kumpul : halaman Museum BPK Komplek eks Residenan Kedu/Bakorwil Kedu – Surakarta Jl. Diponegoro No. 1 Kota Magelang

#Biaya
– Biaya Pendaftaran : Rp 15.000,- [lima belas ribu rupiah]
– Fasilitas : makan siang sederhana, makalah, air mineral, tiket masuk ke candi, parkir kendaraan.

#Pendaftaran dan #Info
– Cara Pendaftaran/info ketik : TJANDI #4 [spasi] nama Anda,
– kirim ke: 0878 32 6262 69 [Bagus Priyana]

#NB :

1. Peserta wajib SARAPAN PAGI lebih dahulu dan wajib memakai sepeda motor termasuk kelengkapannya [helm, SIM, STNK, dll]. Boleh sendirian atau berboncengan tapi tetap menjaga keselamatan dan tertib berlalu lintas selama perjalanan. Dan jangan lupa bawa payung, mantol / jas hujan ya.

2. Dresscode / warna kaos yang di pakai saat even adalah bebas.

3. Daftar ulang peserta sekaligus pembayaran beaya pendaftaran di lakukan sebelum acara di mulai yaitu di tempat kumpul yaitu di halaman Museum BPK Komplek eks Residenan Kedu/Bakorwil Kedu – Surakarta Jl. Diponegoro No. 1 Kota Magelang

4. Rundown acara sbb :
– Jam 07.00 – 07.45 WIB : daftar ulang peserta.
– jam 07.45 – 08.00 WIB : briefing dan petunjuk teknis pelaksanaan acara dari panitia.
– Jam 08.00 : mulai penjelajahan dengan rute dan lokasi kunjungan di antaranya : Magelang – situs di Trasan – Bandongan – Tonoboyo – Kalegen – Candi Batur Windusari – Candi Selogriyo. Waktu di setiap lokasi kunjungan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi perjalanan.

5. Lokasi kunjungan sangat menarik dan eksotis dengan pemandangan indah, jangan lupa bawa kamera ya. Dan siap-siap berkeringat menahan adrenalin karena beberapa lokasi kunjungan harus di tempuh dengan berjalan kaki. Dan jangan lupa tetap menjaga kebersihan selama perjalanan serta jangan membuang sampah sembarangan !

6. Hal-hal lain yang belum di tentukan akan di informasikan kemudian.

7. Kenali negerimu, pahami sejarahnya, cintai bangsamu !

SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG !

Djeladjah Moentilan : Mengenal Lebih Dekat Kelenteng Hok An Kiong dan Pasturan Muntilan

Standard

Djeladjah Moentilan : Mengenal Lebih Dekat Kelenteng Hok An Kiong dan Pasturan Muntilan

Kamis (19/2) pagi ini bertepatan dengan limur Imlek 2015, jam tujuh pagi saya sudah tiba di Terminal Tidar, Kota Magelang. Setelah menyempatkan sarapan dengan bekal dari rumah, mas Yudha datang menghampiri saya. Kita memang sudah janjian, saya minta tolong mbonceng menuju ke Metro Square.

Lokasi titik kumpul kami ada di depan kios oleh-oleh Endang Jaya. Kiranya, sudah ada 50-an yang datang untuk mengikuti event hari ini. Ya, seperti biasa berdekatan dengan perayaan Imlek, komunitas Kota Toea Magelang (KTM) rutin menggelar kegiatan napak tilas sejarah. Sukses dengan agenda Djeladjah Petjinan #1 dan #2, kali ini KTM mengambil trip yang agak jauh. Ke Muntilan.

 
para peserta berfoto sebelum keberangkatan

Dalam rangka tahun baru kambing ini, tajuk Djeladjah Petjinan sementara tidak digunakan mengingat rangkaian acara nantinya, selain mengunjungi Kelenteng Muntilan, kami juga akan melawat ke Pasturan sehingga disepakati tema Djeladjah Moentilan.

Ada banyak anggota-anggota baru dalam event kali ini. Luar biasa istimewa! Kalau saya boleh jujur, banyak peserta yang saya belum kenal dan tidak sempat berkenalan. Setelah semua peserta mendaftar ulang dengan membayar 15,000 rupiah kami mendapat fasilitas snack, air mineral, makalah dan free service makan siang nantinya.

“terimakasih kami ucapkan kepada seluruh peserta yang sudah mendaftar pada event kali ini. Pada kegiatan ini jumlah peserta tembus hingga 100 orang” buka koordinator KTM, Bagus Priyana dalam sambutan briefingnya. Dia menjelaskan tentang rute dan jadwal kunjungan sementara sebagai pembuka, kami berdoa dipimpin oleh salah seorang senior KTM, Pak Soli Saroso.

Pukul 08.00 kami bertolak menuju Muntilan. Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit kami sudah sampai di Warung Tempo Doeloe di bilangan Pucung. Para peserta diminta memarkir motor disitu untuk kemudian langsung mengawali jelajah dengan jalan kaki. Rute yang diambil melewati belakang Pasar Muntilan, kemudian masuk melalui gang Tegalslerem. Saya berada dibagian agak belakang bersama kawan-kawan akrab saya, Ryan, Anglir, Ake Ru, Gusta, Mameth dan Adhi Okta.

 
Para peserta tiba di WM Tempo Doeloe
 
Awal jelajah

Gang-gang sempit Muntilan ternyata menawarkan pesona tersendiri. Tampaknya, sampai sekarang ini gaya rumahnya bercampur baur. Lihat saja sebuah rumah hijau bergaya art deco, atau rumah susun yang saya anggap mewakili model Thailand, dan juga arsitektur jengki mewarnai sepanjang perjalanan. Bahkan di salah satu rute, kami menemukan pemukiman padat dengan paduan sungai dan rumah sederhana yang bertingkat-tingkat. “mirip dalam film Toy Story, eh Police Story” kata Ryan. “Bisa untuk syuting James Bond” timpal saya diikuti cekikian kami. “Hahaha”

 
Rumah hijau bergaya art decco

Tanpa terasa kami menembus gang di sebelah Pegadaian yang artinya kami sudah sampai di halaman Kelenteng Hok An Kiong. Disana nampak Om Andreas dan Mbak Maria Kristina sibuk menyiapkan sesuatu. Owalah, jebulnya kami disuguh pertunjukan pantomim yang diperagakan oleh Rebecca Anastasia Hartono, anaknya Om Andreas. Di akhir pertunjukan, Rebecca yang bermakeup putih itu juga membagikan angpao untuk peserta yang beruntung. 😉

 
Pertunjukan Pantomim

Hio Lo Terbesar se Asia Tenggara

Pak Budi namanya, pria berrambut memutih itu menyambut kami dan memperkenalkan sekilas tentang sejarah rumah ibadah TITD itu. “Kelenteng ini sudah ada sejak sekitar tahun 1900. Lazimnya orang menyebut kelenteng ini dengan nama Kelenteng Muntilan. Dahulunya disebelah kelenteng ini merupakan gedung hiburan sebelum akhirnya dipergunakan menjadi gedung bioskop, Kartika namanya” paparnya. Saya langsung terbayang masa kecil saya di kisaran tahun 1998 yang bila melewati depan gedung bioskop itu selalu ada poster film “saru” yang bikin saya penasaran.

 
Pak Budhi Hartaja (kanan) berbincang dengan Pak Thomas Panjanghari

Rupanya tidak banyak yang bisa diungkap dari sejarah Kelenteng yang bernama Hok An Kiong ini. Namun dari sumber yang saya dapatkan, bahwa dahulu kelenteng ini ada di seberang bangunan saat ini. Dan kemudian pada tahun 1920 dilakukan renovasi (mungkin) sekaligus memindah gedung ke lokasi saat ini. Kelenteng ini tampak lebih besar jika dibanding kelenteng Liong Hok Bio Magelang. Disini dilengkapi dengan pagar dan disayap kiri ada semacam pagoda berwarna merah “Itu aslinya ada dua, di kanan kiri. Tapi yang di kanan sudah dirubuhkan karena saat itu ada perluasan gedung hiburan. Fungsinya untuk membakar uang emas atau kertas doa setelah umat bersembahyang” jelas Pak Budi.

Kami disarankan masuk melalui pintu kiri dengan istilah pintu Naga, ukiran Naga memang terpampang besar dipintu ini. Begitu masuk, kami disambut dengan rak berisi macam-macam hio/dupa lengkap dengan  harga dan tulisan “langsung bayar”. Dibagian ini ornamen-ornamen yang tampak adalah lukisan dan pahatan dinding yang berwujud dewa-dewa.

Secara umum, ada dua bagian didalam kelenteng ini.  Ditempat saya berpijak merupakan ruang pertama yang didominasi sebuah bejana tembaga besar berdiameter sekitar 1,5 meter. Informasi yang saya dapatkan, bejana tersebut berfungsi untuk menancapkan Hio/dupa. Benda tersebut bernama Hio Lo yang didatangkan langsung dari Negeri Tiongkok dan konon merupakan yang terbesar se Asia Tenggara.

Ruang selanjutnya adalah altar utama. Saya berjumpa dengan Pak Nur Rahmat. Pria 79 tahun itu menjelaskan kepada saya tentang dewa-dewa yang ada di tempat ibadah ini. “Dewa utamanya dewa bumi atau Kong Co Ho Tek Theng Shin” seraya menujuk patung utama. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa dibagian kiri merupakan empat altar dewa yaitu, Buddha Muda, Buddha Tua, Nabi Konghuchu dan Dewi Kwan Im. “bila disebelah kanan ada beberapa dewa diantaranya, dewa keadilan untuk berdoa mencari barang yang hilang, atau dewa welas asih untuk berdoa memohon jodoh, dan juga dewa obat untuk berdoa memohon kesembuhan. Semua doa disesuaikan dengan maksud doanya” tutup pria yang mengaku sudah bekerja selama 18 tahun itu. Saya pun berterimakasih dan kemudian beranjak keluar karena waktu kunjungan tampaknya sudah habis.

 
Para peserta berfoto dengan latar gerbang Kelenteng

Lepas dari Hok An Kiong, kami menyusur pecinan Jalan Pemuda dan memotreti bangunan-bangunan yang khas dan terkesan heritage. Rata-rata model bangunannya kolonial dengan sentuhan cina. Gusta yang selama ini terkenal dengan “mblusukmen” nya tertantang untuk mencari dan memotret tegel khas.

Selain itu kami juga dilewatkan melalui Pasar Jambu. Sebuah simpul ekonomi yang memanfaatkan sebuah gang sebagai pasar. Bila dilihat hampir sama seperti Pasar Gang Tengkon Magelang. Barang-barang yang dijajakan selain jajanan khas pasar, juga kebutuhan dapur sehari-hari. Namun sayangnya, tempat ini cukup kumuh. Lihat saja atap peneduh bagian tengah yang dibuat seadanya dengan kain/plastik.

**

Mengenang Rm. Van Lith

Pukul setengah sebelas siang, kami sampai di kompleks Pasturan. Begitu datang kami disambut dengan kemegahan Gereja Santo Antonius, belum selesai mengagumi keindahan arsitekturnya, tidak kalah adalah Gedung Pasturan. Bangunan art deco itu dibangun tahun 1916 bertingkat tiga. Model bangunannya amazing sekali.

 
Gereja St. Antonius
 
Gedung Pasturan

Sembari menunggu Sang Romo, kami beristirahat dan sesekali mengobrol. Saya termasuk yang beruntung mendapat buku gratis yang masih kinyis-kinyis walaupun ternyata setelah saya lihat itu buku tahun 1994. Untuk masuk gedung pasturan ini harus melalui tangga utama dan berjumpa dengan sebuah teras luas khas Eropa. Tegel yang digunakan sangat klasik sekali. Kali ini teman saya Gusta dan Mameth yang kegirangan melihat seni tegel itu.

Limabelasan menit kemudian, Romo pun keluar dengan pakaian santai. Berkaus biru, celana jeans dan sandal jepit, beliau mulai menyambut kami “ Terimakasih sekali saya ucapkan kepada kawan-kawan Komunitas Kota Toea Magelang. Bahwa tempat ini memang merupakan sebuah kompleks yang sangat bersejarah” Romo  bernama Kristiono Purwadi itu tampak santai, humoris tapi berwibawa. Beliau menjelaskan sepak terjang misionaris Katholik di Jawa yang berawal dari Kota Muntilan ini. Bahwa pada sekitar pertengahan tahun 1800, penyebaran Katholik di Jawa di mulai. Sekolah yang kini merupakan SMA Van Lith, sebelumnya adalah SPG Van Lith dan jauh sebelumnya merupakan sekolah kolese bagi para calon pastor. “beberapa orang penting dalam misi agama Katholik merupakan lulusan sekolah itu. Ada Cornelius Simanjuntak, MGR Soegijapranata, dan lain-lain” sambungnya.

 
Romo Kristiono Purwadi memberikan penjelasan

Sang Romo yang berrambut gondrong itu juga bercerita tentang tokoh yang sangat terkenal. Van Lith namanya. Van Lith merupakan utusan dari Kerajaan Belanda yang ditugaskan untuk misi penyebaran agama Katholik yang ditugaskan di Muntilan. Berbeda dengan misionaris lain, Van Lith dalam dakwahnya menggunakan pendekatan budaya. Dimana dia senantiasa menghargai adat istiadat orang Jawa. Langkah itu tidak juga berjalan mulus hingga dia pun panen kritikan. Sampai pada suatu saat tersebutlah kisah Sarikromo yang merupakan warga wilayah Sendangsono kala itu sakit kakinya hingga tidak bisa berjalan. Karena lukanya yang mengeluarkan bau tidak sedap, Sarikromo bahkan setiap harinya harus tidur di luar rumah. Melalui firasat mimpinya yang ditemui oleh seorang berjubah putih, Sarikromo berjalan ngesot hingga Muntilan dan bertemu dengan Van Lith. Oleh Romo, Sarikromo diobati hingga sembuh dan dapat berjalan normal kembali sehingga dia sangat segan dan hormat kepada Van Lith dan akhirnya memeluk ajaran Katholik serta dibaptis dengan nama Barnabas.

Berbekal Alkitab pemberian Sang Romo, Barnabas Sarikromo pulang ke kampung halaman dan memulai berdakwah. Dalam waktu singkat, dia bahkan sanggup mengajak 171 warga kampungnya untuk memeluk ajaran Katholik. Prosesi pembaptisan 171 orang tersebut dilakukan oleh Van Lith bertempat di sebuah mata air yang kini terkenal dengan nama Sendang Sono. Mata air yang dahulunya dikeramatkan penduduk sekitar, kini berkembang menjadi tempat sakral dan menjadi jujugan peziarah.

 
Para peserta berfoto bersama di depan gedung Pasturan

Puas mendengarkan kiprah Van Lith,  kami diajak mengunjungi Gereja Santo Antonius. Gereja ini sudah ada sebelum Pasturan ada. Menurut informasi yang saya dapat pembangunan gereja itu sudah sejak tahun 1914. Bila pernah melihat klip November Rain, gambaran interior gereja kurang lebih sama. Romo Kris menjelaskan kepada kami dari atas mimbar khotbah. “Arsitektur bangunan ini memang diusahakan menjauhi kesan londo (belanda) diupayakan dengan model Jawa. Contohnya adalah lukisan dedaunan pada altar utama. Itu adalah kebudayaan kita, kebudayaan Jawa” paparnya.

 
Interior gereja

Saya juga berkesempatan menaiki lantai dua yang digunakan sebagai tempat menyimpan gamelan. Selain itu, di sisi kanan gereja, ada tiga ruangan yang digunakan sebagai ruang pengakuan dosa. Saya sempat masuk ke dalamnya. Ada sebuah kursi dingklik berbusa yang digunakan oleh jemaat dengan cara berlutut menghadap Romo yang ditunjuk sesuai dengan nama yang tertera pada bidang kamar yang berhadapan.

Karena waktu yang terbatas, akhirnya kunjungan di Gereja Santo Antonius harus berakhir dan kami segera melanjutkan ke lokasi selanjutnya masih di kompleks Pasturan.

Melawat ke Museum Misi

 
Latar depan Museum Misi Muntilan. Tampak Patung Rm Van Lith

Adalah Museum Misi. Sebuah bangunan baru dengan dilengkapi kolam dibagian depannya. Patung Van Lith menghiasi bagian tengah kolam tersebut. Dibangun pada sekitar tahun 2008, museum ini berfungsi sebagai tempat koleksi barang-barang peninggalan para Romo, Uskup, Pastur dan sebagainya. Kami disambut oleh Pak Gito yang memutarkan film tentang kiprah Van Lith. Setelah itu kami  diajak untuk berkeliling hingga lantai dua untuk melihat koleksi museum. Secara ringkas, koleksi yang ada disini adalah baju-baju para Uskup, para Romo, para Pastur, kemudian juga ada kursi, altar dan mimbar yang digunakan oleh Paus Yohannes Paulus II saat perayaan misa akbar di Yogyakarta 1989 silam.


Masih ditempat yang sama, beragam koleksi foto juga ditampilkan untuk menambah pengetahuan tentang sejarah serta perkembangan agama Katholik khususnya di Jawa Tengah.

Belum lengkap rasanya jika  kunjungan kami belum sampai di Kerkhoff. Lidah jawa biasa menyebutnya Kerkop. Lokasinya ada di seberang SMA Van Lith. Kerkhoff ini merupakan salah satu tempat ziarah umat Katholik dan salah satu nisan adalah tempat dimana Van Lith bersemayam. Di kerkhoff yang hijau dan asri ini juga ditemui sebuah tempat semacam tempat berdoa (ekaristi?) dengan belasan makam model loker yang nama-namanya terpahat pada batu dimasing-masing makamnya, lengkap dengan tempat lilin.

Kherkoff Muntilan
 
Makam Van Lith
 
Makam model loker

Hujan gerimis mulai turun, waktu menunjukkan pukul 12.30. Beberapa diantara kami segera membuka payung dan jas hujan untuk perjalanan pulang ke Warung Makan Tempo Doeloe. 20 menit kemudian kami sampai dan disambut oleh hidangan pedesaan. Kluban dengan lauk tahu tempe goreng ditambah dengan peyek teri plus minuman kesegaran, es beras kencur. Warung makan yang tidak terlalu luas membuat beberapa peserta terpaksa lesehan. Tapi tetap tidak mengurangi kenikmatan makan siang setelah berjalan bolak-balik sekitar 2,5 Km PP ini.

 
Menu makan siang (inzet)

Pukul 13,45 acara ditutup dan saya pun segera bergegas untuk menuju ke Terminal Muntilan untuk menunaikan shalat dhuhur, mandi dan mencegat bis ke Semarang. Sampai jumpa di event selanjutnya!

Gambar lainnya :

 
Persiapan pemberangkatan
 
Pakdhe Wotok dan Mas Agus (kru KTM)
 
Rumah bergaya Jengki
 
Rumah model Thailand
 
Gang Tegalslerem komoditas arang

Rumah agak modern
 
Gerbang TITD Hok An Kiong
 
Ornamen dalam Keleteng
 
Hamid Anwar
 
Eks. Bioskop Arjuna

Rumah bergaya kolonial perpaduan china
 
Hotel Purnama I. Hotel yang ingin saya coba 😀
 
Salah satu rumah tua
 
Kompleks SMP Kanisius Muntilan

Kursi jemaat di Gereja St. Antonius (kursi asli?)

Gereja St. Antonius tampak dari Jl. Kartini
 
Bruderan FIC

Perjalanan pulang
 
Rumah heritage
 
Suasana makan siang

[penulis : hamid anwar http://hamidanwar.blogspot.com/%5D