Monthly Archives: December 2016

MUSEUM BPK MEMPERCANTIK DIRI [2]

Standard

Lobi museum, terkesan eksklusif

Dalam usianya yang akan menginjak ke 70 tahun di 1 Januari 2017 mendatang, BPK ingin “menyegarkan diri” khususnya melalui Museum BPK. Usia museumpun juga akan menginjak ke 20 tahun.
Di museum ini akan di sajikan “menu baru” yang lebih segar di banding konsep sebelumnya. Berkiblat pada museum-museum di luar negeri yang mana meskipun memakai bangunan lama tetapi tampilan isinya terkesan modern. Bahkan seluruh ruangan memakai pendingin ruangan (AC) dengan penerangan lampu yang benar-benar artistik.
Pengunjung yang datang akan melalui lobi yang di kemas dalam “kemewahan” layaknya sebuah lobi hotel. Terlihat dari pemilihan material properti yang terkesan eksklusif.
Pada ruang berikutnya akan di sambut para bapak bangsa pendiri republik ini, Soekarno-Hatta. Kedua proklamator ini dengan ramah dengan senyumnya yang khas “menyambut” pengunjung.


Sebuah makna simbolik bahwa keberadaan BPK merupakan simbol kemerdekaan bangsa sebagai lembaga tinggi negara. Terlebih lahirnya BPK sendiri tidak terlepas dari pergerakan revolusi dalam rangka mempertahankan negara dan bangsa.
Home teater melengkapi ruang berikutnya yang menyajikan kisah sejarah BPK. “Dengan melihat film dokumenter ini diharapkan pengunjung mengetahui sejarah awal berdirinya BPK ini”, tutur Yuni staff museum.


Beberapa fasilitas lain melengkapi museum ini seperti kidsmuseum yaitu berupa ruang untuk mengenalkan museum kepada anak-anak. “Kidsmuseum ini bertujuan mengenalkan museum sejak dini kepada anak-anak. Tentu saja dengan cara yang menyenangkan”, kata Dewi Kepala Bagian Museum dan Perpustakaan BPK beberapa waktu lalu.


Ruang perpustakan dan arsip, ruang eksibisi (pameran) dan souvenir semakin memanjakan masyarakat yang berkunjung. Apalagi di dukung adanya kafe yang semakin membuat betah pengunjung.


Yang menarik lagi adalah mengenai jam operasional museum yaitu buka setiap hari dari jam 08.00 – 16.00 wib. Dan pada hari Sabtu dan Minggu museum tetap beroperasi, tanpa di pungut beaya alias gratis.
Jadi bagi keluarga yang ingin berwisata sejarah tidak ada salahnya berkunjung ke Museum BPK.
Ayo ke museum !

MUSEUM BPK MEMPERCANTIK DIRI [1]

Standard

Kota Magelang dikenal sebagai kota kecil dengan banyak museum yang dimilikinya. Menjadikan Kota Magelang layak disebut sebagai “kota museum/the city of museum”.
Ada beberapa museum yaitu Museum Jenderal Sudirman di Badaan, Museum Bumiputera di Poncol, Museum Taruna Abdul Djalil di Akmil, Museum Seni Rupa Oei Hong Djien di sisi barat Pecinan, Museum Diponegoro dan Museum BPK di Komplek eks gedung Residenan atau Bakorwil II di Jl. Diponegoro no. 1.


Museum Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK berada tepat di pintu masuk sisi kanan komplek eks gedung Residenan/Bakorwil. Kalau mau menuju pendopo Residenan/Bakorwil atau Museum Diponegoro pasti akan melewati museum ini. Museum ini mulai dibuka pada kisaran tahun 1997 sebagai ruang pengabadian perjalanan sejarah dari lembaga tinggi negara BPK yang lahir di Magelang pada 1 Januari 1947.


BPK ini lahir pada masa pergolakan militer dalam era mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajah. Saat di Magelang kantor BPK sendiri mengalami beberapa kali perpindahan, salah satunya pernah berkantor di gedung ini, di “residentkantoor” berusia 2 abad ini.
Sebelumnya Museum BPK hanya menempati beberapa ruang saja yaitu berisi tentang sejarah pendirian BPK, ruang arsip dan dokumentasi, ruang peralatan kerja dan ruang audio visual.


Saat ini Museum BPK berupaya untuk mempercantik diri agar lebih menarik minat pengunjung. Dengan semakin banyak pengunjung maka visi misi dari BPK sebagai lembaga negara yang tersaji lewat perjalanan sejarah dalam bentuk museum akan tersampaikan.
“Museum BPK kami benahi agar semakin banyak masyarakat yang mau berkunjung ke museum”, ungkap Dewi selaku Kepala Bidang Museum dan Perpustakaan BPK beberapa waktu lalu.


Dari beberapa data yang berhasil dikumpulkan dan pengamatan di lapangan (18/11) Museum BPK yang baru ini tampak lebih cantik. Dengan mengusung konsep “bangunan boleh lama tapi isi harus modern” terlihat begitu menarik.
Museum yang dulunya cuma 4 ruangan maka sekarang berkembang menjadi puluhan ruangan membentuk letter U menempati bekas kantor Bakorwil.
Pada bagian tengah di buatkan panggung terbuka dan tribun penonton. Di panggung ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan misalnya pentas seni, tari, musik, launching buku, lomba melukis mewarnai, dll. Tentu saja yang sebisa mungkin sesuai dengan visi misi museum.


Selain panggung terbuka dan tribun penonton di bagian tengah ini juga dilengkapi dengan taman yang cantik yang akan membuat betah pengunjung.
Beberapa ruang sebagai fasilitas utama dan pendukung di antaranya lobi, mini teater, perjalanan BPK, ruang kidsmuseum (pengenalan museum untuk anak-anak), perpustakaan, ruang souvenir, kafe, ruang eksibisi, dll.
Proses perbaikan dan pengembangan museum ini ditargetkan selesai pada Desember mendatang. “Direncanakan pada 9 Januari 2017 Museum BPK akan diresmikan”, imbuh Dewi.
Dengan semakin cantiknya museum ditargetkan 30.000 pengunjung berkunjung di museum ini dalam 1 tahunnya. “Kami akan merancang program-program yang menarik agar masyarakat mau berkunjung di museum ini. Termasuk bekerjasama dengan sekolahan-sekolahan”, tutur Dewi.

KOTA TOEA MAGELANG HADIRI PERINGATAN HARI MUSEUM INDONESIA DI AMBARAWA

Standard

Komunitas KOTA TOEA MAGELANG sebagai komunitas pecinta sejarah dan pelestarian cagar budaya selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan. Baik skala lokal, regional maupun nasional.
Salah satunya adalah dalam peringatan Hari Museum Indonesia yang jatuh pada 12 Oktober. Peringatan hari bersejarah tersebut di adakan di Museum Kereta Api/Indonesia Railway Museum di Ambarawa 27 Oktober lalu.
Dalam acara yang di adakan oleh Unit Preservation & Museum PT KAI (Persero) tersebut merupakan rangkaian beberapa kegiatan, di antaranya peresmian kereta pustaka Indonesia, peluncuran kereta wisata Ambarawa – Bedono dan bakti sosial.


Dalam sambutannya Direktur Komersil & IT PT KAI M. Kuncoro Wibowo mengatakan bahwa rangkaian kegiatan tersebut merupakan salah satu cara mendekatkan PT KAI kepada masyarakat melalui sisi edukasi, pariwisata dan sosial. Apalagi PT KAI juga sudah melakukan upaya revitalisasi dan konservasi asetnya seperti stasiun-stasiun tua yang sudah termasuk sebagai cagar budaya.


Ditekankan oleh Kuncoro bahwa bahwa PT KAI berupaya mencerdaskan masyarakat melalui perpustakaan tersebut.
“Kereta Pustaka Indonesia ini akan di tempatkan di museum kereta api Ambarawa. Sehingga pengunjung tidak hanya berkunjung di museum saja tetapi juga bisa menambah ilmu pengetahuan dengan membaca buku-buku yang ada di perpustakaan ini”, imbuh Kuncoro.


Seperti di ketahui bahwa Kereta Pustaka ini menggunakan gerbong bekas yang sudah tidak dipakai. Yang disulap pada sisi interiornya sebagai ruang baca dan perpustakaan.
Pada sisi eksteriornya di tempeli dengan sketsa beberapa stasiun tua seperti Stasiun Jakarta Kota dan Lawangsewu.
Selain itu juga di launching kereta wisata Ambarawa ke Bedono yang sudah vakum selama 3 tahun. Selesai kegiatan para tamu undangan di ajak naik kereta uap seri B 2503 menuju ke Bedono. Seperti diketahui kereta uap berbahan bakar kayu jati yang sudah berusia seratusan tahun ini merupakan primadona yang selalu di tunggu-tunggu oleh masyarakat.

PT KAI Luncurkan Kereta Pustaka Indonesia

Standard

Bertepatan dengan perayaan Hari Museum Indonesia yang jatuh 12 Oktober PT KAI meluncurkan Kereta Pustaka Indonesia. Peluncuran perpustakaan ini di laksanakan di Museum Kereta Api/Railway Museum di Ambarawa pada Kamis 27 Oktober lalu.
Direktur Komersial & IT PT KAI M. Kuncoro Wibowo mengatakan bahwa peluncuran Kereta Pustaka Indonesia ini merupakan komitmen PT KAI dalam mencerdaskan anak bangsa sekaligus menambah ilmu pengetahuan untuk pengunjung Museum Kereta Api Ambarawa.
“Kereta Pustaka Indonesia ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia”, tutur Kuncoro.


Dalam kegiatan tersebut hadir Kapolres Semarang, Kepala Dinas Parbud Jateng dan komunitas sejarah di Jawa Tengah di antaranya KOTA TOEA MAGELANG.
Kereta Pustaka Indonesia (KPI) ini merupakan salah satu upaya PT KAI dalam melestarikan dan memanfaatkan asetnya. KPI menggunakan gerbong barang kereta rel diesel (KRD) bernomor seri B 80101 yang di modifikasi dan diperbaiki sehingga masih layak pakai dan siap operasi (SO).
Proses pengerjaan KPI sendiri dilakukan di Balai Yasa Manggarai Jakarta mulai 22 Juni hingga Juli 2016 lalu.
Gerbong KPI ini berwarna putih dimana pada sisi interiornya di modifikasi untuk tempat mendisplay buku-buku, sedangkan pada lantainya di buat lesehan untuk duduk pengunjung KPI.


Yang unik, pada sisi interiornya adalah adanya sketsa 5 stasiun tua di Jakarta dan aset bangunan cagar budaya/heritage milik PT KAI. 5 stasiun tersebut adalah stasiun Tanjung Priuk, Manggarai, Jakarta Kota, Pasar Senen dan Jatinegara. Sedangkan sketsa bangunan cagar budaya milik PT KAI adalah Lawang Sewu, kantor SCS di Tegal, Stasiun Kediri, Stasiun Cilacap dan Cirebon.


Yang menarik lagi adalah KPI ini bersifat dinamis tidak statis dan mobile yang bisa dipindahkan sesuai dengan kebutuhan sekaligus sebagai bentuk kampanye perkeretaapian/railway campaign PT KAI agar lebih bernilai.

SEPUR KLUTHUK ITU KEMBALI MENJEJAK REL

Standard

Nampak di kejauhan sebuah loko berwarna hitam berjalan melambat menuju emplasemen Stasiun Ambarawa. Dibelakangnya tampak 2 gerbong berwarna di hijau kompak mengikuti.
Asap hitam pekat mengepul keluar dari corong lokonya. Seorang petugas memasukkan batangan kayu jati ke tungku pembakaran yang ada di loko tersebut. Perlu waktu 2 jam untuk mendidihkan air agar loko tersebut dapat beroperasi.
Ya, setelah selama 3 tahun “beristirahat” melayani jalur wisata antara Ambarawa ke Bedono, kereta uap atau yang biasa di sebut dengan sepur kluthuk tersebut kembali beroperasi.
Peluncuran kembali kereta wisata primadona ini dilakukan oleh Direktur Komersil & IT PT KAI (Persero) M. Kuncoro Wibowo Kamis (27/10) lalu di Museum Ambarawa. Peluncuran tersebut di tandai dengan penyiraman air bunga dan pemecahan kendi oleh Kuncoro di loko uap seri B2503 yang disaksikan oleh tamu undangan.
“Kereta uap ini merupakan primadona wisatawan di Museum Ambarawa ini. Karena itu kereta uap ini di aktifkan kembali,” tutur Kuncoro. Menurut Kuncoro, kereta uap ini “istirahat” selama 3 tahun karena kondisi jalur antara Ambarawa hingga Bedono mengalami beberapa kerusakan, terutama pada bagian “balas” dan penggantian bantalan rel dari kayu menjadi besi. Terlebih kondisi Museum Kereta Api Ambarawa yang pada saat itu sedang dalam tahap revitalisasi.
Dengan di aktifkannya kembali kereta uap ini di harapkan kunjungan wisatawan ke museum meningkat kembali. “Kereta wisata rel bergerigi ini merupakan keistimewaan dan daya tarik untuk menarik wisatawan terutama wisatawan asing”, kata Kuncoro.


Hal senada juga di sampaikan oleh Kepala Dinas Parwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah Prasetiyo Adiwibowo yang mengatakan bahwa diprediksi di tahun 2017 akan tiba 30 kapal pesiar dari luar negeri yang akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, meningkat dari tahun 2016 yang cuma 25 kapal pesiar saja.
“Ini peluang bagi Jawa Tengah untuk meraih devisa dari wisatawan asing melalui wisata”, tandas Adiprasetiyo.
Sesudah resmi diluncurkan, para tamu undangan di ajak “menjajal” sepur kluthuk tersebut menuju Bedono.
Beberapa peserta bahkan ada yang berpakaian tempo doeloe ala priyayi dan meneer Belanda, sebagaimana yang dipakai oleh personel Komunitas KOTA TOEA MAGELANG.
Dengan 2 gerbong dan kapasitas penumpang 80 orang para tamu undangan di ajak bernostalgia melewati rel bergerigi sejauh 9 km.
Loko B2503 sendiri sudah berusia lebih dari 100 tahun dan menjadi andalan bersama loko B2502 untuk melayani jalur wisata antara Ambarawa ke Bedono.
Perjalanan menuju ke Bedono di tempuh dalam waktu 1,5 jam untuk berangkat dan 1 jam untuk pulangnya. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang indah berupa lanskap Rawapening, perbukitan dan kebun kopi.
Uniknya sesudah sampai di Stasiun Jambu loko yang tadinya berada di depan berpindah di belakang gerbong. Fungsinya untuk mendorong gerbong menuju tanjakan melalui rel bergerigi.
Sebagaimana diketahui, ketinggian Stasiun Ambarawa ada di 474,4 dpl, sedangkan Stasiun Ambarawa di 711 dpl. Karena perbedaan ketinggian yang sangat besar dan kemiringin jalur rel sebesar 35 derajat maka pada jalur rel antara stasiun Jambu memakai rel bergerigi.
Di Indonesia terdapat 2 tempat yang memakai rel bergerigi. Selain di Ambarawa juga ada di Sawahlunto Sumatera Barat. Sedangkan di luar negeri cuma ada di India.
Salah seorang peserta dari Komunitas KOTA TOEA MAGELANG bahkan sangat menikmati perjalanan ini. “Saya baru pertama kali naik sepur kluthuk ini. Sensasinya luar biasa. Meskipun berjalan lambat tapi asyik banget”, tutur Pakde Wotok.
Pemandu perjalanan Sudono mengatakan bahwa booking kereta wisata memakai loko uap ini sangat mahal.
“Dulu sewanya 15 juta untuk 2 gerbong dengan kapasitas 80 orang, tapi setelah peluncuran ini harganya akan naik. Tapi belum tahu berapa harga sewanya sekarang, tetap harus di booking dulu”, imbuh Sudono.
Meski demikian jika masyarakat ingin menaiki kereta dengan harga terjangkau bisa naik kereta diesel jurusan Ambarawa ke Tuntang seharga 50 ribu rupiah.
Tetapi hanya beroperasi di hari Minggu saja yaitu pada jam 10.00, 12.00 dan 14.00 dengan langsung membeli di loket Stasiun Ambarawa.