Monthly Archives: November 2014

DAPATKAN KALENDER TAHUN BARU 2015 BERTEMA “MAGELANG TEMPO DOELOE” !

Standard
PENGOEMOEMAN !
Segera hadir kalender tahun 2015 edisi “Magelang Tempo Doeloe”.
Ukuran kertas A3/doubel folio [35 x 47 cm] dengan bahan art paper 150 gram,dengan isi 6 lembar format 2 bulanan plus 1 lembar sebagai cover [total 7 lembar].
Harga Rp 25.000,-.
Konsep kalender mengenai foto-foto Kota Magelang di kisaran tahun 1930-an dan 1950-an, seperti Klenteng & Tugu Listrik ANIEM, Jalan Bayeman tempo doeloe, Bioskop Bayeman 1950-an, Menara Air MInum 1957, Gereja Katolik 1950-an, Masjid Kauman 1950-an, Bukit Tidar 1936, dll.
Plus pada sisi bawah foto terdapat iklan tempo doeloenya di tahun 1935 dan 1938.
Di cetak terbatas. SPECIAL & LIMITED EDITION.
Anda berminat ?
Hubungi saya di 08783 2626269 [Bagus Priyana]

Cover depan

BULAN JANUARI-FEBRUARI 2015

BULAN MARET-APRIL 2015

BULAN MEI-JUNI 2015

BULAN JULI-AGUSTUS 2015

BULAN SEPTEMBER-OKTOBER 2015

BULAN NOVEMBER-DESEMBER 2015

MELACAK TOPONIM NAMA KAMPUNG TEMPO DULU DI KOTA MAGELANG

Standard

Penamaan daerah, tempat atau jalan dikenal sebagai toponim dan sudah dikenal masyarakat sejak awal keberadaannya. Kata toponim berasal dari bahasa Yunani topos dan nomos. Topos berarti tempat, sedangkan nomos berarti nama. Jadi pengertian toponim adalah nama suatu tempat. Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian toponim tidak hanya pada nama suatu tempat tetapi lebih luas yaitu pada upaya untuk mencari asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologi nama suatu tempat/daerah.
Kajian tentang toponim/asal muasal nama suatu tempat sangat erat kaitannya dengan kajian sejarah. Latar belakang penamaan suatu tempat/daerah tentu tidak lepas dari proses menemukan hal-hal yang khas yang dapat menjadi identitas suatu tempat/daerah atau pemukiman.Toponim mampu memberikan gambaran mengenai latar belakang dinamika masyarakat dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di suatu tempat yang ingin diabadikan atau diingat oleh masyarakat. Pelacakan toponim tempat /daerah mempunyai peran dalam menelusur latar belakang kesejarahan dan aktivitas atau kondisi awal saat tempat/daerah itu terbentuk.

“Magelang”, dari mana berasal ?

“Magelang” menurut beberapa sumber dan penelusuran seperti halnya oleh MM. Sukarto K Atmojo yang teringat adanya nama sebuahdesa kuno yang rupa-rupanya terletak di antara Parakan, Temanggung dan Yogyakarta. Nama desa kuno itu adalah Glang-glang, Galang dan Glam (Glang). Dalam prasasti yang berasal dari abad X Masehi di katakan bahwa desa Glam (Glang) adalah sebuah sima dan di daerah itu di puja tokoh dewa [bhatara]. Lalu di perkirakan nama Glang-glang itu yang kemudian mendapat imbuhan prefiks ma lalu menjadi Maglang = Magelang. Nama Glang berarti lingkaran = gelang. Lingkaran itu melambangkan mandala = daerah suci, lambang kosmos, yang di tengah-tengahnya terletak sebuah lingga atau sebuah gunung. Lalu di perkirakan bahwa Gunung Tidar yang di anggap sebagai paku pulau Jawa itulah sebagai titik tengahnya.
Menurut Ir.R.C.A.F.J. Nessel van Lisa, Burgemeester Magelang dalam Majalah “Magelang Vooruit” No. 10 Juli 1936, nama Magelang berasal dari kata “Mahagelang” atau gelang yang sangat besar. Magelang merupakan wilayah yang di kelilingi oleh gunung-gunung yang seolah-olah merupakan gelang yang sangat besar. Yaitu Menoreh, Sumbing, Sindoro, Ungaran, Telomoyo, Merbabu dan Merapi.
Menurutnya juga bahwa Magelang berasal dari kata-kata Jawa yaitu “Atepung temu gelang”. Ini terjadi pada abad ke 16 atau tahun 1575 pada jamannya Panembahan Senopati raja Mataram. Diceritakan pada waktu Panembahan Senopati memperluas daerah untuk penghunian di daerah hutan Kedu [Babad Alas Kedu], Raja Jin yang berkuasa di hutan Kedu selalu mengadakan gangguan yang banyak menimbulkan banyak korban manusia. Penangkapan Raja Jin ini dilakukan secara pengepungan rapat atau pagar betis atau bahasa Jawanya “atepung-temugelang”. Kata “Atepung Temugelang” inilah yang kemudian menjadi sebutan nama Magelang.
Lalu sejak kapankah sebutan Magelang itu muncul ? Apakah nama itu di ambil nama dari Glang-glang atau dari Maha Gelang atau dari Atepung Temu Gelang atau dari kata cumlorot karena indahnya atau dari magele wis ilang ? Semua itu hanyalah perkiraan saja, tetapi menurut Mardjaban yang pernah menjabat sebagai Residen Kedu, suatu daerah sudah dapat di namakan kota bila sudah ada penduduknya, ada pemerintahannya dan tentaranya. Yang jelas Magelang ini dahulunya merupakan sebuah desa, yang kemudian di kembangkan menjadi sebuah kota, lalu di jadikan sebagai ibukota Karesidenan Kedu dan juga ibu kota Kabupaten Magelang. Lalu menjadi Kota Gemeente dan setelah kemerdekaan menjadi Kotapraja, Kotamadya dan Kota.
Beberapa nama desa kuno yang tercantum dalam prasasti batu maupun prasasti tembaga yang di buat pada abad IX atau X Masehi [Prasasti Mantyasih, Poh dan Gilikan] antara lain menyebutkan adanya nama desa Mantyasih yang sekarang menjadi Meteseh. Ada pendapat lain yang menyebutkan jika kata Meteseh merupakan perubahan dari istilah Belanda yaitu MOOI UITZICHT yang berarti pemandangan yang bagus karena letak kampung ini berada di sisi Kali Progo dengan pemandangan yang indah ke Gunung Sumbing dan Perbukitan Giyanti. Lalu orang Jawa menirukannya sesuai dengan lidah orang Jawa menjadi Meteseh.
Kalau dalam prasasti-prasasti maupun dalam penulisan sejarah tidak ada yang menyebut nama “MAGELANG”. Namun menurut Ir.R.C.A.F.J. Nessel van Lisa, nama Magelang baru di bicarakan orang pada permulaan abad ke 19. Dahulu wilayah ini di sebut dengan “kebondalem” yang di perintah oleh seorang “demang” hamba Sri Susuhunan. Kebondalem artinya “kebon raja” karena wilayah ini merupakan kebun milik raja Susuhunan Surakarta. Menurut cerita, dahulu kala Sri Susuhunan di Solo mempunyai kebun yang luas yang di tanami kopi, sayur mayur dan buah-buahan. Sebagai upeti maka Demang Kebondalem setiap bulan harus mempersembahkan sebagian hasil kebun itu kehadapan raja.
Kebun milik raja ini di tanami dengan kopi, sayur-sayuran dan buah-buahan. Sisa-sisanya tempat ini masih dapat di temui, yaitu Botton Kopen [dahulu kebun kopi], Kebonpolo [bekas kebun pala], Kemirikerep/Kemirejo [bekas kebun kemiri], Jambon [bekas kebun Jambu], Bayeman [bekas kebun Bayam].
Dalam majalah “Magelang Vooruit” bulan November 1935 menyebutkan :
Almarhoem R.A. Danoeningrat I jang mendirikan roemah Kaboepaten dan seboeah mesdjid, boleh dipandang sebagai jang mendirikan negeri Magelang. Doeloe roemah Kaboepaten jang didirikan itoe ditempat Geredja Protestan sekarang ini letaknja, dalam daerah desa Magelang. Asal moelanja tempat itoe bernama “Keboendale”, diperintah oleh seorang “Demang” hamba Seri Soesoehoenan.
Kebondalem artinya “keboen radja”. Menoeroet tjeritera dahoeloe kala Seri Soesoehoenan di Solo berkeboen jang loeas di tanami kopi, sajoer-majoer dan boeah-boeahan. Sebagai oepeti maka Demang Kebondalem tiap-tiap pendoedoek Magelang tahoe, maka kampoeng Keboendalem itoe hingga sekarang masih tetap adanya.

Asal usul/toponim nama kampung.

Kawasan perkampungan di Kota Magelang terbentuk dari beberapa unsur yaitu jalan dan kampung-kampung kecil yang ada di dalamnya. Sedangkan penamaan kampung-kampung yang ada mempunyai beberapa ciri yaitu :
– Nama kampung berkaitan dengan perkembangan aktivitas ekonomi dan pekerjaan
[Tukangan, Nambangan, Keplekan]
– Nama kampung yang menggambarkan situasi dan kondisi alamiah atau lingkungan
setempat/geografis
[Kedungsari, Tegalsari, Cacaban, dll]
– Nama kampung yang berkaitan dengan tokoh masyarakat yang ada di daerah tersebut [Prawirokusuman, Bogeman, Potrobangsan, dll]
– Nama kampung yang terkait dengan flora
[Kemirirejo, Kebonpolo, Bayeman, dll]
– Nama kampung yang terkait dengan etnisitas tertentu
[Pecinan]
Dari uraian di atas maka dapat diperkirakan beberapa nama kampung dapat di ketahui asal muasal penamaannya. Berikut ini berdasarkan tulisan Sumartono, BSc berjudul “Sekilas Menelusuri Sejarah Magelang” 1988, sebagai berikut :

– KRAMAT : tempat tinggal Kyai Kramat
– DEKIL : tempat berhenti/istirahat “ngendhek sikil”
– NGEMBIK : tanah yang lembek
– RINGINANOM : kebun/tempat tumbuhnya pohon Beringin muda
– KUPATAN : tempat orang membuat kupat
– KEDUNGSARI : tempat rendah yang rendah dan banyak air
– PUCANGSARI : banyak tumbuh Pohon Pucang
– KEBONSARI : kebun yang indah dan banyak air
– POTROBANGSAN : tempat tinggal Kyai Potrobongso
– POTROSARAN : tempat tinggal Kyai Potrosaran
– TUGURAN : pos tempat menyampaikan informasi “tugor”
– KEBONDALEM : kebun kepunyaan raja/”dalem”
– WATES : tempat pos penjagaan “wates”
– SANGGRAHAN : tempat singgah dan sanggrah/istirahat dan tempat tinggal Kyai Sanggrah
– CANGUK : tempat :ingak-ingok” yaitu tempat mengintai/melihat kemungkinan yang ada
– JAMBESARI : tempat yang banyak di tanami jambe/pinang
– KEBONPOLO : kebun yang banyak di tananmi pohonm Polo/Pala
– PINGGIR : tempat yang paling tepi/pinggir dan letaknya di atas Kali Elo
– BOTTON : tempat tinggal Kyai Sembotho
– GELANGAN : tempat tinggal Kyai Melik yang dapat membangun tempat itu bagai atemu gelang
– PONGANGAN : “gua lempung kang menga” atau gua tanah yang terbuka
– KWAYUHAN : tempat tinggal Kyai Surowidjojo dan mempunyai istri kedua [mewayuh]. Pada jaman Belanda banyak orang perempuan yang tinggal di kampung ini diselir [di wayuh] oleh orang-orang Belanda
– NGENTAK : tanah gersang yang luas dan kalau pada musim kemarau bukan main panasnya [ngentak-ngentak]
– PONCOL : tanah yang menonjol
– PANJANG : tempat tinggal Kyai Sepanjang
– JURITAN : tempat menampung para prajurit.
[Ada beberapa versi di antaranya menampung prajurit Diponegoro setelah penangkapannya dan tempat tinggal prajurit Kadipaten Magelang].
– SAMBAN : dari bahasa Cina “sam ban” yang artinya tiga puluh ribu prajurit yang di butuhkan
– BOGEMAN : tempat tinggal Kyai Bogem
– CANDISARI : tempat yang akan didirikan sebuah candi
– REJOWINANGUN : dahulu bernama Karang Punthuk karena milik Mangunrejo maka namanya di ganti Rejowinangun
– PATEN GUNUNG : tempat meninggalnya Joko Pati
– KLIWONAN : tempat meninggalnya Kliwon yang sakti dan gagah berani tetapi antek Belanda
– JARANAN : tempat meletakkan/kandang kuda/jaran dan banyak orang di sini yang memelihara kuda/jaran
– KEPLEKAN : bekas tempat orang bermain judi
– KARANGGADING : tempat meninggalnya Roro Gading anak Mangunrejo dan juga di tempat ini tumbuh Pohon Kelapa Gading
– KARANG KIDUL/LOR: tanah kering yang banyak di tumbuhi tumbuhan besar dan kecil
– TUKANGAN : tempat para tukang
– NAMBANGAN : tempat tukang tambang
– TUGU WOLU : disini ada delapan/wolu buah tugu
– MALANGGATEN : tempat tinggal Kyai Malanggaten
– PRAWIROKUSUMAN: tempat tinggal Prawirokusumo
– TIDAR : letaknya di sekitar Gunung Tidar
– KRINCING : jatuhnya “terbang” yang di gunakan Syeh Subakir berbunyi “krincing-krincing”
– SAWE : tempat untuk tanda sesuatu/tempat menyebarkan sesuatu
– CAMPUR : bermacam-macam barang ada di tempat ini
– NANGGULAN : tempat tanggul sungai/kali
– DUDAN : tempat tinggal Kyai Duda
– MAGERSARI : banyak para pendatang yang mendirikan pondok-pondok yang diwarnai banyaknya para batur/abdi
– JATEN : tempat menumpuk kayu jati
– MIJIL : berdiri gunung kecil/gumuk yang “mijil”/menyendiri dari gumuk- gumuk yang lain
– JURANGOMBO : alur rendah di lereng Gunung Tidar yang luas/”ombo”
– KARET : banyak ditumbuhi Pohon Karet
– JAGOAN : tempat tinggal Kyai Sawunggalih yang mempunyai ayam jago yang menangan kalu di adu
– KEMIRIREJO : banyak ditumbuhi pohon Kemiri
– BAYEMAN : banyak ditumbuhi sayuran bayam
– MUDAL : sumber air yang yang besar tak pernah berhenti [mudal-mudal]
– TENGKON : tempat tinggal Tengku Safuan
– KEBON : tempat kebon [berasal dari kata :kebon kantil]
– SINGORANON : tempat tinggal prajurit Mataram Singoranu
– CACABAN : tempat yang tergenang air bila Sungai Progo banjir dan banyak orang di sini yang di cap abang
– JAMBON : banyak di tumbuhi/kebon jambu
– NGUPASAN : tempat tinggal para opas
– KERKOPAN : tempat makam Belanda/”Kerkhoff”
– JENDRALAN : perumahan para Jenderal
– KAUMAN : tempat para kaum/dekat masjid
– JAYENGAN : tempat tinggal Kyai Jayeng
– KEJURON : tempat para pendidik/guru
– KEJAKSAAN : tempat tinggal para Jaksa [biasa di sebut dengan Kampung Jeksaan]
Selain nama kampung seperti di atas, di beberapa tempat juga dapat di ketemukan toponimnya. Seperti halnya sebagai berikut :
– DUMPOH : dari kata “kedung poh” yaitu “kedung” yang berarti tempat yang dalam di sungai dan “poh” yang berarti pohon poh. Kampung Dumpoh sendiri terletak di tepi Sungai Progo
– BOTTON KOPEN : dahulu merupakan kebun Kopi dan hingga kini di wilayah ini masih dapat di ketemukan sisa-sisa perkebunan kopi di Kampung Botton Tegal/sebelah utara Botton Tegal
– BOTTON BALONG : tempat yang dahulu merupakan tambak/balong
– BOTTON NAMBANGAN : tempat orang menambang
– TEGALSARI : kebun/tegal yang indah
– MAGERSARI : tanah milik keraton
– DUKUH : sebuah kampung kecil/dukuh
– KEBON KANTIL : kebun Pohon Kantil
– PECINAN : tempat tinggal orang-orang Cina
– PASAR TELO : tempat pasar yang menjual ketela/telo
– BARAKAN : tempat yang banyak baraknya, kemungkinan dahulu di gunakan untuk penampungan para pengungsi bencana Merapi
– DJATEN : tempat menimbun kayu jati
– GROBAGAN : tempat menyimpan grobag
– KAWATAN : tempat menimbun/menyimpan kawat
– TULUNG WOT : kampung yang ada jembatannya [wot]

Nama kampung yang tidak diketahui toponimnya.

Beberapa kampung bahkan belum diketahui toponimnya, seperti halnya :
SEKERTEN, KRIYAN, BUTEKAN, DALANGAN,  SENTUL, GLONO, GARONGAN,
PAJANGAN, BODONGAN, SANDEN, SIDOTOPO, DEKIL, MENOWO, SEMPLON,
BADAAN,  KIRINGAN, CAWANG, NGAGLIK, SANTONGAN, PLALANGAN

Nama kampung yang kurang dikenal.

Perkembangan jaman yang senantiasa dinamis membuat beberapa nama kampung menjadi
Kurang dikenal karena sesuatu hal. Antara lain
– WATES : GARONGAN
– PANJANG : BALEKAMBANG, DANUDURJAN, GENDINGAN, KARET, NGEMPLAK
– KEMIRIREJO : JAGALAN, KEMIRIREJO KRAJAN, BAYEMAN TEGAL
– JURANGOMBO : KARANGKULON, JURANGAN
– REJOWINANGUN : TEGALSARI, GLINDINGAN, GROBAGAN, NGENCIKAN, SANTONGAN, SLETERAN, JATEN, MAGERSARI MIJIL, MAGERSARI TEGAL
– MAGELANG : BOTTON LOR, BOTTON KIDOEL, PANGGOENGSARI
– TIDAR : KARANGGADING DUWED
– POTROBANGSAN : SEKERTEN, BUTEKAN
Selain itu ada juga beberapa nama kampung yang namanya semakin “pendek” karena untuk memudahkan pelafalan/penyebutan, yaitu :

– TULUNG DUWUR menjadi TULUNG
– KEBON KANTIL menjadi KEBON

Bahkan ada yang berubah sama sekali yaitu :
– TEGALSARI menjadi TUKANGAN KULON
Kampung yang hilang

Selain itu pada sebuah arsip berjudul “Notulen der vergaderingen, Verhandelingen, Mededeelingen en Verslagen” dari Koninklijk Instituut 1880-1881 terdapat sebuah peta kuno yang memuat tentang pembangunan komplek militer baru di Magelang di mana di wilayah yang akan di jadikan tangsi militer ini terdapat beberapa kampung, yaitu :
– KEPOETREN
– PRENTAHAN
– DJOERANGAN
– GRIENTING
– NGEMPLAK

Nah karena akan di bangun sebuah komplek militer yang luas maka warga di kampung itu di pindahkan. Kampung Kepoetren dan Prentahan menjadi komplek Hospitaal Militair/rumah sakit tentara. Kampung Djoerangan menjadi mess militer di Jl. Ambon dan Jl. Seram di depan Pasar Kebonpolo sekarang ini. Sedangkan kampung Grienting sebagian berubah kompleks tangsi dan kampung Ngentak.
SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG !

[di paparkan dalam acara sarasehan sejarah Bersama Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang
Kamis Wage, 6 Nomveber 2014 di Gedung Perpustakaan, Arsip dan Dokeumentasi Kota Magelang]

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG MINGGU WAGE 16 NOVEMBER 2014 ‘BIKE TO MUSEUM’

Standard

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG – 16 November 2014

Kota Magelang di kenal juga sebagai kota perjuangan, bukan hanya karena di kota ini terdapat tangsi militer yang sudah ada sejak jaman Belanda. Akan tetapi tempat ini juga menjadi tempat perlawanan, dan perjuangan anak bangsa, baik di jaman kolonial, kemerdekaan dan pasca kemerdekaan.

Berbagai peninggalan di jaman itu masih dapat kita saksikan hingga kini dalam bentuk museum. Tidak hanya sekedar menjadi tempat penyimpanan benda sejarah semata, akan tetapi museum tersebut juga merupakan sebuah rangkaian cerita besar dan bernilai tinggi bagi bangsa ini. Museum-museum inilah yang membuktikan bahwa Magelang merupakan kota terpenting dalam kisah perjalanan bangsa ini, seperti halnya Museum Jenderal Sudirman, Museum Bumiputera, Museum Taruna Abdul Djalil, Museum Diponegoro dan Museum BPK.

Jika anda ingin mengunjungi dan belajar langsung tentang perjuangan anak bangsa ini melalui museum, ayo ikuti event yang merupakan kerja sama dengan kantor DISPORABUDPAR/DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN & PARIWISATA KOTA MAGELANG berikut ini :

#ACARA
– Nama Acara : DJELADJAH MOESEOEM PERDJOEANGAN/BIKE TO MUSEUM

#PADA
– Waktu : Minggu Wage, 16 November 2014
– Jam : 06.30 – 15.00 WIB
– Tempat Kumpul : halaman parkir Alfamart Jl. Pahlawan Botton [depan SMPN 1 Magelang]

#KONTRIBUSI
– Kontribusi : Rp 15.000,-
– Fasilitas : air mineral dan sepeda

#PENDAFTARAN & #INFO
Cara pendaftaran :
ketik : MUSEUM [spasi] Nama Anda
kirim ke 0878 32 6262 69 [Bagus Priyana].

#NB :
1. Jumlah peserta di batasi sejumlah 50 orang di karenakan jumlah sepeda yang kami sediakan hanya sebanyak 50 buah. Karena itu untuk peserta DJELADJAH MOESEOEM PERDJOEANGAN” akan kami prioritaskan untuk kawan-kawan yang telah mengikuti event Remboeg Sedjarah “Melacak Toponim Nama Kampung Tempo Dulu di Kota Magelang” yang telah dilaksanakan pada tanggal 6 November 2014 yang lalu di Gedung Bumi Kyai Sepanjang.

Jika ada peserta DJELADJAH yang mendaftar tetapi tidak mengikuti acara Remboeg Sedjarah 6 November yang lalu maka kami mengenakan “daftar tunggu”, yaitu peserta tersebut menunggu jika ada sisa kuota sepeda yang kami sediakan

2. Calon peserta yang mendaftar akan kami beri nomer pendaftaran. Jika sudah resmi mendapat nomer pendaftaran maka calon peserta tersebut telah resmi tercatat pada data pendaftaran kami. Jika belum mendapat nomer pendaftaran maka calon peserta tersebut merupakan “daftar tunggu”.

Pendaftaran peserta sampai dengan hari Jumat 14 November 2014 jam 18.00 WIB. Dan peserta resmi akan kami hubungi lagi sebagai konfirmasi kegiatan pada hari Sabtu 15 November 2014.

3. Bagi peserta yang bersepeda motor wajib memarkirkan kendaraannya di halaman parkir Nikita Futsal [sebelah utara SMPN 1 Magelang di Jl. Pahlawan Botton.

4. Rencana agenda kegiatan sbb :
– Jam 06.30 – 07.15 : daftar ulang peserta dan pembayaran kontribusi.
– Jam 07.15 – 07.30 : briefing dari panitia dan pemaparan petunjuk teknis
– Jam 07,30 – 07.45 : perjalanan menuju Museum Jenderal Sudirman di kawasan Badaan.
– Jam 08.00 : pelepasan peserta oleh panitia dari kantor Disporabudpar Kota Magelang.
– Jam 08.00 – 12.00 : pejalanan DJELADJAH MOESEOEM PERDJOEANGAN sejauh kira-kira 10 km dengan rute sbb :
Museum Jenderal Sudirman [start]- kawasan tangsi militer Rindam – Museum Bumiputera – Aloon-aloon – Jl. Pemuda – Jl. Tidar – Jl. Gatot Subroto – Museum Taruna Abdul Djalil – TMP Giridarmoloyo – Jl. Gatot Subroto -Jl. Tentara Pelajar – Aloon-aloon – Jl. Veteran – Museum Diponegoro – Museum BPK – Jl. Pahlawan – Museum Jenderal Sudirman [finish]

5. Pakaian bebas dan nyaman, sangat di anjurkan jika memakai pakaian bertema perjuangan. Jangan lupa memakai handuk kecil untuk penyeka keringat dan kaos/baju cadangan.

6. Membawa mantol / payung (mengingat memasuki musim hujan)

7. Sesudah sampai di finish [Museum Sudirman] pada jam 12.00 WIB peserta akan di hibur oleh pementasan Wayang Slumpring oleh dalang Ki Sambi.

8. Dilanjutkan dengan “SARASEHAN SEJARAH DAN BUDAYA” bertema “MENGUAK SEJARAH PALAGAN MAGELANG/PERTEMPURAN 3 HARI 2 MALAM” pada jam 13.00-14.00 WIB dengan nara sumber yang kompeten di bidangnya.

9. Acara akan di akhiri dengan pementasan fragmen perjuangan bertema “PALAGAN MAGELANG” oleh kawan-kawan dari komunitas MAGELANG KEMBALI” kira-kira pada jam 14.00 WIB.

10. Info acara dan pendaftaran 0878 32 6262 69 [Bagus Priyana]

SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANGAGENDA KOTA TOEA MAGELANG – 16 November 2014

Agenda event KOTA TOEA MAGELANG – Kamis 6 NOVEMBER 2014 dengan tema “MELACAK TOPONIM NAMA KAMPUNG TEMPO DULU DI KOTA MAGELANG”

Standard

Agenda KOTA TOEA MAGELANG – 6 NOVEMBER 2014

Wilayah Kota Magelang sudah menjadi pemukiman sejak seribu tahun yang lalu. Dengan di kelilingi oleh 7 gunung dan 2 sungai besar menjadikan wilayah subur ini menjadi tempat hunian yang nyaman. Dari mulanya hanya beberapa rumah saja maka menjelma menjadi sebuah dusun, desa, kademangan dan seterusnya hingga menjadi kota seperti sekarang ini. Dari jaman Hindu, Budha, kolonial, kemerdekaan dan sampai kini tempat ini menjadi wilayah penting di masanya.

Nama-nama kampung pun bermunculan dengan nama-nama yang di ambil sesuai kondisi di saat itu dengan berlatar belakang nama tokoh, golongan, pekerjaan, tetumbuhan, tempat, peristiwa, kondisi geografis, dll. Seperti halnya Kebonpolo, Botton Kopen, Meteseh, Potrobangsan, Cacaban, Ngupasan, Kemirirejo, Tegalsari, Magersari, Jaranan, Pawirokusuman, Badaan, dan lain-lain.

Lalu seperti apakah sebenarnya asal mula / toponim penamaan kampung-kampung tua di masa lalu di wilayah Kota Magelang? Anda penasaran dan ingin tahu tentang asal mula penamaan kampung-kampung tersebut?

Ayo ikuti event ini yang merupakan kerja sama antara Kantor Perpustakaan, Arsip & Dokumentasi / PAD Kota Magelang dengan Komunitas KOTA TOEA MAGELANG dalam rangka memeriahkan FEStival BUKu (FESBUK) 6 – 10 November 2014 di Gedung Bumi Kyai Sepanjang.

#ACARA
– Acara : REMBOEG SEDJARAH dengan tema “MELACAK TOPONIM NAMA KAMPUNG TEMPO DULU DI KOTA MAGELANG”

#PADA
– Waktu : Kamis, 6 November 2014 – Jam : 18.30-20.30 WIB
– Tempat : panggung dalam Gedung Bumi Kyai Sepanjang Jl. Kartini No. 4 Kota Magelang [300 meter sebelah barat Aloon-aloon]

#KONTRIBUSI
– Kontribusi : Rp 5.000,- [fasilitas : materi makalah]

#PENDAFTARAN dan #INFO
Ketik : KAMPOENG [spasi] NAMA ANDA
kirim ke : 0878 32 6262 69

Pendaftaran ditutup sampai dengan hari Rabu 5 November 2014.

Kenali kotamu, pelajari sejarahnya dan cintai bangsamu !
SAVE HISTORY & HERITAGE !