Monthly Archives: May 2013

Societeit “De Eendracht”, Magelang, tempat tuan dan nyonya berdansa

Standard

Kota Magelang di jaman Belanda menjadi tempat hunian yang sangat nyaman dan sejuk udaranya. Bagaimana tidak karena posisinya yang di kitari gunung-gunung dengan pesona pemandangan bak permadani nan indahnya. Terlebih lagi Kota Magelang di jadikan sebagai pusat pemerintahan seperti sebagai ibukota kabupaten, karesidenan, gemeente dan stadsgemeente . Di tambah pula sebagai pusat militer di Jawa Tengah. Lengkap sudah bahwa Kota Magelang menjdi kota terpenting di jamannya.

Melihat hal itu pemerintahan pada waktu itu berupaya meningkatkan fasilitas sarana kota bagi warganya, seperti pendidikan, kesehatan, taman, pasar, jalan, transportasi termasuk tempat hiburan. Lalu tempat seperti apa ya di masa itu ?

Karena pada waktu itu banyak orang Belanda di Magelang maka budaya baratlah yang di bawa. Sebuah tempat sebagai pelepas lelah dan hiburan maka di dirikanlah sebuah Societeit atau kamar bola, mirip diskotik atau tempat bola sodok di masa kini. Saat itu yang ada adalah Societeit “De Eendracht” namanya. Lokasinya di sisi timur laut dari Aloon-aloon Magelang [sekarang menjadi Bank BCA di pojok Alun-alun].

Peta Kota Magelang tahun 1923, Societeit de Eendracht ada di pojok timur laut Aloon-aloon Magelang

Belum di ketahui secara pasti sejak kapan Societeit “De Eendracht” ini di dirikan. Akan tetapi sebuah foto tempo doeloe di tahun 1892 telah menunjukkan keberadaan dari societeit itu.

Societeit “De Eendracht” di tahun 1892 [Officierssociëteit te Magelang 1892]

Posisinya yang strategis di pusat kota menjadikan betapa penting peran dari Societeit “De Eendracht” ini. Di sekitar Aloon-aloon sendiri pada saat itu sudah ada masjid kauman, protestankerk, gereja katolik, rumah bupati Magelang, MOSVIA, Restoran Bandung [bangunan utara Gardena], Bioskop Roxy [sekarang Gardena], Bank Escompto [sekarang eks Hotel Mulia], Hotel Loze [sekarang Matahari], Kelenteng , Landraadgebouw [sekarang Bank Jateng]. Terlebih lagi dekat dengan stopplats kereta api dan kantot pos. Bisa di bayangkan betapa ramainya suasananya pada waktu itu.

Societeit “De Eendracht” di sebelah kanan,  [Gezicht op Aloon-aloon met Societeiten op den Soembing te Magelang, 1910.]
Collectie : Pretenkabinet Universiteit Leiden.

Societeit “De Eendracht”, Magelang di tahun 1910 berdampingan dengan rel kereta api di sisi kanannya. [Collectie : KITLV Pictura]

Berada di Aloon-aloon Noord yang berdampingan dengan grooteweg noord atau jalan raya utara menjadikan Societeit “De Eendracht” berada pada posisi strategis. Pada saat itu pengunjungnya kebanyakan adalah orang-orang Belanda. Orang pribumi dan timur asing memiliki societeit sendiri. Untuk orang pribumi ada di kampung Jambon sedangkan orang Cina ada di Prawirokusuman [sekarang Jalan Tarumanegara]. Bahkan societeit untuk militer pun juga ada, yaitu di belakang Hoofwacht auditie militair/sekarang Pondok Sriti di timur tangsi militer Rindam IV Diponegoro.

Societeit “De Eendracht” di tahun 1925 [Het voor- en oost aanzicht met nieuwe balustrade van Sociëteit De Eendracht te Magelang 1925]

Lalu seperti apakah sebenarnya isi dalam ruangan dari Societeit “De Eendracht” itu ?

Dari beberapa foto yang berhasil di kumpulkan dapat diketahui bahwa Societeit “De Eendracht” memiliki fasilitas yang cukup wah di jamannya. Seperti tempat bola sodok atau bilyar, tempat berdansa, tempat minum-minum, tempat menyanyi dan lain-lain.

Tempat bola sodok di Societeit “De Eendracht” tahun 1925 [De biljartzaal van Societeit de Eendracht te Magelang , 1925 KITLV Pictura]

Ada lagi tempat berdansa para sinyo-sinyo dan noni-noni seperti foto di bawah ini.

De verbouwde danszaal van Societeit De Eendracht te Magelang, 1925 KITLV Pictura

Atau tempat kongkow-kongkownya para tuan-tuan dan nyonya-nyonya seperti di bawah ini.

De speelzaal van Societeit De Eendracht te Magelang, 1925 KITLV Pictura

Betapa Societeit “De Eendracht” menjadi tempat highclass bagi masyarakatnya di waktu itu. Tidak hanya sekedar pelepas lelah, akan tetapi juga demi menjaga prestise dan gengsi dari kalangan orang-orang tertentu.

Societeit “De Eendracht” yang berdampingan dengan groote weg noord atau jalan raya utara/sekarang jalan Akhmad Yani [ Groote Weg Noord nabij Societeit De Eendracht (rechts) te Magelang, KITLV Pictura, 1927.]

Societeit “De Eendracht” telah menjadi memberi warna pada kota ini, memberi kenangan bagi pengunjungnya. Cerita yang terkandung di dalamnya seperti bak dongeng dan mitos semata karena begitu minimnya sumber arsip sejarah yang menceritakannya. Akan tetapi pada perang kemerdekaan gedung yang pernah bernama Balai Pemuda ini di bakar para pejuang. Apalagi bekas-bekasnya kini sudah tidak tampak lagi. yang ada hanya sebuah bangunan megah yang bernama Bank BCA.

Semoga cerita dan tulisan ini bisa menggugah kepedulian kita terhadap penggalian sejarah dan pelestarian cagar budaya  di kota tercinta. SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG !

Boeat Toewan2 & Njonjah2 tjoema di djoeal di sini badjoe kaos KOTA TOEA MAGELANG !

Standard

“Boeat Toean2 & Njonjah2 tjoema di djoeal di sini badjoe kaos KOTA TOEA MAGELANG !”

Untuk memenuhi permintaan masyarakat terhadap kaos bertema sejarah dan heritage persembahan dari KOTA TOEA MAGELANG maka kami membuka outlet di Warung Makan “Voor de Tidar” di Jalan Gatot Subroto No. 58 Jagoan Kota Magelang, atau tepatnya didepan Gedung Pertemuan Nasution/sebelah utara Toko “UM”. Buka setiap hari dari Selasa-Minggu jam 09.00-20.00 WIB/setiap hari Senin tutup.

Warung Makan “Voor de Tidar” tampak dari depan [foto : Soli Saroso]

KOTA TOEA MAGELANG mempersembahkan sebuah cenderamata yang layak anda miliki. Sebuah kaos dengan desain yang tidak kalah dengan kaos-kaos berkelas yang sudah lebih dulu  ada. Di desain secara matang dan di cetak dengan teknik sablon yang mumpuni dan tentu saja di cetak di atas kain katun kombet yang nyaman di pakai. Di cetak secara terbatas ” special & limited edition ” sejumlah 199 lembar untuk setiap desain, menjadikan anda pribadi yang peduli terhadap sejarah dan peninggalan yang ada di kota tercinta.

Kaos warna hitam tampak dari  depan [tema “Water Toren”]

Kaos warna putih tampak dari  depan [tema “Water Toren”]

Kaos warna hitam tampak dari belakang

Kaos warna putih tampak dari belakang

Kaos Heritage KOTA TOEA MAGELANG dengan tema “Water Toren”, bahan Katun kombet dengan pilihan warna hitam dan putih.

Ukuran S & M        = Rp 60.000,-
Ukuran  L & XL       = Rp 65.000,-
Ukuran XXL            = Rp 70.000
Ukuran XXXL         = Rp 75.000,-
[ Hak cipta karya desain dan merk milik KOTA TOEA MAGELANG ]
Untuk pembelian secara online silahkan hubungi langsung ke telefoon 087832626269.

D.I.C.A.R.I : Keluarga Piet Tosses yang Dulu Pernah tinggal di Magelang

Standard

D.I.C.A.R.I : Keluarga Piet Tosses – (Foto : Penjara Magelang 1920-an).

Saya mencari informasi tentang Piet Tosses, paman saya, lahir 16-11-1887 di Den Haag. Dahulu beliau menjadi tentara KNIL, ia berlayar pada tahun 1908 dengan ‘Goentoer’ ke Padang, sebagai prajurit kavaleri kelas pertama. Pada 1914 pindah ke Batavia di Depot Batalyon LH 2nd . Kemudian ke batalion 7 dan 4. Pd th 1916 menjadi Kopral dan kembali ke Batalion 7th.
Beliau berhenti menjadi tentara pada tahun 1921. Mengambil pekerjaan sipil sebagai penjaga keamanan di penjara sipil di Magelang.

Penjara Magelang tempo doeloe

 Piet Tosses
Pada tahun 1920 ia menikah di Magelang dengan wanita Kristen bernama Rosalina (seperti Piet lahir pada tahun 1887), yang saat itu sudah mempunyai beberapa anak dari pernikahan sebelumnya. Rosalina meninggal pada bulan Maret tahun 1947, Piet pada bulan Juni 1950.

Siapa yang bisa memberi informasi tentang dia atau keluarga/keturunannya?
Terima kasih dan salam,

Johan Mahieu
johan.mahieu@tiscali.nl

Sumber : http://javapost.nl/2012/10/19/zeepost-201211/

Liputan Dari Remboeg Sedjarah “Nama-nama Djalan Tempo Doeloe Tahoen 1935 di Kota Magelang”

Standard

Peserta Remboeg Sedjarah sedang berpose sesaat susudah acara berlangsung Minggu 19 Mei 2013 di Gedung Tri Bhakti [foto Soli Saroso]

Untuk kesekian kalinya Komunitas KOTA TOEA MAGELANG mengadakan kegiatan Remboeg Sedjarah. Kegiatan ini merupakan kerjasama dengan Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang di mana KTM menjadi pengisi salah satu session acara di Gebyar Buku, Arsip dan Budaya. Acara pameran itu sendiri berlangsung dari tanggal 16-20 Mei 2013 di Gedung Tri Bhakti Jalan Sudirman Magelang.

Dalam acara Remboeg Sedjarah yang di adakan 19 Mei tersebut mengangkat tema tentang “Nama-nama Djalan Tempo Doeloe Kota Magelang Tahoen 1935”. Sebagaimana di ketahui bahwa Kota Magelang di jaman kolonial merupakan salah satu kota terpenting. Mulai sebagai ibukota Kabupaten tahun 1813, ibukota  Karesidenan tahun 1817 hingga Gemeente  tahun 1906 dan Stadsgemeente tahun 1929. Perkembangan kota yang sedemikian ini menjadikan pemerintah pada waktu itu harus membenahi infrastruktur kota, baik bangunan, jalan, selokan air, taman, pemukiman dan lain-lain.

Bahkan di sekitar tahun 1935-an dengan bantuan perancang kenamaan Belanda yaitu Herman Thomas Karsten di lakukan pembenahan dan pembangunan pemukiman besar-besaran . Misalnya pembangunan pemukiman Kwarasan di Cacaban, pemindahan pemakaman Singoranon ke makam kerkhoof di kaki Bukit Tidar dan di bekas pemakaman itu di bangunlah Kawasan pemukiman Gladiool.

Pembangunan jalan-jalan baik jalan protokol maupun jalan yang ada di kampung di laksanakan. Sehinga timbulah suatu keharusan untuk memberi penamaan pada jalan-jalan tersebut. Pada peta Stadskaart Magelang tahun 1923 sudah tercantum secara jelas nama-nama jalan tersebut, terutama pada jalan-jalan utama dan sekitarnya.Seperti “grooteweg noord”, “grooteweg zuid”, “bajemanweg”. “tidarweg”, “bottonweg”, Sebagaimana Grooteweg Ponjol yang berdampingan dengan jalur kereta api antara Stasiun Magelang Kota dan Stasiun Magelang passar.

Grooteweg Pontjol tempo doeloe kisaran tahun 1910-an berdampingan dengan rel kereta api

Sejak jaman kolonial Belanda, pembangunan infrastruktur terus dilakukan. Berbagai jalan dibangun, perlebar dan di aspal. Kalau pada waktu itu kondisi jalan masih berupa tanah dan batu yg ditata (watu kricak). Tidak diketahui secara pasti kapan jalan-jalan itu mulai di aspal. Tapi ada sebuah data yang menyebutkan jika pada tahun 1937-1938 terjadi pengaspalan besar-besaran di berbagai jalan raya dan jalan kampung di kota Magelang.

Bahkan pada peta WEGENKAART MAGELANG tahun 1935 lebih komplit lagi menyebutkan nama-nama jalan itu. Misalnya saja Ijsfabriekslaan, Ello-Weg, dll

Nah penamaan nama2 jalan pada waktu itu lebih bersifat kelokalan [lokal wisdom]. Hal ini tentunya sangat unik. Artinya penamaan jalan biasanya yang berkaitan dengan nama kampung setempat yang dilewati jalan tersebut. Misalnya Bottonweg karena dijalan tsb ada di kampung Botton, atau bisa seperi Djoeritan Zuid karena ada di selatan Kampung Juritan. atau dengan nama Bajemanweg karena berdekatan dengan kampung Bayeman.

Bajemanweg di tahun 1910-1920-an atau Jalan Tentara Pelajar sekarang ini

Atau bisa juga karena berdasarkan tema yaitu nama pulau, misalnya di kawasan seputar RST. Misalnya ada Sumatrastraat, Celebesstraat, Borneostraat, Javastraat dll. Menurut sebuah sumber, nama jalan seperti ini di karenakan pada waktu itu Tentara KNIL yang berasal dari daerah yang sama di tempatkan pada pemukiman yang sama. Misalnya tentara KNIL yang berasal dari Jawa di tempatkan di Javastraat, tentara KNIL dari Sulawesi di tempatkan di Celebesstaat, Tentara KNIL dari Maluku di tempatkan di Molukkenstraat, demikian seterusnya.

Ada lagi penamaan jalan karena ada bangunan khusus di tempat tsb. Misalnya Residentielaan karena disitu ada kantor Karesidenan. Oranjenassau-laan karena disitu ada kawasan van Der Steur yg aslinya dari Belanda (Oranjenassau merupakan simbol Kerajaan Belanda).

Di kampung Bogeman lebih unik lagi. Penamaan nama jalan berdasarkan nama tokoh pewayangan seperti Rama, Anjani, Anoman, Subali dan Sugriwa. Bahkan pada depan jalan tersebut juga di beri tokoh wayang tersebut yang terbuat dari kulit.

Hoofwacht militair auditie atau markas pengawas militer di jaman Belanda yang ada di ,Ooster-Kampemenstlaan atau Kesatrian Wetan/Timur sekarang di kenal dengan nama Pondok Sriti [foto KITLV]

Di kawasan tangsi militer lebih unik lagi nama-nama jalannya , sebagai contoh adalah Exercitielaan [tahun 1935] = Kesatrian [tahun 1950-an] = Kesatrian [tahun 2000-an]

Western-Kampementslaan = Kesatrian Kulon = Kesatrian Barat

 Noorder-Kampementstlaan = Kesatrian Lor = Kesatrian Utara

Zuider-Kampementstlaan = Kesatrian Kidul=Kesatrian Selatan

Ooster-Kampemenstlaan = Kesatrian Wetan = Kesatrian Timur

Van Heutzlaan West  =  (belum terlacak nama sekarang)

Van Heutzlaan Oost  =          –                =  Jl. Teuku Umar

Djikstraweg =          Kesatrian Lor          = Kesatrian Utara (utara Pondok Sriti)

Kroesenweg =          Kesatrian Kidul      = Kesatrian Selatan (selatan Pondok Sriti)

 Van Dalenweg  =                –                   =  Jl. Untung Suropati

 Michielsenweg  =              –                  =  Jl. Jangrono

 Generaal-Zwat  =  Ngentak Kwayuhan  =  Abimanyu

Sebuah jalan di kawasan tangsi militer dengan pemukiman untuk opsir/officierskampement

Akan tetapi ketika era orde baru muncul maka bergantilah nama-nama jalan tersebut menjadi nama-nama pahlawan nasional. Misalnya saja nama jalan Groote weg Noord menjadi jalan A Yani, Grooteweg Zuid menjadi Jalan Jendral Sudirman, Bajemanweg menjadi Jalan Tentara Pelajar, Bottonweg menjadi Jalan Pahlawan, Patjinanstraat menjadi Jalan Pemuda dll.

Pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Pawirokoesoeman yang di bangun pada tahun 1900, sekarang Jalan Tarumanegara

Yang parahnya lagi adalah nama-nama lokal menjadi hilang seperti Djoeritan Zuid, Pawirokoesoeman, Sablongan, Nanggoelan, Kebon, Jenangan dan lain-lain menjadi hilang di telan bumi karena kebijakan yang salah tempat. Akibatnya yang lain adalah lokal wisdom/kearifan lokal menjadi hilang. Nama-nama kampung yang di abadikan lewat nama jalan menjadi tiada berarti lagi.

Magelang masuk dalam liputan DestinAsian edisi Mei-Juni 2013

Standard

Pekan depan majalah DestinAsian Indonesia edisi Mei/Juni 2013 sudah bisa ditemukan di toko-toko buku. Jadilah yang pertama menikmati artikel-artikel tentang Magelang dan Singapura serta masih banyak lagi artikel menarik lainnya.

Liputan di Magelang mengungkap beberapa peninggalan era Hindu Budha seperti Candi Selogriyo dan Candi Ngawen serta bangunan era kolonial seperi gedung Eks Karesidenan Kedu. Museum Oei Hong Djien serta kehidupan di sekitar Candi Borobudur termasuk hotel-hotel kelas premium di seputar Magelang. Lebih lengkapnya silahkan baca dan miliki majalah DestinAsian.

Awal Terbentuknya Gemeente Magelang 1906

Standard

                  Pada awal abad ke 20 terjadi perubahan dalam sistem politik kolonial Belanda di Indonesia sehingga di rasa perlu adanya perubahan sistem pemerintahan. Sistem lama yaitu pemerintahan yang terpusat sudah tidak bisa di pertahankan lagi. Perubahan ini di sebabkan oleh sistem dan keadaan aparat pemerintah Hindia Belanda sendiri dan juga di karenakan oleh pertumbuhan penduduk yang sangat pesat di kota-kota. Sistem pemerintahan yang terpusat di rasakan sudah tidak memadai,  terutama untuk daerah perkotaan yang semakin berkembang menjadi besar dalam waktu relatif singkat.

            Pada tahun 1903 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Undang-undang Desentralisasi [Decentralisatiewet] dengan tujuan memberikan hak otonom dan membentuk daerah pada setiap Karesidenan [Gewest] dan kota-kota besar [Gemeente]. Maksud utama dari undang-undang ini adalah memberikan pemerintahan sendiri pada wilayah Karesidenan dan Kabupaten [Afdeling]. Daerah-daerah ini akan di perintah oleh Dewan Wilayah yang di ketuai oleh Residen dan Dewan Kota [Gemeenteraad] yang di ketuai oleh Asisiten Residen, yang selanjutnya di jabat oleh seorang walikota/Burgemeester.

            Pada tahun 1905 dikeluarkanlah Decentralisatie Besluit dengan Staatsblad No. 137 tahun 1905 yang bertujuan membentuk kota-kota otonom di Indonesia. Pembentukan kota otonom tersebut di mulai dengan Batavia pada tanggal 1 April 1905, Bandung tahun 1906, Surabaya tahun 1906 dan Semarang tahun 1907.

https://i2.wp.com/www.ngw.nl/heraldrywiki/images/2/20/Magelang.hag.jpg

Lambang Gemeente Magelang tahun 1906 [sumber : Koffie Hag]

            Dewan Kota ini pada mulanya di bentuk di kota-kota besar yang berpenduduk lebih dari 120.000 orang, namun kemudian di susul dengan kota-kota yang lebih kecil. Magelang sendiri di tetapkan menjadi kota otonom pada tanggal 1 April 1906 berdasarkan Staatsblad nomor 125 tahun 1906.

            Adapun yang di tunjuk sebagai kota otonom adalah kota besar yang mempunyai banyak penduduk Eropa dan di sekitar kota tersebut banyak Onderneming perkebunan tebu, kopi dan sebagainya. Selain otonomi yang di berikan masih terbatas untuk menangani pertumbuhan kota dan pemeliharaan fasilitas umum. Untuk kota Magelang wewenang yang di berikan adalah sebagai berikut : perbaikan dan perawatan jalan umum, jalan, lapangan dan taman, jembatan, selokan, pelapisan pinggiran jalan, parit, pematang, trotoar, sumur dan proyek lain; got-got, saluaran air dan saluran pembuangan umum, air minum dan air untuk mencuci, air untuk mandi dan los-los pasar. Merawat dan memperbaiki saluran pembuangan kota, jembatan di atas Sungai Progo dan Elo. Kebersihan dan pembuangan sampah, pemadam kebakaran dan pembukaan area pemakaman.

            Karena luasnya wewenang yang di berikan kepada Dewan Kota [Gemeenteraad] tersebut maka pranata-pranata kota modern di terapkan di kota Magelang. Dengan rencana pengembangan kota yang teratur dan pranata politik pembentukan Dewan Kota, kota sebagai suatu pemukiman yang memiliki jalinan sosial ekonomi kompleksa mulai di kelola secara professional sehingga dengan demikian dapat di katakana sejak tahun 1906 kota Magelang mengalami perkembangan yang sangat pesat.

ARSITEKTUR INDIS DI INDONESIA [1]

Standard

PENDAHULUAN

Sebutan Indis berasal dari istilah Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda dalam bahasa Indonesia. Itulah nama suatu daerah jajahan Pemerintah Belanda di Timur Jauh, dan karena itu sering disebut juga Nederlandsch Oost Indie. Orang Belanda pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1619. Mereka semula berdagang tetapi kemudian memonopoli lewat VOC dan akhirnya menjadi penguasa sampai datangnya Jepang pada tahun 1942. Kehadiran orang-orang Belanda selama tiga abad di Indonesia tentu memberi pengaruh pada segala macam aspek kehidupan. Perubahan antara lain juga melanda seni bangunan atau arsitektur.

Pada mulanya bangunan dari orang-orang Belanda di Indonesia khususnya di Jawa, bertolak dari arsitektur kolonial yang disesuaikan dengan kondisi tropis dan lingkungan budaya. Sebutannya landhuiz, yaitu hasil perkembangan rumah tradisional Hindu-Jawa yang diubah dengan penggunaan teknik, material batu, besi, dan genteng atau seng. Arsitek landhuizen yang terkenal saat itu antara lain Wolff Schoemaker, DW Berrety, dan Cardeel.

Dalam membuat peraturan tentang bangunan gedung perkantoran dan rumah kedinasan Pemerintah Belanda memakai istilah Indische Huizen atau Indo Europeesche Bouwkunst. Hal ini mungkin dikarenakan bentuk bangunan yang tidak lagi murni bergaya Eropa, tetapi sudah bercampur dengan rumah adat Indonesia.

Penggunaan kata Indis untuk gaya bangunan seiring dengan semakin populernya. istilah Indis pada berbagai macam institusi seperti Partai Indische Bond atau Indische Veeneging. Arsitektur Indis merupakan asimilasi atau campuran dari unsur-unsur budaya Barat terutama Belanda dengan budaya Indonesia khususnya dari Jawa.

Dari segi politis, pengertian arsitektur Indis juga dimaksud untuk membedakan dengan bangunan tradisional yang lebih dahulu telah eksis, bahkan oleh Pemerintah Belanda bentuk bangunan Indis dikukuhkan sebagai gaya yang harus ditaati, sebagai simbol kekuasaan, status sosial, dan kebesaran penguasa saat itu.

Sebelum kedatangan Belanda, sebenarnya sudah banyak bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu datang ke Indonesia antara lain dari Cina, India, Vietnam, Arab, dan Portugis, yang memberi pengaruh pada budaya asli. Karena itu, dalam bangunan Indis juga terkandung berbagai macam unsur budaya tersebut. Faktor-faktor lain yang ikut berintegrasi dalam proses perancangan antara lain faktor lingkungan, iklim atau cuaca, tersedia material, teknik pembuatan, kondisi sosial politik, ekonomi, kesenian, dan agama.

Bentuk rumah bergaya Indis sepintas tampak seperti bangunan tradisional dengan atap berbentuk Joglo Limasan. Bagian depan berupa selasar terbuka sebagai tempat untuk penerimaan tamu. Kamar tidur terletak pada bagian tengah, di sisi kiri dan kanan, sedang ruang yang terapit difungsikan untuk ruang makan atau perjamuan makan malam. Bagian belakang terbuka untuk minum teh pada sore hari sambil membaca buku dan mendengarkan radio, merangkap sebagai ruang dansa.

Di Surabaya, bangunan tersebut nampak pada gedung-gedung cagar budaya yang sebagian besar terdapat di wilayah Surabaya bagian Utara. Misalnya gedung tinggi nan kokoh yang sekarang digunakan sebagai Bank Mandiri, kawasan Pabean, dah kompleks wahana pemerintahan, seperti kediaman gubernur dan hotel. Hala ini pun sebenarnya terlihat di beberapa kota besar lainnya, seperti Jakarta dan Semarang. Umumnya bangunan tersebut tinggi dan memiliki banyak jendela. Demikian juga di kota Malang yang memiliki arsitektur dan pengaruh budaya insdies yang kuat.

Pengaruh budaya Barat terlihat pada pilar-pilar besar, mengingatkan kita pada gaya bangunan Parthenon dari zaman Yunani dan Romawi. Lampu-lampu gantung dari Italia dipasang pada serambi depan membuat bangunan tampak megah terutama pada malam hari. Pintu terletak tepat di tengah diapit dengan jendela-jendela besar pada sisi kiri dan kanan. Antara jendela dan pintu dipasang cermin besar dengan patung porselen. Khusus untuk gedung-gedung perkantoran, pemerintahan, dan rumah-rumah dinas para penguasa di daerah masih ditambah lagi dengan atribut-atribut tersendiri seperti payung kebesaran, tombak dan lain-lain agar tampak lebih berwibawa. Orang-orang Belanda, pemilik perkebunan, golongan priayi dan penduduk pribumi yang telah mencapai pendidikan tinggi merupakan masyarakat papan atas, ikut mendorong penyebaran kebudayaan Indis lewat gaya hidup yang serbamewah.

Kebudayaan Indis sebagai perpaduan budaya Belanda dan Jawa juga terjalin dalam berbagai aspek misalnya dalam pola tingkah laku, cara berpakaian, sopan santun dalam pergaulan, cara makan, cara berbahasa, penataan ruang, dan gaya hidup. Arsitektur Indis sebagai manifestasi dari nilai-nilai budaya yang berlaku pada zaman itu ditampilkan lewat kualitas bahan, dimensi ruang yang besar, gemerlapnya cahaya, pemilihan perabot, dan seni ukir kualitas tinggi sebagai penghias gedung.

Mengamati arsitektur Indis hendaknya kita jangan terpaku pada keindahan bentuk luar semata, tetapi juga harus bisa melihat jiwa atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Rob Niewenhuijs dalam tulisannya Oost Indische Spiegel yaitu pencerminan budaya Indis, menyebutkan bahwa sistem pergaulan dan tentunya juga kegiatan yang terjadi di dalam bangunan yang bergaya Indis merupakan jalinan pertukaran norma budaya Jawa dengan Belanda. Manusia Belanda berbaur ke dalam lingkungan budaya Jawa dan sebaliknya.

Pengukuhan kekuasaan kolonial saat itu tertuang dalam kebijakan yang dinamakan “politik etis”. Prinsipnya bertujuan meningkatkan kondisi kehidupan penduduk pribumi. Di lain fihak penguasa juga memperbesar jumlah kedatangan orang Belanda ke Indonesia yang secara langsung membutuhkan sarana tempat tinggal berupa rumah-rumah dinas dan gedung-gedung.

Di sini terlihat jelas bahwa ternyata semua peristiwa yang dialami pada tiap kehidupan manusia bisa memberi dampak yang besar terhadap pandangan arsitektur. Bahwa gagasan arsitektur sesungguhnya juga dipengaruhi oleh situasi dinamika sosial budaya manusia dan sekaligus menjadi bagian dari padanya.

Arsitektur Indis telah berhasil memenuhi nilai-nilai budaya yang dibutuhkan oleh penguasa karena dianggap bisa dijadikan sebagai simbol status, keagungan dan kebesaran kekuasaan terhadap masyarakat jajahannya. Perkembangan arsitektur Indis sangat determinan karena didukung oleh peraturan-peraturan dan menjadi keharusan yang harus ditaati oleh para ambtenar, penentu kebijaksanaan. Pemerintah kolonial Belanda menjadikan arsitektur Indis sebagai standar dalam pembangunan gedung-gedung baik milik pemerintah maupun swasta. Bentuk tersebut ditiru oleh mereka yang berkecukupan terutama para pedagang dari etnis tertentu dengan harapan agar memperoleh kesan pada status sosial yang sama dengan para penguasa dan priyayi.

Arsitektur Indis tidak hanya berlaku pada rumah tinggal semata tetapi juga mencakup bangunan lain seperti stasiun kereta api, kantor pos, gedung-gedung perkumpulan, pertokoan, dan lain-lain. Adapun pudarnya arsitektur Indis mungkin disebabkan oleh konsekuensi historis yang menyangkut berbagai aspek sosial budaya.

Menurut Denys Lombard, sejarah terbentuknya budaya Indis karena didorong oleh kekuasaan Hindia Belanda yang berkehendak menjalankan pemerintahan dengan menyesuaikan diri pada kondisi budaya masyarakat di wilayah kolonialnya. Dengan datangnya perubahan zaman dan hapusnya kolonialisme, maka berakhirlah pula kejayaan budaya feodal termasuk perkembangan arsitektur Indis. Dalam periode kemerdekaan, bangsa Indonesia menganggap arsitektur Indis sebagai monumen dan simbol budaya priayi yang tidak bisa lagi dipertahankan dan dijadikan kebanggaan, maka kehancurannya tidak perlu diratapi.

Arsitektur Indis mencapai puncaknya pada akhir abad ke- 19. Seiring dengan perkembangan kota yang modern, lambat laun gaya Indis ditinggalkan dan berubah menjadi bangunan-bangunan baru (nieuwe bouwen) yang bergaya art-deco sebagai gaya internasional.

Salah satu adanya contoh kebudayaan Indis adalah pasar malam. Pasar malam besar menyorot tiga ciri khas dalam kebudayaan Indo- Belanda: makan, kebudayaan dan bahasa. Berbagai restoran dan acara belajar masak bisa anda jumpai di pasar malam, dari makanan khas Jawa Timur sampai ke makanan Indis, makanan campuran gaya Indonesia dan Belanda. Ihwal budaya, pasar malam ini menyediakan berbagai panggung dan teater, serta mengundang para artis Indonesia dan Belanda yang berlatar belakang Indonesia untuk memamerkan kebolehan mereka.

Setiap tahun diundang orkes keroncong dari Indonesia, Belanda atau negara lain, misalnya Malaysia. Dan akhir-akhir ini dangdut pun mendapat perhatian juga. Bahasa khas kelompok Indis ini adalah campuran Belanda dengan bahasa Jawa atau Melayu: bahasa Pecok. Bahasa ini masih bisa didengar selama pasar malam besar ini atau dibaca dalam beberapa buku khas.

BUDAYA INDIES DAN STRATIFIKASI SOSIAL

Sentuhan pertama yang terjadi antara bangsa Indonesia dan bangsa Belanda terjadi ketika ekspedisi Cornelis de Houtman berlabuh di pantai utara Jawa guna mencari rempah rempah. Pada perkembangan selanjutnya terjadi hubungan dagang antara bangsa Indonesia dengan orang orang Belanda. Hubungan  perdagangan tersebut lambat laun berubah drastis menjadi hubungan antara penjajah dan terjajah, terutama setelah didirikannya VOC. Penjajahan Belanda berlangsung sampai tahun 1942, meskipun sempat diselingi oleh Inggris selama lima tahun yaitu antara 1811-1816. Selama kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun bangsa Belanda telah memberi pengaruh yang cukup besar terhadap kebudayaan Indonesia.

Kolonialisme Belanda di Indonesia depat dibagi menjadi beberapa tahapan yaitu : (1). Fase antara 1602-1800 : yaitu fase ketika Belanda dengan VOC menggalakkanhandels kapitalisme. (2). Fase antara 1800-1850 : fase ini diselingi oleh penjajahan Inggris, pada masa ini Belanda menciptakan dan melaksanakan cultuurstelsel. (3). Fase antara 1850-1870 ; cultuurstelsel dihapus diganti oleh politik liberal kolonial. (4). Fase setelah 1800 : makin bertambah perusahaan asing yang ada di Indonesia akibat politikopen door negeri Belanda.

Selain melakukan imperialisme di bidang ekonomi Belanda juga melakukan imperialisme di bidang kebudayaan. Hal ini terbukti dengan adanya politik etis Van Deventer. Van Deventer dalam Tweede Kamer 1912 menyatakan bahwa Humanisme Barat (maksudnya politik etisnya) telah memberi keuntungan besar, ialah dapat memungkinkan adanya asosiasi kebudayaan antar timur dan barat. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa dalam politik etis Van Deventer terutama program edukasinya merupakan pelaksaanan dari politik asosiasi. Politik asosiasi berarti bangsa penjajah berupaya menghilangkan jurang pemisah antara penjajah dengan bangsa terjajah dengan melenyapkan kebudayaan bangsa terjajah diganti dengan kebudayan penjajah.

Politik asosiasi memungkinkan Belanda untuk memasukkan nilai nilai kolonialismenya pada kebudayaan Indonesia, baik yang bersifat rohani, maupun yang terkait dengan produk fisik kebudayaan. Menurut Raymond Kennedy kolonialisme Belanda memiliki ciri ciri pokok sebagai berikut: (1). Membedabedakan warna kulit(color line). (2). Menjadikan tempat jajahan sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi negara induk. (3). Perbaikan sosial sedikit. (4). Jarak sosial yang jauh antara bangsa terjajah dengan penjajah.

Dari ciri ciri pokok di atas poin pertama dan poin keempat tercermin dalam stratifikasi sosial yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Stratifikasi sosial tersebut sebagai berikut : (1). Golongan pertama : orang Belanda dan orang asing ( kulit putih). (2). Golongan kedua : orang timur asing. (3). Golongan ketiga : orang pribumi. Pembedaan golongan kelas sosial berdasar warna kulit tersebut diikuti dengan pembedaan hak dan kewajiban yang diterima. Hal ini berujung untuk menjaga prestise pemerintah kolonial dengan menciptakan superioritas orang kulit putih daninferioritas pribumi.

Masyarakat Jawa sebelum masa kolonial Belanda, telah memiliki stratifikasi sosial secara tradisional. Stratifikasi sosial tersebut menggunakan ukuran kedudukan jabatan di pemerintahan. Stratifikasi sosial masyarakat Jawa sebelum kolonial sebagai berikut : (1). Raja sebagai puncaknya. (2). Keluarga raja / bangsawan. (3). Pejabat tinggi, pembantu pribadi / pengikut raja. (4). Kaum rohaniawan. (5). Pejabat rendahan. Secara umum status sosial tertinggi dimiliki oleh raja dan bangsawan / keturunan raja, kemudian pejabat sipil, militer, agama, kehakiman, kecuali ulama istana, golongan tersebut yang disebutmatri.

Ada pemisahan antara stratifikasi sosial di pemerintahan pusat dengan di daerah. Pemuka daerah dipandang lebih  rendah kedudukannya dengan pejabat di luar pemerintahan. Stratifikasi sosial di daerah terdiri dari : (1). Akuwu dan anden merupakan golongan tertinggi. (2). Pemuka agama. (3). Petani. (4). Hamba sahaya. Secara umum kedudukan seseorang dalam masyarakat Jawa tradisional diukur dengan dua kriteria : (1). Prinsip kebangsawanan yang berakar dari hubungan darah dengan orang  yang memiliki jabatan di pemerintahan. (2). Prinsip kebangsawanan yang didasarkan dari posisi dalam hierarki birokratis.

Orang yang memiliki status sosial akibat adanya hubungan darah dipandang kedudukannya lebih tinggi dari yang didasarkan dari posisinya dalam hierarki birokratis. Hal ini kemudian ditunjukkan dengan tingkat gelar serta nama kedudukannya. Orang orang yang memiliki status kebangsawanan tersebut merupakan kaum priyayi. Priyayi adalah kaum elit yang secara tradisional, memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari rakyat biasa.

Pada masa peralihan dari kekuasaan feodal menjadi kekuasaan kolonial menghilang. Hal ini karena kehidupan sosio-ekonomi masyarakat Jawa tidak mengalami perubahan yang fundamental. Namun status sosial bangsa Indonesia yang dibawah bangsa asing baik kulit putih maupun timur asing memberi dampak pada stratifikasi sosial tradisional masyarakat Jawa. Adanya warna kulit yang menjadi ukuran status sosial menjadikan Bangsa Belanda posisinya di atas pribumi, termasuk raja. Meskipun raja dan keluarganya masih ditempatkan di atas bangsa timur asing. Ukuran warna kulit menjadikan bangsa Belanda yang golongan kecil tetapi memiliki hak istimewa ditempatkan di atas pribumi yang  mendapat jabatan di atas pribumi yang harus diangkat berdasar keahlian.

Meskipun raja dan keluarganya di tempatkan di atas bangsa timur asing, priyayi tetap berada dibawah kaum timur asing termasuk golongn pribumi. Masyarakat tradisional Jawa sendiri terbagi menjadi dua yaitu : priyayi dan rakyat biasa atau wong cilik. Priyayi merupakan orang yang berkelas tinggi yang merupakan golongan elit masyarakat Jawa, yang dapat diukur dari tiga aspek : (1). Tradisional : pegawai istana sultan. (2). Kolonial : pengelola kantor pribumi. (3). Keturunan : gelar priyayi meski bukan pegawai pemerintah.

Pada masa kolonial Belanda ukuran untuk disebut sebagai priyayidigunakan ukuran pekerjaan dan keturunan. Dan pada masa itu untuk golongan  pekerjaan tertentu yang ukurannya tinggi bagi pribumi tidak dapat sembarang orang menduduki. Misalnya, pengangkatan seorang pegawai tingkat wedana ke atas digunakan asas keturunan. Hanya keturunan wedana ke atas yang dapat menduduki. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua orang dapat menjadi  priyayi.

Golongan priyayi pada masa kolonial Belanda yang didasarkan pada jabatan kepegawaian status sosialnya sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya jabatan. Makin tinggi jabatan makin tinggi status sosialnya, baik dalam tataran pribumi secara umum maupun dalam kelompok priyayi. Perbedaan status sosial antar kaum priyayi dibagi sebagai berikut : (1). Pangreh praja /pejabat pemerintah daerah. Tertinggi bagi priyayi, diukur  dari sifat kebangsawanan. (2). Bukan pangreh praja : golongan terpelajar dari golongan tiyang alit (wong cilik) yang medapat kedudukan dari pendidikan.

Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di propinsi Jawa Timur yang telah lama berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Pada zamannya, perencanaan kota Malang sering disebut sebagai salah satu hasil perencanaan kota kolonial yang terbaik di Hindia Belanda. Kota Malang yang kita huni didesain dengan konsep arsitektur kolonial, yang karena nilai estetis dan historisnya yang tinggi patut untuk dipertahankan.

Salah satu sebab mengapa warisan arsitektural dari masa itu yang berupa bangunan kolonial masih dapat dinikmati oleh masyarakat modern adalah karena kekhasan bentuk bangunannya. Para arsitek Belanda yang merancang bangunan-bangunan kolonial di Indonesia pada era 1910-an hingga 1940-an telah berhasil memadukan arsitektur Eropa, khususnya Belanda, dengan teknologi bangunan daerah tropis. Bangunan-bangunan tersebut tetap memiliki gaya Eropa, namun tetap sesuai untuk dihuni di daerah tropis.

Keunikan bangunan inilah yang membedakan bangunan kolonial Belanda dengan bangunan lainnya. Pada bangunan kolonial, terdapat berbagai ciri-ciri khusus yang menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lainnya, terutama pada fasade bangunan yang terlihat pertama kali oleh pengunjung.

Kota Malang telah dikuasai Belanda sejak tahun 1767, namun baru berkembang pesat pada awal abad ke-20. Perkembangan yang pesat dalam perencanaan perluasan kota Malang sangat dipengaruhi dari berdirinya Gemeente Malang pada 1 April 1914 dibawah pimpinan walikota pertama, H.I Bussemaker. Perencana utama perkembangan kota Malang pada masa itu adalah Ir. Herman Thomas Karsten, dengan memperhatikan aspek kenyamanan view yang berorientasi pada pemandangan gunung-gunung sekitar kota Malang.

Rencana kota Malang 1920, yang dibuat oleh Ir Thomas Kartsen, merupakan fenomena baru bagi perencanaan kota-kota di Indonesia, kaidah-kaidah perencanaan modern telah memberikan warna baru bagi bentuk tata ruang kota, seperti penggunaan pola boullevard, bentuk-bentuk simetri yang menonjol dan sangat disukai pada periode renaisance.

Pengembangan kawasan pusat kota dengan banguan bergaya Art deco, munculnya bangunan sudut seperti di perempatan PLN, dan bangunan kembar di perempatan Kayutangan serta hadirnya bangunan-bangunan bermenara menandai era baru arsitektur perkotaan di Malang. Gaya arsitektur Indische Empire yang muncul sampai akhir abad ke-19 sempat muncul di Malang. Gaya tersebut terlihat pada gedung asisten residen di dekat alun-alun kota Malang tapi sayang sekali sekarang sudah dirobohkan, bangunan kolonial yang bergaya arsitektur Indische Empire di Kota Malang saat ini bisa dikatakan sudah tidak tersisa lagi.

Bentuk dan tata ruang pusat kota yang terbentuk pada masa pemerintahan Belanda, yang lebih ditujukan bagi kepentingan politis pemerintahan belanda (mengutamakan masyarakat Belanda), ternyata telah menghasilkan bentukan morfologi kota yang cenderung meniru bentuk-bentuk arsitektur gaya Eropa seperti Art Deco, Renaisance, Baroqe dan sebagainya. Dalam konteks historis sebenarnya keberadaan bangunan peninggalan Belanda merupakan potensi (asset) yang dapat dikembangkan bagi perkembangan arsitektur kota Malang. Melalui aturan-aturan produk kolonial, ternyata telah memberikan warna pada bentukan fisik lingkungan baik gaya arsitektur maupun pola-pola tata ruang yang terbentuk.

Bentuk morfologi kawasan tercermin pada pola tata ruang, bentuk arsitektur bangunan, serta elemen-elemen fisik kota lainnya pada keseluruhan konteks perkembangan kota. Perkembangan selanjutnya, kekuatan domain ekonomi, sebagai akibat cepatnya pertumbuhan ekonomi telah membawa implikasi perubahan pada karakter dan bentuk morfologi kawasan pusat kota Malang. Disisi lain, pengendalian perkembangan kawasan pusat kota tidak memperhatikan konteks kesejarahan pembentukan kota, sehingga seperti halnya kota besar lainnya, kota Malang-pun mempunyai kecenderungan kehilangan karakter spesifiknya dan muncul karakter “ketunggalrupaan” arsitektur, sehingga kesinambungan kesejarahan kawasan seolah terputus sebagai akibat pengendalian perkembangan yang kurang memperhatikan aspek morfologis kawasan.

Bangunan kolonial yang terdapat di kota Malang saat ini merupakan hasil arsitektur kolonial yang dibangun pada masa sesudah tahun 1920. Gaya arsitektur kolonial modern setelah tahun 1920 di Hindia Belanda pada waktu itu sering disebut sebagai gaya “Nieuwe Bouwen” yang disesuaikan dengan iklim dan teknik bangunan di Hindia Belanda pada waktu itu. Sebagian besar menonjol dengan ciri-ciri seperti: atap datar, gewel horizontal, volume bangunan yang berbentuk kubus, serta warna cat putih.

Meskipun gaya arsitektur yang ditunjukkan masih banyak dipengaruhi gaya arsitektur Belanda, tapi pada umumnya bentuk arsitektur bangunan sudah beradaptasi dengan iklim setempat. Hal ini dapat terlihat dari bentuk denah dengan menempatkan galery keliling bangunan dengan maksud supaya sinar matahari langsung dan tampias air hujan tidak langsung masuk jendela atau pintu. Adanya atap susun dengan ventilasi atap yang baik serta overstek yang cukup panjang untuk pembayangan tembok.

Contoh bangunan kolonial Belanda adalah : (a) Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia disebelah utara alun-alun dibangun tahun 1915). (b) Palace Hotel (sekarang hotel Pelangi terletak di sebelah selatan alun-alun dibangun tahun 1916). (c) Kantor Pos dan Telegram (sekarang sudah dibongkar terletak di Jalan Basuki Rahmat dibangun antara tahun 1910-an).

Menurut Handinoto dalam buku Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda 1870-1940, bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900-an merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda yang disesuaikan dengan iklim tropis basah Indonesia. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia adalah suatu bentuk khas.

Kekhasan tersebut terletak pada : (a) Penggunaan Gewel (Gable) pada tampak depan bangunan. Gewel adalah bagian berbentuk segitiga dari bagian akhir dinding atap dengan penutup atap yang melereng. (b) Penggunaan tower pada bangunan. Tower adalah bangunana berstruktur tinggi, dapat berdiri sendiri maupun menjadi bagian dari bangunan dengan penerangan dan peralatan internal seperti tangga, dan atap yang jelas. Di Indonesia biasanya membuat tower yang ujungnya diberi atap menjadi mode pada arsitektur kolonial Belanda pada awal abad ke-20. (c) Penggunaan dormer pada atap bangunan Dormer adalah jendela atau bukaan lain yang terletak pada atap yang melereng dan memiliki atap tersendiri. Bingkai dormer biasanya diletakkan vertikal diatas gording pada atap utama.

Pengaruh Eropa mendominasi bangunan-bangunan tersebut khususnya bangunan arsitektur kolonial Belanda, perlu diperhatikan bahwa aspek iklim tropis selalu dipertimbangkan dalam desain bangunan Belanda. Hal itu dapat dilihat pada atap dengan sudut kemiringan yang besar, ventilasi yang baik dan jarak antara lantai dan langit-langit yang tinggi. Teras depan dan teras belakang yang umum ditemukan pada sebagian besar bangunan kolonial Belanda memiliki beberapa fungsi: koridor, ruang antara dari lingkungan luar dengan lingkungan dalam serta isolator panas. Teras ini juga identik dengan Peringgitan dalam rumah joglo di Jawa.

Dari beberapa bangunan di kota Malang khususnya di sekitar alun-alun yang masih mengunakan gaya arsitektur kolonial Belanda dapat diambil beberapa kesamaan ciri pada bangunan, antara lain: Penggunaan portico pada bagian utama bangunan, Penggunaan portico dimaksudkan sebagai penghubung antara ruang dalam dengan ruang luar selain sebagai penghalang sinar matahari langsung dan tempias air hujan.

Sebagai kota yang berkembang dari cikal bakal kota kolonial Balanda, Malang sarat akan bentukan fisik (tata lingkungan, bangunan), yang mempunyai nilai historis dan arsitektur yang dapat menjadi bukti dari tata kota dan arsitektur tertentu (masa kolonial) sebagai hasil dari adanay budaya indies. Oleh sebab itu, hendaknya peninggalan arsitektur kolonial di kota Malang tetap dilestarikan karena selain memiliki nilai historis yang tinggi juga dapat diangkat sebagai karakter spesifik kawasan kota Malang.

PENUTUP

Budaya Indies telah memberikan pengaruh pada banyak hal di Nusantara, khususnya di Jawa Timur tepatnya di kota Malang. Pengaruh-pengaruh tersebut dpat terlihat pada beberapa bentuk bangunan, khususnya bentuk rumah yang berpengaruh terhadap stratifikasi sosial. Hal tersebut menunjukkan suatu kondisi ironis, bahwa produk budaya bangsa yang penuh dengan nilai luhur, malah menunjukkan rendahnya derajat bangsa Indonesia pada masa kolonial. Namun ketika kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, terjadi pendobrakan nilai warisan kolonial Belanda. Ini berujung pada pembongkaran ukuran stratifikasi sosial kolonial Belanda. Hal ini pada akhirnya merubah fungsi bagian-bagian dari rumah.

Dari uraian di atas dapat ditarik suatu simpulan sebagai berikut. (1). Pengaruh budaya indies dalam bentuk rumah terkait dengan stratifikasi sosial pada masa kolonialisme Belanda. (2). Seiring dengan kemerdekaan bangsa Indonesia terjadi pembongkaran nilai-nilai yang diterapkan kaum kolonial Belanda. Hal ini diikuti adanya pergesaran nilai untuk mengukur status sosial tidak lagi memakai ukuran  warna kulit. Implikasinya dalam menerima tamu tidak lagi dibeda-bedakan perlakuannya.

[SUMBER : http://deeaida88.blogspot.com]

TRAGEDI BERDARAH DI MAGELANG 25 SEPTEMBER 1945

Standard

A. Suasana Kota Magelang pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Di Magelang berita kemerdekaan ini belum terdengar. Keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945, R.P Soeroso langsung berangkat ke Jakarta untuk memastikan berita kemerdekaan iu.

Sementara itu Kekaisaran Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Pimpinan Sekutu Amerika Serikat menunjuk Inggris untuk melucuti senjata dan mengembalikan tentara Jepang ke Negara asalnya. Namun kedatangan pasukan Inggris ke Indonesian terlambat, sehingga dimanfaatkan oleh para pemuda dipergunakan sebaik-baiknya untuk memproklamirkan kemerdekaan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 (Sumarmo, 1991: 85).

Bupati Kabupaten Magelang, R.A.A. Sosrodiprodjo sebagai Kentyo baru mengetahuinya setelah pada tanggal 21 Agustus 1945 Syutyokan (Residen Kedu) R.P. Soeroso tiba di Magelang dari Jakarta.

Kemudian pada tanggal 3 September 1945 pukul 21. 00 WIB, rakyat Magelang berkumpul di lapangan Karesidenan untuk mendengarkan secara resmi berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, dan menyatakan Karisidenan Kedu menjadi bagian dari Republik Indonesia. Rakyat Magelang yang berkumpul itu kebanyakan anggota dari Barisan Pelopor yang diketuai oleh Mardjaban tokoh pemuda yang berpengaruh di Kota Magelang saat itu.

R.P. Soeroso diangkat menjadi Gubernur Jawa Tengah. Beliau sebelum meninggalkan Kota Magelang, terlebih dahulu mengadakan konsolidasi untuk merencanakan pengambilan alih kekuasaan sipil dari tangan Jepang. Berkat usulan para tokoh Barisan Pelopor, maka pada tanggal 10 September 1945 dilaksanakan petemuan di rumah Dr. Mardjaban di jalan Sultan Agung No. 09 (Adiwiratmoko, 1998: 6). Dalam Petemuan dihadiri oleh kepala kantor dan Jawatan pemerintah bangsa Indonesia, unsur Komite Nasional Indonesia dan beberapa tokoh pemuda. Keputusan yang diambil antara lain:

1. Semua pegawai pemerintah menyatakan setia kepada Pemerintah Republik Indonesia, dan tidak akan tunduk atas perintah para pembesar Jawatan yang terdiri dari orang-orang Jepang.

2. Membentuk beberapa sayap pemuda untuk dapat diajak bersama-sama mengatasi segala persoalan.

3. Para pemuda dalam waktu singkat telah berhasil mengambil kekuasaan kantor-kantor pemerintah kota Magelang sehingga jangan sampai jatuh ke tangan pasukan Inggris.

Magelang sebagai markas tentara Jepang tidak lepas dari aksi pengambilalihan kekuasaan. Masyarakat Magelang melakukan aksi-aksi itu secara paksa. Markas tentara yang berada di jalan Kartini dan markas polisi militer Jepang berada di jalan Tidar masih lengkap persenjataannya. Para pemuda yang menjadi anggota badan-badan perjuangan merencanakan untuk merebut senjata dari tangan Jepang . Mula-mula pelucutan senjata balatentara Jepang dan polisi bentukannya dilakukan tanpa koordinasi dan secara perseorangan (Dinas Sejarah Militer Kodam VIII/ Diponegoro, 1977: 213).

Pada tanggal 23 September 1945 para pemuda dengan dipimpin oleh tokoh-tokoh Barisan Pelopor mengadakan aksi pengambilalihan kekuasaan pemerintah sipil dengan menduduki kantor-kantor dan jawatan-jawatan pemerintah. Kemudian para wakil-wakil kepala kantor dan jawatan yang dijabat oleh orang Indonesia menduduki jabatan kepala yang pada watu itu masih diduduki oleh orang-orang Jepang, aksi berikutnya pada dinding gedung kantor dan perusahaan-perusahaan diberi tulisan “MILIK RI” (Wawancara dengan Suhendro pada tanggal 12 Agustus 2010)

B. Insiden Penyobekan Plakat Merah Putih Oleh Tentara Jepang di Hotel Nitaka

Pada tanggal 23 September 1945, malam harinya kelompok pemuda mengadakan rapat di markas Pemuda Indonesia Maluku (PIM) di jalan Poncol (sekarang jalan A.Yani, di depan gedung Guesthous Zipur). Salah satu keputusan yang dambil ialah bahwa pada malam hari itu juga para pemuda akan mengadakan penempelan Plakat Bendera Merah Putih di seluruh kota. Maka pada pagi harinya seluruh kota dimulai dari Kelurahan Kramat yang paling utara hingga Kelurahan Tidar yang paling selatan telah tertempel plakat Bendera Merah Putih (Adiwiratmoko, 1998: 7-9).

Pagi hari tanggal 24 september 1945 sekitar jam 11.00, diketahui oleh pemuda yang sedang lewat, ada seorang prajurit Jepang menyobek plakat merah putih yang ditempel pada dinding depan Hotel Nitaka. Bersamaan itu sedang Hotel Nitaka digunakan untuk menginap anggota RAPWI (Soehendro, 2008: 4).

Mengetahui hal itu, beberapa pemuda yang sedang lewat di depan Hotel Nitaka marah dan merasa tersinggung rasa kebangsaannya. Terjadilah perang mulut antara para bpemuda dan prajurit Jepang tersebut. Para pemuda menuntut agar prajurit Jepang tersebut dihukum dan bendera Jepang digantikan bendera Indonesia.

Kemudian dalam waktu singkat berdatangan para pemuda Magelang berkumpul di jalan dan halaman depan Hotel Nitaka itu. Perwakilan pemuda menuntut supaya salah seorang Tentara Jepang yang menyobek plakat merah putih dihukum setimpal. Ternyata pihak Jepang tidak dapat memberikan keputasan sesaat karena situasi yang tidak terkendali. Selanjutnya keduanya akan berunding di Markas Kempeitei di Jalan Tidar Kota Magelang.

Pemuda Magelang mulai bergerak ke arah selatan melalui jalan di depan Gedung Susteran (SMKK Pius sekarang), jalan alon-alon timur sambil mengajak penduduk yang lain untuk ikut. Dengan demikian jumlah pemuda semakin bertambah banyak hingga sampai di jalan perempatan Pasar Rejowinangun. Kemudian bergerak kearah barat menuju ke Jalan Tidar tempat di mana Markas Kempeitai (sekarang SMIP WIYASA) .

Di Markas Kempeitei sedang terjadi Perundingan antara Pak Tartib (pimpinan pejuang) dengan komando Kempeitai Kolonel Mamuro. Ternyata pembicaraan kedua belah pihak tidak menghasilkan kesepakatan. Hal ini disebabkan pihak polisi militer Jepang merasa tidak lagi mempunyai wewenang untuk menghukum Tentara Jepang itu, sedang pihak Pak Tartib mengatakan bahwa Jenderal Nakamuralah yang berwenang menangani masalah ini.

Kemudian para pemuda memaksa untuk pergi ke kediaman Jenderal Nakamura. R.P.Soeroso selaku pimpinan delegasi berunding dengan Mayor Jenderal Nakamura. Setelah perundingan selesai, seorang anggota delegasi naik ke pagar dinding halaman Gereja Ignatius untuk memberikan penjelasan dengan baik dan massapun bubaran dengan tertib dan tidak terjadi suatu insiden yang merugikan.

C. Terjadinya Insiden Berdarah di Markas Kempeitei

Tidak semua pemuda pulang setelah mendengarkan hasil perundingan antara R.P. Soeroso dengan Jenderal Nakamura. Namun sebagian para pemuda merencanakan untuk melakukan aksi atau demonstrasi ke Markas Kempeitei di Jalan Tidar. Alasan mereka salah seorang tentara Jepang itu belum jelas status hukumnya, melakukan perampasan terhadap senjata Kempeitei, dan menduduki Markas Kempeitei.

Menurut Mihardjo, para pemuda Magelang terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, para pemuda Magelang akan mengadakan demostrasi kembali untuk menuntut Jenderal Nakamura menghukum salah seorang tentara Jepang yang menyobek plakat bendera merah putih. Apabila tidak bersedia, maka para pemuda segera menyerang Markas Kempeitei dengan bambu runcing (berdasarkan wawancara dengan Mihardjo dan Suharyanto pada tanggal 20 Agustus 2010).

Suharyanto menambahkan keterangan Mihardjo, bahwa kebanyakan pemuda yang akan melakukan demonstrasi itu adalah kelompok yang mengingikan senjata Kempeitei. Ternyata di antara pemuda itu ada yang eks Heiho dan Peta, makanya mereka sangat lihai dalam memberikan komando para demonstran.

Kelompok yang kedua berasal dari pemuda yang berlatar belakang pelajar, pemuda kampung yang letaknya berdekatan dengan Lereng Bukit Tidar, dan sebagian dari golongan tua yang memiliki pengaruh kuat. Rencananya kelompok dua ini hanya mengadakan upacara pengibaran bendera merah putih dan ikrar pemuda Magelang. Semua peserta upacara diharapkan membawa bambu runcing atau tombak yang berfungsi untuk membela diri apabila ada ancaman dari musuh.

Pada pagi harinya tanggal 25 September 1945 sekitar jam 04.00-05.00, ratusan pemuda berbondong-bondong mendaki Bukit Tidar untuk mengikuti upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih. Arti penting pengibaran bendera merah putih yang pertama di Puncak Bukit Tidar, yaitu

1. Dari segi religius, bahwa masyarakat Magelang memandang Bukit Tidar sebagai tempat yang suci dan agung. Oleh karena itu di sanalah tempat yang sebaiknya lambang kebesaran bangsa itu dikibarkan.

2. Masyarakat Magelang mempunyai anggapan bahwa Bukit Tidar adalah “Paku Pulau Jawa” (Pakuning Tanah Jawa ) atau pusatnya tanah Jawa oleh karena itu Bukit Tidar dipandang sebagai tempat yang keramat. Dengan demikian pengibaran bendera di puncaknya itu, rakyat mengharap agar perjuangan mengisi kemerdekaan itu dapat berhasil dengan selamat.

3. Bukit Tidar tempatnya memang strategis, walaupun di luar keramaian kota tetapi karena letaknya yang tinggi , maka dapat dilihat dari tempat-tempat yang jauh.

Jam 00.06 upacara pengibaran bendera dimulai dan dapat berjalan secara khidmat. Peserta yang sampai meneteskan air mata haru dan bangga. Upacara telah selesai dengan aman semua telah merasa lega. Para pemuda yang waktu itu bersenjatakan “yari” (semacam tombak, alat untuk latihan kemiliteran Seinendan) ditugaskan untuk tetap tinggal menjaga Puncak Tidar dan yang lain boleh bubar.

Beberapa menit kemudian, para peserta berbondong-bondong turun dari puncak tidar, terdengarlah suara serentetan letusan senjata api dari arah Markas Kempeitai. Ternyata ada keributan di sana antara kelompok pemuda dengan pasukan kempeitai. Kempetei mengalami ketakutan karena takut akan serbuan para pemuda yang juga sedang turun berduyun-duyun dari bukit dan berlari-lari menuju ke arah keributan sehingga menembakan senjata mesinnya. Namun mendengar tembakan itu pemuda tidak menjadi takut.

Mereka terus maju, sebagian ada yang menolong korban yang berjatuhan kemudian dibawa lari ke RSU Tidar yang kebetulan letaknya berdekatan dengan markas kempeitai itu. dan yang lain terus mengepung akan menyerbu ke markas. Pada saat yang bersamaan datanglah residen Kedu R.P.Seoroso dan Kepala Polisi Kota Inspektur Legowo, yang meminta para pemuda untuk mengurungkan niatnya menduduki Markas Kempeitei karena selain kalah dalam bidang persenjataan, juga para pemuda akan dirugikan.

Insiden di Jalan Tidar ini membawa korban 5 orang pemuda gugur, yaitu 4 orang mati seketika itu dan 1 orang setelah 2 hari dirawat di rumah sakit. nama-nama pemuda yang gugur seketika itu terdiri atas Kusni, Djajus, Sujud, dan Samad Sastrodimedjo, sedangkan Slamet 2 hari kemudian.

Setelah insiden berdarah itu, Markas Kempetei dipindahkan ke Wonosobo. Hal ini disebabkan adanya ancaman demonstran yang berjumlah besar. Kemudian ditempat Badan Kemananan Rakyat Kota Magelang.

[SUMBER : KOMPASIANA, penulis : Prija Dji. Ijin share Pak Adji Setya Sejarah]

KARAKTERISTIK ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA [DI KOTA MAGELANG]

Standard

https://i0.wp.com/cdn1.vtourist.com/4/3957467-KweekSchoolVoor_Kaboepaten_Magelang_Magelang.jpg

Eks Gedung Kweek School voor Inlander Ambtenar, salah satu bangunan tua di Kota Magelang yang bergaya Indisch. Di bangun pada awal tahun 1900-an.

Karakteristik Arsitektur Kolonial Belanda dalam hal ini dapat dilihat dari segi periodisasi perkembangan arsitekturnya maupun dapat pula ditinjau dari berbagai elemen ornamen yang digunakan bangunan kolonial tersebut. 

A. Periodisasi Arsitektur Kolonial Belanda

Helen Jessup dalam Handinoto (1996: 129-130) membagi periodisasi perkembangan arsitektur kolonial Belanda di Indonesia dari abad ke 16 sampai tahun 1940-an menjadi empat bagian, yaitu:

1. Abad 16 sampai tahun 1800-an

Pada waktu ini Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda) di bawah kekuasaan perusahaan dagang Belanda yang bernama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Selama periode ini arsitektur kolonial Belanda kehilangan orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda serta tidak mempunyai suatu orientasi bentuk yang jelas. Yang lebih buruk lagi, bangunan-bangunan tersebut tidak diusahakan untuk beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat.

2. Tahun 1800-an sampai tahun 1902

Ketika itu, pemerintah Belanda mengambil alih Hindia Belanda dari perusahaan dagang VOC. Setelah pemerintahan Inggris yang singkat pada tahun 1811-1815. Hindia Belanda kemudian sepenuhnya dikuasai oleh Belanda. Indonesia waktu itu diperintah dengan tujuan untuk memperkuat kedudukan ekonomi negeri Belanda. Oleh sebab itu, Belanda pada abad ke-19 harus memperkuat statusnya sebagai kaum kolonialis dengan membangun gedung-gedung yang berkesan grandeur (megah). Bangunan gedung dengan gaya megah ini dipinjam dari gaya arsitektur neo-klasik yang sebenarnya berlainan dengan gaya arsitektur nasional Belanda waktu itu.

3. Tahun 1902-1920-an

Antara tahun 1902 kaum liberal di negeri Belanda mendesak apa yang dinamakan politik etis untuk diterapkan di tanah jajahan. Sejak itu, pemukiman orang Belanda tumbuh dengan cepat. Dengan adanya suasana tersebut, maka “indische architectuur” menjadi terdesak dan hilang. Sebagai gantinya, muncul standar arsitektur yang berorientasi ke Belanda. Pada 20 tahun pertama inilah terlihat gaya arsitektur modern yang berorientasi ke negeri Belanda.

4. Tahun 1920 sampai tahun 1940-an

Pada tahun ini muncul gerakan pembaruan dalam arsitektur, baik nasional maupun internasional di Belanda yang kemudian memengaruhi arsitektur kolonial di Indonesia. Hanya saja arsitektur baru tersebut kadang-kadang diikuti secara langsung, tetapi kadang-kadang juga muncul gaya yang disebut sebagai ekletisisme (gaya campuran). Pada masa tersebut muncul arsitek Belanda yang memandang perlu untuk memberi ciri khas pada arsitektur Hindia Belanda. Mereka ini menggunakan kebudayaan arsitektur tradisional Indonesia sebagai sumber pengembangannya.

Hampir serupa dengan Helen Jessup, Handinoto (1996: 130-131) membagi periodisasi arsitektur kolonial di Surabaya ke dalam tiga periode, yaitu: 1) perkembangan arsitektur antara tahun 1870-1900; 2) perkembangan arsitektur sesudah tahun 1900; dan 3) perkembangan arsitektur setelah tahun 1920. Perkembangan arsitektur kolonial Belanda tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Perkembangan Arsitektur Antara Tahun 1870-1900

Akibat kehidupan di Jawa yang berbeda dengan cara hidup masyarakat Belanda di negeri Belanda maka di Hindia Belanda (Indonesia) kemudian terbentuk gaya arsitektur tersendiri. Gaya tersebut sebenarnya dipelopori oleh Gubernur Jenderal HW. Daendels yang datang ke Hindia Belanda (1808-1811). Daendels adalah seorang mantan jenderal angkatan darat Napoleon, sehingga gaya arsitektur yang didirikan Daendels memiliki ciri khas gaya Perancis, terlepas dari kebudayaan induknya, yakni Belanda.

https://i0.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/IMG_4151.jpg

Wisma Diponegoro di Poncol dengan gaya bangunan The Empire Style

Gaya arsitektur Hindia Belanda abad ke-19 yang dipopulerkan Daendels tersebut kemudian dikenal dengan sebutan The  Empire Style. Gaya ini oleh Handinoto juga dapat disebut sebagai The Dutch Colonial. Gaya arsitektur The Empire Style adalah suatu gaya arsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis, bukan Belanda) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda (Indonesia)  yang bergaya kolonial, yang disesuaikan dengan lingkungan lokal dengan iklim dan tersedianya material pada waktu itu (Akihary dalam Handinoto, 1996: 132). Ciri-cirinya antara lain: denah yang simetris, satu lantai dan ditutup dengan atap perisai. Karakteristik lain dari gaya ini diantaranya: terbuka, terdapat pilar di serambi depan dan belakang, terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang tidur dan kamar-kamar lain. Ciri khas dari gaya arsitektur ini yaitu adanya barisan pilar atau kolom (bergaya Yunani) yang menjulang ke atas serta terdapat gevel dan mahkota di atas serambi depan dan belakang. Serambi belakang seringkali digunakan sebagai ruang makan dan pada bagian belakangnya dihubungkan dengan daerah servis (Handinoto, 1996: 132-133).

Eks Gedung Karesidenan Kedu yang bergaya The Empire Style dengan pilar/kolom penyangga atap dan halaman depan yang luas dengan taman yang indah. Di bangun pada pertengahan tahun 1800-an

2) Perkembangan Arsitektur Sesudah Tahun 1900

Handinoto (1996: 163) menyebutkan bahwa, bentuk arsitektur kolonial Belanda di Indonesia sesudah tahun 1900 merupakan bentuk yang spesifik. Bentuk tersebut merupakan hasil kompromi dari arsitektur modern yang berkembang di Belanda pada waktu yang bersamaan dengan penyesuaian iklim tropis basah Indonesia. Ada juga beberapa bangunan arsitektur kolonial Belanda yang mengambil elemen-elemen tradisional setempat yang kemudian diterapkan ke dalam bentuk arsitekturnya. Hasil keseluruhan dari arsitektur kolonial Belanda di Indonesia tersebut adalah suatu bentuk khas yang berlainan dengan arsitektur modern yang ada di Belanda sendiri.

Handinoto (1996: 151-163) juga menguraikan bahwa, kebangkitan arsitektur Belanda sebenarnya dimulai dari seorang arsitek Neo-Gothik, PJH. Cuypers (1827-1921) yang kemudian disusul oleh para arsitek dari aliran Niuwe Kunst  (Art Nouveau gaya Belanda) HP. Berlage (185-1934) dan rekan-rekannya seperti Willem Kromhout (1864-1940), KPC. De Bazel (1869-1928), JLM. Lauweriks (1864-1932), dan Edward Cuypers (1859-1927). Gerakan Nieuw Kunst yang dirintis oleh Berlage di Belanda ini kemudian melahirkan dua aliran arsitektur modern yaitu The Amsterdam School serta aliran De Stijl. Adapun penjelasan mengenai arsitektur Art Nouveau, The Amsterdam School dan De Stijl dapat dijabarkan sebagai berikut:

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/05/071d2-_mg_7073.jpg

Gereja Protestan GPIB di utara Aloon-aloon Magelang bergaya Ghotic dengan menara kecil di sisi kanan kiri menara utama [foto : rumput ilalang]

a) Art Nouveau

Art Nouveau adalah gerakan internasional dan gaya seni arsitektur dan diterapkan terutama pada seni-seni dekoratif yang memuncak pada popularitas di pergantian abad 20 (1890-1905). Nama Art Nouveau adalah bahasa Perancis untuk ‘seni baru’. Gaya ini ditandai dengan bentuk organik, khususnya yang diilhami motif-motif bunga dan tanaman lain, dan juga sangat bergaya bentuk-bentuk lengkung yang mengalir. Gaya Art Nouveau dan pendekatannya telah diterapkan dalam hal arsitektur, melukis, furnitur, gelas, desain grafis, perhiasan, tembikar, logam, dan tekstil dan patung. Hal ini sejalan dengan filosofi Art Nouveau bahwa seni harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Art_Nouveau).

https://i2.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/479866_571613409516029_1587579639_n.jpg

Gedung Bundar di Jaranan Magelang, bergaya Art Nouveau

b) The Amsterdam School

Arsitektur Amsterdam School, yang pada awalnya berkembang disekitar Amsterdam, berakar pada sebuah aliran yang dinamakan sebagai Nieuwe Kunst di Belanda. Nieuwe Kunst adalah versi Belanda dari aliran “Art Nouveau” yang masuk ke Belanda pada peralihan abad 19 ke 20, (1892-1904). Agak berbeda dengan ‘Art Nouveau‘, didalam dunia desain “Nieuwe Kunst” yang berkembang di Belanda, berpegang pada dua hal yang pokok, pertama adalah ‘orisinalitas’ dan kedua adalah ‘spritualitas’, disamping rasionalitas yang membantu dalam validitas universal dari bentuk yang diciptakan (de Wit dalam Handinoto, e-journal ilmiah Petra Surabaya).

Aliran Amsterdam Shool menafsirkan ‘orisinalitas’ ini sebagai sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap perancang, sehingga setiap desain yang dihasilkan, harus merupakan ekspresi pribadi perancangnya. Sedangkan ‘spritualitas’ ditafsirkan sebagai metode penciptaan yang didasarkan atas penalaran yang bisa menghasilkan karya-karya seni (termasuk arsitektur), dengan memakai bahan dasar yang berasal dari alam (bata, kayu, batu alam, tanah liat, dsb.nya). Bahan-bahan alam tersebut dipasang dengan ketrampilan tangan yang tinggi sehingga memungkinkan dibuatnya bermacam-macam ornamentasi yang indah. Tapi semuanya ini harus tetap memperhatikan fungsi utamanya.

Pada tahun 1915, ‘Nieuwe Kunst’ ini kemudian terpecah menjadi dua aliran. Pertama yaitu aliran Amsterdam School dan yang kedua adalah De Stijl. Meskipun berasal dari sumber yang sama dan mempunyai panutan yang sama (H.P. Berlage), tapi ternyata kedua aliran arsitektur ini mempunyai perbedaan. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan bahwa Amsterdam School tidak pernah menerima mesin sebagai alat penggandaan hasil karya-karyanya. Hal ini berbeda dengan De Stijl, yang menganggap hasil karya dengan gaya tersebut sebagai nilai estetika publik atau estetika universal, dan bisa menerima mesin sebagai alat pengganda karya-karyanya.

Pengertian lain mengenai Amsterdam School (Belanda: Amsterdamse School) adalah gaya arsitektur yang muncul dari 1910 sampai sekitar 1930 di Belanda. Gaya ini ditandai oleh konstruksi batu bata dan batu dengan penampilan bulat atau organik, massa relatif tradisional, dan integrasi dari skema yang rumit pada elemen bangunan luar dan dalam: batu dekoratif, seni kaca, besi tempa, menara atau “tangga” jendela (dengan horizontal bar), dan diintegrasikan dengan sculpture arsitektural. Tujuannya adalah untuk menciptakan pengalaman total arsitektur, interior dan eksterior. (sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Amsterdam_School)

Di samping karakteristik diatas, ciri-ciri lain dari aliran Amsterdam School oleh Handinoto (dalam e-journal ilmiah Petra Surabaya), antara lain :

a)   Bagi Amsterdam School, karya orisinalitas merupakan sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap perancang, sehingga setiap desain yang dihasilkan, harus merupakan ekspresi pribadi perancangnya. Nilai estetika dari karya-karya aliran Amsterdam School bukan bersifat publik atau estetika universal. Itulah sebabnya Amsterdam School tidak pernah menerima mesin sebagai alat penggandaan hasil karyanya.

b)   Bagi Amsterdam School mengekspresikan ide dari suatu gagasan lebih penting dibanding suatu studi rasional atas kebutuhan perumahan ke arah pengembangan baru dari jenis denah lantai dasar suatu bangunan

c)   Arsitek dan desainer dari aliran Amsterdam School melihat bangunan sebagai “total work of art”, mereka melihat bahwa desain interior harus mendapat perhatian yang sama sebagai gagasan yang terpadu dalam arsitektur itu sendiri, dan hal tersebut sama sekali bukan merupakan hasil kerja atau produk mekanis. Pada saat yang sama, mereka berusaha untuk memadukan tampak luar dan bagian dalam (interior) bangunan menjadi suatu kesatuan yang utuh.

d)   Bangunan dari aliran Amsterdam School biasanya dibuat dari susunan bata yang dikerjakan dengan keahlian tangan yang tinggi dan bentuknya sangat plastis; ornamen skulptural dan diferensiasi warna dari bahan-bahan asli (bata, batu alam, kayu) memainkan peran penting dalam desainnya.

e)   Walaupun arsitek aliran Amsterdam School sering bekerja sama dengan pemahat dan ahli kerajinan tangan lainnya, mereka menganggap arsitektur sebagai unsur yang paling utama dan oleh karenanya harus sanggup mendikte semua seni yang lain.

(Sumber:http://fportfolio.petra.ac.id/  e-jurnal ilmiah Petra Surabaya)

c) Gaya Arsitektur De Stijl

Gaya De Stijl dikenal sebagai neoplasticism, adalah gerakan artistik Belanda yang didirikan pada 1917. Dalam hal ini, neoplasticism sendiri dapat diartikan sebagai seni plastik baru. Pendukung De Stijl berusaha untuk mengekspresikan utopia baru ideal dari keharmonisan spiritual dan ketertiban. Mereka menganjurkan abstraksi murni dan universalitas dengan pengurangan sampai ke inti bentuk dan warna; mereka menyederhanakan komposisi visual ke arah vertikal dan horisontal, dan hanya digunakan warna-warna primer bersamaan dengan warna hitam dan putih.

Secara umum, De Stijl mengusulkan kesederhanaan dan abstraksi pokok, baik dalam arsitektur dan lukisan dengan hanya menggunakan garis lurus horisontal dan vertikal dan bentuk-bentuk persegi panjang. Selanjutnya, dari segi warna adalah terbatas pada warna utama, merah, kuning, dan biru, dan tiga nilai utama, hitam, putih, dan abu-abu. Gaya ini menghindari keseimbangan simetri dan mencapai keseimbangan estetis dengan menggunakan oposisi.

(sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/De_Stijl)

3) Perkembangan Arsitektur Setelah Tahun 1920

Akihary (dalam Handinoto, 1996: 237-238) menggunakan istilah gaya bangunan sesudah tahun 1920-an dengan nama Niuwe Bouwen yang merupakan penganut dari aliran International Style. Seperti halnya arsitektur barat lain yang diimpor, maka penerapannya disini selalu disesuaikan dengan iklim serta tingkat teknologi setempat. Wujud umum dari dari penampilan arsitektur Niuwe Bouwen ini menurut formalnya berwarna putih, atap datar, menggunakan gevel horizontal dan volume bangunan yang berbentuk kubus

Gaya ini (Niuwe Bouwen/ New Building) adalah sebuah istilah untuk beberapa arsitektur internasional dan perencanaan inovasi radikal dari periode 1915 hingga sekitar tahun 1960. Gaya ini dianggap sebagai pelopor dari International Style. Istilah “Nieuwe Bouwen” ini diciptakan pada tahun dua puluhan dan digunakan untuk arsitektur modern pada periode ini di Jerman, Belanda dan Perancis. Arsitek Nieuwe Bouwen nasional dan regional menolak tradisi dan pamer dan penampilan. Dia ingin yang baru, bersih, berdasarkan bahasa desain sederhana, dan tanpa hiasan. Karakteristik Nieuwe Bouwen meliputi: a) Transparansi, ruang, cahaya dan udara. Hal ini dicapai melalui penggunaan bahan-bahan modern dan metode konstruksi. b) Simetris dan pengulangan yaitu keseimbangan antara bagian-bagian yang tidak setara. c) Penggunaan warna bukan sebagai hiasan namun sebagai sarana ekspresi.

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/05/c748f-watertorn2.jpg

Menara Air Minum di bangun pada tahun 1920

(sumber: http://nl.wikipedia.org/wiki/Nieuwe_Bouwen)

B. Berbagai Elemen Bangunan Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia

Elemen-elemen bangunan bercorak Belanda yang banyak digunakan dalam arsitektur kolonial Hindia Belanda (Handinoto, 1996:165-178)  antara lain: a) gevel (gable) pada tampak depan bangunan; b) tower; c) dormer; d) windwijzer (penunjuk angin); e) nok acroterie (hiasan puncak atap); f) geveltoppen (hiasan kemuncak atap depan); g) ragam hias pada tubuh bangunan; dan  h) balustrade.

https://i2.wp.com/cdn.sindonews.com/content/2013/01/29/30/712088/MadgnujZmi.jpg

Toko Roti dan Kue “Bhi Sing Ho” di Jalan Poncol Magelang dengan parapet di dinding depannya.

Referensi:

Handinoto. 1996. Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya 1870-1940. Diterbitkan atas Kerja Sama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Petra Surabaya dan Penerbit Andi. Yogyakarta: Andi Offset

Sumalyo, Yulianto. 1995.  Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Handinoto dan Hartono, Samuel. “The Amsterdam School” dan Perkembangan Arsitektur Kolonial di Hindia Belanda Antara 1915-1940. e-jurnal Ilmiah Petra Surabaya

Sumber :

http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/81-005/The%20Amsterdam%20School.pdf

http://en.wikipedia.org/wiki/Amsterdam_School

http://en.wikipedia.org/wiki/Art_Deco

http://en.wikipedia.org/wiki/Art_Nouveau

http://en.wikipedia.org/wiki/De_Stijl

http://nl.wikipedia.org/wiki/Nieuwe_Bouwen

[http://iketsa.wordpress.com]

DI TAHUN 1940’an, MAGELANG PUNYA KOMPOSER/MUSISI

Standard

Meong… Meong… Segala Zaman

Sebuah lagu jenaka tak malu-malu kucing untuk tetap populer hingga kini. 

OLEH: DARMA ISMAYANTO

LIRIKNYA kritis, terkesan nyinyir dan menyindir. Namun Oey Yok Siang, sang pencipta lagu, sepertinya cukup pandai dengan membalutnya dalam gubahan tempo yang menarik dan segar sehingga terdengar menggelitik di telinga. Permainan metafor pada lirik pun membuat lagu jadi penuh kesan jenaka. Coba saja simak liriknya:

Apa guna bung malu malu kucing

Meong meong di belakang suaranya nyaring

Jangan suka bung diam diam kucing

Sudah menerkam sebelumnya berunding

        ”Lirik lagu ini berisi tentang sindiran-sindiran kepada oknum-oknum tertentu dalam lingkungan masyarakat yang kerap gemar mengadu domba dan memancing kerusuhan. Pada masa itu cara mengkritik memang masih seperti itu, dibalut dalam lagu yang syairnya berpantun. Mungkin karena adat ketimuran masih sangat kuat,” kata pengamat musik Denny Sakrie.

Diciptakan dan populer pada 1950-an, lagu bergenre keroncong ini kemudian memiliki banyak versi. Belakangan lagu ini kembali naik daun setelah dirilis ulang oleh grup band White Shoes And The Couples Company, yang menghadirkannya dalam balutan jazz. Lagu “Aksi Kucing” sepertinya belum usang dimakan zaman.

“Kalau siapa yang membawakan pertama kali saya tidak bisa memastikan, karena banyak sekali yang pernah membawakannya. Rima Melati pun dulu sempat membawakannya. Lagu ini diciptakan sekitar tahun 1952-1953,” kata Denny.

Kemunculan “Aksi Kucing” tak bisa lepas dari kejayaan kesenian Gambang Semarang, yang dikembangkan Lie Hoo Soen, anggota Volksraad (Dewan Rakyat) Semarang yang juga penggemar musik keroncong dan pengurus organisasi kesenian Krido Hartojo. Dia juga dikenal sebagai orang kepercayaan pengusaha kaya Oei Tiong Ham yang dijuluki Raja Gula.

Menurut Dewi Yuliati, sejarawan asal Semarang, dalam artikel “Kesenian Gambang Semarang: Suatu Bentuk Integrasi Budaya Jawa dan Cina”, sampai saat ini asal-usul kesenian Gambang Semarang masih diperdebatkan. Ada yang menyebutnya kesenian “impor” dari Betawi, karena dulu alat-alat musiknya dibeli dari sana dan tak berbeda dengan alat-alat musik Gambang Kromong. Ada juga yang menganggapnya berasal dari Semarang, dibawa dan dikembangkan para imigran Tiongkok yang langsung menuju Semarang.

“Terlepas dari kontroversi mengenai asal-usul Gambang Semarang, tidak dapat diingkari bahwa kesenian itu lahir atas prakarsa masyarakat Semarang sendiri,” tulis Dewi Yuliati.

Kesenian ini meramaikan pasar malam dan tersohor di hingga kota Kudus, Pati, Juwana, Temanggung, Parakan, Wonosobo, Magelang, Weleri, Pekalongan, dan Cirebon. Saking populernya, Oey Yok Siang dan Sidik Pramono, dua seniman Magelang yang terpesona dengan nilai estetis kesenian ini, terinspirasi untuk membuat lagu “Empat Penari” pada 1940. Jika mengunjungi Semarang, Anda mungkin akan mendengar lagu “Empat Penari” ini.

Oey Yok Siang menyukai Gambang Semarang. Tak heran jika dari tangannya lahir beberapa lagu yang cocok dengan iringan musik kesenian ini. Selain “Empat Penari”, dia membuat lagu “Impian Semalam” dan “Aksi Kucing” yang kemudian dipakai sutradara M Arief untuk mengisi film film Lenggang Djakarta (1953).

Gitar Kesayangan

Oey Yok Siang dikenal sebagai pencipta lagu handal pada 1950-an, terutama untuk keperluan soundtrack film. Perusahaan Bintang Surabaja Film kerap menggunakan jasanya. Itulah sebabnya, meski tinggal di Magelang, Oey kerap bermukim di Jakarta atau Malang selama 1-3 bulan. Beberapa lagu terlahir dari tangannya seperti “Radja Sehari”, ”Badju Batik”, “Terkenang Ibu”, “Idaman Gadis Taruna”, dan “Pilihlah Aku” untuk mengisi film Putri Solo (1953) garapan sutradara Fred Young. Setahun kemudian, Oey menciptakan lagu “Djoko Lodang” dan “Getuk Lindri” untuk film Sebatang Kara, juga karya sutradara Fred Young.

Pada tahun 1950-an, Oey juga sudah meluncurkan album. Lagu-lagunya seperti “Gambang Semarang”, “Impian Semalam”, “Berdendang Sajang”, “Aksi Kucing”, dan “Romeo & Juliet” terekam kali pertama dalam album piringan hitam di bawah bendera Irama Djakarta.

Oey seorang seniman sejati. Dia menggantungkan hidup pada karya-karyanya. Teman sejatinya adalah sebuah gitar, satu-satunya alat untuk menciptakan lagu. “Sebagaimana diketahui, Oey Yok Siang itu dalam mencipta lagu-lagu rakyat populer tidak pernah menggunakan piano. Tetapi satu alat yang dapat dikatakan sudah menjadi darah dagingnya adalah gitar,” tulis Tjia Koen Hwa dalam majalah Pantjawarna, April 1960.

Meski popular, dia tak pernah lupa keluarga. Dia menyisihkan dan mengirimkan sebagian penghasilannya ke rumah. Namun kesulitan keuangan menghampiri ketika pesanan dari Bintang Surabaja Film mulai seret pada medio 1960-an. Sementara dia lagi memperbaiki rumahnya di Magelang. Untuk menambal kekurangannya, Oey terpaksa melego satu-satunya gitar kesayangan.

Tanpa gitar, Oey mulai pesimis memandang hidupnya. Hingga suatu ketika dia mendapat serangan asma, penyakit yang sudah lama dia derita. Komplikasi dengan tekanan darah tinggi memperparah kondisi tubuhnya.

Pada akhirnya, di kediamannya di Jalan Karet 29 B, Magelang, Oey Yok Siang menghembuskan nafas terakhir pada 5 Maret 1960. Dia meninggalkan seorang istri dan seorang anak angkat bernama Agus Affandi yang baru berumur empat tahun.

Sebelum meninggal, Oey sempat berpesan pada ibu kandung anak angkatnya: “Agus jangan diambil kembali ya.” Agus pula yang mengurus hak cipta lagu-lagu Oey, dengan meminta bantuan PT Penerbit Karya Musik Pertiwi (PMP) di Jakarta. PMP, yang antara lain menghimpun dan mengelola karya cipta lagu dan musik, mendata 18 lagu karya Oey Yok Siang. Sayangnya, PMP tak memberikan data lengkap mengenai masing-masing lagu.

Aksi Kucing

Dari sebegitu banyak lagu, “Aksi Kucing” jadi salah satu yang popularitasnya melewati zaman. Lagu ini kerap dibawakan penyanyi-penyanyi tenar tanah air. Pada 1960-an Nien Lesmana (istri Jack Lesmana dan ibu dari Indra Lesmana) pernah membawakannya dengan nuansa swing big band dan rock and roll yang kental. Mendengarnya sedikit mengingatkan pada irama lagu-lagu The Beatles atau Koes Ploes, kental dengan suara cabikan senar gitar dan bass khas rock and  roll.

“Lagu-lagu Nien biasanya lebih ke pop atau  jazz. Lagu-lagu Nien kan yang mengaransemen Jack Lesmana. Jack sendiri bisa main apa saja. Jadi sebuah lagu dia mau aransemen model apa saja, asyik aja. Mau di jazz-in, rock, bisa,” kata Ricky Surya Virgana, anggota band White Shoes And The Couples Company.

Pada 1970-an penyanyi Mus Mulyadi memasukkan “Aksi Kucing” dalam album Keroncong Jenaka. Dia membawakan lagu ini berduet dengan Mamiek Marsadi.

Lagu ini juga populer di negara tetangga. Kartina Dahari, penyanyi asal Singapura yang mendapat julukan “Ratu Keroncong dari Melayu”, memasukannya dalam album Kroncong Tina pada 1973. Di album ini, “Aksi Kucing” mendapat sentuhan aransemen ulang oleh Kassim Masdor, juga dari Singapura.

Memasuki tahun 2006, “Aksi Kucing” kembali populer setelah menjadi soundtrack film Berbagi Suami garapan Nia Dinata. Lagu “Aksi Kucing” dilantunkan penyanyi Jetti dengan iringan Orkes Gambang Kromong Lie Tan di bawah pimpinan Tan A Hoy. Selain tampil dalam film, “Aksi Kucing” masuk dalam album kompilasi Ost Berbagi Suami. Ini bukan kali pertama “Aksi Kucing” menjadi soundtrack. Pada 1953, lagu ini sudah pernah dipakai sutradara M Arief untuk menghiasi film Lenggang Djakarta (1953).

White Shoes And The Couple Company, yang ikut-serta dalam album Ost Berbagi Suami tapi membawakan lagu “Sabda Alam” dan “Bersandar”, memasukkan “Aksi Kucing” dalam extended  play (EP/ album mini) Skenario Masa Muda yang rilis tahun 2007. Dalam album ini, “Aksi Kucing” menjadi single andalan yang ditawarkan kepada pendengar.

“Lagu-lagu yang dulu sempat hits selalu ada peluang untuk terkenal atau ngetop lagi. Tapi tentunya harus digarap secara tepat. Kalau sekadar membawakan atau menyanyikan kembali tanpa ada sentuhan baru jadi agak riskan,” kata Denny.

White Shoes memberikan sentuhan nuansa jazz yang diramu lewat permainan senar drum nan ritmis dan permainan melodi solo gitar berpadu saxophone di bagian interlude. Kenapa memasukkan “Aksi Kucing”? “Pertama, itu lagu bagus. Kedua, banyak orang, terutama anak muda, yang belum pernah dengar lagu itu. Makna liriknya sebenarnya kan cukup dalam. Intinya, kita ingin memperlihatkan kepada anak-anak muda sekarang kalau Indonesia juga memiliki lagu-lagu bagus yang berkualitas,” kata Ricky dari White Shoes.

Pilihan yang tak sepenunya salah. Terbukti, kata Ricky, “Setiap kali kita manggung banyak penonton yang selalu meminta agar kita memainkan lagu ‘Aksi Kucing’.”

Meong, meong…

SUMBER COPY – PASTE dari:

1. http://www.historia.co.id/artikel/resensi/1069/Majalah-Historia/Meong…_Meong…_Segala_Zaman

TAUTAN YOUTUBE:

2. White Shoes and The Couples Company – Aksi kucing (cover) https://www.youtube.com/watch?v=t1SGp75Q9iE

3. Gambang Semarang oleh Gambang Peranakan Nanfeng Nusantara – Empat Penari (Cipt. Oey Yok Siang) https://www.youtube.com/watch?v=81MMio-BH-k

4. Onny Surjono – Impian Semalam cover (Cipt. Oey Yok Siang) https://www.youtube.com/watch?v=PF9oe1zZ8v0

5. TAUTAN AUDIO & VIDEO: http://music.camaris.be/cloudservlet?artist=Oey+Yok+Siang

6. TAUTAN AUDIO & VIDEO #2: http://www.musicade.net/videos-de-musica-de-oey-yok-siang/

MORE INFO:

1. Gambang Semarang yang Gamang – http://oase.kompas.com/read/2010/09/18/06273414/gambang

2. Gambang Semarangan – http://www.skyscrapercity.com/showpost.php?p=83444029&postcount=116

3. Kisah “Empat Penari” di Tawang – http://travel.kompas.com/read/2010/09/09/15425722/Kisah.Empat.Penari.di.Tawang