Monthly Archives: October 2014

MAGELANG TEMPO DOELOE : RELI MOTOR

Standard

MAGELANG TEMPO DOELOE


Suasana sebuah reli motor di Magelang pada kisaran tahun 1920 – 1930an. Tampak seorang peserta lomba sedang berhenti dan di tonton oleh banyak orang di depan sebuah jalan yang bernama Grooteweg Noord Pontjol [sekarang Jl. A Yani Poncol].
Pada latar belakang/kiri nampak sebuah bangunan toko yang bernama “LIAUW YAUW NING”, sebuah toko di bidang fotografer milik Liauw Yauw Ning. Toko ini sekarang menjadi Toko “Lonceng Magelang/LOMA” di Jl. A Yani depan Wisma Diponegoro.
Di sebelah kanan Toko “Liauw Yauw Ning” tepatnya di depan Toko “Liong Ho Ging ” ini terdapat sebuah stasiun pompa bensin khusus untuk sepeda motor. Toko “Liong Ho Ging” ini pada tahun 1945an menjadi Toko “Bi Sing Ho” yang terkenal dengan es krim dan rotinya. Toko “Bi Sing Ho” ini sekarang menjadi agen bis dan penjualan roti serta es krim.
Sedangkan bangunan di sebelah kanan merupakan bangunan bagian dari Toko Hezzelink yang menjadi sekretariat dari ” Magelang Vooruit”. Toko ini sekarang menjadi agen travel “Soma Motor”.
[foto : koleksi Pribadi]

HO TJONG AN, SANG PEMBUAT JALUR KERETA API ANTARA MAGELANG-AMBARAWA-TEMANGGUNG-PARAKAN

Standard


Proses pembangunan jalur kereta api antara Ambarawa-Secang, Magelang-Secang dan Secang-Temanggung-Parakan, tentunya tidak bisa melupakan jasa seorang aannemer/pemborong bernamaHo Tjong An. Ho Tjong An terlahir di Tungkwan, Canton Cina pada tahun 1841.
Berikut ini kami kutip dari majalah SINPO terbitan tahun 1919 yang menceritakan tentang sosok Ho Tjong An tersebut:
“Begitoe pakerdjahan itu selese, toean Ho soeda borong poela pakerdjahan memboeka djalanan kreta api antara Willem I-Setjang, Magelang-Setjang dan Setjang-Parakan. Grondverzet antara Setjang-Parakan ada 143.000 M3”.
“Grondverzet jang ia mesti bikin antara Ambarawa-Setjang, toean Ho Tjong An trima boeat harga f 390.000,- kerna boekan sedikit djoerang jang mesti di potong agar tida kliwat menandjak. Koeli jang di pake setiap harinja tida koerang dari 3000 orang.
Kamoedian pakerdjahan ini ia samboeng boeat boeka tanah jang hoeboengkan antara Magelang-Setjang dan Setjang – Parakan, jang ia borong boet harga f 350.000,-.
(“Satoe aannemer kreta api Tionghoa”, majalah Sinpo tahun 1919)
Dalam tulisan tersebut di tuliskan bahwa pengerjaan jalur KA antara Ambarawa-Secang menghabiskan beaya sebesar f 390.000,- (Guilders Belanda). Dan jalur antara Magelang-Secang dan Secang-Parakan menghabiskan beaya sebesar f 350.000,- (Guilders Belanda). Jumlah yang sangat besar diwaktu itu.
Jalur Magelang-Secang mulai beroperasi pada tanggal 15 Mei 1903, jalur Secang-Temanggung beroperasi 3 Januari 1907, jalur Secang-Ambarawa beroperasi 1 Februari 1905 dan jalur Temanggung-Parakan beroperasi 1 Juli 1907.