Monthly Archives: August 2015

ABATTOIR TE MAGELANG (Rumah Potong Hewan Modern Magelang)

Standard

a

b

d

e

f

Tak lama setelah pembentukan dewan Kota Magelang, dan memiliki rencana untuk membangun Rumah Potong Hewan Modern atau Abattoir, jagal tersebut dengan latar kebersihan untuk penempatan pasar dengan dalih ternak-ternak tersebut dapat di cek kesehatan si ternak serta untuk mempromosikan ini kepada pemilik ternak di desa-desa

Pelarangan jagal di tempat lain maka permintaan Dewan membuat draft yang ditujukan kepada Arsitek BOW Direktur Pekerjaan Regional Wilayah Priangan L. OF Dur TAS; ini desain adalah dengan itu Direktur Pekerjaan Umum arsitek PJ VAN DER HAM permintaan sebagai proyek sebagai Direktur Pekerjaan Umum Magelang setelah memajukan pemotongan hewan di Solo dan Kediri dikunjungi dan dieksplorasi beberapa desain dan operasi ini Pemotongan hewan Magelang Dengan demikian desain berasal diringkas dalam terlampir 5 gambar terlampir dan satu lagi dipimpin oleh yang bertandatangan disusun dan dilaksanakan, potongan pada 1 Juli 1910 Oleh karena itu hanya tetap di sini direproduksi gambar sebagai:
a. Keadaan tempat kerja;
b. Gambar desain dari bangunan utama;
c. Idem tangki air yang tinggi dengan tertutup air sumur dan instalasi pompa;
d. ditto kandang untuk sapi dan babi dan dua veikooploodsen;
e. detail dari desain ropeway.

Rumah Pemotong Hewan dilengkapi dengan sumber air mengalir untuk menggelontor darah, kotoran serta sisa penyembelihan sebagai sumber pengairannya adal Manggis Leiding serta sumur yang ditampung dalam tandon, menara air.

RPH Magelang ini melayani penyembelihan Babi, Sapi serta Kerbau dimana mayoritas penjagal adalah warga muslim yang mendapat pertentangan, RPH ini juga dalam pemasaran tidak jauh dari pemberhentian Jalur NIS (Djokdjakarta – Magelang – Wilhem I) untuk sisi timur maupun selatan

apakah Draft perencanaan proyek ini di setujui atau tidak, sebagaimana proyek ini kalau memang real dimana posisinya atau dokumentasi sisa sejarah atau mungkin tinggal pepuingan semata.

sumber Indisch Bouwkundig Nederlandsc – Indie Zeventiende Jaargang Juni 1914 No 6

[Muhammad Gilang Syarifudin]

Catatan perjalanan CHULALONGKORN, raja Siam, selama di Magelang. (disarikan dari buku Perjalanan ke Jawa di tahun 1896)

Standard

Catatan perjalanan CHULALONGKORN, raja Siam, selama di Magelang. (disarikan dari buku Perjalanan ke Jawa di tahun 1896)

1 Juli 1896, jam 8 pagi, raja Siam mengunjungi Borobudur dengan didampingi Dr. Groneman. Jam 13 makan siang, ,jam 14 menuju ke Magelang. Untuk mencapai Magelang kami harus menyeberangi sungai Progo hingga mencapai persimpangan ke arah Magelang. Dalam perjalanan terlihat di dua sisi jalan kebun ketela, indigo, dan tebu. Di jalan kami mengganti kuda-kuda. Tempat mengganti kuda, jaraknya 8 Paal dari Magelang. Tiba di magelang jam 15. Saat tiba di Magelang kami melewati pecinan dengan rumah-rumah pada dua sisi jalan seperti di Bandung. Kiri dan kanan jalan banyak bendera. Agak jauh terdapat pekuburan eropa dan pemukiman orang eropa. Disini ada hotel yang bagus. Di pinggir jalan banyak juga rumah dengan kebun, barak, rumah pegawai dan lapangan untuk berlatih militer. Pertama-tama kami mengunjungi rumah sakit, banyak orang menunggu kami diatas rumput. Kami melewati lantai dasar dimana terdapat gudang. Orang-orang melemparkan bunga ke kereta kami. Rumah sakit terlihat seperti rumah sakit jiwa di Buitenzorg tapi rumah sakit ini lebih besar. Atap bangunan saling berdekatan. Selasar tidak rata dan terlihat bahwa atap tidak sama tingginya. Aku terkagum-kagum dengan ruang operasi yang tertata modern. Dr. Reyther memuji ruang operasi itu dan menurutnya sangat bagus tatanannya. Kami mengunjungi juga kamar mandi dan ruang pasien. Tiap ruang pasien dipisahkan dengan anyaman bambu seperti rumah sakit di Batavia. Rumah sakit ini punya 700 tempat tidur, saat itu terdapat 200 pasien. Masih banyak kamar kosong.

Aku mengamati gunung Merapi yang menurutku adalah gunung tercantik dari semuanya. Mereka ingin mengajakku kesana tapi aku terlalu lelah. Saat itu sudah jam 16 dan aku mengunjungi ruang perawatan untuk pasien tentara. Aku tidak menceritakan tentang kamar itu karena terlihat sama seperti yang di Buitenzorg. Rumah sakit ini memakai kayu, batu, besi sebagai konstruksinya, sedangkan rumah sakit di Buitenzorg tidak memakai kayu.

Jam 17 aku ke rumah residen, tetapi aku merasa bahwa residen baru saja terbangun dari tidur sehingga tidak bisa segera menyambutku. Lalu aku berjalan-jalan. Rumah residen sangat nyaman. Didepan fasad yang menghadap barat terdapat kebun yang luas dengan sebuah patung singa dari batu. Istri dan anak-anak residen menyambutku. Mereka menjamuku champagne dan air belanda. Kami bercakap-cakap 30 menit tentang kota Jogja. Kemudian kami pergi ke kebun dimana terdapat bunga mawar yang berbunga sedikit. Terdapat juga 2 jenis pohon yang tidak biasa, yaitu pohon kayu manis dan kenanga yg tingginya kira-kira 10 hasta dan batangnya kurang lebih 1,5 kepal tangan dan daunnya berbentuk oval. Pohon kenanga dari atas ke bawah penuh bunga dan harum. Harumnya sangat kuat bahkan tercium ketika kita belum melihat pohon itu.. Aku memetik bunga-bunga itu. Jika aku memetik semuanya aku bisa memenuhi 1 keranjang bambu. Aku tidak percaya diri untuk memetik semua bunga karena aku seorang laki-laki. Mae lek tidak bersamaku sehingga aku tidak bisa bertanya apakah aku harus memetik bunga untuknya. Aku meninggalkan beberapa bunga tetap di pohon dan bertanya apakah besok bisa memetiknya lagi. Kemudian aku berjalan-jalan dan sejauh mata memandang semuanya terlihat indah. Aku duduk, menguap dan menggoda residen apakah aku bisa tidur disini. Aku tidak perlu buru-buru kembali ke penginapanku. Seseorang menunjukkan foto Borobudur dimana baru saja mulai terbenahi. Sebelum aku pulang, aku bercakap-cakap dengan Dr. Groneman. Kami berdiskusi panjang dan berhenti hingga kami punya pandangan yang sama. Aku meninggalkan Magelang 5 menit sebelum matahari tenggelam. Dan jam 19 kembali ke pesanggrahan. Di atas meja, terletak bunga kenanga dan harumnya memenuhi ruangan.

2 Juli 1896, Ratu Siam berjalan-jalan di pagi hari ke rumah residen Magelang untuk memetik bunga kenanga dimana pada sore hari sehari sebelumnya raja Siam sudah memetiknya.

2 Juli 1896, Raja Siam mengunjungi Borobudur di pagi hari untuk memilih stupa yang ingin dibawa pulang dan memahatkan inisialnya di candi Borobudur. Siang harinya ke candi Mendut yang berjarak 30 menit dari candi Borobudur. Kemudian kembali ke Borobudur bersama bupati. Mereka berbicara tentang proyek kereta api yang akan menghubungkan Magelang dengan Jogja.

[eva mentari ]

Tentang RST [Rumah Sakit Tentara] Magelang di tahun 1900

Standard

TENTANG RST (suasana dimalam hari)

Bagaimana keadaan RST saat awal-awal mulai digunakan? Yuk membayangkan keadaan saat itu. Penggambaran ini menurut catatan harian Dr. H. Breitenstein dalam buku 21 tahun di Hindia, bagian ke-2 : Jawa, terbit tahun 1900, Leipzig.

Pada tanggal 1 November 1892 rumah sakit lama itu ditinggalkan dan pindah ke bangunan baru di utara tangsi.

Rumah sakit baru ini sangat luas dan mempunyai garis udara dari utara ke selatan sejauh 450 meter dan dari timur ke barat sejauh 200 meter. Dalam situasi normal, ‘Doctor der Wacht’ (dokter jaga malam) melakukan kunjungan tiap malam 2 kali putaran ke tiap ruang pasien dan ke tiap tempat tidur pasien. Tiap putaran ia menempuh jarak 3 km dan memerlukan waktu 45 menit. Tiap malam setidaknya ia harus menempuh jarak 7-8 km untuk menjalankan tugasnya itu.

Pencahayaan saat itu masih buruk. Kamar pasien tidak membutuhkan pencahayaan terlalu banyak karena para pasien harus tidur pukul 9 malam. Karena permukaan tanah yang naik turun maka terdapat anak tangga disana sini. Kepala rumah sakit yang pertama memutuskan untuk mengecatnya dengan warna hitam dan putih dan diatasnya digantungi lampu-lampu minyak. Namun lampu-lampu minyak sangat kecil dan tidak cukup untuk menerangi dokter jaga malam yang harus melakukan kunjungan ke pasien sehingga akhirnya anak-anak tangga dihilangkan dan diganti dengan korindor yang memanjang dengan tanjakan dan turunan dan beratap.

* gambar denah : dari buku tahun 1900
* foto : tahun 2015

[eva mentari cristhop]