Monthly Archives: September 2016

Para Pecinta Cagar Budaya Belajar Baca Aksara Jawa Kuno

Standard

Bisnis.com, MAGELANG–Para pencinta cagar budaya belajar membaca aksara jawa kuno atau kawi di kompleks Balai Konservasi Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu, sebagai wujud melestarikan peninggalan luhur nenek moyang Bangsa Indonesia.

“Kami saling berbagi yang diketahui, semua belajar tentang sesuatu yang telah mati (aksara jawa kuno, red.) ini. Saya senang ada yang mau belajar. Inilah salah satu cara menghargai peninggalan leluhur,” kata pelatih kegiatan “Sinau Aksara Jawa Kuno atau Kawi” yang juga lulusan pada 1994 dari Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Gunawan Agung Sambada, Minggu (18/9/2016).

Mereka di bawah koordinasi kelompok di media sosial “Medang Kingdom Community” pimpinan Nugroho Wibisono hingga saat ini telah tujuh kali belajar bersama membaca aksara kawi.

Kegiatan mereka selain mengambil lokasi di BKB di Kabupaten Magelang, selama ini juga memilih tempat di Prasasti Mantyasih dan Museum Badan Pemeriksa Keuangan, keduanya di Kota Magelang.

Ia mengatakan aksara jawa kuno telah lama ditinggalkan masyarakat, namun masih bisa dijumpai antara lain di berbagai prasasti dan benda cagar budaya.

Pada pelatihan Minggu siang itu, mereka fokus belajar membaca aksara jawa kuno di salah satu lingga berangka 791 yang disimpan di kompleks BKB. Aksara kuno salah satu wujud peninggalan nenek moyang bangsa, sedangkan bentuk lainnya, seperti arca dan bangunan cagar budaya.

“Dengan mengetahui informasi dari suatu peninggalan, meskipun hanya sedikit akan membangkitkan semangat untuk menjaga dan melestarikan. Bahwa yang ada dalam peninggalan berupa aksara jawa kuno itu, selain tentang kerajaan, nama raja-raja, wilayah, juga kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti soal utang-piutang dan pembagian warisan,” kata Gunawan yang secara khusus belajar tentang epigrafi saat kuliah di Jurusan Arkeologi UGM Yogyakarta.

Nugroho mengatakan peserta pelatihan itu selain kalangan mahasiswa dan pelajar, juga masyarakat umum dari sejumlah komunitas pecinta cagar budaya. Setiap pertemuan, antara 10 hingga 15 orang yang berminat mengikuti.

Kegiatan serupa, ujarnya, juga secara mandiri di sejumlah daerah lainnya, seperti di Wengker Kabupaten Ponorogo dan Museum Tantular Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

“Butuh orang-orang, anak-anak muda yang memang tergelitik dengan minat khusus belajar membaca aksara jawa kuno ini. Kita akan bangga bila mampu membaca aksara kuna. Di China, Thailand, Laos, dan Myanmar juga ada yang melakukannya,” katanya.

sumber : http://semarang.bisnis.com/read/20160919/31/89500/para-pecinta-cagar-budaya-belajar-baca-aksara-jawa-kuno

foto : Nugroho Wibisono

Pasar Paingan-Pengajian Masjid Kauman Semringah Lagi

Standard

Sejumlah warga membeli makanan tradisional di Pasar Tiban Paingan saat berlangsung pengajian Minggu Paing di Masjid Agung Kauman Kota Magelang, Minggu (4/9). (Hari Atmoko/dokumen).
Magelang, Antara Jateng – Nur Hasanah, perempuan berjilbab itu, dengan wajah semringah (berseri-seri) bergegas mendekati Koordinator Forum Masyarakat Peduli Paingan Kota Magelang, Danu Wiratmoko, yang sedang berdiri persis di depan pintu gerbang Masjid Agung Kauman di kawasan alun-alun setempat.

Sejumlah lelaki, antara lain, Taufik Ahmad, Saefudin, dan Suroso juga demikian. Wajah-wajah semringah mereka menunjukkan ungkapan gembira karena boleh berjualan lagi bertepatan dengan umat Islam mengikuti tradisi pengajian Minggu Paing (35 hari sekali) di Masjid Kauman Kota Magelang, Jawa Tengah.

Mereka dan puluhan pedagang lainnya tahu dengan baik para pegiat forum yang selama 4 bulan terakhir berjuang secara kultural meyakinkan pemerintah kota setempat agar tidak memindahkan aktivitas pedagang pasar tiban tersebut ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro, sekitar 1,5 kilometer dari alun-alun.

“‘Matur nuwun pon angsal dodolan malih teng ngriki’ (Terima kasih sudah boleh berjualan lagi di tempat ini, red.),” kata Nur, pedagang pakaian yang berasal dari Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.

Taufik Ahmad asal Borobudur selalu menggelar dagangan berupa kaus kaki saat pengajian Minggu Paing Masjid Kauman, sedangkan Saefudin asal Kajoran berdagang buku-buku dan kitab suci, serta Suroso asal Kelurahan Rejowinangun Selatan, Kecamatan Magelang Selatan berjualan pakaian anak-anak.

Para pedagang lainnya yang diperkirakan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Pemkot Magelang Joko Budiyono pada hari Minggu Paing (4/9) hingga sekitar pukul 08.00 WIB sudah menggelar dagangannya di separuh jalan depan masjid itu berjumlah 50 orang. Mereka, antara lain, menjual aneka makanan tradisional, minuman, sandal, sepatu, pakaian, kuliner, dan berbagai wujud mainan anak.

Pengajian Minggu Paing disertai kehadiran pasar tiban berlangsung sejak sekitar 1958, dirintis sejumlah kiai berpengaruh dari beberapa pondok pesantren di sekitar Kota Magelang.

“Yang Minggu Paing kemarin (31/7) saya tidak berani jualan karena tidak boleh. Akan tetapi, sekarang ternyata diperbolehkan lagi,” katanya.

Dinas Pengelolaan Pasar Pemkot Magelang mengeluarkan surat edaran tertanggal 11 April 2016 yang intinya mulai Minggu Paing (31/7) pedagang dilarang berjualan di kawasan alun-alun saat pengajian Minggu Paing Masjid Kauman dengan alasan untuk menjaga kebersihan, kerapian, dan keindahan kota, termasuk agar suasana pengajian tetap khusyuk.

Akan tetapi, para pegiat forum itu dengan 12 aktivis utamanya menempuh berbagai langkah kultural selama 4 bulan terakhir untuk meyakinkan pemkot bahwa aktivitas pasar tiban dan pengajian tidak bisa dipisahkan, serta sebagai nilai budaya tak bendawi yang khas Kota Magelang.

Para pedagang itu bukan semata-mata berjualan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, melainkan mereka menjadi bagian dari umat lainnya yang “ngalab” (mendapatkan, red.) berkah dari pengajian yang berlangsung selama beberapa jam. Begitu pengajian selesai, mereka “menggulung” dagangannya untuk selanjutnya datang lagi 35 hari kemudian.

Pada Kamis (1/9) malam, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito melakukan dialog dengan para pegiat utama forum di Pendopo Pengabdian Rumah Dinas Wali Kota Magelang dan akhirnya memutuskan untuk menghidupkan lagi pasar tiban dengan penataan pedagang oleh aparat didukung forum itu.

Pedagang yang selama ini menggelar berbagai barang jualannya di trotoar selatan dan barat alun-alun, kemudian dipindahkan lebih dekat ke masjid, yakni di separuh jalan depan Masjid Kauman. Arus lalu lintas umum yang biasanya melewati jalan tersebut, dialihkan oleh petugas melewati jalur lain.

Pemkot juga menyediakan puluhan tikar untuk umat Islam yang mengikuti pengajian dengan duduk di bagian barat alun-alun, di bawah pepohonan rindang, sementara ratusan lainnya di dalam masjid terbesar di kota setempat.

Asisten Ekonomi, Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakya Sekretaris Daerah Pemkot Magelang Sumartono dan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Joko Budiyono memantau aparatnya melakukan pengaturan pedagang bersama para pegiat forum yang juga dikenal dengan sebutan “Save Pahingan” itu.

Seorang pegiat forum tampak mendekati Arofah, perempuan tua yang membawa tampah berisi penuh geblek berjalan ke bagian barat alun-alun, untuk mengingatkan bahwa tempat itu tidak boleh untuk menggelar dagangan.

“‘Kulo mboten manggon teng riki Mas, niki namong nawakke mawon’. (Saya tidak menggelar dagangan di sini Mas, ini hanya menawarkan keliling saja, red.),” kata warga Desa Kaliabu, Kecamatan Salaman itu, sambil tersenyum ramah kepada seorang pegiat “Save Pahingan”.

Setelah menjual geblek kepada sejumlah perempuan yang duduk bergerombol di atas tikar di bawah pohon rindang alun-alun, perempuan berwajah semringah itu pun kemudian kembali ke tempatnya menggelar dagangan di jalan depan masjid.

Begitu mendapat kabar dari forum bahwa pemkot membuka lagi aktivitas pedagang pasar tiban mulai Minggu (4/9), Muhsin, koordinator pedagang Pasar Paingan yang juga penjual sandal, mengaku segera mengabari secara “gethok tular” (dari mulut ke mulut) dan melalui layanan pesan singkat telefon seluler kepada kawan-kawannya.

“Masih ada yang belum tahu, tetapi Minggu Paing depan (9/10) tentu sudah lebih banyak yang tahu,” ujarnya seraya menunggui dagangannya yang digelar di dekat pintu gerbang Masjid Kauman.

Ia juga mengemukakan pentingnya mengorganisasi pedagang Pasar Paingan menjadi suatu peguyuban untuk memudahkan penataan dan meningkatkan kesadaran bahwa aktivitas mereka tidak boleh melupakan pentingnya menjaga kebersihan, keindahan, dan kerapian kawasan.

Saat sinar matahari makin bergerak naik dan terasa menyengat, terlihat sebagian besar pedagang kemudian membuka peneduh dagangan berupa payung warna-warni yang mereka bawa sendiri-sendiri. Sejumlah lainnya, tampak mendirikan penutup dagangan dengan menggunakan tenda terpal.

Bersyukur
Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Magelang Joko Budiyono menyatakan bersyukur atas penataan pedagang Pasar Tiban Paingan pada pengajian Minggu Paing Masjid Agung Kauman yang berjalan lancar.

“Hari ini (4/9), alhamdulillah bisa kami tata PKL (pedagang kaki lima) Paingan. Sudah kami atur antara kegiatan pengajian dan kegiatan PKL yang mendukung pengajian. Ada sinergitas,” ujarnya di sela berbicang ringan dengan seorang pegiat utama “Save Pahingan”, Muhammad Nafi, di bawah pohon rindang alun-alun.

Raut wajah Joko Budiyono dan Muhammad Nafi pun tampak semringah. Tidak tampak ketegangan mereka, sebagaimana saat Minggu Paing (31/7), ketika ketentuan larangan itu mulai diberlakukan.

Demikian pula, Asisten Sekda Kota Magelang Sumartono. Dengan wajah berseri-seri, dia menghampiri sejumlah pegiat “Save Paingan” yang duduk bersila di atas tikar, lalu membuka telepon selulernya untuk memfoto mereka.

Ketua Takmir Masjid Kauman Miftachussurur juga menyampaikan syukur kepada Allah Swt. karena kehadiran umat Islam dalam pengajian Minggu Paing yang sekaligus sebagai saat kembalinya pasar tiban.

“Alhamdulilah, ramai, kita bersama-sama pengajian,” katanya saat membuka pengajian itu seraya mengajak umat untuk mendoakan warga Magelang yang pada saat ini sedang beribadah haji di Tanah Suci.

Pengajian Minggu Paing (4/9) dipimpin pengasuh Pondok Pesantren Usnuludin Desa Bawang, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang K.H. Mansyur Khadiq.

Danu Wiratmoko mengatakan Tim “Save Paingan” menyambut positif keputusan pemkot menghidupkan kembali pasar tiban.

Pihaknya juga terus mengawal penataan pedagang Pasar Paingan agar mencapai suasana yang ideal, makin kondusif, dan bahkan bisa berkembang menjadi salah satu destinasi wisata religi Kota Magelang.

“Memang hari ini belum semua pedagang berjualan kembali. Jenis dagangannya sebaiknya tidak perlu dibatasi. Mereka otomatis tahu sendiri dagangan apa yang bisa dijual di sini. Itu tidak mengurangi kecerdasan,” katanya.

Ihwal yang justru dibutuhkan, ucapnya, kecerdasan dalam mengakomodasi pedagang agar memiliki kesadaran kuat terhadap pentingnya penataan mereka berjualan di pasar tiban.

Joko memastikan surat edaran tertanggal 11 April 2016 secara otomatis tidak berlaku, sedangkan petugas tetap menjaga dan menata pedagang supaya selalu tertib, memperhatikan kebersihan, dan keindahan kawasan.

“Yang ‘ngelak’ (haus, red.) bisa beli minuman, yang butuh makanan bisa beli kacang, geblek, dan sebagainya. Kolaborasi ini kita atur untuk kepentingan yang terbaik,” ujarnya.

Sebagaimana para pedagang semringah beraktivitas, hal itu pula menjadi wajah Pasar Tiban Paingan bertepatan pengajian Minggu Paing Masjid Agung Kauman yang berseri-seri lagi. Bukankah wajah semringah itu juga berkah?

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © 2016

foto : Danu Sang Bintang

Borobudur Writers &Cultural Festival 2016 Kembali Digelar

Standard

bwcf-banner

Adalah forum pertemuan bagi para penulis dan pekerja kreatif serta aktivis budaya pada umumnya dalam kerangka dialog lintas batas dan pemahaman interkultural yang berbasis pada pengembangan dan perluasan berbagai pengetahuan sehingga para kreator budaya maupun masyarakat yang hidup dalam budaya-budaya tersebut dapat memanfaatkan segala khazanah yang ada sesuai dengan kebutuhan aktualnya. Festival ini diciptakan untuk menjadi wahana perayaan karya-karya budaya yang membuka diri terhadap segala kemungkinan keragaman identitas dan manifestasi ekspresif di masa lalu, masa kini dan segenap pilihan inseminasi kreativitas di masa depan. Selain itu, merupakan wahana pertemuan antarkomunitas, antarkelompok, serta ruang dialog antara karya-karya budaya dengan publik sehingga terbangun pemahaman yang mendalam di antara individu maupun komunitas budaya tersebut dalam cakupan ruang dan waktu yang tak terbatas. Juga sebagai ruang kemungkinan bagi segala penjelajahan imajinasi dan bentuk-bentuk ekspresifnya.

BWCF yang pertama telah diselengarakan pada tahun 2012, dengan tema “Memori dan Imajinasi Nusantara: Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara”. Pada BWCF 2012 itu hadir 350 penulis cerita silat dan penulis berlatar sejarah Nusantara. Selain sesi seminar juga diadakan pemutaran film, peluncuran buku, pementasan seni, lecture tentang sejarah Nusantara, workshop penulisan  cerita anak, dan pemberian penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada seorang tokoh (penulis, sejarawan, peneliti, budayawan, dan lainnya)  yang berjasa bagi pengembangan budaya dan sejarah Nusantara. Pada BWCF 2012 award diberikan kepada SH Mintardja, seorang penulis cerita silat yang sangat produktif.

BWCF yang kedua pada tahun 2013 mengangkat tema “Arus Balik: Memori Rempah danBahari Nusantara”. Selain dihadiri para penulis berlatar sejarah maritim Nusantara, acara BWCF 2013 juga dihadiri oleh para antropolog, sejarawan, mahasiswa, wartawan, sastrawan, dan masyarakat umum. Sang Hyang Kamahayanikan Award 2013 diberikan kepada AB Lapian, seorang sejarawan maritim yang telah memberikan kontribusi besar di dunia keilmuan dan pemahaman atas sejarah bahari Nusantara.

BWCF ketiga yang dilaksanakan pada 2014 mengusung tema “Ratu Adil, Kuasa, dan Pemberontakan di Nusantara”. Selain seminar sebagai menu utama, diselenggarakan pentas seni tradisi di Balai Seni Desa Gejayan, Gunung Merbabu dan Balai Seni Desa Tutup Ngisor, Gunung Merapi, Magelang. Pada 2014 Sang Hyang Kamahayanikan Award diserahkan kepada Peter Carey. Seorang sejarawan Inggris yang mendarmabaktikan hidupnya untuk meneliti riwayat Pangeran Diponegoro.

Pada 2015 BWCF mengusung tema, “Gunung, Bencana, dan Mitologi di Nusantara”. Penerima Sang Hyang Kamahayanikan Award 2015 adalah Nigel Bullough, sosok yang mengabdikan dirinya untuk meneliti masa silam Nusantara.

Borobudur Writers & Cultural Festival diperuntukkan bagi para penulis, akademisi, peneliti sejarah, arkeolog, jurnalis, pencinta sejarah, mahasiswa dan masyarakat umum. Seluruh acara tidak dipungut biaya. Namun, karena keterbatasan ruang, bagi yang hendak mengikuti festival dan bisa duduk untuk acara seminar, silahkan mengisi formulir yang tersedia di website ini.

Selamat bergabung!

sumber : http://www.borobudurwriters.com/apa-itu-bwcf/

RUNDOWN BOROBUDUR WRITER & CULTURAL FESTIVAL 5 – 8 Oktober 2016

Standard

RUNDOWN BOROBUDUR WRITER & CULTURAL FESTIVAL 2016

TEMPAT DAN WAKTU
Kegiatan dilakukan di:
-The Heritage, Convention Center, Hotel Plataran, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
-Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Ngablak, Gunung Andong, Magelang, Jateng.
-Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah.
-Hotel Atria, Magelang.
-Pendopo Ndalem Ageng Pesanggrahan, Hotel Ambarukmo, Yogyakarta.

Waktu kegiatan :
4 hari, Rabu – Sabtu, 5 – 8 Oktober 2016.

PEMBUKAAN FESTIVAL
RABU, 5 OKTOBER 2016.
Pukul 16.00 sampai selesai
Tempat: Hotel Atria, Magelang.
Musik: Yoyok Harnes
Sambutan: Samana Foundation.
Pidato budaya: Garin Nugroho.
Sambutan: Bambang Irawan
Pentas tari: Sujopo Sumarah Purbo
Press Gathering & Press Conference.
Makan malam

KAMIS, 6 OKTOBER 2016.

A. Seminar: Tafsir Serat Centhini”
Tempat:
The Heritage, Convention Center, Hotel Plataran, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Pukul: 8.30-09.00
Sambutan: Tanto Mendut dan pentas DnD Music.
Sesi I
Pukul 09.00-12.00
Pembicara:
Elizabeth D. Inandiak
Dr. Karsono W. Saputro
Kartika Setyawati
Moderator: Sudibyo, M Hum.

Sesi II
Pukul: 13.00-16.00
Pembicara:
Prof. Dr. Timbul Haryono
Agus Wahyudi
KH. Agus Sunyoto
Moderator: Otto Sukatno CR

B. Musyawarah Penerbit-Penulis bersama BEKRAF
Tempat: The Heritage, Convention Center, Lantai 2, Hotel Plataran, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Pukul: 09.00-12.00 dan 13.00-16.00

C. Pentas seni
Lokasi: Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Ngablak, Gunung Andong, Magelang, Jateng.
Pukul: 18.00 sampai selesai
Pentas:
-Komunitas Lima Gunung
-PM Toh
-Tari Fomani, Pulau Siompu, Buton.
Pembacaan puisi:
• Oka Rusmini
• Cyntha Hariadi
• Ni Made Purnama Sari

JUMAT, 7 OKTOBER 2016

A. Seminar: Erotisisme dalam Kitab-kitab Nusantara
Sesi I
Pukul: 08.30-11.30
Pembicara:
Dr. Halilintar Lathief
Dr. Muhlis Hadrawi
Drs. Dwi Cahyono, M.Hum
Dr. Sirtjo Koolhof
Moderator: Dr. Kris Budiman

Sesi II
Pukul: 13.00-16.00
Pembicara:
Tommy Christomy, Ph.D
Prof. Dr. Robert Sibarani
Salfia Rahmawati
Raja Suzana
Moderator: Prof. Dr. Suwardi Endraswara

B. Musyawarah Penerbit-Penulis bersama BEKRAF
Tempat: The Heritage, Convention Center, Lantai 2, Hotel Plataran, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Pukul: 09.00-11.30

C. Workshop Cerpen Kompas
Tempat: The Heritage, Convention Center, Lantai 2, Hotel Plataran, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Pukul: 09.00-11.30 dan 12.30-17.00
Bersama: Putu Fajar Arcana dan Joko Pinurbo.

D. Pentas seni
Lokasi: SMA Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah.
Pukul: 18.00 sampai selesai
Pentas seni:
-Pembacaan puisi:
• Norman Erikson Pasaribu
• Aziz Manna
• Sosiawan Leak
-Komunitas Lima Gunung
-Komunitas Bissu (Sulawesi Selatan)
-Reyog Bulkiyo, Blitar
-Ganzer Lana (sasando, NTT)
-Heri Lentho (tari tentang Centhini)

SABTU, 8 OKTOBER 2016

A. Seminar: Erotisisme dalam Sastra Indonesia
Pukul 09.00-12.00
Dr. Gadis Arivia
Dr. Emanuel Subangun
Dr. Katrin Bandel
Dinar Rahayu
Moderator: Prof. Dr. Faruk HT

B. Closing
Lokasi: Pendopo Ndalem Ageng Pesanggrahan, Hotel Ambarukmo, Yogyakarta
Waktu: 18.00 sampai selesai
Penyerahan Sang Hyang Kamahayanikan Award.
Pentas seni:
-Lamalera Band
-Agnes Christina

Pameran fotografi
tentang napak tilas Serat Centhini oleh Fendy Siregar
Lokasi: Pendapa, Convention Hall, Plataran Hotel, Borobudur, Magelang.
Waktu: Kamis-Sabtu, 6-8 Oktober 2016

Pameran Lukisan oleh Langgeng Gallery
Tempat dan waktu: Convention Hall, Plataran Hotel, Borobudur, Magelang.

Info lebih lanjut klik : http://www.borobudurwriters.com