Monthly Archives: February 2016

H.V. MARESCH : Percetakan Perekam Keabadian Kota Praja

Standard

Salam Mblusukmen!!

Tanah Hindia Timur yang terberkahi dengan kemolekan alam dan lokasi – lokasi dengan bangunan – bangunan anggun para kolonis membuat tanah ini bagai tanah yang dijanjikan Tuhan pada bangsa Israel. Kota – kota di Hindia Belanda adalah lokasi favorit bagi mereka pecinta fotografi eksotisme timur dan kehidupan para kolonis. Masa – masa setelah redanya ‘pemberontakan’ atau Perang Diponegoro adalah masa dimana pembangunan sedang pesatnya terjadi di Hindia Belanda. Tidak banyak dokumentasi perkembangan kota yang terekam secara detail dan tersebar luas di Indonesia. Hanya kota – kota besar yang sudah berkembang seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya yang mempunyai perusahaan – perusahaan percetakan yang bisa merekam gerak laju perkembangan kota – kota tersebut. Beruntunglah Gemeente Magelang yang mempunyai perusahaan percetakan yang banyak mendokumentasikan perkembangan kota pada masa silam. Puluhan foto dokumentasi nostalgia kota praja Magelang pada masa colonial terabadikan dalam lembaran – lembaran kenangan berkat sebuah perusahaan percetakan asing. Perusahaan itu bernama H.V. Maresch & Co.

Kartu pos dikirim dari Magelang ke Perancis dengan prangko yang ditempel dalam posisi terbalik. Dibubuhi cap pos 1910, tetapi dari nomor urutan 094467 dapat diketahui bahwa kartu pos diterbitkan di tahun 1909. Potret Pak Maresch yang berkumis terlihat di sebelah kiri. Sumber: Upload Olivier Johannes 11 Februari 2013, FB Group KTM

Bernama resmi N.V. Stoomdrukkerij H.V. Maresch, percetakan ini sebenarnya adalah sebuah perusahaan percetakan multinasional yang menglobal dan membuka cabangnya di banyak Negara di dunia. Percetakan N.V Maresch sendiri tereletak dikawsan bisnis warga Eropa di Groote weg Noord Poncol bersebelahan dengan Hotel Montagne. Sebagai mana yang kita tahu, kawasan Poncol sendiri pada jaman dulu sudah terkenal akan kawasan elite pebisnis kaum bangsa kulit putih. Kawasan ini dipenuhi dengan hotel – hotel, toko, rumah – rumah elite dan tangsi militer. Magelang yang notabene adalah ibu kota Karesidenan Kedu sangat diuntungkan karena salah satu cabang perusahaan H.V. Maresch membukanya di Gemeente Magelang.

Lokasi Gedung H.V. Maresch di kawasan bisnis Groote weg Noord Pontjol yang bersebelahan dengan halaman Hotel Montagne. Gedung bertingkat kedua dari depan adalah percetakan H.V. Maresch. Sumber : KITLV

Foto situasi dalam pabrik percetakan (Drukkerij) Maresch tahun 1909. Dapat dilihat bahwa kebanyakan pekerja percetakan adalah orang – orang jawa.

Sumber: Upload Gunawan Priyosusilo, 28 September 2011, FB Group KTM

H.V. Maresch sendiri banyak mencetak kartu pos mengenai Magelang dan sekitarnya pada periode 1900an awal sampai pada dekade 1940an ketika perang dunia kedua pecah. Percetakan H.V Maresch berjasa mengabadikan banyak pemandangan kota Magelang seperti Terminal Magelang, Stasiun Pasar, Stasiun Aloon2, Stasiun Kotta, Kali Progo, Kali Elo, Jalan Bajeman, Watertorn, Pemandangan sekitar Hoofdwacht KNIL Midden, Candi Borobudur, Militaire Hospital dan masih banyak lagi dalam bentuk kartu pos yang kemudian menyebar keseluruh penjuru dunia.

Contoh kartu pos berwarna hasil percetakan H.V Maresch pada tahun 1910. Foto berwarna pada saat itu belum ditemukansehingga foto berwarna yang muncul pada era ini diberi warna secara manual. Dalam foto adalah kondisi Stasiun Pasar Rejowinangun, Magelang. Sumber: Koleksi Pribadi Olivier Johannes Rapp

Contoh kartu pos hitam – putih keluaran percetakan N.V Maresch pada peringatan hari ratu tanggal 31 Agustus 1920 di Lapangan Tidar. Beberapa catatan menyebutkan, tahun 1920an merupakan masa lahirnya kamera TLR (twin lens reflex). Sumber: Delcampe

 

Contoh kartu pos pemandagan alam di Magelang dengan latar belakang candi Budha terbesar di dunia, Candi Borobudur hasil cetakan N.V Maresch. 

Sumber: Koleksi Denmaz Didotte

 

Selain mencetak kartu pos – kartu pos dengan gambar Magelang, H.V Maresch juga mencetak buku – buku bacaan “De Steenen Spreken. De Goddelijke Boodschap der Groote Pyramide“, sebuah hasil studi tentang  Piramida Giza di Mesir ditahun 1940 yang sekarang menjadi koleksi Antiquariaat van Hoorn, Nijmegen, Belanda. Ada pula buku terbitan H.V Maresch yang terkenal seperti ‘Na 25 jaren: herinneringen uit mijn leven en werk en wordingsgeschiedenis van het gesticht “Oranje Nassau”, Magelang’. Buku tersebut adalah sebuah autobiografi yang ditulis sendiri oleh J.A.G Van Der Steur, seorang Belanda yang sangat memperhatikan nasib rakyat Indonesia khususnya anak – anak yatim piatu korban perang di Magelang. Pa Van der Steur mendirikan sebuah yayasan untuk pemeliharaan anak terlantar di Magelang dengan nama “Oranje Nassau”. Buku autobigrafi Van der Steur dicetak oleh H.V Maresch pada 1917.

Suasana ruang redaksi H.V. Maresch pada 1915. Para pegawai percetakan kebanyakan memakai seragam beskap putih berikat kepala (udeng) dan berjarik. Masih belum jelas apakah ini seragam pegawai atau hanya sebagai keperluan foto. Sumber: Upload foto Gunawan Priyosusilo, 28 September 2011, FB Group KTM

 

Sosok Pa Van der Steur yang menulis buku autobiografi yang dicetak oleh H.V Maresch. Autobiografinya sendiri berisi tentang perjuangannya hidup di Magelang dan suka dukanya mendirikan yayasan panti asuhan “Oranje Nassau”.Sumber: Tropenmuseum

Selama masa pendudukan Jepang di Magelang antara tahun 1942 -1945 masih belum diketahui apakah percetakan ini masih berfungsi atau tidak. Namun yang jelas, memasuki masa perang kemerdekaan, Gedung Percetakan H.V Maresch pernah dibakar oleh para tentara pelajar Magelang pada bulan Desember tahun 1948. Dokumentasi sisa bangunan percetakan H.V Maresch bisa terlihat dalam foto tentara Belanda yang memasuki Kota Magelang pada parade bulan Januari 1949. Tentara – tentara ini berparade melewati Groote weg Noord Pontjol dan melintasi bangunan – bangunan rusak disepanjang jalan kawasan Poncol.

Parade tentara Belanda pada Agresi Militer Belanda II di bulan Januari 1949. Sumber: Indiegangers

Komparasi kondisi Gedung percetakan N.V Maresch pada masa Agresi Militer Belanda II dan sekarang. Sumber: Upload Tomy Kusmahadi 6 Juni 2015, FB Group KTM

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia, bekas gedung percetakan H.V Maresch berubah menjadi gedung surat kabar Kedaulatan Rakyat sampai sekarang.

Kondisi Gedung KR sekarang. Sumber: Dokumentasi Pribadi Hamid Anwar

Demikianlah rekam jejak sebuah perusahaan percetakan yang berjasa dalam pendokumentasian Magelang pada masa lalu. Tanpa H.V. Maresch, Magelang tidak akan banyak memiliki lembaran – lembaran gambar yang menjadi cerita Nostalgia para warganya. Berkat H.V Maresch ini pulalah nama Magelang bisa beredar seantero dunia berkat kartu pos – kartu posnya. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Mblsukmen!!

Diposkan oleh C.Gusta Wisnuwardana di 22.39

sumber : http://mblusukmen.blogspot.co.id/2016/02/hv-maresch-percetakan-perekam-keabadian.html#more

Mac Gillavry Ambarawa, pabrik Rokok yang pernah berjaya

Standard

Merchandise ex N.V. “Cigarettenfabriek H.D. Mac Gillavry Djatiroenggo” (Ambarawa)

Di Ambarawa thn 1920-an pernah berdiri pabrik sigaret Mac Gillavry yang cukup terkenal di area Kedu maupun Jawa. Kemajuan ini selain dari sisi kekuatan industrinya juga ditopang oleh usaha2 Marketing yang dalam kaca mata sekarang pun terbilang maju, antara lain berupa bermacam2 merchandise atau item2 promosi yang bisa diperoleh pelanggan setelah mengumpulkan jumlah pembelian tertentu. Item2 tsb sampai sekarang masih bisa ditemukan di pedagang barang lawasan seperti pulpen, dadu, almanak, pisau lipat dll.

Di foto2 berikut ini di sharing semacam buku katalog merchandisenya Mac Gillavry terbitan era 1920-an..Jenis item2 promosinya menurut saya lebih menarik daripada item2 promosi di katalog penukaran point kartu kredit jaman sekarang..Jumlah poin diistilahkan sebagai bon besar dan bon kecil. Sistemnya seperti apa, mungkin para sedherek disini bisa memberikan pencerahan lebih lanjut.

Selain merchandise item, Mac Gillavry juga rutin membuat buku almanak tiap tahunnya sebagai alat promosi juga. Seperti Almanak terbitan tahun 1926.


[sumber foto & materi tulisan : Rahman Ardhianto]

 

 

 

 

Seri Ke-4 Djeladjah Petjinan Diikuti Peserta Luar Kota

Standard
Sabtu, 27 Peb 2016 11:40:16  WIB

Satu bangunan lama di kawasan Pecinan Kabupaten Temanggung tampak bersih dan terawat, Sabtu (27/2). (Anis Efizudin/dokumen).

Magelang, Antara Jateng – Para peserta dari luar Kota Magelang menyatakan keikutsertaan dalam wisata sejarah diselenggarakan Komunitas Kota Toea Magelang untuk seri keempat “Djelajah Petjinan” dengan tujuan kawasan Pecinan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

“Ada sekitar 120 orang yang sudah mendaftarkan diri untuk ikut besok (Minggu, 28/2). Mereka tidak hanya dari Magelang, tetapi juga dari Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan bahkan ada 10 orang dari Temanggung sendiri karena senang dengan seri wisata sejarah ini,” kata Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana di Magelang, Sabtu.

Seri pertama dan kedua wisata sejarah diselenggarakan oleh komunitas tersebut, pada 2013 dan 2014, dengan sasaran berbagai tempat dan bangunan milik warga keturunan Tionghoa di Kota Magelang, sedangkan seri ketiga pada 2015 dengan sasaran Kota Muntilan, Kabupaten Magelang.

Pihaknya menggelar wisata sejarah seri “Djelajah Petjinan” tersebut setiap Februari atau masih dalam suasana Tahun Baru Imlek. Sebelum berangkat ke Temanggung menggunakan kendaraan bermotor, peserta berkumpul terlebih dahulu di “Tugu Aniem” atau titik nol kilometer Kota Magelang, di depan Kelenteng Liong Hok Bio di ujung Jalan Pemuda, kawasan pusat pertokoan Pecinan Kota Magelang.

Ia mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan komunitas tersebut terkait dengan wisata sejarah seri keempat “Djelajah Petjinan” di Temanggung, terutama berkoordinasi dengan para pemilik dan pengelola bangunan bergaya Tionghoa di kawasan Pecinan Temanggung.

“Malah yang peserta dari Temanggung sendiri, sebenarnya sudah lama ingin melihat-lihat bangunan-bangunan tersebut secara detail dan mendapatkan ceritanya, tetapi ternyata selama ini mereka sungkan dengan pemiliknya. Padahal ketika kami berkoordinasi, para pemilik itu menerima dengan terbuka dan ramah,” ucapnya.

Peserta lainnya dari luar kota, katanya, mendapatkan informasi tentang agenda wisata sejarah tersebut melalui media sosial yang dikelola Komunitas Kota Toea Magelang.

Sejumlah lokasi di kawasan Pecinan Temanggung yang bakal dikunjungi para peserta tersebut, antara lain rumah keluarga Lie di Kota Temanggung yang dibangun pada 1870 dan sekarang ditempati generasi ketujuh, Pabrik Cerutu “Rizona” yang telah berusia lebih dari 100 tahun didirikan oleh Ho Tjong An. Pabrik cerutu tersebut hingga saat ini masih beroperasi.

Ia menjelaskan sosok Ho Tjong An pada masa lampau menjadi pemborong, khususnya dalam pembangunan rel sepur di jalur Ambarawa (Kabupaten Semarang) melewati Secang (Kabupaten Magelang), Kota Magelang, Temanggung, hingga Parakan (Kabupaten Temanggung).

Objek kunjungan lainnya, ujarnya, satu rumah berarsitektur khas, di dekat bangunan milik Lie dan Pabrik Cerutu “Rizona” yang hingga saat ini masih terawat dengan baik, serta bekas gedung Bioskop “City” Temanggung.

Gedung tersebut dibangun sekitar 1945 oleh seorang pengusaha keturunan Tionghoa di kota setempat dan waktu itu menjadi tempat hiburan favorit warga setempat.

Selain itu, katanya, bekas Stasiun Temanggung yang pada masa lalu menjadi pusat perekonomian daerah di kawasan Gunung Sumbing dan Sindoro itu. Pemborong pembangunan stasiun yang selesainya pada 1903 itu juga Ho Tjong An.

“Sampai sekarang bangunan itu masih bagus dan cantik, dan menjadi salah satu ikon Temanggung,” ujarnya.

Peserta juga akan mengunjungi pusat aktivitas budaya dan keagamaan warga keturunan Tionghoa di kota itu, yakni Kelenteng Kong Ling Bio yang dibangun pada 1890 dan hingga saat ini masih dimanfaatkan dan dijaga warga dengan baik, walaupun sudah mengalami beberapa kali renovasi.

Selain itu, lanjutnya, bangunan tempat tinggal khas Tionghoa di dekat kelenteng tersebut yang oleh pemiliknya sekarang juga digunakan sebagai toko obat.

“Masih khas banget gaya bangunannya, aslinya untuk tempat tinggal, tetapi kemudian alih fungsi untuk toko obat. Tetapi bangunannya tetap lestari dan terjaga,” tuturnya.

Ia menjelaskan wisata sejarah seri “Djelajah Petjinan” bukan sekadar mengajak masyarakat belajar sejarah kehidupan masyarakat keturunan Tionghoa di berbagai daerah yang dikunjungi, akan tetapi juga memperkuat semangat keragaman hidup sebagai sesama Bangsa Indonesia.

“Bahwa kita menyadari dengan baik, Indonesia ini beragam. Antara satu pihak dnegan pihak lain saling mengisi dan menempati. Keragaman ini menjadi pemersatu,” imbuhnya.

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © 2016

[sumber : Antara Jateng]

DJELADJAH PETJINAN #4 : TEMANGGOENG , Minggu 28 Februari 2016

Standard

Temanggung, sebuah wilayah di kaki Gunung Sumbing dan Sindoro yang memberi limpahan kekayaannya kepada masyarakat yang hidup di kawasan ini.

Berbagai etnis suku bangsa mendiaminya, salah satunya adalah masyarakat Tionghoa. Komunitas ini memiliki peran penting dalam berbagai bidang. Baik dalam bidang ekonomi, bisnis, pendidikan, transportasi, hiburan, pertanian, sejarah dan budaya Temanggung.

Dalam dunia pertembakauan hadirlah Cerutu Rizona yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Sosok-sosok fenomenal juga hadir di dunia transportasi, seperti halnya Ho Tjong An seorang pemborong proyek khususnya membuat jalur kereta api antara Ambarawa – Secang, Magelang – Secang, Secang – Temanggung dan Temanggung – Parakan. Ada juga Oei Bie Lay, seorang pengusaha otobis yang legendaris OBL.

Lalu seperti apakah sebenarnya komunitas ini berada hingga kini?
Seperti apakah peninggalan masyarakat Tionghoa yang masih dapat kita saksikan hingga kini? Anda ingin tahu?

 

‪#‎ACARA‬
Ayo ikuti acara berikut:
– Nama Acara : DJELADJAH PETJINAN #4 : TEMANGGOENG
– Waktu : Minggu 28 Februari 2016
– Jam: 06.30 – 13.00 WIB

‪#‎TEMPATkumpul‬
– Tempat Kumpul : Tugu ANIEM [depan Klenteng Liong Hok Bio/Kantor Pos Kota Magelang]

‪#‎HeritageWalk‬
– Konsep Acara : Heritage Walk [jelajah jalan kaki sejauh 2 km]

‪#‎DressCode‬
– Dresscode : Kaos/baju warna MERAH.

‪#‎KONTRIBUSI‬
-Kontribusi : Rp 10.000,- [fasilitas : snack pagi, air mineral, parkir motor, makalah]

‪#‎NB‬ :
1. Peserta wajib memakai motor/mobil yang di pergunakan sebagai sarana transportasi dari Magelang – Temanggung PP.
Peserta wajib sarapan pagi dahulu.

2. Peserta wajib membawa payung, mantol atau jas hujan untuk mengantisipasi jika turun hujan.
Peserta wajib memakai kaos/baju warna MERAH sebagai dresscode kegiatan.

3. Rundown acara :
– jam 06.30 – 07.30 WIB : daftar ulang peserta sekaligus pembayaran kontribusi acara di titik kumpul Tugu ANIEM depan Klenteng Liong Hok Bio Kota Magelang.
– jam 07.30 – 08.30 WIB : perjalanan menuju Temanggung, motor di parkir di Aloon-aloon Temanggung sisi barat [depan Masjid Jami’ Temanggung]. Jelajah di lakukan dengan berjalan kaki sejauh 2 km [heritage walk]
– jam 08.30 – 09.00 WIB : persiapan jelajah
– jam 09.00 WIB : jelajah di mulai dengan rute dan lokasi kunjungan sbb : Masjid Jami’ Temanggung [start] – Rumah OBL – Rumah di selatan KODIM – Cerutu Rizona – Stasiun Temanggung – Klenteng – Aloon-aloon [finish]
– jam 13.00 WIB : acara di perkirakan selesai, tetapi menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di lapangan.

4. Makan siang peserta di tanggung oleh masing-masing peserta. Peserta dapat melakukan jelajah kuliner di seputar kawasan aloon-aloon Temanggung.

5. Jaga kebersihan selama kegiatan. Di larang membuang sampah sembarangan.

6. Hal-hal yang belum tertulis di lembar ini akan di sampaikan kemudian.

SAVE HERITAGE AND HISTORY IN MAGELANG