Monthly Archives: December 2012

RIWAYAT KELENTENG LIONG HOK BIO, SAKSI SEJARAH KOMUNITAS TIONGHOA DI MAGELANG

Standard

      Perkembangan dan sejarah masyarakat Tionghoa di Kota Magelang tidak bisa terlepas dari peran keberadaan Kelenteng Liong Hok Bio. Jadi bisa di katakan antara sejarah Magelang dan Tionghoa ada keterkaitannya. Kelenteng sendiri letaknya ada pada sisi tenggara dari Aloon-aloon Kota Magelang atau di ‘pintu gerbang’ masuk ke kawasan Pecinan. Riwayat pendirian kelenteng dapat di baca pada info yang tertempel pada dinding kantor kelenteng. Menurut catatan tersebut diceritakan bahwa kelenteng Liong Hok Bio didirikan pada tahun 1864 oleh Kapitein Be Koen Wie atau Be Tjok Lok. Nah untuk menceritakan lebih lanjut dari kelenteng maka harus lebih dahulu mengetahui riwayat Twa Pek Kongnya dulu (Twa Pek Kong artinya patung dewa yang dipercaya menjadi tuan rumah dan yang paling di puja dari kelenteng tersebut).

      Sebagaimana diketahui pada tahun 1740, pemerintah Belanda melarang kedatangan para imigran dr Tiongkok dan mereka yang tidak memiliki izin kerja dideportasi ke Ceylon dan Semenanjung Harapan. Peraturan ini menciptakan keresahan di kalangan orang-orang Tionghoa yang sering terkena pungli oleh pejabat Belanda. Untuk menghindari nasib yang semakin buruk, orang-orang Tionghoa yang tinggal di Batavia mengadakan pemberontakan. Tentu saja dengan kekuatan tentara yg dilengkapi dengan bedil. Belanda dapat menindas pemberontakan ini. Sebagai akibatnya sekitar 10 ribu orang2 Tionghoa di Batavia dibunuh dan di aniaya. Untuk menyelamatkan diri, banyak orang-orang Tionghoa lari dari Batavia ke berbagai kota di pesisir timur laut Jawa Tengah, seperti ke Semarang, Jepara dan Lasem di Rembang. Termasuk lari meminta perlindungan ke Kasunanan Surakarta tp sayangnya tdk terlaksana.

      Nah ada sekelompok rombongan kecil telah sampai di daerah Kedu Selatan dan bertempat tinggal di desa Klangkong Djono, sebuah desa yg ada di selatan Kutoarjo (sekarang disebut dengan nama desa Jono). Pada waktu itu orang-orang Tionghoa masih taat kepada keyakinannya, terutama pemujaan terhadap Twa Pek Kong. Maka sewaktu mereka mengungsi tidak lupa Twa Pek Kong tersebut di bawa juga ke Desa Djono. Twa Pek Kong tsb adalah Dewa Bumi yaitu Hok Tek Tjen Sin (Tho Tee Kung).

       Kondisi demikian menjadikan desa ini menjadi tentram dan damai. Masyarakat bekerja dengan berbagai mata pencaharian, seperti membuat terasi, menenun kain dan perdagangan kecil lainnya. Hingga pad asaat terjadinya perang Diponegoro pada tahun 1825 ternyata menjalar juga sampai ke wilayah Kedu Selatan. Sehingga hal ini membawa dampak buruk terhadap keberadaan masyarakat Tionghoa yang tinggal di Desa Djono tersebut. Makaterjadilah keonaran yang di sebabkan oleh para orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan merampok warga desa.

       Melihat hal ini, pemimpin masyarakat Tionghoa di Desa Djono yang bernama The Ing Sing dan bergelar Bu Han Lim dari Tiongkok melakukan perlawanan. Meski pada awalnya sanggup bertahan terhadap upaya para pembuat keonaran tersebut, tapi lambat laun keberadaan mereka menjadi terdesak. Yang hal ini memaksa mereka untuk meninggalkan Desa Djono menuju arah timur laut.

    Nah rombongan ini berusaha menembus benteng perbukitan Menoreh Salaman Magelang yang pada saat itu masih berwujud hutan belantara. Setelah berhasil melewati perbukitan yang terjal, sampailah rombongan ini di Magelang. Sebagian rombongan tinggal dan menetap di Magelang, tetapi sebagian rombongan memilih melanjutkan perjalanan menuju Parakan di Temanggung. Nah rombongan yg menetap di Magelang memilih tinggal di Ngarakan (sebelah barat Pecinan, skrg sekitar Rumah Makan Pancoran).

      Setelah perang Diponegoro selesai di tahun 1830, maka telah pindahlah ke Magelang seorang Tionghoa bernama Be Koen Wie atau Be Tjok Lok dari Solo. Seseorang yang berjasa pada saat perang dan diangkat menjadi Luitenant/Letnan oleh Belanda. Luitenant Be Tjok Lok dijadikan pachter candu dan rumah gadai/pandhuis sehingga menjadi seorang hartawan besar dan kaya raya. Lalu Be Tjok Lok di angkatlah menjadi Kapten lantaran berkaul utk tanah miliknya yg terletak di sisi utara untuk didirikan menjadi kelenteng sebagai tempat ibadah bagi masyarakat Tionghoa di Magelang. Tanah miliknya yang ada pada sisi utara itu dekat dengan Aloon-aloon. Tepatnya berada di tenggara Aloon-aloon yg rencananya akan menjadi tempat berdirinya kelenteng tersebut.

       Maka setelah kelenteng tersebut berdiri maka diberi nama Liong Hok Bio. Dan setelah kelenteng jadi maka Twa Pek Kong yang dulunya ada di Ngarakan dipindah ke kelenteng ini. Dalam perkembangan jaman dan semakin banyaknya jumlah masyarakat Tionghoa yg beribadah di kelenteng ini, maka para umat melakukan pengumpulan dana untuk membeli petak tanah yang ada sekitar kelenteng. Setelah terkumpul di belilah 3 petak rumah dengan Persil Eigendom yang terletak di jalan Pemuda Selatan yaitu no 53/55, 57 dan 59.

       Pada waktu itu pengelola kelenteng di urus oleh semacam yayasan yang bernama Kong Kwan yg mengelola sampai dengan tahun 1906. Sesudah itu didirikanlah yayasan Tiong Hwa Hwee Kwan/THHK utk mengelola kelenteng itu. Pada tahun 1904 pemerintah Belanda melarang perayaan di kelenteng itu karena seringnya terjadi kecelakaan pada waktu rebutan perayaan. Nah dalam kepengurusan kelenteng sendiri ada seseorang pemimpin atau ketua yg disebut dengan Biokong. Biokong pertama bernama Soe Tiauw Hok yang lama menjabat selama 30 tahun. Lalu diteruskan oleh Sie Kim Liang, Liem Tiong Soe, Oei Djil Djing. Djwa Kie dan The Djioe Lam.

[Sumber : Liem Tjay An, Majalah Tri Budaya no 96/97 edisi Januari-Februari 1962 dan dari berbagai sumber dengan bahasa yang diselaraskan]

INDUSTRI CERUTU DI MAGELANG, ASAPNYA PERNAH MENGEPUL SAMPAI KE EROPA

Standard

 

[pabrik cerutu “Ko Kwat Ie & Zonen Fabrieksigaren & Co” yang legendaris  yang berlokasi di Pawirokoesoeman, sekarang Jalan Tarumanegara]

“Pagi itu setelah matahari sepenggalan hari puluhan wanita tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Terlihat tangan mereka dengan cekatan melinting rajangan tembakau ke dalam balutan kertas sigaret. Seolah-olah apa yang dikerjakan seperti sebuah mesin yang berjalan. Diam tapi tangan mereka bergerak dengan cepatnya seolah-olah tangan mereka memiliki mata. Yang lain sibuk merapikan ujung-ujung rokok yang kurang rapi dengan gunting.

Di sisi lain beberapa bagian yang lain beberapa tenaga laki-laki sibuk mengangkut dan membongkar tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku pembuatan rokok kretek.”

       Sebagai sebuah wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan, Magelang memiliki tanah yang subur. Sehingga berbagai jenis tanaman pertanian menjadi tanaman utama. Tidak terkecuali dengan tembakau. Tembakau banyak di tanam di daerah Magelang, Muntilan, Parakan, Temanggung dan sekitarnya. Pada saat itu bisa dikatakan tembakau merupakan tanaman favorit para petani setelah padi. Hal ini wajar mengingat bahwa tembakau merupakan komoditi yang sangat menggiurkan. Termasuk industri pabrik cerutu [sigarenfabrieken] dan rokok [sigaretfabrieken] maupun tembakau krosok [tabak].

      Di Magelang banyak sekali tumbuh dan berkembang berbagai pabrik. Seperti pabrik cerutu legendaris Ko Kwat Ie & Zonen di Prawirokoesoeman Wetan (Jl. Tarumanegara sekarang), pabrik rokok Aroma di Mertoyudan, rokok Tasbih, rokok Tidar dll.

      ‘Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabrieken’ begitu nama resmi pabrik ini merupakan pabrik legendaris yang khusus memproduksi cerutu. Pabrik ini berdiri sejak tahun 1900 dan berlokasi di Pawirokoesoeman Wetan/sekarang jalan Tarumanegara dan gedungnya juga masih tegak berdiri di pinggir kali Manggis. Bekas gedung ini pernah di pakai untuk sekolah tiga bahasa. Pabrik ini memproduksi cerutu yang bermerk Panama-Ster, Deli-Havana, Missigit-Deli dan Carnaval.

Cerutu hasil produksi pabrik ini di ekspor juga ke Eropa. Bahkan dipasarkan juga sampai ke Bremen di Jerman. Nah produk yang dipasarkan pada waktu itu pabriknya harus memiliki sertifikat internasional sebagai jaminan kualitas. Sertifikat ini sekarang dimiliki oleh Tarumartani Jogja. Pada masa jayanya Ko Kwat Ie memiliki 2-3 ribu karyawan. Sungguh suatu jumlah yang teramat banyak di masa itu.

      Bahkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Stakenborgh dan Raja Surakarta Sri Susunan Pakubuwono X juga mengunjungi pabrik ini. Sungguh hebat benar orang nomer 1 di tanah Hindia Belanda dan Kasunanan Surakarta ini yang mau menyempatkan berkunjung ke kota kecil ini. Hal ini tentunya bukanlah hal yang aneh karena produk yang di hasilkan memiliki kualitas yang tinggi. Apalagi di tunjang dengan laboratorium yang khusus mengontrol kwalitas produksiny

“Hygienisch bereid uit de beste grondstoffen” itu adalah kalimat yang tercantum pada iklan promosinya di tahun 1935.

“De te Magelang gevestigde groot-fabrikant Ko Kwat Ie fabriceert sigaren die door geheel Indie door kwaliteit en prijs eene schitterende reputatie hebben verworven.”

      Pabrik cerutu besar lainnya adalah AROMA yang berlokasi di Groote weg Zuid yaitu di sekitar Mertoyudan. Diperkirakan lokasinya ada di sekitar karoseri New Armada sekarang ini. Di esa tahun 1920-40an pabrik ini mengalami kejayaan.

“Aan den Groote weg Zuid te Magelang (nabij Mertojoedan) bevinden zich de sigarenfabrieken van den heer TAN THIAM HOK, meer bekend als de AROMA-Sigarenfabrieken. Deze fabrieken zijn kortgeleden belangrijk vergroot en gemoderniseerd.”

(artinya kurang lebih seperti ini :

      Pabrik cerutu ini dimiliki oleh TAN THIAM HOK dimana pabrik ini terkenal dengan nama Pabrik Cerutu AROMA. Lokasi pabrik ada di Jalan Raya Selatan di sekitar Mertoyudan. Pabrik ini pernah memodernisasi mesin-mesin untuk meningkatkan kapasitas produksinya).

     Pabrik rokok lainnya yaitu Pabrik Rokok MAC GILLAVRY & CO memproduksi rokok merek Tidar yang pabriknya ada di wilayah Mertoyudan. Pada tahun 1935 Rokok Tidar ini dijual seharga 5 cents per bungkus dengan isi 20 batang. Pabrik ini pada tahun tersebut sudah memiliki mesin yang modern dan higienis yang dapat meningkatkan kapasitas produksinya berlipat-lipat.

“Mac. Gillavry, eignaar van de kleine, doch moderne en hygienische Magelangschesigarettenfabriek, weet de producten zijner fabriek, door moderne bedrijfsmethoden en door nauwletten toezicht bij de bereiding der sigaretten, zoo hog op te voeren, dat de bekende Tidar-sigaretten steeds williger aftrek vinden. De zeer lage prijzen der Tidar-sigaretten hebben tot het succes belangrijk bijgedragen.”

 

Pada waktu itu juga ada pabrik rokok Aroem Sari di Mertoyudan maupun industri rokok dan cerutu skala rumah tangga.

ERA TAHUN 1960-AN

      Pada era tahun 1960an, industri cerutu dan rokok berkembang sangat pesat di Magelang. Baik skala kecil, sedang maupun besar. Ko Kwat Ie masih bertahan memproduksi cerutunya. Ada lagi pabrik rokok tjap ‘TJETJAK & P’ di Djalan Pungkuran 1, pabrik rokok Tjap DAUN DJERUK di Djalan Magersari no. 317 A, pabrik rokok ONDO MAS di Tambakan 32 Muntilan, pabrik rokok TUMPENG di Djalan Pemuda 63, pabrik rokok Tjap ARIT di Djalan Embong Kenanga 1 A, perusahaan rokok kretek Tjap PAROOT oleh PT Indrapraska di Djalan Karang Kidul 8.

Nah, berbagai industri rokok yang ada tsb bernaung di Gabungan Perusahaan Rokok/GAPEROK yang mempunyai sekretariat di rumah Liem Hian Gie di Djalan Tidar 9 Magelang.

      Selain industri rokok dan cerutu, ada industri atau pabrik yang masih berhubungan dengan hal ini yaitu pabrik tembakau dan klembak. Tembakau sebagai bahan utama dari pembuatan rokok dan cerutu. Sedangkan klembak menjadi bumbu di pembuatan rokok kretek klembak menyan.

Pabrik itu antara lain ada pabrik tembakau dan peti GLOBE dengan pemilik Go Tjeng Bie di Djuritan Lor 28. Pabrik tembakau LIE SOEI KIE di Djalan Kebon 4, pabrik tembakau di Djalan Nanggulan 12, klembak Min You & Co di Kemirikerep 32, klembak Sentel THAY TJOENG dengan pemilik Tjoe Than Sen di Djalan Tuguran 236, klembak Tjap BAJI dengan pemilik Oey Hock Liang di Djalan Bajeman 25.

Ada lagi pabrik kertas sigaret Tjap TOPENG & TAMENG dengan pemilik Ong Ing Dhay di Gg. Djenangan PR 923 di Djalan Kemirirejo 34 .

      Panjangnya eksistensi dari pabrik rokok, cerutu, klembak dan sigaret mewarnai industri ini sepanjang jaman hingga kini di Magelang. Tidak sedikit peran mereka dalam mewarnai kehidupan kota ini. Jatuh bangun, gulung tikar adalah hal yang biasa. Ada yang masih eksis hingga kini, ada yang tinggal nama dengan sejuta cerita seperti Ko Kwat Ie di Pawirokusuman.

      Bahkan dari sebuah buku berjudul Damestooneeluitvoering FU NIE HUI tanggal 11 Juni 1938 Magelang mencantumkan berbagai iklan yang berhubungan dengan industri yang berhubungan dengan tembakau. Misalnya ada OEI KOK TIEN di Tidarweg 22 Magelang telf. 79 dan KO IK SOEI di Djoeritan Zuid Magelang Telf. 151, keduanya perusahaan Tabak Expourteur & Commissionnair.
Ada juga Roko klembak menjan Tjap LOS produksi sigaretten industrie LO BAN TJIAN Magelang. Ada lagi LIEM ING TJOM di Moentilan Tabak Handelaar. Sigarenfabriek POETRI RIMBA buatan THE KIEM TOEN di Magelang, sigarenfabriek KHO KHIK SIEN di Magelang, Tabakshandel merk LIONG SENG di Groote weg zuid no 144 Magelang, kertas sigaret tjap BEDOETAN buatan Tan Khe Thay di Grabag dan Tan Kiem Jong merk JONG DJIANG di Moentilan handel in tabak en Inlandsche producten.
Berbagai industri yang saling berhubungan tsb dapat tumbuh dan berkembang tentunya sangat bermanfaat dalam bidang perdagangan dan peningkatan ekonomi rakyat. Tidak bisa di pungkiri bahwa pengaruhnya teramat besar terhadap kehidupan masyarakat Magelang dan sekitarnya.

Semoga cerita ini akan dikenang juga oleh generasi yang akan datang dan akan menjadi sejarah Magelang.

Catatan Penting Mengenai Hari Jadi Magelang berdasarkan Seminar Sehari di Universitas Tidar Magelang tanggal 24 september 1988

Standard

Catatan : Tulisan di bawah ini merupakan tulisan dari  [alm] MM Sukarto K Atmodjo pada Seminar Sehari di Universitas Tidar tanggal 24 September 1988. Polemik yang berkaitan dengan permasalahan Hari Jadi Magelang barangkali dapat di urai oleh tulisan ini. Selamat menyimak.

I. Sugih tanpa bandha

Digdaya tanpa haji
Ngalurug tanpa bala

Menang tanpa ngasoraken

II. Trimah mawi pasrah

Suwung pamrih tebih ajrih

Langgeng tan ana susah tan ana bungah

Anteng mantheng sugeng jeneng

Drs. R. M. Sosrokartono.

Dalam makalah saya berjudul ‘Sekitar Masalah Hari Jadi Magelang’ [tgl. 18 Juni 1988], saya mengemukakan pendapat bahwa penentuan hari jadi suatu daerah [kota] harus memperhatikan beberapa kriteria pokok, antara lain :

1. Di cari yang setua mungkin.

Sebagai contoh misalnya hari jadi Kadiri [Kediri] di tentukan pada tgl 25 Maret 804 M berdasarkan data prasasti batu Harinjing yang menyebut nama Kadiri. Hari jadi Ngawi ditetapkan pada tgl 7 Juli 1358 M yang berdasarkan data prasasti tembaga Canggu [The Ferry Charter] yang menyebut Ngawi sebagai ‘naditirapradesa’ [desa di pinggir Kali Sala, nadi=kali, tira=pinggir, pradesa=desa].

2. Mampu menimbulkan rasa bangga [pride] bagi penduduk dan masyarakat umumnya.

Ini berkaitan dengan masalah ‘identitas daerah’ [‘jatidiri’] dan ‘identitas nasional’ [national identity]. Sebetulnya ‘jatidiri’ tersebut juga mengacu pada masalah ‘local genius’ [‘kemahiran setempat’] dan ‘local development’ [perkembangan setempat].

3. Mempunyai ‘ciri khas’ atau identitas yang cukup jelas dalam sejarah.

Misalnya sifat gotong royong, berbakti kepada Tuhan, kesetiaan kepada negara [pemerintah], dll.

4. Bersifat Indonesia-sentris dan bukannya Neerlando-sentris.

Memang sudah selayaknya peranan bangsa Indonesia yang aktif harus kita tonjolkan tanpa menyalahkan sejarah [obyektif]. Peranan bangsa Belanda dapat disebut atau di uraikan, tetapi peranan bangsa Indonesia sendiri tidak selayaknya hanya merupakan pelengkap penderita.

Dapatkah kriteria tersebut dipenuhi ?. Berdasarkan data prasasti kuno yang sudah di ketemukan [epigraphical data], kriteria tersebut memang dapat dipenuhi. Untuk menentukan hari jadi Magelang [lepas dari masalah Karesidenan, Regentschap, Gemeente, Ken, Kabupaten, Kotamadya] harus dicari kapan pertama kali nama Magelang [yang mirip nama Magelang] di gunakan [disebut] dalam sejarah. Andaikata nama yang mirip Magelang tidak terdapat dalam prasasti kuno, dapat juga dicari nama desa [daerah] yang sangat terkenal pada jaman dahulu dan sekarang nama itu tetap masih dikenal oleh penduduk setempat. Jelasnya nama desa yang erat kaitannya dengan kota Magelang sekarang, yaitu desa Meteseh [dahulu disebut Mantyasih].

Sumber prasasti yang dapat digunakan untuk mengetahui hari jadi Magelang sampai sekarang ada 3 buah, yaitu Prasasti Poh, Prasasti Mantyasih dan Prasasti Gilikan. Ketiga buah prasasti tersebut ditulis di atas lempengan tembaga dan disebut prasasti tembaga [tampra-prasasti, tamra=tembaga, prasasti=prasasti, metrical eulogistic]. Tembaga Poh dan tembaga Mantyasih ditulis pada jaman pemerintahan raja Mataram I [Hindu], yaitu Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya Mahasambhu [898-910 M]. Sedangkan tembaga Gilikan mungkin dalam pemerintahan Pu Sindok [sekitar tahun 924 M].

Supaya lebih jelas baiklah saya uraikan secara singkat tiga buah prasasti tembaga [copper-plates] sebagai di atas sebagai berikut :

I. PRASASTI POH

Prasasti Poh [poh=pauh, mangga, Magnifera] terdiri atas dua lempengan [lembar] tembaga, berukuran panjang 50 cm, dan lebar 20,5 cm. Tergali di desa Plembon, Kel. Randusari, Gondangwinangun, Klaten. Semula disimpan oleh Pangeran Hario Hadiwidjojo di Surakarta. Juga disebut prasasti Randusari I. Transkripsi [alih aksara] dan terjemahan selengkapnya di kerjakan oleh Dr. W. F. Stutterheim dalam buku Inscripties van Nederlandsch Indie, aflevering I [Kon. Bat. Genootschap van Kunsten en Wetenscappen, Batavia 1940], dengan judul ‘Oorkonde van Balitung uit 905 A. D. [Randoesari I].

Isi pokok prasasti sebagai berikut :

1. Menyebut nama raja Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya

Mahasambhu,

2. Prasasti di tulis [ditatah] pada tahun 827 saka, bulan Srawana, tgl. 13 paro-terang [suklapaksa], paringkelan Paniruan [sadwara], pasaran Pon [pancawara], hari Budhawara [saptawara].

Kalimat selengkapnya berbunyi :

Swasti Sakawarmatita 827 srawanamama

tithi trayodasi. suklapaksa. paniruan. pon. budhawara.

Bahkan masih ditambah dengan letak planet di sebelah timur laut [purwwasadanaksatra],

nama dewata Aswi [aswidewata] dan nama yoga Wiskambha [wiskambhayoga]. Perlu dijelaskan disini bahwa sadwara yaitu minggu yang berhari enam, pancawara minggu yang berhari lima [pasaran], dan saptawara minggu yang berhari tujuh. Karena Budhawara berarti Rabu, dan Pon sama dengan pasaran pon sekarang, maka prasasti Poh ditulis pada hari Rabu Pon, tanggal 13 [trayodasi] bulan Srawana [Kasa, Juli-Agustus]. Unsur penanggalan [kalender] tersebut menurut perhitungan almarhum Louis-Charles Damais [sarjana Perancis bidang Epigrafi] bertepatan dengan tanggal 17 Juli 905 M.

3. Menyebut nama desa Poh yang ditetapkan oleh raja Balitung menjadi daerah sima [desa perdikan, daerah bebas pajak] untuk keperluan bangunan suci di Pastika [paknan yan sinususk caitya mahaywa silunglung sang dewata lumah i pastika].

4. Menyebut nama desa Mantyasih [baris 13 lempengan 1b], nama desa Galang [baris 6 lempengan 2b] dan nama desa Glangglang [baris 5, lempengan 2a].

5. Menyebut nama-nama desa lainnya, nama para pejabat, penduduk desa, dan pemberian hadiah [pasakpasak] baik kepada para pejabat tinggi maupun rakyat jelata. Juga disebut saji-sajian yang di gunakan dalam upacara manusuk sima [menetapkan sebuah desa menjadi daerah bebas pajak].

II. PRASASTI MANTYASIH I.

Tembaga Mantyasih terdiri atas dua lempengan tembaga berukuran panjang 49,3 cm dan lebar 22,2 cm. Sekarang disimpan di Museum Sriwedari [Radya Pustaka] Surakarta. Dalam sejarah juga terkenal bernama tembaga Kedu. Transkripsi dan terjemahan serta uraian lengkap pernah ditulis oleh almarhum Dr. W. F. Stutterheim [sarjana Belanda] dalam karangannya berjudul ‘Een belangrijke Oorkonde uit de Kedoe’ [dalam TBG, thn. 1927, hlm. 172-215]. Selain tembaga Mantyasih I juga pernah ditemukan prasasti batu yang disebut dengan Mantyasih II [dari Jawa Timur] dan juga selembar tembaga bertulis yang disebut Mantyasih III. Prasasti Mantyasih III berasal dari seorang penduduk desa Ngadirejo [Kedu] bernama Li Djok Ban dan sekarang tersimpan di Museum Jakarta. Prasasti Mantyasih I, II, dan III semuanya berasal dari raja Balitung [tahun 907 M].

Isi pokok prasasti Mantyasih I [yang paling lengkap] sebagai berikut :

1. Menyebut nama raja Rake Watukura Dyah Balitung.

2. Menyebut angka tahun 829 Saka, bulan Caitra [Kesanga, Maret-April], tanggal 11 paro-gelap, paringkelan Tungle, pasaran Umanis, hari Sanaiscara [Sabtu], bintang Purwwabhadrawada, dewa Ajapada, yoga Indra.

Dalam bahasa Jawa Kuno lengkapnya berbunyi :

Swasti Sakawarsatita 829 caitramasa. tithi akadasi krsnapaksa. tu. indrayoga.

Menurut perhitungan L. C. Damais tarih prasasti itu bertepatan dengan tgl. 11 April 907 M. [hari Sabtu Legi/Umanis].

3. Menyebut nama desa Mantyasih yang ditetapkan oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung menjadi desa perdikan yang dipimpin oleh pejabat patih secara bergiliran [sima kapatihana]. Jumlah patih tersebut sebanyak 5 orang dan masing-masing mendapat giliran setiap 3 tahun [lawasnya tlung tahun sowang]. Nama para patih Mantyasih, ialah :

1. Pu Sna [ayah Ananta],

2. Pu Kola [ayah Dini],

3. Pu Punjeng

4. Pu Kara [ayah Labdha],

5.Pu Sudraka [ayah Kayut].

4. Menyebut hutan di gunung Susundara dan Wukir Sumwing [sekarang Sundara-Sumbing].

5. Alasan [sambandha] mengapa desa Mantyasih di tetapkan menjadi sima kapatihana, karena penduduk desa telah banyak berjasa kepada raja dan negara [sambandhanyan

inanugrahan sangka yan makwaih buatthaji iniwonya i sri maharaja], yaitu :

A. Sewaktu Raja Balitung melangsungkan perkawinan [kala ni warangan haji],

B. Penduduk Mantyasih mempunyai kewajiban melakukan kebaktian [memelihara, memperbaiki] bangunan suci atau candi di Malangkuseswara, Puteswara, Kutusan, Silabhedeswara [candi Selagriyo ?], dan Tuleswara setiap tahun [ing pratiwarsa]. Kalimat singkat dalam prasasti berbunyi :

lain sangke kapujan bhatara i malangkuseswara, ing puteswar, i kutusan, i silabhedeswara, i tuleswara, ing pratiwarsa.

C. Penduduk Mantyasih di bawah pimpinan para patih mampu menghilangkan rasa takut penduduk Kuning Kagunturan dari gangguan para penjahat dan juga mengamankan jalan raya di daerah tersebut dari gangguan para perusuh [muang sangka yan antaralika katakutan ikanang wanua ing kuning. sinarabharanta ikanang patih rumakea ikanang hawan].

D. Menyebut daftar nama [ur tan nama] raja-raja Mataram yang pernah bertahta di

Mdang di Pohpitu, yaitu :

1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya,

2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran,

3. S. M. Rakai Panunggalan,

4. S. M. Rakai Warak,

5. S. M. Rakai Garung,

6. S. M. Rakai Pikatan,

7. S. M. Rakai Kayuwangi,

8. S. M. Rakai Watuhumalang.

E. Larangan untuk para pemungut pajak [sang mangilala drabya haji] memasuki daerah Mantyasih karena telah ditetapkan menjadi daerah sima [swatantra].

F. Kutukan [sapatha] untuk siapa saja yang berani melanggar keputusan [s. k.] raja, misalnya akan menemui kesengsaraan, kalo masuk hutan akan di patuk ular berbisa [yan uamaraya ning alas hana ula umatukaya].

III. PRASASTI GILIKAN I.
Tempat temuan prasasti Gilikan tidak jelas. Demikian pula prasasti yang ditemukan juga tidak lengkap. Angka tahun dan nama raja tidak diketahui [karena tidak lengkap]. Sekarang tersimpan di Museum Jakarta. L. C. Damais menduga mungkin tembaga Gilikan I berasal dari jaman Raja Sindok sekitar tahun 924 M.


Isi pokok tembaga Gilikan I sebagai berikut :
1. Menyebut sebidang sawah seluas 4 tampah yang dijadikan ‘punya’ [persembahan suci] untuk Bhatara di Glam [lmah sawah punya sri maharaja sima bhatara i glam].
2. Kutukan kepada siapa saja yang berani menentang keputusan raja [pemerintah],
3. Menyebut pejabat wahuta [jabatan setelah patih], patih dan kepala desa [rama] desa Gilikan,
4. Menyebut Samgat Lua Pu Gunottama dan Samgat Pamasaran Pu Sandhya,
5. Kutukan [sapatha] kepada siapa saja yang berani melanggar peraturan pemerintah [sbit wtangnya].

Nama tempat [toponim] dalam Prasasti.

Sudah cukup jelas bahwa sumber prasasti menyebut beberapa nama desa [daerah] yang masih dikenal hingga sekarang. Tetapi harus diketahui bahwa luas wilayah [daerah] tersebut tidak harus tetap sama. Prasasti Poh menyebut nama desa Mantyasih, Galang dan Glangglang. Selanjutnya tembaga Mantyasih I menyebut nama desa perdikan Mantyasih dan Prasasti Gilikan I menyebut Bhatara di Glam.
Kalau disimpulkan maka ketiga buah prasasti tersebut menyebut nama desa :
a. Mantyasih,
b. Galang [rupa-rupanya sama dengan Glam],
c. Glangglang.

Apabila dilihat peta topografi [sheet 47/XL-C0] ternyata di kota Magelang terdapat atau terletak nama-nama desa seperti Magelang Pasar, Magelang Utara, Magelang Selatan, Magelang, Pelikan [Plikon], Dumpoh.
Meskipun peta topografi tidak menyebut nama Meteseh, tetapi di bagian barat kota Magelang [sebelah timur Kali Progo] sampai sekarang masih terletak kampung Meteseh [Kal./Kec./Kota Magelang].


Kampung Meteseh sekarang terdiri atas beberapa bagian [blok], yaitu :
1. Krajan,
2. Kidul,
3. Lor,
4. Tengah,
5. Jayengan.

Di daerah Surakarta sampai sekarang juga terdapat Desa Matesih. Tetapi sudah cukup jelas bahwa yang di maksud dengan Mantyasih pada jaman dahulu, sama dengan Mateseh di kota Magelang sekarang. Ini terbukti bahwa prasasti Mantyasih juga menyebut nama hutan di gunung Susundara dan Sumwing.
Demikian pula dalam prasasti Mantyasih juga disebut nama desa Wadung Poh [wanua i wadung poh] dan desa Kdu. Nama Wadung Poh kemudian disingkat menjadi Dung Poh, dan akhirnya berubah ucapannya menjadi Dumpoh [sebelah utara kota Magelang sekarang]. Demikian pula nama Kdu akhirnya berubah menjadi desa Kedu [sebelah utara Temanggung].
Selain itu juga disebut dalam prasasti bahwa desa Mantyasih yang dipimpin oleh 5 orang pejabat patih secara bergantian [setiap 3 tahun ganti pimpinan], juga mampu dan berhasil menghilangkan rasa takut [katakutan ikanang wanua ing kuning] dan mengamankan jalan raya [rumaksa ikanang hawan] desa Kuning Kagunturan. Menarik perhatian bahwa disebelah barat laut kota Magelang [Meteseh] sampai sekarang masih terletak desa Kembang Kuning dan Guntur [Kal. Rejosari, Kec. Bandongan]. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut bahwa desa Kembang Kuning dan Guntur itulah yang dimaksud dalam prasasti Mantyasih.
Dengan demikian sudah cukup jelas bahwa yang dimaksud dengan Mantyasih bukannya Matesih di Sala [Surakarta], tetapi Mateseh di kota Magelang. Pendek kata nama Mantyasih sudah disebut dalam prasasti tahun 905 M dan 907 M.
Dari segi etimologi perkataan Mantyasih berasal dari kata Manti [panti, sangat, penuh] dan sih [cinta, kasih]. Dengan demikian nama Mantyasih [Mateseh] berarti ‘cinta kasih yang sempurna, penuh. Cf. serviam in caritato : pengabdian dalam cinta kasih, atau In omnibus Caritas : Dalam segalanya cinta kasih.

Selanjutnya nama Galang [Glam] dan Glangglang mungkin berubah menjadi Gelang atau Magelang sekarang [ awalan ma-]. Lebih-lebih apabila di ingat bahwa nama Galang [Glam] dan Glangglang memang disebut sejaman dengan nama Mantyasih. Memang kemungkinan nama itu lain berubah menjadi Gilang sekarang.

Dalam bahasa Jawa Kuno nama glang, galang berarti lingkaran [cf. mandala dengan lingga di tengahnya, atau gunung Tidar yang menjadi paku titik tengah Pulau Jawa], cemerlang [cf. bahasa bali : galang bulan : terang bulan].

Sudah saya terangkan dalam makalah pertama [18 Juni 1988] bahwa perkataan tidar berarti : sinar, pendadaran. Pertanyaan yang masih sulit di jawab yaitu nama Gilikan yang tidak [belum] diketemukan di daerah sekitar Magelang. Apakah nama itu berubah menjadi Pelikan, atau Plikon sekarang ? . Entahlah.

Berdasarkan data tersebut di atas maka hari jadi Magelang dapat di telusuri atau di teliti berdasarkan Prasasti Poh [17 Juli 905 M.] dan Prasasti Mantyasih [11 April 907 M.]

Identitas Daerah [Jatidiri]

Masalah jatidiri daerah Magelang masih dapat diteliti lebih lanjut. Tetapi berdasarkan data prasasti Mantyasih I setidak-tidaknya dapat diketahui bahwa penduduk Magelang [Mantyasih] sejak awal abad X Masehi [sekitar tahun 900 Masehi] sudah mempunyai identitas [jatidiri] yang cukup menarik dan patut di banggakan, yaitu :

1. Sifat setia dan bakti kepada pimpinan [Sri maharaja]

2. Berbakti kepada Tuhan [Bhtara di beberapa buah bangunan suci, candi]

3. Mampu mengamankan jalan raya [hawan] dan menghilangkan rasa takut penduduk Kuning Kagunturan.

4. Gunung Tidar di Magelang apabila di kaitkan dengan legenda atau kepercayaan penduduk melambangkan titik tengah atau pusat suatu daerah. Bahkan juga di anggap sebagai paku pulau Jawa.

5. Penduduk Mantyasih [Magelang] sejak jaman dahulu selalu berhubungan atau kontak dengan penduduk lain. Hal ini disebabkan letak Mantyasih [Magelang] di tengah-tengah jalan raya yang menghubungkan dataran tinggi Dieng [pusat ziarah, siddhayatra atau tirthayatra] dengan daerah di Jawa timur [Pranaraga]. Jalan raya itu rupa-rupanya membentang antara dieng, Wonosobo, Parakan, Magelang, Yogyakarta, Prambanan, Wonogiri dan Ponorogo [Pranaraga].

6. Dll.

Usul alternatif Hari Jadi Magelang

 Harus di akui bahwa mencari hari jadi suatu daerah sangat sukar, Demikian pula hari jadi mutlak benar memang sulit, Ini di sebabkan karena belum semua data kuno diketemukan. Dengan demikian apa yang akan saya kemukakan di sini hanya merupakan usul sementara. Artinya apabila di kemudian hari di ketemukan data yang lebih otentik, maka ketentuan [keputusan] tersebut harus di rubah. Soalnya sejarah harus mencari kebenaran dan bukannya pemalsuan.

Berkaitan dengan nama Mantyasih [Meteseh], Galang [Glam] dan Glangglang [Gelang. Magelang], maka prasasti tembaga Poh dan Mantyasih dapat di jadikan pegangan. Prasasti Poh berangka tahun 17 Juli 905 M  dan menyebut nama Mantyasih dan Glangglang, tetapi desa Mantyasih baru ditetapkan menjadi daerah sima kapatihana dalam prasasti mantyasih I yang berangka tahun 11 April 907 M.

Pada hemat saya kedua data tersebut mempunyai kekuatan yang sama. Tahun 907 M merupakan titik tolak desa Mantyasih menjadi daerah penting [perdikan desa]. Memang nama Mantyasih sudah di sebut dalam prasasti yang lebih tua [905 M.], tetapi sudah pasti bahwa nama Mantyasih juga sudah ada sebelum tahun 905 M. Siapa tahu kapan-kapan ditemukan prasasti yang lebih tua dan menyebut nama Mantyasih.

Sekian dan terimakasih.

Om siddhira astu