Category Archives: Komoenitas

EVENT KOTA TOEA MAGELANG DI TAHUN 2013 : 15 EVENT DALAM 12 BULAN !

Standard

Tak terasa tahun 2013 akan segera berlalu. Tak terasa pula 365 hari akan segera berganti menghitung ulang di tahun yang baru pula. Detik menuju menit akan mengubahnya menjadi catatan hari, bulan dan tahun. Tidak ada yang bisa menahannya barang sedetik saja. Di tahun 2013 ini di kalangan para pegiat heritage dicanangkan sebagai “TAHUN PUSAKA INDONESIA 2013”. Di mana berbagai komunitas, organisasi maupun perkumpulan berlomba-lomba membuat berbagai kegiatan yang bertema tentang pusaka. Tak terkecuali dengan yang ada di Magelang.

Selama setahun pula Komunitas KOTA TOEA MAGELANG mencoba berusaha mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertema history dan heritage. Tujuannya adalah untuk lebih mengedukasi masyarakat akan pentingnya sejarah dan pelestarian cagar budaya. tidak bisa tidak bahwa kunci pelestarian selain ada pada pemerintah juga ada pada masyarakat. Tetapi cara untuk mengedukasi tentu dengan cara yang sederhana, mudah , murah dan mengasyikan. Oleh karena itu maka acara-acara yang di adakan lebih bersifat santai namun serius tanpa harus meninggalkan misi utama, yaitu edukasi.

Berbagai kegiatan itu tidak melulu di laksanakan pada satu tempat, satu tema ataupun satu waktu. Tetapi acara yang di gelar merupakan acara yang di kemas sedemikian rupa sehingga bagi peserta yang mengikuti akan merasa enjoy menikmati. Acara itu bisa di dalam ruangan maupun luar ruangan. Kalau di dalam ruangan biasanya seperti acara sarasehan, bedah buku, remboeg sedjarah, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan di luar ruangan biasanya berupa jelajah atau berpetualang di alam bebas.

Yang istimewa dari acara yang di gelar selama satu tahun tidak ada yang sama, baik mengenai tema maupun konten acara. Seperti diketahui bahwa dalam setahun KOTA TOEA MAGELANG berhasil menggelar event sebanyak 15 kali ! Sungguh hal yang luar biasa mengingat kegiatan yang di adakan sifatnya mengalir tanpa perencanaan yang di agendakan jauh -jauh hari.

Acara yang di adakan lebih berupa menggali sejarah di seputar Magelang dan sekitarnya. Seperti di ketahui bahwa masuh banyak masyarakat Magelang yang belum mengenal wilayahnya sendiri, baik di kota maupiun kabupaten. Hal ini tentunya sungguh ironis mengingat wilayah Magelang kaya akan sejarah, baik peninggalan dari era Hindu, Budha, Islam, Kolonial, Tradisional/Jawa, Tionghoa dll. Nah untuk itu maka KOTA TOEA MAGELANG sebagai sebuah komunitas yang berbasis history dan heritage merasa terpanggil untuk mengenalkannya kepada masyarakat.

Event yang PERTAMA di bulan Januari adalah mengenai ““Djedjak Sedjarah Kota Magelang tahoen 1923” Minggu 13 Januari 2013 di Museum BPK Kompleks Eks Karesidenan Kedu Kota Magelang. Acara ini mengupas kondisi Kota Magelang di tahun 1923 berdasarkan sebuah peta kuno berjudul Stadskaart Magelang 1923 koleksi dari Topen Museum.

Peserta berfoto bersama usai kegiatan “Djedjak Sedjarah Kota Magelang tahoen 1923”

Yang menjadi kajian terpenting di tahun 2013 adalah tentang permasalahan perlindungan cagar budaya di Kota Magelang yang pada saat itu menjadi topik hangat di kalangan pemerintahan, media dan masyarakat. Pada saat itu permasalahan ini sudah di bahas di level pemerintahan, baik antara Pemerintah Kota Magelang dan DPRD. KOTA TOEA MAGELANG/KTM pun juga terlibat dalam pembahasan Raperda Cagar Budaya. Maka dari itu KTM mengambil inisiatif untuk mengadakan event sendiri dengan menghadirkan beberapa nara sumber, di antaranya adalah Wahyu Utami [pemerhati heritage Magelang], Suko Tri Cahyo [Kepala Disporabudpar Kota], Eddy Sutrisno dan Waluyo yang mana keduanya adalah anggota dewan khususnya komisi C yang menangani tentang Raperda Cagar Budaya.

Event KEDUA ini di adakan 27 Januari di Museum BPK kompleks gedung Eks Karesidenan Kedu Jl. Diponegoro.

flyer publikasi event

Pemaparan dari Wahyu Utami tentang kondisi Kota Magelang

Event yang KETIGA adalah “DJELADJAH PETJINAN” yang di adakan pada tanggal 17 Februari. Tujuan kegiatan ini untuk lebih mengenalkan sejarah Pecinan di Kota Magelang, baik sejarahnya, maupun sosial dan budayanya. Beberapa lokasi kunjungan adalah di kelenteng Liong Hok Bio, kawasan Pecinan, Gedung Bunder di Jaranan, Pabrik cerutu “Ko Kwat Ie” di Prawirokusuman, rumah peninggalan Ko Kwat Ie di Juritan eks sekolah Cina THHK, dan pengrajin Barongsai di Tengkon.

Peserta berfoto bersama di depan kelenteng Liong Hok Bio

Djeladjah Petjinan di depan Gedung Bunder

Di bulan April event besar menyambut Hari Jadi Magelang telah menanti. Acara tahunan ini bertajuk Pameran “Magelang Tempo Doeloe” yang di gelar di area kompleks Gedung Eks Karesidenan Kedu di Jl. Diponegoro Magelang. Dan merupakan acara yang KEEMPAT yang di laksanakan.

Pameran ini merupakan event yang di dukung penuh oleh pemerintah kota Magelang bersama Dewan Kesenian Kota magelang dan berbagai komunitas perintis event yaitu Komunitas Sepeda Kuno Old Bikers VOC Magelang dan KOTA TOEA MAGELANG. Berbagai sub acara di adakan seperti pameran foto Magelang Tempo Doeloe, pameran Sepeda Kuno, Motor antik, mobil kuno, barang-barang antik, kuliner tradisional, Pameran arsip kuno, uang kuno, jelajah, sarasehan, pementasan kesenian tradisional, dll.

Suasana pameran Magelang Tempo Doeloe

Mobil kuno di pajang di pameran MTD

Event KELIMA adalah  sarasehan mengenai “NAMA-NAMA DJALAN TEMPO DOELOE TAHUN 1935 DI KOTA MAGELANG” yang di adakan bekerja sama dengan Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang. Acara ini di laksanakan untuk memeriahkan  Pameran Buku dan Arsip di Gedung Tri Bhakti Kota Magelang 19 Mei 2013. Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/05/21/liputan-dari-remboeg-sedjarah-nama-nama-djalan-tempo-doeloe-tahoen-1935-di-kota-magelang/

Peserta berpose setelah acara selesai

Di tanggal 9 Juni sudah menunggu event KEENAM berikutnya yaitu DJELADJAH DJALOER SPOOR, djoeroesan : Sejang-Tjandi Oemboel. Jalur mati ini sangat asyik untuk di jelajahi mengingat rutenya melewati sawah, hutan, dan perkampungan dengan pesona pemandangan yang indah dan petualangan yang yang mengasyikan. Selengkapnya di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/06/19/liputan-dari-even-djeladjah-djaloer-spoor-djoeroesan-setjang-tjandi-oemboel-minggu-9-juni-2013/

Di depan Stasiun Secang

Peserta berada di depan eks stasiun Candi Umbul yang tinggal reruntuhan banguan saja

Di bulan Juli tepatnya di tanggal 7 ada 2 kegiatan yang di adakan [event ke TUJUH dan KEDELAPAN] , yaitu DJELADJAH PLENGKOENG dan AKSI BERSIH MAKAM VAN DER STEUR.

Untuk DJELADJAH PLENGKOENG  sangat mengasyikan karena lokasi yang di jadikan tujuan berada di tengah kota. Menempuh rute dari  Pucangsari-Kebondalem-Badaan-Poncol-Aloon2-Tengkon-Bayeman hingga Jagoan sepanjang lebih dari 5 kilometer. Fungsi saluran air di atas bangunan ini untuk mengairi sawah, menyirami tanaman, menggelontor kotoran dll. selengkapnya ada di sini https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/07/15/liputan-djeladjah-plengkoeng-bersama-komunitas-kota-toea-magelang/

Nampang di atas Plengkung Baru Badaan yang di bangun tahun 1920

Di atas Plengkung Lama yang di bangun tahun 1883

Sedangkan Aksi Bersih di Makam Van der Steur ada di sini https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/07/19/komunitas-kota-toea-magelang-adakan-aksi-sosial-bersih-bersih-makam-tokoh-legendaris-pa-van-der-steur/.

Van der Steur merupakan tokoh kemanusiaan yang sangat peduli kepada anak-anak. Lokasi makamnya ada di kompleks eks Kerkhoof di Jalan Ikhlas Kota Magelang. Semasa hidupnya telah mengasuh sebanyak 7000 anak asuh.

Mendengarkan penjelasan dari Bu Tatik  seorang yang di percaya untuk mengelola makam

Saat bersih-bersih area makam van der Steur

Sesudah puasa dan masih hangat dengan suasana lebaran, KTM menggelar event KESEMBILAN yang bertajuk DJOEMPA KERABAT KOTA TOEA MAGELANG yang di adakan di warung Makan Voor de Tidar jagoan. Selengkapnya di https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.633642623333869&type=1

Tujuan kegiatan ini tidak hanya sekedar bersilaturahmi, tetapi juga untuk sarana memberi masukan, kritikan, saran dan pendapat Kerabat KTM terhadap keberadaan komunitas.

Suasana DJOEMPA KERABAT KTM

Pada tanggal 1 September juga di adakan bedah skripsi dari seorang mahasiswa UGM jogja tentang”Orang-orang Indo Di Magelang 1906-1942″ oleh Teddy Harnawan.

Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/09/07/di-bawah-bayang-bayang-modernitas-orang-orang-indo-di-kota-magelang-1906-1942-2/ dan http://hamidanwar.blogspot.com/2013/09/siapa-sangka-gaya-hidup-orang-indo-di.html

Nara sumber sedang presentasi

suasana saat peserta mengikuti kegiatan

di bulan September, Olivier Johannes dari Belanda hadir ke Magelang untuk berbagi ilmunya. Event KESEBELAS ini sangat spesial sekali dengan kehadiran olivier Johannes dari Belanda. Apalagi materi acaranya tentang bedah buku yang dia tulis. Buku tersebut mengungkap kartu pos lawas yang pernag beredar di Hindia Belanda yang menceritakan tentang Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe.

Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/09/22/bedah-buku-pekerdja-di-djawa-tempo-doeloe-bersama-olivier-johannes-raap-dari-belanda/ dan di https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.652564654774999&type=1

Peserta foto bersama di depan lokasi acara usai acara berlangsung

Event KEDUABELAS adalah DJELADJAH SITOES & TJANDI DI TEMANGGOENG yang dilaksanakan pada tanggal 13 oKTOBER. Tempat yang dikunjungi adalah Gondosuli, Pringapus, Jumprit , Liyangan dan beberapa situs di sekitarnya.

Foto-foto kegiatan ada disini https://www.facebook.com/media/set/?set=oa.664966023534862&type=1

Foto dulu sebelum berangkat

di situs Liyangan

di Candi Pringapus

Di Candi Gondosuli

Event KETIGABELAS adalah inventarisasi bangunan era kolonial di Kota Magelang kerjasama antara Jurusan Arkeologi Fak. Ilmu Budaya UGM Jogajakarta yang di laksanakan pada tanggal 16-17 Vovember 2013. Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/12/07/ugm-dan-kota-toea-magelang-inventarisasi-bangunan-cagar-budaya-kota-magelang/

saat kunjungan ke Gedung Bunder dan Pecinan

Event KEEMPATBELAS adalah DJEDJAK 200 TAHOEN SEDJARAH KABOEPATEN MAGELANG. Seperti di ketahui, dahulu Danukromo menjadi bupati pertama yang memerintah Magelang di tahun 1810. Jejak sejarahnya masih dapat di temui hingga kini seperti Masjid Agung Kauman dan Alun-alun. Sejarahnya seperti terlewatkan begitu saja sehingga oleh KTM perlu di ungkap riwayatnya. Termasuk keberadaan trah dan keturunannya yang masih ada hingga kini.

Selengkapnya ada di https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2013/12/07/even-minggu-1-desember-2013-latjak-djedjak-200-tahoen-sedjarah-kaboepaten-magelang/

silaturahmi dengan Mbah Mad, keturunan dari Danuningrat

Silaturahmi dengan Eyang Romlah, keturunan dari Danusugondo

Event KELIMABELAS adalah KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG dengan menghadirkan Dr. Wahyu Utami seorang pemerhati heritage di Magelang. Dr. Wahyu Utami merupakan putra asli Magelang yang dalam disertasinya mengungkap keberadaan Magelang dalam konsep saujana dimana Magelang di kitari oleh 7 gunung dan 2 sungai. Dr. Wahyu Utami merupakan doktor ketiga di UGM yang mengangkat saujana dalam disertasinya. Dalam usia kurang dari 40 tahun telah mampu meraih gelar kedoktorannya di UGM Jogjakarta.

Wahyu Utami [tengah berjilbab] dengan kawan KTM saat sesudah ujian terbuka promosi doktor 9 Desember 2013.

Hasil liputan selengkapnya ada di http://hamidanwar.blogspot.com/2013/12/magelang-setitik-surga-di-muka-bumi.html

hanya satu kata untuk event yang di gelar oleh KTM, LUAR BIASA…

Terimakasih buat Kerabat KTM yang sudah mendukung penuh kegiatan2 yang di adakan. Spesial buat Ryan Corleone yang slalu membantu pembuatan flyer publikasi event . Thanks for all yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Juga buat kawan2 yang foto2nya dan liputannya kami “pinjam”. Dan semoga bermanfaat buat kita semua.

SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG !

MAGELANG, THE HERITAGE CITY !

penulis : Bagus Priyana

foto-foto : Kerabat KOTA TOEA MAGELANG

7th International Field School on Borobudur 2013 kembali di gelar

Standard

Center for Heritage Conservation

DEPARTMENT OF ARCHITECTURE AND PLANNING, 
FACULTY OF ENGINEERING
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA, 
INDONESIA

Call for Participants
7TH INTERNATIONAL FIELD SCHOOL 
ON BOROBUDUR SAUJANA HERITAGE

 

Theme
Local Communities’ Initiatives for the Evolutive Conservation

Venue
Yogyakarta & Borobudur, September 4-10, 2013
 
Co-organized by
Center for Heritage Conservation
 
In collaboration with
1. Kanki Laboratory
2. Jogja Heritage Society


INTRODUCTION
Saujana heritage or cultural landscape heritage is the inextricable unity between nature and manmade heritage in space and time, or the variety of interactive manifestation between manmade heritage and natural environment. The interaction of nature and culture has become a new perspective in global discourse of sciences especially those which concern with heritage conservation started in the end of the 80’s. However, in the Indonesian higher education as well as the discourse on the saujana has not well developed. Whereas in fact, Indonesia from Sabang to Merauke is a mosaic of one of the world’s largest diversity of saujana that needs interdisciplinary developed.

Borobudur Temple compound, which consists of Borobudur, Mendut and Pawon
Temples, was inscribed in the UNESCO’s World Heritage List No. 592 in the year 1991. The area of this compound has rich of natural and cultural potentials associated with the establishment of the temples existence. There are surrounding mountains, ancient lake, fertile soil, and rural atmosphere as well as everyday community life of cultural villages which performs the value and variety of interactive manifestation between manmade heritage and natural environment called saujana. However, in the last decade there has been a tremendous movement of the local communities to be more concerned into unbalance conservation and development on this World Cultural Heritage Sites. 

In order to response the comprehensive needs, in scientific as well as practical, on the conservation of Borobudur cultural landscape, since 2004, the International Field School of Borobudur Cultural Landscape Heritage Conservation (shortly named Borobudur Field School/BFS) has been annually organized by the Center for Heritage Conservation, Department of Architecture and Planning, Gadjah Mada University (UGM) in collaboration with Kanki Laboratory for Architecture and Human Environmental Planning, Graduate School of Urban Environmental Engineering, Kyoto University, Japan; Miyagawa Seminar, Dept. of Environmental System, Wakayama University, Japan; and Jogja Heritage Society. 

Every year, each BFS has emphasized on specific implementing techniques of cultural landscape conservation, including enhancing participants’ skill on the inventory, documentation and presentation some unique villages surrounding Borobudur Temple which are ignored in the Borobudur Temple conservation and development (1st BFS); developing village design guidelines (2nd BFS); emphasizing on the formulation of village design guidelines (3rd BFS); emphasizing on the various principles and issues on the regional context of Borobudur conservation planning (4th BFS); deeply learn various principles and issues on regional conservation planning of Borobudur (5th BFS); and emphasizing on participants’ skill in implementing techniques of saujana heritage conservation in the context of Borobudur as a National Strategic Area (6th BFS).

Those abovementioned programs have exhibited that each program had each own topic from micro to macro scale, from village to regional context. However, the focal point of Borobudur saujana heritage learning process has been the local community initiatives. Heritage conservation is likely a cultural movement. The involvement of the local community is an important aspect in resolving conservation through a bottom-up planning approach and support people as the center of conservation management. This year is marked as the Indonesian Heritage Year 2013 with the theme of “Heritage for Community Welfare”. The Seventh Borobudur Field School is, therefore, will focus on describing saujana (cultural landscape) heritage from the viewpoint of the local communities’ initiatives and to deeply discuss on the new academic idea of ‘Dynamic Authenticity’ and ‘Evolutive Conservation’ generated from those initiatives.

Peserta sedang di Punthuk Setumbu Borobudur di acara BFS 2012

OBJECTIVES
The objectives of the Field School program in general are:

  • To give participants a comprehension on conservation and management of saujana (cultural landscape), including historical buildings, setting and culture system, living culture and other natural environment components and its position of temples compounds as World Cultural Heritage Sites and its area as National Strategic Area.
  • To give participants understanding on local communities’ initiatives in conserving and managing their environment.
  • To enhance participant skill in implementing concepts, methods, conservation process and landscape management in the actual cases.
  • To enhance participant interest in saujana conservation.
  • To give participants experience in doing a research on saujana conservation directly in the field.

The objective of Field School program in a specific theme is emphasized on enhancing participants’ skill in critically understanding the local community initiatives and implementing techniques of rural saujana heritage conservation, including inventory, documentation, analysis, formulating village design guidelines, and presentation of a particular village area in Borobudur.

TIME AND VENUE

  • The program is organized for 7 days (September 4-10, 2013) in Yogyakarta as well as Borobudur area, Magelang Regency, Central Java. 
  • Participants will depart together from Gadjah Mada University, Yogyakarta to Borobudur on September 4, 2013. 
  • During the program, participants will stay in the modest accommodation in Yogyakarta and home-stays in Candirejo Village, Borobudur Sub-District.

ACTIVITY PROGRAM
In the Seventh International Field School on Borobudur Saujana Heritage, participants will experience fun learning activities, as follow:


PARTICIPANTS
The International Field School is limited to 25 participants, they are:

  1. Students from Indonesian or overseas universities who have concerns on cultural landscape heritage conservation.
  2. Lecturers, researchers from Indonesia or overseas universities with interdisciplinary sciences related to the program topic
  3. Parties who have concerns on cultural landscape heritage conservation (individuals, government, cultural and heritage associations, environmental associations, tourism experts, etc).

FACILITATORS

  1. Prof. DR. Kiyoko Kanki, Kanki Laboratory, Architecture and Human Environmental Planning, Graduate School of Urban, Environmental Engineering, Kyoto University, Japan
  2. DR. Ir. Laretna T. Adishakti, M.Arch, Center for Heritage Conservation, Dept. of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, UGM
  3. DR. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A, Center for Heritage Conservation, Dept. of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, UGM
  4. Ir. Titi Handayani, M.Arch, Jogja Heritage Society
  5. DR. Amiluhur Soeroso, SE., MM., M.Si, Center for Heritage Conservation, Dept. of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, UGM
  6. DR. Titin F. Irmawan, ST., MEng., Indonesian Heritage Trust
  7. Jack Priyatna, Jaringan Kerja Kepariwisataan Borobudur

FACILITIES

  1. Modest accommodation (homestay), meals and drinks during the program in Borobudur (September 4-9, 2013 – 6 days);
  2. Modest accommodation on September 3, 2013, 2013 in Yogyakarta (1days);
  3. Meals during the program
  4. Transportation, Yogyakarta-Borobudur – Borobudur-Yogyakarta and during the program in Borobudur;
  5. Program materials

FACILITES NOT INCLUDED

  1. Transportation of participants to Yogyakarta from original country/city
  2. Passport and visa arrangements
  3. Health insurance
  4. Additional field trip/heritage trail (post summer school) in Yogyakarta
  5. Accommodation in Yogyakarta outside the BSF program
  6. Personal expenses and equipments during the program

PROGRAM OPTIONAL
The organizer may organize additional heritage tours upon requested, but the fee is not included in Borobudur Field School registration fee, such as:

  • Mount Merapi area post-eruption, 
  • Jeron Beteng (Inside the Wall) Heritage Trail, 
  • Kotagede Heritage Trail, 
  • Imogiri & Batik Heritage Trail

REGISTRATION AND FEE
Participants of the International Field School may register to: 

Center for Heritage Conservation, Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada, Jl. Grafika 2, Sekip Yogyakarta, Indonesia. Telp. 62 274 544910. Fax: 62 274 580852

  • Registration to the Organizing Committee not later than June 30, 2013
  • Confirmation of participation by July 15, 2013
  • Registration fee USD 600 for general public/scholar and USD 500 for students. Registration fee can be transferred to Bank Account: Yeny Paulina Leibo, BNI 46 Branch UGM Yogyakarta, Indonesia, Number 0134104532
  • Contact Person: Sinta Carolina (she_jogja@yahoo.co)

ABOUT

  1. Center for Heritage Concervation (CHC) | Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Indonesia.
  2. Kanki Laboratory | Graduate School of Architecture and Architectural Engineering, Faculty of Engineering, Kyoto University, Japan, Chairperson of Sub-committee for Rural Cultural Landscape, Committee for Rural Planning, Architectural Institute of Japan.
  3. Jogja Heritage Society (JHS) | a local NGO which focuses on cultural heritage ini Jogja (Yogyakarta) Province, Indonesia.

Download the pdf. version of this information here.

Source: http://tahunpusaka2013.indonesianheritage.info/kalender/icalrepeat.detail/2013/09/04/72/-/borobudur-7th-international-field-school-on-borobudur-saujana-heritage.html

Liputan tentang DJOEMPA KERABAT KOTA TOEA MAGELANG 2013

Standard

Yang namanya komunitas, jelas rasanya akan hambar jika tidak disertai dengan acara kumpul-kumpul para anggotanya (bahasa kerennya kopdaran lah), karena memang nyawa dari sebuah komunitas itu ya kebersaman dari segenap member komunitas itu sendiri. Hal ini disadari betul oleh Komunitas Kota Toea Magelang, sebuah komunitas Pecinta dan pelestari bangunan tua di Magelang dan sekitarnya. Selain aktif mengadakan event utama yaitu jelajah bangunan lawas, Komunitas ini juga tercatat selalu menyelenggarakan acara kumpul-kumpul silaturahmi dan diskusi segenap anggota setiap tahunnya yang bertajuk “Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang”.

Dan tahun 2013 inipun, agenda Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang kembali digelar.

Berbeda dengan edisi tahun lalu, event Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang tahun 2013 ini terasa spesial, karena diselenggarakan pada waktu yang masih bersuasana syawal, sehingga aroma “Sugeng riyadi” masih sangat terasa kental.

Acara Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 kali ini diselenggarakan pada hari Kamis, 15 Agustus 2013, di Warung Makan Voor de Tidar Jalan Gatot Subroto 58 Jagoan Magelang. Acara sejatinya dijadwalkan mulai pada jam 6 sore, tapi kemudian molor sampai jam 7 karena banyak peserta yang datang tak sesuai jadwal.

Kendatipun acara ini adalah acara komunitas Kota Toea Magelang, namun Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 ternyata tak hanya dihadiri oleh anggota internal saja, karena rupanya, banyak peserta lain yang berasal dari lintas komunitas dan latar belakang, diantaranya akademisi, pengajar, bahkan sampai pengusaha.

Acara diisi dengan perkenalan masing-masing peserta (maklum, kendatipun sudah saling tahu di grup facebook komunitas, tapi banyak yang belum kenal langsung sesama anggota, apalagi bertatap muka), silaturahmi, dan juga diskusi ringan seputar Kota Tua Magelang ataupun pembahasan agenda serta kegiatan komunitas Kota Toea Magelang kedepannya.

Diskusi ringan tentang kota tua Magelang dalam Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 benar-benar penuh warna, Bagaimana tidak, beragamnya para peserta kemudian “memaksa” para peserta yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda untuk saling berbagi dan mengemukakan pandangannya tentang Magelang sebagai Kota Tua dari sudut pandang masing-masing.

Mbak Wahyu Utami misalnya, Calon Doktor jebolan Universitas Gadjah Mada yang kerap membuat essay tentang kemagelangan ini begitu lanyah dalam mengemukakan berbagai keunikan-keunikan kota Magelang berdasarkan letak dan topografis kota Magelang.

Lain mbak Wahyu Utami, lain pula dengan Pak Soli Saroso, anggota komunitas Kota Toea Magelang yang juga anggota komunitas Volkswagen Club Magelang/VCM ini dengan sangat berapi-api mengemukan dan menceritakan tentang sejarah Magelang di masa kolonial sampai sejarah nafas Komunis di kota Gethuk ini.

Diskusi ringan makin asyik dan menarik saat mas Rahadian, eks wartawan Jawa Pos yang besar di kota Magelang berbagi tips tentang bagaimana mengenalkan Kota Magelang kepada dunia luar dengan segenap sisi positif dan kearifan lokalnya melalui media online dan sosial media seperti Facebook maupun twitter.

Tak jauh berbeda dengan Mas Rahadian, uraian menarik juga disampaikan oleh pak Chandra Irawan, Manajer Hotel Atria Magelang yang menjelaskan tentang tantangan bisnis pariwisata di Magelang terutama bisnis penginapan dengan memaksimalkan segala potensi pariwisata di Magelang dan sekitarnya.

Selain diskusi menyampaikan pandangan, para peserta juga diberikan sesi kesempatan untuk memberikan saran, kritik, ataupun gagasan membangun perihal Kota Magelang maupun Komunitas Kota Toea Magelang, dan sesi ini tak disia-siakan oleh para peserta yang langsung memberondong dengan berbagai gagasan-gagasan yang unik dan menarik. Pak Marwan salah satunya, beliau memberikan gagasan yang unik, yaitu mendorong Pemkot agar melarang pendirian bangunan yang tingginya melebih Gunung Tidar. Gagasan menarik lainnya keluar dari lisan pak Bondan, seorang akademisi yang sekarang berprofesi sebagai guru, beliau memberikan gagasan bilamana segala posting yang ada di grup facebook Kota Toea Magelang bisa dibukukan, gagasan menarik lainnya adalah mendorong kegiatan Kota Toea Magelang agar bisa masuk ke sekolah-sekolah lokal di Magelang, mengingat masih banyak pelajar Magelang yang belum tahu tentang sejarah kota Magelang sendiri.

Acara Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 ini dipandu langsung oleh mas Bagus Priyana selaku koordinator komunitas Kota Toea Magelang.

Dengan disuguhi menu makanan pecel lele spesial dari Warung Makan Voor de Tidar dan dihibur dengan alunan lagu kroncong tradisional nan merdu oleh grup seni Omah Tumpuk, membuat acara Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 terasa sangat berkesan, terlebih lagi di akhir acara, ada doorprize berupa poster tentang Kota tua Magelang yang dibagikan kepada beberapa peserta yang sanggup menjawap pertanyaan yang diajukan oleh sang komandan, Mas Bagus Priyana selaku pemandu acara.

Tepat jam 10 kurang seperempat, acara pun usai yang ditandai dengan penampilan pamungkas dari grup seni Omah Toempoek yang membawakan lagu berjudul Magelang dan juga sesi foto bersama seluruh peserta.

Hhh, sungguh acara yang sangat berkesan. Semoga tahun depan, even Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang kembali digulirkan.

Gambar hasil jepretan Pak Widoyoko Magelang

[sumber : http://www.agusmulyadi.web.id/2013/08/tentang-djoempa-kerabat-kota-toea.html%5D

Liputan dari pameran Magelang Tempo Doeloe 2013.

Standard

Banyak hal dan banyak cara ketika kita ingin menguak dan memperkenalkan  sejarah kota tercinta ini. Tidak harus duduk manis di bangku sekolah atau di kampus biru. Kita bisa belajar lewat apa yang ada di sekitar kita. Entah dengan melihat, mendengar, merasakan ataupun dengan berpikir. Lalu bagaimana caranya ya agar orang mau menyukai sejarah ?

Nah salah satunya adalah lewat pameran, Yah namanya pameran Magelang Tempo Doeloe yang di gelar selama 2 hari yaitu tanggal 27-28 April 2013.

https://i1.wp.com/assets.kompas.com/data/photo/2013/04/28/0944154-magelang-tempo-dulu-620X310.jpg

Pameran Magelang Tempo Doeloe 2013 yang digelar di halaman Bakorwil II eks Karesidenan Kedu, Jalan Diponegoro Magelang, memang berbeda jauh dengan pameran-pameran produk lain pada umumnya. Pengunjung tidak akan menemukan barang-barang mewah, mahal, dan modern seperti di pameran properti atau komputer.

Sesuai namanya, di pameran ini pengunjung justru akan disuguhi segala macam suasana Magelang pada jaman dulu, berikut benda-benda yang berbau kuno dan antik. Setidaknya ada 35 stan yang saling unjuk kebolehan menyajikan keunikan suasana Kota Magelang jadul (zaman dulu). Stan-stan tersebut antara lain dari perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Magelang dan sekitarnya.

Stan Hotel Sriti Kota Magelang misalnya, setiap penjaga stan memakai pakaian khas orang-orang Belanda zaman dulu, lengkap dengan tata ruang dan penyajian makanan asli Belanda, Leker. Ada juga stan mainan anak-anak yang barangkali akan membuat pengunjung tersenyum simpul karena pasti teringat dengan mainan-mainan masa kecil yang sekarang hampir punah. Mainan macam othok-othok, congklak, gasing, dan lainnya.

Ada pula bursa lawasan yang memajang aneka benda kuno, seperti sepeda, meja, kursi, uang logam, buku, lukisan sampai foto-foto kondisi Magelang pada masa kedudukan Belanda.

Ada lagi penampilan dari MACI/Motor Antik Club Indonesia juga turut serta menampilkan koleksinya seperti Harley Davidson WL. MZ, dan DKW. Menurut Yoga salah seorang anggota MACI, keikutsertaan MACI ini sudah yang ketiga kali sejak even Magelang Tempo Doeloe di gelar. Selain koleksi motor antik, juga di tampilkan beberapa koleksi motor CB, Vespa, Lambreta dan tidak ketinggalan deretan sepeda antik yang tentu saja mempunyai harga yang tinggi karena memiliki nilai yang antik dan langka.

Jika lapar seusai keliling pameran kita dapat mampir di stand Djadjanan Ra’jat, jangan harap kita akan menemukan stan burger atau fast food. Namun, justru akan bertemu makanan tradisional seperti lotek, jenang, cetil, nasi lesah sampai soto. Bahkan sego jagung iwak asin gereh pethek pun masih ada yang jual da acara ini. Makanan tersebut sudah jarang atau bahkan sudah tidak ditemukan lagi di hari-hari biasa.

“Pameran ini memang rutin digelar tiap tahun sebagai rangkaian perayaan HUT ke-1107 Kota Magelang. Sejak hari pertama pengunjung memang ramai dan antusias sekali,” kata Hary Nurjianto, Ketua Seksi Pameran Magelang Tempo Doeloe HUT ke-1107 Kota Magelang yang berlangsung pada 27-28 April 2013.

Bertempat di Halaman Museum BPK kompleks Bakorwil II Karesidenan Kedu Kota Magelang, pameran diikuti oleh sedikitnya 35 stan yang merupakan perusahaan dan instansi baik dari lokal Magelang ataupun luar kota seperti Solo, Klaten, dan Yogyakarta. Turut pula komunitas-komunitas pecinta benda kuno dan antik, antara lain Komunitas Kota Toea Magelang,  Komunitas sepeda antik VOC, Paguyuban penggemar Keris Satriya tama, Komunitas Motor Antik Club Indonesia/MACI, KSBI/Komunitas Seniman Borobudur Indonesia, Bol Brutu/gerombolan pemburu batu, BPPI/Badan Pelestari Pusaka Indonesia , Paguyuban Lawasan dan masih banyak lagi.

Dengan mengusung tema “Magelang The Heritage City (Magelang Kota Pusaka)”, yang artinya bahwa Magelang baik Kota maupun Kabupaten memiliki warisan sejarah dan cagar budaya yang tinggi nilainya.  Bagus berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman sejarah bagi generasi muda. Karenanya, akan timbul rasa bangga, rasa memiliki bangsa ini bagi generasi muda.

“Konsep pameran tahun ini lebih kuat mulai kualitas sampai materi, sekarang dipamerkan juga mobil, sepeda, dan motor kuno. Tempatnya juga kami pilih di Bakorwil karena kita ingin sekaligus mengenalkan kepada masyarakat bahwa tempat ini juga memiliki sejarah,” ujar Bagus Priyana, salah satu koordinator kegiatan.

https://i1.wp.com/mpn.kominfo.go.id/web/wp-content/uploads/2013/04/Screenshot-from-2013-04-29-125313-another-copy.png

stand Monumen Pers Solo di acara Pameran Magelang Tempo Doeloe menampilkan koleksi foto, surat kabar dan audio visual.

Selain pameran, pihaknya juga menggelar acara Remboeg Sedjarah & Boedaja, Lajar Tantjap film tentang Kartini, Sarasehan tentang Keris, Djeladjah Kota Toea, yaitu mengelilingi Kota Magelang naik sepeda ontel dengan mengenakan pakaian khas Belanda dan Jawa.Ada juga Panggoeng Moesik & Boedaja, Oendjoek Potrek Koeno, Oendjoek Angkoetan Lawas, Djadjanan Ra’jat dan lain-lain.

https://i2.wp.com/mpn.kominfo.go.id/web/wp-content/uploads/2013/04/Screenshot-from-2013-04-29-125313-copy.png

Panggoeng Boedaja dengan menampilkan kesenian tradisional

Monumen Pers Nasional Solo, pada pameran ini menampilkan, ekpose media tentang Magelang Tempo Doeloe, Peringatan Hari Kartini yang dimuat majalah Panyebar Semangat th.1939 – 40, foto Bung Karno ketika berpidato, di alun-alun kota Magelang 1954, macam-macamperangko yang dimuat majalah Jawa Baroe pada pendudukan Jepang dan baberapa ekspose media lainnya.

Dewan Kesenian selaku pelaksana kegiatan mengharapkan bahwa even Pameran Magelang Tempo Doeloe ini dapat berlangsung setiap tahun dan menjadi acara terfavorit yang di tunggu-tunggu oleh masyarakat dalam setiap pelaksanaan peringatan Hari Jadi Kota Magelang.

[ sumber : http://regional.kompas.com/read/2013/04/28/11030684/Yuk.Menengok.Magelang.Tempo.Doeloe

http://mpn.kominfo.go.id/index.php/2013/04/29/pameran-magelang-tempo-doeloe-2/

dan di rangkum dari berbagai sumber]

Pameran “MAGELANG TEMPO DOELOE” 27-28 April 2013 di area Museum BPK kompleks Eks Gedung Karesidenan Kedu

Standard
Magelang memiliki sejarah yang panjang, dari jaman dahulu hingga sekarang. Banyak berbagai peninggalan bersejarah berada di kota ini.
Apakah anda ingin menikmati Magelang di sekian puluh tahun yang lalu lewat foto2 tempo doeloe ?
Atau anda ingin menikmati sego jagung, iwak asin gereh pethek dengan godhong gandhul ?
Atau anda ingin naik sepeda tua keliling kota dengan berpakaian tempo doeloe?
Ayo saksikan pameran ini, jangan ketinggalan !
Nah jika anda ingin bernostalgia di masa lalu, ayo saksikan pameran MAGELANG TEMPO DOELOE 27-28 April 2013 di Area Museum BPK Kompleks Karesidenan Kedu Kota Magelang, Jalan Diponegoro No 1 Magelang. Gratis !

perhoeboengan kawat : 087832626269

Presiden Sepeda Tua se-Dunia IVCA Kunjungi Borobudur Magelang

Standard

Wisata Sepeda Onthel

Sejumlah tokoh onthelis (penggemar sepeda Onthel) asal Belanda dan Perancis bersepeda keliling kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jateng, pada Selasa (26/3) di dampingi oleh onthelis KOSTI dan Old Bikers VOC Magelang Agung Dragon (kiri berompi biru) dan onthelis lainnya. (FOTO: ANTARA/Anis Efizudin)

Sabtu (23/3) lalu, Presiden International Veteran Cycle Association (IVCA) Alain Charlies Albien Cuvier menghadiri Bandung Lautan Onthel (BLO) III untuk meresmikan Indonesia sebagai anggota IVCA ke-34.

Ia bersama dua onthelis (penggemar sepeda onthel) asal Perancis dan Belanda, Otto Beajoun dan Andre Koopman bertandang ke Jawa Tengah, pada Rabu (26/3) siang kemarin, dan bersepeda onthel mengelilingi kawasan Candi Borobudur, Mendut, Pawon, dan desa-desa sekitarnya. Kunjungan tersebut sekaligus dalam rangka silaturahmi dengan onthelis Indonesia dalam rangka kampanye kepedulian lingkungan alam, sosial, budaya, dan pariwisata.

Kunjungan presiden ke Candi Borobudur mungkin sudah biasa, tapi kalau presiden sepeda ontel internasional, baru kali ini terjadi.

Alain berwisata sambil mengendarai sepeda ontel mengelilingi kawasan Borobudur, Mendut, Pawon, serta desa-desa sekitarnya. Selain itu, dia juga belajar menimba air dan mencicipi makanan tradisional. Pria asal Prancis itu bersepeda ditemani puluhan pecinta onthel anggota KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia) yaitu dari Old Bikers VOC Magelang, BOSCH Borobudur, Komunitas Bendera Hitam Borobudur, Potorono Jogja dll

Selain bersepeda, Alain juga mencoba menimba air di sumur senggot dengan sebuah bambu sepanjang 15 meter di sebuah rumah penduduk di sekitar Candi Pawon.

Selain itu rombongan berkesempatan sarapan pagi sego megono dengan lauk pauk khas pedesaaan di salah satu rumah tradisonal warga Desa Wanurejo Kec. Borobudur.

Otto Beajoun, salah seorang anggota rombongan Alain, Selasa (26/3/2013), mengaku senang dan kagum dengan keindahan Magelang, terutama di kawasan desa wisata Borobudur. Dia juga memuji warganya yang ramah.

Otto mengakui trek bersepeda di Indonesia lebih menantang dibanding di negara-negara Eropa. Ini dikarenakan banyak tanjakan dan turunan. Sedangkan di Eropa, kebanyakan jalan rata dan lurus.

Selain itu, di negara-negara Eropa tidak banyak sepeda motor berkeliaran di jalan, sehingga relatif lebih aman bagi pengguna sepeda.

Djeladjah Petjinan Magelang 2013

Standard

Untuk kesekian kalinya KOTA TOEA MAGELANG mengadakan event jelajah.Kali ini bertajuk DJELADJAH PETJINAN MAGELANG yang di adakan 17 februari 2013. sebanyak 40-an peserta mengikuti acara ini, antara lain dari Jakarta, Wonosobo, Jogjakarta, Surabaya dan Magelang sendiri.

Acara kunjungan dimulai dari kelenteng Liong Hok Bio di Aluun2 Selatan, menikmati Dawet Magelangan di Pasar Ngasem, Gedung Bunder di Jaranan, Pabrik Cerutu Ko Kwat Ie di Prawirokusuman, rumah Ko kwat Ie di Juritan Kidul, eks sekolah Tiong Hoa Hwa Kween/SMAN 3 sekarang, dan pengrajin barongsai di Tengkon.