Monthly Archives: March 2018

KISAH NYATA : KARENA PERANG, 40 TAHUN AKU BERPISAH DENGAN ADIKKU

Standard

Foto Bagus Priyana.
Perkenalkan namaku Yvone Sonja ten Hoor-Heintz, aku biasa di panggil dengan nama Yvone atau Oma Yvone (dibaca ‘Ivon’). Aku tinggal di kota Roterdam dan menjadi warga negara Belanda. Meski demikian, aku lahir di sebuah kampung kecil di Glagah, Banjarnegoro Mertoyudan Kab. Magelang pada 26 Oktober 1935, kini usiaku 82 tahun.
Papaku bernama Karel Otto Heintz yang berdarah campuran antara Jerman (kakekku) dan Swiss (nenekku). Yang ku tahu nama kakekku Carl Heintz dan nenekku bernama Kristin.
Mamaku bernama Murni, orang Jawa dan asli dari Glagah. Adikku 2 orang, semuanya wanita. Yang nomer 2 bernama Joyce Sylvia Heintz dan yang ke 3 bernama Yulia Christine Heintz. Joyce lahir pada tahun 1938, panggilan akrabnyavadalah “Ribut” karena tingkah lakunya yang selalu bikin ribut sekitarnya. Adikku yang bungsu bernama Yulia lahir pada tahun 1940 dan biasa dipanggil dengan “Jembrok” karena model rambutnya yang ‘njegrak’. Bisa dikatakan aku dan adik-adikku adalah warga Indo karena berdarah campuran antara Eropa dan Jawa.
Mamaku seorang pedagang hasil bumi. Sedangkan papaku seorang suplyer (pemasok) ketela pohon untuk pabrik tepung tapioka/pati di Borobudur.
Saat ini (Januari 2018) aku sedang berkunjung ke Magelang dengan di temani oleh Franky Heintz, adik tiriku (1 ayah, beda ibu).
Kunjunganku ke Magelang adalah untuk bersilaturahmi dengan adik-adikku. Kunjunganku kali ini adalah yang ke 8 kalinya. Kunjungan pertama pada tahun 1988, di susul dengan kunjungan berikutnya di tahun 1989, 1990, 1991, 1992, 1995 hingga yang terakhir kali pada tahun 1998.
Jangan di tanya, bagaimana perasaanku saat kembali di tanah kelahiranku. Dan jangan di tanya pula saat aku bertemu dengan adik-adikku tercinta.
Sungguh bahagia sekali hatiku saat kembali menginjakkan kakiku di Magelang ini. Kota yang telah mengukir jiwa ragaku. Kota yang menjadi belahan jiwaku ini. Jika di tanya soal masa kecilku, mataku bisa basah karena terharu. Karena di kota inilah perjalanan hidupku begitu berwarna.

MASA KECILKU
Aku tidak tahu sejak umur berapa aku di asuh oleh omaku (nenek) , yang aku dengar sejak usia 6 bulan hingga 7 tahun. Omaku tinggal di Botton 3 (Botton Nambangan), masuk wilayah Kel. Magelang Kota Magelang. Tujuan di asuhpun aku juga tidak tahu sama sekali. Yang masih ku ingat aku ini anak perempuan yang bandel saat kecil dulu.
Pernah aku berjalan kaki dari Botton ke Glagah karena aku di marahi opa atau oma. Dan saat itu umurku baru 5 tahun!
Coba bayangkan, seorang anak perempuan berumur 5 tahun berjalan seorang diri berjalan kaki sejauh 7 km.
Aku masih ingat, dalam perjalanan itu aku melewati jalan yang sepi. Di kanan kiri jalan masih banyak Pohon Kenari & Asem. Jika aku haus atau lapar, aku memunguti buah Asem yang berjatuhan dibawahnya. Terutama di ruas Bajemanweg (Jalan Bayeman, kini Jalan Tentara Pelajar). Jika ada Kenari yang kudapat, ku mencari batu untuk memecahkannya. Cukuplah untuk sekadar teman jalanku.
Saat itu sekitar tahun 1940, kondisi jalan masih sepi, tidak banyak kendaraan bermotor yang lewat. Jika kebetulan, ku berpapasan dengan 1 atau 2 kendaraan saja yang lewat. Yang bikin merinding jika melewati Pemakaman Giriloyo. Kadang aku berlari kecil karena takut.
Tidak hanya sekali aku berjalan kaki, tapi berkali-kali. Sampai-sampai opa oma maupun mama papaku mencariku. Entahlah, di usiaku yang sudah senja inipun kadang tertawa dan tidak mengerti jika mengingat kenakalan di masa kecilku dulu.

MASA MENYEDIHKAN
Keadaan menjadi berubah kala Perang Dunia 2 meletus. Saat itu tahun 1942 menjelang 1943, umurku masih 7 tahun. Kondisi Kota Magelang begitu gawat. Jepang masuk Magelang dan menawan orang-orang Belanda dan keluarganya (di internir), termasuk papaku.
Sedikit beruntung pada diriku. Oleh para pemuda kampung, Aku dan mamaku yang saat itu ada di Botton Nambangan di bawa dan dikumpulkan di rumah pak Lurah di Kampung Tulung, utara kampungku.
Aku masih ingat saat itu kami berjalan tergesa-gesa menuruni tangga dan menyeberangi Kali Bening menuju rumah pak Lurah yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahku.
Baru ku tahu, ternyata tidak hanya kami ada di rumah pak Lurah tetapi para pemuda kampung mengumpulkan kami karena kami warga Indo.
Yang menyedihkan adalah nasib papaku. Suatu hari tentara Jepang datang kepadanya dengan membawa sepucuk surat penangkapan atas nama Heintz. Papaku di bawa Jepang ke garnisun (Kompleks Rindam kini).
Papaku di tawan karena termasuk warga Indo dan berkulit putih.
Lain waktu, ku dengar papaku dan tawanan lain dipindahkan ke kompleks van der Steur di Meteseh. Aku tidak tahu, apakah ayahku mengalami siksaan dari Jepang atau tidak.
Masa-masa di era 1942-1945 merupakan masa yang teramat pahit dan sulit, khususnya untuk keluargaku. Kami harus berpisah dengan papa kami.
Kehidupan keluarga kami dimulai lagi dari awal. Bahkan untuk tempat tinggalpun, kami terpaksa harus berpindah-pindah rumah. Pernah kami tinggal di Kampung Juritan, dibelakang Pecinan. Pernah juga berpindah di Blabak, dekat dengan pemandian Mudal (dekat eks Pabrik Kertas Blabak). Aku masih ingat rumahku punya halaman yang luas. Bahkan dari beranda rumah bisa melihat Gunung Merbabu dan Merapi.
Pernah juga kami tinggal di sebuah rumah di Tidarweg (kini Jalan Tidar). Dari rumahku bisa melihat Bukit Tidar yang gundul, beda dengan kondisi sekarang yang hijau.
Pernah saat ke Magelang, aku berusaha mencari dan menengok rumahku dulu di Juritan dan Blabak. Aku sedih karena kondisinya sudah berubah.
Masa-masa sulit rupanya belum berlalu. Kondisi pasca 1945 setelah Proklamasi Republik Indonesia rupanya belum sepenuhnya aman dan membuat nyaman.
Belanda masih ingin menguasai negeri ini.
Di tahun 1948, Belanda berusaha mengamankan dan menyelamatkan warganya. Saat itu kami diberi 2 pilihan, apakah akan ikut Belanda atau Indonesia.
Pilihan ini benar-benar sulit bagi keluarga kami. Bagaimana tidak sulit, keluarga kami adalah perpaduan 2 budaya dan 2 bangsa. Papaku Eropa, sedangkan mamaku Jawa. Kami bertiga, anak-anaknya tidak bisa menentukan nasib kami sendiri. Terlebih saat itu kami masih kecil, umurku baru 13 tahun, adikku 10 dan 8 tahun.
Sungguh, benar-benar sulit.
Pada akhirnya keluarga kami harus mengambil sebuah keputusan, yang tentu teramat berat buat kami.
Keputusan itu adalah keluarga kami akan kembali ke Belanda. Sebuah keputusan yang sulit.
Tapi rupanya mamaku lebih memilih tetap tinggal di Glagah. Mama ingin tetap tinggal di Magelang, mengingat ayah ibunya (kakek nenekku) tinggal di Glagah. Terlebih mamaku juga tidak ingin meninggalkan tanah kelahirannya.
Papaku akhirnya membawaku ke Belanda, sedangkan kedua adikku di asuh oleh mamaku.
Sedih rasanya kami harus berpisah dengan orang-orang yang kami cintai. Semua ini terjadi karena kondisi saat itu yang tidak memungkinkan kami untuk tetap bersama.
Saat itu tahun 1948, sebuah peristiwa penting dalam sejarah hidupku, berpisah dengan mama dan 2 adikku. Saat itu umurku 13 tahun, dimana di umur itu aku masih membutuhkan kasih sayang dari mamaku. Terlebih aku juga punya 2 adik perempuan yang ku cintai.
Sedih sekali rasanya.
Aku dan omaku meninggalkan Magelang bersama rombongan keluarga yang lain berjalan kaki dari komplek van der Steur menuju Stasiun Magelang Kota (kini sub Terminal Kebonpolo). Papaku sendiri sudah dipulangkan lebih awal ke Belanda karena warga yang kena internir Jepang didahulukan.
Dari stasiun tersebut kami naik kereta api menuju Solo. Dari Solo kami naik pesawat terbang menuju Semarang. Dari Semarang naik kapal laut menuju Batavia. Di Batavia kaki di tampung sementara waktu di Cililitan sambil menunggu pemberangkatan. Sesudah waktu yang sudah ditetapkan, kami bergabung dengan rombongan lain untuk berangkat menuju Belanda.
Magelang ku tinggalkan, kota kelahiranku yang penuh dengan kenangan yang takkan pernah ku lupakan seumur hidupku.
Aku menangis sepanjang perjalanan. Selama 3 minggu perjalanan menuju ke Belanda. Setiap hari selama di kapal, tak henti-hentinya aku menangis. Setiap awal hari hingga senja datang, ku selalu menatap lautan lepas. Wajah mama dan adikku selalui membayangiku. Omaku cuma bisa memelukku dan meredakan tangisku.

MEMULAI KEHIDUPAN DI BELANDA
Sesudah 3 minggu perjalanan, tibalah kapal yang kami tumpangi di Belanda. Aku turun dari kapal dengan omaku. Ternyata papaku sudah menungguku di dermaga. Meledaklah tangisku di pelukannya.
Kehidupan di Roterdam Belanda tidak semudah yang ku bayangkan. Terlebih saat itu usiaku baru 13 tahun (tahun 1948), dimana di saat itu aku madih membutuhkan kasih sayang dari seorang mama. Sebuah tempat yang teramat asing bagiku. Budayanya juga teramat berbeda dengan di Magelang. Akupun harus menyesuaikan diri agar tetap bisa hidup.
Aku harus melanjutkan masa depanku. Papaku membesarkanku. Papaku menikah lagi dengan seorang wanita Belanda. Salah seorang adik tiriku bernama Franky yang kini menemaniku berkunjung di Magelang.
Saat mulai beranjak dewasa, aku juga berubah. Sebagai seorang wanita, akupun juga mempercantik diri. Sebagai wanita Indo, akupun juga bersolek. Banyak orang bilang aku mirip dengan artis populer di jaman itu, Faradiba.
Aku juga menikah dengan orang Belanda yang bernama Lucky. Lucky ini juga seorang Indo, dia lahir di Semarang. Meninggalkan Semarang saat berusia 21 tahun. Tambah bahagia lagi dengan kehadiran anak-anak kami. Suamiku ini bekerja membuka bengkel mobil.
Akupun juga bekerja, salah satunya menjadi sopir bis. 😊
Selama kami tinggal di Belanda, kami (aku dan papaku) terputus hubungan dengan mama dan adikku di Magelang.
Sungguh, aku kangen dengan mereka. Akupun tidak tahu, apakah masih bisa bertemu dengan mereka?
Apakah mereka masih hidup?
Apakah aku masih dikaruniai umur panjang hingga aku bisa kembali ke Magelang?
Jarak yang jauh dan terputusnya hubungan membuat kami pesimis.

Foto Anton Widodo.

Papaku dan mamaku yang menggendong adikku [belakang], aku jongkok di depan bersama suamiku Lucky

PERTEMUAN TAK SENGAJA
Tahun berganti tahun. Aku semakin betah hidup bersama keluargaku di Roterdam. Di Belanda memang masih banyak keluarga Indo yang hidup di sini. Sehingga jika aku kangen dengan tanah kelahiranku, aku menemui kawan-kawanku.
Hingga tak ku sangka-sangka di Roterdam ini aku berkenalan dengan seorang laki-laki Belanda keturunan Ambon yang ternyata beristri orang Magelang!
Dan perempuan istrinya ini berasal dari Kampung Paten Jurang!
Oh my God, mimpi apa aku ini. Sebuah harapan untuk mencari keluargaku ku dapatkan!
Aku pun menceritakan kisah hidupku padanya, dari masa kecilku hingga aku hidup di Roterdam ini. Aku juga bertanya padanya tentang kota kelahiranku, Magelang.
Kami meminta bantuan perempuan istri orang keturunan Ambon tersebut untuk mencari tahu tentang keluargaku di Glagah, Banjarnegoro.
Perempuan tersebut menghubungi keluarganya di Magelang untuk membantuku.
Proses pencarian adik-adikku memang tidak mudah. Terlebih mamaku (Murni) sudah meninggal sejak tahun 1961, informasi ini ku dapat saat proses pencarian ini. Di Glagah ku dapatkan informasi jika kedua adikku Joyce dan Yulia ternyata masih hidup.
Dari informasi keluarga di Glagah, adikku Yulia tinggal di Kampung Losmenan. Sedangkan Joyce tinggal di Blondo.
Gembira rasanya hatiku, bahagia tiada terkira.
Ingin rasanya aku terbang segera ke Magelang. Tapi tentu saja butuh persiapan dan beaya yang besar. Kejadian ini sekitar tahun 1988.
Ah mimpi apa aku ini?

BERTEMU DENGAN ADIKKU
Sekitar tahun 1988-1989 (saya lupa pastinya), aku dan suamiku (Lucky) berkunjung ke Magelang. Tentu saja ditemani oleh kenalanku orang Magelang yang tinggal Roterdam tsb. Perjalanan panjang dengan pesawat terbang dari Belanda ke Jakarta begitu terasa lama. Meski lelah tetapi perasaan bahagia mampu menutupi kelelahanku. Bagaimana tidak, aku akan bertemu dengan adik-adikku yang sudah berpisah selama 40 tahun (1948-1988).
Di aturlah pertemuan kami. Bukan di rumah Joyce di Glagah atau di rumah Yulia di Losmenan, tetapi di rumah kerabat kami yang kebetulan tinggal di Paten Jurang. Rumahnya persis di depan rumah perempuan kenalan kami di Roterdam.
Ketika proses pertemuan itu, aku tidak langsung bertemu dengan kedua adikku. Rupanya mereka berdua ada di dalam kamar dan “mengintai” diriku dari dalam. Mereka ingin memastikan jika aku ini benar-benar kakak kandungnya.
Setelah mereka memastikan jika aku ini adalah kakak kandungnya, keluarlah mereka dari dalam kamar. Kemudian antara aku dan kedua adikku (Joyce dan Yulia) saling menatap seakan-akan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Aku berusaha menatap wajah mereka dengan baik. Benarkah mereka adik-adikku?
Ku tatap mata mereka. Ku pandangi wajah mereka. Hati dan perasaan kamilah yang menjawabnya. Tidak ada kata yang terucap.

Foto Anton Widodo.

aku dengan adikku Julia dan Franky
Kami bertiga saling berangkulan dan menangis haru. Air mata kami tiada terbendung, membasahi pipi kami. Suasana saat itu begitu sangat mengharukan.
Bagaimana tidak, kami berpisah selama 40 tahun di saat kami anak-anak (13, 10 & 8 tahun). Sedangkan saat pertemuan itu usia kami 53, 50 & 48 tahun. Perpisahan kami pun juga terasa pahit karena situasi yang memaksa kami harus berpisah.
Sesudah suasana mereda, kamipun menceritakan perjalanan hidup masing-masing. Aku menceritakan tentang papa dan keluargaku di Roterdam. Sedangkan adikku menceritakan tentang mama murni dan keluarga masing-masing di Magelang.
Adikku menceritakan jika sesudah papa pergi ke Belanda, Mama Murni menikah lagi. Mama Murni sudah meninggal di tahun 1961. Salah satu putra Mama Murni dengan pernikahan keduanya bernama Pak Diyuk tinggal di Glagah, usianya kini 70 tahun.
Jika mengingat masa-masa dulu aku jadi ingat masa kecilku dengan adik-adikku. Termasuk kenakalanku.
Pertemuan bersejarah ini tidak mampu kulupakan seumur hidupku. Bagaimanapun juga Tuhan yang mengatur semuanya. Meski aku tidak pernah bermimpi untuk bisa bertemu lagi dengan adik-adikku.

Foto Bagus Priyana.

Dengan adikku Yulia yang tinggal di Kampung Losmenan Kota Magelang

MAGELANG KOTAKU
Kini di tahun 2018 aku berkunjung lagi ke Magelang, menemui adik-adikku dan keponakanku. Sungguh bahagia lagi bisa bertemu dengan mereka untuk yang ke 7 kali. Tapi aku juga sedih karena adikku yang ke 2 (Joyce) sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Di foto bawah ini aku berdiri di apit oleh adikku Yulia (deretan depan nomer 1 dari kanan), adik tiriku di Belanda Franky (deretan depan nomer 1 dari kiri). Di belakang berbaju merah adalah keponakanku Robert Prayogo (anaknya Yulia). Di deretan belakang tengah berbaju hitam adalah menantu (almh) Joyce dan sebelah pojok kanan belakang bertopi adalah Bagus Priyana.
Ku sadari bahwa semuanya sudah menjadi suratan takdir dari-Nya.
Tapi aku masih bisa bersyukur di usiaku yang ke 83 ini masih diberi kesehatan sehingga aku masih bisa kembali ke Magelang. Sebelum aku pulang ke Belanda akhir Januari ini, aku ingin menelusuri jejak rumahku dulu di Botton Nambangan.
Aku sadari bahwa Magelang tidak akan mungkin ku lupakan meski aku kini telah menjadi warga negara Belanda.
Memang aku warga negara Belanda, akan tetapi jiwaku dan cintaku tetaplah untuk Magelang.
Terima kasih untuk semua pembaca cerita hidupku ini. Terima kasih untuk Bagus Priyana yang sudah menulis kisah hidupku.
Terima kasih untuk KOTA TOEA MAGELANG.
Terima buat Candra Yoga dari Magelang Ekspress, Ika dari kompas.com.
Semoga kita bisa bertemu kembali di lain hari.
God Bless You.
I love you Magelang
(Tamat)

AKU KEMBALI KE RUMAHKU SETELAH 76 TAHUN BERLALU

Standard
Kawan-kawan KOTA TOEA MAGELANG masih ingat denganku?
Iya aku Ivone Heintz, yang saat ini berada di Magelang. Aku kini tinggal di Roterdam, warga negara Belanda yang lahir di Magelang 83 tahun yang lalu. Cerita tentang hidupku sudah ku ceritakan di minggu lalu di grup ini. Semoga apa yang aku ceritakan bisa menjadi cerita menarik dari sebuah romantika kehidupanku ini.
Rabu siang ini (24/1) aku bersama Franky Heintz (adik tiriku), Robert Prayogo (keponakan, anak dari adik perempuanku, tinggal di Losmenan) dan di temani oleh Bagus berupaya mencari rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalku di Botton 3 (Botton Nambangan). Dulu di rumah ini aku di asuh oleh omaku (nenek) yang bernama Catrien Heintz saat aku berumur 6 bulan hingga 7 tahun sampai tahun 1942, saat Jepang masuk ke Magelang.

Foto Bagus Priyana.

Aku dengan Franky yang menemaniku mencari rumahku di Kampung Botton Nambangan, Kota Magelang
Aku tiba di depan SMPN 1, rupanya Bagus sudah menungguku di depan gang Botton Nambangan yang kini bernama Jl. Merpati.
Suasana mendung menggelayuti langit Magelang. Terus terang hatiku merasa tidak karuan, jantungku pun terasa lebih kencang berdebar. Bagaimana tidak, saat ini aku akan mencari rumahku dulu, yang pernah ku tinggali 76 tahun yang lalu.
Aku menelusuri gang kecil yang lebarnya cuma selebar mobil saja. Aku tidak begitu ingat lagi dengan kondisi gang kecil ini.

Foto Bagus Priyana.

Foto Bagus Priyana.
Deretan rumah berjajar di sepanjang jalan, tidak mampu menggugah ingatanku meski ada 1 atau 2 rumah masih terlihat keasliannya.
Bagus memberi informasi jika dulu di kampung ini banyak orang Indo yang tinggal di sini. Sehingga adakalanya ada orang keturunan Indo yang berkunjung di kampung ini.
Ah, rupanya daya memoriku kurang begitu baik untuk mengingat masa kecilku dulu. Benar-benar mampet.
Harapanku, sebelum aku kembali ke Belanda 31 Januari mendatang, aku sudah bisa menemukan rumahku dulu.

Foto Bagus Priyana.

Aku berada di simpang jalan Kampung Botton Nambangan

PENCARIAN DI KAMPUNG BOTTON
Untuk mencari rumahku yang dulu rupanya memang tidak mudah. Bukan hanya karena kondisi dulu dengan kini sudah berubah banyak, akan tetapi juga daya ingatku juga sudah menurun.

Foto Bagus Priyana.
Bagus mengajakku ke rumah Oma Mary di bilangan pojok Botton Nambangan. Oma Mary berusia 86 tahun, ayahnya seorang tentara KNIL bermarga Hinihulu. Yang mana Hinihulu ini berasal dari Flores, tetapi Oma Mary sendiri lahir di Magelang.
Saya senang bisa bertemu dengan Oma Mary, apalagi daya ingatnya juga masih baik meski ada beberapa hal yang lupa. Wajar saja karena usianya sudah lanjut
Dengan dibantu oleh keponakannya yang bernama Rita, proses komunikasi berjalan. Aku bercerita tentang hidupku yang dulu pernah tinggal di Botton Nambangan di tahun 1935 hingga 1942.

Foto Bagus Priyana.

Menemui Oma Martha [tengah] yang didampingi oleh Rita [anak Oma Marry, kanan]
Ku coba menanyakan, apakah Oma Mary ingat dengan omaku yang bernama Cristhine Heintz.
Mary mengatakan padaku jika di Botton Nambangan ini lebih banyak orang dari daerah Flores dan Timor yang dulu tinggal. Jika orang Ambon lebih banyak tinggal di Wates, sedangkan orang Menado di Ngentak.
Aku mengatakan tentang silsilah keluarga ku padanya bahwa papaku berdarah orang Eropa dan mamaku asli berdarah Jawa dan dulu tinggal di Glagah, Banjarnegoro.
Mary mengatakan sekali lagi jika tetangga nya lebih banyak orang yang berasal dari Indonesia Timur khususnya Flores dan Timor. Ku sampaikan ke Mary bahwa rumahku dulu dekat tangga yang bawahnya terdapat sebuah sungai kecil.
Haduh… Rupanya informasi dari Mary belum sepenuhnya memuaskan ku.
Mary mencoba menenangkanku agar aku berkunjung ke Oma Martha di Botton Tengah. Katanya, Oma Martha berusia sepantaran dia dan sejak lahir tinggal di Botton. Barangkali Oma Martha bisa membantu proses pencarian rumahku, begitu kata Oma Mary.

BERTEMU OMA MARTHA
Rumah Oma Martha tidak begitu jauh dari rumah Tante Mary, kira-kira berjalan 10 menit. Selama perjalanan, aku berusaha membuka memoriku tentang kampungku yang pernah ku tinggalkan 76 tahun yang lalu.
Di pojok dekat sungai kecil masih ku lihat 2 rumah lama, di sebelah dan depannya sudah bangunan baru. Yang aku ingat ada susunan tangga menurun menuju sungai (Kali Bening) di bawah. Tapi sayangnya tangga itu sudah hilang berganti dengan jalan beraspal.

Foto Bagus Priyana.

Berfoto bersama dengan Oma Martha [tengah] dan adikku Franky [kanan]
Rumah Oma Martha berada tepat di selatan Ambonsche School (kini SMPN 4), melewati sebuah gang sempit sekali. Jika berjalan berpapasan, salah seorang harus ada yang mengalah.
Rumah Oma Martha sangat asri, deretan bunga dan tanaman hias menyapa di halaman depan. Bangunannya pun juga terkesan nyaman meski berada di gang sempit.
Oma Martha bermarga/fam Sengkei, asli dari Manado tetapi lahir di Magelang tahun 1929. Suaminya bermarga Gozal. Rambut Oma Martha tampak memutih pendek, sama putihnya dengan rambutku.
Di rumah yang di tinggalinya kini merupakan rumah dari masa kecilnya hingga beranjak senja kini.
Saat bertemu dengannya, kami berbicara dengan bahasa Belanda. Wow, Oma Martha masih fasih berbicara dengan bahasa Wolanda. Rupanya Oma Martha ini dulu sekolah di Ambonsche School dari usia 6 tahun hingga 13 tahun (1935-1942) yang mana di sekolah ini memakai bahasa pengantar untuk pelajaran sekolah adalah Bahasa Belanda. Ambonsche School ini kini menjadi SMPN 4 yang terletak cuma beberapa puluh meter ke arah utara dari rumahnya.
Sungguh senang rasanya hatiku berkenalan dengannya. Di usianya yang sudah 89 tahun tampak bugar dengan memori yang masih terjaga dengan baik.
Saya ceritakan kisah hidupku dimana di masa kecilku dulu tinggal di Botton 3 (Botton Nambangan). Dimana rumahku dulu ini bertetangga dengan Porteer, Boshard, Huwaij dan Groen.
Nah Groen inilah yang memiliki rumah yang ku tinggali dulu.

Oma Martha mencoba mencerna apa yang aku ceritakan dan mencoba mengingat-ingat beberapa nama yang aku sampaikan tadi. Oma Martha membenarkan jika gang sebelah barat rumahnya dulu banyak tinggal warga Indo. Dan nama-nama tetanggaku dulu juga masih di ingat dengan baik oleh Oma Martha.
Aku takjub dan sungguh beruntung bisa bertemu dengannya. Ah sungguh suatu hal yang tidak pernah ku duga jika masih ada yang memberiku sebuah harapan dan pencerahan untuk mencari jejak rumahku dulu.
Rasanya tidak sabar lagi aku ingin menuju ke rumah di masa kecilku dulu. Ingin segera menumpahkan kerinduanku. Tapi apa daya karena hujan di siang itu dan pembicaraan yang begitu hangat membuatku harus sedikit kompromi.
Sebelum pamitan, aku sempatkan untuk berfoto bersama di depan rumah dengan Oma Martha (tengah) & Franky Heints (kanan). Terima kasih banyak aku sampaikan kepada Oma Martha yang sudah membantuku. Semoga di lain waktu kita masih bisa bertemu lagi.

SETELAH 76 TAHUN BERLALU
Aku bergegas menuju ke arah yang di tunjukkan oleh Oma Martha, rasanya tidak sabar lagi aku “kembali” ke rumahku dulu. Franky, Robert & Bagus berjalan di belakangku, seolah ingin ku tinggalkan mereka. Kenapa mereka berjalan begitu lambat?
Sebuah gang kecil beraspal membujur dari timur ke barat, lebar gang sekitar 1,5 meter dengan agak menurun ke barat. Ada selokan di tiap sisinya. Ada beberapa rumah di sini tapi sayangnya sudah kehilangan keasliannya. Gang kecil ini tembus ke Botton Gang Waluyo.
Karena saking semangatnya, aku malah berjalan sedikit kebablasan melewati rumahku. Untung saja Bagus segera mengingatkanku jika kita sudah sampai di rumah yang di cari.
Duh. Terasa makin keras debaran jantungku. Aku menatap nanar sebuah rumah di kanan gang kecil ini.

Foto Bagus Priyana.

Rumah masa kecilku dulu
Sebuah rumah bergaya tradisional dengan dinding tembok menghadap ke selatan. Rumah tertutup karena pemiliknya tidak ada di rumah. Dengan pagar tembok dengan pintu besi tertutup.
Aku tertegun cukup lama, aku berusaha untuk menggali lebih dalam kepingan memoriku di masa kecilku dulu.
Rumah ini sudah jauh berubah dari saat ku tempati dulu. Tentu saja, 76 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk sebuah cerita kehidupan.
Sebuah payung yang melindungi tubuh tuaku dari guyuran gerimis, seolah menjadi saksi buatku hari ini.
Aku masih ingat, rumahku dulu cuma berdinding bambu atau gedek saja. Pun dengan pagar depan juga dari bambu.
Di halaman sisi kanan tertanam pohon Jeruk Bali. Di sisi kiri tertanam pohon Jeruk Nipis, daun mangkokan dan pandan.
Aku masih ingat betul itu.
Di depan rumah ada selokan di kiri kanan gang. Air selalu mengalir setiap waktu. Aku suka sekali bermain-main di selokan itu.
Di samping rumah ada gang kecil menuju ke utara yang tembus hingga rumah tetangga.
Ah, sebenarnya aku tak mampu menahan emosiku. Rasanya aku ingin menangis haru bahagia. Di rumah ini, sebuah kisah suka duka terpatri di masa kecilku dulu (1935-1942). Masa kecil yang takkan pernah aku lupakan.
Gerimis sore itu seperti tahu tentang perasaanku.
Di rumah ini, omaku mengasuhku. Sedangkan mama papaku tinggal di Glagah. Omaku begitu sayang padaku.
Terima kasih Tuhan, Engkau mengabulkan doaku. Walaupun baru terkabul setelah 76 tahun. Engkau mengabulkan permintaanku walaupun di saat aku sudah beranjak senja.
Dan gerimis sore inipun masih mengiringi perjalananku.

Foto Bagus Priyana.

Rumah masa kecilku dulu

RUMAHKU.
Rumah yang ku tinggali ini sebenarnya bukan milik omaku, omaku menyewa dari seorang wanita bernama Groen. Tapi tidak menyewa 1 rumah karena di rumah ini juga ada 2 keluarga yang tinggal yaitu keluarga Leifheit dan Wals. Mereka juga menyewa kamar lain di rumah ini. Jadi dalam 1 rumah ada 3 keluarga yang tinggal.

Foto Bagus Priyana.

Bersama Franky di depan rumahku dulu

Ah sungguh ramainya rumah ini, terlebih masing-masing keluarga juga memiliki anak kecil sepantaran denganku. Aku biasa bermain dengan mereka.
Sedangkan Mevrouv/Nyonya Groen tinggal tidak jauh di rumah ini, hanya beberapa puluh meter di barat rumah yang kami sewa ini.
Groen ini seorang wanita Belanda yang sungguh unik karena selalu memakai kebaya berwarna putih dan bersarung untuk bagian bawahnya. Lebih terlihat anggun lagi karena Groen memakai sanggul.
Keseharian Groen ini menjual bubur dan gorengan di depan rumahnya. Pelanggannya tentu saja tetangga di sekitar rumahnya.
Groen memiliki anak perempuan yang bernama Lien, entah siapa nama lengkapnya. Tapi kami biasanya memanggil dengan nama Lien.
Aku masih ingat dengan nama tetanggaku yang lain, di antaranya Portier, Boshard dan Huwaij.
Ah andaikan anak-anak mereka masih hidup, tentunya akan menyenangkan sekali kami bisa bernostalgia.

Foto Bagus Priyana.

Gang kecil di sebelah rumahku dulu, jalan kecil ini yang menjadi saksi kenakalanku

AKHIR PERJALANAN
Dari 7 kali perjalanan ku ke Magelang, baru kunjungan di tahun ini yang paling berkesan. Tentu saja kunjungan pertama kali saat bertemu dengan adik-adikku di tahun 1989 di atas semuanya.

Foto Bagus Priyana.

Gang kecil ini menuju ke rumahku, sedang di sana adalah tempat jualan Tante Groen
Perjalanan yang begitu indah buatku. Terlebih sesudah 76 tahun aku meninggalkan rumah masa kecilku ini. Kenangan yang teramat luar biasa dan takkan pernah bisa ku lupakan.
Tuhan mengabulkan permintaanku untuk bisa berkunjung ke rumah ini.
Harapanku untuk bisa menemukan, akhirnya terwujud sebelum aku pulang ke Belanda akhir Januari ini.
Kepada para pembaca setia di grup KOTA TOEA MAGELANG ini, saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga bisa mengambil hikmah dari kisah hidupku ini.
Terima kasih banyak buat Bagus yang sudah membantuku.

Foto Bagus Priyana.

Aku di apit oleh Franky [kiri] dan Bagus Priyana [kanan]
Ini foto bersama denganmu sesudah selesai pencarian rumahku di Botton Nambangan.
Good bless you. Semoga kita bisa bertemu lagi dalam suasana yang lebih baik.
(TAMAT)