Monthly Archives: January 2016

Kawasan Tangsi Ngentak

Standard

Magelang sebagai kota militer di jaman Belanda memilih kawasan Ngentak sekarang ini menjadi tempat pemukiman para tentaranya selain di tepi Grooteweg Noord Pontjol. Area sekitar lapangan di fungsikan sebagai markas dan perkantoran militer. Di dalam tangsi juga terdapat barak-barak bagi tentara.

Seperti halnya yang nampak di foto atas yang menggambarkan bagian belakang perumahan Bintara (dibawah Perwira) Magelang tahun 1910 [KITLV], dengan latar belakang Gunung Sumbing dan Perbukitan Giyanti

Pada peta lokasi tangsi militer di sekitar tahun 1893-1900 ini pada tanda berwarna merah menunjukkan lokasi foto dengan area persawahan.

Rumah para tentara Belanda

Foto udara kawasan militer tahun 1940

The Royal Wedding : Perayaan Pernikahan Sang Putri Mahkota di Negeri Jajahan

Standard

Salam Mblusukmen!!

Ratu Juliana naik takhta menggantikan ibunya, Ratu Wilhelmina pada masa – masa yang sulit. Ia dinobatkan ketika Belanda harus memperbaiki dalam negerinya sendiri pasca kejatuhan Nazi Jerman dan gejolak nasionalisme di negeri jajahanya di Hindia Belanda. Beliaulah Ratu Kerajaan Belanda yang menandatangani kertas – kertas pengakuan kedaulatan Republik Indonesia di Den Haag pada Konfrensi Meja Bundar tahun 1949. Meskipun demikian, Putri yang pernah sebangku kuliah dengan calon raja Yogyakarta, Sultan HB IX ini pernah menjadi sosok yang sangat dicintai bukan hanya di dalam Negeri Belanda, namun juga di Hindia Belanda. Gayanya yang santai dan cair membuat sang putri dekat dengan rakyatnya. Maka tidak heran, ketika acara pernikahanya pada awal 1937, banyak kalangan yang menyambutnya dengan suka cita.

Gapura masuk Pasar Baru di Batavia dengan foto Putri Juliana dan Pangeran Bernhard pada 1937. Jalanan kala itu dipenuhi hiasan – hiasan dan bendera Belanda untuk menyemarakkan The Royal Wedding Kerajaan Belanda ini. Yang menarik dalam foto ini adalah adanya bendera Swastika yang bersebelahan dengan bendera Triwarna Belanda. Pangeran Bernhard yang seorang Jerman cukup populer di kalangan orang – orang Nazi di Hindia Belanda. Konon dulu sang pangeran pernah bergabung dengan partai Nazi. 
Sumber : Sampul Buku Nazi di Indonesia

Hari itu, 7 Januari 1937, seluruh kota di Hindia Belanda bersuka cita merayakan pesta pernikahan Putri Juliana dan Bangsawan asal Jerman, Pangeran Bernhard. Para raja di Nusantara berlomba – lomba memberikan hadiah yang beraneka rupa kepada pasangan mempelai. Mulai dari yang berwujud benda berharga berlapis intan permata hingga tari – tarian sakral sebagai kado pernikahan.

Gusti Nurul, Putri Mangkunegara VII dari Surakarta menarikan tari Sari Tunggal sebagai kado pernikahan Ratu Juliana dan Pangern Bernhard

Sumber: Flicker.com

Euforia pernikahan calon ratu Belanda ini membuat hari itu menjadi hari yang tidak terlupakan bagi seluruh rakyat Hindia Belanda. Berbondong – bondong masyarakat diseluruh pelosok tanah jajahan menjejali jalan – jalan utama dan aloon – aloon kota untuk menyaksikan parade perayaan Sang Pewaris Takhta. Dipenjuru kota di Hindia Belanda, tampak gedung-gedung dan pertokoan dihias dengan ornamen-ornamen yang beraneka ragam. Sementara itu bendera Triwarna Belanda dikibarkan di puncak-puncak gedung dan pinggir – pinggir jalan.

Suasana Jalan Braga di Bandung dalam menyambut pernikahan Sang Putri Belanda. Tampak jalanan di hias dengan kain warna – warni dan hiasan ornamen bunga. 

Sumber: kumeohmemehdipacok.blogspot.co.id

Situasi di aloon – aloon Kota Bandung atau Lapangan Tegallega. Di kota Bandung, perayaan pernikahan Ratu Juliana dirayakan dengan pasar malam dan pesta dansa di Sosciete Concordia. Sumber: kumeohmemehdipacok.blogspot.co.id

Magelang, sebagai ibu kota Karesidenan Kedu dengan jumlah populasi warga eropa yang banyak tentunya tidak mau ketinggalan dalam acara special ini. The Royal Wedding Sang Putri Belanda mungkin akan menjadi pengalaman sekali seumur hidup bagi banyak rakyat Magelang. Parade besar digelar mengelilingi pusat kota Magelang. Ribuan rakyat menyesakki pinggir – pinggir jalan. Tidak mau kalah, gedung – gedung perkantoran dan masjid pun ikut berhias untuk merayakan pernikahan Ratu Juliana.

Gemerlap lampu malam pada Masjid Agung Magelang dalam perayaan pernikahan Ratu Juliana pada tahun 1937.

Sumber : Koleksi Pribadi Bagus Priyana

Tampak dalam foto adalah sekelompok peserta parade yang kemungkinan siswa MOSVIA Magelang. Para peserta parade ini ada yang berjalan kaki memakai kostum ala tokoh pewayangan dan ada pula yang menaiki kereta hias dengan 2 ekor kuda sebagai penariknya.

 Sumber : Foto koleksi pribadi Bagus Priyana

 

Peserta parade melintasi jalan utama di dalam Kota Magelang. Lokasi masih belum diketahui.

Sumber : Koleksi Pribadi Bagus Priyana

Masih dengan peserta parade yang sama. Sekarang para peserta pawai sedang melewati jalan di utara aloon – aloon kota Magelang. Kemungkinan sang fotografer mengambil foto dari depan Societeit De Eendracht (antara Trio Plaza dan Bank BCA sekarang).

Sumber : Foto Koleksi Bagus Priyana

Foto ini diambil dari sudut pengambilan yang sama. Peserta parade kali ini memakai kereta kuda yang dihias dengan model kereta kencana ala wayang. Menurut beberapa kawan, foto ini diambil dari depan bank BPD menghadap kantor pos Magelang.
Sumber : Foto koleksi Bagus Priyana

Demikianlah sedikit dokumentasi yang masih tersisa dari acara pernikahan akbar Putri Juliana 79 tahun silam. Kenangan akan kemeriahan The Royal Wedding sang putri pewaris Hindia Belanda ini pernah mengisi sejarah perkembangan Magelang. Semoga Bermanfaat. Salam  Mblusukmen!!

Diposkan oleh C.G.Wisnuwardana di 22.04

sumber : http://mblusukmen.blogspot.co.id/2016/01/the-royal-wedding-perayaan-pernikahan.html#more

WARUNG BELANDA, WARUNG NOSTALGIA

Standard

Tidak banyak tempat makan di dalam Kota Magelang yang memadukan antara sajian makanan dan heritage.
Sebuah warung makan di Jl. Gatot subroto 58 Jagoan (depan gedung Nasution Akmil) ini bisa jadi salah satu contohnya.
Voor de Tidar nama warung ini. Menempati sebuah rumah tua berumur lebih dari 100 tahun warung makan ini menyapa para pecinta kuliner semenjak tahun 2010 lalu.
Suasananya warung nya pun sungguh unik karena pengunjung di temani oleh foto Magelang Tempo doeloe di dinding bangunan.
Seakan-akan foto lama ini menggugah memori di masa lalu.
Bahkan yang semakin menambah daya tarik dari warung ini adalah sajian makanannya seperti ayam laos, pecel lele, sop kalkun, dll.
Minumnya pun jg pantas di coba seperti wedang uwuh yang akan menghangatkan badan anda.
Bahkan tidak sedikit orang Belanda yang datang di kota ini menyempatkan mampir di warung ini. Orang-orang Belanda selain untuk menikmati sajian makanan tetapi juga untuk bernostalgia.
Tidak salah jika warung ini di sebut dengan “WARUNG BELANDA”.
Anda mau coba?
Silahkan datang di hari Selasa hingga Minggu. Senin libur ya.

WARUNG VOOR DE TIDAR
Warung ini terletak di Jl. Gatot subroto 58 Jagoan Kota Magelang.
Jarak dari Aloon2 Kota Magelang cuma 2 km ke arah selatan . Lebih tepatnya di depan Akmil Magelang.
Monggo silakan mampir, buka dari hari selasa hingga minggu. Senin libur ya.
Sajian makanannya nikmat dan jangan kawatir, harga terjangkau.
Suasananya nyaman dan sejuk.
Monggo pinarak.

Komunitas “Kota Toea Magelang” Kembangkan Wisata Sejarah

Standard

Magelang, Antara Jateng – Komunitas Kota Toea Magelang, Jawa Tengah, mengembangkan aktivitas pariwisata sejarah melalui berbagai tema program jelajah peningalan masa lalu di Magelang dan sekitarnya.

“Masih terus kami lakukan program jelajah sejarah dan cagar budaya. Selain untuk wisata sejarah, juga untuk pembelajaran sejarah secara langsung di lapangan,” kata Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana di Magelang, Kamis malam.

Komunitasnya mengembangkan berbagai tema dalam kegiatan wisata jelajah sejarah tersebut, antara lain jelajah jalur sepur yang hingga saat ini telah empat seri (Magelang-Parakan, Secang-Candi Umbul, Stasiun Bedono-Stasiun Candi Umbul, Stasiun Bedono-Ambarawa).

Selain itu, kata dia, jelajah situs dan candi, seperti di kawasan Secang, Temanggung, Muntilan-Salam, Bandongan-Windusari, dan jelajah Diponegoro, antara lain di Kota dan Kabupaten Magelang serta Kabupaten Kulon Progo.

Pada bulan Januari 2016, pihaknya melakukan jelajah sepeda Candi Borobudur dengan menyusuri rute kampung-kampung di kawasan candi yang juga warisan budaya dunia tersebut.

“Melalui jelajah sepeda Borobudur ini, peserta juga diajak untuk belajar tentang kearifan lokal, termasuk mengunjungi pusat kerajinan batik dan gerabah, serta usaha kecil, menengah, dan mikro lainnya,” katanya.

Pada bulan Februari mendatang, pihaknya telah mengagendakan seri keempat untuk jelajah pecinan setelah tiga seri sebelumnya di Kota Magelang dan Muntilan. Untuk seri keempat, rencananya di Temanggung kota.

Pada bulan Maret 2016, lanjut dia, pihaknya juga mengagendakan seri kedua untuk jelajah Kali Manggis setelah seri pertama menyusuri hulu singai itu dari Badran, Kabupaten Temanggung hingga Kota Magelang, untuk seri kedua mendatang dari Payaman hingga Badran.

Ia mengemukakan pentingnya menyusun agenda wisata jelajah sejarah tersebut supaya berbagai kalangan masyarakat luas melakukan persiapan sejak awal untuk menjadi peserta.

Setiap kali pelaksanaan jelajah sejarah, pihaknya juga menyiapkan pemandu yang memiliki pengetahuan secara memadai tentang lokasi yang dikunjungi peserta.

Sejak 2009 hingga saat ini, Komunitas Kota Toea Magelang telah mencatatkan 50 kegiatan terkait dengan upaya membangun kecintaan terhadap peninggalan sejarah dan cagar budaya di Magelang dan sekitarnya.

“Baik kegiatan yang bersifat ‘in door’ seperti sarasehan dan diskusi buku, maupun ‘out door’ yang penjelajahan di lapangan. Peserta jelajah dari tahun ke tahun terus bertambah, kalau pada awalnya hanya sekitar 10 orang, sejak beberapa tahun terakhir bisa sampai 120 orang setiap kali penyelenggaraan jelajah sejarah,” katanya.

Para peserta wisata jelajah sejarah yang diselenggarakan secara mandiri oleh komunitas itu, kata dia, berasal dari berbagai kalangan, antara lain siswa SD hingga perguruan tinggi, kalangan pekerja, pegawai, dan ibu rumah tangga.

Peserta tidak hanya berasal dari warga Magelang, tetapi juga dari berbagai kota besar lainnya dan luar negeri, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Banjarnegara, Malaysia, Vietnam, dan Jerman.

“Promosi kami lewat media sosial, tetapi kami bukan menjual jasa wisata, kami komunitas yang menularkan pengetahuan dan kecintaan tentang sejarah Magelang dan sekitarnya,” katanya.

Ia mengemukakan pentingnya memberikan pengetahuan dan wawasan tentang sejarah dan cagar budaya kepada masyarakat umum dengan cara-cara yang menyenangkan.

“Ini bisa disebut wisata sejarah. Kami berpikir kalau mau mengenalkan sejarah kepada masyarakat umum, dengan cara menyenangkan, masyarakat umum dengan latar belakang yang berbeda, umur variatif, tetapi punya atensi terhadap sejarah, maka teknik berbagi ilmu dengan cara menyenangkan, antara lain mengajak mereka jalan-jalan ke lapangan sehingga mengasyikkan dan menjadikan mereka tergerak untuk belajar sejarah,” kata Bagus Priyana.

sumber : http://www.antarajateng.com/detail/komunitas-kota-toea-magelang-kembangkan-wisata-sejarah.html

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © 2016

KEDU YANG SUBUR

Standard
Karesidenan Kedu terdiri dari REGENTSCHAPPEN MAGELANG dan REGENTSCHAPPEN TEMANGGONG.
Berikut ini REGENTSCHAPPEN MAGELANG yang terdiri dari :
– DISTRIKTEN MAGELANG (Onder-Distrikten Magelang, Tengahen, Soember)
– DISTRIKTEN NGASINAN (Onder-Distrikten Ngandeng, Kajoepoering, Poetjang)
– DISTRIKTEN BALAK (Onder-Distrikten Klapa, Gales)
– DISTRIKTEN BANDONGAN (Onder-Distrikten Tanabaya, Djetak, Kantji)
– DISTRIKTEN PROBOLINGGO (Onder-Distrikten Probolinggo, Pinggol, Bebengan, Moengkit)
– DISTRIKTEN REMAMEH (Onder-Distrikten Salam, Djamoes)
– DISTRIKTEN MENOREH (Onder-Distrikten Menoreh, Sadegan, Boroboedoer, Kaliaboe)

Berikut ini REGENTSCHAPPEN TEMANGGONG yang terdiri dari :
– DISTRIKTEN DJETIS (Onder-Distrikten Boloe, Temanggong, Moengseng)
– DISTRIKTEN KADOE (Onder-Distrikten Manden, Kadoe, Petir)
– DISTRIKTEN LEMPOEYANG (Onder-Distrikten Lempoeyang, Djoemo, Kebondalem)
– DISTRIKTEN PRAPAK (Onder-Distrikten Krangan & Pingit)
– DISTRIKTEN SOEMOWONO (Onder-Distrikten Pringtali, Melabeh, Soemowono)

Di karesidenan ini sawah-sawah terbentang luas bahkan padi juga ditanam di bukit-bukit. Di distrik Purboliengo (Probolinggo) padi ditanam sepanjang tahun dan dalam 2 tahun selain 3 kali masa panen padi juga buah-buahan pada panen kedua.

Hasil bumi terdiri dari: padi, jagung, kapas, merica, minyak kelapa, tebu, tembakau kedu, tembakau havanna dan manilla, bermacam sayuran eropa, kentang, asparagus, kol, buncis, kacang kapri, lobak putih dan merah, umbi-umbian, artischock, dsb. Juga dapat ditemukan disini nanas, jeruk dan stroberi.

Terdapat sekitar 16.000.000 pohon kopi di karesidenan ini yang menghasilkan 9.000.000 Pfund (kurang lebih 4500 ton). Juga terdapat kebun tebu yang kemudian diolah tersebar di 13 pabrik. Terdapat juga Indigo walaupun dalam jumlah yang tidak banyak.

potone Eva Mentari Christoph

Kadoe meliputi bagian utara cekungan Progo. Di bagian tengah daerah ini, di mana terdapat reruntuhan Boeroboedoor. Dimana saat ini masih banyak penduduk dan menafsirkannya sebagai peradaban tinggi abad terakhir, sebagian besar penduduknya dari seluruh Jawa.
Bagian tengah ini adalah dibentuk oleh Districten Remameh, Menoreh, dan Probolinggo  serta Magelang, bersama-sama pada satu wilayah memiliki penduduk lebih dari 267.000 jiwa atau lebih dari 22 200 jiwa per meter persegi.
Di dataran lebih utara  kondisi kepadatan pebduduk begitu jarang. Enam distrikten Bandongan, Balak, Ngassinan, Prapak, Jetis dan Kadoe,
bagian tengah kediaman membentuk, bersama-sama memegang salah satu hamparan lebih dari 16 g. m. dan populasi lebih 279.000 atau lebih dari 17 200 jiwa per meter persegi. Dalam dua utara paling menuntut kabupaten layanan, dan Lempoeyang Soemowono, dua diambil bersama-sama 9 g. m. lebar dan diisi dengan lebih dari 71500 jiwa, air terjun rasio kepadatan, namun hanya 8.000 jiwa per meter persegi.
Pembagian Kabupaten Kadoe, setelah 1845.

potone Muhammad Gilang Syarifudin
# disarikan dari :
– buku Beschreibung der Insel Java oleh Dr. J. Müller, Berlin, 1860
NIETJWE BIJDEAGEN TOT DE KENNIS DER BEVOLKINGSTATISTIEK VAN JAVA VERZAMELD DOOR P. BLEEKEE

EVENT 24 JANUARI : DJELADJAH SEPEDA DI BOROBOEDOER #2

Standard
EVENT 24 JANUARI : DJELADJAH SEPEDA DI BOROBOEDOER #2

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG – 24 Januari 2016
Bicara soal Borobudur bukan hanya sekedar candi semata yang menjadi mahakarya peradaban yang tinggi dari kakek moyang bangsa Indonesia. Nilai sejarahnya pun sudah di akui oleh dunia.
Bukan juga di sana pernah menjadi danau purba di ribuan tahun silam.
Di sana pula kita akan mendapatkan kekayaan nan eksotis. Bentangan Perbukitan Menoreh menjadi benteng alam nan tangguh. Kali Progo dan Kali Elo berliku-liku menjadi tumpahan aliran air. Tidak hanya sekadar pesona pemandangannya nan indah, tetapi juga keramahtamahan masyarakat setempat. Tidak pula keunikan budayanya saja tetapi juga kekayaan kulinernya yang memikat lidah. Semua itu sebagai warisan sejarah dan bagian dari kekayaan alam yang bernilai tinggi.
Lalu bagaimanakah jika semua itu di nikmati dengan bersepeda?
Sungguh mengasyikkan jika pesona alam itu dapat di nikmati dengan bersepeda. Ya setiap kayuhan roda sepeda yang menelusuri setiap tapak jalan desa dan persawahan akan membuat kita dapat menikmati karunia Tuhan yang sungguh luar biasa itu. Apalagi mengenal lebih dekat dengan aktivitas warga yang ada di setiap kampung yang akan di kunjungi.
Jika anda tertarik, mari bergabung di acara persembahan dari Komunitas KOTA TOEA MAGELANG berikut ini.
‪#‎PADA‬
– Nama Acara : DJELADJAH SEPEDA DI BOROBOEDOER #2
– Hari/tanggal : Minggu 24 Januari 2016
– Jam : 06.30 WIB – selesai
‪#‎TempatKUMPUL‬
– Tempat Kumpul :
Rental Sepeda sebelah Pondok Tingal Desa Wanurejo, Borobudur, Magelang
(300 meter sebelah barat Jembatan Kali Progo Borobudur).
‪#‎BIAYA‬
– Biaya Pendaftaran : Rp 30.000,-
[perincian : untuk sewa sepeda Rp 20.000 dan sisanya untuk air mineral, sego megono]
‪#‎Pendaftaran‬ & ‪#‎Info‬
– Cara Pendaftaran ketik: BOROBOEDOER #2 [spasi] Nama Anda
– Kirim ke: 0878 32 6262 69
‪#‎NB‬:
1. Transportasi peserta dari rumah menuju ke tempat kumpul menjadi tanggungan masing-masing peserta. Peserta wajib sarapan pagi dahulu sebelum mengikuti kegiatan ini.
– Di sarankan untuk memakai topi sebagai pelindung dari terik panas matahari. Sebaiknya memakai kaos berwarna terang/muda untuk mengurangi panas. Dan mengingat musim hujan, diharapkan membawa matol / payung selama acara berlangsung untuk berjaga-jaga.
2. Peserta WAJIB bisa mengendarai sepeda dan masing-masing peserta 1 orang 1 sepeda dan sudah di sediakan oleh panitia.
3. Makan siang ditanggung oleh panitia berupa sego megono.
4. Rundown Acara sbb :
– Jam 06.30 – 07.45 WIB : Daftar ulang peserta sekaligus pembayaran beaya pendaftaran di lakukan sebelum acara di mulai di tempat kumpul yaitu di Rental Sepeda sebelah Pondok Tingal Desa Wanurejo, Borobudur, Magelang [300 meter sebelah barat Jembatan Kali Progo Borobudur]
– Jam 07.45 – 08.00 WIB : briefing dan petunjuk teknis pelaksanaan acara dari panitia.
– Jam 08.00 WIB ; start acara di mulai dengan rute Dusun Tingal – Candirejo – Purwogondo – Tuk Songo – Tanjungsari – Ngaran – Jowahan – Tingal.
Dengan panjang rute sejauh kurang lebih 9 KM dan dapat di tempuh sekitar 3 jam.
7. Lokasi kunjungan sangat menarik dan eksotis dengan pemandangan indah, menikmati aktivitas warga.
Jangan lupa bawa kamera ya. Bersiaplah berkeringat mengayuh sepeda.
Dan jangan lupa wajib menjaga kebersihan selama perjalanan serta jangan membuang sampah sembarangan !
8. Hal-hal lain yang belum di tentukan akan di informasikan kemudian.
9. Kenali negerimu, pahami sejarahnya, cintai bangsamu !
SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG !

Peninggalan Belanda Ini Masih jadi Penyedia Air Bersih bagi Warga

Standard

 

Menara air atau watertoren Magelang, selesai dibangun 1920, dan masih kokoh hingga kini serta masih berfungsi.Foto: Nuswantoro

Berdiri kokoh, tepat di pojok Barat Laut Alun-alun Magelang, menara air peninggalan Pemerintah kolonial Belanda itu masih berfungsi melayani kebutuhan air bersih warga.

Kala membandingkan dengan bangunan lain di sekitar, menara air ini unik dan mudah dikenali. Bangunan inipun menjadi penanda Kota Magelang. Ia juga menggambarkan upaya Pemerintah Belanda menyediakan air bersih untuk warga.

Bagus Priyana, pendiri Komoenitas Petjinta dan Pelestari Bangoenan Toea (Kota Toea) Magelang menjelaskan alasan pendirian bangunan ini. Pembangunan menara air (bahasa Belanda: watertoren) pada 1920 didasari desakan kebutuhan air bersih higienis dan kontinyu.

“Orang Belanda ingin sistem distribusi air bersih sehat dan tidak tergantung musim. Mereka dikenal disiplin, teratur, suka kebersihan. Dibuatlah watertoren. Namun akhirnya bukan hanya untuk orang Belanda, juga warga lain,” katanya kepada Mongabay, di pengujung Desember.

Sebelum ada menara, kebutuhan air warga dari sumur dan belik, sebutan kolam penampung air dari mata air. Seiring pembangunan kompleks militer, rumah sakit, dan perumahan kala itu, pasokan air bersih menjadi penting.

Arsitek kenamaan Belanda Herman Thomas Karsten, yang merancang pembangunan menara ini. Pembangunan memakan waktu empat tahun (1916-1920), cukup lama untuk ukuran bangunan serupa masa kini.

“Bisa dikatakan struktur bangunan sangat sempurna. Dilihat dari berbagai sudut sama bentuk, segi enam belas,” katanya.

Menara itu mulai beroperasi melayani warga Magelang sejak 2 Mei 1920. Air bersumber dari Kalegen dan Wulung berjarak sekitar 7-8 km dari alun-alun, di bawah Lereng Gunung Sumbing, di Bandongan.

Keterangan di badan bangunan menyebut ada sumber air baru dari Kalimas, mulai dialirkan 26 Februari 1983, 63 tahun setelah bangunan berdiri.

“Menara air untuk menampung air dan membuang udara dari mata air Kalegen dan Wulung. Yang di Bandongan bentuk kotak, ada ruang penjaga. Fungsinya juga menyimpan air dan membuang udara.”

Air kurang lebih 1,750 juta liter di bak penampung itu disalurkan ke pipa primer dan sekunder. Pipa primer untuk warga kota yang mendiami rumah di jalan-jalan utama pusat kota, yaitu Jalan Bayeman atau Tentara Pelajar– kala itu permukiman orang Eropa–, Jalan A Yani (Poncol), Jalan Pahlawan, dan kawasan Pecinan.

“Pipa sekunder ke kampung-kampung. Sayangnya, tidak semua bisa terlayani. Bisa dimaklumi karena suplai air saat itu terbatas, sistem pipa, kemampuan masyarakat juga terbatas dan masih banyak mengandalkan sumur. Dalam kotapun belum semua terlayani,” katanya.

Secara fisik, ketinggian menara air dari tanah 26,1 meter, dengan luas 526 meter persegi. Sebanyak 32 tiang menyangga kuat di sekeliling menara. Struktur bagian tengah berdiameter tiga meter, berfungsi sebagai tempat dua pipa yang mengalirkan air dari sumber. Juga terdapat tangga ke atas terbuat dari semen dilanjutkan besi.
Siap Minum. Ada fasilitas air minum gratis berbahasa Belanda. Klaar Om Kraan Water Te Drinken. Foto: Nuswantoro

Kantor pelayanan

Di bagian bawah ada 16 ruang. Satu bagian pintu masuk, dan 15 ruang lain dengan berbagai fungsi. Ada ruang manometer (alat pengukur tekanan air). Ada tiga manometer terpasang, ketiganya masih berfungsi. Dulu, pemerintah Belanda, memakai ruangan lain untuk pelayanan pelanggan, dan tempat jaga. Kantor Waterleideng menjadi satu dengan Kantor Pemerintahan Belanda di Balai Kota. Hingga kini, bangunan berfungsi baik, hanya ruangan beralih fungsi, antara lain menjadi gudang.

Sebagai pegiat pelestari bangunan bersejarah, Bagus menyayangkan perhatian pemerintah kota terhadap menara air dinilai kurang.

“Seharusnya pemerintah membuat papan informasi, atau menyediakan informasi cukup tentang obyek sejarah. Bangunan ini punyai nilai sejarah, sebagai cagar budaya, dan sarana penyedia air minum yang masih digunakan hingga kini,” katanya.

Informasi cukup berguna menepis pandangan keliru tentang obyek bersejarah. “Kalau akhirnya masyarakat menganggap watertoren itu kompor raksasa, ya tidak bisa disalahkan.”

Pada sisi selatan terdapat fasilitas air ledeng siap minum. Bahkan dibumbui keterangan berbahasa Belanda “Klaar Om Kraan Water Te Drinken.” Saat saya mencoba ternyata air tidak mengalir. Keinginan mencicipi air siap minumpun gagal.

Menurut Bagus, fasilitas tambahan itu bagian seremoni. dibangun sekitar dua tahun lalu, berfungsi hanya satu minggu. Kini, pengelolaan menara air menjadi tanggung jawab PDAM Magelang.

Saya berusaha meminta keterangan terkait menara air kepada Direktur PDAM Magelang, Heri Wibowo, baik datang ke kantor di Jalan Veteran, Magelang maupun melalui telepon. Namun, sampai naskah ini ditulis dia belum bisa dimintai keterangan dengan berbagai alasan.

Kebijakan prolingkungan pemerintah Belanda

Tak hanya menara air, pemerintah Belanda juga membangun saluran irigasi. Dua cukup fenomenal adalah Kalibening dan Kalimanggis. Keduanya berbentuk kanal atau kali buatan.

“Sumber air Kalibening dari mata air, sedang Kalimanggis dari Sungai Progo dan Sungai Elo. Fungsi keduanya irigasi pertanian.”

Banyak dikisahkan, Kalibening mengalir sekitar 15 km, zaman dulu air bening. Masyarakat memanfaatkan untuk mandi dan mencuci. Sayangnya, kini berubah. Banyak sampah, dan air tidak bening lagi bahkan debit berkurang jauh.

Pembangunan Kalimanggis untuk mengairi tanah pertanian di sisi selatan di Mertoyudan, Mungkid. Sebelumnya kawasan ini kering dengan kontur tanah datar. Bendunganpun dibuat dengan cara membendung Sungai Elo di Gunung Saren, sekitar satu km sebelah timur Secang.

“Ini karena Sungai Elo di Secang posisi lebing tinggi dari Magelang, jadi bisa mengalir ke kota. Dibuat sekitar tahun 1850-an. Ada kendala, debit air tak mencukupi dibandingkan luas lahan pertanian yang menjadi target irigasi,” kata Bagus.

Pemerintah Belanda akhirnya memutuskan membuat saluran air baru dari Sungai Progo. Meski harus membendung di Temanggung, dan melintasi empat sungai kecil hingga membuat saluran air di atas sungai.

Belanda juga membangun taman-taman kota. Salah satu Taman Badakan, terletak di tengah-tengah kawasan militer dan permukiman penduduk, di Jalan Pahlawan. Wujud mirip ruang terbuka hijau era kini. Ada pohon-pohon perindang, bangku taman, dan area bermain anak. Belanda pada 1937-1938, membuat permukiman sehat di Kwarasan. Pembangunan ini didahului wabah pes yang melanda Magelang.

“Belanda membangun rumah berbagai tipe. Besar, sedang, dan kecil. Ada lapangan juga. Jarak antara rumah satu dengan lain lebar. Jadi cukup mendapat suplai sinar matahari, air, dan udara,” katanya.

Tanaman keras pun ditanam sebagai perindang di pinggir jalan. Ada asem Jawa, asem Belanda, kenari, sampai beringin. Sayangnya, kata Bagus, yang masih tersisa asem Jawa. Pohon-pohon ini bisa ditemukan di Jalan A Yani, depan tangsi militer, Jalan Veteran, dan Jalan Kartini. Kenari sudah habis, tinggal di Kompleks Karesidenan.

“Selain peneduh, pohon-pohon itu dikenal kuat, berumur panjang, dan mampu mengurangi debu. Apalagi dulu jalan belum semulus sekarang.”

Ada banyak menara air dibangun pemerintah Belanda di Indonesia, misal, di Yogyakarta, Solo, Semarang, atau Grobogan. Bagi Bagus yang gemar pula bersepeda kuno ini, menara air Magelang memiliki keunikan tersendiri.

“Bentuk indah, proporsional, dan gagah. Semua karakter ini menjadikan watertoren Magelang layak menjadi ikon kota. Terlebih tidak semua kota punya ikon di tengah kota. Apalagi bangunan itu masih berfungsi hingga kini.”
Watertoren. Foto awal-awal berdiri menara air Magelang: Foto: koleksi Bagus Priyana

[oleh : Nuswantoro, Magelang]

sumber : http://www.mongabay.co.id/2016/01/05/peninggalan-belanda-ini-masih-jadi-penyedia-air-bersih-bagi-warga/