Mahasisiwa UNNES Semarang adakan seminar sejarah Perjuangan Rakyat Tulung

Standard

Bapak Abak Roflin [tengah berbatik dan berpeci] dan Ibu Woro Dofian [tengah berjilbab kuning] sebagai nara sumber sejarah [foto : Wisoyoko Magelang]

70 tahun yang lalu telah terjadi sebuah peristiwa nan kelam dalam sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaannya. Ya, saat itu pada tanggal 28 Oktober 1945, tentara bantuan Jepang dari Semarang sebanyak 7 truk menurunkan personelnya di pertigaan jalan Payaman pada jam 08.00 WIB. Tentara Kido Butai dibagi menjadi 2 kelompok untuk menyerang Kota Magelang. Kelompok pertama dari pertigaan Payaman terus bergerak ke Selatan. Kelompok kedua menuju kearah barat sampai di mata air Kalibening, kemudian ke selatan melalui menelusuri Sungai Bening menuju Kampung Tulung.
Di sebuah dapur umum inilah Tentara Kido Butai menembaki setiap orang yang berada dihadapannya, tidak ada belas kasihan sehingga baik laki-laki, perempuan, dan anak kecil pun menjadi korban kekejaman. Puluhan rakyat meninggal karena kekejaman tentara Jepang ini. Rakyat Magelang menangis kala mengingat kisah tragis ini.

Nah kisah sejarah inilah yang coba di angkat dalam acara tentang Seminar Konservasi Kesejarahan dengan penyelenggara oleh Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Kegiatan ini mengambil tema Acara “Rekam Jejak Sejarah Perjuangan Rakyat di Kampung Tulung Magelang”.
Acara yang di laksanakan pada hari Sabtu 21 November 2015 bertempat di halaman rumah Ibu Dovian Widarso Kampung Tulung Kel. Magelang Kota Magelang. Sebagaimana di ketahui, rumah milik ibu Dovian ini pada masa perjuangan dulu merupakan dapur umum untuk pejuang [BKR].

Dalam acara ini menghadirkan 2 narasumber yaitu Bapak Abak Roflin (Mantan Tentara BKR) yang menjadi saksi mata saat periwtisa itu terjadi dan Ibu Dovian Widarso selaku pemilik eks dapur umum [ahli waris].

Kegiatan yang di hadiri oleh selitar 100 orang ini berasal dari masyarakat Kampung Tulung, Komunitas KOTA TOEA MAGELANG, MAGELANG KEMBALI, pelajar, dinas, mahasisiwa UNNES, kelurahan , dll. Madyarakat setempat berharap bahwa sejarah yang ada di kampung Tulung ini jangan sampai hilang. Karena itu masyarakat meminta kepada pemerintah Kota Magelang agar Kampung Tulun bisa menjadi Kampung Pahlawan.

Monumen Sejarah di Kampung Tulung

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s