Category Archives: Berita

Puluhan Rumah Disiapkan bagi Tamu Festival Lima Gunung

Standard
INTERNASIONAL
Seorang warga berjalan kaki di jalan Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang yang telah dipasangi instalasi seni untuk Festival Lima Gunung XVI/2017, Sabtu (15/7). (Foto: ANTARAJATENG.COM/Hari Atmoko)
Magelang, ANTARA JATENG – Sebanyak 40 rumah warga di kawasan Gunung Merbabu Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, disiapkan untuk menginap para tamu dari berbagai kota yang menghadiri Festival Lima Gunung XVI pada 28-30 Juli 2017.

“Warga siap menambah jumlah rumah yang untuk menginap maupun transit para tamu dan pengisi acara festival,” kata Ketua Panitia Lokal FLG XVI/2017 Kabupaten Magelang, Pawit (38), di Magelang, Sabtu sore.

Ia mengatakan hal itu usai rapat lanjutan persiapan pergelaran seni budaya itu di kompleks Padepokan Warga Budaya Gejayan. Festival Lima Gunung diselenggarakan setiap tahun oleh berbagai kelompok seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang dengan jejaringnya dari berbagai kota. Budayawan Magelang Sutanto Mendut menjadi inspirator utama Komunitas Lima Gunung.

Ia menyebut para tamu yang hendak menginap di rumah-rumah warga selama berlangsung festival secara mandiri tersebut tidak dipungut biaya.

“Warga juga menyiapkan berbagai makanan dan minuman untuk para tamu, sedangkan tempat istirahat atau tidur disiapkan selayaknya sebagaimana masyarakat desa menyambut tamu,” ujarnya.

Panitia menghendaki para tamu Festival Lima Gunung memperoleh kesan positif atas kehidupan sederhana setiap hari masyarakat desa di kawasan barat puncak Gunung Merbabu itu.

Sejak beberapa bulan terakhir, masyarakat setempat bergotong royong menghiasi desa dengan berbagai instalasi seni berbahan alami dan membuat panggung cukup luas di halaman rumah salah satu warga untuk pementasan berbagai kesenian dalam festival mendatang. Mereka juga membuat instalasi berwujud burung garuda dan naga dalam ukuran besar yang ditempatkan di arena pementasan.

Sedikitnya 60 kelompok kesenian akan tampil dalam festival tersebut, antara lain tarian, musik, performa seni, pameran seni, teater, pidato kebudayaan, dan kirab budaya.

Selain berbagai kelompok seniman Komunitas Lima Gunung, beberapa kelompok seniman dari sejumlah kota juga akan tampil pada festival tersebut, antara lain dari Yogyakarta, Solo, Semarang, Bandung, Jakarta, Lumajang, Kupang, Liwa, Kalteng, Banten, Kendal, Salatiga.

Selain itu, sejumlah kelompok kesenian dari desa-desa di sekitar Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, dan beberapa lainya dari kabupaten di sekitar Magelang.

Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto mengatakan festival yang tahun ini mengangkat tema bernada kritik sosial, “Mari Goblok Bareng” tersebut, menjadi ajang silaturahim para seniman, baik sesama komunitas maupun dengan jejaringnya dari berbagai kota.

“Selain untuk saling bertemu dan memperkuat `sesrawungan` (bergaul), festival tahun ini juga mencermati secara kritis perkembangan kehidupan bersama dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita ingin suasana kehidupan bersama semakin baik, saling menerima perbedaan, rukun, hidup tenteram dan damai, sebagaimana dijalani setiap hari oleh masyarakat desa,” ujarnya.

 

Editor : Achmad Zaenal M

COPYRIGHT © ANTARAJATENG 2017

sumber : http://m.antarajateng.com/detail/puluhan-rumah-disiapkan-bagi-tamu-festival-lima-gunung.html#.WWqjHnrtX_w.facebook

KTM Kembali Menggelar acara Djeladjah Saloeran Air : Kali Manggis #2

Standard

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG – 23 Juli 2017

Kali Manggis, sebuah sungai buatan yang begitu berarti bagi warga Magelang. Bahkan ribuan hektar area sawah dan perkebunan di airinya.

Dengan membendung Kali Progo di wilayah Badran Bengkal Kec. Kranggan Kab. Temanggung, Kali Manggis ini mengalir hingga lebih dari 20 km. Mulai dari wilayah Dusun Badran Desa Bengkal Kec. Kranggan di Temanggung, di wilayah Secang, masuk wilayah Kota Magelang, melintasi Mertoyudan dan mengalir hingga Sawitan di Kota Mungkid.

Lalu seperti apa keadaannya kini setelah lebih dari 100 tahun “mengalir sampai jauh” ?
Ayo ikuti acara ini :

#Acara
– Nama Acara : DJELADJAH SALOERAN AIR #2 : KALI MANGGIS #2 [jalur Payaman – Bendung Badran sejauh 7,5 km]

#WAKTU
– Waktu : Minggu Wage 23 Juli 2017
– Jam Kumpul : 06.30 – Selesai

#TempatKumpul
– Tempat Kumpul : Tugu Listrik ANIEM [depan Klenteng Liong Hok Bio/depan Kantor Pos Magelang]

#KONTRIBUSI
– Kontribusi : Rp 25.000,- [fasilitas : air mineral, snack, parkir motor, makalah, makan siang, transportasi pulang]

#PENDAFTARAN
– Cara Pendaftaran : ketik KALI MANGGIS #2 [spasi] Nama Anda.
Kirim ke 0878 32 6262 69 atau daftar nama anda di bawah kolom postingan poster acara di bawah ini.
– Pendaftaran paling telat Jumat 21 Juli 2017 jam 18.00 WIB.

#NB :
1. Peserta wajib datang tepat waktu, di mohon untuk sarapan pagi terlebih dahulu.

2. Peserta wajib memakai kendaraan bermotor [motor/mobil] beserta kelengkapan berkendara [SIM, STNK, helem, dll], boleh sendirian atau berboncengan.

3. Pembayaran dilakukan saat daftar ulang peserta sebelum acara di mulai di tempat kumpul di Tugu Listrik ANIEM dari jam 06.30 – 07.30 WIB [depan Klenteng Liong Hok Bio/depan Kantor Pos Magelang].
Perincian beaya pendaftaran :
– Air mineral & snack pagi Rp 5.000,-
– Makalah Rp 1.000,-
– Parkir motor Rp 2.000,-
– Welcome drink saat finish Rp 2.000,-
– Makan siang di Badran Rp 10.000,-
– Transport dari Badran ke Payaman Rp 5.000,-

4. Peserta wajib memakai pakaian yang nyaman dan aman untuk jelajah. Pergunakan topi, kaos katun berwarna terang/muda, akan lebih baik memakai kaos lengan panjang dan memakai sepatu kets yang nyaman.
Bawalah sapu tangan atau handuk kecil untuk penyeka keringat.

5. Jelajah dilakukan dengan berjalan kaki sejauh 7,5 km menelusuri Kali Manggis dari Payaman hingga Bendung Badran di Kranggan Temanggung.

6. Jadwal kegiatan :
– Jam 06.30 – 07.30 : daftar ulang peserta
– Jam 07.45 – 08.15 : perjalanan dengan kendaraan bermotor menuju Payaman. Sudah di siapkan tempat parkir yang representatif.
– Jam 08.30 – 12.00 : perjalanan jelajah dengan berjalan kaki sejauh 7,5 km.
– Jam 12.00 – 13.00 : istirahat di Bendung Badran
– Jam 13.00- 14.00 : makan siang di Badran
– Jam 14.00 : pulang dengan transportasi yang sudah di sediakan menuju Payaman untuk ambil kendaraan masing-masing peserta.

7. Hal-hal yang belum di sampaikan akan di publikasikan kemudian.

SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG!

Foto Ryan 'Corleone' Adhyatma.

Ketika Kapolres Magelang Kota berseragam Polisi Tempo Doeloe di Pameran Magelang Tempo Doeloe

Standard

Kota Magelang – Berseragam Polisi Tempo Doeloe, Kapolres Magelang Kota Jawa Tengah AKBP Hari purnomo SIK SH melangkah tegap dengan gagahnya menuju Alun-alun Kota Magelang untuk mengikuti Pembukaan Pameran Magelang Tempo Doeloe sebagai rangkain penutup dalam peringatan Hari Jadi Kota Magelang ke 1111.

Jumat (12/05/2017) pukul 21.00 wib, Kapolres Magelang Kota Jawa Tengah AKBP Hari Purnomo SIK SH mengikuti Pembukaan Pameran Magelang Tempo Doeloe.

Pameran dengan tema ” The Pasar ” akan berlangsung selama 3 hari di mulai tanggal 12 s.d 14 Mei 2017 di buka oleh Wakil Walikota Magelang Dra. Windarti Agustina.

Dalam sambutannya Wakil Walikota meminta maaf atas ketidakhadiran Walikota untuk membuka langsung acara Magelang Tempo Doeloe.

Pameran Magelang Tempo Doeloe merupakan sumbangsih terhadap bangsa untuk memelihara budaya bangsa, terima kasih kepada semua pihak yang membantu terselenggaranya pameran dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Magelang ke 1111 ucapnya

Pertambahan usia harus diimbangi dengan cara semakin berpikir yang positif, harus merasa memiliki dan memelihara Kota Magelang imbuhnya.

Adanya pameran Magelang Tempo Doeloe bertujuan untuk kekalkan rasa kebanggaan, memiliki serta memelihara terhadap budaya bangsa Indonesia.

Usai mengakhiri amanat, Wakil Walikota memukul kenthongan sebagai tanda pembukaan pameran dilanjutkan meninjau 76 stand pameran bersama Forpimda Kota Magelang dan tamu undangan.

Hadir dalam pembukaan pameran adalah Wakil Wali Kota Magelang Dra. Indarti Agustina, Kapolres Magelang Kota AKBP Hari Purnomo SIK SH dengan Seragam Polisi Tempoe Doeloe nya, Ketua DPRD, Sekda Kota Magelang, Anggota DPR Kota Magelang, Gubernur Akmil dan Kepala Satpol PP Bapak Singgih. (polresmagelangkota.com)

(D’anjar -Humas Polres Magelang Kota)

sumber : https://tribratanews.jateng.polri.go.id/2017/05/13/ketika-kapolres-magelang-kota-berseragam-polisi-tempo-doeloe-di-pameran-magelang-tempo-doeloe/

Dari Pembukaan Acara Pameran Magelang Tempo Doeloe 2017 : Keindonesiaan Pun Ada di Pasar Tradisional

Standard

Keindonesiaan Pun Ada di Pasar Tradisional

Personel panitia menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” saat pembukaan “Magelang Tempo Doeloe” bertajuk “De Passar” di Alun-Alun Kota Magelang, Jumat (12/5) malam. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Hari Atmoko)

Begitu para pejabat Kota Magelang dan hadirin lainnya selesai mengikuti seremonial pembukaan pameran Magelang Tempo Doeloe bertajuk “De Passar”, seniman Andretopo mengambil pelantang untuk mengajak semua di alun-alun setempat mengumandangkan lagu “Indonesia Raya”.

Hari Jumat (12/5) belum larut malam. Suasana terasa segar dan benderang setelah sebelum acara dimulai, lampu listrik di berbagai gerai pameran di Alun-Alun Kota Magelang, Jawa Tengah itu, padam beberapa saat karena kendala teknis.

Rembulan bertengger di langit bersih di timur alun-alun setempat, masih mewajahkan bulan penuh yang elok karena purnamanya, ketika Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina selesai membacakan sambutan tertulis Wali Kota Sigit Widyonindito dan menambuh rebana, tanda dimulai pameran Magelang Tempo Doeloe selama 12-14 Mei 2017. Pameran Magelang Tempo Doeloe pada tahun ini, sebagai penyelenggaraan ke-10.

Puluhan personel panitia pameran dalam rangkaian HUT Ke-1.111 Kota Magelang itu pun bergegas berjejer di depan panggung pertunjukan untuk memelopori semua yang ada di pusat kota setempat, mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa, berupa surjan, bebet, belangkon, dan iket.

Para penjaga stan pameran yang menghadirkan berbagai barang antik dan bernuansa tempo dulu, serta kuliner tradisional pun diajak berdiri dengan tegap di tempat masing-masing. Begitu pula para penyaji kesenian rebana di atas panggung utama. Mereka juga berdiri untuk ikut menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan saksama.

“Malam ini, kesempatan yang baik untuk kita meneguhkan semangat keindonesiaan kita,” begitu terdengar suara Andretopo yang juga salah satu personel panitia pameran, ketika dengan pelantang mengumumkan tujuan pentingnya lagu “Indonesia Raya” dikumandangkan malam tersebut.

Lantunan lagu kebangsaan oleh semua di alun-alun setempat, di luar seremonial pembukaan pameran yang ditata pihak protokoler Pemerintah Kota Magelang, nampaknya tidak lepas dari kondisi aktual bangsa yang sedang membutuhkan peneguhan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Momentum pembukaan acara dengan para undangan berpakaian tradisional Jawa dan dandanan lainnya bergaya tempo dulu, oleh panitia penyelenggara yang umumnya komunitas seniman dan pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, dimanfaatkan untuk mengantar publik kepada pemaknaan atas kesadaran bahwa nilai keindonesiaan juga bisa ditemukan di pasar tradisional.

Tema “De Passar” dalam pameran itu, bukan sekadar mengajak masyarakat luas menjumpai memori romantisme atas nuansa masa lalu pasar tradisional, atau menghadirkan etalasenya yang hingga kini masih hidup di masyarakat dengan program revitalisasi oleh pemerintah untuk menghadirkan pasar yang lebih nyaman, bersih, teratur, dan indah.

Akan tetapi, ada hal bermakna yang nampaknya lebih ingin disajikan, sebagaimana diungkapan ketua panitia, Hery Nurjianto, bahwa di pasar tradisonal ditemukan nilai-nilai kuat bangunan keindonesiaan.

Dalam pameran Magelang Tempo Doeloe bertajuk “De Passar” disiapkan 76 gerai pelaku usaha kecil dan menengah, sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan Badan Usaha Milik Daerah, pedagang, serta kelompok masyarakat, untuk menggelar dagangan dan produk masing-masing.

Berbagai dagangan mereka, seperti kerajinan rumah tangga, suvenir, batik, mainan anak, kuliner tradisional, konveksi, peralatan rumah tangga, uang kuno, buku lama. Selain itu, pameran foto masa lalu Kota Magelang, pameran kendaraan zaman dahulu yang berupa mobil, sepeda, dan sepeda motor kuno.

Di arena itu pula, kata Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana, bisa dijumpai pedagang ayam, ikan, burung merpati, es lilin, dan pisang.

Berbagai gerai dan arena pameran juga dikemas dengan instalasi berbahan alam, seperti janur, jerami, dan bambu untuk menghadirkan suasana zadul.

Disebutkan pula bahwa pameran Magelang Tempo Doeloe menghadirkan pasar tradisional yang direkonstruksi dalam bentuk peralatan perbakulan, seperti lincak tempat duduk pedagang dan pembeli, serta alat pikul terbuat dari bambu.

Sajian lainnya yang berupa berbagai pementasan kesenian tradisional dan musik, serta lomba donalan anak, tidak lepas dari tujuan membawa pengunjung bernostalgia dan menyerap romantisme masa lalu.

“Di pasar tradisional tergambar humanisme sangat terasa dan ditemukan toleransi, kerukunan, saling tolong menolong dalam hubungan pedagang dan pembeli,” kata Hery.

Sejumlah pasar tradisional, baik yang masih beroperasi ataupun sudah hilang di Kota Magelang, antara lain Pasar Rejowinangun, Pasar Kebon Polo, Pasar Ngasem, Pasar Ampera, Pasar Cacaban, Pasar Gotong Royong, dan Pasar Tarumanegara.

Pasar tradisional telah membuktikan peranan yang bukan sekadar tempat transaksi jual beli antara masyarakat yang membutuhkan barang kebutuhan dan penjual yang menyediakan barang kebutuhan.

Akan tetapi, pasar tradisional menjadi sarana relasi masyarakat dengan keragaman latar belakangnya, menjadi kekayaan sosial budaya yang bernilai penting dalam bangunan keindonesiaan.

Hery yang juga Direktur Utama Bank Magelang itu, mengemukakan bahwa relasi kemanusiaan dalam aktivitas di pasar tradisional memancarkan pula wujud saling percaya dan kejujuran.

Eksistensi pasar tradisional yang humanis sempat dikhawatirkan tergeser oleh merebaknya pasar modern atau toko swayalan yang menghadirkan relasi instan, di mana pembeli secepatnya mendapatkan barang kebutuhan dan penjual sekilat mungkin meludeskan stok dagangan dan meraup keuntungan.

Suasana pasar modern atau toko swalayan menghadirkan kesan hanya tempat jual beli barang kebutuhan. Bahkan di toko modern, pembeli seolah dilayani pegawai dengan ungkapan ramah berirama robotik karena minim improvisasi humanistik.

Sebagaimana dikatakan Bagus Priyana yang juga salah satu penggagas pameran Magelang Tempo Doeloe, Wali Kota Sigit membenarkan bahwa pasar tradisional menjadi cermin perkembangan kemajuan kota.

“Untuk kemajuan kota, tengoklah kondisi pasar,” ujarnya dalam sambutan tertulis yang dibacakan wakilnya, Windarti Agustina.

Pasar tradisional mencerminkan nilai budaya dan fungsi sosial, di mana ada interaksi masyarakat melalui negosiasi, menawarkan gagasan, dan saling menawar untuk mencapai kesepakatan.

Interaksi sosial yang menjadi wajah keindonesiaan saat ini, terkesan makin pudar karena tergerus kemajuan industri teknologi komunikasi.

Bahkan, orang sekarang bisa berbelanja cukup dengan jari telunjuk memencet tombol gawai untuk kemudian barang yang dibeli, diantar sampai tujuan.

Ajakan Wali Kota Sigit untuk masyarakat setempat menghidupi interaksi sosial, setidaknya terwujud di salah satu stan saat pembukaan pameran malam itu.

Secara alamiah terjadi perjumpaan tak sengaja dua pengunjung di stan penjual nasi rames, mangut ikan, dan aneka gorengan, serta minuman hangat. Ternyata mereka sama-sama alumni SMA swasta paling favorit zaman dahulu di Kota Magelang, namun beda angkatan.

Di stan milik Siti Aminah yang melayani tamunya dengan kebaya motif lurik itu, mereka berbincang makin akrab tentang suasana pelajar angkatan masing-masing, termasuk tawuran dengan siswa sekolah lain.

Mereka juga saling bercerita tentang pompa bensin satu-satunya di alun-alun kala itu, soal lalu lalang kereta api dan bus umum dengan jalurnya yang melintasi kota itu, dan keramaian pasar-pasar tradisional di kota setempat.

“Bapak saya dulu terkenal karena pegawai LLAJR (Lalu Lintas Jalan Raya). Saya sering diberi gelang karet oleh anak buah bapak yang bertugas menarik retribusi di terminal dekat Pasar Ampera (Sekarang Kompleks Pertokoan Rejotumoto, red.),” kata Cahyono, seorang dari dua kawan seperjumpaan itu.

Sejumlah orang lain yang sedang jajan di stan itu menyimak dengan baik keduanya saling berbagi ingatan tentang masa lalu kota berhawa sejuk tersebut.

Mereka lainnya itu, mungkin sedang menyerap pemaknaan persaudaraan dan semangat kekeluargaan yang bertemu dalam memori tak terhapuskan dua orang tersebut, atas kesamaan masa lalu keindonesiaan.

sumber : http://www.antarajateng.com/detail/keindonesiaan-pun-ada-di-pasar-tradisional.html#.WRbHfy6JYX0.facebook

Editor: Antarajateng

COPYRIGHT © ANTARA 2017