Category Archives: Berita

Magelang Menjadi Tempat Shooting Film Biopik “Wage”

Standard

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2017/09/92cba-20837730_160456617841634_5651404219610038272_n.jpg?w=652
“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku….”
Siapa yang tidak mengenal lagu ini? Setiap WNI pasti dan wajib bisa menyanyikan lagu kebangsaan ini. Ya lagu berjudul INDONESIA RAYA ini merupakan karya WR. Supratman, nama lengkapnya adalah Wage Rudolf Supratman.
Sebuah film biopik di buat dan di dedikasikan untuk sang komponis ini saat berusia 10 – 35 tahun.
Selain sebagai komponis, ternyata Wage juga seorang sastrawan dan musisi lagu.
Film berjudul “WAGE” dengan sutradara John de Rantau ini di bintangi oleh aktor muda Rendra sebagai Wage dan sejumlah aktor kenamaan lain seperti Tengku Rifku Wikana, Annisa Ayudya dan Prisillia Nasution.
Melibatkan 3000 orang, termasuk 150 kru, 500 pemain, 60-70 aktor kunci dan ratusan pemain figuran.
Rencananya film biopik ini akan di rilis serentak pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2017 mendatang di 22 kota di Indonesia.
WAGE sendiri sudah melakukan shooting dari 21 Juli dan berakhir pada 20 Agustus lalu.

Hasil gambar untuk film wage john de rantau
Sejumlah kota menjadi lokasi shooting film ini, di antaranya Semarang, Klaten, Solo, Jogjakarta, Purworejo (tempat kelahiran WR Supratman) dan Magelang.
Lokasi shooting di Magelang meliputi Wisma Diponegoro di Jl. Akhmad Yani Poncol, Gedung eks Residenan Kedu, gedung eks Kampus UGM dan sebuah rumah tua di Jl. Tentara Pelajar (Selatan Aloon-aloon).

Eksotisme bangunan tua di Kota Magelang menarik minat tim film “WAGE” untuk shooting di kota ini. Sebelum pengambilan gambar, tim survei menjelajah di berbagai kota termasuk di Magelang.
Kebutuhan tempat shooting yang sebisa mungkin sesuai dengan skenario film dan cerita aslinya, membuat Magelang menjadi pilihan terbaik selain Semarang, Solo, Jogja, Klaten & Purworejo.
Tempat pertama yang menjadi bidikan kamera film adalah Wisma Diponegoro yang terletak di kawasan tangsi militer di Jl. Akhmad Yani Poncol. Foto Bagus Priyana.


Bangunan megah bergaya Romawi dengan pilar kolom menjulang ini di setting menjadi gedung Volksraad atau dewan rakyat Hindia Belanda di Batavia.
Dalam film WAGE ini di ceritakan bahwa di gedung Volksraad inilah para wakil rakyat khususnya dari kalangan pribumi berusaha menyuarakan hak-hak sebagai rakyat Hindia Belanda.
Penentangan terhadap sikap dari kebijakan pemerintah sering terjadi di depan gedung ini.
Demonstrasi dari rakyat pribumi membuat pemerintah menurunkan polisi atau opas.
Pasukan pengamanan Hindia Belanda ini diperankan oleh tentara betulan (TNI). Dengan baju hijau, topi khas ala opas dengan heiter di kaki dan senjata laras panjang, para opas ini berusaha menghalau para demonstran.
Puluhan lelaki dan perempuan dengan pakaian khas 1920-an dengan spanduk demo terbentang tak kalah kerasnya untuk berusaha masuk ke gedung Volksraad.
Perlawanan tak seimbang antara rakyat yang tanpa senjata melawan para opas bersenjata laras panjang terjadi di depan gedung.
Pengambilan gambar di lokasi ini berlangsung selama 1 hari pada Selasa lalu (15/8).

Foto Sujarwo Lowo Ijo.

Tempat kedua yang menjadi tempat pengambilan gambar film biopik berjudul “WAGE” adalah kompleks gedung eks Residenan Kedu di Jl. Diponegoro Kota Magelang. Di tempat ini ada 2 lokasi yang menjadi pilihan shooting yaitu pendopo Eks Residenan Kedu dan gedung eks Kampus UGM cabang Magelang.
Pada bagian pendopo yang sudah berusia hampir 200 tahun ini di setting menjadi gedung polisi pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Di sini beberapa adegan dengan para aktor dari Belanda yang berperan sebagai pimpinan polisi pemerintah Hindia Belanda. Beberapa set kursi lawasan di tata menarik sehingga mirip dengan setting cerita di tahun 1928.

Foto Bagus Priyana.Foto Sujarwo Lowo Ijo.Foto Sujarwo Lowo Ijo.
Di area lapangan dan di gazebo di depan pendopo juga menjadi tempat ideal untuk shooting. Terlebih dengan panorama pemandangan yang indah dari Perbukitan Giyanti dan Gunung Sumbing sungguh memikat mata. Beberapa adegan dengan melibatkan Wage (sapaan akrab WR Supratman), di ambil di lokasi titik ini.
Pada pojok sisi area kompleks yaitu di bekas kampus UGM di setting menjadi 2 bagian yaitu sebagai markas polisi Belanda (opas) dan tempat kongres perempuan Indonesia.

Foto Sujarwo Lowo Ijo.
Sebuah gardu jaga dan menara pengintai di buat sedemikian rupa sehingga mirip dengan markas opas.
Tumpukan karung goni sebagai benteng pertahanan menumpuk pada sisi depan markas.
“Ri Brandhil” alias kawat berduri berdiri tegak mengelilingi markas ini. Bendera Merah Putih Biru terpasang di tiang bendera di depan gedung dan berkibar di tiup angin. Sejumlah pemeran opas terlihat berjaga di area ini menunggu shooting berlangsung. Yang menarik para pemeran opas ini berasal dari pasukan TNI sehingga mempermudah dalam adegan. Terlebih dengan badan tegap, tinggi sejajar dan kulit sawo matang membuatnya mirip dengan opas jaman dulu.
Dalam adegan shooting yang lain, beberapa puluh anak sekolah berpakaian putih-putih menyanyikan lagu berbahasa Belanda dengan para opas berbaris siaga.
Pada bagian lain, sebuah ruang kelas yang lama tidak dipakai di jadikan sebagai tempat kongres perempuan Indonesia.
Dinding tembok berwarna putih pudar membuat tempat ini cocok buat setting cerita di tahun 1928.
Tim artistik pun cukup menambahi beberapa properti agar sesuai dengan latar, lokasi asli cerita dan tahun cerita peristiwa itu terjadi. Deretan meja panjang di depan sebagai tempat pimpinan kongres dan kursi-kursi di depannya sebagai tempat duduk peserta kongres. Uniknya lagi, di belakang gedung di buatkan sebuah “sumur” lengkap dengan timbanya yang semakin memperkuat setting film.

Foto Sujarwo Lowo Ijo.
Sutradara John de Rantau sangat serius dalam pengambilan setting cerita. Benar-benar berusaha sedetail mungkin sesuai dengan cerita aslinya. Tentu saja agar bisa menghasilkan kualitas film terbaik. Apalagi film ini mengangkat cerita seorang tokoh terkenal Indonesia sang komponis lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman.

Tempat ketiga yang dipilih adalah sebuah rumah di ruas Jalan Tentara Pelajar, kira-kira 200 m meter dari Aloon-aloon Kota Magelang. Sebuah rumah tua di timur jalan yang dari segi arsitekturnya sebenarnya biasa saja. Gaya bangunannya juga tidak begitu artistik, atap berupa limasan kampung dengan beranda yang cukup luas.

Rupanya pemilihan rumah ini bukanlah tanpa alasan. Rumah ini dipilih karena mirip dengan rumah asli terjadinya peristiwa Kongres Pemuda II pada tahun 1928 di Jakarta. Rumah aslinya sekarang sudah menjadi Museum Sumpah Pemuda.

Miripnya dapat dilihat dari bentuk atap, muka rumah dan beranda. Terlebih dengan adanya 3 pintu masuk yang benar-benar mirip dengan rumah aslinya. Shooting di rumah ini berlangsung dari hari Jumat hingga Senin dini hari/

Fokus cerita di rumah ini adalah proses peristiwa Kongres Pemuda I pada tahun 1926 dan II  pada tahun 1928/ Sebagaimana diketahui bahwa dalam Kongres ke II terjadi 2 peristiwa penting dalam sejarah bangsa, yaitu Sumpah Pemuda dan berkumandangnya Lagu  kebangsaan Indonesia Raya.
(Foto : Sujarwo, Freddy Sudiono dan Edy Dwi N.)

Puluhan Rumah Disiapkan bagi Tamu Festival Lima Gunung

Standard
INTERNASIONAL
Seorang warga berjalan kaki di jalan Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang yang telah dipasangi instalasi seni untuk Festival Lima Gunung XVI/2017, Sabtu (15/7). (Foto: ANTARAJATENG.COM/Hari Atmoko)
Magelang, ANTARA JATENG – Sebanyak 40 rumah warga di kawasan Gunung Merbabu Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, disiapkan untuk menginap para tamu dari berbagai kota yang menghadiri Festival Lima Gunung XVI pada 28-30 Juli 2017.

“Warga siap menambah jumlah rumah yang untuk menginap maupun transit para tamu dan pengisi acara festival,” kata Ketua Panitia Lokal FLG XVI/2017 Kabupaten Magelang, Pawit (38), di Magelang, Sabtu sore.

Ia mengatakan hal itu usai rapat lanjutan persiapan pergelaran seni budaya itu di kompleks Padepokan Warga Budaya Gejayan. Festival Lima Gunung diselenggarakan setiap tahun oleh berbagai kelompok seniman petani Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) Kabupaten Magelang dengan jejaringnya dari berbagai kota. Budayawan Magelang Sutanto Mendut menjadi inspirator utama Komunitas Lima Gunung.

Ia menyebut para tamu yang hendak menginap di rumah-rumah warga selama berlangsung festival secara mandiri tersebut tidak dipungut biaya.

“Warga juga menyiapkan berbagai makanan dan minuman untuk para tamu, sedangkan tempat istirahat atau tidur disiapkan selayaknya sebagaimana masyarakat desa menyambut tamu,” ujarnya.

Panitia menghendaki para tamu Festival Lima Gunung memperoleh kesan positif atas kehidupan sederhana setiap hari masyarakat desa di kawasan barat puncak Gunung Merbabu itu.

Sejak beberapa bulan terakhir, masyarakat setempat bergotong royong menghiasi desa dengan berbagai instalasi seni berbahan alami dan membuat panggung cukup luas di halaman rumah salah satu warga untuk pementasan berbagai kesenian dalam festival mendatang. Mereka juga membuat instalasi berwujud burung garuda dan naga dalam ukuran besar yang ditempatkan di arena pementasan.

Sedikitnya 60 kelompok kesenian akan tampil dalam festival tersebut, antara lain tarian, musik, performa seni, pameran seni, teater, pidato kebudayaan, dan kirab budaya.

Selain berbagai kelompok seniman Komunitas Lima Gunung, beberapa kelompok seniman dari sejumlah kota juga akan tampil pada festival tersebut, antara lain dari Yogyakarta, Solo, Semarang, Bandung, Jakarta, Lumajang, Kupang, Liwa, Kalteng, Banten, Kendal, Salatiga.

Selain itu, sejumlah kelompok kesenian dari desa-desa di sekitar Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, dan beberapa lainya dari kabupaten di sekitar Magelang.

Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Haryanto mengatakan festival yang tahun ini mengangkat tema bernada kritik sosial, “Mari Goblok Bareng” tersebut, menjadi ajang silaturahim para seniman, baik sesama komunitas maupun dengan jejaringnya dari berbagai kota.

“Selain untuk saling bertemu dan memperkuat `sesrawungan` (bergaul), festival tahun ini juga mencermati secara kritis perkembangan kehidupan bersama dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita ingin suasana kehidupan bersama semakin baik, saling menerima perbedaan, rukun, hidup tenteram dan damai, sebagaimana dijalani setiap hari oleh masyarakat desa,” ujarnya.

 

Editor : Achmad Zaenal M

COPYRIGHT © ANTARAJATENG 2017

sumber : http://m.antarajateng.com/detail/puluhan-rumah-disiapkan-bagi-tamu-festival-lima-gunung.html#.WWqjHnrtX_w.facebook

KTM Kembali Menggelar acara Djeladjah Saloeran Air : Kali Manggis #2

Standard

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG – 23 Juli 2017

Kali Manggis, sebuah sungai buatan yang begitu berarti bagi warga Magelang. Bahkan ribuan hektar area sawah dan perkebunan di airinya.

Dengan membendung Kali Progo di wilayah Badran Bengkal Kec. Kranggan Kab. Temanggung, Kali Manggis ini mengalir hingga lebih dari 20 km. Mulai dari wilayah Dusun Badran Desa Bengkal Kec. Kranggan di Temanggung, di wilayah Secang, masuk wilayah Kota Magelang, melintasi Mertoyudan dan mengalir hingga Sawitan di Kota Mungkid.

Lalu seperti apa keadaannya kini setelah lebih dari 100 tahun “mengalir sampai jauh” ?
Ayo ikuti acara ini :

#Acara
– Nama Acara : DJELADJAH SALOERAN AIR #2 : KALI MANGGIS #2 [jalur Payaman – Bendung Badran sejauh 7,5 km]

#WAKTU
– Waktu : Minggu Wage 23 Juli 2017
– Jam Kumpul : 06.30 – Selesai

#TempatKumpul
– Tempat Kumpul : Tugu Listrik ANIEM [depan Klenteng Liong Hok Bio/depan Kantor Pos Magelang]

#KONTRIBUSI
– Kontribusi : Rp 25.000,- [fasilitas : air mineral, snack, parkir motor, makalah, makan siang, transportasi pulang]

#PENDAFTARAN
– Cara Pendaftaran : ketik KALI MANGGIS #2 [spasi] Nama Anda.
Kirim ke 0878 32 6262 69 atau daftar nama anda di bawah kolom postingan poster acara di bawah ini.
– Pendaftaran paling telat Jumat 21 Juli 2017 jam 18.00 WIB.

#NB :
1. Peserta wajib datang tepat waktu, di mohon untuk sarapan pagi terlebih dahulu.

2. Peserta wajib memakai kendaraan bermotor [motor/mobil] beserta kelengkapan berkendara [SIM, STNK, helem, dll], boleh sendirian atau berboncengan.

3. Pembayaran dilakukan saat daftar ulang peserta sebelum acara di mulai di tempat kumpul di Tugu Listrik ANIEM dari jam 06.30 – 07.30 WIB [depan Klenteng Liong Hok Bio/depan Kantor Pos Magelang].
Perincian beaya pendaftaran :
– Air mineral & snack pagi Rp 5.000,-
– Makalah Rp 1.000,-
– Parkir motor Rp 2.000,-
– Welcome drink saat finish Rp 2.000,-
– Makan siang di Badran Rp 10.000,-
– Transport dari Badran ke Payaman Rp 5.000,-

4. Peserta wajib memakai pakaian yang nyaman dan aman untuk jelajah. Pergunakan topi, kaos katun berwarna terang/muda, akan lebih baik memakai kaos lengan panjang dan memakai sepatu kets yang nyaman.
Bawalah sapu tangan atau handuk kecil untuk penyeka keringat.

5. Jelajah dilakukan dengan berjalan kaki sejauh 7,5 km menelusuri Kali Manggis dari Payaman hingga Bendung Badran di Kranggan Temanggung.

6. Jadwal kegiatan :
– Jam 06.30 – 07.30 : daftar ulang peserta
– Jam 07.45 – 08.15 : perjalanan dengan kendaraan bermotor menuju Payaman. Sudah di siapkan tempat parkir yang representatif.
– Jam 08.30 – 12.00 : perjalanan jelajah dengan berjalan kaki sejauh 7,5 km.
– Jam 12.00 – 13.00 : istirahat di Bendung Badran
– Jam 13.00- 14.00 : makan siang di Badran
– Jam 14.00 : pulang dengan transportasi yang sudah di sediakan menuju Payaman untuk ambil kendaraan masing-masing peserta.

7. Hal-hal yang belum di sampaikan akan di publikasikan kemudian.

SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG!

Foto Ryan 'Corleone' Adhyatma.

Ketika Kapolres Magelang Kota berseragam Polisi Tempo Doeloe di Pameran Magelang Tempo Doeloe

Standard

Kota Magelang – Berseragam Polisi Tempo Doeloe, Kapolres Magelang Kota Jawa Tengah AKBP Hari purnomo SIK SH melangkah tegap dengan gagahnya menuju Alun-alun Kota Magelang untuk mengikuti Pembukaan Pameran Magelang Tempo Doeloe sebagai rangkain penutup dalam peringatan Hari Jadi Kota Magelang ke 1111.

Jumat (12/05/2017) pukul 21.00 wib, Kapolres Magelang Kota Jawa Tengah AKBP Hari Purnomo SIK SH mengikuti Pembukaan Pameran Magelang Tempo Doeloe.

Pameran dengan tema ” The Pasar ” akan berlangsung selama 3 hari di mulai tanggal 12 s.d 14 Mei 2017 di buka oleh Wakil Walikota Magelang Dra. Windarti Agustina.

Dalam sambutannya Wakil Walikota meminta maaf atas ketidakhadiran Walikota untuk membuka langsung acara Magelang Tempo Doeloe.

Pameran Magelang Tempo Doeloe merupakan sumbangsih terhadap bangsa untuk memelihara budaya bangsa, terima kasih kepada semua pihak yang membantu terselenggaranya pameran dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Magelang ke 1111 ucapnya

Pertambahan usia harus diimbangi dengan cara semakin berpikir yang positif, harus merasa memiliki dan memelihara Kota Magelang imbuhnya.

Adanya pameran Magelang Tempo Doeloe bertujuan untuk kekalkan rasa kebanggaan, memiliki serta memelihara terhadap budaya bangsa Indonesia.

Usai mengakhiri amanat, Wakil Walikota memukul kenthongan sebagai tanda pembukaan pameran dilanjutkan meninjau 76 stand pameran bersama Forpimda Kota Magelang dan tamu undangan.

Hadir dalam pembukaan pameran adalah Wakil Wali Kota Magelang Dra. Indarti Agustina, Kapolres Magelang Kota AKBP Hari Purnomo SIK SH dengan Seragam Polisi Tempoe Doeloe nya, Ketua DPRD, Sekda Kota Magelang, Anggota DPR Kota Magelang, Gubernur Akmil dan Kepala Satpol PP Bapak Singgih. (polresmagelangkota.com)

(D’anjar -Humas Polres Magelang Kota)

sumber : https://tribratanews.jateng.polri.go.id/2017/05/13/ketika-kapolres-magelang-kota-berseragam-polisi-tempo-doeloe-di-pameran-magelang-tempo-doeloe/