Monthly Archives: April 2013

Sejarah Gereja Ambon Magelang, Gereja Protestan untuk tentara KNIL

Standard

Gereja tua ini ada di utara tangsi militer, tepatnya  ada di jalan Urip Sumoharjo 17 Wates  Kota Magelang. Berdiri tegak dengan menara lonceng yang tinggi menjulang. Jendelanya masih kokoh menyiratkan keasliannya. Pintu masuknya pun masih kokoh terbuat dari kayu jati. Di sisi kanan dan kiri pintu itu juga masih terpampang prasasti berbahasa Belanda yang terbuat dari batu marmer. Inilah sebuah bangunan yang bisa di katakan merupakan sebuah gereja yang legendaris yang menjadi saksi bisu perkembangan umat Kristen Protestan di Magelang.

Gereja yang berdiri di atas tanah seluas 980 m2 dan bangunan seluas 225 m2 ini sangat begitu masyhur. Gereja ini dibangun untuk menampung para jemaat pribumi khususnya dari tentara KNIL dan keluarganya yang kebanyakan berasal dari tanah Ambon atau Maluku. Tentara KNIL ini pada waktu itu berdinas dan bertempat tinggal di kompleks Kaderschool atau Rindam IV/ Diponegoro maupun di Militair Hospitaal [RST dokter Sudjono sekarang].

Nah karena itu gereja itu lebih dikenal dengan nama Gereja Ambon. Bukti ini juga diperkuat dengan adanya prasasti yang tertanam pada dinding ruangan kebaktian yang tertuliskan

Namens de Maleische Kerkeraad de Godsdienstleeraar M.A. Sahuleka”.

Dan di dinding yang lain tertulis juga prasasti yang berbunyi

“Deze Maleische Protestantsche Kerk is Gebouwd in 1923 en Vergroot 1927 Met Bijdrage Van De Burgers en Militairen van Ned. Indie”.

Jadi secara resmi nama gereja ini adalah bernama Deze Maleische Protestansche Kerk yang artinya gereja Protestestan untuk orang-orang pribumi terutama yang berasal dari tanah Maluku.

Sedang peletakkan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan oleh AZING BAKKER pada tanggal 12 November 1923. Hal ini dapat dibuktikan dengan prasasti yang ada di dinding sisi kanan dari pintu masuk gereja ini.

Prasasti itu berbunyi “de Eerste Steen Gelegd Door Azing Bakker 12 November 1923”. Bentuk bangunan ini bergaya Gothik yang mirip dengan Gereja GPIB yang ada di sisi utara Aloon-aloon Magelang. Gereja Ambon ini merupakan karya arsitek kenamaan saat itu yang bernama VAN MELLE yang prasastinya ada di timur pintu yaitu ARCIHTECTEN VAN MELLE EN KLOMP MAGELANG.

Gereja Ambon ini mempunyai balkon pada ruangan di atas pintu masuk. Balkon ini di bangun pada tahun1927 yang pada waktu itu di pergunakan untuk tempat bermain musik orgel sebagai musik pengiring kebaktian.  Dengan konstruksi jendela dan pintu yang tinggi nampak sekilas mirip dengan gereja-gereja protestan yang pernah ada. Lonceng yang menjadi ciri khas pada sebuah gereja yang terletak pada bagian atas menara juga sudah tidak ada. Hal ini terjadi pada tahun 1980-an dan lonceng tersebut di lepas karena seringkali ada burung yang masuk ke dalam gereja melalui lubang lonceng yang mengakibatkan ruangan gereja menjadi kotor oleh kotoran burung tersebut.

Dulunya lantai gereja terbuat dari semen plester, tapi sekarang sudah di ganti dengan keramik putih.

Pada jaman penjajahan Jepang, gereja ini di jadikan gudang beras. Belum di ketahui secara pasti apa alasannya.

Kaos bertema History & Heritage Persembahan dari KOTA TOEA MAGELANG

Standard
Magelang memiliki kekayaan sejarah/history dan cagar budaya/heritage nan memikat. Berbagai peninggalan dari jaman Hindu, Budha dan kolonial masih bertebaran di kawasan ini . Tidak terkecuali bangunan-bengunan tua era kolonial yang bertebaran di kota ini. Termasuk sang ikon kota yang ada di sudut barat laut Aloon-aloon Kota Magelang. Ya siapa lagi kalo bukan sang Menara Air Minum/Water Toren [Bahasa Belanda]/Water Tower [Bahasa Inggris]. Tapi tidak banyak orang yang tahu tentang sejarah dari bangunan ini.
KOTA TOEA MAGELANG mempersembahkan sebuah cenderamata yang layak anda miliki. Sebuah kaos dengan desain yang tidak kalah dengan kaos-kaos berkelas yang sudah lebih dulu  ada. Di desain secara matang dan di cetak dengan teknik sablon yang mumpuni dan tentu saja di cetak di atas kain katun kombet yang nyaman di pakai. Di cetak secara terbatas ” special & limited edition ” sejumlah 199 lembar untuk setiap desain, menjadikan anda pribadi yang peduli terhadap sejarah dan peninggalan yang ada di kota tercinta.

Kaos warna hitam tampak dari  depan [tema “Water Toren”]

Kaos warna putih tampak dari  depan [tema “Water Toren”]

Kaos warna putih tampak dari  depan [tema “de Stadsgemeente Magelang”]

Kaos warna hitam tampak dari belakang

Kaos warna putih tampak dari belakang

 

Kaos Heritage KOTA TOEA MAGELANG dengan tema “Water Toren”, bahan Katun kombet dengan pilihan warna hitam dan putih.
Ukuran S & M        = Rp 60.000,-
Ukuran  L & XL       = Rp 65.000,-
Ukuran XXL            = Rp 70.000
Ukuran XXXL        = Rp 75.000,-
[ Hak cipta dan merk milik KOTA TOEA MAGELANG ]
Untuk sementara kami baru melayani pembelian secara off line dan pembelian secara langsung atau silahkan
hubungi langsung ke telefoon 087832626269.

Outlet KOTA TOEA MAGELANG saat pameran di Kampus UNTID Mei 2013

Outlet KOTA TOEA MAGELANG saat pameran di Gebyar Buku, Arsip dan Budaya 16-20 Mei 2013 di Gedung Tri Bhakti Magelang

Pameran “MAGELANG TEMPO DOELOE” 27-28 April 2013 di area Museum BPK kompleks Eks Gedung Karesidenan Kedu

Standard
Magelang memiliki sejarah yang panjang, dari jaman dahulu hingga sekarang. Banyak berbagai peninggalan bersejarah berada di kota ini.
Apakah anda ingin menikmati Magelang di sekian puluh tahun yang lalu lewat foto2 tempo doeloe ?
Atau anda ingin menikmati sego jagung, iwak asin gereh pethek dengan godhong gandhul ?
Atau anda ingin naik sepeda tua keliling kota dengan berpakaian tempo doeloe?
Ayo saksikan pameran ini, jangan ketinggalan !
Nah jika anda ingin bernostalgia di masa lalu, ayo saksikan pameran MAGELANG TEMPO DOELOE 27-28 April 2013 di Area Museum BPK Kompleks Karesidenan Kedu Kota Magelang, Jalan Diponegoro No 1 Magelang. Gratis !

perhoeboengan kawat : 087832626269

Presiden Sepeda Tua se-Dunia IVCA Kunjungi Borobudur Magelang

Standard

Wisata Sepeda Onthel

Sejumlah tokoh onthelis (penggemar sepeda Onthel) asal Belanda dan Perancis bersepeda keliling kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jateng, pada Selasa (26/3) di dampingi oleh onthelis KOSTI dan Old Bikers VOC Magelang Agung Dragon (kiri berompi biru) dan onthelis lainnya. (FOTO: ANTARA/Anis Efizudin)

Sabtu (23/3) lalu, Presiden International Veteran Cycle Association (IVCA) Alain Charlies Albien Cuvier menghadiri Bandung Lautan Onthel (BLO) III untuk meresmikan Indonesia sebagai anggota IVCA ke-34.

Ia bersama dua onthelis (penggemar sepeda onthel) asal Perancis dan Belanda, Otto Beajoun dan Andre Koopman bertandang ke Jawa Tengah, pada Rabu (26/3) siang kemarin, dan bersepeda onthel mengelilingi kawasan Candi Borobudur, Mendut, Pawon, dan desa-desa sekitarnya. Kunjungan tersebut sekaligus dalam rangka silaturahmi dengan onthelis Indonesia dalam rangka kampanye kepedulian lingkungan alam, sosial, budaya, dan pariwisata.

Kunjungan presiden ke Candi Borobudur mungkin sudah biasa, tapi kalau presiden sepeda ontel internasional, baru kali ini terjadi.

Alain berwisata sambil mengendarai sepeda ontel mengelilingi kawasan Borobudur, Mendut, Pawon, serta desa-desa sekitarnya. Selain itu, dia juga belajar menimba air dan mencicipi makanan tradisional. Pria asal Prancis itu bersepeda ditemani puluhan pecinta onthel anggota KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia) yaitu dari Old Bikers VOC Magelang, BOSCH Borobudur, Komunitas Bendera Hitam Borobudur, Potorono Jogja dll

Selain bersepeda, Alain juga mencoba menimba air di sumur senggot dengan sebuah bambu sepanjang 15 meter di sebuah rumah penduduk di sekitar Candi Pawon.

Selain itu rombongan berkesempatan sarapan pagi sego megono dengan lauk pauk khas pedesaaan di salah satu rumah tradisonal warga Desa Wanurejo Kec. Borobudur.

Otto Beajoun, salah seorang anggota rombongan Alain, Selasa (26/3/2013), mengaku senang dan kagum dengan keindahan Magelang, terutama di kawasan desa wisata Borobudur. Dia juga memuji warganya yang ramah.

Otto mengakui trek bersepeda di Indonesia lebih menantang dibanding di negara-negara Eropa. Ini dikarenakan banyak tanjakan dan turunan. Sedangkan di Eropa, kebanyakan jalan rata dan lurus.

Selain itu, di negara-negara Eropa tidak banyak sepeda motor berkeliaran di jalan, sehingga relatif lebih aman bagi pengguna sepeda.