Category Archives: Event

Mengenal KOTA TOEA MAGELANG

Standard
Foto Sampul

KOTA TOEA MAGELANG atau KOmoenitas petjinTa & pelestAri bangoenan TOEA di MAGELANG merupakan sebuah komunitas yang berupaya untuk lebih menggali informasi tentang SEJARAH/HISTORY dan berusaha melestarikan berbagai peninggalan CAGAR BUDAYA/HERITAGE (tangible dan intangible) yang ada di Magelang dan sekitarnya.

Komunitas ini tidak hanya menitikberatkan pada bangunan tua berupa peninggalan jaman Hindu, Budha, Islam, Tionghoa ataupun Kolonial, namun juga mengulik info berupa heritage/pusaka yang bersifat intangible seputar Magelang dan sekitarnya.

KOTA TOEA MAGELANG mulai berdiri pada bulan November 2008 di Magelang. Beberapa even yang pernah di selenggarakan bisa berupa diskusi, sarasehan, jelajah, pameran, perawatan bangunan tua, workshop, hunting, pendokumentasian, pengarsipan dll.

KOTA TOEA MAGELANG mempunyai slogan:
“SAVE HERITAGE & HISTORY IN MAGELANG”

MORE INFO:
1. email:
– kotatoeamagelang@ymail.com
– bagus_priyana@yahoo.co.id
dan kotatoeamagelang@groups.facebook.com,

2. blog: www.kotatoeamagelang.wordpress.com

CP : 0878 32 6262 69 (BAGUS PRIYANA)

JAJAH DESO MILANG KORI
Salah satu jenis kegiatan yang dilakukan Koemunitas Kota Toea adalah DJELADJAH.Kegiatan ini berupa penjelajahan suatu tempat(lokasi) bangoenan toea dan atau situs(bersejarah) yang dinilai mempunyai nilai sejarah yang tinggi dilanjutkan dengan penelusuran dengan cara melakuan investigasi tentang asal-usul,legenda,mithos,fungsi juga tentang 5 W(what,who,where,when,why) dan 1 H(how).Cara model investigasi 5 W dan 1 H ini dicomot dari kiat jurnalistik dalam menggali sebuah sumber.
Dengan cara ini diharapkan kegiatan DJELADJAH tidak hanya sekedar jalan-jalan di alam terbuka an sich tapi juga (harus) mempunyai fungsi pendidikkan terutama pendidikkan sejarah.Maka dengan melakukan(mengikuti) kegiatan DJELADJAH kita diharapkan bisa mengenal dan mengetahui sejarah suatu situs(tempat bersejarah,benda, bangoenan toea).
Tapi apa arti kata DJELADJAH sendiri?.Mengapa menggunakan istilah ini? Mari kita bahas lebih lanjut.Orang Jawa mempunyai ungkapan yang pas untuk menjelaskan arti kata DJELADJAH. Ungkapan itu berbunyi,”JAJAH DESO MILANG KORI) yang terjemahan bebasnya adalah menjelajah desa menghitung pintu(baca: rumah).Arti menghitung rumah harus dipahami lebih luas lagi.Tidak cuma cukup puas mengetahui jumlah rumah di suatu desa tapi juga harus mengetahui data di masing-masing rumah,seperti melakukan sensus.Jadi kegiatan yang dilakukan komunitas ini tidak sekedar jalan-jalan di alam terbuka an sich tapi harus lebih jauh lagi yaitu melakukan investigasi terhadap obyek jelajah.
Sebenarnya kegiatan DJELADJAH sudah tidak asing bagi Anda,mungkin tanpa disadari Anda pernah melakukan dalam hidup Anda cuma bentuknya berbeda.Pernahkan Anda mengikuti kegiatan pramuka?Pernahkahjuga Anda mengikuti kegiatan pecinta alam?atau hiking,travelling, climbing atau sekedar studi tur atau ziarah? Nah, berbagai kegiata tersebut diadopsi, diadaptasi dan diakuisasi dalam kegiatan DJELADJAH.Cuma dalam kegiatan DJELADJAH dilakukan lebih serius meskipun tidak meninggalkan suasana santai.
Kegiatan DJELADJAH dilakukan secara santai,itu jelas.Berjalan di alam terbuka, menghirup udara segar bebas polusi,menikmati pemandangan indah nan menakjubkan, juga ,masih bisa cipika cipiki dengan teman dekat sehingga Anda tidak mendengarkan keterangan yang disampaikan guide atau instruktur.Kita lantas teringat saat mencari jejak atau jurit malam atau ketika kemping masa sekolah dulu. Atau kita teringat ketika jalan-jalan ke obyek wisata, atau teringat ketika kita tersesat di hutan? Atau kita malah teringat saat ziarah dengan ibu-ibu kelompok Yassinan di kamoung tempat Anda tinggal?
even yang pernah digelar :
01.Djeladjah Water Toren ( 5 dan 12 April 2009).
02.Djeladjah Mertjoe Aer Minoem( 2 Mei 2009 ).
03.Djeladjah 90 tahoen Water Toren( 2 Mei 2010 ).
04.Djeladjah Kota Toea ( Januari 2011 ).
05.Djeladjah Kali Manggis (awal tahun 2012 ).
06.Djeladjah Sitoes dan Tjandi 1 ( Januari 2012 ).
07.Djeladjah Djaloer Spoor 1 ( Januari 2012 ).
08. Djeladjah 100 Tahun Asoeransi Boemi Poetra (12 Pebruari 2012 ).
09.Djeladjqh 100 Tahun SMP Negeri 1 Magelang ( Maret 2012 ).
10. Djeladjah Petjinan ( 18 Pebruari 2013 ).
11. Djeladjah Spoor 2 ( Juni 2013 ).
12. Djeladjah Plengkoeng ( 7 Juli 2013 ).
13.

Agenda Acara KOTA TOEA MAGELANG – Minggu 22 DESEMBER 2013

Standard

Di akhir tahun 2013 komunitas KOTA TOEA MAGELANG kembali mengadakan kegiatan bertema history dan heritage. Event bulanan ini di adakan salah satunya untuk menyambut “Tahun Pusaka Indonesia 2013”. Dan yang istimewa event ini merupakan event KOTA TOEA MAGELANG yang di gelar ke 14 kali di sepanjang tahun 2013 ini !

Acara ini merupakan kegiatan akhir tahun sekaligus menutup seluruh rangkaian kegiatan Tahun Pusaka Indonesia 2013. Yang istimewa adalah kegiatan terakhir di tahun 2013 ini adalah berupa pemaparan hasil disertasi dari Wahyu Utami yang baru saja pada 9 Desember lalu meraih gelar Doktor dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Pemaparan disertasi yang pernah di sampaikan dalam ujian terbuka di UGM ini juga akan “di bagikan” kepada Kerabat KOTA TOEA MAGELANG. Wahyu Utami adalah perempuan asli Kota Magelang yang berhasil meraih gelar doktornya dalam usia sekitar 39 tahun. Hasil penelitiannya dalam waktu 5 tahun tidaklah sia-sia yang akhirnya menghantarkannya dengah meraih doktornya dengan judul “KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG’.

Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang apa yang di maksud dengan “KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG”?

Simak artikel publikasi di bawah ini.

Kota Magelang terletak di ketinggian kurang lebih 375 dpl yang berada di cekungan gunung yang mengelilinginya [gunung Merapi, Merbabu, Prahu, Telomoyo, Sindoro, Sumbing dan Andong] serta Pegunungan Menoreh di selatan serta Perbukitan Giyanti di barat. Di tengah-tengahnya terdapat Bukit Tidar yang dipercaya sebagai pakuning tanah Jawa. 2 sungai besar mengalir membelahnya, yaitu Sungai Progo dan Elo.

Kondisi alam menginspirasi masyarakat Magelang dalam mengembangkan kotanya. 7 gunung yang mengelilinginya membentuk tempat-tempat suci dengan fungsinya masing-masing, yang didukung dengan tanah yang subur dan strategis karena berada di jalur utama. Selain itu karena letaknya berada di lembah memungkinkan terbentuknya panorama yang indah.

Alam dengan potensinya serta kondisi geografis yang unik telah memberi inspirasi pada masyarakat untuk mengembangkan ruang-ruang kota dengan fungsinya masing-masing seperti pemerintahan, pertahanan militer, lahan pertanian dan perkebunan serta tempat untuk beristirahat sambil menikmati keindahan alamnya.

Jika anda tertarik ingin memahami tentang Kota Magelang sebagai sebuah saujana yang pantas anda ketahui, ayo ikuti acara dari Komunitas KOTA TOEA MAGELANG berikut ini :

Acara : “KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG”

– Nara sumber : Dr. Wahyu Utami (Pemerhati Heritage Magelang)
– Hari/tanggal : Minggu, 22 Desember 2013
– Jam : 09.00 – 12.00 WIB
– Tempat : Museum BPK Kompleks gedung Eks Karesidenan Kedu/Bakorwil Jl. Diponegoro No. 1 Kota Magelang.

Cara pendaftaran :
ketik SAUJANA [spasi] Nama Anda,
kirim ke: 0878 32 6262 69

G R A T I S …. !!!!

UGM dan KOTA TOEA MAGELANG Inventarisasi Bangunan Cagar Budaya Kota Magelang

Standard
Magelang – Untuk pertama kalinya, Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta dan Komunitas Kota Toea Magelang (KTM) mengadakan inventarisasi bangunan cagar budaya di Kota Nagelang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari 16-17 November 2013 tersebut bertujuan untuk menginventarisasi bangunan yang bisa dimasukkan sebagai Benda Cagar Budaya.
“Kami prihatin dengan langkah Pemerintah Kota yang beberapa waktu lalu hanya memasukkan 36 bangunan cagar budaya yang kondisinya juga tidak semuanya terawat. Padahal menurut analisis kami, jumlah bangunan cagar budaya ada sekitar 200-300 bangunan. Yang lebih ironis, penetapan Perda Cagar Budaya kemarin, kami dari komunitas tidak diundang. Untuk itu, kegiatan ini menjadi momentum bagi kami untuk menggugah para pemilik bangunan tua dan pemerintah agar lebih dapat melestarikan bangunan tua” ujar Bagus Priyana – koordinator KTM.
Kegiatan di hari pertama Sabtu 16 November 2013 adalah workshop tentang studi pendataan heritage yang dimentori oleh tim Jurusan Arkeologi UGM, diantaranya Dr Mahirta MA dan Drs Musadad M Hum. Kegiatan yang berlangsung di Warung Makan Voor de Tidar tersebut akhirnya dilanjutkan dengan terjun langsung ke lapangan sehari kemudian.
Para peserta yang berjumlah sekitar 20 orang hasil seleksi ini mengambil titik start di Alon alon Magelang. Sebagai langkah awal, tim telah melakukan pendataan dan analisa beberapa bangunan diantaranya Masjid Agung, bangunan Jawa di tengah pemukiman arab, rumah kembar dan karesidenan.
Menjelang siang, tim bergerak ke Kantor Dispendukcapil Kabupaten Magelang di Jl. Yos Sudarso. Ya, bangunan era kolonial ini masih tampak megah dan kokoh. Di depannya tertulis KABOEPATEN MAGELANG – KWEEKSCHOOLVOOR. “saya rasa, ini adalah dahulu merupakan sekolah yang ditujukan bagi siapa saja yang ingin belajar. Range usianya bisa dari 6-20 tahun. Semua bisa belajar disini” komentar Sally, salah satu peserta yang juga merupakan peserta student exchange dari Belanda.
Berikutnya tim menuju ke sebuah gereja protestan yang ada di utara Alun-alun yang kebetulan pada saat itu baru saja selesai peribadatan di hari Minggu . Beruntung tim diijinkan masuk untuk melihat Gereja tertua di Magelang. Berdasarkan catatan yang sebetulnya masih simpang siur, diduga GPIB yang terletak di sebelah utara alon-alon ini sudah ada sejak 1817. Pak Teguh, salah seorang pengurus gereja bercerita bahwa kursi majelis gereja, bangunan lantai 2 yang berada di sisi depan menghadap ke altar, yang kesemuanya dari kayu itu masih asli dan belum pernah diganti. Sampai sekarang kondisinya masih awet dan terawat. “yang menarik bagi saya adalah pintu tebal yang terbuat dari kayu ini masih asli sejak awal. Modelnya pintu berlapis dua, dengan sedikit ruangan diantara pintu tersebut. Ini adalah sistem peredam suara karena waktu itu jalanan di depan gereja selalu ramai.” Timpal Ryan, salah satu peserta.
Selain itu, tim juga melakukan penilaian di sebuah Gedung dengan arsitektur istimewa. Bagus Priyana menuturkan, bahwa selama ini gedung tersebut seringkali disebut gedung bundar. Memang, sekilas dilihat gedung tersebut tampak memiliki konstruksi lengkung lengkung yang cantik. “Sampai saat ini kami belum memiliki data primer yang valid yang dapat menjelaskan sejarah bangunan ini, tapi patut diduga, pada masanya bangunan ini adalah milik orang ternama. Dan kemungkinan digunakan sebagai villa. Dengan panorama yang indah menghadap ke Gunung Merapi-Merbabu, dan dengan bagian balkon yang terbuka, tentu bisa jadi mungkin, bagian balkon yang terbuka itu pada saatnya merupakan restoran” sambungnya.
Beberapa bangunan lain yang juga dilakukan penilaian adalah rumah china di kawasan pecinan dan bangunan Klenteng. Memang, untuk hari itu tim baru bisa melakukan pendataan dengan hasil yang masih sangat sedikit. Namun beberapa hari kedepan, pendataan akan terus dilanjutkan, sebagaimana penuturan Bagus Priyana di Kompas edisi Senin, (18/11).
Penilaian ini dilakukan dengan memenuhi beberapa unsur. Diantaranya adalah unsur fisik seperti gaya arsitektur, ornamen, eksterior dan interior, dan juga penyatuan sebagai landmark, atau juga kelanjutan gaya bangunan dari sebuah kawasan.
Selain itu, secara non fisik, bangunan dinilai dari sisi historisnya, apakah terkait dengan perjuangan bangsa, ataukah malah sebagai penentu sejarah bangsa. Semakin mendekati dengan sejarah perjuangan bangsa, maka bangunan tersebut nilainya akan semakin tinggi. “nantinya, hasil dari inventarisasi ini akan kami jadikan buku album. Disana nanti akan dilengkapi dengan caption ataupun deskripsi. Bangunan Cagar Budaya bisa memiliki nilai yang berbeda beda nantinya tergantung skoring. Bisa klasifikasi A, B, atua C. Semoga pertengahan bulan Desember nanti, buku sudah bisa kami rilis” ujar Pak Musadad. Lebih lanjut beliau menuturkan bahwa beliau senang acara ini dapat terlaksana dengan baik. Hal ini akan menjadi kerjasama yang baik, dimana dunia akademis dalam hal ini UGM yang telah memiliki teori, dapat mengaplikasikan secara langsung sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat dengan menggandeng sebuah komunitas.
Foto dokumentasi :
Peserta yang pertamakali hadir di tempat workshop di Warung makan “Voor de Tidar” di Jl. Gatot Subroto 58 Jagoan Magelang. Dari kiri ke kanan Tony, Novo, Windu
Suasana workhshop
teman workshop
pemberian cinderamata dari KTM kpd Dr Mahirta MA
Foto bersama setelah workshop di depan “Voor de Tidar”
hari kedua. Briefing oleh pak Musadad
Penjelasan materi oleh H Jauhari : sebuah kotak sebelah kiri mihrab (dlm gambar) itu dahulunya merupakan tempat shalat khusus Bupati Magelang. Tahun pembuatannya diukir di salah satu sudur. 1797. Pada masa Danoeningrat III. Sekaligus renovasi pertama masjid Agung
Mimbar khotbah model timur tengah yang terpengaruh gaya india
H Jauhari
Pintu di rumah kembar kauman
Rumah Kembar, Jl. Diponegoro
dari dalam GPIB. Tempat duduk lantai II
Senerek Pak parto
Gedung Bundar
Rumah tua sekarang milik perusahaan kecap dan sambel pecel Kalkun. Kondisi sangat terawat. Lantai marmer
Rumah tionghoa. lokasi sebelah belakang KFC.  kondisi menghawatirkan
Kelenteng. Bangunan besar merupakan tambahan yang mengikuti gaya model lama dan menambah kekhasan bangunan..

sumber : http://hamidanwar.blogspot.com/2013/11/ktm-dan-ugm-inventarisasi-bangunan.html

penulis : Hamid Anwar

editor : Bagus Priyana

Even Minggu 1 Desember 2013 “Latjak Djedjak 200 Tahoen Sedjarah Kaboepaten Magelang”

Standard

Latjak Djedjak 200 Tahoen Sedjarah Kaboepaten Magelang

Selayang Pandang
“ Almarhum R.A. Danoeningrat I jang mendirikan roemah kaboepaten dan seboeah mesdjid, boleh dipandang sebagai jang mendirikan negeri Magelang.” – “Magelang Vooruit” terbitan November 1935.
Sekitar permulaan tahun 1810, wilayah Magelang saat itu dikuasai Inggris dan diangkatlah salah seorang pegawai di Kraton Kasultanan Ngayogyakarta yang bernama Aloewi bin Said Abdarrahim Basyaiban menjadi Regent/bupati dengan gelar Mas Ngabei Danukromo. Setelah Inggris jatuh, otomatis wilayah Kedu kembali ke tangan Belanda. Tanggal 30 November 1813 R. Aloewi kemudian diangkat kembali menjadi Regent dengan gelar Raden Toemenggoeng (RT) Danoeningrat.
Pada masa perang Diponegoro tahun 1825, Regent magelang tersebut berada di pihak Belanda. Meski beberapa kali pemberontakan kepada ibukota Kabupaten yang dilakukan masyarakat dalam pimpinan P Diponegoro dapat dipatahkan tetapi pada pertempuran tanggal 25 September 1825, salah satu sisi selatan Kedu dapat dikuasai pasukan Diponegoro. Hilmer, seorang opsir Belanda bahkan terluka terkena peluru dan meriam jatuh di tangan pemberontak. Dengan posisi tersebut, Hilmer mengundurkan diri sebagai opsir dan RT Danoeningrat yang ikut berperang turut menjadi korban. Dikabarkan bahwa peperangan yang kira kira terjadi di Remame, Salam ini  sang regent tewas terbunuh dan jenazahnya di mutilasi. Kepalanya dibawa ke hadapan P Diponegoro di Goa Selarong dan di makamkan disana. Sedangkan tubuhnya dimakamkan di Payaman, Magelang.
Menurut beslit Goebernemen pada 15 Januari 1831, tanah makam tersebut dijadikan Perdikan sebagai anugerah atas jasa almarhum RT Danoeningrat dalam membantu Belanda melawan Pasukan Diponegoro dan sepeninggal beliau di anugerahi gelar Raden Adipati (RA) Danoeningrat I.
Almarhum RA Danoeningrat I yang mendirikan rumah kabupaten dan sebuah mesjid, boleh jadi dipandang sebagai yang mendirikan negeri magelang. Demikian diungkapkan dari majalah “Magelang Vooruit” terbitan November 1935.
Sepeninggal beliau, mulai tahun 1826 berturut turut Magelang dipimpin oleh anaknya yang bernama R. Hamdani bin Alwi Basyaiban dan bergelar Raden Adipati Ario (RAA) Danoeningrat II, hingga tahun 1862, kemudian Said bin Hamdani Basyaiban dengan gelar RT Danoeningrat III. Pada tahun 1878, beliau melepaskan jabatannya hingga Belanda mengangkat anaknya yang bernama Sayid Achmad bin Said Basyaiban dengan gelar RA Danoekusumo. Berdasar sumber dari Majalah Javansche Almanak, pada 1915 beliau digantikan oleh saudaranya yang bernama Muhammad bin Said Basyaiban dengan gelar RAA Danoesoegondo. Bupati ini memerintah hingga tahun 1939. Salah satu jasa yang dapat kita rasakan adalah renovasi besar besaran Masjid Agung Kauman pada tahun 1935.Latjak Djedjak 200 Tahoen Sedjarah Kaboepaten Magelang (30 November 1813 – 30 November 2013)
Pagi ini udara masih begitu segar. Langit diatas sana juga membiru. Saya pukul 7,30 pagi ini telah sampai di Jl Pahlawan Botton Magelang. Beberapa rekan saya tampaknya sudah mulai melakukan re-registrasi. Dengan Rp. 5000 rupiah saja kami bisa mengikuti even spesial yang diadakan Komunitas Kota Toea Magelang (KTM) ini dan mendapatkan makalah materi, pin, dan sticker.
Setengah jam kemudian, peserta sepertinya sudah terkumpul. Tidak begitu banyak sih yang ikut. Dikira kira ada 15 orang. Kami berpacu dengan waktu hingga beberapa saat menjelang pukul setengah sembilan pagi, kami langsung bergegas masuk ke sebuah rumah yang bagian depannya digunakan sebagai sebuah warnet di Jalan Pahlawan. Rupanya, narasumber pertama kami pagi ini terburu buru sehingga kami harus segera masuk dan mulai mendengarkan cerita beliau.
Adalah Ahmad Hasan Syaiban, pria kelahiran tahun 1929 yang kini masih tampak sehat dan ceria. Dengan mengenakan baju lengan panjang warna ijo, pria dengan rambut memutih tersebut menyambut hangat kedatangan kami. Tidak disangka, mbah Ahmad, panggilan akrabnya merupakan keturunan ke 8 dari Bupati Magelang pertama RA Danoeningrat I. Beliau menceritakan tentang kepemimpinan para bupati dari trah Danoeningrat sembari memperlihatkan koleksinya, sebuah foto besar dengan 4 foto bupati pertama magelang berturut  turut. Di pojok kiri foto tersebut tampak logo Kesultanan Ngayogyakarta sedangkan pojok kanan merupakan tulisan Allah.
Diceritakan bahwa perjanjian dengan Belanda waktu itu, trah Danoeningrat akan dapat berada di tampuk kekuasaan Magelang hingga turunan ke 7. Namun, nyatanya pada saat RAA Danoesoegondo berkuasa, politik dinasti ini tidak dapat berlanjut. Penyebabnya diantaranya adalah karena politik curang Belanda.
“Danoesoegondo itu istrinya banyak. Ada 15. Di selasar bagian belakang Kabupaten ada banyak kamar yang merupakan istri istri dari bupati. Memang, Belanda sengaja menciptakan kondisi seperti itu supaya pemerintahan kabupaten lemah karena bupati sudah capek memikirkan istri istrinya” paparnya diiringi tawa. Memang, mbah Ahmad diusianya kepala 8 ini masih memiliki ingatan yang baik dan selera humor yang tinggi.
Selain itu, pada saat itu, kucuran dana dari pemerintah Belanda sangatlah banyak. Dana itu digunakan untuk membangun masjid masjid seperti masjid Kauman, masjid Muntilan dan Mertoyudan serta beberapa tempat lain. Namun sayangnya, amanat itu disalahgunakan untuk membangun rumah pribadi. “Pancen, ket mbiyen ki sing jenengen KKN ki wes ono. Hahaha” sambungnya dengan bahasa jawa . “memang, dari dulu yang namanya KKN itu sudah ada”
Terkait penamaan gelar bupati sendiri, mbah Ahmad punya cerita sendiri. Dikisahkan bahwa bupati tersebut diambilkan dari keturunan Arab. Namun, untuk menghilangkan nuansa Arabnya, gelar dibuat dengan nama Jawa seperti Danoeningrat, Danoesoegondo. Ini merupakan trik dari Pemerintah Belanda untuk mengaburkan bahwa bupati adalah orang Islam yang taat beragama. Selain itu, penempatan makam yang berada di belakang masjid itu ditujukan agar anak anak kecil jadi takut pergi ke masjid.
Sebelum kunjungan berakhir, mbah Ahmad menunjukkan sebuah kartu keanggotaan keluarga besar Basyaiban. Kartu ini dikeluarkan di Jakarta. Keturunan dari Danoeningrat sendiri kini berpencar ada yang di Pekalongan, Jakarta, Magelang, Jogja, dan banyak lagi. Di sebuah buku kecil yang ukurannya sama dengan buku nikah tersebut, tampak foto Mbah Ahmad dengan nama Ahmad Hasan Syaiban tertulis dengan huruf Arab. Oiya, mbah Ahmad juga bercerita sedikit bahwa Danoeningrat itu merupakan keturunan ke 35 dari Nabi Muhammad SAW. Hal ini diperkuat dengan sebuah silsilah keluarga yang terpampang jelas di salah satu sisi dindingnya.
Kunjungan akhirnya di akhiri karena beliau hendak melanjutkan acara arisan. Satu yang saya salut. Mbah Ahmad rupanya merupakan kolektor vespa. Katanya ada 4 yang dikoleksinya. Salah satunya digunakan untuk pergi siang itu. Tentu dengan menyelah sendiri mesinnya. Luar biasa. Sehat selalu, mbah! 😀
Kegiatan semi jelajah ini selanjutnya menuju ke kampung Jagoan. Begitu sampai, kami disambut oleh seorang nenek dan anaknya. Tampaknya, mereka benar benar mempersiapkan kedatangan kami. Ya, sesaat setelah dipersilakan duduk, kami langsung disuguhi minum dan aneka snack. Salah satunya adalah tahu bakso yang rasanya uenak. .
Beruntung, mas Bagus Priyana berkesempatan berkenalan dengan Eyang Romlah beberapa waktu lalu. Eyang Romlah inilah yang menyambut kedatangan kami dan siang ini siap untuk berbagi cerita.
“Nama saya Romlah. Saya lahir di bulan Ramadhan 21 April tahun 1935”
Buka eyang dengan suara yang kadang kadang diselingi batuk. Eyang ini meskipun sesekali harus minum air putih dan teh, namun semangat berceritanya saya akui luar biasa. Ternyata cangkir tehnya merupakan salah satu peninggalan dari jaman Belanda.
Amazing! Rupanya, Eyang Romlah ini merupakan cucu dari adik Danoesoegondo. Bupati Magelang terakhir dalam trah Danoeningrat. Beliau bercerita tentang masa kecilnya tinggal di ndalem Kabupaten.
Eyang Romlah ini masa kecilnya dipanggil dengan panggilan Ndoro. Sebuah panggilan untuk kaum elit pada saat itu. Menjadi cucu dari bupati berkuasa, tentunya merupakan kehidupan yang serba enak. Beliau bercerita bahwa masa TK nya, beliau bersekolah di Volkclass Frobbelschool yang sekarang menjadi Gedung Wanita di Jalan Veteran. Meskipun dekat, hanya dibelakang rumah ibaratnya, beliau diantar oleh penjaga pintu gerbang kabupaten. Lebih lanjut, eyang menceritakan bahwa pelajarannya adalah bahasa Belanda. Misalnya bebek bahasa Belandanya apa gitu. Hehehe
Setiap istirahat, eyang makan bekalnya. Bekalnya adalah roti tawar isi meses ceres. Sebuah makan siang yang sangat elegan pada saat itu. Sepulang sekolah, terkadang ada tawuran yang biasanya dilakukan oleh anak anak ambon yang merupakan anak asuh Van der Steur. Biasanya mereka tawuran dengan anak anak jawa di Panti Peri. Sekali waktu, anak anak ‘nakal’, sebut eyang, ini bahkan berani mencuri mangga yang ada di belakang kabupaten. Para pegawai pun tidak berani mengusir karena takut dilempari.
Pada saat perayaan kelahiran Ratu Beatrix di Belanda, pemerintah Belanda mengadakan hiburan drum band. Eyang mengisahkan bahwa kehidupan di dalam ndalem Kabupaten sangat ketat. Bahkan ketika drumband tersebut diadakan saat jam tidur siang, eyang yang pada saat itu berusia 5 tahun tidak bisa keluar pagar untuk melihat. Bahkan mengintip dari lobang kunci pun dilarang oleh petugas. Hingga akhirnya eyang nekat mengintip dan ketahuan. Akhirnya dimarahi sama bupati yang kala itu eyang memanggilnya dengan panggilan ‘eyang’.
Kegiatan sehari hari di dalam ndalem kabupaten, diceritakan bahwa pukul satu hingga pukul setengah empat sore, semua anak wajib tidur siang. Ada kira kira 50-an orang yang tinggal di dalam kompleks bupati ini. Setelah itu, semua mandi dan shalat di masjid yang ada di dalam kompleks. Untuk mengisi waktu luangnya, eyang mengaku sering bermain dakon.
Untuk menu menu dalam ndalem kabupaten sendiri biasanya ganti ganti. Sekali waktu senerek. Sekali waktu kroket kentang. Sekali waktu beefsteak. Menurut ingatan Eyang, makanan favorit bupati Danoesoegondo adalah yang berbahan kentang. 😀
Saat saat yang paling ditunggu adalah saat ada Lorodan. Lorodan* ini rupanya adalah ‘sisa’ makanan sang bupati.  Beliau rupanya merupakan salah satu anak yang sering diberi Lorodan ini. “biasanya makanannya enak enak. Hehehe” selorohnya. – * koreksi
Selanjutnya Eyang melanjutkan sekolah di Holland Inlandsche School (HIS) selama dua tahun dan belum sempat menamatkan. Letak sekolah HIS ini berada di Kedjoeron, sekarang menjadi SD Cacaban 3. HIS sendiri merupakan sekolah setingkat SD dengan masa sekolah selama 7 tahun dan hanya di khususkan untuk anak-anak bangsawan dan orang terpandang saja. Menjelang kedatangan Jepang ke Indonesia, pada saat bupati Danoesoegondo hendak memantu, gubernur menghimbau agar bupati dan keluarga meninggalkan kompleks kabupaten. Hal ini didasari oleh kesalahan menebang pepohonan di sekitaran kompleks. “yang bisa di selamatkan ya dibawa, yang tidak bisa ya ditinggal. Saya ingat kalau sempat menyelamatkan cetakan roti” paparnya.
Sebelum mengakhiri sesi cerita ini, eyang Romlah sedikit berbagi tips “Kalau suami bekerja, maka antarlah dia sampai depan pintu. Bila perlu dicium. Lalu taruhlah satu gelas air putih ditutup. Taruh meja. Semoga saja suami tidak mudah main mata dengan wanita lain.” begitu tipsnya. Bagaimana? Hehehe.. “Lalu, kalau suami dhahar sebaiknya ditungguin. Selama suami saya masih hidup beliau tidak pernah nyacat makanan yang saya buat. Misal keasinan ya menyampaikannya dengan halus. Memanggil saya selalu dimana mana dengan panggilan Jeng” tutup Eyang yang masih memiliki gelar Raden Ajeng ini.
Jarum jam menunjukkan pukul 11 siang. Kami dengan ditemani Eyang Romlah dan beberapa anak dan cucunya, berangsur menuju ke Payaman. Siang ini, kami dengan nara sumber yang akurat akan berziarah ke makam keluarga besar Danoeningrat.
Rupanya, makan RA Danoeningrat I, R. Hamdani dan R Said berdampingan. “makam Danoeningrat ini biasa kami sebut dengan Eyang Sedo Perang. Pada tahun 1966, saya ikut serta dalam pemindahan bagian tubuh berupa kepala dari Goa Selarong ke sini” aku Mbak Nining, salah satu anak Eyang Romlah. Seteah membaca doa, kami juga sempat dijelaskan tentang makam makam di sekeliling situ. Salah satunya adalah makam bupati pertama wonosobo. Raden Setjonegoro.
Terpisah kompleks sedikit jauh, disitulah makam RAA Danoesoegondo berada. Di sampingnya merupakan nisan bertuliskan Sastroamidjojo. Sepertinya ini masih berkaitan dengan Ali Sastroamidjojo mantan Perdana Menteri. Hal ini senada dengan cerita dari Mbah Ahmad maupun Eyang Romlah.
Pukul satu siang. Acara kami tutup. Sampai siang ini, dengan dua narasumber yang luar biasa, kami berhasil mendapatkan cerita sejarah yang sangat termasyhur. Dalam rangka memperingati 200 tahun Sejarah Kabupaten Magelang.#semua yang saya ketik disini merupakan pendapat pribadi dari narasumber.Keterangan
Volkclass / Frobelschool : Taman Kanak Kanak untuk golongan atas. Lokasi sekarang Gedung Wanita Magelang
HIS – Holland Inlandsche School : Sekolah bumiputera-belanda. Umumnya untuk golongan anak bangsawan/elit. Lama belajar 7 tahun dengan pengantar Bahasa Belanda. Lokasi Jl Kejuron. Sekarang SDN Cacaban 4, Jl Mayjend Sutoyo S.

Daftar Pustaka :
– Majalah “Magelang Vooruit”  edisi November 1935

sumber : http://hamidanwar.blogspot.com/2013/12/latjak-djedjak-200-tahun-sedjarah.html

PENDAFTARAN VOLUNTEER PROGRAM INVENTARISASI BANGUNAN ERA KOLONIAL DI KOTA MAGELANG 16-17 NOVEMBER 2013

Standard

Kerabat KOTA TOEA MAGELANG yang kami hormati dan banggakan.

Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan KOTA TOEA MAGELANG (KTM) akan mengadakan kegiatan inventarisasi, pendataan, dan pendokumentasian bangunan era kolonial di Kota Magelang. Acara ini akan dilaksanakan pada tanggal 16-17 November 2013, dengan rincian pelaksanaan sebagai berikut:
– Hari Sabtu, 16 November 2013 jam 08.00-14.00 WIB.
Kegiatan workshop di Warung Makan “Voor De Tidar” Jl. Gatot Subroto No. 58 Jagoan Kota Magelang.
– Hari Minggu 17 November 2013 jam 07.00-16.00 WIB.
Kegiatan lapangan di wilayah Kota Magelang. Berkumpul di depan Masjid Kauman/sebelah barat Alun-Alun Kota Magelang.
Pendaftaran dari tanggal 1-10 November 2013. Pengumuman seleksi tanggal 12 November 2013 lewat Facebook KOTA TOEA MAGELANG dan akan dihubungi lewat sms.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Kami memberi kesempatan kepada Kerabat KTM untuk berpartisipasi sebagai volunteer sebanyak 15 orang. Jika Anda berminat dan tertarik dengan kegiatan ini silakan isi formulir pendaftaran di bawah ini.

Save History & Heritage in Magelang !
Salam Pusaka

Koordinator KOTA TOEA MAGELANG
ttd
Bagus Priyana
[087832626269]

NB. Untuk Kerabat KOTA TOEA MAGELANG yang karena kesibukan dan ingin berpartisipasi tetapi hanya bisa bergabung di hari Minggu tanggal 17 November 2013, dipersilakan membantu dalam pendokumentasian. Berkumpul di depan Masjid Kauman/sebelah barat Alun-Alun Kota Magelang pada jam 07.00 WIB.

Untuk formulir pendaftaran silahkan klik saja di https://docs.google.com/forms/d/1xRo8FfcH-n0gUVyGwaUnwO0FpE1fzdi3qpRnlENCUr4/viewform

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG – “DJELADJAH SITOES & TJANDI DI TEMANGGOENG” 13 OKTOBER 2013

Standard


Tanah Kedu yang subur ini semenjak dahulu memiliki peradaban yang tinggi. Bagaikan harta karun yang tak ternilai harganya. Berbagai peninggalan berserakan di wilayah ini, termasuk peninggalan berupa situs dan candi yang merupakan peninggalan di jaman Hindu dan Budha.
Lalu seperti apakah yang dapat kita saksikan hingga kini ?

Ayo ikuti !
“DJELADJAH SITOES & TJANDI DI TEMANGGOENG”
(gondosoeli – lijangan – djoemprit – pringapoes)

#Waktu & #Tempat
– Waktu : Minggu, 13 Oktober 2013
– Jam : 08.00 WIB – selesai
– Tempat Kumpul : Monumen A. Yani Taman Badaan Jl. Pahlawan Kota Magelang.

#Biaya
– Biaya Pendaftaran : Rp 10.000,-
– Fasilitas : makalah, minum, tiket masuk ke Situs Liyangan & Jumprit

#Daftar
– Cara Pendaftaran/info ketik : TJANDI [spasi] nama Anda,
kirim ke: 0878 32 6262 69

NB :
1. Peserta wajib memakai sepeda motor termasuk kelengkapannya [helm, SIM, STNK, dll]. Boleh sendirian atau berboncengan.

2. Dresscode/warna kaos yang di pakai saat even adalah warna PUTIH atau HITAM.

3. Makan siang di tanggung oleh masing-masing peserta yang lokasinya akan di tentukan kemudian dengan menyesuaikan situasi dan kondisi selama perjalanan.

4. Daftar ulang sekaligus pembayaran beaya pendaftaran di lakukan sebelum acara di mulai di tempat kumpul yaitu di Monumen A. Yani Taman Badaan pada jam 07.45 – 08.45 WIB.

5. Jam 08.45 – 09.00 WIB briefing dan petunjuk teknis pelaksanaan acara.

6. Jam 09.00 WIB start acara di mulai dengan rute Magelang – Secang – Temanggung – Parakan – Ngadirejo (PP).

7. Hal-hal lain yang belum di tentukan akan di informasikan kemudian.

Agenda KOTA TOEA MAGELANG – Kamis 19 September 2013

Standard

Buku karya Olivier Johannes yang berjudul “PEKERDJA DI DJAWA TEMPO DOELOE” ini memberikan gambaran kehidupan masyarakat di Pulau Jawa pada periode tahun 1890-1940-an melalui lebih dari 140 kartu pos kuno dan foto kuno dari koleksi penulis. Semua ilustrasi bertema profesi-profesi tradisional. Dari pejabat tinggi sampai pekerja rendah, baik profesi untuk kaum wanita maupun kaum pria bahkan juga pekerjaan untuk anak-anak. Semua kartu pos diproduksi dari foto-foto karya beberapa fotografer ternama dan banyak juga dari fotografer anonim. Namun semua foto merupakan karya profesional yang indah.

Gambar dalam buku ini juga disertai dengan penjelasan-penjelasan informatif, seperti informasi tentang baju yang dipakai, alat yang digunakan dan lokasi yang mewakili foto. Olivier Johannes tidak hanya membicarakan tentang pekerjaan mereka saja tetapi dia akan mengantar anda juga untuk menyelami latar belakang sisi sosial dan budaya secara lebih detil dengan memperlihatkan gambar-gambar dari sisi lain.

Selain itu buku ini enak untuk dibuka-buka maupun juga untuk dibaca. Gambar-gambarnya sangat menarik untuk dilihat dan menyenangkan untuk dipakai sebagai bahan pelajaran maupun bahan hiburan semata baik bagi generasi tua maupun muda. Buku yang unik ini akan memperlihatkan koleksi luar biasa sebagai mesin waktu yang mengantar anda ke kehidupan sehari-hari tempo dulu.

Jika Anda ingin lebih tahu tentang kondisi pada waktu itu, ayo ikuti
bedah buku karya Olivier Johannes ini.

#TEMA
– Bedah Buku : “PEKERDJA DI DJAWA TEMPO DOELOE”
– Narasumber : OLIVIER JOHANNES [dari Belanda]

#PADA:
– Hari / tanggal : Kamis / 19 September 2013
– Waktu : 18.00 – 21.00 WIB
– Tempat : LATAR “KUNCUNG BAWUK”
Jl. Kartini Pasar Anyar, Mertoyudan Magelang.
No Telepon: (0293) 5570177

#lokasi:
[150 meter sebelah timur Polsek Mertoyudan Magelang / seberang timur jalan Raya Magelang – Jogja atau arah tenggara Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Magelang [UMM]

GRATIS … !!!

Cara pendaftaran :
Ketik : PEKERDJA [spasi] Nama Anda
kirim ke 0878 32 6262 69