Category Archives: Event

Mengenal KOTA TOEA MAGELANG

Standard
Foto Sampul

KOTA TOEA MAGELANG atau KOmoenitas petjinTa & pelestAri bangoenan TOEA di MAGELANG merupakan sebuah komunitas yang berupaya untuk lebih menggali informasi tentang SEJARAH/HISTORY dan berusaha melestarikan berbagai peninggalan CAGAR BUDAYA/HERITAGE (tangible dan intangible) yang ada di Magelang dan sekitarnya.

Komunitas ini tidak hanya menitikberatkan pada bangunan tua berupa peninggalan jaman Hindu, Budha, Islam, Tionghoa ataupun Kolonial, namun juga mengulik info berupa heritage/pusaka yang bersifat intangible seputar Magelang dan sekitarnya.

KOTA TOEA MAGELANG mulai berdiri pada bulan November 2008 di Magelang. Beberapa even yang pernah di selenggarakan bisa berupa diskusi, sarasehan, jelajah, pameran, perawatan bangunan tua, workshop, hunting, pendokumentasian, pengarsipan dll.

KOTA TOEA MAGELANG mempunyai slogan:
“SAVE HERITAGE & HISTORY IN MAGELANG”

MORE INFO:
1. email:
– kotatoeamagelang@ymail.com
– bagus_priyana@yahoo.co.id
dan kotatoeamagelang@groups.facebook.com,

2. blog: www.kotatoeamagelang.wordpress.com

CP : 0878 32 6262 69 (BAGUS PRIYANA)

JAJAH DESO MILANG KORI
Salah satu jenis kegiatan yang dilakukan Koemunitas Kota Toea adalah DJELADJAH.Kegiatan ini berupa penjelajahan suatu tempat(lokasi) bangoenan toea dan atau situs(bersejarah) yang dinilai mempunyai nilai sejarah yang tinggi dilanjutkan dengan penelusuran dengan cara melakuan investigasi tentang asal-usul,legenda,mithos,fungsi juga tentang 5 W(what,who,where,when,why) dan 1 H(how).Cara model investigasi 5 W dan 1 H ini dicomot dari kiat jurnalistik dalam menggali sebuah sumber.
Dengan cara ini diharapkan kegiatan DJELADJAH tidak hanya sekedar jalan-jalan di alam terbuka an sich tapi juga (harus) mempunyai fungsi pendidikkan terutama pendidikkan sejarah.Maka dengan melakukan(mengikuti) kegiatan DJELADJAH kita diharapkan bisa mengenal dan mengetahui sejarah suatu situs(tempat bersejarah,benda, bangoenan toea).
Tapi apa arti kata DJELADJAH sendiri?.Mengapa menggunakan istilah ini? Mari kita bahas lebih lanjut.Orang Jawa mempunyai ungkapan yang pas untuk menjelaskan arti kata DJELADJAH. Ungkapan itu berbunyi,”JAJAH DESO MILANG KORI) yang terjemahan bebasnya adalah menjelajah desa menghitung pintu(baca: rumah).Arti menghitung rumah harus dipahami lebih luas lagi.Tidak cuma cukup puas mengetahui jumlah rumah di suatu desa tapi juga harus mengetahui data di masing-masing rumah,seperti melakukan sensus.Jadi kegiatan yang dilakukan komunitas ini tidak sekedar jalan-jalan di alam terbuka an sich tapi harus lebih jauh lagi yaitu melakukan investigasi terhadap obyek jelajah.
Sebenarnya kegiatan DJELADJAH sudah tidak asing bagi Anda,mungkin tanpa disadari Anda pernah melakukan dalam hidup Anda cuma bentuknya berbeda.Pernahkan Anda mengikuti kegiatan pramuka?Pernahkahjuga Anda mengikuti kegiatan pecinta alam?atau hiking,travelling, climbing atau sekedar studi tur atau ziarah? Nah, berbagai kegiata tersebut diadopsi, diadaptasi dan diakuisasi dalam kegiatan DJELADJAH.Cuma dalam kegiatan DJELADJAH dilakukan lebih serius meskipun tidak meninggalkan suasana santai.
Kegiatan DJELADJAH dilakukan secara santai,itu jelas.Berjalan di alam terbuka, menghirup udara segar bebas polusi,menikmati pemandangan indah nan menakjubkan, juga ,masih bisa cipika cipiki dengan teman dekat sehingga Anda tidak mendengarkan keterangan yang disampaikan guide atau instruktur.Kita lantas teringat saat mencari jejak atau jurit malam atau ketika kemping masa sekolah dulu. Atau kita teringat ketika jalan-jalan ke obyek wisata, atau teringat ketika kita tersesat di hutan? Atau kita malah teringat saat ziarah dengan ibu-ibu kelompok Yassinan di kamoung tempat Anda tinggal?
even yang pernah digelar :
01.Djeladjah Water Toren ( 5 dan 12 April 2009).
02.Djeladjah Mertjoe Aer Minoem( 2 Mei 2009 ).
03.Djeladjah 90 tahoen Water Toren( 2 Mei 2010 ).
04.Djeladjah Kota Toea ( Januari 2011 ).
05.Djeladjah Kali Manggis (awal tahun 2012 ).
06.Djeladjah Sitoes dan Tjandi 1 ( Januari 2012 ).
07.Djeladjah Djaloer Spoor 1 ( Januari 2012 ).
08. Djeladjah 100 Tahun Asoeransi Boemi Poetra (12 Pebruari 2012 ).
09.Djeladjqh 100 Tahun SMP Negeri 1 Magelang ( Maret 2012 ).
10. Djeladjah Petjinan ( 18 Pebruari 2013 ).
11. Djeladjah Spoor 2 ( Juni 2013 ).
12. Djeladjah Plengkoeng ( 7 Juli 2013 ).
13.

Agenda Acara KOTA TOEA MAGELANG – Minggu 22 DESEMBER 2013

Standard

Di akhir tahun 2013 komunitas KOTA TOEA MAGELANG kembali mengadakan kegiatan bertema history dan heritage. Event bulanan ini di adakan salah satunya untuk menyambut “Tahun Pusaka Indonesia 2013”. Dan yang istimewa event ini merupakan event KOTA TOEA MAGELANG yang di gelar ke 14 kali di sepanjang tahun 2013 ini !

Acara ini merupakan kegiatan akhir tahun sekaligus menutup seluruh rangkaian kegiatan Tahun Pusaka Indonesia 2013. Yang istimewa adalah kegiatan terakhir di tahun 2013 ini adalah berupa pemaparan hasil disertasi dari Wahyu Utami yang baru saja pada 9 Desember lalu meraih gelar Doktor dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Pemaparan disertasi yang pernah di sampaikan dalam ujian terbuka di UGM ini juga akan “di bagikan” kepada Kerabat KOTA TOEA MAGELANG. Wahyu Utami adalah perempuan asli Kota Magelang yang berhasil meraih gelar doktornya dalam usia sekitar 39 tahun. Hasil penelitiannya dalam waktu 5 tahun tidaklah sia-sia yang akhirnya menghantarkannya dengah meraih doktornya dengan judul “KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG’.

Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang apa yang di maksud dengan “KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG”?

Simak artikel publikasi di bawah ini.

Kota Magelang terletak di ketinggian kurang lebih 375 dpl yang berada di cekungan gunung yang mengelilinginya [gunung Merapi, Merbabu, Prahu, Telomoyo, Sindoro, Sumbing dan Andong] serta Pegunungan Menoreh di selatan serta Perbukitan Giyanti di barat. Di tengah-tengahnya terdapat Bukit Tidar yang dipercaya sebagai pakuning tanah Jawa. 2 sungai besar mengalir membelahnya, yaitu Sungai Progo dan Elo.

Kondisi alam menginspirasi masyarakat Magelang dalam mengembangkan kotanya. 7 gunung yang mengelilinginya membentuk tempat-tempat suci dengan fungsinya masing-masing, yang didukung dengan tanah yang subur dan strategis karena berada di jalur utama. Selain itu karena letaknya berada di lembah memungkinkan terbentuknya panorama yang indah.

Alam dengan potensinya serta kondisi geografis yang unik telah memberi inspirasi pada masyarakat untuk mengembangkan ruang-ruang kota dengan fungsinya masing-masing seperti pemerintahan, pertahanan militer, lahan pertanian dan perkebunan serta tempat untuk beristirahat sambil menikmati keindahan alamnya.

Jika anda tertarik ingin memahami tentang Kota Magelang sebagai sebuah saujana yang pantas anda ketahui, ayo ikuti acara dari Komunitas KOTA TOEA MAGELANG berikut ini :

Acara : “KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG”

– Nara sumber : Dr. Wahyu Utami (Pemerhati Heritage Magelang)
– Hari/tanggal : Minggu, 22 Desember 2013
– Jam : 09.00 – 12.00 WIB
– Tempat : Museum BPK Kompleks gedung Eks Karesidenan Kedu/Bakorwil Jl. Diponegoro No. 1 Kota Magelang.

Cara pendaftaran :
ketik SAUJANA [spasi] Nama Anda,
kirim ke: 0878 32 6262 69

G R A T I S …. !!!!

UGM dan KOTA TOEA MAGELANG Inventarisasi Bangunan Cagar Budaya Kota Magelang

Standard
Magelang – Untuk pertama kalinya, Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta dan Komunitas Kota Toea Magelang (KTM) mengadakan inventarisasi bangunan cagar budaya di Kota Nagelang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari 16-17 November 2013 tersebut bertujuan untuk menginventarisasi bangunan yang bisa dimasukkan sebagai Benda Cagar Budaya.
“Kami prihatin dengan langkah Pemerintah Kota yang beberapa waktu lalu hanya memasukkan 36 bangunan cagar budaya yang kondisinya juga tidak semuanya terawat. Padahal menurut analisis kami, jumlah bangunan cagar budaya ada sekitar 200-300 bangunan. Yang lebih ironis, penetapan Perda Cagar Budaya kemarin, kami dari komunitas tidak diundang. Untuk itu, kegiatan ini menjadi momentum bagi kami untuk menggugah para pemilik bangunan tua dan pemerintah agar lebih dapat melestarikan bangunan tua” ujar Bagus Priyana – koordinator KTM.
Kegiatan di hari pertama Sabtu 16 November 2013 adalah workshop tentang studi pendataan heritage yang dimentori oleh tim Jurusan Arkeologi UGM, diantaranya Dr Mahirta MA dan Drs Musadad M Hum. Kegiatan yang berlangsung di Warung Makan Voor de Tidar tersebut akhirnya dilanjutkan dengan terjun langsung ke lapangan sehari kemudian.
Para peserta yang berjumlah sekitar 20 orang hasil seleksi ini mengambil titik start di Alon alon Magelang. Sebagai langkah awal, tim telah melakukan pendataan dan analisa beberapa bangunan diantaranya Masjid Agung, bangunan Jawa di tengah pemukiman arab, rumah kembar dan karesidenan.
Menjelang siang, tim bergerak ke Kantor Dispendukcapil Kabupaten Magelang di Jl. Yos Sudarso. Ya, bangunan era kolonial ini masih tampak megah dan kokoh. Di depannya tertulis KABOEPATEN MAGELANG – KWEEKSCHOOLVOOR. “saya rasa, ini adalah dahulu merupakan sekolah yang ditujukan bagi siapa saja yang ingin belajar. Range usianya bisa dari 6-20 tahun. Semua bisa belajar disini” komentar Sally, salah satu peserta yang juga merupakan peserta student exchange dari Belanda.
Berikutnya tim menuju ke sebuah gereja protestan yang ada di utara Alun-alun yang kebetulan pada saat itu baru saja selesai peribadatan di hari Minggu . Beruntung tim diijinkan masuk untuk melihat Gereja tertua di Magelang. Berdasarkan catatan yang sebetulnya masih simpang siur, diduga GPIB yang terletak di sebelah utara alon-alon ini sudah ada sejak 1817. Pak Teguh, salah seorang pengurus gereja bercerita bahwa kursi majelis gereja, bangunan lantai 2 yang berada di sisi depan menghadap ke altar, yang kesemuanya dari kayu itu masih asli dan belum pernah diganti. Sampai sekarang kondisinya masih awet dan terawat. “yang menarik bagi saya adalah pintu tebal yang terbuat dari kayu ini masih asli sejak awal. Modelnya pintu berlapis dua, dengan sedikit ruangan diantara pintu tersebut. Ini adalah sistem peredam suara karena waktu itu jalanan di depan gereja selalu ramai.” Timpal Ryan, salah satu peserta.
Selain itu, tim juga melakukan penilaian di sebuah Gedung dengan arsitektur istimewa. Bagus Priyana menuturkan, bahwa selama ini gedung tersebut seringkali disebut gedung bundar. Memang, sekilas dilihat gedung tersebut tampak memiliki konstruksi lengkung lengkung yang cantik. “Sampai saat ini kami belum memiliki data primer yang valid yang dapat menjelaskan sejarah bangunan ini, tapi patut diduga, pada masanya bangunan ini adalah milik orang ternama. Dan kemungkinan digunakan sebagai villa. Dengan panorama yang indah menghadap ke Gunung Merapi-Merbabu, dan dengan bagian balkon yang terbuka, tentu bisa jadi mungkin, bagian balkon yang terbuka itu pada saatnya merupakan restoran” sambungnya.
Beberapa bangunan lain yang juga dilakukan penilaian adalah rumah china di kawasan pecinan dan bangunan Klenteng. Memang, untuk hari itu tim baru bisa melakukan pendataan dengan hasil yang masih sangat sedikit. Namun beberapa hari kedepan, pendataan akan terus dilanjutkan, sebagaimana penuturan Bagus Priyana di Kompas edisi Senin, (18/11).
Penilaian ini dilakukan dengan memenuhi beberapa unsur. Diantaranya adalah unsur fisik seperti gaya arsitektur, ornamen, eksterior dan interior, dan juga penyatuan sebagai landmark, atau juga kelanjutan gaya bangunan dari sebuah kawasan.
Selain itu, secara non fisik, bangunan dinilai dari sisi historisnya, apakah terkait dengan perjuangan bangsa, ataukah malah sebagai penentu sejarah bangsa. Semakin mendekati dengan sejarah perjuangan bangsa, maka bangunan tersebut nilainya akan semakin tinggi. “nantinya, hasil dari inventarisasi ini akan kami jadikan buku album. Disana nanti akan dilengkapi dengan caption ataupun deskripsi. Bangunan Cagar Budaya bisa memiliki nilai yang berbeda beda nantinya tergantung skoring. Bisa klasifikasi A, B, atua C. Semoga pertengahan bulan Desember nanti, buku sudah bisa kami rilis” ujar Pak Musadad. Lebih lanjut beliau menuturkan bahwa beliau senang acara ini dapat terlaksana dengan baik. Hal ini akan menjadi kerjasama yang baik, dimana dunia akademis dalam hal ini UGM yang telah memiliki teori, dapat mengaplikasikan secara langsung sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat dengan menggandeng sebuah komunitas.
Foto dokumentasi :
Peserta yang pertamakali hadir di tempat workshop di Warung makan “Voor de Tidar” di Jl. Gatot Subroto 58 Jagoan Magelang. Dari kiri ke kanan Tony, Novo, Windu
Suasana workhshop
teman workshop
pemberian cinderamata dari KTM kpd Dr Mahirta MA
Foto bersama setelah workshop di depan “Voor de Tidar”
hari kedua. Briefing oleh pak Musadad
Penjelasan materi oleh H Jauhari : sebuah kotak sebelah kiri mihrab (dlm gambar) itu dahulunya merupakan tempat shalat khusus Bupati Magelang. Tahun pembuatannya diukir di salah satu sudur. 1797. Pada masa Danoeningrat III. Sekaligus renovasi pertama masjid Agung
Mimbar khotbah model timur tengah yang terpengaruh gaya india
H Jauhari
Pintu di rumah kembar kauman
Rumah Kembar, Jl. Diponegoro
dari dalam GPIB. Tempat duduk lantai II
Senerek Pak parto
Gedung Bundar
Rumah tua sekarang milik perusahaan kecap dan sambel pecel Kalkun. Kondisi sangat terawat. Lantai marmer
Rumah tionghoa. lokasi sebelah belakang KFC.  kondisi menghawatirkan
Kelenteng. Bangunan besar merupakan tambahan yang mengikuti gaya model lama dan menambah kekhasan bangunan..

sumber : http://hamidanwar.blogspot.com/2013/11/ktm-dan-ugm-inventarisasi-bangunan.html

penulis : Hamid Anwar

editor : Bagus Priyana

Even Minggu 1 Desember 2013 “Latjak Djedjak 200 Tahoen Sedjarah Kaboepaten Magelang”

Standard

Latjak Djedjak 200 Tahoen Sedjarah Kaboepaten Magelang

Selayang Pandang
“ Almarhum R.A. Danoeningrat I jang mendirikan roemah kaboepaten dan seboeah mesdjid, boleh dipandang sebagai jang mendirikan negeri Magelang.” – “Magelang Vooruit” terbitan November 1935.
Sekitar permulaan tahun 1810, wilayah Magelang saat itu dikuasai Inggris dan diangkatlah salah seorang pegawai di Kraton Kasultanan Ngayogyakarta yang bernama Aloewi bin Said Abdarrahim Basyaiban menjadi Regent/bupati dengan gelar Mas Ngabei Danukromo. Setelah Inggris jatuh, otomatis wilayah Kedu kembali ke tangan Belanda. Tanggal 30 November 1813 R. Aloewi kemudian diangkat kembali menjadi Regent dengan gelar Raden Toemenggoeng (RT) Danoeningrat.
Pada masa perang Diponegoro tahun 1825, Regent magelang tersebut berada di pihak Belanda. Meski beberapa kali pemberontakan kepada ibukota Kabupaten yang dilakukan masyarakat dalam pimpinan P Diponegoro dapat dipatahkan tetapi pada pertempuran tanggal 25 September 1825, salah satu sisi selatan Kedu dapat dikuasai pasukan Diponegoro. Hilmer, seorang opsir Belanda bahkan terluka terkena peluru dan meriam jatuh di tangan pemberontak. Dengan posisi tersebut, Hilmer mengundurkan diri sebagai opsir dan RT Danoeningrat yang ikut berperang turut menjadi korban. Dikabarkan bahwa peperangan yang kira kira terjadi di Remame, Salam ini  sang regent tewas terbunuh dan jenazahnya di mutilasi. Kepalanya dibawa ke hadapan P Diponegoro di Goa Selarong dan di makamkan disana. Sedangkan tubuhnya dimakamkan di Payaman, Magelang.
Menurut beslit Goebernemen pada 15 Januari 1831, tanah makam tersebut dijadikan Perdikan sebagai anugerah atas jasa almarhum RT Danoeningrat dalam membantu Belanda melawan Pasukan Diponegoro dan sepeninggal beliau di anugerahi gelar Raden Adipati (RA) Danoeningrat I.
Almarhum RA Danoeningrat I yang mendirikan rumah kabupaten dan sebuah mesjid, boleh jadi dipandang sebagai yang mendirikan negeri magelang. Demikian diungkapkan dari majalah “Magelang Vooruit” terbitan November 1935.
Sepeninggal beliau, mulai tahun 1826 berturut turut Magelang dipimpin oleh anaknya yang bernama R. Hamdani bin Alwi Basyaiban dan bergelar Raden Adipati Ario (RAA) Danoeningrat II, hingga tahun 1862, kemudian Said bin Hamdani Basyaiban dengan gelar RT Danoeningrat III. Pada tahun 1878, beliau melepaskan jabatannya hingga Belanda mengangkat anaknya yang bernama Sayid Achmad bin Said Basyaiban dengan gelar RA Danoekusumo. Berdasar sumber dari Majalah Javansche Almanak, pada 1915 beliau digantikan oleh saudaranya yang bernama Muhammad bin Said Basyaiban dengan gelar RAA Danoesoegondo. Bupati ini memerintah hingga tahun 1939. Salah satu jasa yang dapat kita rasakan adalah renovasi besar besaran Masjid Agung Kauman pada tahun 1935.Latjak Djedjak 200 Tahoen Sedjarah Kaboepaten Magelang (30 November 1813 – 30 November 2013)
Pagi ini udara masih begitu segar. Langit diatas sana juga membiru. Saya pukul 7,30 pagi ini telah sampai di Jl Pahlawan Botton Magelang. Beberapa rekan saya tampaknya sudah mulai melakukan re-registrasi. Dengan Rp. 5000 rupiah saja kami bisa mengikuti even spesial yang diadakan Komunitas Kota Toea Magelang (KTM) ini dan mendapatkan makalah materi, pin, dan sticker.
Setengah jam kemudian, peserta sepertinya sudah terkumpul. Tidak begitu banyak sih yang ikut. Dikira kira ada 15 orang. Kami berpacu dengan waktu hingga beberapa saat menjelang pukul setengah sembilan pagi, kami langsung bergegas masuk ke sebuah rumah yang bagian depannya digunakan sebagai sebuah warnet di Jalan Pahlawan. Rupanya, narasumber pertama kami pagi ini terburu buru sehingga kami harus segera masuk dan mulai mendengarkan cerita beliau.
Adalah Ahmad Hasan Syaiban, pria kelahiran tahun 1929 yang kini masih tampak sehat dan ceria. Dengan mengenakan baju lengan panjang warna ijo, pria dengan rambut memutih tersebut menyambut hangat kedatangan kami. Tidak disangka, mbah Ahmad, panggilan akrabnya merupakan keturunan ke 8 dari Bupati Magelang pertama RA Danoeningrat I. Beliau menceritakan tentang kepemimpinan para bupati dari trah Danoeningrat sembari memperlihatkan koleksinya, sebuah foto besar dengan 4 foto bupati pertama magelang berturut  turut. Di pojok kiri foto tersebut tampak logo Kesultanan Ngayogyakarta sedangkan pojok kanan merupakan tulisan Allah.
Diceritakan bahwa perjanjian dengan Belanda waktu itu, trah Danoeningrat akan dapat berada di tampuk kekuasaan Magelang hingga turunan ke 7. Namun, nyatanya pada saat RAA Danoesoegondo berkuasa, politik dinasti ini tidak dapat berlanjut. Penyebabnya diantaranya adalah karena politik curang Belanda.
“Danoesoegondo itu istrinya banyak. Ada 15. Di selasar bagian belakang Kabupaten ada banyak kamar yang merupakan istri istri dari bupati. Memang, Belanda sengaja menciptakan kondisi seperti itu supaya pemerintahan kabupaten lemah karena bupati sudah capek memikirkan istri istrinya” paparnya diiringi tawa. Memang, mbah Ahmad diusianya kepala 8 ini masih memiliki ingatan yang baik dan selera humor yang tinggi.
Selain itu, pada saat itu, kucuran dana dari pemerintah Belanda sangatlah banyak. Dana itu digunakan untuk membangun masjid masjid seperti masjid Kauman, masjid Muntilan dan Mertoyudan serta beberapa tempat lain. Namun sayangnya, amanat itu disalahgunakan untuk membangun rumah pribadi. “Pancen, ket mbiyen ki sing jenengen KKN ki wes ono. Hahaha” sambungnya dengan bahasa jawa . “memang, dari dulu yang namanya KKN itu sudah ada”
Terkait penamaan gelar bupati sendiri, mbah Ahmad punya cerita sendiri. Dikisahkan bahwa bupati tersebut diambilkan dari keturunan Arab. Namun, untuk menghilangkan nuansa Arabnya, gelar dibuat dengan nama Jawa seperti Danoeningrat, Danoesoegondo. Ini merupakan trik dari Pemerintah Belanda untuk mengaburkan bahwa bupati adalah orang Islam yang taat beragama. Selain itu, penempatan makam yang berada di belakang masjid itu ditujukan agar anak anak kecil jadi takut pergi ke masjid.
Sebelum kunjungan berakhir, mbah Ahmad menunjukkan sebuah kartu keanggotaan keluarga besar Basyaiban. Kartu ini dikeluarkan di Jakarta. Keturunan dari Danoeningrat sendiri kini berpencar ada yang di Pekalongan, Jakarta, Magelang, Jogja, dan banyak lagi. Di sebuah buku kecil yang ukurannya sama dengan buku nikah tersebut, tampak foto Mbah Ahmad dengan nama Ahmad Hasan Syaiban tertulis dengan huruf Arab. Oiya, mbah Ahmad juga bercerita sedikit bahwa Danoeningrat itu merupakan keturunan ke 35 dari Nabi Muhammad SAW. Hal ini diperkuat dengan sebuah silsilah keluarga yang terpampang jelas di salah satu sisi dindingnya.
Kunjungan akhirnya di akhiri karena beliau hendak melanjutkan acara arisan. Satu yang saya salut. Mbah Ahmad rupanya merupakan kolektor vespa. Katanya ada 4 yang dikoleksinya. Salah satunya digunakan untuk pergi siang itu. Tentu dengan menyelah sendiri mesinnya. Luar biasa. Sehat selalu, mbah! 😀
Kegiatan semi jelajah ini selanjutnya menuju ke kampung Jagoan. Begitu sampai, kami disambut oleh seorang nenek dan anaknya. Tampaknya, mereka benar benar mempersiapkan kedatangan kami. Ya, sesaat setelah dipersilakan duduk, kami langsung disuguhi minum dan aneka snack. Salah satunya adalah tahu bakso yang rasanya uenak. .
Beruntung, mas Bagus Priyana berkesempatan berkenalan dengan Eyang Romlah beberapa waktu lalu. Eyang Romlah inilah yang menyambut kedatangan kami dan siang ini siap untuk berbagi cerita.
“Nama saya Romlah. Saya lahir di bulan Ramadhan 21 April tahun 1935”
Buka eyang dengan suara yang kadang kadang diselingi batuk. Eyang ini meskipun sesekali harus minum air putih dan teh, namun semangat berceritanya saya akui luar biasa. Ternyata cangkir tehnya merupakan salah satu peninggalan dari jaman Belanda.
Amazing! Rupanya, Eyang Romlah ini merupakan cucu dari adik Danoesoegondo. Bupati Magelang terakhir dalam trah Danoeningrat. Beliau bercerita tentang masa kecilnya tinggal di ndalem Kabupaten.
Eyang Romlah ini masa kecilnya dipanggil dengan panggilan Ndoro. Sebuah panggilan untuk kaum elit pada saat itu. Menjadi cucu dari bupati berkuasa, tentunya merupakan kehidupan yang serba enak. Beliau bercerita bahwa masa TK nya, beliau bersekolah di Volkclass Frobbelschool yang sekarang menjadi Gedung Wanita di Jalan Veteran. Meskipun dekat, hanya dibelakang rumah ibaratnya, beliau diantar oleh penjaga pintu gerbang kabupaten. Lebih lanjut, eyang menceritakan bahwa pelajarannya adalah bahasa Belanda. Misalnya bebek bahasa Belandanya apa gitu. Hehehe
Setiap istirahat, eyang makan bekalnya. Bekalnya adalah roti tawar isi meses ceres. Sebuah makan siang yang sangat elegan pada saat itu. Sepulang sekolah, terkadang ada tawuran yang biasanya dilakukan oleh anak anak ambon yang merupakan anak asuh Van der Steur. Biasanya mereka tawuran dengan anak anak jawa di Panti Peri. Sekali waktu, anak anak ‘nakal’, sebut eyang, ini bahkan berani mencuri mangga yang ada di belakang kabupaten. Para pegawai pun tidak berani mengusir karena takut dilempari.
Pada saat perayaan kelahiran Ratu Beatrix di Belanda, pemerintah Belanda mengadakan hiburan drum band. Eyang mengisahkan bahwa kehidupan di dalam ndalem Kabupaten sangat ketat. Bahkan ketika drumband tersebut diadakan saat jam tidur siang, eyang yang pada saat itu berusia 5 tahun tidak bisa keluar pagar untuk melihat. Bahkan mengintip dari lobang kunci pun dilarang oleh petugas. Hingga akhirnya eyang nekat mengintip dan ketahuan. Akhirnya dimarahi sama bupati yang kala itu eyang memanggilnya dengan panggilan ‘eyang’.
Kegiatan sehari hari di dalam ndalem kabupaten, diceritakan bahwa pukul satu hingga pukul setengah empat sore, semua anak wajib tidur siang. Ada kira kira 50-an orang yang tinggal di dalam kompleks bupati ini. Setelah itu, semua mandi dan shalat di masjid yang ada di dalam kompleks. Untuk mengisi waktu luangnya, eyang mengaku sering bermain dakon.
Untuk menu menu dalam ndalem kabupaten sendiri biasanya ganti ganti. Sekali waktu senerek. Sekali waktu kroket kentang. Sekali waktu beefsteak. Menurut ingatan Eyang, makanan favorit bupati Danoesoegondo adalah yang berbahan kentang. 😀
Saat saat yang paling ditunggu adalah saat ada Lorodan. Lorodan* ini rupanya adalah ‘sisa’ makanan sang bupati.  Beliau rupanya merupakan salah satu anak yang sering diberi Lorodan ini. “biasanya makanannya enak enak. Hehehe” selorohnya. – * koreksi
Selanjutnya Eyang melanjutkan sekolah di Holland Inlandsche School (HIS) selama dua tahun dan belum sempat menamatkan. Letak sekolah HIS ini berada di Kedjoeron, sekarang menjadi SD Cacaban 3. HIS sendiri merupakan sekolah setingkat SD dengan masa sekolah selama 7 tahun dan hanya di khususkan untuk anak-anak bangsawan dan orang terpandang saja. Menjelang kedatangan Jepang ke Indonesia, pada saat bupati Danoesoegondo hendak memantu, gubernur menghimbau agar bupati dan keluarga meninggalkan kompleks kabupaten. Hal ini didasari oleh kesalahan menebang pepohonan di sekitaran kompleks. “yang bisa di selamatkan ya dibawa, yang tidak bisa ya ditinggal. Saya ingat kalau sempat menyelamatkan cetakan roti” paparnya.
Sebelum mengakhiri sesi cerita ini, eyang Romlah sedikit berbagi tips “Kalau suami bekerja, maka antarlah dia sampai depan pintu. Bila perlu dicium. Lalu taruhlah satu gelas air putih ditutup. Taruh meja. Semoga saja suami tidak mudah main mata dengan wanita lain.” begitu tipsnya. Bagaimana? Hehehe.. “Lalu, kalau suami dhahar sebaiknya ditungguin. Selama suami saya masih hidup beliau tidak pernah nyacat makanan yang saya buat. Misal keasinan ya menyampaikannya dengan halus. Memanggil saya selalu dimana mana dengan panggilan Jeng” tutup Eyang yang masih memiliki gelar Raden Ajeng ini.
Jarum jam menunjukkan pukul 11 siang. Kami dengan ditemani Eyang Romlah dan beberapa anak dan cucunya, berangsur menuju ke Payaman. Siang ini, kami dengan nara sumber yang akurat akan berziarah ke makam keluarga besar Danoeningrat.
Rupanya, makan RA Danoeningrat I, R. Hamdani dan R Said berdampingan. “makam Danoeningrat ini biasa kami sebut dengan Eyang Sedo Perang. Pada tahun 1966, saya ikut serta dalam pemindahan bagian tubuh berupa kepala dari Goa Selarong ke sini” aku Mbak Nining, salah satu anak Eyang Romlah. Seteah membaca doa, kami juga sempat dijelaskan tentang makam makam di sekeliling situ. Salah satunya adalah makam bupati pertama wonosobo. Raden Setjonegoro.
Terpisah kompleks sedikit jauh, disitulah makam RAA Danoesoegondo berada. Di sampingnya merupakan nisan bertuliskan Sastroamidjojo. Sepertinya ini masih berkaitan dengan Ali Sastroamidjojo mantan Perdana Menteri. Hal ini senada dengan cerita dari Mbah Ahmad maupun Eyang Romlah.
Pukul satu siang. Acara kami tutup. Sampai siang ini, dengan dua narasumber yang luar biasa, kami berhasil mendapatkan cerita sejarah yang sangat termasyhur. Dalam rangka memperingati 200 tahun Sejarah Kabupaten Magelang.#semua yang saya ketik disini merupakan pendapat pribadi dari narasumber.Keterangan
Volkclass / Frobelschool : Taman Kanak Kanak untuk golongan atas. Lokasi sekarang Gedung Wanita Magelang
HIS – Holland Inlandsche School : Sekolah bumiputera-belanda. Umumnya untuk golongan anak bangsawan/elit. Lama belajar 7 tahun dengan pengantar Bahasa Belanda. Lokasi Jl Kejuron. Sekarang SDN Cacaban 4, Jl Mayjend Sutoyo S.

Daftar Pustaka :
– Majalah “Magelang Vooruit”  edisi November 1935

sumber : http://hamidanwar.blogspot.com/2013/12/latjak-djedjak-200-tahun-sedjarah.html

PENDAFTARAN VOLUNTEER PROGRAM INVENTARISASI BANGUNAN ERA KOLONIAL DI KOTA MAGELANG 16-17 NOVEMBER 2013

Standard

Kerabat KOTA TOEA MAGELANG yang kami hormati dan banggakan.

Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan KOTA TOEA MAGELANG (KTM) akan mengadakan kegiatan inventarisasi, pendataan, dan pendokumentasian bangunan era kolonial di Kota Magelang. Acara ini akan dilaksanakan pada tanggal 16-17 November 2013, dengan rincian pelaksanaan sebagai berikut:
– Hari Sabtu, 16 November 2013 jam 08.00-14.00 WIB.
Kegiatan workshop di Warung Makan “Voor De Tidar” Jl. Gatot Subroto No. 58 Jagoan Kota Magelang.
– Hari Minggu 17 November 2013 jam 07.00-16.00 WIB.
Kegiatan lapangan di wilayah Kota Magelang. Berkumpul di depan Masjid Kauman/sebelah barat Alun-Alun Kota Magelang.
Pendaftaran dari tanggal 1-10 November 2013. Pengumuman seleksi tanggal 12 November 2013 lewat Facebook KOTA TOEA MAGELANG dan akan dihubungi lewat sms.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Kami memberi kesempatan kepada Kerabat KTM untuk berpartisipasi sebagai volunteer sebanyak 15 orang. Jika Anda berminat dan tertarik dengan kegiatan ini silakan isi formulir pendaftaran di bawah ini.

Save History & Heritage in Magelang !
Salam Pusaka

Koordinator KOTA TOEA MAGELANG
ttd
Bagus Priyana
[087832626269]

NB. Untuk Kerabat KOTA TOEA MAGELANG yang karena kesibukan dan ingin berpartisipasi tetapi hanya bisa bergabung di hari Minggu tanggal 17 November 2013, dipersilakan membantu dalam pendokumentasian. Berkumpul di depan Masjid Kauman/sebelah barat Alun-Alun Kota Magelang pada jam 07.00 WIB.

Untuk formulir pendaftaran silahkan klik saja di https://docs.google.com/forms/d/1xRo8FfcH-n0gUVyGwaUnwO0FpE1fzdi3qpRnlENCUr4/viewform

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG – “DJELADJAH SITOES & TJANDI DI TEMANGGOENG” 13 OKTOBER 2013

Standard


Tanah Kedu yang subur ini semenjak dahulu memiliki peradaban yang tinggi. Bagaikan harta karun yang tak ternilai harganya. Berbagai peninggalan berserakan di wilayah ini, termasuk peninggalan berupa situs dan candi yang merupakan peninggalan di jaman Hindu dan Budha.
Lalu seperti apakah yang dapat kita saksikan hingga kini ?

Ayo ikuti !
“DJELADJAH SITOES & TJANDI DI TEMANGGOENG”
(gondosoeli – lijangan – djoemprit – pringapoes)

#Waktu & #Tempat
– Waktu : Minggu, 13 Oktober 2013
– Jam : 08.00 WIB – selesai
– Tempat Kumpul : Monumen A. Yani Taman Badaan Jl. Pahlawan Kota Magelang.

#Biaya
– Biaya Pendaftaran : Rp 10.000,-
– Fasilitas : makalah, minum, tiket masuk ke Situs Liyangan & Jumprit

#Daftar
– Cara Pendaftaran/info ketik : TJANDI [spasi] nama Anda,
kirim ke: 0878 32 6262 69

NB :
1. Peserta wajib memakai sepeda motor termasuk kelengkapannya [helm, SIM, STNK, dll]. Boleh sendirian atau berboncengan.

2. Dresscode/warna kaos yang di pakai saat even adalah warna PUTIH atau HITAM.

3. Makan siang di tanggung oleh masing-masing peserta yang lokasinya akan di tentukan kemudian dengan menyesuaikan situasi dan kondisi selama perjalanan.

4. Daftar ulang sekaligus pembayaran beaya pendaftaran di lakukan sebelum acara di mulai di tempat kumpul yaitu di Monumen A. Yani Taman Badaan pada jam 07.45 – 08.45 WIB.

5. Jam 08.45 – 09.00 WIB briefing dan petunjuk teknis pelaksanaan acara.

6. Jam 09.00 WIB start acara di mulai dengan rute Magelang – Secang – Temanggung – Parakan – Ngadirejo (PP).

7. Hal-hal lain yang belum di tentukan akan di informasikan kemudian.

Agenda KOTA TOEA MAGELANG – Kamis 19 September 2013

Standard

Buku karya Olivier Johannes yang berjudul “PEKERDJA DI DJAWA TEMPO DOELOE” ini memberikan gambaran kehidupan masyarakat di Pulau Jawa pada periode tahun 1890-1940-an melalui lebih dari 140 kartu pos kuno dan foto kuno dari koleksi penulis. Semua ilustrasi bertema profesi-profesi tradisional. Dari pejabat tinggi sampai pekerja rendah, baik profesi untuk kaum wanita maupun kaum pria bahkan juga pekerjaan untuk anak-anak. Semua kartu pos diproduksi dari foto-foto karya beberapa fotografer ternama dan banyak juga dari fotografer anonim. Namun semua foto merupakan karya profesional yang indah.

Gambar dalam buku ini juga disertai dengan penjelasan-penjelasan informatif, seperti informasi tentang baju yang dipakai, alat yang digunakan dan lokasi yang mewakili foto. Olivier Johannes tidak hanya membicarakan tentang pekerjaan mereka saja tetapi dia akan mengantar anda juga untuk menyelami latar belakang sisi sosial dan budaya secara lebih detil dengan memperlihatkan gambar-gambar dari sisi lain.

Selain itu buku ini enak untuk dibuka-buka maupun juga untuk dibaca. Gambar-gambarnya sangat menarik untuk dilihat dan menyenangkan untuk dipakai sebagai bahan pelajaran maupun bahan hiburan semata baik bagi generasi tua maupun muda. Buku yang unik ini akan memperlihatkan koleksi luar biasa sebagai mesin waktu yang mengantar anda ke kehidupan sehari-hari tempo dulu.

Jika Anda ingin lebih tahu tentang kondisi pada waktu itu, ayo ikuti
bedah buku karya Olivier Johannes ini.

#TEMA
– Bedah Buku : “PEKERDJA DI DJAWA TEMPO DOELOE”
– Narasumber : OLIVIER JOHANNES [dari Belanda]

#PADA:
– Hari / tanggal : Kamis / 19 September 2013
– Waktu : 18.00 – 21.00 WIB
– Tempat : LATAR “KUNCUNG BAWUK”
Jl. Kartini Pasar Anyar, Mertoyudan Magelang.
No Telepon: (0293) 5570177

#lokasi:
[150 meter sebelah timur Polsek Mertoyudan Magelang / seberang timur jalan Raya Magelang – Jogja atau arah tenggara Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Magelang [UMM]

GRATIS … !!!

Cara pendaftaran :
Ketik : PEKERDJA [spasi] Nama Anda
kirim ke 0878 32 6262 69

Liputan dari Remboeg Sedjarah : Sejarah Kelam Orang Indo Di Magelang.

Standard

MAGELANG SELATAN-

Komunitas Kota Toea Magelang sebuah komunitas pencinta sejarah mengadakan kegiatan Sarasehan Remboeg Sedjarah dengan bertempat di sebuah rumah makan di Mertoyudan Magelang, Minggu (01/09) pukul 18.30 WIB.

Dalam kegiatan tersebut membahas tema “Orang-orang Indo di Kota Magelang periode 1906-1942” sebuah artikel dari hasil skripsi Tedy Harnawan Sarjana Sejarah UGM.
“Cukup menarik dalam paparan narasumber kali ini membawakan pengetahuan baru bagi komunitas ini, karena cukup minim data yang bisa didapat terkait dengan keberadaan orang Indo di Magelang,” ucap Bagus Priyana Koordinator Komunitas Kota Toea.Dalam paparannya Tedy tertarik mengulas keberadaan orang Indo yang berdomisili di Magelang.
Sebutan orang Indo sendiri adalah peranakan hasil perkawinan pribumi dengan warga eropa. Dimana dalam masa itu orang Indo tersebut mengalami diskriminasi dari orang-orang eropa yang kala itu berstatus sebagai penjajah bangsa Indonesia.
Banyak faktor yang melatar belakangi lahirnya orang Indo, salah satunya adalah pada saat itu penjajah banyak mengirim tentara (KNIL Belanda), dimana para tentara tersebut datang tanpa membawa keluarganya, karena biaya hidup akan melonjak, tentu saja pihak Belanda tidak mau menanggung hal tersebut.
Tedy Harnawan [kiri] sang nara sumber sedang mempresentasikan makalahnya
Karena itu banyak tentara penjajah (entah menikah resmi atau tidak) memilih wanita pribumi sebagai tempat melepas hasrat tersebut. Atas perbuatan itu banyak lahir orang Indo, namun kebanyakan nasib mereka terlantar, bahkan hidup di garis kemiskinan. Hal tersebut mengetuk hati Van der Steur untuk membuat panti penampungan untuk menampung anak-anak orang Indo tersebut, panti tersebut terletak di sebelah utara gedung Eks Karisidenan Kedu Magelang.
“Banyak orang Indo yang ditinggal oleh ayah mereka yang berstatus tentara, dimana harus berperang. Dan para wanita pribumi ini ada yang terpaksa menjadi gundik karena posisi tersebut,” tutur Bagus yang menjadi moderator saat pemaparan berlangsung.
Salah satu bentuk diskriminasi tersebut adalah, tidak diterima di kalangan Eropa, seperti tidak boleh berenang bersama orang Eropa. Namun demikian orang Indo berusaha mendapat tempat di kalangan Eropa, seperti dengan berdandan gaya Eropa, makanan Eropa, dan gaya hidup Eropa lainnya.
Di hadiri juga oleh Cameron, mahasisiwa S3 UGM dari Amerika Serikat
“Karena pada saat itu pribumi dianggap sebagai kelas no 3, sedangkan kelas no 2 dihuni oleh pendatang timur jauh, sedangkan kelas utama adalah orang Eropa. Maka orang Indo enggan masuk ke pribumi, namun ditolak di kalangan Eropa oleh sebab itu mereka mengambil gaya hidup Eropa agar diterima.
Namun nasib orang Indo di jaman sekarang berbeda, mereka cenderung menempati status sosial yang tinggi, terbukti wajah Indo lebih mudah menjadi artis,” pungkas Bagus.(mg22)..
BERBAGI WAWASAN. Sarasehan Remboeg Sedjarah Komunitas Kota Toea, berbagi wawasan sejarah orang Indo di Magelang pada masa kolonialis.
Para peserta berfoto bersama di depan lokasi acara di Latar Kuncung Bawuk

7th International Field School on Borobudur 2013 kembali di gelar

Standard

Center for Heritage Conservation

DEPARTMENT OF ARCHITECTURE AND PLANNING, 
FACULTY OF ENGINEERING
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA, 
INDONESIA

Call for Participants
7TH INTERNATIONAL FIELD SCHOOL 
ON BOROBUDUR SAUJANA HERITAGE

 

Theme
Local Communities’ Initiatives for the Evolutive Conservation

Venue
Yogyakarta & Borobudur, September 4-10, 2013
 
Co-organized by
Center for Heritage Conservation
 
In collaboration with
1. Kanki Laboratory
2. Jogja Heritage Society


INTRODUCTION
Saujana heritage or cultural landscape heritage is the inextricable unity between nature and manmade heritage in space and time, or the variety of interactive manifestation between manmade heritage and natural environment. The interaction of nature and culture has become a new perspective in global discourse of sciences especially those which concern with heritage conservation started in the end of the 80’s. However, in the Indonesian higher education as well as the discourse on the saujana has not well developed. Whereas in fact, Indonesia from Sabang to Merauke is a mosaic of one of the world’s largest diversity of saujana that needs interdisciplinary developed.

Borobudur Temple compound, which consists of Borobudur, Mendut and Pawon
Temples, was inscribed in the UNESCO’s World Heritage List No. 592 in the year 1991. The area of this compound has rich of natural and cultural potentials associated with the establishment of the temples existence. There are surrounding mountains, ancient lake, fertile soil, and rural atmosphere as well as everyday community life of cultural villages which performs the value and variety of interactive manifestation between manmade heritage and natural environment called saujana. However, in the last decade there has been a tremendous movement of the local communities to be more concerned into unbalance conservation and development on this World Cultural Heritage Sites. 

In order to response the comprehensive needs, in scientific as well as practical, on the conservation of Borobudur cultural landscape, since 2004, the International Field School of Borobudur Cultural Landscape Heritage Conservation (shortly named Borobudur Field School/BFS) has been annually organized by the Center for Heritage Conservation, Department of Architecture and Planning, Gadjah Mada University (UGM) in collaboration with Kanki Laboratory for Architecture and Human Environmental Planning, Graduate School of Urban Environmental Engineering, Kyoto University, Japan; Miyagawa Seminar, Dept. of Environmental System, Wakayama University, Japan; and Jogja Heritage Society. 

Every year, each BFS has emphasized on specific implementing techniques of cultural landscape conservation, including enhancing participants’ skill on the inventory, documentation and presentation some unique villages surrounding Borobudur Temple which are ignored in the Borobudur Temple conservation and development (1st BFS); developing village design guidelines (2nd BFS); emphasizing on the formulation of village design guidelines (3rd BFS); emphasizing on the various principles and issues on the regional context of Borobudur conservation planning (4th BFS); deeply learn various principles and issues on regional conservation planning of Borobudur (5th BFS); and emphasizing on participants’ skill in implementing techniques of saujana heritage conservation in the context of Borobudur as a National Strategic Area (6th BFS).

Those abovementioned programs have exhibited that each program had each own topic from micro to macro scale, from village to regional context. However, the focal point of Borobudur saujana heritage learning process has been the local community initiatives. Heritage conservation is likely a cultural movement. The involvement of the local community is an important aspect in resolving conservation through a bottom-up planning approach and support people as the center of conservation management. This year is marked as the Indonesian Heritage Year 2013 with the theme of “Heritage for Community Welfare”. The Seventh Borobudur Field School is, therefore, will focus on describing saujana (cultural landscape) heritage from the viewpoint of the local communities’ initiatives and to deeply discuss on the new academic idea of ‘Dynamic Authenticity’ and ‘Evolutive Conservation’ generated from those initiatives.

Peserta sedang di Punthuk Setumbu Borobudur di acara BFS 2012

OBJECTIVES
The objectives of the Field School program in general are:

  • To give participants a comprehension on conservation and management of saujana (cultural landscape), including historical buildings, setting and culture system, living culture and other natural environment components and its position of temples compounds as World Cultural Heritage Sites and its area as National Strategic Area.
  • To give participants understanding on local communities’ initiatives in conserving and managing their environment.
  • To enhance participant skill in implementing concepts, methods, conservation process and landscape management in the actual cases.
  • To enhance participant interest in saujana conservation.
  • To give participants experience in doing a research on saujana conservation directly in the field.

The objective of Field School program in a specific theme is emphasized on enhancing participants’ skill in critically understanding the local community initiatives and implementing techniques of rural saujana heritage conservation, including inventory, documentation, analysis, formulating village design guidelines, and presentation of a particular village area in Borobudur.

TIME AND VENUE

  • The program is organized for 7 days (September 4-10, 2013) in Yogyakarta as well as Borobudur area, Magelang Regency, Central Java. 
  • Participants will depart together from Gadjah Mada University, Yogyakarta to Borobudur on September 4, 2013. 
  • During the program, participants will stay in the modest accommodation in Yogyakarta and home-stays in Candirejo Village, Borobudur Sub-District.

ACTIVITY PROGRAM
In the Seventh International Field School on Borobudur Saujana Heritage, participants will experience fun learning activities, as follow:


PARTICIPANTS
The International Field School is limited to 25 participants, they are:

  1. Students from Indonesian or overseas universities who have concerns on cultural landscape heritage conservation.
  2. Lecturers, researchers from Indonesia or overseas universities with interdisciplinary sciences related to the program topic
  3. Parties who have concerns on cultural landscape heritage conservation (individuals, government, cultural and heritage associations, environmental associations, tourism experts, etc).

FACILITATORS

  1. Prof. DR. Kiyoko Kanki, Kanki Laboratory, Architecture and Human Environmental Planning, Graduate School of Urban, Environmental Engineering, Kyoto University, Japan
  2. DR. Ir. Laretna T. Adishakti, M.Arch, Center for Heritage Conservation, Dept. of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, UGM
  3. DR. Ir. Dwita Hadi Rahmi, M.A, Center for Heritage Conservation, Dept. of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, UGM
  4. Ir. Titi Handayani, M.Arch, Jogja Heritage Society
  5. DR. Amiluhur Soeroso, SE., MM., M.Si, Center for Heritage Conservation, Dept. of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, UGM
  6. DR. Titin F. Irmawan, ST., MEng., Indonesian Heritage Trust
  7. Jack Priyatna, Jaringan Kerja Kepariwisataan Borobudur

FACILITIES

  1. Modest accommodation (homestay), meals and drinks during the program in Borobudur (September 4-9, 2013 – 6 days);
  2. Modest accommodation on September 3, 2013, 2013 in Yogyakarta (1days);
  3. Meals during the program
  4. Transportation, Yogyakarta-Borobudur – Borobudur-Yogyakarta and during the program in Borobudur;
  5. Program materials

FACILITES NOT INCLUDED

  1. Transportation of participants to Yogyakarta from original country/city
  2. Passport and visa arrangements
  3. Health insurance
  4. Additional field trip/heritage trail (post summer school) in Yogyakarta
  5. Accommodation in Yogyakarta outside the BSF program
  6. Personal expenses and equipments during the program

PROGRAM OPTIONAL
The organizer may organize additional heritage tours upon requested, but the fee is not included in Borobudur Field School registration fee, such as:

  • Mount Merapi area post-eruption, 
  • Jeron Beteng (Inside the Wall) Heritage Trail, 
  • Kotagede Heritage Trail, 
  • Imogiri & Batik Heritage Trail

REGISTRATION AND FEE
Participants of the International Field School may register to: 

Center for Heritage Conservation, Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada, Jl. Grafika 2, Sekip Yogyakarta, Indonesia. Telp. 62 274 544910. Fax: 62 274 580852

  • Registration to the Organizing Committee not later than June 30, 2013
  • Confirmation of participation by July 15, 2013
  • Registration fee USD 600 for general public/scholar and USD 500 for students. Registration fee can be transferred to Bank Account: Yeny Paulina Leibo, BNI 46 Branch UGM Yogyakarta, Indonesia, Number 0134104532
  • Contact Person: Sinta Carolina (she_jogja@yahoo.co)

ABOUT

  1. Center for Heritage Concervation (CHC) | Department of Architecture and Planning, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Indonesia.
  2. Kanki Laboratory | Graduate School of Architecture and Architectural Engineering, Faculty of Engineering, Kyoto University, Japan, Chairperson of Sub-committee for Rural Cultural Landscape, Committee for Rural Planning, Architectural Institute of Japan.
  3. Jogja Heritage Society (JHS) | a local NGO which focuses on cultural heritage ini Jogja (Yogyakarta) Province, Indonesia.

Download the pdf. version of this information here.

Source: http://tahunpusaka2013.indonesianheritage.info/kalender/icalrepeat.detail/2013/09/04/72/-/borobudur-7th-international-field-school-on-borobudur-saujana-heritage.html

Liputan tentang DJOEMPA KERABAT KOTA TOEA MAGELANG 2013

Standard

Yang namanya komunitas, jelas rasanya akan hambar jika tidak disertai dengan acara kumpul-kumpul para anggotanya (bahasa kerennya kopdaran lah), karena memang nyawa dari sebuah komunitas itu ya kebersaman dari segenap member komunitas itu sendiri. Hal ini disadari betul oleh Komunitas Kota Toea Magelang, sebuah komunitas Pecinta dan pelestari bangunan tua di Magelang dan sekitarnya. Selain aktif mengadakan event utama yaitu jelajah bangunan lawas, Komunitas ini juga tercatat selalu menyelenggarakan acara kumpul-kumpul silaturahmi dan diskusi segenap anggota setiap tahunnya yang bertajuk “Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang”.

Dan tahun 2013 inipun, agenda Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang kembali digelar.

Berbeda dengan edisi tahun lalu, event Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang tahun 2013 ini terasa spesial, karena diselenggarakan pada waktu yang masih bersuasana syawal, sehingga aroma “Sugeng riyadi” masih sangat terasa kental.

Acara Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 kali ini diselenggarakan pada hari Kamis, 15 Agustus 2013, di Warung Makan Voor de Tidar Jalan Gatot Subroto 58 Jagoan Magelang. Acara sejatinya dijadwalkan mulai pada jam 6 sore, tapi kemudian molor sampai jam 7 karena banyak peserta yang datang tak sesuai jadwal.

Kendatipun acara ini adalah acara komunitas Kota Toea Magelang, namun Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 ternyata tak hanya dihadiri oleh anggota internal saja, karena rupanya, banyak peserta lain yang berasal dari lintas komunitas dan latar belakang, diantaranya akademisi, pengajar, bahkan sampai pengusaha.

Acara diisi dengan perkenalan masing-masing peserta (maklum, kendatipun sudah saling tahu di grup facebook komunitas, tapi banyak yang belum kenal langsung sesama anggota, apalagi bertatap muka), silaturahmi, dan juga diskusi ringan seputar Kota Tua Magelang ataupun pembahasan agenda serta kegiatan komunitas Kota Toea Magelang kedepannya.

Diskusi ringan tentang kota tua Magelang dalam Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 benar-benar penuh warna, Bagaimana tidak, beragamnya para peserta kemudian “memaksa” para peserta yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda untuk saling berbagi dan mengemukakan pandangannya tentang Magelang sebagai Kota Tua dari sudut pandang masing-masing.

Mbak Wahyu Utami misalnya, Calon Doktor jebolan Universitas Gadjah Mada yang kerap membuat essay tentang kemagelangan ini begitu lanyah dalam mengemukakan berbagai keunikan-keunikan kota Magelang berdasarkan letak dan topografis kota Magelang.

Lain mbak Wahyu Utami, lain pula dengan Pak Soli Saroso, anggota komunitas Kota Toea Magelang yang juga anggota komunitas Volkswagen Club Magelang/VCM ini dengan sangat berapi-api mengemukan dan menceritakan tentang sejarah Magelang di masa kolonial sampai sejarah nafas Komunis di kota Gethuk ini.

Diskusi ringan makin asyik dan menarik saat mas Rahadian, eks wartawan Jawa Pos yang besar di kota Magelang berbagi tips tentang bagaimana mengenalkan Kota Magelang kepada dunia luar dengan segenap sisi positif dan kearifan lokalnya melalui media online dan sosial media seperti Facebook maupun twitter.

Tak jauh berbeda dengan Mas Rahadian, uraian menarik juga disampaikan oleh pak Chandra Irawan, Manajer Hotel Atria Magelang yang menjelaskan tentang tantangan bisnis pariwisata di Magelang terutama bisnis penginapan dengan memaksimalkan segala potensi pariwisata di Magelang dan sekitarnya.

Selain diskusi menyampaikan pandangan, para peserta juga diberikan sesi kesempatan untuk memberikan saran, kritik, ataupun gagasan membangun perihal Kota Magelang maupun Komunitas Kota Toea Magelang, dan sesi ini tak disia-siakan oleh para peserta yang langsung memberondong dengan berbagai gagasan-gagasan yang unik dan menarik. Pak Marwan salah satunya, beliau memberikan gagasan yang unik, yaitu mendorong Pemkot agar melarang pendirian bangunan yang tingginya melebih Gunung Tidar. Gagasan menarik lainnya keluar dari lisan pak Bondan, seorang akademisi yang sekarang berprofesi sebagai guru, beliau memberikan gagasan bilamana segala posting yang ada di grup facebook Kota Toea Magelang bisa dibukukan, gagasan menarik lainnya adalah mendorong kegiatan Kota Toea Magelang agar bisa masuk ke sekolah-sekolah lokal di Magelang, mengingat masih banyak pelajar Magelang yang belum tahu tentang sejarah kota Magelang sendiri.

Acara Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 ini dipandu langsung oleh mas Bagus Priyana selaku koordinator komunitas Kota Toea Magelang.

Dengan disuguhi menu makanan pecel lele spesial dari Warung Makan Voor de Tidar dan dihibur dengan alunan lagu kroncong tradisional nan merdu oleh grup seni Omah Tumpuk, membuat acara Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang 2013 terasa sangat berkesan, terlebih lagi di akhir acara, ada doorprize berupa poster tentang Kota tua Magelang yang dibagikan kepada beberapa peserta yang sanggup menjawap pertanyaan yang diajukan oleh sang komandan, Mas Bagus Priyana selaku pemandu acara.

Tepat jam 10 kurang seperempat, acara pun usai yang ditandai dengan penampilan pamungkas dari grup seni Omah Toempoek yang membawakan lagu berjudul Magelang dan juga sesi foto bersama seluruh peserta.

Hhh, sungguh acara yang sangat berkesan. Semoga tahun depan, even Djoempa Kerabat Kota Toea Magelang kembali digulirkan.

Gambar hasil jepretan Pak Widoyoko Magelang

[sumber : http://www.agusmulyadi.web.id/2013/08/tentang-djoempa-kerabat-kota-toea.html%5D