Monthly Archives: May 2015

Half Day in Krankzinnigengesticht Kramat [LIPUTAN EVENT “DJELADJAH ROEMAH SAKIT DJIWA KRAMAT”]

Standard

Ada banyak bekas bangunan peninggalan warga kebangsaan Belanda yang menetap lama di Hindia Belanda sudah dimiliki perorangan dan perusahaan yang mempunyai nasib kian tak jelas di masa depan. Menunggu ajal untuk dihancurkan generasi penerusnya atau mungkin tetap bertahan hingga dunia kiamat.

Sebaliknya, bangunan kolonial yang sudah diambil paksa oleh badan usaha milik pemerintah dan angkatan militer setelah Belanda hengkang dari tanah air yang masih bertahan hingga sekarang. Sebagian sudah digunakan sebagai rumah dinas petinggi negara, perkantoran yang masih nyambung dengan bidang terdahulu, hingga mess para angkatan bersenjata.

Tapi jangan heran jika beberapa sudah tidak seperti sedia kala, dipreteli tegel kunonya dan diganti dengan tegel lebih modern berwarna putih polos yang menurut mereka lebih bagus. Jangan heran juga jika menemukan bangunan yang sudah dilelang kemudian dibeli oleh pihak swasta, dihancurkan dan dibangun menjadi ruko. Misteri pola pikir warga Indonesia yang belum jeli dengan potensi menguntungkan dari bangunan-bangunan tua.

menggagumi arsitektur rumah dinas dokter dan perawat

Tentu membutuhkan surat rekomendasi dan alasan yang kuat jika hendak masuk ke bangunan kolonial yang sudah dimiliki pemerintah. Tidak sembarang orang bisa masuk jika tidak memiliki keperluan di sana. Minggu lalu saya berkesempatan menghadiri kegiatan yang diadakan oleh komunitas Kota Toea Magelang ( KTM ). Obyek yang dituju kali ini bukan sembarang obyek, yaitu kompleks bangunan kolonial sarat sejarah di Magelang yang kini sudah diambil alih oleh Departemen Kesehatan. Bahkan bisa dibilang tempat tersebut merupakan salah satu rumah sakit ternama di Indonesia.

nomor rumah dinas dokter

Meski sekarang separuh lahan sudah dimiliki oleh Armada Real Estate dan pihak militer, kompleks seluas empat puluh hektar ini masih digunakan sebagai rumah sakit untuk menampung pasien yang memerlukan perhatian khusus. Kompleks ini juga mudah ditemukan karena letaknya di tepi jalan raya yang menghubungkan Magelang – Semarang – Purworejo, tepatnya di Jalan Achmad Yani 169, Magelang. Tempat yang saya maksud adalah Rumah Sakit Jiwa Prof dr. Soerodjo atau sering disebut Rumah Sakit Jiwa Kramat Magelang.

Rumah sakit yang mampu menampung hingga seribu pasien yang membutuhkan perhatian khusus ini semula dinamakan Krankzinnigengsticht Kramat yang dibangun mulai tahun 1916 hingga tahun 1923 atas prakarsa Scholtens. Dikisahkan butuh waktu cukup lama bagi Scholtens untuk meyakinkan pemerintah Hindia Belanda mendirikan krankzinnigengsticht ( rumah sakit jiwa ) di Jawa Tengah. Hingga akhirnya 80 hektar tanah yang terletak sekitar empat kilometer dari kota Magelang ditetapkan sebagai lokasi yang memadai. Udara sejuk, berdekatan dengan Kali Progo guna memasok kebutuhan air pasien serta terletak di jalur lintas Magelang menuju Semarang yang menjadi alasannya.

gerbang masuk rumah sakit

Pagi itu, saya dan kawan lain yang tergabung di KTM dipandu oleh Bu Any, nara sumber sekaligus saksi hidup yang masa kecilnya dihabiskan di kompleks rumah sakit ( perlu diketahui bahwa Bu Any bukan mantan pasien yang memerlukan perhatian khusus ). Dari penjelasan beliau, kami jadi tahu bahwa rumah-rumah dinas dokter yang terletak di samping kiri dibangun sama persis ukuran dan bentuk seperti di samping kanan bangunan utama. Serta info tentang pembagian bangsal pasien, sebelah selatan untuk pria sedangkan sebelah utara untuk wanita.

Setelah melewati gerbang masuk, saya terkejut dengan kondisi yang terpampang nyata di depan mata. Halaman di dalam rumah sakit kalau boleh saya bilang kondisinya sangat asri melebihi rumah sakit umum yang pernah saya kunjungi. Jajaran pepohonan seperti mahoni berumur puluhan tahun tumbuh besar dan rindang, taman luas dengan rumput dan bunga yang bermekaran. Bangsal atau wisma untuk pasien pun berbentuk loji dengan arsitektur Eropa yang kental, langitan tinggi, daun pintu dan jendela dari kayu berkualitas di masanya. Bukan kompleks rumah sakit jiwa dengan tingkat keamanan mirip penjara, melainkan nampak seperti sebuah resort!

Tempat yang lahannya sudah menyusut menjadi 40 hektar ini dibangun dengan tujuan awal yang mulia. Bukan mengucilkan pasien yang memiliki beban pikiran terlalu berat hingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih lagi, melainkan memberinya perawatan dan pengobatan agar bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala. Setelah diresmikan oleh direktur RSJ Kramat Magelang yang pertama, dr. Engelhard tercatat pada pertengahan tahun 1923, pasiennya mencapai lebih dari 1100 orang dan melonjak hingga lebih dari 1400 orang.

Diberi embel-embel “Kramat” oleh penduduk sekitar karena rumah sakit ini didirikan di lahan yang dulu sebagian daerahnya merupakan makam, salah satu yang terkenal adalah makam Kyai Ponggol. Meski makam sudah dipindahkan, hingga tahun ’70-an masih banyak orang yang menggangap bekas makam tersebut keramat, bahkan tak jarang ada yang rutin datang tiap malam Jumat demi mencari berkah.

bangsal W-10

Matahari yang semakin meninggi tidak menghalau kami untuk memutari kompleks rumah sakit. Saya dan kawan yang lain berkesempatan melihat bekas lumbung padi yang terletak di bagian belakang, bekas pabrik batik yang sudah tidak digunakan lagi ( dulu pernah diproduksi Batik Magelang di kompleks ini ) hingga ruang binatu. Ruang binatu yang masih dipenuhi mesin cuci dan pengering linen peninggalan Belanda menjadi kejutan berikutnya.

Rupanya pihak Belanda tidak hanya menyediakan tempat tinggal yang bersih dan hyginies untuk para pasien saja, tempat ini juga difasilitasi binatu yang bertugas mencuci dan mengeringkan baju, selimut, sprei di seluruh bangsal. Mesin-mesin berumur hampir seratus tahun tersebut masih dalam kondisi utuh dan terawat! Hingga sekarang masih digunakan untuk laundry harian rumah sakit. Setiap hari ada enam ratus kilogram linen yang harus dicuci atau kurang lebih 4000 lembar yang dijemur dan disetrika oleh petugas.

Djelajah RSJ Kramat - Kota Toea Magelang

[sumber : Halim Santoso http://jejak-bocahilang.com/2015/04/27/krankzinnigengesticht-kramat-magelang/%5D

MMENELUSURI JEJAK PEMBANGUNAN TANGSI MILITER MAGELANG (SEKARANG KAWASAN RINDAM) BAGIAN III

Standard

Gedung ini adalah markas Polisi Militer (Provoost) Garnizun Magelang, Pengadilan Militer dan Penjara Militer (SUmber Foto: Kitlv)

Kawasan Tangsi Militer di Magelang dirancang untuk ditempati 5.000 tentara, belum termasuk keluarganya. Pada tahun 1874, ada instruksi dari Gubernoor Generaal agar Batalyon-Batalyon Infantri yang ada di pesisir, dipindahkan ke pedalaman secara bertahap. Untuk Jawa Tengah, tentara infantri itu dipindahkan ke Salatiga, Surakarta, Purworejo dan Magelang. Pada tahun 1888 di Magelang sudah ada lebih dari 5.000 infantri.

Masalah indisipliner di kalangan tentara mulai terasa dan kebutuhan rumah tinggal para bintara segera harus dipenuhi. Tentara yang berpangkat prajurit tetap tinggal di barak-barak batayonnya, walaupun cukup banyak yang mempunyai istri dan anak atau gundik. Karena terbatasnya ruangan tempat tinggal yang disediakan untuk prajurit yang berkeluarga, anak-anak mereka banyak yang harus tidur di kolong ranjang. Dari situ muncul istilah yang kita kenal dengan “Anak Kolong”, anak prajurit.


Semacam Balai pertemuan atau sekarang semacam cafe untuk tempat rekresi prajurit. Bangunan ini menghadap lapangan Ngenthak (Sumber Foto: Pintenkabinet)

Setelah perumahan perwira di tepi Ralan Raya (Jl. A.Yani) diselesaikan, maka Markas Provoost, Pengadilan Militer dan Penjara Militer yang semula hanya berupa bangunan kecil di pinggir saluran kali Manggis, dekat jembatan yang menuju Rumah Sakit Tentara, akhirnya dipindahkan di bangunan baru yang lebih besar dengan mengorbankan sebuah lapangan di sisi selatan. Kebutuhan adanya tempat rekreasi untuk prajurit akhirnya juga disediakan, yaitu berupa Cantine atau balai pertemuan, yang terlletak di belakang markas Provoost. Sementara itu, untuk kebutuhan rekreasi para perwira, Societet di Aloon-Aloon di renovasi

.
Perumahan Bintara di Ngenthak

Markas Batalyon Artellrie yang semula direncanakan di sisi paling selatan (daerah Ngenthak sekarang) akhirnya dipindahkan ke sisi timurm, berdekatan dengan markas 2e Mitrailleur Companige. Di lokasi itu (ngenthak) kemudian dibangun perumahan untuk Bintara (dibawah Letnan, di atas Kopral)


Perumahan Bintara di Ngenthak

[penyusun : Denmaz Didotte – KOTA TOEA MAGELANG]

MENELUSURI JEJAK PEMBANGUNAN TANGSI MILITER MAGELANG (SEKARANG KAWASAN RINDAM) BAGIAN II

Standard

Deretan perumahan perwira yang menghadap jalan raya

Tahun 1886, sebagian markas Batalyon di kawasan Tangsi Magelang sudah dapat diselesaikan. Tahap selanjutnya adalah membangun perumahan perwira di sepanjang pinggir jalan raya (sekarang jl. A.Yani). Rumah-rumah untuk perwira itu terdiri dari dua deretan, satu deret menghadap jalan raya dan satu deret yang lain membelakanginya, menghadap lapangan. Selain itu Rumah Sakit untuk tentara juga dibangun. Bangunan-bangunan rumah sakit yang pokok dapat diselesaikan tahun 1891.. (sumber Foto: Printen Kabinet Leiden, KITLV)

Tanggul-tanggul batu di sebelah kanan itu semula saluran kali Manggis yang kemudian ditutup ketika saluran itu diperpanjang ke selatan melewati poncol


Rumah Sakit Tentara (sekarang dr. Soedjono) ketika selesai dibangun

 

Sisi kanan dari jalan menuju RST masih kosong. Bangunan putih di kiri adalah pos penjagaan dan dibelakangnya adalah perumahan untuk petugas rumah sakit

MENELUSURI JEJAK PEMBANGUNAN TANGSI MILITER MAGELANG (SEKARANG KAWASAN RINDAM) BAGIAN I

Standard

Perang Diponegoro (1825-1830) sebagian besar berlangsung di wilayah Kedoe.Bahkan di distrik Probolinggo, semua penduduk terlibat dalam pemberontakan itu (Pemberontakan adalah sebutan Belanda untuk perang Diponegoro). Selama lima tahun yang menghancurkan infrastruktur di Kedoe, pemerintah Belanda memobilisasi pasukan yang sangat besar. Bahkan Jenderal HM De Kock sampai bermarkas di rumah Residen Kedoe (Karesidenan) selama dua tahun (1928-1930).

Dimata pemerintah Belanda, Kedoe punya dua sisi. Satu sisi wilayah ini sangat subur dan banyak penduduknya, di sisi lain, wilayah Kedoe rawan pemberontakan. Oleh sebab itu, Belanda memutuskan tidak mengembalikan pasukan yang sudah ada di Kedoe selama perang Diponegoro. Oleh sebab itu kebutuhan akan tangsi dan rumah tinggal tentara menjadi perlu.

Gambar Situasi Rancana Pembangunan Tangsi Militer di Magelang (1880-1881) (Sumber: buku Nederlandsch Oost Indie (1882)

Hingga tahun 1870, tentara KNIL di Magelang mendiami barak-barak dari bambu dan sebagaian dari kayu. Baru pada tahun 1880, pemerintah mulai membangun tangsi dan rumah tinggal permanen untuk anggota KNIL. Bangunan yang direncanakan di kawasan itu sejumlah 50 bangunan yaitu untuk 4 Bataillons Infanterie (termasukr 1 depot-bataillon), dan 2 Batterijen Artillerie. Tetapi hingga tahun 1883 yang terbangun baru 8 gedung.

Rencana Pembangunan Markas di kawasan Tangsi Magelang 1880-1881 (Sumber : Ned.Oost Indie 1882)

Rencana Pembangunan Markas di kawasan Tangsi Magelang 1880-1881 (Sumber : Ned.Oost Indie 1882)

Yang menarik dalam rencana pembangunan kawasan tangsi ini adalah soal Manggis-Leiding atau saluran Kali Manggis. Banyak orang mengira bahwa Saluran Kota Leiding (Boog Leiding) mengambil air dari Kali Manggis yang melewati kawasan RIndam sekarang ini. Perkiraan itu persis terbalik. Saluran Manggis yang dikerjakan mulai tahun 1856 dan selesai tahun 1870 adalah saluran dari bendung kali Elo di desa Manggis (Pleret), melewat kawasan rumah bupati (kabupaten), masjid kauman dan terus ke selatan (saluran ini adalah saluran Manggis yang benar). Saluran Kali Manggis yang melewati kawasan RINDAM, Poncol, Gelangan dan seterusnya justru dibangun untuk memenuhi kebutuhan air kawasan tangsi itu. Jadi saluran ini yang mengambil air dari Kota Leiding. Oleh sebab itu saluran ini dulunya disebut Tangsi Leiding. Oleh karena di Kedoe ada dua saluran irigasi yang bernama Tangsi Leiding, maka saluran yang melalui RINDAM ini kemudian ikut disebut sebagai Manggis Leiding. Hingga tahun 1882, saluran Kali Manggis yang baru ini berhenti di kawasan tangsi ini.

Melalui filter-filter tertentu, air dari Kali Manggis itu ditampung dalam sebuah watertorn dan dipakai untuk memenuhi kebutuhan air minum, mandi dan sanitasi kawasan tangsi.

[penyusun : Denmaz Didotte – KOTA TOEA MAGELANG]