Monthly Archives: January 2017

Peneliti Kembali Temukan Reruntuhan Candi Peninggalan Mataram Kuno di Magelang

Standard

Peneliti Kembali Temukan Reruntuhan Candi Peninggalan Mataram Kuno di Magelang

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Warga Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang mendadak digemparkan dengan penemuan sejumlah bebatuan, yang diduga merupakan reruntuhan candi.

Penemuan itu di sebuah lahan perkebunan di kawasan setempat.

Penemuan tersebut, berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Dwi Yatimantora, seorang Pemerhati Budaya dari Paguyuban Sastro Jendro Hayuningrat.

Pria yang dalam kesehariannya akrab disapa Tora itu, sebelumnya juga pernah menguak beberapa peninggalan purbakala lain di wilayah Magelang.

Salah satu yang terbesar tentu saja penemuan pemandian raja-raja, atau sering disebut sebagai taman sari, di Dusun Bendungan, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, pada kisaran bulan Okteber tahun lalu.

Sejak saat itulah, dirinya semakin intens dalam melakukan penelitian.

Tora mengatakan, penggalian di Dusun Andong, pada Rabu (18/1/2017), dilakukan berdasarkan informasi yang ia dapat dari sebuah prasasti, yang telah ditemukan sebelumnya.

Yaitu, Prasasti Salingsingan yang tertera di Candi Asu, di Desa Sengi, Kecamatan Dukun, serta Prasasti Tihang, di Kecamatan Srumbung.

“Jadi, dalam prasasti itu dituliskan, kalau raja Mataram Kuno terdahulu, pernah memberikan hadiah kepada para selir, berupa bangunan suci yang didirikan di daerah asalnya. Setelah kami telusuri, salah satunya ada di Dusun Ngandong ini,” katanya.

Di samping itu, lanjut Tora, selain menggambarkan bangunan suci, dalam dua prasasti tersebut, dijelaskan juga tentang tanah dan persawahan perdikan, atau bebas pajak.

Dari informasi yang sama pula, ditemukan bebatuan berbentuk Yoni di Dusun Kwayuhan dan Tegal Surat, lumpang dan lesung di Dusun Ndemo, serta bebatuan yang diduga merupakan reruntuhan candi, di Dusun Gintur.

Ketiganya terletak di Desa Kalibening, Kecamatan Dukun.

Sebelum melakukan penggalian di sebuah perkebunan yang terletak di Lereng Gunung Merapi itu, Tora terlebih dulu menyisir, sekaligus survei di beberapa area di Dusun Ngandong.

Beberapa kali menemui kegagalan, usaha Tora akhirnya membuahkan hasil ketika menggali sebuah gundukan yang sudah lebih dulu dicurigainya.

“Sebelum survei kami sudah memohon izin kepada Kepala Dusun (Kadus). Sewaktu saya bersama tim hendak melakukan penggalian pun beliau juga turut mendampingi,” tuturnya.

Akhirnya, penggalian dilakukan setelah mendapat restu dari sang pemilik tanah, Sutopo, yang merupakan warga setempat.

Dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam penggalian, sampai reruntuhan candi seperti yang tertuang dalam prasasti itu ditemukan, di kediaman kurang lebih satu meter.

“Ada sekitar 15 bongkahan yang kami temukan. Tidak tersusun rapi, posisinya sudah berserakan. Kemungkinan merupakan pecahan dari bagian selasar candi. Kami menduga, radius 50 meter dari titik ini, masih ada bebatuan serupa,” cetusnya.

Menurut Tora, jika dilihat dari bentuk dan teksturnya, bangunan tersebut merupakan candi Hindu, peninggalan kerajaan Mataram Kuno.

Kini, sembari menunggu tindak lanjut dari pemerintah, bebatuan tersebut, telah dipasangi garis polisi, guna menghindari perbuatan oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Sementara itu, Kadus Ngandong, Suratno, memaparkan jika penemuan semacam itu baru sekali ini terjadi di wilayahnya.

Pria 58 tanun tersebut mengaku kaget, karena tidak ada satupun warganya yang pernah menemukan batu sejenis.

Padahal, kawasan itu merupakan lahan perkebunan yang setiap hari digarap.

“Lahannya milik Pak Topo, selama ini dipakai untuk menanam cabai. Tapi, belum pernah ditemukan bebatuan semacam itu,” tandasnya.

Pascapenemuan, Suratno lantas melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa Ngargomulyo untuk melakukan tindak lanjut.

Ke depannya, ia memiliki harapan agar kawasan ditemukannya bongkahan batu yang diduga merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno tersebut, dapat menjadi objek wisata sejarah.

“Pemilik lahan mengaku tidak keberatan kalau nanti bakal dilakukan penggalian tahap berikutnya. Sebab, kalau bisa menjadi tempat wisata, secara otomatis, perekonomian warga pun dapat terangkat,” pungkas pria yang sudah 11 tahun menjabat sebagai Kadus itu. (tribunjogja.com)

MUSEUM BPK RI DI MAGELANG DIRESMIKAN

Standard

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2017/01/d52a5-img_3878.jpg?w=652

MAGELANG – (Media Rakyat). Berdasarkan Surat Penetapan Pemerintah 1946 No. 11/Oem, BPK didirikan pada 1 Januari 1947. Sebagai Ketua BPK yang pertama diangkatlah R. Soerasno, Dr. Aboetari sebagai anggota, dan Djunaedi sebagai Sekretaris BPK. Tempat kedudukannya untuk sementara di Magelang, Museum BPK diresmikan pada 4 Desember 1997 , luas bangunan yang digunakan 163,80 meter persegi. Kemudian mengalami pengembangan pada tahun 1999, luasnya menjadi 260,16 Meter persegi.

Pada tahun 2016 , dengan memperhatikan tren Museum Post –Modern, Museum BPK kembali mengalami pengembangan dan perluasan . bahkan luasnya bertambah , sebagian gedung kantor Bakorwil 2 Kedu dan Surakarta di hibahkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk pengembangan museum, sehingga saat ini luas museum BPK mencapai 3.880 meter persegi .

Kini Museum BPK dengan tagline BPK Pengawal Harta Negara dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum BPK, pengelolaannya berada di Bawah Biro Humas dan Kerjasama Internasional BPK, itulah sejarah singkat tentang BPK dan Museum BPK serta perkembangannya.

Ini terlihat pada acara peresmian Renovasi Museum BPK dan Peluncuran Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) 2017 serta Aplikasi Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (SIPTL), Senin (9/1) di Komplek Museum BPK , Magelang.

Museum BPK tersebut diresmikan oleh Wakil Ketua BPK Sapto Amal Damandari, turut mendampingi Gubernur Jawa Tengah Gajar Pranowo, Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Rukma Setyabudi, Walikota Magelang, Sigit Widyionindito, Bupati Magelang, Zaenal Arifin dan mewakili Auditor Utama BPK, Bahtiar Arif, acara juga dihadiri keluarga besar dari pimpinan BPK periode sebelumnya.

70 tahun BPK RI berdiri adalah untuk memastikan uang Negara dipergunakan dan dipertanggung jawabkan bagi kemakmuran rakyat, BPK juga mengalami dinamika kelembagaan organisasi dan profesi untuk dapat mengawal harta Negara seperti yang diungkapkan oleh Wakil Ketua BPK Sapto Amal Damandari “ Komitment BPK RI mengembangkan Museum adalah sebagai perwujudan menjaga kelestarian warisan pendahulu bangsa dan mengajak semua komponen bangsa untuk ikut mengawal harta yang menjadi amanah bersama ” ungkap Sapto

“ Museum ini juga bisa dijadikan tempat untuk mengetahui sejarah dan nilai ke BPK an , media pelestarian nilai budaya bangsa dan destinasi Wisata yang mendidik public mengenai arti penting lembaga pemeriksa dalam tatanan Negara” Imbuh Sapto.

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara ( SPKN ) tahun 2007 setelah 10 tahun digunakan sebagai standar pemeriksaan perlu disempurnakan, yang semula perkembangan standar dari berbasis pengaturan detail ( Rule – based Standards ) menjadi pengaturan berbasis prinsip ( Principle – based Standarts). “ Kini dengan Sistim Informasi Pemantauan Tindak Lanjur (SIPTL) menjadi transparan dan Akuntael.” Ungkap Sapto pada saat menjelaskan kepada audiens tentang perubahan system yang digunakan oleh BPK.

“ Dengan SIPTL ada imbal balik kepada entitas yang selama ini telah mendukung e – Audit sehingga meningkatkan sinergi antara BPK dengan entitas, ini merupakan hasil dari reformasi birokrasi sebagaimana Perpres No. 81/2010 tentang Grand Design RB 2010 – 2015.” Tambah sapto.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Gajar Pranowo menyatakan wisata ini mendorong wisata yang lebih edukatif.

Terkait dengan SIPTL Ganjar mengungkapkan bahwa kita dituntut makin transparan “ Kita para penyelenggara Negara diminta untuk menandatangain Pakta integritas, kita manfaatkan system ini semuanya untuk perbaikan” pungkas Ganjar di sela sela menyampaikan sambutan

Kota Tegal, selain sebagai kota awal berdirinya Sekolah Angkatan Laut (SAL). Juga merupakan cikal bakal terbentuknya korps Marinir Angkatan Laut, 15 November 1945 dengan nama Korps Armada IV ALRI yang saat itu bermarkas di tegal. Tanggal 15 November 1945 selanjutnya dijadikan sebagai hari lahir Korps Marinir.

Balai Kota Lama awalnya merupakan Kantor Residen, dibangun tahun 1729-1898, pernah menjadi pangkalan IV ALRI tanggal 11 Oktober 1945 dan kantor Walikota (Balaikota) dan sekarang gedung DPRD.

monumen Bahari selain juga perwujudan penghargaan kepada para pendahulu kita yang telah meletakkan dasar sektor Kebaharian di Kota Tegal, Melihat begitu pentingnya arti sejarah maka di Kota Tegal direncanakan pada tahun 2017 akan berbenah dengan menata Museum Bahari

menghadiri acara Peluncuran Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) 2017 serta Aplikasi Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (SIPTL), Walikota Tegal, KMT. Hj. Siti Masitha Soeparno, Plt. Sekda Kota Tegal, Dyah Kemala Sintha, SH, MH, Plt. Inspektorat Kota Tegal, Ir Nur Effendi

Dikutip dari Walikota Tegal, KMT. Hj. Siti Masitha Soeparno, Plt. Inspektorat Kota Tegal, Ir Nur Effendi menyatakan bahwa Pemerintah Kota Tegal menyambut baik acara tersebut mengingat pentingnya sejarah “ Kota Tegal akan dibikin museum bahari yang merupakan cikal bakalnya Angkatan Laut ( TNI AL ) sepertihalnya cikal bakalnya museum BPK di Magelang.” Ungkap Nur Effendi.

“ Ini akan dilanjutkan dengan pembicaraan dari Konsultan dari Universitas Indonesia untuk melaksanakan kajian kajian tentang museum bahari, 2017 diharapkan sudah bisa dilaksanakan” tambah Nur Effendi.

Berkaitan dengan SIPTL Kota Tegal juga sudah menyiapkan dengan tindak lanjut MOU penerapan SIPTL secara online “ Mou SIPTL akan dilakukan dalam waktu dekat oleh Walikota Tegal dengan BPK.” Ungkap Nur Effendi

Kesiapan ini juga dilakukan Inspektorat Kota Tegal dengan menyiapkan sarana dan prasarana baik perangkat lunak, perangkat keras maupun kesiapan Aparaturnya.

“ Kita sudah Siap dan Harapannya kita mendapatkan kategori WTP.” Pungkas Nur Effendi. (Daryani/MR/99).

sumber : http://www.mediarakyat99.com/2017/01/museum-bpk-magelang-diresmikan.html

Klaas van Wijngaarden – Java 7 maart 1942

Standard

Mijn eerste bericht gaat over mijn vader –Nicolaas Lourens (Klaas) van Wijngaarden– die begin maart 1942 als krijgsgevangene in een jappenkamp terecht kwam.

Zaterdag 7 maart 1942 werd voor mijn vader – Klaas van Wijngaarden – een dramatische dag door de gedwongen overgave van het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) aan Japan. De feitelijke overgave van heel Nederlands-Indië was op 8 maart 1942. Met het brute einde van zijn vrijheid hield ook zijn bestaan als trots KNIL militair op in het land waar hij van hield. Toen was hij bijna 32 jaar (* 1910) en getrouwd met Augustina Partina (*1918). Hun zoon Cornelis, mijn halfbroer, was 6 jaar (*1935).

img_0001-2

Mijn vader woonde begin 1942 in Magelang – midden Java. Magelang was een grote garnizoensstad met totaal ca. 50.000 inwoners. Zijn broer (ook KNIL militair) en zus die getrouwd was met eveneens een KNIL militair woonden er ook.

KNIL militairen woonden veelal met hun familie op het kampement. De drie maakten deel uit van het 2e bataljon Infanterie. Veel van de oude stenen KNIL gebouwen staan er nu nog. Op de ondergrond van de hedendaagse Googlekaart heb ik de plaatsen aangegeven waar zij toen woonden: Botton, de Molukkenstraat en de Van Heutszlaan. Het KNIL kampement lag binnen de groene cirkel met een diameter van ca.1500 meter.

Een andere informatieve stadskaart van een deel van Magelang staat in De geïllustreerde atlas van de Japanse kampen in Nederlands-Indië 1942-1945.

magelang-1942Verklaring:
A: Instructiebataljon (Kaderschool) Infanterie
B: Stichting Oranje-Nassau (weeshuis)
C: Van Daalenweg en Michielsweg
D: Mitrailleur Bataljon
E: Gevangenis
F: Militair hospitaal
G: Kampong Nanggoelang

Op 8 maart 1942 werd hij door de Jappen krijgsgevangen genomen. Dit bericht gaat over de kampen waar hij in krijgsgevangenschap heeft gezeten. Over het gevangenschap was mijn vader erg zwijgzaam. Vragen over het kamp- (over)leven wimpelde hij af met een korte zijwaartse afwijzende handbeweging met daarbij een licht geïrriteerde gezichtsuitdrukking en daaraan toegevoegd:”Dat is geweest” of eufemistisch “Dat was geen leuke tijd”. Hij bedoelde dan:”laten we het over iets anders hebben”. Hij werd nooit echt boos behalve, wanneer het Jappenkamp ter sprake kwam. De zwijgzaamheid over het Japanse krijgsgevangenschap zal velen bekend voorkomen. Op de praatstoel in gezelschap van oud Indiëgangers werd de kampervaring soms wel met elkaar gedeeld. Af en toe was het merkbaar dat hij door de kampen beschadigd was. Achteraf ben ik “blij” dat hij een klein beetje vertelde, al waren het slechts korte afgepaste zinnen, over de verschrikkelijke leefomstandigheden, het slechte eten, de beroerde medische zorg en het keiharde sadistische optreden van de Jappen.

Japanse Interneringskaart N.L.van Wijngaarden
Zijn interneringskaart is hier online te bekijken in het Nationaal Archief Den Haag. (In het databestand is zijn 2e voornaam Laurens. Officieel is het Lourens).

interneringskaart jappenkamp pa

Rechtsboven op de voorkant van de kaart staat Java I. Java was verdeeld in 5 kampdistricten: Java Main Camp, Java I, Java II, Java III en Java IV. Klik hier voor het volledige overzicht van kampen op Java. Op dit overzicht staat linksboven BUNSHO. Deze krijgsgevangen kampen (branch camps) stonden onder directe supervisie van het Japanse leger.
Militairen (krijgsgevangenen) en burgers werden gescheiden geïnterneerd. Echter door overplaatsingen van krijgsgevangen naar andere kampen en vice versa is het soms onoverzichtelijk welk kamp in welke periode een burger- of krijgsgevangenkamp was. De locaties van burger- en krijgsgevangen- kampen zijn vermeld in de documentatie Japanese Civilian Camps.

Zijn kampnummer was 10502 (doorgehaald). Uit de kaart blijkt dat mijn vader te velde gevangen is genomen. De kaart heeft hij zelf ingevuld. Hoewel ik zijn handschrift goed ken is het me niet duidelijk wat er in het vakje Place of Capture over de plaats van gevangenneming staat. Hij werd na gevangenneming getransporteerd naar Bandoeng Tjimahi. Tjimahi viel onder Bunsho Java I en bestond uit 5 gevangenenkampen: 4e en 9e Bataljon, Bergartillerie, Treinkampement, Baros 5 en Baros 6. Van 1942 tot 1944 was dit kamp voor krijgsgevangenen. In 1944 werden deze overgeplaatst naar onder andere LOG Bandoeng. Vanaf 1944 was Bandoeng Tjimahi een kamp voor burgers. Omdat er geen informatie over een transport naar elders staat bleef hij (waarschijnlijk) op Java. Veel krijgsgevangenen die op Java achterbleven kwamen terecht in kamp LOG Bandoeng.

Op de website van Henk Beekhuis staat een namenlijst van dit kamp, gedateerd 15 augustus 1945. Hierop zie je de naam van mijn vader (N.L. van Wijngaarden). De volledige namenlijst van krijgsgevangenen op Java is aanwezig in het Nationaal Archief in Washington.  Op pagina 156 staat inderdaad de naam van mijn vader.
java-camp-page-156
Daarmee staat wel vast dat hij gedurende de hele Japanse bezetting op Java heeft gezeten. De route van eventuele overplaatsingen naar andere kampen op Java is niet te achterhalen. Hij werd bevrijd uit kamp LOG Bandoeng. Dat wil niet zeggen dat hij al die tijd in de regio Bandoeng verbleef. Interne transporten langs kampen op Java werden meestal niet vermeld op de kaart.
Op 15 augustus 1945 capituleerde Japan. Op de achterkant van de kaart staat onderaan dat hij op 31 oktober 1945 aan de geallieerden werd overgedragen. Zijn bevrijding kwam dus pas 10 weken na de capitulatie. In de Geïllustreerde Atlas van de Japanse kampen in Nederlands-Indië staat dat alle mannen die in LOG Bandoeng gevangen zaten, eind augustus 1945 zijn overgebracht naar kamp Bandoeng Tjihapit. Mogelijk heeft mijn vader de laatste maanden – vanaf de Japanse capitulatie tot zijn bevrijding – in kamp Tjihapit gezeten. Dit blijkt echter niet uit de interneringskaart.

De enige tastbare herinnering uit de kampen is een stel van twee aluminium etenspannetjes met – in slagletters – zijn naam en militair stamboeknummer 87125. De rest is gekerfd of gekrast. Behalve de slagletters is zijn naam nog twee keer ingekerfd. Op de bodem van het grote pannetje heeft hij de naam J. van Pelt en een paar brandende kaarsen met kandelaar gekerfd.

Etenspannetje oliemansIn de collectie kamptekeningen van het Museon bevindt zich ook een etenspannetje. Deze is online te zien in de beeldbank van het geheugen van Nederland. Een ander bekend etenspannetje uit het Jappenkamp is afgebeeld op de kaft van het boek: Het pannetje van Oliemans, samengesteld door C.van Heekeren e.a.

Bronnen:
De websites van Henk Beekhuis bieden veel waardevolle informatie over de krijgsgevangenkampen.
Bert Immerzeel heeft hulp geboden de oude Nederlands-Indische straatnamen in Magelang terug te vinden.

– Japanse interneringskaarten, www.gahetna.nl
Stamp List: List of Stamps, Symbols in Japanese in POW Cards
– Kenniscentrum Bronbeek, www.defensie.nl
– Indië deel 11 a en b, L. de Jong
– Koninklijk Nederlands Instituut voor de Tropen (KIT), www.KIT.nl
– Geïllustreerde Atlas van de Japanse kampen in Nederlands-Indië 1942-1945 (deel 1 en 2), J. van Dulm et al.
– Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie (NIOD), www.NIOD.nl
www.japansekrijgsgevangenkampen.nl , Henk Beekhuis
www.hetgeheugenvannederland.nl
– Prisoner Of War research, www.powresearch.jp
List of All Japanese Prisoner Of War (POW) Camps, www.mansell.com
– Nationaal Archief Washington, www.archives.gov
– Kaarten Nederlandse kolonies, Bibliotheek universiteit Leiden
Vertaling straatnamen Ned. Indisch – Indonesisch
Japanse burgerkampen
– Privearchief

sumber : https://schoestervanwijngaarden.wordpress.com/2015/03/30/java-7-maart-1942-deel-1/

 

DJELAJAH DJALOER SPOOR 5 BERSAMA KOTA TOEA MAGELANG

Standard

Foto Ryan 'Corleone' Adhyatma.

Belakangan ini banyak teman-teman pecinta kereta api terutama pecinta jalur mati yang menghubungi saya baik melalui pesan singkat maupun surat elektronik yang menanyakan kapan blusukan lagi? Boleh ikut gabung blusukan tidak? kok blognya sudah tidak di update lagi? Dan beberapa pertanyaan lainnya yang masuk ke saya yang berkaitan dengan blusukan jalur mati kereta api. Maklum saja, sudah tujuh bulan ini saya vakum dari blusukan jalur mati kereta api karena beralih blusukan ke pabrik gula (suiker fabriek).

Diawal tahun 2017 ini, kebetulan Komunitas Kota Tua Magelang (KTM) kembali mengadakan event yang bertajuk Jelajah Jalur Spoor yang kelima kalinya. Sebenarnya agenda rutin KTM ini sedikit terlambat dari jadwal awal yang biasanya diadakan di bulan September yang bebarengan dengan ulang tahun kereta api Indonesia. Ini adalah ketiga kalinya saya mengikuti event ini sejak tahun 2014.

Sedikit mengingat kembali sejarah perkeretaapian di Kota Magelang, kota yang berjulukan Kota Sejuta Bunga ini merupakan salah satu kota penting dan tua yang ada di Indonesia. Penting karena Magelang merupakan salah satu jalur perlintasan strategis antara Semarang dan Yogyakarta. Tua karena kota yang terkenal dengan Candi Borobudurnya ini telah berusia lebih dari 1000 tahun. Peninggalan-peninggalan arkeologi dan purbakalapun cukup menjadi bukti bahwa Kota Magelang merupakan wilayah yang sangat penting sejak dulu kala.

Pembangunan jalur kereta api di Magelang dimulai saat pemerintah kolonial Hindia Belanda telah berhasil menyelesaikan jalur kereta api dari Ambarawa hingga Secang yang pembangunannya telah dimulai di akhir abad 19. Barulah sekitar tahun 1898 jalur tersebut kembali dilanjutkan hingga ke Magelang yang berakhir di Yogyakarta. Bagi pemerintah Kolonial Hindia Belanda, Magelang merupakan kota yang cukup penting. Disana banyak terdapat hasil pertanian dan perkebunan serta lokasinya yang strategis. Iklim di Magelang yang sejuk membuat banyak masyarakat Eropa kepincut untuk menetap di kota tersebut. Tak ayal memang jika di Magelang banyak dijumpai bangunan-bangunan peninggalan kolonial Hindia Belanda.

Pembangunan jalur kereta api di Magelang tentunya sangat berdampak bagi perkembangan kota. Mudahnya sarana angkutan dan distribusi barang menjadikan Magelang menjadi kota yang cukup ramai kala itu. Banyak industri yang berdiri dan tumbuh pesat. Seiring berjalannya waktu dan majunya infrastruktur serta sarana transportasi, kereta api di Magelang lambat laun mulai di tinggalkan oleh masyarakat. Jalur kereta yang bersisihan dengan jalan raya membuat kereta berjalan lambat. Pada dekade 1970-an, kereta api di Magelang mulai berada di ujung hayatnya. Kereta api yang pada masa itu berada di bawah naungan Djawatan Kereta Api (DKA) masih melayani perjalanan namun sepi penumpang.

Akhirnya pada tahun 1976 kereta api di Magelang menemui ajalnya. Hal ini merupakan dampak dari ditutupnya beberapa jalur dari Kedung Jati – Ambarawa – Secang – Temanggung – Parakan. Meskipun kereta api di Magelang telah mati puluhan tahun lalu, namun beberapa sarana pendukung perkeretaapian masih bisa kita temui di beberapa tempat yang seolah menjadi pengingat bahwa kota yang berhawa sejuk tersebut pernah dilalui ular besi yang menyemburkan asap hitam legam.

Berdasarkan sejarahnya yang panjang itulah Kota Tua Magelang selaku komunitas pecinta sejarah secara rutin mengadakan agenda jelajah spoor yang bertujuan untuk mengingatkan kembali akan keberadaan kereta api di Kota Magelang. Pada event kali ini lokasi jelajah yang diambil adalah jalur dari Stasiun Mertoyudan hingga Stasiun Blabak. Sebagai informasi bahwa antara Stasiun Mertoyudan hingga Stasiun Blabak terdapat dua stasiun yakni Stasiun Japonan dan Stasiun Blondo. Hal ini merujuk dari peta lawas buatan Hindia Belanda.

Sebagai informasi tambahan yang saya baca dari beberapa sumber, didalam istilah pemberhentian kereta api pada jaman dahulu terdapat beberapa penamaan. Nama-nama tersebut diantara adalah Stopplas, Halte, dan Stasiun. Stopplas adalah pemberhentian kereta api yang pada umumnya tidak memiliki bangunan. Stopplas biasanya hanya berupa tanah lapang kecil tempat naik turun penumpang dengan papan nama yang tertancap sebagai penanda. Sebagai contoh, stopplas banyak dijumpai di Kota Semarang pada jalur tram milik SJS antara Jomblang hingga Pindrikan. Didalam peta kolonial Hindia Belanda, stopplas bisanya ditandai dengan huruf (s)

Istilah halte digunakan untuk menyebut pemberhentian kereta api dengan bangunan yang kecil atau sederhana atau bahkan tak memiliki fisik bangunan sama sekali. Halte biasanya tediri dari 1 hingga 2 jalur kereta. Sebagai contoh: Halte Gayam Sukoharjo (tanpa bangunan), Halte Wonosari Klaten (Percabangan PG Wonosari), dan Halte Blabak Magelang. Didalam peta kolonial Hindia Belanda, halte bisanya ditandai dengan huruf (h). Semenjak berada dibawah kekuasaan Djawatan Kereta Api (DKA) istilah stopplas dan halte dihapus dan diganti dengan nama stasiun, namun yang membedakan adalah kelasnya.

Memulai Jelajah

Event jelajah spoor yang kelima ini diadakan pada hari Minggu 15 Januari 2017. Perasaan cemas kala itu sempat terbesit dalam hati karena beberapa hari sebelum hari H cuaca sangat tidak bersahabat karena curah hujan yang sangat tinggi. Rasa kawatir semakin bertambah tatkala mendapat kabar dari rekan di Magelang bahwa minggu pagi di Magelang masih diwarnai hujan gerimis. Sayapun hanya bisa berharap semoga cuaca bisa bersahabat dengan agenda kami kali ini.

Tepat pukul tiga pagi saya berangkat dari Sragen tempat domisili saya menuju Kota Magelang. Beruntung sekali saya bisa mendapatkan bus yang langsung mengantar saya ke Kota Magelang, meskipun harus membayar agak mahal karena kondektur yang salah menghitung tarif saya.

Berhubung jalanan sepi karena di guyur hujan serta supir yang melaju dengan agak sedikit ngebut, hanya 2,5 jam saja waktu yang saya butuhkan untuk sampai di Kota Magelang. Kurang lebih pukul setengah enam pagi saya sudah sampai di titik kumpul yakni di PKL Mertoyudan. Saat tiba di lokasi kumpul suasana masih begitu sepi. Hanya pedagang makanan yang sibuk menyiapkan menu makanannya yang mendominasi aktivitas disana. Peserta jelajah pun belum tampak ada yang hadir. Maklum saja panitia menjadwalkan waktu kumpul mulai pukul setengah tujuh hingga setengah delapan pagi. Sembari menunggu peserta lain, saya menyempatkan untuk mencicipi soto Mertoyudan sembari bercakap-cakap dengan peserta lain yang sudah hadir. Cuaca pagi itu masih sedikit mendung dan gelap. Namun apa mau dikata, jelajah harus tetap jalan.

Waktu mulai beranjak siang, satu persatu peserta jelajahpun mulai berdatangan. Saya pun segera melakukan registrasi ulang dan membayar biaya akomodasi selama acara berlangsung. Biaya jelajah kali ini cukup murah, hanya dengan Rp 20.000,- kita sudah mendapatkan snack dua kali, makan siang, dan transport dari titik finish ke titik awal. Inilah yang menjadi alasan kenapa event-event di Kota Tua Magelang itu begitu menarik. Dengan biaya minimal kita bisa mendapatkan fasilitas maksimal, ditambah dengan acara yang ditata sedemikian apiknya membuat banyak orang selalu ketagihan.

Peta Jalur Jelajah Sumber: kitlv.nl

Pengarahan dari Panitia

            Waktu menunjukkan pukul delapan tepat, jelajahpun kami mulai. Tujuan pertama kami adalah Stasiun Mertoyudan. Jarak dari titik kumpul dengan Stasiun Mertoyudan tidaklah jauh, mungkin hanya sekitar 50 meter saja. Stasiun Mertoyudan terletak di Jalan Mayor Jenderal Bambang Sugeng dan terletak persis disamping jalan raya. Bentuk bangunannya yang lawas serta berornamen khas stasiun DKA membuat stasiun ini mudah sekali dikenali.

Stasiun Mertoyudan dibangun pada tahun 1898 oleh perusahaan swasta kereta api Hindia Belanda Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pada masa kejayaannya, stasiun ini ramai digunakan masyarakat sekitar yang hendak bepergian ke Yogyakarta maupun Semarang. Emplasemen stasiun ini menghadap ke jalan raya. Bekas relnya pun sudah tidak bisa dijumpai lagi akibat tertutup trotoar dan aspal jalan raya. Didepan bangunan stasiun masih tertancap wesel yang dulu digunakan untuk operasional stasiun. Selain itu diseberang jalan kita juga masih bisa menjumpai bekas rumah dinas kepala Stasiun Mertoyudan.

Didepan bangunan stasiun, peserta jelajah khidmad mendengarkan cerita dan informasi yang disampaikan oleh panitia mengenai sejarah Stasiun Mertoyudan pada masa lalu. Stasiun ini ditutup pada tahun 1976 karena sepinya penumpang dan kalah bersaing dengan angkutan jalan raya. Dari Stasiun Mertoyudan perjalananpun kami lanjutkan kembali.

Peserta Menuju Stasiun Mertoyudan

Peserta Jelajah di Depan Stasiun Mertoyudan

Penjelasan dari Panitia Mengenai Sejarah Kereta Api di Magelang

Bekas Wesel Stasiun Mertoyudan

Rumah Dinas Kepala Stasiun Mertoyudan

Bangunan Stasiun Mertoyudan

Stasiun Mertoyudan Tempo Dulu Sumber: De Tuin Van Java

Beranjak dari Stasiun Mertoyudan, perjalananpun kami lanjutkan kearah Japunan. Kamipun menyusuri jejak bekas jalur kereta yang sekarang telah berubah menjadi jalan raya. Tak ada bekas jejak kereta api yang saya jumpai. Seluruh bekas rel telah tertutup trotoar dan aspal jalan raya. Kurang lebih 200 meter kamipun masuk ke perkampungan warga di Danurejo Japunan. Di tempat ini terdapat bekas rel yang sedikit menyembul dan berbelok masuk ke jalan kampung. Beberapa bekas tiang telegrafpun juga mulai saya jumpai.

Bekas Jalur kereta di Danurejo telah berubah menjadi jalan kampung. Bekas relpun sudah tidak banyak terlihat. Hanya tiang-tiang telegraf yang masih kokoh berdiri sebagai penanda bahwa disanalah dulu pernah ada jalur kereta api. Beberapa patok milik PT. KAI pun juga tampak tertancap disela-sela perumahan warga. Disalah satu pekarangan warga saya menjumpai sebuah bekas tiang sinyal yang masih tersisa tertutup rerimbunan pohon. Saya menduga bahwa itu adalah bekas sinyal Stasiun Mertoyudan.

Peserta Berjalan menuju Danurejo Japunan

Bekas Rel Berbelok Menuju Perkampungan

Bekas Jalur Kereta Masuk ke Perkampungan di Danurejo

Bekas Jalur Kereta yang Menjadi Jalan Kampung

Bekas Sinyal di Pekarangan Warga

Tak terasa perjalanan kamipun telah merangsek masuk kedalam Kampung Danurejo. Disana bekas jalur kereta api semakin tampak terlihat. Bekas-bekas jalur keretapun mulai banyak saya jumpai. Disisi lain, terdapat gundukan tanah yang merupakan railbaan jalur kereta yang masih terlihat jelas lengkap dengan besi rel yang berada diatasnya. Dibeberapa titik juga tampak bekas rel yang menggantung karena railbaan yang amblas tergerus air. Maklum saja, jalur tersebut sudah ditinggalkan 40 tahun silam.

Tak terasa setelah cukup lama berjalan menyusuri bekas jalur kereta, kamipun tiba di jalan raya Magelang – Yogyakarta. Di titik tersebut tampak rel menyembul keatas didepan sebuah warung milik warga atau tepatnya di depan gudang Bulog. Dari titik tersebut arah jalur rel berpindah ke kanan jalan menuju Blondo. Jika dilihat pada peta lawas milik Hindia Belanda, lokasi Stopplas Japunan berada di dekat persimpangan antara jalur kereta dengan jalan raya tersebut. Akan tetapi jejak Stopplas Japunan sudah tidak bisa ditemui lagi. Menurut Pak Muhti selaku penghuni Halte Blondo, Stopplas Japunan telah dihancurkan saat perang kemerdekaan oleh pejuang kemerdekaan.

Bekas Rel di Kampung Danurejo

Bekas Railbaan

Rel Kereta Dibelakang Rumah Warga

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2017/01/90413-20170115_090142.jpg?w=375&h=211

Railbaan yang Cukup Tinggi

Gambar dari Atas Railbaan

Railbaan yang Longsor

Rel yang Menggantung

Railbaan yang Dipotong untuk Jalan Kampung

Rel Mulai Berada Disamping Jalan Raya dan Perkiraan Area Stopplas Japunan

Perjalanan kami lanjutkan menuju Blondo. Kali ini jejak bekas jalur kereta api berada di sebelah kanan jalan dari arah Magelang. Perjalanan kami kali ini semakin menantang mengingat bekas jalur kereta telah berubah menjadi area persawahan. Selain itu hujan yang turun beberapa hari belakangan membuat jalan yang kami tapaki licin dan becek. Selama diperjalanan saya sudah tidak menjumpai bekas rel diarea persawahan, namun tampak beberapa patok milik PT. KAI yang tertancap di sela-sela rerimbunan persawahan sebagai penanda bahwa disanalah dulu jalur kereta berada.

Setelah cukup jauh menelusuri area persawahan yang menantang, kamipun tiba di sebuah perkampungan warga. Disana bekas jejak jalur kereta api sedikit mulai terlihat. Seperti halnya di Danurejo, bekas jalur kereta api disini telah berubah menjadi jalan kampung. Beberapa railbaan pun masih tampak jelas disana. Bahkan beberapa potong besi rel keretapun masih bisa saya jumpai.

Peserta Mulai Menyusuri Area Persawahan

Bekas Jalur Kereta yang Menjadi Area Persawahan

Patok Milik PT. KAI

Jalur Kereta yang Telah Menjadi Jalan Kampung

Bekas Rel Kereta Menuju Halte Blondo

Perjalanan kamipun akhirnya tiba di Halte Blondo. Disana panitia sudah menyiapkan pengganjal perut berupa makanan tradisional dan minuman bagi peserta jelajah. Sayapun tak menyia-nyiakan waktu tersebut untuk melepas lelah. Di Halte Blondo kedatangan kami disambut oleh penghuni dari Halte Blondo yaitu Bapak Muhni Atmaja. Beliau adalah salah satu saksi sejarah perkeretaapian di Kota Magelang. Di depan rumah beliau yang merupakan bekas Halte Blondo, beliau berkisah mengenai sejarah kereta api di Magelang dan peristiwa kecelakaan kereta api yang pernah terjadi didekat jembatan Kali Elo.

Stasiun Blondo merupakan stasiun non aktif yang terletak di Mungkid Magelang. Bentuk asli dari stasiun ini memang sudah sulit untuk dikenali, namun beberapa bagian bangunan stasiun masih mempertahankan keasliannya. Disamping bangunan stasiun masih terdapat rumah dinas yang dulu digunakan sebagai rumah dinas kepala stasiun. Bekas jalur kereta api di Blondo pun masih banyak yang bisa dijumpai. Besi-besi relpun masih banyak yang utuh, dan bekas jalur kereta kini digunakan sebagai jalan kampung oleh warga.

Halte Blondo

Rumah Dinas Halte Blondo

Peserta Jelajah Beristirahat di Halaman Sekitar Halte

Peserta Mendengarkan Penjelasan dari Bapak Muhni di Depan Halte Blondo

Peserta Jelajah Berfoto Bersama di Depan Halte Blondo

Bekas Jalur Kereta di Halte Blondo

Tampak Railbaan yang Mulai Terkikis

Bekas Jalur Kereta Diantara Perumahan Warga

Perjalanan kami lanjutkan menuju daerah Blondo Kalitan. Disana jejak jalur kereta api mulai sulit terlacak. Hanya plang-plang milik PT. KAI yang tampak terlihat dan menjadi bukti bahwa disekitar area itulah dulu jalur kereta api berada. Didaerah Blondo Kalitan sendiri, kondisi tanah sedikit berbukit-bukit dan bekas jalur kereta telah berubah menjadi saluran air dan hutan. Inilah alasannya kenapa jalur kereta di wilayah ini dibuat melengkung menjauhi jalan raya dan lebih rendah dari perumahan warga karena untuk menyesuaikan gradien tanah antara Blondo dengan Blabak.

Di Blondo Kalitan rombongan jelajah menyempatkan diri singgah di rumah salah satu saksi sejarah perkeretaapian di Magelang yaitu Mbah Komsin. Beliau adalah salah satu saksi hidup yang menyaksikan peristiwa kecelakaan kereta api di dekat Kali Elo. Rumahnya tidaklah jauh dari bekas jalur kereta api yang kini telah berubah menjadi saluran air. Sembari membuka memorinya Mbah Komsin bercerita kepada kami bahwa peristiwa kecelakaan kereta api yang pernah terjadi di dekat Kali Elo tersebut sangat mengerikan. Suara benturan antara dua kereta api yang terlibat kecelakaanpun bahkan sampai terdengar hingga rumahnya. Korban yang berjatuhan pada tragedi itupun juga banyak, tutur beliau. Dari cerita Mbah Komsin tersebut saya menjadi teringat pada tragedi Bintaro yang juga melibatkan dua kereta api yang saling bertabrakan dan menelan banyak korban jiwa.

Peserta Menuju Blondo Kalitan

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2017/01/a62f3-20170115_102859.jpg?w=272&h=153

Peserta Jelajah Menuju Rumah Mbah Komsin

Rumah Mbah Komsin

Peserta Jelajah Berfoto Bersama Mbah Komsin

Puas mendengarkan kisah dari Mbah Komsin, kamipun berpamitan dan kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami kali ini kembali memacu adrenalin. Kami berjalan menyusuri bekas jalur kereta yang telah berubah menjadi saluran air dan hutan yang rimbun. Kewaspadaanpun mutlak diperlukan. Kondisi tanah yang becek serta ancaman hewan liar pun perlu menjadi perhatian serius.

Disepanjang perjalanan kami menelisik lebatnya hutan, saya masih bisa menemukan beberapa bekas besi rel kereta api yang sedikit tertimbun tanah dan tertutup semak belukar. Maklum sudah 40-an tahun jalur ini mangkrak. Beberapa tiang telegrafpun tampak masih tertancap pada tempatnya.

Lokasi yang kami lalui ini memang letaknya lebih rendah dari pemukiman warga dan cenderung lembab dan sedikit gelap. Sempat saya membayangkan kala itu betapa indahnya jalur ini saat masih dilalui kereta api, pasti menyajikan pemandangan yang memanjakan mata. Saya juga merasa beruntung bisa blusukan hingga kepelosok seperti ini karena mungkin beberapa tahun lagi jalur ini akan berubah cerita mengingat rencana pemerintah yang akan mereaktivasi jalur kereta api dari Yogyakarta menuju Borobudur yang kemungkinan juga masih menggunakan jalur ini.

Peserta Jelajah Menelusuri Bekas Jalur Kereta di Blondo Kalitan

Bekas Tiang Telegraf

Bekas Rel Kereta

Bekas Jalur Kereta yang Berubah Menjadi Saluran Air dan Hutan

Suara deru kendaraan bermotor mulai terdengar ditelinga. Tak terasa perjalanan kamipun sudah tiba di tepi jalan raya. Penjelajahan kamipun mulai berpindah di samping jalan raya Mungkid – Yogyakarta. Kami sempat menyebrang jembatan Kali Elo dimana disana masih terdapat jembatan kereta api yang masih utuh.

Setelah menyeberangi Kali Elo, peserta jelajah kembali beristirahat sejenak disalah satu halaman rumah warga untuk melepas lelah. Tepat disamping titik kami beristirahat, merupakan lokasi kejadian tabrakan kereta api yang pernah terjadi di tahun 1943 silam. Agak horror memang, karena kejadian tersebut memakan banyak korban jiwa. Sayapun menyempatkan turun kebawah melihat langsung lokasi kejadian kecelakaan. Tiang telegraf dan bekas besi rel kereta pun masih tampak disana meskipun banyak yang tertutup semak belukar dan tanah. Saya juga sempat berfikir, untung kecelakaan kereta api saat itu tidak terjadi di atas jembatan Kali Elo yang hanya berjarak 50 meter dari lokasi kejadian. Bisa dibayangkan jika kecelakaan kereta terjadi diatas Jembatan Kali Elo, pasti akan lebih banyak menimbulkan korban jiwa lagi.

Peserta Jelajah Menuju Jembatan Kali Elo

Bekas Jembatan Kereta Diatas Kali Elo

Bekas Rel Kereta di Halaman Rumah Warga

Peserta Beristirahat di Sekitar Lokasi Kecelakaan Kereta Api Tahun 1943

Lokasi Kecelakaan Kereta Api Tahun 1943, Tampak Tiang Telegraf yang Masih Utuh

Kejadian Kecelakaan Kereta Api Tahun 1943. Sumber: Bagus Priyana

Bekas Rel Kereta yang Masih Tersisa

Foto Bersama Peserta Jelajah

            Hari mulai beranjak siang, perjalananpun kami lanjutkan kembali. Kali ini rute yang kami lewati adalah hutan kayu jati dan area persawahan. Berhubung bekas jalur kereta telah berubah menjadi saluran air dan semak belukar dan tidak memungkinkan untuk dilalui, maka peserta jelajahpun hanya bisa berjalan disamping bekas jalur kereta. Meskipun hari tidak terlalu terik kala itu, namun tenaga kami terasa cukup terkuras. Maklum medan yang kami lalui cukup menantang ditambah jalanan yang becek yang membuat kami harus tetap waspada selama diperjalanan.

Kamipun tiba diarea persawahan. Kali ini rute yang kami lalui adalah bekas railbaan jalur kereta menuju Blabak. Bekas railbaan tersebut kini dimanfaatkan warga sebagai jalan menuju ke ladang. Bentuknya pun masih utuh dan mudah untuk dikenali. Disepanjang perjalanan, tak satupun bekas rel yang saya jumpai. Yang tampak hanyalah beberapa tiang telegraf yang masih tertancap tegak serta patok milik PT. KAI sebagai penanda. Jika diperhatikan secara seksama, dibekas railbaan yang kami lalui ini sebenarnya masih banyak menyisakan batu ballast yang lazim ada di jalur kereta. Namun kebanyakan batu ballast yang ada sudah tertutup oleh tanah dan rumput.

Bekas Jalur Kereta yang Tertutup Semak Belukar dengan Talang Air Melintang Diatasnya

Talang Air yang Melintang Diatas Jalur Kereta

Bekas Jalur Kereta di Area Perkebunan Warga

Bekas Tiang Telegraf

Bekas Pondasi Kecil Jembatan Kereta Api

Bekas Railbaan

Peserta Jelajah Menerjang Semak Belukar

Tak terasa setelah cukup lama menelusuri persawahan dan semak belukar, perjalanan kami akhirnya tiba di jalan raya. Kami telah memasuki wilayah Blabak yang merupakan tujuan akhir dari penjelajahan kami. Sejenak kami beristirahat melepas lelah sebelum menuju Halte Blabak. Didekat lokasi kami beristirahat merupakan titik persilangan jalur kereta api, dimana jalur kereta yang semula berada di kanan jalan berpindah disebelah kiri jalan dari arah Magelang.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Halte Blabak. Sebelum tiba di lokasi halte, terdapat sebuah pabrik kertas dengan ukuran yang cukup besar bernama Pabrik Kertas Blabak. Sayang pabrik yang usianya sudah cukup tua tersebut kini dalam status pailit dan dijual. Menurut referensi yang saya peroleh, pada masanya saat kereta api masih melayani perjalanan di Magelang, terdapat percabangan jalur dari Halte Blabak menuju kedalam pabrik. Hal ini dikarenakan pabrik menggunakan jasa kereta api untuk pasokan bahan baku dan sarana distribusi hasil industrinya. Hal ini lazim terjadi dimasa lalu, dimana banyak industri-industri yang terhubung dengan jalur kereta api sebagai sarana distribusi barang.

Kurang lebih 100 meter dari Pabrik Blabak, kamipun tiba dilokasi bekas Halte Blabak. Kondisi halte memang sudah banyak berubah. Namun di sekitar bangunan halte kita masih bisa menjumpai bekas jalur kereta yang samar tertutup aspal. Diseberang jalanpun saya juga masih bisa melihat bekas bangunan rumah dinasnya. Halte Blabak kini dimanfaatkan sebagai warung makan.

Bekas Jalur Kereta Menuju Blabak

Pabrik Kertas Blabak yang Pailit

Bekas Percabangan Rel Disamping Halte Blabak dari Pabrik Kertas Blabak 

Bekas Halte Blabak dengan Rel yang Sudah Tertimbun Aspal Jalan Raya

Halte Blabak. Sumber: gethuk-magelang.blogspot.com

Rumah Dinas Halte Blabak

Beranjak dari Halte Blabak, perjalananpun kami lanjutkan ke garis finish yaitu Pemandian Mudal. Lokasinya kurang lebih 200 meter dari Halte Blabak. Dilokasi pemandian tersebut peserta jelajah menikmati suguhan makan siang yang telah disediakan oleh panitia dengan menu spesial tahu kupat Magelang. Sembari melepas lelah dan bersantap siang, para peserta dimanjakan dengan semilir angin dan segarnya air Pemandian Mudal. Menurut cerita, Pemandian Mudal sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Hal ini bisa dilihat dari bentuk bangunan yang ada disana. Namun sayang, pemandian yang sarat dengan nilai sejarah tersebut tampak kurang terawat dan terkesan kotor.

Bangunan Depan Pemandian Mudal

Kolam Pemandian Mudal

Dengan sampainya rombongan jelajah di Pemandian Mudal, maka berakhir pula jelajah jalur spoor pada hari itu. Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang, sayapun bergegas meninggalkan rombongan dan berpamitan dari rombongan untuk  kembali melanjutkan perjalanan kembali ke Sragen. Puas sekali rasanya hari itu. Banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan selama jelajah. Semoga tahun depan ada kesempatan untuk bergabung kembali di acara jelajah jalur spoor dengan pengalaman yang lebih seru dan menantang tentunya. Sampai jumpa di blusukan selanjutnya.

———————————————————————————————————————–

DIBUANG SAYANG

Peserta yang Penuh Totalitas

Om Telolet Om. By Setiya Heru

Masih Bersemangat.By Halim Santoso

(Bukan) Pasien BPJS Kesehatan. By Pak Widoyoko Magelang

Mulai Lelah. By Pak Widoyoko Magelang

Bersantai Ria. By Pak Widoyoko Magelang

Terlalu Lelah untuk Tersenyum. By Halim Santoso

3S (Solo – Sukoharjo – Sragen) by Setiya Heru

“TERIMA KASIH KEPADA KOMUNITAS KOTA TOEA MAGELANG”

————————————————————————————————————

PRIMA UTAMA / 2017 / WA: 085725571790 / FB, EMAIL: primautama@ymail.com / INSTA: @primautama

sumber : http://blusukanjalurmati.blogspot.co.id/2017/01/djelajah-djaloer-spoor-5-bersama-kota.html?m=1