Monthly Archives: February 2015

Hindari Kerusakan, Jubah Akan Ditempatkan Miring 45 Derajat

Standard

Jubah Pangeran Diponegoro adalah satu dari sekian koleksi di museum Bakorwil II Magelang yang cukup menarik perhatian. Jubah kebesaran itu tak hanya mewakili kekhasan busana sang pangeran, namun juga menjadi saksi sejarah perang Jawa hingga penangkapan Diponegoro.
SEBUAH jubah berwarna kecoklatan nampak mencolok di balik gantungan almari ruangan bernama “Kamar Pengabadian Diponegoro”. Jubah yang menurut petugas pemandu museum berukuran 162 sentimeter x 110 sentimeter itu menyimpan misteri dan perdebatan sejarah di beberapa kalangan. Bahkan jubah ini tidak ikut dipamerkan di pameran ”Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini” di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis lalu.
Misteri yang paling banyak menjadi pertanyaan adalah bercak-bercak kecoklatan yang melekat di jubah kebesaran itu. Beberapa diantaranya ada yang berpikir bahwa bercak itu adalah diduga bercak bekas darah saat Diponegoro memimpin perang Jawa atau Sabil dalam kurun waktu 1825 hingga 1830.
“Namun, itu bukan bercak darah. Hanya memang karena faktor usia sehingga ada bekas kecoklatan seperti itu,” ujar Kozin, salah satu pemandu museum Bakorwil II kepada Tribun Jogja, Senin (9/2).
Jubah yang sebenarnya berwarna krem putih itu kini semakin berwarna coklat. Di beberapa bagian ada lubang dan sobekan. Seperti di bagian dada kanan, dan bagian bawah kanan dan kiri, serta bagian belakang. Meski demikian, jubah yang kerap dikenakan Diponegoro itu seolah hidup karena nilai sejarahnya yang cukup tinggi.
Budi Suroso, pemandu lainnya mengatakan, jubah itu merupakan pemberian dari seorang kaisar China. Berbahan kain santung, jubah itu kemudian dikenakan Diponegoro memimpin perang sabil yang diawali tanggal 20 Juli 1985.
Dari sumber referensi lain, kala itu, Diponegoro selalu berpakaian layaknya pemuka perang Sabil, bergaya Arab. Yakni, mengenakan surban, jubah, dan baju putih. Busana ini mungkin saja diusulkan oleh penasehat Arabnya, Syeh Ahmad Al-Ansari yang berasal dari Jeddah.
Kisah di balik jubah berumur ratusan tahun itu juga menarik. Dari referensi itu menyebut, jubah tersebut dirampas saat penyergapan oleh Mayor AV Michiels di wilayah pegunungan Gowong, sebelah barat Kedu, 11 November 1829. Setelah perang, jubah dengan tepi brokat yang konon dijahit oleh gundik Chinanya disimpan putra menantu Basah Ngabdulkamil. Selama lebih seabad keluarga Diponegoro menyimpan jubah itu dan dipinjamkan permanen pada tahun 1970-an kepada Museum Bakorwil II.
Budi menjelaskan, perang yang berlangsung selama lima tahun itu merupakan perang terbesar dan menguras pundi-pundi keuangan Belanda saat itu. Belanda akhirnya membuat strategi untuk menangkap Pangeran Diponegoro dalam sebuah perundingan yang dilakukan di rumah Residen Kedu (sekarang bakorwil II) Magelang tanggal 25 Maret 1830.
Di situlah Pangeran Diponegoro ditangkap dan kemudian diasingkan ke Makassar hingga akhir hayatnya. Jubah kebesaran itu, ujar Budi juga dipergunakan untuk melakukan perundingan bersama Belanda di bawah pimpinan Jenderal De Kock.
“Bahkan, karena Diponegoro marah, ada bekas tanda kemarahan pada kursi yang dipakainya. Beliau marah karena Belanda sangat licik,” ujarnya sambil menunjukkan guratan kuku di bagian kursi tersebut.
Petilasan DIponegoro
Selain menyimpan jubah kebesaran Diponegoro, di ruangan tersebut juga terdapat beberapa macam barang petilasan Diponegoro. Seperti, bale-bale tempat salat Pangeran Diponegoro, selain itu ada empat kursi dan sebuah meja yang nampak sudah kuno dan kusam. Meja dan kursi itu merupakan tempat Pangeran Diponegoro berunding dengan Jendral De Kock dan didampingi dua ahli bahasa.
Kursi yang digunakan Pangeran Diponegoro itu ditempatkan khusus di lemari kaca dan ditutup kain putih. Menurut pemandu museum, penempatan kursi di lemari kaca itu untuk menghindari tangan jahil. Lantaran, banyak pengunjung yang mengambil potongan rotan dari kursi bekas Diponegoro yang kono dipercaya memiliki tuah.
“Agar tidak semakin rusak, kami menempatkannya di dalam lemari kaca. Adapun kain putih ini sudah lama menutupi kursi. Pembuatnya sudah meninggal dan hingga kini belum diganti,” ujar Budi.
Selain beberapa benda tersebut, terdapat tujuh gelas keramik Pangeran Diponegoro untuk minum tujuh  macam minuman seperti dingo bengle, dadap serep, kopi, teh, air putih, air putih matang, dan jahe. Diantara benda tersebut juga terdapat kendi kecil dan besar.
Sebuah kitab Ta’rib yang berumur ratusan tahun dengan tulisan huruf arab gundul atau aksara pegon juga ada di ruangan itu. Selain itu terdapat empat macam lukisan Diponegoro seperti karya Raden Saleh yang menggambarkan suasana penangkapan Diponegoro, lukisan Diponegoro dengan kudanya Kyai Gentayu, lukisan diri Diponegoro, serta lukisan Diponegoro saat berada di peperangan.
Mengkaji Perawatan
Kasubag Umum dan Kepegawaian Museum Bakorwil II Magelang, Ismun Winarno menjelaskan, pihaknya sejauh ini masih melakukan konsultasi pada Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jateng dan Balai Konservasi Borobudur (BKB) mengenai perawatan peninggalan Diponegoro tersebut. Pihaknya mengaku masih belum menemukan bahan kimia atau pengawet agar peninggalan seperti buku, jubah agar tidak rusak.
“Kami terus melakukan perawatan dengan pembersihan. Permasalahan sekarang, kami belum menemukan ada bahan kimia agar tidak rusak. Kami berkoordinasi dengan BPCB dan BKB untuk mengkaji bahan kimia yang membuat jubah agar tidak merusak warna atau keuletan bahan,” jelasnya.
Khusus untuk jubah, pihaknya berencana untuk tidak menggantung jubah pada hanger dengan posisi berdiri. Namun, akan ditempatkan secara miring dengan kemiringan 45 derajat, sehingga jubah tetap awet.
“Ini agar tidak rusak. Rencana tahun ini juga akan ada perbaikan gedung karena menjadi daya tarik dan menyimpan sejarah,” tandasnya. (Agung Ismiyanto)

 

Event KOTA TOEA MAGELANG “DJELADJAH MOENTILAN”

Standard

Muntilan, sebuah kota kecil di selatan Magelang ini ternyata menyimpan beribu sejarah. Tidak hanya peninggalan di jaman Hindu dan Budha saja, akan tetapi juga peninggalan dari masyarakat Tionghoa dan masa kolonial.

Kawasan Pecinan yang menjadi pemukiman Tionghoa menjadi nadi perekonomian dan perdagangan yang teramat penting. Sedangkan Kelenteng Hok An Kiong menjadi pusat budaya dan tempat ibadah bagi masyarakat Tionghoa yang memeluk Tridharma.

Tidak hanya itu, Muntilan juga menjadi tempat pendidikan dan pusat bagi penyebaran Misi yang di gagas oleh Van Lith. Sehingga menyebar dan berkembang di bumi Nusantara. Lalu, seperti apakah jejak-jejak sejarah yang masih dapat kita gali kini dari Muntilan tsb ?

#EVENT
Ayo ikuti event KOTA TOEA MAGELANG berikut ini :
– Nama Acara : DJELADJAH MOENTILAN [heritage walk/trail atau jalan kaki sejauh 2,5 km]

– Lokasi dan rute kunjungan : Pecinan – Kelenteng Hok An Kiong – Pasar Jambu – Kompleks Pasturan – Gereja Santo Antonius – Museum Misi Van Lith – Makam Kerkhoof.

#PADA
– Hari/tanggal pelaksanaan : Kamis Wage/19 Februari 2015
– Jam : 07.00 – 13.00 WIB
– Tempat Kumpul : Toko Oleh-oleh Endang Jaya Jl. Mayjen Bambang Sugeng Komplek Metro Square Metoyudan Magelang [timur jalan]

#KONTRIBUSI
– Kontribusi : Rp 15.000,- [lima belas ribu rupiah]
– Fasilitas : Makan siang di warung makan TEMPO DOELOE Muntilan, air mineral, makalah.

#Pendaftaran & #Info
– Pendaftaran ketik: MOENTILAN [spasi] Nama Anda,
– Kirim ke: 0857 2957 1921 [Bagus Priyana]
paling lambat hari Selasa 17 Februari 2015 jam 18.00 WIB.

Save history & heritage in Magelang !

#NB:
1. Peserta wajib memakai kaos/baju BERWARNA MERAH merah sebagai dresscode kegiatan dan wajib sarapan pagi dahulu. Memakai pakaian yang nyaman dan enak di pakai.

2. Di sarankan memakai topi dan membawa mantol/jas hujan/ payung. Kegiatan jelajah di lakukan dengan jalan kaki sejauh 2,5 km.

3. Rundown dan agenda acara :
– jam 07.00 – 07.45 : peserta wajib bersepeda motor/mobil dan kumpul di depan Toko Oleh-oleh Endang Jaya Jl. Mayjen Bambang Sugeng Komplek Metro Square Metoyudan Magelang [timur jalan] untuk daftar ulang peserta.
– jam 07.45 – 08.00 : briefing dari panitia.
– jam 08.00 – 08.30 : perjalanan menuju Muntilan, sepeda motor/mobil harap di parkir di Warung Makan TEMPO DOELOE Jl. Pemuda Barat Pucungrejo Muntilan.
– 08.45 – 09.00 : perjalanan menuju Pecinan dan Kelenteng Ho An Kiong di Jl. Pemuda Muntilan.
– 09.00 – 09.45 : kunjungan di Kelenteng Hok An Kiong Muntilan.
– 09.45 – 10.15 : perjalanan menuju Komplek Pasturan & Museum Misi melewati Pasar Jambu.
– 10.15 – 11.00 : kunjungan ke Komplek Pasturan dan Gereja Santo Antonius.
– 11.00 – 11.45 : Kunjungan ke Museum Misi
– 11.45 -12.00 : perjalanan menuju Makam Kerkhooff.
– 12.00 – 12.30 : perjalanan pulang menuju ke Warung Makan TEMPO DOELOE Pucungrejo Muntilan.
– 12.30 – 13.30 : makan siang di Warung Makan TEMPO DOELOE Pucungrejo Muntilan.
– 13.30 : selesai [waktu menyesuaikan situasi dan kondisi selama kegiatan].

4. Jaga ketertiban, keselamatan dan kebersihan selama kegiatan. Di larang membuang sampah sembaranga

 

Mengenal Ko Kwat Ie, Sang Raja Cerutu (Liputan DJELADJAH SANG RAJA TJEROETOE)

Standard

Mengenal Ko Kwat Ie, Sang Raja Cerutu (bagian pertama)

Meskipun pertumbuhan industri di Magelang tidak sepesat industri di kota-kota besar lainnya, namun jejak sejarah menyatakan, pada masa Kolonialisme Belanda, Magelang mempunyai industri yang tidak kalah penting, yaitu Pabrik Cerutu Ko Kwat Ie, yang sangat besar dimasanya.

 

Bersama rombongan DJELADJAH SEDJARAH SANG RADJA TJEROETOE, dari Komunitas Kota Toea Magelang, sebuah komunitas pelestari sejarah Magelang, pada hari Minggu pagi yang cerah, sekitar 50 orang menyusuri sebelah timur kawasan Pecinan Kota Magelang.

Tepat di Jl Tarumanegara terdapat bangunan megah dengan arsitektur gaya kolonial Belanda, menjadi salah satu tujuan utama dalam jelajah tersebut. Bangunan dengan luas tanah kurang lebih satu hektar tersebut adalah bekas pabrik pengolahan cerutu milik Ko Kwat Ie.

“Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabrieken” adalah nama resmi pabrik tersebut, yang merupakan pabrik legendaris spesialis memproduksi cerutu. Pabrik yang berdiri sejak tahun 1900 dan berlokasi di Pawirokoesoeman Wetan/sekarang jalan Tarumanegara dan dengan kondisi fisk gedung masih tegak berdiri di sebelah timur kali Manggis, dimana gedung itu pernah di pakai untuk sekolah tiga bahasa.

Adapun produk dari Pabrik ini adalah cerutu yang bermerk Panama-Ster, Deli-Havana, Missigit-Deli dan Carnaval. Produk tersebut ekspor ke Eropa. Termasuk dipasarkan sampai ke Bremen di Jerman. Pada puncak jayanya pada tahun 1927 dan 1928, Ko Kwat Ie memiliki 2-3 ribu karyawan, suatu jumlah pegawai yang sangat banyak saat itu.

Rombongan jelajah seakan dibawa ke masa lalu, oleh penuturan Andreas Candra Wibowo, adalah seorang generasi ke 4 keturunan dari Ko Kwat Ie. Dengan penuh semangat menjelaskan peran pabrik tersebut selain untuk memproduksi cerutu, ternyata pabrik itu juga turut membantu perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda.

“Dulu ketika ada operasi dari pasukan Belanda, banyak pejuangan kemerdekaan yang bersembunyi didalam pabrik, tepatnya dibawah tumpukan Tembakau, termasuk membuat persenjataan yang dipasok ke gerilyawan.

Ditambah Sekitar tahun 1930 pabrik itu pernah dijadikan penampungan pengungsi saat Gunung Merapi meletus hebat,” ucap Candra.

Proses produksi pabrik tersebut pada jamannya menggunakan mesin rokok yang tergolong modern. Namun pada tahun 1950an, mesin dijual satu persatu, dikarenakan kekalahan Belanda terhadap Indonesia, membuat eksport cerutu terhenti.

Kini ruangan mesin produksi rokok cerutu hanya berupa ruang kosong yang luas dialam pabrik, padahal dulu penuh dengan mesin produksi cerutu. Mesin tersebut mengolah bahan baku Tembakau, yang diambil dari Magelang dan sekitarnya, khususnya untuk Tembakau terbaik tetap dari daerah Temanggung.

“Memang saat itu dari cerutu hendak beralih ke rokok kretek, namun ada rasa kekawatiran rokok kretek kemasan pabrik tidak laku.

Sebab masyarakat kala itu banyak yang merokok melinting sendiri. Ternyata sekarang rokok kemasan pabrik malah paling laku dipasaran,” ungkap Candra.

Koordinator Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, menuturkan, pabrik cerutu Ko Kwat Ie, merupakan salah satu sasaran kunjungan jelajah, selain rumah Ko Kwat Ie yang berada di Jl Sri Wijaya dan makamnya di Gunung Tidar.

“Perjalanan jelajah ini kurang lebih menempuh jarak sekitar 4 km pulang pergi, dari titik awal berangkat di Alun-alun Kota Magelang hingga ke Gunung Tidar kemudian kembali ke titik start.

Yang jelas kegiatan ini bertujuan sebagai penambah wawasan bagi pecinta sejarah Magelang tentang jejak sejarah yang membanggakan bahwa Magelang pernah menjadi pemasok Cerutu terbaik dijamannya,” tutur Bagus.

PABRIK CERUTU. Komunitas Kota Toea Magelang dalam kegiatan DJELADJAH SEDJARAH SANG RADJA TJEROETOE, mengunjungi pabrik cerutu Ko Kwat Ie.

Mengenal Rumah Sang Raja Cerutu Magelang, Ko Kwat Ie (Bagian 2)

Magelang mempunyai banyak bangunan peninggalan era kolonial Belanda yang syarat akan sejarah. Salah satunya adalah rumah bergaya arsitektur kolonial terletak di Juritan Kidul Jl Sri Wijaya No 16 Magelang Tengah, dimana pemilik rumah tersebut adalah raja cerutu Magelang, yang bernama Ko Kwat Ie.

Rumah megah berhalaman cukup luas untuk ukuran bangunan di tengah kota tersebut, masih terlihat orisinil ornamen bangunan rumahnya, dari tegel lantai, daun pintu jendela, hingga plafon masih asli.

Secara kasat mata orang awam akan menilai pemilik rumah itu bukanlah orang sembarangan, sebab dijaman penjajahan teramat mampu membangun rumah semewah dan senyaman itu.

Benar saja, pemilik rumah tersebut adalah seorang pebisnis bernama Ko Kwat Ie, bergerak dalam bidang industri tembakau, dengan produk yang dihasilkan berupa cerutu dengan penjualan sampai ke benua Eropa, benar-benar cerutu yang berkelas.

Istimewanya lagi tidak hanya bangunan yang masih asli, tetapi juga perabotan dalam ruangan, kebanyakan merupakan peninggalan Ko Kwat Ie, berupa meja kursi, almari, termasuk perabot makan masih terjaga dengan baik.

Berkesempatan mengunjungi rumah Ko Kwat Ie, serasa memasuki lorong waktu kembali ke masa silam. Apalagi sambil mendengar penjelasan dari Andreas Candra Wibowo, generasi ke 4 Ko Kwat Ie yang bersemangat memberikan penjelasan ketika rombongan Komunitas Kota Toea Magelang berkunjung dalam kegiatan DJELADJAH SEDJARAH SANG RADJA TJEROETOE, Minggu (25/01).

“Luas tanah 1000 meter persegi, proses bangun sekitar tahun 1900an dengan arsitek dari Belanda hasilnya bangunan bergaya Eropa.

Dirumah ini banyak barang peninggalan yang masih asli, seperti bathup air panas, minyak lampu, plafon terbuat dari seng dengan motif tertentu, dan perabotan lainnya yang unik,” ucap Candra.

Seperti rumah bargaya Eropa kebanyakan, rumah tersebut mempunyai ruangan yang luas, terdiri beberapa kamar, ruang keluarga, ruang tamu, dapur dan lain-lain. Dengan plafon yang tinggi, ditambah ukuran pintu dan jendela yang besar, suasana klasik sangat terasa diruangan rumah tersebut.

Yang menarik rumah tersebut mempunyai ruangan bawah tanah atau bungker, sebagai tempat berlindung ketika ada serangan dari Belanda, dimana kala itu ketika sirene berbunyi datang serangan dari Belanda, maka orang yang berada didalam rumah itu bisa masuk kedalam bungker. Saat ini bugker itu berfungsi sebagai gudang.

“Karena masa itu dalam situasi perang, maka dibangun bungker, dulu diatas bungker ini banyak kantung pasir berisi air, yang bertujuan bila bom Belanda jatuh diatasnya apinya bisa segera padam.

Di bungker itu terdapat lubang kecil yang menghubungkan bagian atas bungker, sebagai tempat memasok makanan, untuk skenario terburuk bilamana Belanda membom bagian atas bungker sehingga orang didalam tidak bisa keluar, maka masih bisa selamat dengan pasokan makanan lewat lubang yang sudah disediakan,” papar Candra.

Terdapat juga alat pemadam api, yang masih tersimpan dengan baik. Berbentuk seperti lampu bolam, berisi cairan kimia, dengan cara penggunaan dilemparkan kearah api bila terjadi kebakaran. Termasuk meja kerja Ko Kwat Ie masih tersimpan rapi, dengan beberapa foto kegiatan Ko Kwat Ie menghiasi tembok-tembok ruangan utama.

Adapun pabrik cerutu Ko Kwat Ie, berada di Jl Tarumanegara, yang juga terlibat dalam sejarah perjuangan bangsa.

“Dulu pabrik cerutu ini sebagai tempat para pejuang bersembunyi dari operasi Belanda. Pabrik ini juga memasok senjata untuk pejuang. Termasuk menampung pengungsi bencana Merapi tahun 1930.

Pabrik mulai tidak berproduksi ketika Belanda sudah tidak mengekspor cerutu ke Eropa, dan mesin pengolah cerutu mulai dijual satu persatu pada tahun 1950. Dan saat ini pabrik sudah berpindah kepemilikannya,” ungkap Candra.

RUANG KELUARGA. Rombongan Komunitas Kota Toea Magelang melihat ruang santai keluarga Ko Kwat Ie sang raja cerutu dengan ornamen yang masih orisinil bergaya Eropa.

[penulis : Chandra Yoga Kusuma]