Dari Pembukaan Acara Pameran Magelang Tempo Doeloe 2017 : Keindonesiaan Pun Ada di Pasar Tradisional

Standard

Keindonesiaan Pun Ada di Pasar Tradisional

Personel panitia menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” saat pembukaan “Magelang Tempo Doeloe” bertajuk “De Passar” di Alun-Alun Kota Magelang, Jumat (12/5) malam. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Hari Atmoko)

Begitu para pejabat Kota Magelang dan hadirin lainnya selesai mengikuti seremonial pembukaan pameran Magelang Tempo Doeloe bertajuk “De Passar”, seniman Andretopo mengambil pelantang untuk mengajak semua di alun-alun setempat mengumandangkan lagu “Indonesia Raya”.

Hari Jumat (12/5) belum larut malam. Suasana terasa segar dan benderang setelah sebelum acara dimulai, lampu listrik di berbagai gerai pameran di Alun-Alun Kota Magelang, Jawa Tengah itu, padam beberapa saat karena kendala teknis.

Rembulan bertengger di langit bersih di timur alun-alun setempat, masih mewajahkan bulan penuh yang elok karena purnamanya, ketika Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina selesai membacakan sambutan tertulis Wali Kota Sigit Widyonindito dan menambuh rebana, tanda dimulai pameran Magelang Tempo Doeloe selama 12-14 Mei 2017. Pameran Magelang Tempo Doeloe pada tahun ini, sebagai penyelenggaraan ke-10.

Puluhan personel panitia pameran dalam rangkaian HUT Ke-1.111 Kota Magelang itu pun bergegas berjejer di depan panggung pertunjukan untuk memelopori semua yang ada di pusat kota setempat, mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa, berupa surjan, bebet, belangkon, dan iket.

Para penjaga stan pameran yang menghadirkan berbagai barang antik dan bernuansa tempo dulu, serta kuliner tradisional pun diajak berdiri dengan tegap di tempat masing-masing. Begitu pula para penyaji kesenian rebana di atas panggung utama. Mereka juga berdiri untuk ikut menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan saksama.

“Malam ini, kesempatan yang baik untuk kita meneguhkan semangat keindonesiaan kita,” begitu terdengar suara Andretopo yang juga salah satu personel panitia pameran, ketika dengan pelantang mengumumkan tujuan pentingnya lagu “Indonesia Raya” dikumandangkan malam tersebut.

Lantunan lagu kebangsaan oleh semua di alun-alun setempat, di luar seremonial pembukaan pameran yang ditata pihak protokoler Pemerintah Kota Magelang, nampaknya tidak lepas dari kondisi aktual bangsa yang sedang membutuhkan peneguhan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Momentum pembukaan acara dengan para undangan berpakaian tradisional Jawa dan dandanan lainnya bergaya tempo dulu, oleh panitia penyelenggara yang umumnya komunitas seniman dan pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, dimanfaatkan untuk mengantar publik kepada pemaknaan atas kesadaran bahwa nilai keindonesiaan juga bisa ditemukan di pasar tradisional.

Tema “De Passar” dalam pameran itu, bukan sekadar mengajak masyarakat luas menjumpai memori romantisme atas nuansa masa lalu pasar tradisional, atau menghadirkan etalasenya yang hingga kini masih hidup di masyarakat dengan program revitalisasi oleh pemerintah untuk menghadirkan pasar yang lebih nyaman, bersih, teratur, dan indah.

Akan tetapi, ada hal bermakna yang nampaknya lebih ingin disajikan, sebagaimana diungkapan ketua panitia, Hery Nurjianto, bahwa di pasar tradisonal ditemukan nilai-nilai kuat bangunan keindonesiaan.

Dalam pameran Magelang Tempo Doeloe bertajuk “De Passar” disiapkan 76 gerai pelaku usaha kecil dan menengah, sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan Badan Usaha Milik Daerah, pedagang, serta kelompok masyarakat, untuk menggelar dagangan dan produk masing-masing.

Berbagai dagangan mereka, seperti kerajinan rumah tangga, suvenir, batik, mainan anak, kuliner tradisional, konveksi, peralatan rumah tangga, uang kuno, buku lama. Selain itu, pameran foto masa lalu Kota Magelang, pameran kendaraan zaman dahulu yang berupa mobil, sepeda, dan sepeda motor kuno.

Di arena itu pula, kata Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana, bisa dijumpai pedagang ayam, ikan, burung merpati, es lilin, dan pisang.

Berbagai gerai dan arena pameran juga dikemas dengan instalasi berbahan alam, seperti janur, jerami, dan bambu untuk menghadirkan suasana zadul.

Disebutkan pula bahwa pameran Magelang Tempo Doeloe menghadirkan pasar tradisional yang direkonstruksi dalam bentuk peralatan perbakulan, seperti lincak tempat duduk pedagang dan pembeli, serta alat pikul terbuat dari bambu.

Sajian lainnya yang berupa berbagai pementasan kesenian tradisional dan musik, serta lomba donalan anak, tidak lepas dari tujuan membawa pengunjung bernostalgia dan menyerap romantisme masa lalu.

“Di pasar tradisional tergambar humanisme sangat terasa dan ditemukan toleransi, kerukunan, saling tolong menolong dalam hubungan pedagang dan pembeli,” kata Hery.

Sejumlah pasar tradisional, baik yang masih beroperasi ataupun sudah hilang di Kota Magelang, antara lain Pasar Rejowinangun, Pasar Kebon Polo, Pasar Ngasem, Pasar Ampera, Pasar Cacaban, Pasar Gotong Royong, dan Pasar Tarumanegara.

Pasar tradisional telah membuktikan peranan yang bukan sekadar tempat transaksi jual beli antara masyarakat yang membutuhkan barang kebutuhan dan penjual yang menyediakan barang kebutuhan.

Akan tetapi, pasar tradisional menjadi sarana relasi masyarakat dengan keragaman latar belakangnya, menjadi kekayaan sosial budaya yang bernilai penting dalam bangunan keindonesiaan.

Hery yang juga Direktur Utama Bank Magelang itu, mengemukakan bahwa relasi kemanusiaan dalam aktivitas di pasar tradisional memancarkan pula wujud saling percaya dan kejujuran.

Eksistensi pasar tradisional yang humanis sempat dikhawatirkan tergeser oleh merebaknya pasar modern atau toko swayalan yang menghadirkan relasi instan, di mana pembeli secepatnya mendapatkan barang kebutuhan dan penjual sekilat mungkin meludeskan stok dagangan dan meraup keuntungan.

Suasana pasar modern atau toko swalayan menghadirkan kesan hanya tempat jual beli barang kebutuhan. Bahkan di toko modern, pembeli seolah dilayani pegawai dengan ungkapan ramah berirama robotik karena minim improvisasi humanistik.

Sebagaimana dikatakan Bagus Priyana yang juga salah satu penggagas pameran Magelang Tempo Doeloe, Wali Kota Sigit membenarkan bahwa pasar tradisional menjadi cermin perkembangan kemajuan kota.

“Untuk kemajuan kota, tengoklah kondisi pasar,” ujarnya dalam sambutan tertulis yang dibacakan wakilnya, Windarti Agustina.

Pasar tradisional mencerminkan nilai budaya dan fungsi sosial, di mana ada interaksi masyarakat melalui negosiasi, menawarkan gagasan, dan saling menawar untuk mencapai kesepakatan.

Interaksi sosial yang menjadi wajah keindonesiaan saat ini, terkesan makin pudar karena tergerus kemajuan industri teknologi komunikasi.

Bahkan, orang sekarang bisa berbelanja cukup dengan jari telunjuk memencet tombol gawai untuk kemudian barang yang dibeli, diantar sampai tujuan.

Ajakan Wali Kota Sigit untuk masyarakat setempat menghidupi interaksi sosial, setidaknya terwujud di salah satu stan saat pembukaan pameran malam itu.

Secara alamiah terjadi perjumpaan tak sengaja dua pengunjung di stan penjual nasi rames, mangut ikan, dan aneka gorengan, serta minuman hangat. Ternyata mereka sama-sama alumni SMA swasta paling favorit zaman dahulu di Kota Magelang, namun beda angkatan.

Di stan milik Siti Aminah yang melayani tamunya dengan kebaya motif lurik itu, mereka berbincang makin akrab tentang suasana pelajar angkatan masing-masing, termasuk tawuran dengan siswa sekolah lain.

Mereka juga saling bercerita tentang pompa bensin satu-satunya di alun-alun kala itu, soal lalu lalang kereta api dan bus umum dengan jalurnya yang melintasi kota itu, dan keramaian pasar-pasar tradisional di kota setempat.

“Bapak saya dulu terkenal karena pegawai LLAJR (Lalu Lintas Jalan Raya). Saya sering diberi gelang karet oleh anak buah bapak yang bertugas menarik retribusi di terminal dekat Pasar Ampera (Sekarang Kompleks Pertokoan Rejotumoto, red.),” kata Cahyono, seorang dari dua kawan seperjumpaan itu.

Sejumlah orang lain yang sedang jajan di stan itu menyimak dengan baik keduanya saling berbagi ingatan tentang masa lalu kota berhawa sejuk tersebut.

Mereka lainnya itu, mungkin sedang menyerap pemaknaan persaudaraan dan semangat kekeluargaan yang bertemu dalam memori tak terhapuskan dua orang tersebut, atas kesamaan masa lalu keindonesiaan.

sumber : http://www.antarajateng.com/detail/keindonesiaan-pun-ada-di-pasar-tradisional.html#.WRbHfy6JYX0.facebook

Editor: Antarajateng

COPYRIGHT © ANTARA 2017

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s