Tag Archives: sejarah magelang

Agenda Acara KOTA TOEA MAGELANG – Minggu 22 DESEMBER 2013

Standard

Di akhir tahun 2013 komunitas KOTA TOEA MAGELANG kembali mengadakan kegiatan bertema history dan heritage. Event bulanan ini di adakan salah satunya untuk menyambut “Tahun Pusaka Indonesia 2013”. Dan yang istimewa event ini merupakan event KOTA TOEA MAGELANG yang di gelar ke 14 kali di sepanjang tahun 2013 ini !

Acara ini merupakan kegiatan akhir tahun sekaligus menutup seluruh rangkaian kegiatan Tahun Pusaka Indonesia 2013. Yang istimewa adalah kegiatan terakhir di tahun 2013 ini adalah berupa pemaparan hasil disertasi dari Wahyu Utami yang baru saja pada 9 Desember lalu meraih gelar Doktor dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Pemaparan disertasi yang pernah di sampaikan dalam ujian terbuka di UGM ini juga akan “di bagikan” kepada Kerabat KOTA TOEA MAGELANG. Wahyu Utami adalah perempuan asli Kota Magelang yang berhasil meraih gelar doktornya dalam usia sekitar 39 tahun. Hasil penelitiannya dalam waktu 5 tahun tidaklah sia-sia yang akhirnya menghantarkannya dengah meraih doktornya dengan judul “KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG’.

Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang apa yang di maksud dengan “KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG”?

Simak artikel publikasi di bawah ini.

Kota Magelang terletak di ketinggian kurang lebih 375 dpl yang berada di cekungan gunung yang mengelilinginya [gunung Merapi, Merbabu, Prahu, Telomoyo, Sindoro, Sumbing dan Andong] serta Pegunungan Menoreh di selatan serta Perbukitan Giyanti di barat. Di tengah-tengahnya terdapat Bukit Tidar yang dipercaya sebagai pakuning tanah Jawa. 2 sungai besar mengalir membelahnya, yaitu Sungai Progo dan Elo.

Kondisi alam menginspirasi masyarakat Magelang dalam mengembangkan kotanya. 7 gunung yang mengelilinginya membentuk tempat-tempat suci dengan fungsinya masing-masing, yang didukung dengan tanah yang subur dan strategis karena berada di jalur utama. Selain itu karena letaknya berada di lembah memungkinkan terbentuknya panorama yang indah.

Alam dengan potensinya serta kondisi geografis yang unik telah memberi inspirasi pada masyarakat untuk mengembangkan ruang-ruang kota dengan fungsinya masing-masing seperti pemerintahan, pertahanan militer, lahan pertanian dan perkebunan serta tempat untuk beristirahat sambil menikmati keindahan alamnya.

Jika anda tertarik ingin memahami tentang Kota Magelang sebagai sebuah saujana yang pantas anda ketahui, ayo ikuti acara dari Komunitas KOTA TOEA MAGELANG berikut ini :

Acara : “KONSEP SAUJANA KOTA MAGELANG”

– Nara sumber : Dr. Wahyu Utami (Pemerhati Heritage Magelang)
– Hari/tanggal : Minggu, 22 Desember 2013
– Jam : 09.00 – 12.00 WIB
– Tempat : Museum BPK Kompleks gedung Eks Karesidenan Kedu/Bakorwil Jl. Diponegoro No. 1 Kota Magelang.

Cara pendaftaran :
ketik SAUJANA [spasi] Nama Anda,
kirim ke: 0878 32 6262 69

G R A T I S …. !!!!

Liputan Dari Remboeg Sedjarah “Nama-nama Djalan Tempo Doeloe Tahoen 1935 di Kota Magelang”

Standard

Peserta Remboeg Sedjarah sedang berpose sesaat susudah acara berlangsung Minggu 19 Mei 2013 di Gedung Tri Bhakti [foto Soli Saroso]

Untuk kesekian kalinya Komunitas KOTA TOEA MAGELANG mengadakan kegiatan Remboeg Sedjarah. Kegiatan ini merupakan kerjasama dengan Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang di mana KTM menjadi pengisi salah satu session acara di Gebyar Buku, Arsip dan Budaya. Acara pameran itu sendiri berlangsung dari tanggal 16-20 Mei 2013 di Gedung Tri Bhakti Jalan Sudirman Magelang.

Dalam acara Remboeg Sedjarah yang di adakan 19 Mei tersebut mengangkat tema tentang “Nama-nama Djalan Tempo Doeloe Kota Magelang Tahoen 1935”. Sebagaimana di ketahui bahwa Kota Magelang di jaman kolonial merupakan salah satu kota terpenting. Mulai sebagai ibukota Kabupaten tahun 1813, ibukota  Karesidenan tahun 1817 hingga Gemeente  tahun 1906 dan Stadsgemeente tahun 1929. Perkembangan kota yang sedemikian ini menjadikan pemerintah pada waktu itu harus membenahi infrastruktur kota, baik bangunan, jalan, selokan air, taman, pemukiman dan lain-lain.

Bahkan di sekitar tahun 1935-an dengan bantuan perancang kenamaan Belanda yaitu Herman Thomas Karsten di lakukan pembenahan dan pembangunan pemukiman besar-besaran . Misalnya pembangunan pemukiman Kwarasan di Cacaban, pemindahan pemakaman Singoranon ke makam kerkhoof di kaki Bukit Tidar dan di bekas pemakaman itu di bangunlah Kawasan pemukiman Gladiool.

Pembangunan jalan-jalan baik jalan protokol maupun jalan yang ada di kampung di laksanakan. Sehinga timbulah suatu keharusan untuk memberi penamaan pada jalan-jalan tersebut. Pada peta Stadskaart Magelang tahun 1923 sudah tercantum secara jelas nama-nama jalan tersebut, terutama pada jalan-jalan utama dan sekitarnya.Seperti “grooteweg noord”, “grooteweg zuid”, “bajemanweg”. “tidarweg”, “bottonweg”, Sebagaimana Grooteweg Ponjol yang berdampingan dengan jalur kereta api antara Stasiun Magelang Kota dan Stasiun Magelang passar.

Grooteweg Pontjol tempo doeloe kisaran tahun 1910-an berdampingan dengan rel kereta api

Sejak jaman kolonial Belanda, pembangunan infrastruktur terus dilakukan. Berbagai jalan dibangun, perlebar dan di aspal. Kalau pada waktu itu kondisi jalan masih berupa tanah dan batu yg ditata (watu kricak). Tidak diketahui secara pasti kapan jalan-jalan itu mulai di aspal. Tapi ada sebuah data yang menyebutkan jika pada tahun 1937-1938 terjadi pengaspalan besar-besaran di berbagai jalan raya dan jalan kampung di kota Magelang.

Bahkan pada peta WEGENKAART MAGELANG tahun 1935 lebih komplit lagi menyebutkan nama-nama jalan itu. Misalnya saja Ijsfabriekslaan, Ello-Weg, dll

Nah penamaan nama2 jalan pada waktu itu lebih bersifat kelokalan [lokal wisdom]. Hal ini tentunya sangat unik. Artinya penamaan jalan biasanya yang berkaitan dengan nama kampung setempat yang dilewati jalan tersebut. Misalnya Bottonweg karena dijalan tsb ada di kampung Botton, atau bisa seperi Djoeritan Zuid karena ada di selatan Kampung Juritan. atau dengan nama Bajemanweg karena berdekatan dengan kampung Bayeman.

Bajemanweg di tahun 1910-1920-an atau Jalan Tentara Pelajar sekarang ini

Atau bisa juga karena berdasarkan tema yaitu nama pulau, misalnya di kawasan seputar RST. Misalnya ada Sumatrastraat, Celebesstraat, Borneostraat, Javastraat dll. Menurut sebuah sumber, nama jalan seperti ini di karenakan pada waktu itu Tentara KNIL yang berasal dari daerah yang sama di tempatkan pada pemukiman yang sama. Misalnya tentara KNIL yang berasal dari Jawa di tempatkan di Javastraat, tentara KNIL dari Sulawesi di tempatkan di Celebesstaat, Tentara KNIL dari Maluku di tempatkan di Molukkenstraat, demikian seterusnya.

Ada lagi penamaan jalan karena ada bangunan khusus di tempat tsb. Misalnya Residentielaan karena disitu ada kantor Karesidenan. Oranjenassau-laan karena disitu ada kawasan van Der Steur yg aslinya dari Belanda (Oranjenassau merupakan simbol Kerajaan Belanda).

Di kampung Bogeman lebih unik lagi. Penamaan nama jalan berdasarkan nama tokoh pewayangan seperti Rama, Anjani, Anoman, Subali dan Sugriwa. Bahkan pada depan jalan tersebut juga di beri tokoh wayang tersebut yang terbuat dari kulit.

Hoofwacht militair auditie atau markas pengawas militer di jaman Belanda yang ada di ,Ooster-Kampemenstlaan atau Kesatrian Wetan/Timur sekarang di kenal dengan nama Pondok Sriti [foto KITLV]

Di kawasan tangsi militer lebih unik lagi nama-nama jalannya , sebagai contoh adalah Exercitielaan [tahun 1935] = Kesatrian [tahun 1950-an] = Kesatrian [tahun 2000-an]

Western-Kampementslaan = Kesatrian Kulon = Kesatrian Barat

 Noorder-Kampementstlaan = Kesatrian Lor = Kesatrian Utara

Zuider-Kampementstlaan = Kesatrian Kidul=Kesatrian Selatan

Ooster-Kampemenstlaan = Kesatrian Wetan = Kesatrian Timur

Van Heutzlaan West  =  (belum terlacak nama sekarang)

Van Heutzlaan Oost  =          –                =  Jl. Teuku Umar

Djikstraweg =          Kesatrian Lor          = Kesatrian Utara (utara Pondok Sriti)

Kroesenweg =          Kesatrian Kidul      = Kesatrian Selatan (selatan Pondok Sriti)

 Van Dalenweg  =                –                   =  Jl. Untung Suropati

 Michielsenweg  =              –                  =  Jl. Jangrono

 Generaal-Zwat  =  Ngentak Kwayuhan  =  Abimanyu

Sebuah jalan di kawasan tangsi militer dengan pemukiman untuk opsir/officierskampement

Akan tetapi ketika era orde baru muncul maka bergantilah nama-nama jalan tersebut menjadi nama-nama pahlawan nasional. Misalnya saja nama jalan Groote weg Noord menjadi jalan A Yani, Grooteweg Zuid menjadi Jalan Jendral Sudirman, Bajemanweg menjadi Jalan Tentara Pelajar, Bottonweg menjadi Jalan Pahlawan, Patjinanstraat menjadi Jalan Pemuda dll.

Pabrik cerutu Ko Kwat Ie di Pawirokoesoeman yang di bangun pada tahun 1900, sekarang Jalan Tarumanegara

Yang parahnya lagi adalah nama-nama lokal menjadi hilang seperti Djoeritan Zuid, Pawirokoesoeman, Sablongan, Nanggoelan, Kebon, Jenangan dan lain-lain menjadi hilang di telan bumi karena kebijakan yang salah tempat. Akibatnya yang lain adalah lokal wisdom/kearifan lokal menjadi hilang. Nama-nama kampung yang di abadikan lewat nama jalan menjadi tiada berarti lagi.

Sejarah Gereja Ambon Magelang, Gereja Protestan untuk tentara KNIL

Standard

Gereja tua ini ada di utara tangsi militer, tepatnya  ada di jalan Urip Sumoharjo 17 Wates  Kota Magelang. Berdiri tegak dengan menara lonceng yang tinggi menjulang. Jendelanya masih kokoh menyiratkan keasliannya. Pintu masuknya pun masih kokoh terbuat dari kayu jati. Di sisi kanan dan kiri pintu itu juga masih terpampang prasasti berbahasa Belanda yang terbuat dari batu marmer. Inilah sebuah bangunan yang bisa di katakan merupakan sebuah gereja yang legendaris yang menjadi saksi bisu perkembangan umat Kristen Protestan di Magelang.

Gereja yang berdiri di atas tanah seluas 980 m2 dan bangunan seluas 225 m2 ini sangat begitu masyhur. Gereja ini dibangun untuk menampung para jemaat pribumi khususnya dari tentara KNIL dan keluarganya yang kebanyakan berasal dari tanah Ambon atau Maluku. Tentara KNIL ini pada waktu itu berdinas dan bertempat tinggal di kompleks Kaderschool atau Rindam IV/ Diponegoro maupun di Militair Hospitaal [RST dokter Sudjono sekarang].

Nah karena itu gereja itu lebih dikenal dengan nama Gereja Ambon. Bukti ini juga diperkuat dengan adanya prasasti yang tertanam pada dinding ruangan kebaktian yang tertuliskan

Namens de Maleische Kerkeraad de Godsdienstleeraar M.A. Sahuleka”.

Dan di dinding yang lain tertulis juga prasasti yang berbunyi

“Deze Maleische Protestantsche Kerk is Gebouwd in 1923 en Vergroot 1927 Met Bijdrage Van De Burgers en Militairen van Ned. Indie”.

Jadi secara resmi nama gereja ini adalah bernama Deze Maleische Protestansche Kerk yang artinya gereja Protestestan untuk orang-orang pribumi terutama yang berasal dari tanah Maluku.

Sedang peletakkan batu pertama pembangunan gereja ini dilakukan oleh AZING BAKKER pada tanggal 12 November 1923. Hal ini dapat dibuktikan dengan prasasti yang ada di dinding sisi kanan dari pintu masuk gereja ini.

Prasasti itu berbunyi “de Eerste Steen Gelegd Door Azing Bakker 12 November 1923”. Bentuk bangunan ini bergaya Gothik yang mirip dengan Gereja GPIB yang ada di sisi utara Aloon-aloon Magelang. Gereja Ambon ini merupakan karya arsitek kenamaan saat itu yang bernama VAN MELLE yang prasastinya ada di timur pintu yaitu ARCIHTECTEN VAN MELLE EN KLOMP MAGELANG.

Gereja Ambon ini mempunyai balkon pada ruangan di atas pintu masuk. Balkon ini di bangun pada tahun1927 yang pada waktu itu di pergunakan untuk tempat bermain musik orgel sebagai musik pengiring kebaktian.  Dengan konstruksi jendela dan pintu yang tinggi nampak sekilas mirip dengan gereja-gereja protestan yang pernah ada. Lonceng yang menjadi ciri khas pada sebuah gereja yang terletak pada bagian atas menara juga sudah tidak ada. Hal ini terjadi pada tahun 1980-an dan lonceng tersebut di lepas karena seringkali ada burung yang masuk ke dalam gereja melalui lubang lonceng yang mengakibatkan ruangan gereja menjadi kotor oleh kotoran burung tersebut.

Dulunya lantai gereja terbuat dari semen plester, tapi sekarang sudah di ganti dengan keramik putih.

Pada jaman penjajahan Jepang, gereja ini di jadikan gudang beras. Belum di ketahui secara pasti apa alasannya.

Djeladjah Petjinan Magelang 2013

Standard

Untuk kesekian kalinya KOTA TOEA MAGELANG mengadakan event jelajah.Kali ini bertajuk DJELADJAH PETJINAN MAGELANG yang di adakan 17 februari 2013. sebanyak 40-an peserta mengikuti acara ini, antara lain dari Jakarta, Wonosobo, Jogjakarta, Surabaya dan Magelang sendiri.

Acara kunjungan dimulai dari kelenteng Liong Hok Bio di Aluun2 Selatan, menikmati Dawet Magelangan di Pasar Ngasem, Gedung Bunder di Jaranan, Pabrik Cerutu Ko Kwat Ie di Prawirokusuman, rumah Ko kwat Ie di Juritan Kidul, eks sekolah Tiong Hoa Hwa Kween/SMAN 3 sekarang, dan pengrajin barongsai di Tengkon.

Sejarah Magelang: Daftar Nama Residen Kedu di Jaman Kolonial

Standard

https://i1.wp.com/i1202.photobucket.com/albums/bb373/dwiyogakurnianto/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Schoolkinderen_voor_het_residentiehuis_in_Magelang_tijdens_een_bezoek_van_Gouverneur-Generaal_BC_de_Jonge_TMnr_600374.jpg

Karesidenan Kedu tempat Residen Kedu tinggal,sekarang menjadi rumah dinas KepalaBakorwil IIKedu-Surakarta di Magelang.

[foto : COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Schoolkinderen_voor_het_residentiehuis_in_Magelang_tijdens_een_bezoek_van_Gouverneur-Generaal_BC_de_Jonge_TMnr_600374.jpg]

Situasi di Eropa membawa perubahan pemerintahan di Belanda. Pada tahun 1795 tentara Perancis menyerbu Belanda sehingga pangeran Willem V melarikan diri ke Inggris. Kerajaan Belanda (Holand) selanjutnya dipimpin oleh Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis. Louis Napoleon kemudian mengangkat Gubernur Jenderal untuk memerintah daerah kononial Hindia Belanda bernama Herman Willem Daendels. a. Masa pemerintahan H.W. Daendels di Indonesia (1808-1811)
Pada masa Daendels berkuasa, Prancis bermusuhan dengan Inggris dalam perang koalisi di Eropa. Maka tugas utama Dandels di Hindia Belanda adalah mempertahankan pulau Jawa dari serangan pasukan InggrisUntuk melaksanakan tugas tersebut langkah-langkah yang ditempuh H.W. Dandels adalah sebagai berikut:
1. Bidang Pertahanan
– Menambah jumlah prajurit menjadi 18.000 yang sebagian besar dari suku-suku bangsa di Indonesia (pribumi)
– Membangun benteng di beberapa kota dan pusat pertahananya di Kalijati Bandung
– Membangun jalan raya dari Anyer sampai Panarukan kurang lebih 1.000 kilometer yang diselesaikan dalam waktu 1 tahun dengan kerja paksa/rodi di setiap 7 kilometer dibangun pos jaga.

– Membangun armada laut dan pelabuhan armada dengan pusat di Surabaya

2. Bidang Keuangan antara lain:
– Mengeluarkan mata uang kertas
– Menjual tanah produktif milik rakyat kepada swasta sehingga muncul tanah swasta (partikelir) yang banyak dimiliki orang Cina, Arab, Belanda.
– Meningkatkan pemasukan uang dengan cara-cara sebelumnya (VOC) yaitu memborongkan pungutan pajak. Contingenten, Penanaman Kopi dll.

3. Bidang Pemerintahan :
– Membentuk sekretariat negara untuk membereskan administrasi negara
– Kedudukan Bupati sebagai penguasa tradisional diubah menjadi pegawai pemerintahan dan digaji.
– Memindahkan pusat pemerintahan dari Sunda Kelapa ke Welterreden (sekarang gedung Mahkamah Agung di Jakarta)
– Pulau Jawa dibagi menjadi 9 perfektuur/wilayah Karesidenan
– Membangun kantor-kantor pengadilan

Sisi negatif pemerintahan Daendels adalah membiarkan terus praktek perbudakan serta hubungan dengan raja-raja di Jawa yang buruk, sehingga menimbulkan perlawanan. Pada tahun 1811 Daendels ditarik ke Eropa digantikan oleh Gubernur Jendral Jansen yang semula bertugas di Tanjung Harapan (Afrika Selatan)

Tidak lama setelah Jansen memerintah, Inggris melakukan serangan atas wilayah-wilayah yang dikuasai Belanda.

Pada saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1808, beliau melakukan tindakan dalam bidang pemerintahan diantaranya adalah membagi Pulau Jawa menjadi 9 perfektuur/Karesidenan. Karesidenan di pimpin oleh seorang Residen. Sedangkan untuk wilayah Kedu baru memiliki Residen pada tahun 1823. Di bawah ini nama-nama pejabat yang pernah menjadi Residen Kedu, sbb :

1. P. Ce Clereg 1823 [tahun mulai menjabat]

2. F. G. Valck 1827

3. D. F. Schaaf 1855

4. G. M. van de Graaff 1858

5. A. MT. Baron de Salis 1874

6. J. Heijting 8 Mei 1878

7. K. F. Bohl 31 Oktober 1882

8. J. A. Ament 5 Maret 1889

9. P. M. L. De Bruyn Prince 24 Juli 1896

10. J. H. F. Ter Meulen 10 Oktober 1901

11. P. Wijers 5 Maret 1906

12. J. J. Verwyk 12 Februari 1912

13. H. van Santwijk 15 Februari 1917

14. M. B. van Der Jagt 17 Juni 1922

15. J. D. De Vries 10 Mei 1927

16. J. van Pelt 5 Juli 1929

17. A. A. C. Linck 28 Juli 1933

18. H. J. Sonneveldt 16 Februari 1938

[sumber : Sang Ratu Adil, Kroniek Kehidupan dan Perjuangan Pangeran Dipanegara 1785-1855, jurusan Sejarah FIB UGM & BAKORWIL II PROP. JATENG dan dari berbagai sumber]

Sejarah Magelang : Foto Keluarga RT Danuningrat I (‘Alwi bin Ahmad ), Bupati Magelang Pertama

Standard

Foto Keluarga Eyang RT Danuningrat I (‘Alwi bin Ahmad )

Beschrijving/Description: De regent van Magelang (onder de pajoeng), Raden Toemenggoeng Danoekoesoema, ook wel Raden Toemenggoeng Danoeningrat genaamd, voor zijn huis met gevolg

Signatuur/Imagecode: 3481
Trefwoord/Keyword: gamelan,houses,indigenous administration,Magelang,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoekoesoema, R.T.
Formaat/Size: 17×24,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Techniek/Art technique: Albuminedruk
Maker/Artist: Woodbury & Page / Batavia
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1866
Bijzonderheden/Additional: 2e ex. opgenomen onder fotonummer 82946 (A 101)
Herkomst/Provenance: Onbekend

Beschrijving/Description: De regent van Magelang, vermoedelijk Raden Toemenggoeng Danoeningrat
Signatuur/Imagecode: 75351
Albumnummer/Albumnumber: 120
Albumtitel:
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Magelang,Jawa Tengah,Indonesia
Formaat/Size: 9,5x6cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1860
Herkomst/Provenance: Onbekend
Beschrijving/Description: Echtgenote van de regent van Magelang
Signatuur/Imagecode: 75352
Albumnummer/Albumnumber: 120
Albumtitel:
Trefwoord/Keyword: Magelang,women,Jawa Tengah,Indonesia
Formaat/Size: 9,5x6cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1860
Herkomst/Provenance: Onbekend

Beschrijving/Description: Raden Adipati Ario Danoesoegondo van Magelang met Raden Ajoe
Signatuur/Imagecode: 12757
Albumnummer/Albumnumber: 55
Albumtitel: De Regenten van Midden-Java en hunne Raden Ajoe’s
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Magelang,indigenous administrators,women,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoesoegondo, R.A.A.
Formaat/Size: 16×11,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Maker/Artist: Hisgen & Co., O. / Semarang
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1930
Herkomst/Provenance: Gulik, R.H. van

catatan:
Raden Toemenggoeng Hasan Danoediningrat
Raden Tumenggung yang kemudian bernama Raden Adipati Ario Danusugondo ini mulai memerintah Kabupaten Magelang pada 6 Desember 1939, menggantikan Raden Tumenggung Danukusumo.

Beschrijving/Description: Raden Ajoe Toemenggoeng Danoeningrat van Magelang met haar zoontje
Signatuur/Imagecode: 6596
Trefwoord/Keyword: Magelang,priyayi,women,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Raden Ajoe Toemenggoeng Danoeningrat
Formaat/Size: 9×5,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Techniek/Art technique: Albuminedruk
Maker/Artist: Veen, H.
Datum/Date: 1871
Bijzonderheden/Additional: Carte-de-visite
Collectie/Collection: Zoetelief, J.P.
Herkomst/Provenance: Zoetelief, Uit de nalatenschap van J.P.

Beschrijving/Description: Raden Mas Alwoe, zoon van de regent van Magelang, op 18-jarige leeftijd
Signatuur/Imagecode: 6597
Trefwoord/Keyword: Magelang,priyayi,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Alwoe, R.M.
Formaat/Size: 9×5,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Techniek/Art technique: Albuminedruk
Maker/Artist: Veen, H.
Datum/Date: 1871
Bijzonderheden/Additional: Carte-de-visite
Collectie/Collection: Zoetelief, J.P.
Herkomst/Provenance: Zoetelief, Uit de nalatenschap van J.P.
Beschrijving/Description: Raden Toemenggoeng Danoeningrat, regent van Magelang, en echtgenote
Signatuur/Imagecode: 6595
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Javanese,Magelang,women,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoeningrat, R.T.
Formaat/Size: 10×6,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Techniek/Art technique: Albuminedruk
Maker/Artist: Woodbury & Page / Java
Datum/Date: 1871
Bijzonderheden/Additional: Carte-de-visite. 2e ex. opgenomen onder fotonummer 85036 (A 414)
Herkomst/Provenance: Zoetelief, Uit de nalatenschap van J.P.

Beschrijving/Description: Raden Toemenggoeng Danoeningrat, regent van Magelang
Signatuur/Imagecode: 16329
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Javanese,Magelang,indigenous administrators,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoeningrat, R.T.
Formaat/Size: 7x5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1870
Herkomst/Provenance: Onbekend
Catatan:
Eyang RT Danuningrat I [Bupati Magelang Pertama] bernama asli  ‘Alwi putra Ahmad putra Muhammad Sa’id putra ‘Abdul Wahhab/Mujahid putra  Sulaiman Mojo Agung putra Abdurrahman Tajuddin / Sunan Pangkunegoro / Mbah Ratu Cirebon putra Umar Abihafsh putra Abdullah
‘Alwi bin Ahmad adalah adik Eyang Ki Mas Abdullah Raden Wedono Kartowijoyo Ponotogomo /KRT Alap-alap Kartadipuro Senopati Mataram Islam Petinggi Pasukan Berkuda Kasultanan Jogja yang mendapat pengarahan dari Pangeran Diponegoro ke Mancanegara Timur (Madiun). Panglima Daerah Mancanegara Timur (Madiun) yaitu Tumenggung Mas Kartadirjo yang pada akhirnya ditangkap oleh Belanda pada tanggal 9 Januari 1826 dan dibunuh. Sedang Tumenggung Alap-alap Kartadipura berhasil meloloskan diri dari penyergapan pasukan Belanda dengan cara menyamar.
catatan:
RT Alap-alap Kartadipura dan Mas Kartadirjo asal Madiun adalah 2 orang yang berbeda
 
Alwi bin Ahmad tewas terpenggal kepalanya di tangan anak buah Pangeran Diponegoro yang salah paham. Versi lain adanya pengkhianat yang memfitnah dan mengadu domba.
kakak kakek leluhur kita yang bernama Eyang  Hasyim putra Ahmad yang bergelar Raden Wongsorejo/RT Wongsodirjo I yang makam Keramat Kranda Sultan di Gambir Sawit  Umbulharjo Yogyakarta sejajar garis imajiner dengan Makam Kranda/Kerabat Sultan yaitu Kajengan kini Ngancar Prenggan Trunojayan Kotagede
 
 
Beschrijving/Description: Raden Toemenggoeng Danoeningrat III, regent van Magelang
Signatuur/Imagecode: 3860
Trefwoord/Keyword: Magelang,indigenous administrators,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Raden Toemenggoeng Daoeningrat III
Formaat/Size: 9x5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Maker/Artist: Veen, H.
Datum/Date: 1871
Bijzonderheden/Additional: Aan de achterkant van de foto staat geschreven: ‘Tanda engetan dari sobat baik Hamangkoe Daoeningrat, regent van Magelang. Oud 39 jaar. Gebooren den 25 Julij 1832’.
Collectie/Collection: Zoetelief, J.P.
Herkomst/Provenance: Onbekend
Beschrijving/Description: Receptie te Magelang ter gelegenheid van een jubileumfeest van de K.M.A. in Breda. Links (met bril) Raden Adipati Ario Danoesoegondo, regent van Magelang, rechts (vóór pilaar, met bril) burgemeester R.C.A.F.J. Nessel van Lissa van Magelang
Signatuur/Imagecode: 35261
Albumnummer/Albumnumber: 289
Trefwoord/Keyword: feasts,indigenous administration,Magelang,reception,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Nessel van Lissa, R.C.A.F.J.,Danoesoegondo, R.A.A.
Formaat/Size: 10x15cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1935
Bijzonderheden/Additional: H 1194
Collectie/Collection: Bijleveld-Visser, R.H.W.H.
Herkomst/Provenance: Bijleveld-Visser, Mevrouw R.H.W.H. / Hilversum
Beschrijving/Description: Regent R.A.A. Danoesoegondo van Magelang en zijn Raden Ajoe
Signatuur/Imagecode: 27788
Trefwoord/Keyword: indigenous administration,Magelang,Jawa Tengah,Indonesia
Persoon/Person: Danoesoegondo
Formaat/Size: 23×28,5cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1930
Herkomst/Provenance: Onbekend
Beschrijving/Description: Zoon van de regent van Magelang
Signatuur/Imagecode: 75353
Albumnummer/Albumnumber: 120
Albumtitel:
Trefwoord/Keyword: children,Magelang,Jawa Tengah,Indonesia
Formaat/Size: 10x6cm
Uiterlijke vorm/Object type : Foto
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1860
Herkomst/Provenance: Onbekend

SEJARAH MAGELANG : NAMA-NAMA JALAN TEMPO DOELOE DI KOTA MAGELANG DI TAHUN 1935-1950-2000

Standard

Suasana Pontjalsche Weg di tahun 1910 atau Groote Weg Pontjol atau Jalan A Yani sekarang ini. Jalan ini berdampingan dengan rel kereta api jurusan Magelang-Jogjakarta [sumber : Delcampe.net]

Sejak jaman kolonial Belanda, pembangunan infrastruktur terus dilakukan. Berbagai jalan dibangun, perlebar dan di aspal. Kalau pada waktu itu kondisi jalan masih berupa tanah dan batu yg ditata (watu kricak). Tidak diketahui secara pasti kapan jalan-jalan itu mulai di aspal. Tapi ada sebuah data yang menyebutkan jika pada tahun 1937-1938 terjadi pengaspalan besar-besaran di berbagai jalan raya dan jalan kampung di kota Magelang.

Nah penamaan nama2 jalan pada waktu itu lebih bersifat kelokalan [lokal wisdom]. Hal ini tentunya sangat unik. Artinya penamaan jalan biasanya yang berkaitan dengan nama kampung setempat yang dilewati jalan tersebut. Misalnya Bottonweg karena dijalan tsb ada di kampung Botton. Atau bisa jg berdasarkan tema yaitu nama pulau, misalnya di kawasan seputar RST. Misalnya ada Sumatrastraat, Celebesstraat, Borneostraat, Javastraat dll. Ada lagi penamaan jalan karena ada bangunan khusus di tempat tsb. Misalnya Residentielaan karena disitu ada kantor Karesidenan. Oranjenassau-laan karena disitu ada kawasan van Der Steur yg aslinya dari Belanda (Oranjenassau-laan).

Berikut ini daftar nama-nama jalan tempo doeloe yang ada di Kota Magelang

di mana nama-nama jalan tersebut bersumber dr peta WEGENKAART GEMEENTE

MAGELANG tahun 1935 yang mana kami sepadankan perubahan-perubahan

nama-nama jalan di tahun 1950 dan 2000.

1. Groote weg Noord Dekil (1935) = Djalan Raja Dekil (1950) = Jl. A Yani (ruas Menowo-Kupatan, thn 2000)

2. Groote weg Noord Wates = Djalan Raja Wates = Jl. A Yani (ruas Poncol-Kebonpolo)

3. Groote weg Zusteran = Djalan Raja Susteran = Jl. A Yani (ruas Aloon-aloon-eks Polwil)

4. Groote weg Zuid Troenan = Djalan Raja Trunan = Jl. Sudirman

5. Ello-Djetis = Elo Djetis = Kalimas

6. Ijsfabriekslaan = Pabrik Es Kebonpolo = Selayar

7. Ello-Weg = Elo-Sanggrahan = Jl. Urip Sumoharjo

8. Ambonstraat = Ambon = Ambon

9. Ceramstraat = Seram = Seram

10. Balistraat = Bali = Bali

11. Sumatrastraat = Sumatra = Sumatra

12. Borneostraat = Kalimantan = Kalimantan

13. Javastraat = Djawa = Jawa

14. Celebesstraat = Sulawesi = Sulawesi

15. Molukkenstraat = Maluku = Maluku

16. Hospitaalweg = Rumah Sakit = Rumah Sakit Tentara

17. Exercitielaan = Kesatrian = Kesatrian

 18. Western-Kampementslaan = Kesatrian Kulon = Kesatrian Barat

 19. Noorder-Kampementslaan = Kesatrian Lor = Kesatrian Utara

20. Zuider-Kampementslaan = Kesatrian Kidul=Kesatrian Selatan

 21. Ooster-Kampemenslaan = Kesatrian Wetan = Kesatrian Timur

 22. Van Heutzlaan West  =  (belum terlacak nama sekarang)

 23. Van Heutzlaan Oost  =  –  =  Jl. Teuku Umar

 24. Djikstraweg = Kesatrian Lor = Kesatrian Utara (utara Pondok Sriti)

 25. Kroesenweg = Kesatrian Kidul = Kesatrian Selatan (selatan Pondok Sriti)

 26. Van Dalenweg  =  –  =  Jl. Untung Suropati

 27. Michielsenweg  =  –  =  Jl. Jangrono

 28. Generaal-Zwat  =  Ngentak Kwayuhan  =  Abimanyu

 29. Gelangan = Gelangan = Manggis

 30. Van Eijck-Park  =  –  =  Jl. Kyai Panjang

 31. Kawatan  =  Kawatan  =  Sigaluh

 32. Djoeritan Noord  =  Djuritan Lor  =  Majapahit

 33. Djoeritan Zuid = Djuritan Kidul = Jl. Sriwijaya

34. Pawirokoesoeman Wetan  = Pawirokusuman  =  Jl. Tarumanegara

 35. Sablongan  =  Sablongan  =  Jl. Kalingga

36. Nanggoelan/Pawirokoesoeman Koelon  =  Nanggulan  =  Jl. Medang

37. Kliwonan = Kliwonan/Djaranan = Jl. Sriwijaya

 38. Keplekan = Pasar = Jl. Mataram

 39. Karang Lor = Karang Lor/Paten = Jl. Singosari

 40. Karang Kidoel = Karang Kidul = Jl. Singosari

41. Voetpat-Karet = Candi Nambangan = Jl. Telaga Warna

42. Groote weg Noord Kramat  = Djalan Raja Kramat = Jl. A Yani (ruas Kupatan-Sambung)

 43. Groote weg Noord Menowo = Djalan Raja Menowo = Jl. A Yani (ruas Kebonpolo-Menowo)

 44. Groote weg Noord Pontjol = Djalan Raja Pontjol = Jl. A Yani (ruas eks Polwil-Rindam)

 45. Groote weg Zuid Patjinan = Djalan Raja Petjinan = Jl. Pemuda

 46. Badaan Noord = Badaan Lor/Potrobangsan = Jl. Pahlawan (ruas Badaan-Menowo)

 47. Badaan Zuid = Badaan Kidul = Jl. Pahlawan (ruas Badaan-Botton)

 48. Badaan Plein =  –  =  Jl. Ade Irma Suryani

 49. Plengkoeng Baroe = Plengkung Baru/II = Jl. Ade Irma Suryani

 50. Plengkoeng = Plengkung Lama/I = Jl. Piere Tendean

 51. Bottonweg = Botton = Jl. Pahlawan (ruas Panti Peri/Botton Balong-SMP 1)

 52. Progostraat = Diponegaran = Jl. Diponegoro (ruas Panti Peri-Perdana)

 53. Jordaanlaan = Botton/Panti Peri = Jl. Pahlawan (ruas PDAM-Botton Balong)

54. Residentielaan = Karesidenan/Pungkuran = Jl. Veteran

 55. Oranje-Nassaulaan = Diponegaran/Karesidenan = Jl. Diponegoro (ruas Perdana-Kejuron)

 56. Meteseh = Meteseh = Jl. Sentot Ali Basah Pawirodirjo

 57. Ngoepasan = Tjatjaban = Jl. Kyai Mojo

 58. Pastoran = Pendowo = Jl. Yos Sudarso

 59. Emmalaan/Kuil = –  =  Jl. Kartini

 60. Kaoeman = Kauman = Kauman

 61. Aloon2 Noord = Aloon2 Lor = Aloon-aloon Utara

 62. Aloon2 West = Aloon2 Kulon = Jl. Tentara Pelajar

 63. Aloon2 Zuid = Aloon2 Kidul = Aloon-aloon Selatan

 64. Kedjoeron = Kedjuron = Jl. Mayjen Sutoyo

 65. Bajemanweg = Bajeman = Jl. Tentara Pelajar

 66. Kerkopan = Kerkopan = Jl. Sutopo

 67. Sportlaan = Diponegaran = Jl. Diponegoro (ruas Kejuron-Jambon)

68. Djambonstraat = Djambon = Jl. Mayjen Panjaitan

69. Kebonstraat = Kebon = Jl. Pajang

70. Tengkonstraat = Tengkon = Jl. Daha

71. Kemirikerepstraat  = Kemirikerep = Jl. Pajajaran

72. Djenanganstraat = Djenangan =Jl. Jenggala

 73. Tidarweg = Tidar = Jl. Tidar

 74. Djagoan = Djagoan = Jl. Gatot Subroto

 75. Ringin Anom = Ringin Anom = Jl. Ringin Anom

 76. Botton I = Botton I = Jl. Botton I

 77. Botton II = Botton II = Jl. Botton II

 78. Djambon Wod = Djambon Wot = Jl. Merapi

79. Kemiriredjostraat = Kemiriredjo = Gg. Anggrek

80. Samban = Samban = Jl. Shinta

Nama-nama jalan di atas belum begitu akurat sekali karena ada beberapa ruas jalan yang belum terlacak. Informasi yang didapatkan di lapangan juga teramat minim sekali. Akan tetapi data di atas bisa di katakan sebagai sebuah informasi dan referensi yg tepat mengingat pada saat tahun 1935 baru waktu terbentuknya Staadsgemeente Magelang, artinya pada tahun tersebut untuk pertama kalinya kota kita memiliki Burgemeester/Walikota definitif.

Seperti diketahui status Gemeente Magelang baru terbentuk pd tahun 1906, tetapi jabatan Burgemeester masih dirangkap oleh Asisten Residen Kedu. Jadi suatu perkembangan yang baik ketika pada tahun 1935 Kota Magelang sudah memiliki 80 ruas jalan yang sudah di beri nama.

Peta tertua yang memuat daftar nama-nama jalan di Kota Magelang adalah Stadskaart tahun 1923.

Kalo di lihat dr daftar nama jalan di atas, kita tidak menemukan nama jalan yg ada di kawasan Gladiol. Hal ini karena pd saat itu kawasan tsb masih berupa pemakaman Tionghoa Singoranom. Baru pd tahun 1937 pemakaman itu di pindah ke Giriloyo dan Kawasan Kherkoff di lereng Bukit Tidar. Kemudian diatas lahan bekas pemakamam Singoranom tersebut di buatlah pemukiman yang kini terkenal dengan Kawasan Gladiol.

Dari sebuah foto lama yg saya miliki berhasil saya dapatkan nama jalan di tempat tsb, yaitu sbb :

1. BSM Nessel (1940) = Gladiol (1960) = Jl. MT Haryono (2000)

2. Gladiool Weg (1940) = Gladiol (1960) = Jl. Sugiyono (2000)

Demikian daftar nama2 jalan tempo doeloe di Kota Magelang ter update.

Semoga bermanfaat. SAVE HERITAGE & HISTORY IN MAGELANG !

(nb :

data ini belum pernah di publikasikan sama sekali lewat media on line sebelumnya. Baru kami munculkan di even Magelang Tempo Doeloe 2011 yang lalu. Peta asli Wegenkaart Gemeente Magelang 1935 yang memuat daftar nama jalan otentik ada pada saya)

[Bagus Priyana-Koordinator KOTA TOEA MAGELANG]

Sejarah Magelang : Kerkhoof, Makam untuk Orang-orang Belanda

Standard

Image

Kota Magelang merupakan wilayah yang unik, nyaman untuk di tinggali dan menarik karena penuh dengan pesona pemandangan. Hal ini sudah terjadi sejak dulu kala, lebih-lebih di jaman kolonial Belanda. Baik warga Pribumi maupun kaum pendatang seperti Belanda, Cina ataupun Arab merasa nyaman hidup di kota ini. Menyadari hal demikian pemerintah kota saat itu berupaya memenuhi pelayanan bagi masyarakat umum. Apalagi sejak Magelang menjadi Gemeente di tahun 1906 dan Stadsgemeente di tahun 1929 pemerintah kota berupaya meningkatkan pelayanannya teutama penyediaan area pemakaman untuk warganya.

.

PEMAKAMAN BELANDA

Pada waktu itu area pemakaman untuk masing-masing etnis berbeda-beda

tempatnya. Untuk masyarakat Belanda sebagai area pemakaman ada di selatan Kampung Kejuron [kini Kampung Kerkopan] dan di Kampung Barakan di lereng Bukit Tidar.

Area pemakaman ini di sebut dengan EUROPEESCHE BEGRAAFPLAATS atau biasa di sebut dengan KERKHOOF atau lidah kita menyebutnya dengan nama “kerkop”.Di kawasan selatan Kampung Kejuron sendiri belum di ketahui secara pasti kapan area pemakaman ini mulai ada.Yang pasti pada peta Kota Magelang Stadskaart tahun 1923 kawasan pemakaman ini sudah ada. Area pemakaman ini membentang mulai depan penjara sampai ke barat berbatasan dengan di Residentielaan/Jalan Diponegoro sekarang ini,. Terus menuju ke selatan sampai Kampung Jambon Legok hingga ke timur membentuk area segi empat.

Akan tetapi pada perkembangan jaman dan dengan alasan penataan kota yaitu area pemakaman di sini oleh pemerintah kota praja di pindahkan ke kawasan Kampung Barakan. Peristiwa pemindahan ini terjadi pada tahun 1938-1941. Nah bekas area pemakaman ini lambat laun kini menjadi sebuah pemukiman penduduk yang bernama kampung Kerkopan.

Area pemakaman di Kampung Barakan sendiri menjadi tempat pemakaman Eropa yang di kelola oleh pemerintah kotapraja saat itu. Kawasan pemakaman ini terletak di Grooteweg Zuid/Jalan Jenderal Sudirman sekarang ini, tepatnya di lereng kaki Bukit Tidar sisi utara.Tempat pemakaman ini di bagi menjadi 2 bagian yaitu bagian Utama I dan II di mana masing-masing bagian di bagi lagi menjadi 4 kelas.Untuk bagian utama I peruntukkan bagi masyarakat Eropa, sedangkan untuk bagian utama II bagi pemakaman masyarakat pribumi dan  timur asing yang beragama Kristen.Tentu saja area pemakaman untuk bagian Utama I ada di area depan yang mudah di akses oleh masyarakat. sedangkan untuk kelas terendah ada di lokasi yang jauh dari akses jalan.

Yang unik adalah pemerintah kotapraja setempat juga mengenakan beaya bagi penggunaaan fasilitas bagi pemakaman.Misalnya jika memakamkan menggunakan kereta yang di ntarik oleh 6 kuda maka tarifnya sebesar f 50 gulden. Jika dengan 2 kuda maka tarifnya f 5 gulden. Termasuk penyediaan peti mati juga dikenakan tarif f 100 gulden jika menggunakan jenis pertama dan f 20 gulden jika untuk jenis keempat.

Untuk lokasi pemakaman bagi warga pribumi dan timur asing yang beragama Kristen lokasinya ada di sisi belakang. Akan tetapi dapat juga di makamkan di area bagian Utama I jika mampu membayar tarif seperti yang di kenakan untuk orang-orang Eropa.

Pada tahun 1945 seorang tokoh besar di masanya dan legendaris hingga kini bernama Johannes van der Steur di makamkan di sini. Lokasi makamnya ada di dekat pintu masuk gerbang Kerkhoof yang bisa di sebut sebagai makam Utama I karena begitu strategisnya. Dan makam dari Johannes van der Steur bersama dengan anak-anak asuhnya sampai kini tetap ada di belakang ruko-ruko di Jalan Ikhlas.

Pada tahun 1980an oleh pemerintah kota saat itu area pemakaman Kerkhoof di pindahkan ke berbagai tempat, seperti ke Giriloyo. Karena di area itu banyak makam-makam Belanda maka pada waktu itu pemerintah kota Magelang membuka iklan di surat kabar di negeri Belanda untuk mengabarkan pada ahli waris tentang rencana pembongkaran ini. Sejumlah dana di keluarkan untuk kegiatan ini. Jenasah orang Belanda ada juga yang di bawa dan di makamkan kembali di negeri Belanda oleh ahli warisnya.

Image

Gerbang Kerkhoof yang di bangun tahun 1906 [foto : www.flickr.com ]

Kawasan ini akhirnya di jadikan area pemukiman penduduk dan kios-kios. Dan akhirnya untuk mengenang peristiwa ini kawasan jalan yang melintas di sebut dengan Jalan Ikhlas yang merujuk pada keikhlasan karena banyak makam yang di pindah.Yang tersisa dari area pemakaman ini selain kompleks makam van der Steur adalah gerbang pintu masuk ke makam, masyarakat menyebutnya dengan nama Gerbang Kerkop. Gerbang Kerkop ini di bangun pada tahun 1906 dengan gaya arsitektur Empire style dengan pilar/kolom tinggi menjulang. Yang unik pada bagian dinding atas/fasadnya terukir nama berbahasa latin yaitu “MEMENTO MORI” yang artinya ingatlah selalu pada kematian.Tapi sayangnya tulisan ini sudah hilang.

SEJARAH PERKERETAAPIAN DI MAGELANG & TEMANGGUNG

Standard

       Kawasan Magelang merupakan dataran yang berbukit-bukit. Udara sejuk selalu terasa saat pagi memancarkan sinar matahari di pagi yang tenang. Kemudian Terdengar bunyi sayup-sayup yang kian keras. Tuuuut….tuuuut…. Sambil berlari, sembari mendekati suara itu dan mengejarnya. Asap mengepul tinggi di sela-sela daun dan pohon. Orang-orang tersenyum di atas gerbong dengan berbagai alasan mengapa mereka menggunakan sarana transportasi yang dinamakan kereta api.

          Itulah yang mungkin diceritakan oleh orangtua, bahkan kakek-nenek kita yang mempunyai sepenggal kisah dengan indahnya perkeretaapian yang pernah ada di Magelang. Mungkin anak muda jaman sekarang hanya bisa menikmati indahnya sepenggal cerita manis di pagi hari yang menjadi kenangan saja, karena tidak pernah merasakannya bahkan melihatnya. Ini menjadikan harapan tersendiri bagi yang tidak merasakan masa yang indah itu.

Berawal dari nilai historis ilmu, rasa kangen, misteri, dan keingintahunan inilah komunitas Kota Toea Magelang pada hari Minggu, 22 Januari 2012 turut mengajak anda semua dalam agenda kegiatan yang bertemakan Kereta Api, DJELADJAH DJALOER SPOOR dengan rute Magelang-Setjang-Temanggoeng-Parakan. Dan yang lebih diutamakan dengan tujuan acara ini adalah bagaimana kita bisa lebih menghargai sejarah dan melestarikan cagar budaya yang mencakup fisik dan non fisik. Karena mengingat bahwa apabila tidak adanya perkembangan bergulirnya sejarah, kita tidak akan tahu tolok ukur untuk masa depan.

By: Ryan “Corleone” Adhyatma

                  SEJARAH PERKERETAAPIAN DI KOTA MAGELANG DAN SEKITARNYA

Sejarah perkeretaapian di Magelang di mulai dengan pembangunan dan beroperasinya jalur KA Jogja-Magelang pada tanggal 1 Juli 1898. Jalur ini dioperasikan oleh NISM (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) yang merupakan salah satu perusahaan KA swasta Belanda yang tergabung dalam VS (Veerenigde Spoorwegbedrigs). Jalur ini menghubungkan Jogja-Sleman-Tempel-Muntilan-Blabak dan Magelang. Sedangkan stasiun yang ada antara jalur dari Magelang sampai perbatasan dengan Jogjakarta adalah Stasiun Magelang Kota, Magelang Pasar, Banyurejo, Mertoyudan, Japonan, Blondo, Blabak, Pabelan, Muntilan, Dangeyan, Tegalsari, Semen.

 

Stasiun Tempel

Pict by: Tropenmuseum

 

 

                                                             Stasiun Magelang Kota

 

Stasiun Magelang Kota

Pict by: Tropenmuseum

Stasiun Magelang Kota merupakan stasiun utama pada waktu itu. Jalur rel KA antara Stasiun Magelang Pasar dan Stasiun Magelang Kota berjajar dan berdampingan dengan Grooteweg Noord/Djalan Raja Pontjol/Jl. A Yani sekarang sampai ke Grooteweg Zuid/Chinnese Kamperment Straat/Jl. Pemuda sekarang. Jalur sepanjang kurang lebih 2 km tersebut melewati pusat kota yaitu Aloon-aloon dan kawasan Pecinan. Karena itu di timur Aloon-aloon didirikanlah stopplaats, yaitu semacam halte tempat menaik turunkan penumpang tapi bukan stasiun. Selain itu fungsi dari stopplaats ini juga berfungsi untuk mengangkut kiriman paket/surat dari post kantoor/kantor pos Magelang.

Stasiun Aloon-Aloon (stopplaats), Magelang

Pict by: KITLV

Di awal beroperasinya jalur KA Jogja-Magelang dioperasikanlah berbagai jenis loko kereta api, satu diantaranya adalah C24 buatan Werkspoor yang beroperasi sejak tahun 1909. Nah Loko uap jenis ini bahan bakarnya dari kayu jati yang berguna untuk mendidihkan air yang ada di ketel uapnya sebagai sumber tenaga. Maka jenis loko ini sering disebut oleh masyarakat dengan “sepur kluthuk” atau ”sepur trutug” karena itu pada cerobong loko tersebut keluar uap yang keluar berwarna hitam pekat. Apabila loko uap ini berjalan maka keluarlah suara “nguk….nguuk….nguuuk…”.

                                                             Stasiun Pasar Magelang

Stasiun Pasar, Magelang

Pict by: KITLV

Stasiun Magelang Pasar mempunyai andil besar terhadap tumbuhnya Pasar Rejowinangun dan terminal. Sebagai wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan dan banyak menghasilkan produk pertanian (padi, ketela, sayuran) dan perkebunan (tembakau, kopi, rempah-rempah, dll). Peran stasiun ini sangat vital sebagai pengangkut hasil bumi tersebut. Ketika para calon penumpang yang notabene para pedagang menunggu kereta datang, maka para pedagang yang membawa hasil bumi tersebut juga melakukan transaksi jual beli. Hal ini di lakukan supaya hasil bumi yang dibawa tersebut tidak rusak dan busuk. Nah dengan dijual lebih dulu maka hasil bumi tersebut dapat segera menjadi uang.

Stasiun Pasar, Magelang

Pict by: KITLV

                                                 Stasiun Kereta Api VS Terminal Bus

 

Sedangkan tumbuhnya terminal terjadi karena pada waktu itu para pengguna kereta api yang akan naik/turun kereta api membutuhkan sarana transportasi menuju tempatnya masing-masing. Ditambah lagi para pembawa hasil bumi juga membawa angkutan untuk mengangkut produknya. Jadilah agar lebih menguntungkan para pemilik otobus juga mengangkut penumpang tersebut. Maka di sebelah barat dari stasiun Magelang Pasar (sekarang menjadi shoping center) tumbuh berkembang menjadi terminal. Terminal ini pada jaman Bung Karno di beri nama terminal Ampera dan beroperasi sampai tahun 1977 sebelum pindah ke Terminal Tidar di bawah bukit Tidar dekat kampung mbarakan. Di tahun 1960 an berbagi jenis oplet beroperasi mengangkut penumpang di terminal Ampera.

Terminal bis saat itu [sekarang Shoping Center]

pict by: KITLV

 

                         Jalur Kereta Api Magelang-Secang-Temanggung-Parakan

 

Pada tahun-tahun berikutnya sesudah di bangunnya jalur kereta api antara Samarang dan Tanggung di Grobogan, maka berturut-turut di bangunlah pula jalur-jalur KA yang baru di berbagai kota di tanah Jawa. Termasuk pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Magelang dengan kota-kota sekitarnya. Misalnya jalur Magelang-Secang yang beroperasi pada tanggal 15 Mei 1903, jalur Secang-Temanggung beroperasi 3 Januari 1907, jalur Secang-Ambarawa beroperasi 1 Februari 1905 dan jalur Temanggung-Parakan beroperasi 1 Juli 1907.

Proses pembangunan jalur KA antara Ambarawa-Secang, Magelang-Secang dan Secang-Temanggung-Parakan, tentunya tidak bisa melupakan jasa seorang aannemer/pemborong bernamaHo Tjong An. Ho Tjong An terlahir di Tungkwan, Canton Cina pada tahun 1841.

Berikut ini kami kutip dari majalah SINPO terbitan tahun 1919 yang menceritakan tentang sosok Ho Tjong An tersebut:

“Begitoe pakerdjahan itu selese, toean Ho soeda borong poela pakerdjahan memboeka djalanan kreta api antara Willem I-Setjang, Magelang-Setjang dan Setjang-Parakan. Grondverzet antara Setjang-Parakan ada 143.000 M3”.

“Grondverzet jang ia mesti bikin antara Ambarawa-Setjang, toean Ho Tjong An trima boeat harga f 390.000,- kerna boekan sedikit djoerang jang mesti di potong agar tida kliwat menandjak. Koeli jang di pake setiap harinja tida koerang dari 3000 orang.

Kamoedian pakerdjahan ini ia samboeng boeat boeka tanah jang hoeboengkan antara Magelang-Setjang dan Setjang – Parakan, jang ia borong boet harga f 350.000,-.

(“Satoe aannemer kreta api Tionghoa”, majalah Sinpo tahun 1919)

Dalam tulisan tersebut di tuliskan bahwa pengerjaan jalur KA antara Ambarawa-Secang menghabiskan beaya sebesar f 390.000,- (Guilders Belanda). Dan jalur antara Magelang-Secang dan Secang-Parakan menghabiskan beaya sebesar f 350.000,- (Guilders Belanda). Jumlah yang sangat besar diwaktu itu.

Jalur KA antara stasiun Magelang Kota-Secang sejauh kira-kira 9 km yang melewati rute relatif datar dan sedikit tanjakan serta jalan memutar di wilayah Sempu Secang. Di wilayah Payaman ada stasiun kecil dan jalur rel nya berada lebih tinggi dari jalan raya yang ada di bagian baratnya.

Rute Rel Kereta Api Magelang – Temanggoeng

Rute Rel Kereta Api Magelang – Temanggoeng

Seperti tampak pada dua gambar diatas, dimana mulai dari Payaman sampai ke Temanggung, jalur rel yang biasanya dan seharusnya memiliki trek lurus, ternyata tampak berkelak kelok. Ternyata ada hal menarik dibalik ini semua.

Menurut majalah SINPO terbitan tahun 1919, bahwa setelah aktifnya jalur Semarang – Kedungjati Ambarawa dan stasiun Willem I, pada saat itu NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) merekrut salah seorang Tiong Hoa bernama Ho Tjong An yang dipercaya menjadi kontraktor pembangunan rel kereta api Ambarawa – Secang – Magelang, dan Ambarawa – Secang – Parakan.

Sebagai seorang insinyur yang tentunya sudah mempunyai pemikiran modern waktu itu, insinyur yang lahir di Tungkwan, Canton pada tahun 1841 tersebut tetap menggaji kuli lokal, serta menghargai kepercayaan lokal dimana pada waktu itu, masyarakat pribumi masih banyak yang percaya terhadap batu batu, atau pohon pohon, makam makam, dan kawasan kawasan yang dikeramatkan. Maka dari itu, sengaja membelokkan beberapa jalur kereta ini karena jika tidak dilaksanakan, kuli tidak akan mau untuk mengerjakan. Belokan belokan ini terjadi di Payaman – Secang, dan daerah perbatasan Magelang – Temanggung di barat Secang sampai di Kota Temanggung.

                                                             Stasiun Secang

 

Eks Stasiun secang

Pict by: http://www.irps.or.id/yogyakarta-palbapang-parakan-tour/

Di stasiun Secang merupakan stasiun paling strategis di seputar Magelang dan Temanggung. Hal ini karena posisinya yang berada di 3 jalur, yaitu antara Magelang, Temanggung/Parakan dan Ambarawa/Willem I. Karena begitu strategis nya maka Stasiun Secang lebih luas dan memiliki jalur perlintasan lebih banyak Apalagi jenis loko yang melayani jurusan ke Ambarawa juga beda di karenakan memakai rel bergerigi untuk melewati tanjakan di wilayah pegunungan.

                                                            Stasiun Kranggan

Antara Stasiun Secang menuju Temanggung melewati stasiun kecil yaitu Stasiun Kranggan. Stasiun Kranggan juga berfungsi mengangkut hasil bumi masyarakat sekitar. Di stasiun ini juga pernah menjadi saksi tergulingnya gerbong kereta yang terlepas dari lokonya. Peristiwa ini membawa korban yang sangat banyak.

Lokomotiv melintasi sungai progo Temanggung pada tahun 1910.

Pict by: KITLV 

Di barat Stasiun Kranggan terbentang jembatan KA yang melintang diatas di Kali Progo. Pada sisi barat nya pondasi kaki jembatan dan rel berada lebih tinggi dari tanah sekitar. Menembus kawasan Banyusari. Stasiun Temanggung sendiri memiliki nilai arsitektur yang tinggi. Dengan gaya bangunan yang khas kolonial.

Eks. Stasiun Temanggung

Pict by: Nugroho WU, 2006

http://www.irps.or.id/kedu-visit/

                                                            Stasiun Kedu

Eks Stasiun Kedu

Pict by: Nugroho WU, 2006

http://www.irps.or.id/kedu-visit/

Di jalur KA antara Stasiun Temanggung dan Parakan terdapat Stasiun Kedu yang berada di sisi jalan raya. Saat ini kondisinya masih baik. Di wilayah Dusun Watukarung Desa Campursari Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung, terdapat jalur KA yang melintang di atas jalan raya, mirip dengan Plengkung yang ada di Kota Magelang. Antara jalur KA ini dari Stasiun Kedu sampai dengan Parakan rutenya di buat memutar. Hal ini dikarenakan jalan yang sedikit menanjak dan adanya kepercayaan mengenai kucing condromowo dan asu belang menyungyang. Di mana jika melanggar kepercayaan ini maka akan terjadi bahaya terhadap keselamatan perjalanan kereta api di wilayah ini. Karena itu Ho Tjong An sangat menghormati kepercayaan warga setempat  ini sehingga dengan terpaksa membuat rute yang memutar dan lebih jauh.

Jalur Temanggung-Parakan.

Pict by: KITLV

                                                              Stasiun Parakan

Di Stasiun Parakan gaya arsitektur bangunan pun sangat istimewa. Bisa dikatakan persis dengan Stasiun Temanggung. Stasiun Parakan merupakan stasiun awal dan akhir bagi kereta api yang melayani jalur ini, sehingga di Stasiun Parakan ini ada alat pemutar loko. Stasiun Parakan berperan penting dalam pengangkutan tembakau dan hasil bumi yang lain.

Eks. Stasiun Parakan

Pict by: Nugroho WU, 2006

http://www.irps.or.id/kedu-visit/

                                        Masa Berakhirnya Kejayaan Perkeretaapian

Di jaman orde baru pembangunan sedemikian pesatnya.berbagai jenis pabrik didirikan, termasuk pabrik otomotif. Dibuatlah berbagai produk kendaraan, baik kendaraan pribadi ataupun untuk sarana angkutan umu, termasuk oplet dan bus. Pembenahan intrastuktur jalan raya dilakukan dengan cara pelebaran dan penghalusan dengan aspal. Demikian juga dengan jalan-jalan raya yang menghubungkan Magelang dengan kota-kota sekitar seperti Jogjakarta, Temanggung, Parakan, Ambarawa.

Dengan hal tersebut maka terjadilah pergeseran minat masyarakat menggunakan transportasi kereta api. Kalau dengan naik kereta maka hanya bisa pada jam-jam tertentu dan waktu itupun kecepatan kereta masih terbatas. Dengan hadirnya oplet dan bis maka pilihan masyarakat untuk menuju kota tujuan lebih beragam. Dipastikan bahwa jam keberangkatan oplet maupun bus tersebut lebih variatif dan di sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Hal ini diperparah lagi dengan terjangan banjir lahar dingin pada bulan Desember 1976 yang menghantam jembatan Krasak diperbatasan antara Jawa Tengah dan DIY. Sebagai catatan pada tahun 1947 jembatan Krasak juga pernah rusak karena sabotase pejuang. Tahun 1960 dan 1967 juga pernah rusak terkena banjir lahar dingin. Maka ambrol nya jembatan Krasak di tahun 1976 tersebut benar-benar melumpuhkan jalur KA Magelang-Jogja.

Tetapi meski demikian Borobudur ekspres yang melayani sejak tahun 1973 tetap mengantar penumpang dari Magelang sampai Muntilan hingga tahun 1978. Demikian juga dengan kereta Taruna ekspres yang khusus mengangkut Taruna Akmil ke Jogja otomatis terhenti dengan ambrolnya jembatan krasak ini. Taruna Ekspres sendiri diresmikan oleh Gurbernur Akmil Sarwo Edhi Wibowo pada tahun 1973 untuk melayani para Taruna Akmil yang berlibur ke Jogja.

Dengan kendala-kendala diatas maka berdampak juga terhadap aktivitas Kereta Api di sekitar Magelang. Pelan tapi pasti beberapa jalur Perkeretaapian di tutup. Jalur KA/spoorweg antara Parakan-Secang ditutup pada tahun 1973. Jalur Magelang-Ambarawa ditutup pada tahun 1967.

Demikian sedikit cerita tentang Perkeretaapian di Magelang dan sekitarnya. Masih banyak sejuta cerita di balik sang Raja Besi ini yang di alami oleh ratusan ribu orang yang pernah menyaksikan kehebatan di masa jayanya. Yang selalu akan menjadi kenangan khusus sepanjang hidup manusia.”……Ayo, naik kereta api tut…tut…tut, siapa hendak turut ke Bandung Surabaya…..”

Diskusi DJEDJAK SEDJARAH KOTA MAGELANG TAHUN 1923

Standard

Image

Para peserta diskusi berfoto bersama sesaat sesudah selesai acara [foto: Widoyoko]

Pada hari Minggu 13 Januari 2013 yang lalu bertempat di Museum BPK komplek eks Karesidenan Kedu jl.Diponegoro Magelang telah berlangsung kegiatan yang bertajuk  Diskusi DJEDJAK SEDJARAH KOTA MAGELANG TAHUN 1923. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan masyarakat Magelang yang berminat di bidang sejarah dan cagar budaya. Kegiatan yang di gagas oleh komunitas KOTA TOEA MAGELANG ini merupakan event yang kesekian kalinya diadakan.

Pada kegiatan kali ini diskusi lebih fokus mengungkap jejak-jejak bangunan penting di Kota Magelang di tahun 1923. Berdasarkan peta tersebut ternyata pada masa itu Kota Magelang bisa dikatakan sebagai sebuah kota yang sudah maju di karenakan sudah memiliki prasarana dan sarana kota yang sangat komplit. Misalnya sudah tersedia gedung pemerintahan [rumah bupati, gedung Karesidenan, kantor burgemeester, laandraadgebouw dll], penjara, sarana transportasi seperti angkutan masal, stanplats, stasiun, sekolahan, pasar, militer, air minum, rumah sakit, saluran air, kepolisian, bahkan lapangan terbang yang ada dibawah kaki bukit Tidar.