Category Archives: Event

Agenda Acara KOTA TOEA MAGELANG Minggu 1 September 2013

Standard
AGENDA KOTA TOEA MAGELANG – Minggu 1 SEPTEMBER 2013
Ini kisah tentang asal usul dan kehidupan orang-orang Indo yang tinggal di Kota Magelang, terutama pada masa-masa akhir era kolonial di antara tahun 1906-1942. Kota Magelang yang semakin berkembang membawa pengaruh modernitas yang signifikan.Pembangunan kota berjalan sangat cepat. Selain itu juga, akan menjelaskan gaya hidup mereka di kota ini. Gaya hidup mereka semakin Barat dengan didukung adanya fasilitas-fasilitas publik yang kian memadai. Modernitas pada awal abad 20 telah mengubah pandangan dan gaya hidup yang sama sekali baru dan belum pernah dirasakan sebelumnya.Jika Anda ingin lebih tahu tentang kondisi pada waktu itu, ayo ikuti Remboeg Sedjarah :#tema:
“Di Bawah Bayang-Bayang Modernitas: Orang-Orang Indo di Kota Magelang (1906-1942)”- Narasumber : Tedy Harnawan (Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada)

#PADA:
– Hari / tanggal : Minggu / 1 September 2013
– Waktu : 18.30-21.00 WIB
– Tempat : LATAR “KUNCUNG BAWUK”
Jl. Kartini Pasar Anyar, Mertoyudan Magelang.
No Telepon: (0293) 5570177

#lokasi:
[150 meter sebelah timur Polsek Mertoyudan Magelang / seberang timur jalan Raya Magelang – Jogja atau arah tenggara Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Magelang [UMM]

GRATIS … !!!

Cara pendaftaran :
Ketik : INDO [spasi] Nama Anda
kirim ke 0878 32 6262 69

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG - Minggu 1 SEPTEMBER 2013<br /><br /><br /><br />
Ini kisah tentang asal usul dan kehidupan orang-orang Indo yang tinggal di Kota Magelang, terutama pada masa-masa akhir era kolonial di antara tahun 1906-1942. Kota Magelang yang semakin berkembang membawa pengaruh modernitas yang signifikan.</p><br /><br /><br />
<p>Pembangunan kota berjalan sangat cepat. Selain itu juga, akan menjelaskan gaya hidup mereka di kota ini. Gaya hidup mereka semakin Barat dengan didukung adanya fasilitas-fasilitas publik yang kian memadai. Modernitas pada awal abad 20 telah mengubah pandangan dan gaya hidup yang sama sekali baru dan belum pernah dirasakan sebelumnya.</p><br /><br /><br />
<p>Jika Anda ingin lebih tahu tentang kondisi pada waktu itu, ayo ikuti Remboeg Sedjarah :</p><br /><br /><br />
<p>#tema:<br /><br /><br /><br />
"Di Bawah Bayang-Bayang Modernitas: Orang-Orang Indo di Kota Magelang (1906-1942)"</p><br /><br /><br />
<p>- Narasumber : Tedy Harnawan (Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada)</p><br /><br /><br />
<p>#PADA:<br /><br /><br /><br />
- Hari / tanggal : Minggu / 1 September 2013<br /><br /><br /><br />
- Waktu : 18.30-21.00 WIB<br /><br /><br /><br />
- Tempat : LATAR "KUNCUNG BAWUK"<br /><br /><br /><br />
Jl. Kartini Pasar Anyar, Mertoyudan Magelang.<br /><br /><br /><br />
No Telepon: (0293) 5570177</p><br /><br /><br />
<p>#lokasi:<br /><br /><br /><br />
[150 meter sebelah timur Polsek Mertoyudan Magelang / seberang timur jalan Raya Magelang - Jogja atau arah tenggara Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Magelang [UMM]</p><br /><br /><br />
<p>GRATIS ... !!!</p><br /><br /><br />
<p>Cara pendaftaran :<br /><br /><br /><br />
Ketik : INDO [spasi] Nama Anda<br /><br /><br /><br />
kirim ke 0878 32 6262 69

Ayo ikuti TEMU PUSAKA INDONESIA [TAKSA] 2013 di Lombok 12-15 September 2013

Standard

Poster publikasi Temu Pusaka Indonesia 2013 di Lombok

Info lengkap bisa di akses di http://indonesianheritage.info/taksa2013.html

Untuk pendaftaran peserta dapat di akses di sini

https://docs.google.com/file/d/0BydIHLwFyifSYVpCRC1KcGl0MGc/edit?pli=1

Ayo ikuti DJOEMPA KERABAT KOTA TOEA MAGELANG Kamis 15 Agustus 2013

Standard

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG – 15 Agustus 2013

Ayo ikuti even setahun sekali berjumpa, bertatap muka, bertukar pengetahuan dan halal bihalal dengan Kerabat KOTA TOEA MAGELANG.

Ikuti acara kami hanya di :
DJOEMPA KERABAT KOTA TOEA MAGELANG

Hari : Kamis, 15 Agustus 2013
Jam : 18.00 – 21.00 WIB
Tempat : Warung Makan “Voor de Tidar”
Jl. Gatot Subroto 58 Jagoan Kota Magelang/sebelah utara Toko “UM”

Kontribusi (bisa pilih):
(A.) Rp 65.000,- [fasilitas : Kaos KTM edisi Stadsgemeente Magelang+makan+minum]
atau
(B.) Rp 10.000,- [fasilitas : makan+minum]

Cara pendaftaran : ketik DJOEMPA [spasi] Nama Anda [spasi] Pilih A / B
Kirim ke: 0878 32 6262 69

##-biaya pendaftaran dibayarkan saat daftar ulang di lokasi, 15 Agustus 2013.-##

Ayo jangan ketinggalan… !!!

*NB :
1. Pilihan (A.) Kaos terbatas hanya untuk 30 orang saja.

2. Pendaftaran paling lambat tanggal 13 Agustus 2013 lewat sms

3. Contoh pendaftaran :
Jika anda ingin fasilitas kaos+makan+minum maka ketik :
DJOEMPA (Nama Anda) A kirim ke 0878 32 6262 69
atau
Jika anda cuma ingin fasilitas makan+minum maka ketik :
DJOEMPA (Nama Anda) B kirim ke 0878 32 6262 69

Komunitas KOTA TOEA MAGELANG adakan aksi sosial bersih-bersih makam tokoh legendaris Pa van Der Steur

Standard

Barangkali tidak setiap warga Kota Magelang mengetahui jika hingga saat ini di tengah kota masih ada peninggalan era kolonial Belanda yang di sebut dengan makam/kerkhoof. Hal ini wajar adanya mengingat lokasinya yang tertutup oleh pertokoan. Makam itu adalah makam tokoh legendaris yang bernama Pa van der Steur. Letaknya ada di belakang pertokoan di Jalan Ikhlas.

Pintu masuk menuju makam

Tokoh ini sangat luar biasa karena pernah menjadi bapak asuh bagi 7000 anak. Lokasi untuk panti asuhannya ada di kampung Meteseh di utara gedung Karesidenan Kedu. Kawasan ini oleh warga Magelang di kenal dengan nama Pandestiran. Area kawasan ini membujur antara Gereja Bethel sampai ke perumahan Mantyasih, di kitari oleh Kali Bening di sisi utara dan barat hingga ke timur sampai Jalan Diponegoro.

Di seberang gerbang Kerkhoof di belakang pertokoan inilah makam itu berada

Untuk mengetahui siapa Van der Steur silahkan klik di sini https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/04/papa-johan-van-der-steur/

Sedemikian legendarisnya tokoh ini maka pada Minggu 7 Juli 2013 Komunitas KOTA TOEA MAGELANG mengadakan aksi sosial bersih-bersih makam Pa van der Steur dan kerabatnya. Aksi sosial ini di ikuti oleh sekitar 25 orang Kerabat KTM. Aksi sosial ini di lakukan menjelang peringatan hari lahirnya Pa van der Steur yang jatuh pada tanggal 10 Juli. Sebagaiman di ketahui Van der Steur lahir di Haarlem, 10 Juli 1865 dan wafat di Magelang 16 September 1945.

Ini dia hasil aksi sosial itu :

Mendengarkan paparan dari Bu Tatik (tengah berkaos merah)  selaku salah seorang ahli waris  yang di percaya untuk mengelola makam

Lagi penjelasan lagi nih…

Ada juga peserta dari Jakarta yang ikutan di acara ini, mbak Suci (berkaos merah dan berkaca mata)

Ini nih makam van der Steur, tempat peristirahatan terakhirnya

Mulai aksi bersih-bersih rumput di area makam

Semangat…semangaaaat…

Anak kecilpun turut serta membersihkan makam Otto, penerus pengasuh anak sepeningal van Der Steur

Ada Nyong Ambon juga yang di makamkan di sini

Foto bersama di depan makam Van der Steur

Rampung acara foto bareng di gerbang Kerkhoof dulu

Liputan “DJELADJAH PLENGKOENG” bersama Komunitas KOTA TOEA MAGELANG

Standard
       Siapa sih warga Kota Magelang yang belum pernah melihat Plengkung ? Siapa pula yang belum pernah menikmati pemandangan Kota Magelang dari atas Plengkung ini ? Tentu saja hampir tiap warga Kota Magelang melihat Plengkung ini, apalagi posisinya yang berada di tengah kota menjadikannya mudah di akses oleh setiap orang. Apalagi saluran air yang melewati di atasnya membelah Kota Magelang menjadi 2 bagian, sebelah barat dan timur. Plus membentang dari Pucangsari hingga Jagoan sepanjang 5 Kilometer. Juga posisinya yang lebih tinggi dari tanah sekitar yang tentu saja mudah untuk di lihat. Meski demikian belum tentu masyarakat tahu akan riwayat sejarahnya.
Peserta jelajah sedang berfoto bersama sesaat sebelum acara di mulai. Lokasi di depan Radio Polaris.
Briefing dulu dari panitia
       Tergelitik oleh hal itu Komunitas KOTA TOEA MAGELANG/KTM kembali mengadakan acara jelajah terbuka yang di ikuti oleh masyarakat umum. Acara yang di laksanakan pada hari Minggu Pahing 7 Juli 2013 ini di sambut sangat antusias oleh kalangan generasi muda. Tidak kurang sebanyak 51 orang ikut serat di acara jelajah kali ini.
Di titik 0 kilometer dari Boog Kotta Leiding
Peserta menelusuri boog kotta leiding di daerah selatan kampung Peniten
       Peserta tersebut tidak hanya berasal dari Magelang, akan tetapi juga berasal dari Jakarta, Bandung, Banjarnegara, Bantul, Surabaya, Jogja dan lain-lain. Yang lebih mengejutkan adalah kehadiran kawan-kawan dari Travellerkaskus sejumlah lebih dari 10 orang yang ikut serat di jelajah ini. Bahkan salah seorang dari kawan TravellerKaskus dari Bandung itu juga baru saja mengadakan “trip” ke Rinajani di NTB, dan sebelum pulang ke kotanya menyempatkan diri ikut serta di acara DJELADJAH PLENGKOENG.
Kawan-kawan dari Travellerkaskus sedang menunjukkan poster Djeladjah Plengkoeng”
       Pagi itu jam 07.30 wib peserta sudah berkumpul di depan Radio Polaris sebagai meeting event point. Setelah registrasi ulang dan penjelasan petunjuk teknis acara dari panitia maka tepat jam 08.30 wib acara di mulai. Titik 0 kilometer dari saluran air “boog Kotta leiding” berada di belakang Radio Polaris di Kampung Pucangsari Kel. Kedungsari, tepatnya di Kali Manggis sebuah sungai legendaris yang mengalirkan air dari 2 sumber. Sumber air dari Kali Manggis ada 2 yaitu dari Bendung Badran Kali Progo di Kranggan Temanggung dan dari Bendung Plered Kali Elo di timur Payaman Kab. Magelang.
Dapat di jelaskan bahwa Kali Manggis ini di bangun sekitar tahun 1870-an. Mengalir sepanjang kurang lebih 20 kilometer melewati dari wilayah Temanggung, Kabupaten Magelang dan Kota Magelang. Fungsi dari Kali Manggis ini lebih utamanya sebagai saluran irigasi. Terutama untuk mengairi lahan pertanian sawah dan perkebunan tebu serta suntuk salauran sanitasi.
Berhenti sejenak di bawah Menara Sirine di HM 900 di Kampung Potrosaran
       Dari Pucangsari pera peserta berjalan kaki/trekking menelusuri saluran air menuju ke arah Menowo dan Potrosaran. Pada jarak HM 900 tepat di atas saluran air itu dapat di temukan sebuah menara sirine peninggalan jaman Belanda yang di duga sudah ada sejak tahun 1930-an. Fungsi menara sirine itu sebagai alarm tanda bencana alam seperti gunung meletus/gunung Merapi, maupun sebagai penanda jam malam. Menurut cerita para orang tua menara sirine tersebut di kenal dengan nama “mbengung” yang merupakan istilah untuk menyebut suara sirine ketika berbunyi.
Menara sirine ini ada 3 buah, selain di Potrosaran juga da di HM 1850 dekat dengan Plengkung Lama dan di HM 3650 di Kamping Kemirikerep. HM adalah sebutan untuk jarak yang berarti Hektometer. Kalo HM 1850 artinya jarak dari titik 0 kilometer/hulu saluran air berjarak 1850 meter. Sebagai sentral adalah menara sirine yang di pasang di atas Menara Air Minum di Aloon-aloon Kota Magelang. Artinya saat sirine di puncak menara Air Minum di bunyikan maka ketiga menara sirine yang lain ikut berbunyi.
Break di tulisan Magelang Kota Harapan sebelah barat pertigaan Kebonpolo
       Pada jarak HM 1450 dapat kita temui sebuah bangunan megah mirip dengan terowongan yang di sebut dengan Plengkung Baru. Pada dinding bangunan ini terdapat sebuah penanda berupa angka yang di yakini sebagai berdirinya bangunan ini yaitu “1920”. Tahun 1920 ini bisa berarti ganda, yaitu proses renovasi bangunan atau pembangunan pertama kali dari bangunan ini. Mengingat di Plengkung Lama yang ada di jalan Piere Tendean berdiri sejak tahun 1883 yang angka ini terpahat pada dinding plengkung sebelah timur. Akan tetapi tulisan ini sudah hilang karena di tutupi plester semen.
Peserta jelajah berfoto dulu di atas Plengkoeng Baroe Badaan
       Saluran air yang melintas di atasnya bagaikan air yang melayang sehingga hal ini biasa di sebut dengan aquaduct atau flyriver. Sungguh sebuag bangunan yang sangat fenomenal karena posisinya 8 meter lebih tinggi dari tanah sekitar.
Tetap semangaaaatttt….
Menurut sejarah di tahun 1945 sampai jaman agresi Belanda, boog kotta leiding dan Plengkung menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Di sinilah antara pejuang republik dan Belanda pernah saling baku tembak.
Peserta jelajah berfoto dulu di atas Plengkoeng Lama
       Setelah dari Plegkung Lama pejalanan di lanjutkan menuju ke arah selatan atau di sisi timur Jalan pahlawan kampung Botton tepatnya di belakang SMP Negeri 1 Magelang. Perjalanan agak sulit karena harus melewati semak belukar yang menutupi jalan. Kayak ini nih….
      Tapi justru di atas saluran air inilah kita bisa melihat pemandangan nan indah dari Gunung Sumbing dan Perbukitan Giyanti di sisi barat. Sangat eksotis tentunya. Terlebih di sisi selatan Puncak Tidar juga terlihat juga.
Setelah menembus Jalan Veteran peserta melewati Jalan Yos Sudarso yang tidak lupa menjepret eksotisme si “lawang sewunya Magelang” Hoge Kweek school.
“Lawang Sewunya Magelang”…
       Dari Jalan Yos Sudarso/Pendowo peserta melewati Masjid Kauman meski agak nylempit di depan Telkom, akan tetapi saluran air ini masih terlihat.
Di sebelah Masjid Kauman
      Dari Aloon-aloon peserta menuju jalan di belakang Bank Jateng atau di Kampung Semplon. Setahun yang lalu saat saya mesurvey keaslian saluran air di kampung ini masih terlihat yaitu berupa susunan batu kali berada di sisi kanan dan kiri saluran ini. Akan tetapi saat kami lewat saluran air itu sudah berubah dan susunan batu kali itu sudah tertutup dengan semen.
Berjalan ke arah selatan tibalah di Plengkung Tengkon. Butuh nyali tinggi dari para peserta untuk melewati di atasnya mengingat tidak ada jalan lain selain harus melewatinya. Resiko sangat tinggi karena di atas plengkung itu terdapat kabel listrik dan di samping plengkung juga tidak ada pengaman. Kayak ini nih…
Berjalan di atas Plengkong Tengkon nan menantang
Di atas kabel listrik, di bawah kabel telepon, di belakang ada jalan raya, di depan ada air…wooooow
Mbak Suci Tembangraras peserta dari Jakarta harus bersusah payah melewati Plengkung Tengkon…ckckckck
      Meski demikian ada pemandangan indah sebuah rumah tua yang terlihat dari atas Plengkung Tengkon ini…RUMAH BANYAK/ANGSA.!
Dari tempat ini kami menelusuri kawasan Bayeman. Air selokan sudah habis karena tidak ada air yang mengalir. Apalagi sampah bejibun menggenangi saluran ini.
Nylempit sekali jalannya…..di Kampung Bayeman
      Setelah berjalan selama 3 jam dan menempuh jarak sejauh 5 Kilometer akhirnya sampailah kami di titik finish di Kampung Jagoan Kel. Jurangombo. Dan di Waroeng Maka “Voor de Tidar” inilah break even point kami. Rasa capek tapi puas di rasakan para peserta.

Break even point di Waroeng Makan “Voor de Tidar” di Jalan Gatot Subroto 58 Jagoan Magelang

Sampai jumpa di even lain bersama KOTA TOEA MAGELANG atau gabung dengan kami di

https://www.facebook.com/groups/kotatoeamagelang/

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG “DJELADJAH PLENGKOENG”- Minggu 7 JULI 2013

Standard
Bangunannya megah dengan gaya arsitektur yang luar biasa, melengkung kokoh bak terowongan. Mengalir sebuah selokan air di atasnya membelah kota Magelang menjadi 2 bagian. Berdiri tegak hingga ratusan tahun. Membentang dari Pucangsari-Poncol-Aloon2-Tengkon-Bayeman hingga Jagoan sepanjang lebih dari 5 kilometer. Mengairi sawah, menyirami tanaman, menggelontor kotoran dll.

Itulah Plengkung namanya yang hingga kini tetap setia menjalankan tugasnya.
Lalu seperti apakah kondisinya sekarang, apakah masih seperti dulu ?
Jika kamu pecinta sejarah dan suka berpetualang, ayo ikuti :

“DJELADJAH PLENGKOENG” (Trekking Jalan Kaki)

Waktu : Minggu 7 Juli 2013
Jam : 07.30 WIB-selesai
Tempat Kumpul : Depan Radio Polaris Jl. A Yani Kota Magelang.
Kontribusi : Rp 15.000,-
Fasilitas : Makalah, Makan dan Minum

Cara Pendaftaran/info : ketik PLENGKOENG [nama anda]
kirim ke: 0878 32 6262 69

NB:
1. Rute: Start dari hulu boog Kotta Leiding di Pucangsari/belakang Radio Polaris menelusuri sepanjang boog Kotta Leiding menuju Plengkung Baru di Badaan, ke Plengkung Lama di dekat SMK 3, Aloon-aloon, ke Plengkung Tengkon, Bayeman dan finish di Jagoan sejauh 5 kilometer. Break event point di Warung Makan Tempo Doeloe “Voor de Tidar” Jalan Gatot Subroto 58/sebelah utara Toko “UM”  Jagoan Kota Magelang.

2. Para peserta wajib memakai sepatu, topi, kaos cadangan, handuk kecil, sedia payung / mantol.

3. Bagi peserta yang memakai sepeda motor harap menghubungi panitia di kontak person: 0878 32 6262 69.

4. Jangan melakukan Vandalisme pada BCB dan jangan buang sampah sembarangan.

SAVE HERITAGE AND HISTORY IN MAGELANG.

Liputan dari even “DJELADJAH DJALOER SPOOR djoeroesan Setjang-Tjandi Oemboel”, Minggu 9 Juni 2013

Standard

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2013/06/15416-shoping.jpg

Stasiun Magelang Passar tempo doeloe [KITLV]

Kawasan Kedu Utara merupakan dataran yang berbukit-bukit. Membentang membatasi wilayah antara Magelang dan Ambarawa. Udara sejuk turun dari Gunung Andong dan Telomoyo. Kemudian terlihat “si ular besi” melintasi rel berjalan lurus. Asap hitam membumbung pekat di antara persawahan, tegalan dan perkebunan kopi. Kadang berjalan tertatih ketika melewati jalan menanjak antara Jambu menuju Bedono ataupun anatara Gemawang ke Bedono.Itulah sang kereta api.

Itulah yang mungkin diceritakan oleh orangtua, bahkan kakek-nenek kita yang mempunyai sepenggal kisah dengan indahnya perkeretaapian yang pernah ada di Magelang. Mungkin anak muda jaman sekarang hanya bisa menikmati indahnya sepenggal cerita manis di pagi hari yang menjadi kenangan saja, karena tidak pernah merasakannya bahkan melihatnya. Ini menjadikan harapan tersendiri bagi yang tidak merasakan masa yang indah itu.

Berawal dari nilai historis ilmu, rasa kangen, misteri, dan keingintahunan inilah komunitas Kota Toea Magelang pada hari Minggu, 9 Juni 2013 turut mengajak anda semua dalam agenda kegiatan yang bertemakan Kereta Api,

DJELADJAH DJALOER SPOOR djoeroesan Setjang-Tjandi Oemboel”

       Tujuan acara ini adalah bagaimana kita bisa lebih menghargai sejarah dan melestarikan cagar budaya yang mencakup fisik dan non fisik. Karena mengingat bahwa apabila tidak adanya perkembangan bergulirnya sejarah, kita tidak akan tahu tolok ukur untuk masa depan.

Pada tahun-tahun berikutnya sesudah di bangunnya jalur kereta api antara Samarang dan Tanggung di Grobogan, maka berturut-turut di bangunlah pula jalur-jalur KA yang baru di berbagai kota di tanah Jawa. Termasuk pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Magelang dengan kota-kota sekitarnya. Misalnya jalur Magelang-Secang yang beroperasi pada tanggal 15 Mei 1903, jalur Secang-Temanggung beroperasi 3 Januari 1907, jalur Secang-Ambarawa beroperasi 1 Februari 1905 dan jalur Temanggung-Parakan beroperasi 1 Juli 1907.

Proses pembangunan jalur KA antara Ambarawa-Secang, Magelang-Secang dan Secang-Temanggung-Parakan, tentunya tidak bisa melupakan jasa seorang aannemer/pemborong bernamaHo Tjong An. Ho Tjong An terlahir di Tungkwan, Canton Cina pada tahun 1841.

Berikut ini kami kutip dari majalah SINPO terbitan tahun 1919 yang menceritakan tentang sosok Ho Tjong An tersebut:

“Begitoe pakerdjahan itu selese, toean Ho soeda borong poela pakerdjahan memboeka djalanan kreta api antara Willem I-Setjang, Magelang-Setjang dan Setjang-Parakan. Grondverzet antara Setjang-Parakan ada 143.000 M3”.

“Grondverzet jang ia mesti bikin antara Ambarawa-Setjang, toean Ho Tjong An trima boeat harga f 390.000,- kerna boekan sedikit djoerang jang mesti di potong agar tida kliwat menandjak. Koeli jang di pake setiap harinja tida koerang dari 3000 orang.

Kamoedian pakerdjahan ini ia samboeng boeat boeka tanah jang hoeboengkan antara Magelang-Setjang dan Setjang – Parakan, jang ia borong boet harga f 350.000,-.

(“Satoe aannemer kreta api Tionghoa”, majalah Sinpo tahun 1919)

Dalam tulisan tersebut di tuliskan bahwa pengerjaan jalur KA antara Ambarawa-Secang menghabiskan beaya sebesar f 390.000,- (Guilders Belanda). Dan jalur antara Magelang-Secang dan Secang-Parakan menghabiskan beaya sebesar f 350.000,- (Guilders Belanda). Jumlah yang sangat besar diwaktu itu.

Dan di tahun ini sudah lebih dari 100 tahun perkeretaapian ini ada, meski kini hanya tinggal bekas-bekas peninggalan sejarahnya saja.

Untuk menikmati acara event “DJELADJAH DJALOER SPOOR djoeroesan Setjang-Tjandi Oemboel” tempo hari, ini dia liputannya :

Perserta berfoto bersama sebelum start di Taman Badaan.

Pukul 8.15 pagi, di Taman Badakan Magelang, lengkap sudah peserta yang didominasi dari Magelang, dan sebagian berasal dari Jogja, Solo, hingga Semarang. Setelah briefing dan penjelasan rute oleh mas Bagus Priyana –  Koordinator KTM, kami yang berjumlah 37 orang bersiap mengadakan doa pemberangkatan yang dipimpin oleh Pak Budiman – yang datang dari Jogja bersama puteranya dan kebetulan merupakan peserta yang dituakan.

Berbeda dengan acara acara sebelumnya yang biasa menggunakan sepeda motor, kali ini kami mencarter angkutan umum untuk sampai di Stasiun Secang setelah sebelumnya kami menitipkan motor di Nikita Futsal, Jl. Pahlawan Magelang. Dua puluh menit kemudian kami telah sampai di Eks. Stasiun Secang.
Eks stasiun Secang

“Stasiun ini pada jamannya merupakan stasiun penting, karena merupakan pertemuan antara jalur Ambarawa – Magelang dan – Temanggung Parakan. Bekas yang menunjukkannya adalah banyaknya ruas rel yang berjumlah lima sehingga dapat dipastikan pada masanya stasiun ini besar dan ramai. Bahkan stasiun Magelang Kota pun kalah ramai” Demikian penjelasan dari Bagus Priyana sesaat setelah kami mengamati bekas stasiun yang kini digunakan sebagai markas PEPABRI Cabang Secang ini.

Peserta Djeladjah saat berkunjung di Stasiun Secang
Adalah Ho Tjong An, seorang annemeer, atau pemborong yang ditugasi oleh Pemerintah Belanda waktu itu untuk mengerjakan pembukaan jalur kereta dari Ambarawa – Secang – Magelang dan juga Secang – Temanggung – Parakan. Jalur Secang – Ambarawa sendiri mulai beroperasi pada 1 Februari 1905. Berdasarkan referensi dari Majalah Sinpo terbitan Tahun 1919 , selanjutnya menceritakan bahwa Insinyur kelahiran tahun 1841 di Tungkwan, Canton itu memborong pekerjaan dengan nilai 350.000 Gulden. Sebuah nilai yang luar biasa besar saat itu. Cukup beralasan pastinya, mengingat rel kereta harus mendaki bukit bukit dan memotong banyak jurang. Kulinya saja setiap harinya tidak kurang dari 3000 orang.
 
Kumuh, tidak terawat, dan kotor sepertinya menjadi sebuah keniscayaan disini. Namun bekas kursi ruang tunggu yang terbuat dari kayu jati lengkap dengan penyangga besinya tampak masih kokoh di lobi. Bergeser ke belakang, tampak bekas emplasement dengan lantai keramik tahu, demikian istilah yang biasa dipakai. Adalah keramik, lebih tepatnya tegel berwarna orange dengan satu pasang merupakan 4 kotak berukuran sekitar 10×10 cm persegi. Tepat dibaliknya, dapat ditemukan tulisan HOLLAND. Sebuah bukti bahwa ini adalah peninggalan Belanda. Atau malah dulunya tegel ini didatangkan langsung dari Belanda? Bicara mengenai kualitas, jangan salah, stasiun ini sekarang sering dimanfaatkan sebagai tempat parkir truk besar dan sebagaimana yang kami lihat, tegel tegel warna kuning mirip tahu ini benar benar bertahan lebih dari satu abad. Luar biasa!
Bagian Belakang Tegel “Tahu”
Masih di Stasiun Secang bagian belakang
Bekas Jembatan Kereta
Dimulai dari Eks Stasiun Secang inilah trekking dimulai. Pada kilometer awal, kami masih melintasi perkampungan padat, Krajan dan memotong Jl. Raya Secang – Temanggung. Bekas jalur ini sekarang banyak ditutup semen untuk jalan kampung. Rel rel pun masih tersisa utuh.
Rel di atas beton, lokasi di utara Pasar Secang
Rel di utara Pasar Secang
Jalur rel ke arah Ambarawa ini memotong lagi Jl. Raya Magelang – Semarang sehingga kami otomatis masuk wilayah Krincing. Tidak sampai sepuluh rumah kami lalui, sawah luas menyapa kami. Ya, kami mulai trekking yang sesungguhnya. Jalur ini rata rata merupakan gundukan buatan dengan pemadatan menggunakan batu batuan untuk menopang rel. Bekas bekas tiang sinyal juga kami temui di beberapa titik.
Peserta saat melewati jalan setapak menelusuri rel
Jembatan rel kecil yang masih tersisa
Sepanjang lebih kurang 3 kilometer jauhnya, kami harus berjibaku dengan medan yang berat. “lebih berat dari yang saya bayangkan!” kata saya dalam hati. Bagaimana tidak, di daerah Krincing hingga…. Ini, tim bahkan terpaksa harus terbagi menjadi beberapa kelompok karena perbedaan daya tahan dan kecepatan berjalan. Belum jauh kami melangkah, terdengar suara jeritan yang diikuti dengan tawa cekikikan. Rupanya, Maria Kristina – salah satu peserta harus merelakan sandalnya putus saat melintasi salah satu pematang sawah yang kondisinya licin. Tidak hanya itu, beberapa peserta juga meski rela terjatuh ataupun terpeleset namun untungnya tidak ada yang sampai fatal.
Saat melewati persawahan
Di beberapa tempat, bekas rel ini terlihat dengan jelas. “KRUPP adalah pabrik pembuat rel, NIS adalah pemesannya, yaitu maskapai perkeretaapian pada jaman Belanda, singkatan dari Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschappij. 1903 adalah tahun pembuatan dan 98 adalah berat rel dalam hitungan Kg per satu lonjor” demikian ujar saya kepada salah satu peserta yang tengah memotret salah satu sisi rel yang bertuliskan kode kode diatas. Ya, informasi ini saya ingat betul dari mas Tommy yang merupakan Railfans yang dulu mengikuti Djelajah Djaloer Spoor seri satu. “KRUPP sendiri adalah pabrik di Jerman” tutup saya sembari melanjutkan langkah.
Rel merk Kruup tahun 1903
Kami juga menjumpai dua buah talang air yang melintas di atas rel kereta. Talang air ini terbuat dari baja dan melihat dari warna dan struktur bangunannya, pastilah ini talang air tua.
Di bawah talang air dan sawah inilah rel kereta api itu tersembunyi
Sebelum melintasi sungai kecil yang memaksa beberapa dari kami melepas sepatu, kami sampai pada sebuah tempat dimana suasana sangat sunyi. Tidak ada bunyi bunyian selain suara hewan hewan sawah dan gemercik air. Coba saya tarik nafas panjang dan benar benar terasa damai. Disinilah tepatnya talang air satunya berada. Bangunannya menggunakan semen yang menandakan usianya belum setua talang air pertama tadi. Berdasarkan informasi dari ketua tim, kanan kiri yang merupakan bukit kecil ini dahulunya adalah satu bukit yang dikepras atau dibelah untuk jalan kereta.
Tepat di bawah pematang sawah inilah tertimbun rel kereta api itu. Dan konon tebing di kanan dan kiri rel ini dulunya adalah sebuah bukit yang karena harus di lewati rel maka bukit ini harus di kepras.
Pemandangan di sekitar situ sangatlah mempesona, lembah, persawahan terasering, dan beberapa bagian kampung serta pemandangan kota Magelang dari kejauhan nampak dari sini. “Lihat! Artos dan Atria Hotel terlihat jelas dari sini…!” terang mas Yoga kegirangan. “dari sebelah sini” seraya tangannya menunjuk dua buah gedung tinggi yang nampak dari kejauhan, sambung peserta yang selalu aktif di forum skyscrapercity bersama saya, forum yang membahas seputar perkembangan pembangunan dan proyek di Magelang.
Sejak kami memulai jalur persawahan tadi, hingga saat ini kami masih hanya melintasi sawah, dan hutan. Di beberapa lokasi, bekas jalur kereta ini sekarang benar benar tidak pernah dilewati bahkan hanya sekedar untuk mobilitas petani setempat misalnya. Semak belukar tumbuh yang tertinggi sampai ukuran perut orang dewasa. Beberapa puluh meter mendekati Sungai Elo, kami dapat rehat sejenak dan mencuci kaki di sebuah saluran irigasi. Tidak jauh dari tempat ini, rute trekking memutar jauh melewati sebuah jembatan panjang. Sekitar seratus meter dari situ, tampak bekas jembatan kereta yang terlihat masih kokoh.
Jembatan kereta api di atas Kali Elo
Di atas jembatan kereta api di atas Kali Elo
“Yang berani silakan lewat situ.. Tapi hati hati. Kalau terjadi apa apa tidak saya tanggung” teriak Bagus Priyana kepada kami rombongan yang berada di belakang. Saya dan beberapa peserta tertantang untuk melintasinya. Tapi rupanya, hanya Adi Okta, dan saya yang berani melintasi jembatan yang kini bantalan rel – yang terbuat dari kayu jati – nya habis dicuri orang. Rel yang tersisa berkode UMH 1910 NIS 98 melintang diatas jembatan nan kokoh ini. Kemungkinan rel jembatan ini pernah mengalami penggantian. Dua sayap di kiri kanan ini salah satunya menjadi tempat istirahat saya , lebih tepatnya istirahat perasaan karena saya terus terang deg degan juga saat melintasi besi yang lebarnya dari 15 hingga 30 centimter ini. “Tempat itu adalah tempat petugas kereta api dalam mengecek kondisi rel dan jembatan” jawab mas Bagus ketika saya menanyakannya. Sampai di ujung jembatan, satu peserta lagi, Edi Purnomo yang berani menaklukkan jembatan besi ini. Rupanya ini pengalaman keduanya setelah beberapa waktu lalu dia mengikuti survey lokasi bersama KTM.
Rel kereta api yang masih terlihat
Tiga setengah kilometer sudah kami berjalan. Sejenak melepas penat, cuaca diatas mulai mendung, perjalanan pun dilanjutkan. Sesaat sebelum memotong Jl. Raya Grabag, tepatnya di Kampung Brangkal kiri jalan terdapat sebuah pondasi  yang dahulunya adalah sebuah halte. Istilahnya pada saat itu adalah stoopplast, sebuah tempat pemberhentian kereta tanpa pembelian tiket. Cuaca semakin tidak bersahabat saat kami meninggalkan Stopplast Brangkal, menyeberang jalan raya dan kembali dihadapkan pada rute yang tidak mudah. Acapkali kami harus melewati genangan genangan air dan membuka jalan dikarenakan rumput yang sudah tinggi. Semarak suasana panen disepanjang persawahan yang kami temui sontak melihat kami dan memberitahu kami bahwa Candi Umbul masih jauh. Benar benar kalimat yang membuat kami semakin loyo.
Pemandangan sepanjang penjelajahan
 
 Akhirnya rintik rintik hujan jatuh juga. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mantol atau payung. Ya, memang sebelumnya sudah diinformasikan perihal perlengkapan ini untuk mengantaisipasi cuaca yang akhir akhir ini kurang bersahabat. Beberapa peserta akhirnya menggunakan banner dan daun pisang karena tidak membawa perlengkapan. Badan rasanya lemas, kaki pegal, kotor dan lengkap sudah hingga kami menjumpai sebuah jembatan dengan konstruksi beberapa rel yang dipasang berjejer selebar 2 meter. Alhamdulillah beberapa langkah darisitu tampak dau buah bangunan setengah hancur tanpa atap.  Kami telah sampai di titik finish trekking kami.
Stasiun Candi Umbul
Reruntuhan bekas Stasiun Candi Umbul
Lokasi kami berada di Desa Kertoharjo Kecamatan Grabag. Usut punya usut, stasiun ini dahulunnya sengaja dibangun untuk melayani rute wisata untuk Sinyo Noni Belanda yang hendak berwisata ke Pemandian Air Hangat Candi Umbul yang berada tidak jauh dari stasiun ini.  Sedangkan bangunan satunya yang terletak di sebelahnya adalah bekas Rumah Dinas Stasiun. Rupanya pada waktu itu pemandian peninggalan Kerajaan Hindu ini sudah menjadi obyek wisata. Setelah puas berfoto dan selonjoran, kami melanjutkan langkah menuju ke Candi Umbul yang dapat ditempuh sekitar 10 menit dengan berjalan kaki.
Peserta sedang istirahat di bekas stasiun Candi Umbul
Capek capek kaki terasa rileks saat saya menyemplungkan kaki ke air hangat itu. Kolam pemandian ini terdiri dari dua kolam yang mana kolam utamanya berada lebih tinggi dan tingkat panasnya lebih tinggi juga. Konstruksi kolam menggunakan batu andesit. Beberapa relief dan candi berjejer di sekeliling kolam.
Foto bersama di eks Stasiun Candi Umbul, akhir dari penjelajahan
Pukul setengah tiga sore, kami sudah siap untuk pulang karena tiga angkot carteran yang akan mengantar kami kembali ke Magelang juga sudah menunggu kami di depan gerbang. Dan dengan demikian, berakhir pulalah trekking jalur kereta Secang – Candi Umbul ini.
Foto bersama di depan kompleks Candi Umbul
Nyemplung di pemandian Candi Umbul bersama bule.
Foto : Edi Purnomo, Kurnianto Yoga, Mameth Hidayat, KOTA TOEA MAGELANG]

Agenda Acara KOTA TOEA MAGELANG Minggu 9 Juni 2013, “DJELADJAH DJALOER SPOOR” Djoeroesan Setjang – Tjandi Oemboel

Standard
Perkeretaapian di wilayah Magelang memiliki sejarah yang sangat panjang. Lebih dari 100 tahun lalu “ular besi” ini menjelajahi bumi Kedu Utara, menghubungkan wilayah Magelang – Temanggung – Parakan dan antara Magelang – Ambarawa.Lalu seperti apa ya jejak-jejak sejarahnya di masa kini … ???

Ayo ikuti:
“DJELADJAH DJALOER SPOOR”
Setjang – Tjandi Oemboel (trekking jalan kaki)

Pada: Minggu, 9 Juni 2013
jam: 07.00 – selesai
tempat berkumpul: Monumen A Yani Taman Badaan, Magelang.

Kontribusi: Rp 15.000,-
(fasilitas: poster sejarah perkeretaapian di Jawa Tengah, minum, transportasi Magelang – Secang & Candi Umbul – Magelang)

Cara pendaftaran / info ketik: SPOOR (spasi) Nama Anda
kirim ke: 0878 32 6262 69

NB:
1. Menempuh rute sejauh kira-kira 8 km antara Secang – Candi Umbul ditempuh dengan berjalan kaki melewati bekas rel kereta api dengan pesona persawahan yang indah. Melewati bukit yang di belah 2 karena di lewati rel kereta api dan melewati jembatan rel kereta api yang melintang di atas Kali Elo.

2. Peserta wajib memakai topi, sepatu kets, kaos cadangan, handuk kecil dan perlengkapan pribadi lainnya. Jangan lupa : sedia payung/mantel sebelum hujan.

 

AGENDA KOTA TOEA MAGELANG (19 MEI 2013)

Standard

Kantor Perpustakaan, Arsip & Dokumentasi Kota Magelang bekerjasama dengan KOTA TOEA MAGELANG menggelar acara yang harus anda ikuti.

Buat para pecinta sejarah & cagar budaya, ayo ikuti acara Remboeg Sedjarah dengan tema:

“NAMA-NAMA DJALAN TEMPO DOELOE TAHUN 1935 DI KOTA MAGELANG”

– Pada hari: Minggu, 19 Mei 2013
– jam: 15.00 – 18.00 WIB
– Tempat: panggung dalam, pada Acara Pameran Buku, Arsip & Budaya di Gedung Tri Bhakti, Jl. Jendral Sudirman, Magelang (sebelah utara Hotel Trio)

## cara pendaftaran / info ##
ketik: DJALAN (spasi) Nama Anda
kirim ke: 087832626269

GRATIS … !!!

Liputan dari pameran Magelang Tempo Doeloe 2013.

Standard

Banyak hal dan banyak cara ketika kita ingin menguak dan memperkenalkan  sejarah kota tercinta ini. Tidak harus duduk manis di bangku sekolah atau di kampus biru. Kita bisa belajar lewat apa yang ada di sekitar kita. Entah dengan melihat, mendengar, merasakan ataupun dengan berpikir. Lalu bagaimana caranya ya agar orang mau menyukai sejarah ?

Nah salah satunya adalah lewat pameran, Yah namanya pameran Magelang Tempo Doeloe yang di gelar selama 2 hari yaitu tanggal 27-28 April 2013.

https://i0.wp.com/assets.kompas.com/data/photo/2013/04/28/0944154-magelang-tempo-dulu-620X310.jpg

Pameran Magelang Tempo Doeloe 2013 yang digelar di halaman Bakorwil II eks Karesidenan Kedu, Jalan Diponegoro Magelang, memang berbeda jauh dengan pameran-pameran produk lain pada umumnya. Pengunjung tidak akan menemukan barang-barang mewah, mahal, dan modern seperti di pameran properti atau komputer.

Sesuai namanya, di pameran ini pengunjung justru akan disuguhi segala macam suasana Magelang pada jaman dulu, berikut benda-benda yang berbau kuno dan antik. Setidaknya ada 35 stan yang saling unjuk kebolehan menyajikan keunikan suasana Kota Magelang jadul (zaman dulu). Stan-stan tersebut antara lain dari perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Magelang dan sekitarnya.

Stan Hotel Sriti Kota Magelang misalnya, setiap penjaga stan memakai pakaian khas orang-orang Belanda zaman dulu, lengkap dengan tata ruang dan penyajian makanan asli Belanda, Leker. Ada juga stan mainan anak-anak yang barangkali akan membuat pengunjung tersenyum simpul karena pasti teringat dengan mainan-mainan masa kecil yang sekarang hampir punah. Mainan macam othok-othok, congklak, gasing, dan lainnya.

Ada pula bursa lawasan yang memajang aneka benda kuno, seperti sepeda, meja, kursi, uang logam, buku, lukisan sampai foto-foto kondisi Magelang pada masa kedudukan Belanda.

Ada lagi penampilan dari MACI/Motor Antik Club Indonesia juga turut serta menampilkan koleksinya seperti Harley Davidson WL. MZ, dan DKW. Menurut Yoga salah seorang anggota MACI, keikutsertaan MACI ini sudah yang ketiga kali sejak even Magelang Tempo Doeloe di gelar. Selain koleksi motor antik, juga di tampilkan beberapa koleksi motor CB, Vespa, Lambreta dan tidak ketinggalan deretan sepeda antik yang tentu saja mempunyai harga yang tinggi karena memiliki nilai yang antik dan langka.

Jika lapar seusai keliling pameran kita dapat mampir di stand Djadjanan Ra’jat, jangan harap kita akan menemukan stan burger atau fast food. Namun, justru akan bertemu makanan tradisional seperti lotek, jenang, cetil, nasi lesah sampai soto. Bahkan sego jagung iwak asin gereh pethek pun masih ada yang jual da acara ini. Makanan tersebut sudah jarang atau bahkan sudah tidak ditemukan lagi di hari-hari biasa.

“Pameran ini memang rutin digelar tiap tahun sebagai rangkaian perayaan HUT ke-1107 Kota Magelang. Sejak hari pertama pengunjung memang ramai dan antusias sekali,” kata Hary Nurjianto, Ketua Seksi Pameran Magelang Tempo Doeloe HUT ke-1107 Kota Magelang yang berlangsung pada 27-28 April 2013.

Bertempat di Halaman Museum BPK kompleks Bakorwil II Karesidenan Kedu Kota Magelang, pameran diikuti oleh sedikitnya 35 stan yang merupakan perusahaan dan instansi baik dari lokal Magelang ataupun luar kota seperti Solo, Klaten, dan Yogyakarta. Turut pula komunitas-komunitas pecinta benda kuno dan antik, antara lain Komunitas Kota Toea Magelang,  Komunitas sepeda antik VOC, Paguyuban penggemar Keris Satriya tama, Komunitas Motor Antik Club Indonesia/MACI, KSBI/Komunitas Seniman Borobudur Indonesia, Bol Brutu/gerombolan pemburu batu, BPPI/Badan Pelestari Pusaka Indonesia , Paguyuban Lawasan dan masih banyak lagi.

Dengan mengusung tema “Magelang The Heritage City (Magelang Kota Pusaka)”, yang artinya bahwa Magelang baik Kota maupun Kabupaten memiliki warisan sejarah dan cagar budaya yang tinggi nilainya.  Bagus berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman sejarah bagi generasi muda. Karenanya, akan timbul rasa bangga, rasa memiliki bangsa ini bagi generasi muda.

“Konsep pameran tahun ini lebih kuat mulai kualitas sampai materi, sekarang dipamerkan juga mobil, sepeda, dan motor kuno. Tempatnya juga kami pilih di Bakorwil karena kita ingin sekaligus mengenalkan kepada masyarakat bahwa tempat ini juga memiliki sejarah,” ujar Bagus Priyana, salah satu koordinator kegiatan.

https://i0.wp.com/mpn.kominfo.go.id/web/wp-content/uploads/2013/04/Screenshot-from-2013-04-29-125313-another-copy.png

stand Monumen Pers Solo di acara Pameran Magelang Tempo Doeloe menampilkan koleksi foto, surat kabar dan audio visual.

Selain pameran, pihaknya juga menggelar acara Remboeg Sedjarah & Boedaja, Lajar Tantjap film tentang Kartini, Sarasehan tentang Keris, Djeladjah Kota Toea, yaitu mengelilingi Kota Magelang naik sepeda ontel dengan mengenakan pakaian khas Belanda dan Jawa.Ada juga Panggoeng Moesik & Boedaja, Oendjoek Potrek Koeno, Oendjoek Angkoetan Lawas, Djadjanan Ra’jat dan lain-lain.

https://i0.wp.com/mpn.kominfo.go.id/web/wp-content/uploads/2013/04/Screenshot-from-2013-04-29-125313-copy.png

Panggoeng Boedaja dengan menampilkan kesenian tradisional

Monumen Pers Nasional Solo, pada pameran ini menampilkan, ekpose media tentang Magelang Tempo Doeloe, Peringatan Hari Kartini yang dimuat majalah Panyebar Semangat th.1939 – 40, foto Bung Karno ketika berpidato, di alun-alun kota Magelang 1954, macam-macamperangko yang dimuat majalah Jawa Baroe pada pendudukan Jepang dan baberapa ekspose media lainnya.

Dewan Kesenian selaku pelaksana kegiatan mengharapkan bahwa even Pameran Magelang Tempo Doeloe ini dapat berlangsung setiap tahun dan menjadi acara terfavorit yang di tunggu-tunggu oleh masyarakat dalam setiap pelaksanaan peringatan Hari Jadi Kota Magelang.

[ sumber : http://regional.kompas.com/read/2013/04/28/11030684/Yuk.Menengok.Magelang.Tempo.Doeloe

http://mpn.kominfo.go.id/index.php/2013/04/29/pameran-magelang-tempo-doeloe-2/

dan di rangkum dari berbagai sumber]