MEMPERTIMBANGKAN TENUN TRADISI

Standard
Fakta yang sering kutemui tentang banyaknya orang yang tak tahu tenun tradisional dan tak bisa membedakannya dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sering mengusikku. Di dalam masyarakat Jawa pun sekarang ini ingatan dan pengetahuan tentang tenun tradisional semakin menghilang. Pada umumnya yang diketahui hanyalah batik. Jawa yang hanya diidentikkan dengan batik. Kesimpulan yang menurutku bisa fatal, meletakkan batik sebagai kenyataan tunggal. Tradisi tenun Jawa yang merupakan salah satu bagian dari ke-bhinneka-an atas kesatuan Tenun Nusantara semakin surut dan terlupakan. Padahal dari sumber-sumber ilmiah sejarah, catatan-catatan masa lalu, dari prasasti-prasasti sima, bahkan dari mitos-mitos atau legenda yang ada membuktikan bahwa tradisi tenun pernah hidup dengan baik di pulau Jawa.

Penenun Jawa (dari buku “De Weefkunst”)
Legenda Dayang Sumbi di Jawa Barat misalnya, menyiratkan tradisi tenun identik dengan dunia wanita, dunia penciptaan yang tidak hanya sekedar kain, namun juga makna di dalamnya. Dan torak/tropong, tempat bagi benang pakan merupakan simbol takdir awal mula. Sosok Dayang Sumbi mengingatkan pada sosok Deak Parujar, dewi tenun dalam mitologi suku Batak, meskipun ceritanya berbeda, namun simbol-simbol tenun yang ada memiliki kesamaan dalam makna. Tenun dipercaya sebagai penghubung antara dunia atas (langit) dan dunia bawah (bumi). Keterhubungan yang demikian dekat dengan alam semesta. Sosok-sosok mitologi yang mewakili penenun itu menjadi simbol yang bermakna “ibu bumi”. Dayang Sumbi, tokoh sentral dalam legenda Sangkuriang yang semula tradisi lisan turun temurun ini dituliskan pertama kali di atas daun nipah oleh pengelana masa silam, Bujangga Manik (Prabu Jaya Pakuan). Menjadi salah satu bagian dari catatan perjalanannya keliling Jawa dan Bali. Bujangga Manik ksatria yang memutuskan diri meninggalkan keraton Pakuan Pajajaran sebagai resi kelana Hindu. Catatan perjalanannya berupa puisi naratif yang menggambarkan keadaan Jawa-Bali di abad 15. Naskah kuno yang tersimpan di Perpustakaan Bodley, Universitas Oxford ini juga bercerita tentang tradisi tenun yang menjadi bagian dari lingkungan hidupnya. Dunia ibunya dan juga putri keraton yang mencintainya. Tenun menjadi realitas keseharian para wanita pada zaman Bujangga Manik itu. Realitas yang membentang di atas pulau jawa dari barat hingga ke timur.

Relief umpak batu Trowulan Majapahit
Kehidupan wanita di Jawa yang menenun juga terpahat di salah satu relief terakota yang terpahat di umpak batu dari abad 14 di Trowulan Majapahit. Sebuah relief percandian yang melukiskan kekhusyukan seorang wanita yang sedang menenun dengan alat gedogan di bale-bale rumah. Relief yang tersimpan di museum Trowulan ini diekspose pertama kali oleh A.J. Bernet Kempers di dalam bukunya “Ancient Indonesian Art” (1959).
Peter Carey dalam “Kuasa Ramalan – Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama Di Jawa, 1788-1855 ” (2012) mengungkap catatan J.W. Winter (1902) yang bersumber dari catatan Raffles, “Lettres de Java” (1817) yang menggambarkan kehidupan keseharian keluarga di desa-desa Jawa era sebelum Perang Diponegoro, sebagai berikut:
“.. anak laki-laki diajari dasar-dasar pertanian, sedangkan anak-anak gadis mendapat pelajaran memintal dan menganyam atau menenun dari perempuan yang lebih tua dalam keluarga – suatu pekerjaan yang mereka lakukan, “siang dan malam”, dengan hasil berupa kain kasar untuk keperluan keluarga dan kain halus untuk dijual ke pasar.” 

perempuan Jawa membawa benang katun (hasil kerajinan paling penting di desa-desa Jawa awal abad 18. Lukisan seniman Inggris William Daniell (1769-1837). Dikutip dari Raffles, 1817:86, Peter Carrey, 2012:37
Selain menenun menjadi keseharian keluarga desa pada masa itu, Peter Carey mencatat beberapa nama daerah di Jawa yang terkenal dengan kerajinan tenun tradisionalnya. Di antaranya; Karang Bolong – selain terkenal dengan sarang burung walet – adalah penghasil tenun, terutama kain ginggang (lurik) yang dipasarkan ke Solo; Banyumas penghasil tenun untuk keperluan sendiri, menghasilkan lurik, batik, dan kain putih; dan Begelen merupakan pusat tenun paling marak sebelum pecahnya Perang Diponegoro.
“Pertenunan kapas dan rami merupakan tulang punggung industri kerajinan setempat: kain rami (linen), selempang batik katun, baju perempuan, penutup kepala, dan kain sarung yang dibuat di desa-desa Bagelen dijual ke segala penjuru Jawa maupun ke pulau-pulau Indonesia timur lewat pelabuhan pantai utara di Semarang. Tiga pusat pertenunan katun yang paling penting sebelum Perang Jawa adalah Jono, Wedi, dan Tangkilan (dekat Gombong) …. 
Ada juga satu pusat khusus pertenunan kain rami yaitu Tanggung (dekat Kedung Kebo (pasca perang Jawa, Purworejo). Ketika Baker (Godfrey Phipps Baker, Kapten Bengal Light Invantry Battalion, atas perintah Raffles melakukan survey) berkunjung pada pertengahan di 1815, provinsi itu nyaris mencapai puncak kemakmuran sebagai daerah penghasil kain. Tapi hari-hari kejayaannya semakin mendekati akhir.” (Peter Carey, 2012: 28)
Gambaran tersebut merupakan sepotong kenyataan Jawa di masa transisi dari “tradisional” ke “modern” setelah mengalami dua abad diduduki VOC, kemudian VOC bubar berganti kekuasaan Belanda-Perancis yang menjalankan pemerintahan kolonial Hindia Belanda, selanjutnya Jawa dikuasai Inggris dan akhirnya direbut kembali oleh pemerintahan kolonial hindia Belanda. Jawa menjadi ajang persaingan kepentingan bangsa-bangsa Eropa di tengah kenyaatan global arus revolusi industri yang tak terelakkan, persaingan penguasaan sumber kekayaan sekaligus pasar.

armada kapal VOC
Catatan sejarah seringkali adalah kisah tentang “orang-orang besar”, tentang perang, politik dan sejenisnya. Sulit untuk menemukan misalnya bagaimana sosok penenun di masa kolonialisme itu. Barangkali karena mereka dianggap tidak penting. Tak bernama. Anonim. Sebagaimana ribuan rakyat yang bekerja rodi di bawah perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) dalam membangun jalan pos dari Anyer hingga Panurakan yang menjadi simbol pintu ke peradaban baru, pintu masuk yang tak bisa untuk keluar lagi.

Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels
Namun di balik proyek jalan pos, untuk para serdadu yang mengawasi para pekerja rodi dan pertahanan militer, para penenun Jawa di desa-desa mengerjakan kain tenun untuk bahan seragam mereka atas permintaan Daendels. Kebutuhan pasokan kain tenun ini oleh karena Daendels menaikkan jumlah serdadunya dengan merekrut orang-orang pribumi. Sehingga dari jumlah serdadu yang semula dimilikinya yaitu 2.000 personel meningkat menjadi 18.000 hingga 20.0000 personel. Dari permintaan banyaknya kain tenun untuk seragam militer ini setidaknya masih tampak kehebatan para penenun tradisional di desa-desa Jawa pada saat itu. Tentu kain yang dibuat pun berkualitas baik. Apalagi – terlepas dari karakter ‘bengis’nya – Daendels adalah seorang yang bercita rasa tinggi dalam soal busana dan gaya. Keelokan penampilan serdadu militernya adalah cermin kebanggaan dirinya sebagai pemimpin kolonial Hindia Belanda.
Pada masa pemerintahan interregnum Inggris (1811-1816), untuk mendukung derap mesin-mesin revolusi industri di negerinya, Gubernur Letnan Sir Thomas Stamford Raffles melirik Jawa yang berpotensi besar sebagai pasar atas tekstil Inggris. Dibuat beberapa aturan baru demi mengkondisikan Jawa menjadi lebih terbuka bagi masuknya produk massal tekstil Inggris tersebut. Bahkan dengan melanggar awisan dalem, tata krama pemakaian jenis kain batik tertentu yang sebelumnya hanya boleh untuk raja dan keluarganya. Salah satunya tentang pola parang rusak. Asistennya, James Crawfurd, Residen Yogya mengirimkan beberapa potong contoh kain batik parang rusak dan pola lainnya termasuk kain penutup kepala ke para pemilik pabrik tekstil di Inggris (di Pasley Glasgow dan Lancashire). Sehingga sejak masa Raffles ini produk kain-kain batik tiruan pun memasuki pasar Jawa. Pintu masuk ke pedalaman-pedalaman Jawa menjadi terbuka lebar bagi perekonomian Eropa yang sedang mengalami industrialisasi yang saat itu dipimpin Inggris. Raflles membuat rasionalisasi cukai pengenaan pajak tinggi atas kain lokal untuk mencegah perdagangannya, menjadi jalan mulus bagi beredarnya tekstil impor dari Inggris ke tanah Jawa.

Gubernur Letnan Sir Thomas Stamford Raffles
Tentang import tekstil dari Inggris ini, Sosiolog J. B. A. F. Mayor Polak dalam bukunya “Perekonomian Indonesia dan Barter di Luar Djawa Tahun 1850” menulis :
“Suatu tindakan lain dari Raffles, jang mendapat sambutan jang lebih baik dari atasannja, ialah usahanja untuk mengandjurkan import tekstil buatan Inggeris. Pada waktu itu Inggeris sudah mulai membangun industri tenunan kapasnja dan Raffles memadjukan import hasil-hasilnja berupa “printed cottons”. Ia menulis ke negeri Inggeris : “Saja merasa amat bersemangat dan pertjaja penuh kepada hasil baik (import ini) asal saja tjorak dan bentuknja diperhatikan baik-baik, begitu pula saran-saran lain” (lihat Mr. H.D Levyson Norman dalam bukunja “De Britsche Heerschappij over Java en Onderhoorigheden”). 
Untuk pertama dalam sedjarah. Maka hasil-hasil industri dari Barat mulai memasuki pasar-pasar di Asia pada umumnja dan Indonesia pada chususnja. Barang-barang buatan Barat jang berabad-abad lamanja tak dapat bersaing dengan buatan Asia dan Indonesia sendiri, kini menemui pembeli-pembeli, karena murahnja”. 
Ketika Jawa kembali ke tangan Belanda, pemerintahan kolonial Hindia Belanda pun melakukan hal yang sama untuk menyaingi Inggris dengan mengimpor kain dari Belanda (Twente) ke Jawa di 1840. Pusat tekstil Belanda ini dikembangkan dari keuntungan cultuurstelsel (tanam paksa) di Jawa oleh “Nederlandsche Handel Maatschappij” (NHM), sebuah lembaga Belanda yang mengurusi arus perdagangan selama masa cultuurstelseel berlangsung. Saat Belanda kembali ke Jawa dan berhasil merebut kekuasaan dari Inggris (1816), Belanda dalam keadaan krisis ekonomi berat dan banyak hutang atas biaya perangnya di Eropa dan hutang-hutang VOC. Ketambahan lagi biaya sangat besar untukpencapaian kemenangan pahit atas Jawa dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Sejak

Lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro”, karya Raden Saleh
usai Perang Diponegoro, atas kemenangan Belanda yang berarti pula sebagai penguasa tunggal di tanah Jawa, untuk mengatasi keterbelitan tumpukan hutang dan mempercepat keuntungan finansial sebesar-besarnya, maka tidak ada jalan lain bagi Belanda kecuali eksploitasi atas rakyat dan tanah Jawa. Ialah cultuurstelsel, yang berarti “sistem budidaya”, namun bagi negri jajahan artinya “tanam paksa”. Rakyat dipaksa bekerja menghasilkan tanaman-tanaman yang laku keras di pasar Eropa (kopi, tebu, tembakau, teh, nila, kapas, dan sebagainya). Tanam paksa yang digulirkan Gubernur Jenderal Johannes Graaf van den Bosch ini berlangsung dari 1830 hingga 1870.

Gubernur Jenderal Johannes Graaf van den Bosch
Bahwasanja van den Bosch dapat melakukan paksaan ini disebabkan pertama karena semangat perlawanan rakjat mengalami kemunduran sedjak Perang Dipanegara. Hal ini tidak usah mengherankan, djika kita membatja misalnja pada de Graaf bahwa habis perang seluruh Djawa Tengah berada dalam keadaan jang mengerikan (,.rag er vreselijk uit”). Beribu-ribu desa-desa dimusnakan. Pangeran-pangeran berdiam dalam gubuk-gubuk di atas puing istana-istana indah dahulu. Kemunduran djiwa penduduk ditaksir ratusan ribu. .” (J. B.A.F. Mayor Polak, 1958: 25)
Tanam paksa yang digerakkan sejak Gubernur Jenderal Johannes Graaf van den Bosch ini dikonsentrasikan di Jawa. Kolonial Hindia Belanda sadar kekurangan kekuatan dan dana untuk bisa menduduki daerah-daerah luar pulau Jawa. Pernah dicoba di beberapa tempat di luar Jawa. Namun gagal dan hasilnya tak maksimal.
“Dengan letusnja Perang Dipanegara kedudukan Belanda mendjadi amat sulit. Pos-pos Belanda di luar Djawa hanja diduduki sebagai tanda kedaulatan formil, tetapi dari pertjampuran dalam soal-soal pemerintahan intern tidak terdjadi apapun lagi. Tidak ada uang dan tidak ada serdadu untuk itu ! Daerah-daerah luar Djawa adalah merdeka de facto.” (J.B.A.F. Mayor Polak, 1958: 23)
Lewat cultuurstelsel rakyat Jawa dipaksa bekerja semaksimal mungkin sampai di luar batas kemanusiaan hingga tak punya waktu lagi untuk mengurus sawah-sawahnya sendiri. Selain terlantar, banyak sawah berubah fungsi menjadi ladang bagi tanaman-tanaman ekspor. Kelaparan terjadi di mana-mana. Rakyat bagai ‘mayat-mayat hidup’ di ladang-ladang nila di Jawa Barat, misalnya. Dan hasil kerja keras rakyat terus mengalir ke negeri Belanda. Maka tak ayal jika ilmuwan sosial sekaliber Karl Max dalam karya besarnya “Das Kapital” juga sempat mengupas penindasan atas nama kolonialisme kapitalistik di tanah Jawa sejak masa VOC hingga masa cultuurstelsel ini.

cultuurstelsel
Meski tak seberapa bila dibandingkan dengan jerih payah dan rasa ketertindasan, para pekerja tanam paksa mendapat gaji. Perekonomian uang mempengaruhi perubahan kehidupan masyarakat desa. Pola tukar-menukar tradisional semakin terdesak oleh pola tukar-menukar yang menggunakan uang sebagai konsekuensi ekonomi pasar. Masyarakat menjadi sangat tergantung pada uang, upah, dan pasar. Adanya uang tunai menyebabkan daya beli masyarakat yang berarti pula larisnya kain-kain impor dari Twente di Jawa.
Kini aku kembali kepada relief penenun Majapahit hingga ke gambaran Peter Carey tentang kehidupan wanita desa yang menenun secara tradisional di era sebelum Perang Diponegoro. Apakah memungkinkan gambaran-gambaran seperti itu masih hidup di desa-desa Jawa di masa tanam paksa 1830 – 1870? Secara fisik akibat Perang Diponegoro banyak desa telah hancur lebur, bahkan pusat-pusat pertenunan seperti Bagelen itu. Dan di masa pasca perang, rasanya waktu dalam keseharian masyarakat desa telah dihabisi oleh keharusan kerja tanam paksa. Jika pun ada tersisa sedikit waktu, kubayangkan orang desa sudah capek bukan main. Mau menenun, benangnya tak ada, kapasnya sudah jadi milik Belanda sebagai produk ekspor tanam paksa. Mungkin masih ada yang menenun, terdorong panggilan jiwa, meski tidak harus dengan memintal sendiri, demi mempersingkat waktu ke pasar, beli benang impor dari Eropa. Bayangan yang demikian, rasanya terlalu romantis dan sentimentil untuk sebuah masa yang penuh derita dan rasa lapar yang lara di tanam paksa yang berlangsung lama.

cultuurstelsel
Di Jawa, 1870 mulai diberlakukan Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) yang menjamin kebebasan ekonomi bagi kaum swasta dan secara perlahan menghapuskan sistem tanam paksa, monopoli negara. Politik ini merupakan kemenangan kaum liberal atas kaum konservatif di Belanda untuk turut mengusai ekonomi di tanah jajahan. Sejak itu berbondong orang-orang swasta Belanda ke Jawa membuka perkebunan-perkebunan dan usaha ekonomi lainnya. Sistem agraria ini tetap merugikan rakyat. Tanah-tanah rakyat dikuasai perkebunan-perkebunan swasta, rakyat bekerja jadi kulinya. Banyak konflik atas tanah, protes sosial dan pemberontakan petani di desa-desa.

industri batik cap (foto dari koleksi Tropen Museum)
Membanjirnya produk massal tekstil Eropa hingga masa sesudah tanam paksa tampaknya tidaklah mampu melumpuhkan batik. Sekalipun kain-kain batik Jawa telah ditiru pabrik-pabrik Eropa. Justru di 1870 muncul varian baru lagi, batik cap, untuk melawan produk massal Eropa. Meski dengan perkecualian, menerima kain putih impornya yang ternyata disukai orang Jawa, menjadi bahan dasar bagi batik cap dan batik tulisnya. Kemunculan batik cap menaikkan tingkat kebutuhan batik tulis. Pada pasar kain di tingkat menengah ke bawah orang memilih batik cap ketimbang batik tiruan atau kain-kain berwarna dari Eropa yang diketahui mudah luntur itu. Di tingkat atas tetap akan memilih yang lebih punya nilai tinggi, yaitu batik tulis. Kemampuan batik beradaptasi dan berlaga di pasar komersial ini menggerakkan orang-orang di Jawa, tidak hanya kalangan bangsawan kerajaan, tapi juga para pemilik modal besar; orang Eropa atau indo, Tionghoa, Arab dan orang Jawa jadi pengusaha batik di beberapa kota seperti Pekalongan, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya.
Sebagai tradisi maupun industri, batik tetap bisa hidup. Bombardir kain-kain import Eropa justru menjadi “nasib baik” dan “peruntungan” bagi batik Jawa. Bahkan tanpa perlu berumit-rumit memikirkan dari mana kain putihnya berasal; apakah dari Inggris yang berarti pula salah satu sumber kapasnya dari perbudakan kulit hitam di Amerika atau dari penderitaan rakyat di India yang telah menyumbang kelancaran gerak mesin industri dan perdagangan Inggris yang para serdadunya tega memotongi jari-jari para penenun India untuk menyetop muslin, kain putih “tenunan angin” nan terawang, halus, lembut dan melumpuhkan perdagangannya yang sejak dulu kala tembus ke Eropa, diminati para bangsawannya; apakah dari Belanda yang industri tekstilnya berkembang dari penderitaan rakyat Jawa di masa tanam paksa; dan lain sebagainya. Maraknya tekstil eropa menjadi babak baru secara total atas tradisi Batik di Jawa. Memang, jauh sebelum masuknya tekstil impor Eropa, orang Jawa juga sudah biasa membeli kain putih dari para pedagang Asia, seperti India, China dan lain sebagainya untuk batik. Namun di era sebelum masuknya tekstil Eropa tersebut orang Jawa di banyak tempat juga masih menggunakan kain putih yang dihasilkan dari menenun secara tradisional. Yaitu kain putih yang disebut “lawon”, ditenun dari ‘lawe’, benang dari kapas yang dipintal tangan.

Ngantih (memintal benang), dari “De Weefkunst”
Baiklah, tentang ini sejenak menyimak uraian yang ditulis sendiri oleh Raffles dari pengalamannya ketika berada di Jawa. Lewat catatan ini setidaknya memberikan kesadaran, terutama bagi orang Jawa, bahwa; pertama, tenun tradisional pernah hidup dengan kuat dan mengakar di masyarakat, dan yang kedua, sesungguhnya tenun tradisional adalah “kakak kandung, satu bapak satu ibu” dari Batik. Dari karya Raffles, “The History of Java” (1817), buku volume I versi asli bahasa Inggris pada bagian khusus bahasan tentang tenun Jawa kuterjemahkan demikian :

Kapas dan wusu dari De “Weefkunst”
“Salah satu kecerdasan terbesar manusia dalam mengubah bahan mentah menjadi barang jadi (manufaktur) terletak dalam pengumpulan bahan-bahan mentah atau pembuatan kain dari bahan-bahan tersebut sebagai pakaian yang diperlukan untuk perlindungan, kesopanan, atau sebagai perhiasan. Apakah bahan-bahan tersebut berasal dari bulu domba, bulu binatang lainnya, bulu unggas, bulu binatang yang lebih besar, kepompong, kulit kayu, atau tanaman semak, butuh proses yang melelahkan dan mahal sebelum bahan-bahan tersebut cocok untuk digunakan; dan dalam mengatur prosesnya, atau membangun perangkat pengolahannya agar lebih tepat, lengkap, dan mudah, keahlian unggul manufaktur dari suatu bangsa atas bangsa lain sangat tampak dengan jelas. Domba di Jawa, sebagaimana di semua yang beriklim tropis, kehilangan bulunya sebelum dapat digunakan manfaatnya. Ulat sutera tidak pernah berhasil, meskipun tidak ada alasan dapat diberikan mengapa hal itu tidak semestinya demikian, dan oleh karena itulah bahan utama atau pakaian jawa adalah kapas.
 Jika masih dalam keadaan kasar disebut “kapas”, dan ketika telah dibersihkan “kapok”. Proses pemisahan biji dilakukan dengan “gilingan”, alat penggiling yang terdiri dari dua kayu silinder berputar dalam arah berlawanan, yang mana antara keduanya menyebabkan serat kapas terlontar keluar. Operasi ini sangat membosankan, dua hari diperlukan untuk satu orang untuk menghasilkan kapas bersih satu kati setara dengan satu seperempat pound. Setelah pemisahan biji, adalah tahap “gebleg” atau dipukuli dengan rotan, dan “pindi” atau disortir. Kapas baik yang telah tersortir kemudian dibusur; operasi ini disebut "wusoni”. Kapas yang telah disiapkan lalu dibuka, digelar rata, ditarik-tarik keluar dan digulung dengan stick, gulungan ini disebut “pusuh”. Untuk mengerjakan proses ini dapat satu kati dengan mempekerjakan satu orang makan waktu sekitar dua hari. Kapas tersebut sekarang siap untuk dipintal (ngantih), dan memerlukan sepuluh hari kerja tambahan dari satu orang untuk menjadikan sejumlah kecil kapas tadi menjadi benang, hasilnya yang didapat tiga tukal, atau tiga gulung.Sebelum masuk ke tahapan menenun, benang direbus, kemudian dibaluri dan disisiri dengan kanji. Setelah kering digulung dengan alat yang disebut “ingan” dan kini siap untuk menenun. Kini proses terakhir melewati tangan penenun, dan dalam keadaan normal butuh tiga hari untuk penyelesaiannya. Bahkan kadang empat hari oleh penenun ahli, dan lima atau enam oleh penenun biasa, untuk memproduksi sebuah sarung atau sehelai kain, panjang satu setengah depa dan lebar lima jengkal (sama dengan tiga saputangan persegi ukuran biasa yang dikenakan di kepala). Kain-kain kemudian disiapkan, sementara yang tidak diwarnai dibedakan dengan istilah “lawon”.

gilingan, gebleg, jantra, likasan (gambar dari De Weefkunst)

Alat pemintal disebut “jantra”, dan gelondong/pengikal benangnya “kisi”. Alat tenun lengkap dengan tetek bengeknya disebut “abah abah tenun”, sekoci benang pakan disebut “tropong”, lusi “mani” dan pakan “Pakan”. Kedua perangkat ini menyerupai yang ada di benua India, tetapi Jawa punya lebih rapi dan lebih baik dibuat : alat tenunnya lebih sempurna: penenun, sebagai ganti duduk di lubang yang digali di tanah, selalu duduk di permukaan lantai, umumnya di depan rumah, kakinya terentang horizontal di bawah alat tenun. Harga pemintalan benang dan menenun bervariasi dari setengah rupee hingga satu rupee, dan alat tenun dari satu rupee hingga satu dolar Spanyol. Pengerjaan memintal dan menenun terbatas khusus perempuan, baik dari kelas sosial tertinggi maupun terendah, mereka mempersiapkan kain untuk suami, untuk mereka sendiri dan keluarganya. 
Kain tenun (“jarit”) dibedakan antara lurik atau lurik ginggang yang pengerjaannya benang dicelup warna terlebih dulu sebelum ditenun dan batik, yang pewarnaannya belakangan. Proses tenun tersebut di awal (lurik) mirip kain gingham (kain kotak-kotak) namun lebih renggang, menjadi khas Jawa.Kain yang disebut “batik” dibedakan menjadi batik Iatar putih, batik Iatar ireng atau batik latar abang, sebagaimana tanah bisa putih, hitam, atau merah. Kain putih pertama direndam dalam air kanji, untuk menjaga warna ….. “ (Raffles 167-168).
Dari uraian Raffles tampak bahwa sejak masuknya kain-kain impor, terutama kain-kain putih dari Eropa, maka praktis “si adik” (batik) akhirnya tak lagi memerlukan “si kakak” (tenun tradisional). Namun setidaknya “si kakak” pernah berjasa sekian lama dalam peradaban Jawa untuk adiknya tercinta, dengan membiarkan tubuhnya putih dan kosong agar bisa menjadi tempat babaran (kelahiran) adiknya. Sebuah kecintaan, sekaligus kerelaan tanpa prasyarat apapun. Sekalipun untuk dihilangkan eksistensi kemelekatannya di setiap kali adiknya terlahir di atas tubuhnya. Pada saat itu, siapapun menyebutnya sebagai batik, bukan kain tenun lagi.

Penenun Kerek Tuban (dok. mja nashir)

kesabaran proses tenun (foto koleksi Tropen Museum)
Seni tenun tradisional merupakan satu kesatuan proses yang bukan hanya soal lama dan panjang dalam ukuran waktu dan tahapan. Bagi orang-orang pribumi yang dekat dengan alam, dalam setiap tahap itu terdapat penghayatan spiritual dan sakral dalam memperlakukan sesuatu yang diambilnya dari alam, dari yang semula memiliki wujud asali diubah menjadi wujud yang lain lagi. Ada dialog-dialog (komunikasi) bathin antara penenun dengan benda-benda alam yang dimaknainya sebagai subyek yang hidup. Proses menenun yang meditatif adalah kesatuan hubungan yang khusyuk antara penenun dan Sang Penenun Alam Raya. Yang semacam ini berlaku bagi orang-orang pribumi di bumi ini, suku-suku manapun. Kuingat, dalam “Rangsa ni Tonun”, sastra lisan suku Batak Toba tentang proses tenun juga mendiskripsikan tentang hal-hal macam ini, bagaimana benda-benda alam dan termasuk alat-alat yang digunakan diperlakukan sebagai subyek yang hidup, yang bisa saling berdialog satu sama lain saat saling berhubungan dalam kerja. Sebuah kearifan lokal untuk hidup bersama dan dari alam, di mana alam dihormati bukan untuk dieskploitasi. Laju industrialisasi yang bermula dari revolusi industri telah mempreteli hal-hal yang terkandung dalam satu kesatuan proses tenun itu satu persatu. Pemintalan benang dengan tangan dan pewarnaannya dengan pewarna alam yang merupakan tahap penting dalam proses tenun telah diusik oleh ketergantungan pada benang pabrikan. Berbeda dengan batik, dalam berhadapan dengan laju industrialisasi di sepanjang masa kolonial itu tradisi tenun Jawa pada akhirnya menunjukkan pergerakkannya ke arah kepunahan.
“Sebelum pasar internasional (eropa) merusakkan keadaan tenun di Jawa, ada kain biasa dan kain mewah di Jawa: kain kasang atau kain gubah. Di masa J.E. Jasper kain itu masih ditenun di Jawa tengah, untuk tirai atau kain untuk rumah. Kain putih untuk bahan batik dengan ditenun secara tradisional masih ada saat itu. Namun sedikit. Pada umumnya bahan untuk batik adalah kain putih import dari Eropa,” ujar Sandra Niessen – antropolog Belanda-Kanada yang sejak 2010 aku bersamanya di bidang tenun tradisional – menyampaikan keadaan tenun Jawa di awal abad 20 dari yang terdokumentasikan di “De Weefkunst” (Seni Tenun), karya J.E. Jasper dan Mas Pirngadi (1912).

Kain Kasang (Pekalongan) & Kain Goebah (Banyumas), dari “De Weefkunst”

para penenun tradisional Jawa di awal abad 20 (foto koleksi Tropen Museum)
Sejak 1900 hingga 1930 kemerosotan tenun lokal terus berlanjut. Pukulan tidak saja dari tekstil import Twente tetapi juga dari Jepang. Tekstil murah dari Jepang ini menggoncang keberadaan tekstil import Twente. Untuk mengembalikan dominasi Twente, pemerintahan kolonial menerapkan sistem kuota dan pembatasan import (Marlyn Tua Felix Sitorus: 1999:22-24). Sejak 1929 hingga 1930 terjadi deprsesi besar perekonomian dunia yang memukul terutama sektor pertanian/perkebunan di Hindia Belanda. Tenaga kerja di sektor tersebut terpaksa diciutkan. Pengangguran melonjak drastis. Rakyat sulit memenuhi kebutuhan pokoknya, termasuk sandang. Sebagai jalan keluar pemerintah kolonial mendorong agar tenun masuk ke sektor industri demi meningkatkan pendapatan rakyat dan pemenuhan kebutuhan sandang murah untuk konsumsi massal (Palmer dan Castles: 1965:36).

Textiel Inrichting Bandoeng (foto koleksi Tropen Museum)

ATBM & ATM (koleks foto Tropen Museum)
Itulah munculnya apa yang disebut dengan ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin. Di pusat Institut Tekstil di Bandung (Textiel inrichting Bandoeng) – yang merupakan basis pendidikan, pengkajian sekaligus workshop industri tekstil – ATBM pertama kali dirancang di 1926 oleh Daalennoord, pemimpin institut ini. Dari sinilah ATBM dan selanjutnya ATM (Alat Tenun Mesin) disebarluaskan ke beberapa tempat yang diharapkan menjadi pusat-pusat industri tekstil. Di antaranya Majalaya, Pekalongan, dan Surabaya. Tanah Batak juga menjadi sasaran pengembangan industri tekstil era kolonial Belanda ini, dengan masuknya ATBM di Balige (1930). Balige pun tumbuh sebagai kota tekstil yang pertama di Sumatera Utara, seperti halnya di Jawa. Pemerintah Belanda kurasa berniat baik. Apalagi di masa haluan kepemerintahan yang digerakkan oleh apa yang dinamakan politik etis (politik balas budi). Pemikiran sekaligus panggilan moral terkait hutang budi dan merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan pribumi.
Bila perspektif tentang ATBM adalah kelanjutan dari tenun tradisional, maka tenun yang telah menjadi industri tekstil sejak 1930-an itu memang semakin semarak dan mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi angka pengangguran dan memperbaiki perekonomian rakyat pribumi.

Atas: tenun tradisional. Bawah: ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin)
Sebaliknya bila perspektifnya justru dari esensi tenun tradisional sendiri, maka sebenarnya sejak beralih ke ATBM, maka tenun tradisional sesungguhnya sudah mati pada saat itu juga. Jika sebelumnya laju industrialisasi yang bermula dari revolusi industri itu telah mempreteli satu persatu kesatuan proses dan ‘ritus’ dalam seni tenun, maka dengan beralihnya ke ATBM berarti alat tenun tradisional dalam konteks sebagai ‘tubuh’ telah almarhum karena telah di-nonaktif-kan, dan ATBM adalah ‘tubuh’ atau “makhluk” lain lagi. Dengan dialihkan (atau ‘digeser’, istilah kerennya untuk mengganti kata ‘digusur’) ke ATBM sebagai gantinya gedogan, maka sebagai warisan tradisi dan budaya, tenun tradisional mati seketika itu juga. Perpindahan dari gedogan ke ATBM sejak adanya ATBM, bagaimana prosesnya, tampaknya tak ada tulisan khusus tentang ini. Yang ada hanyalah angka-angka ekonomi dan perbandingan kecepatan di antara keduanya. Tidak diketahui apakah yang berbondong-bondong ke industri ATBM itu adalah yang semula merupakan para penenun tradisional di kampung-kampung ataukah orang-orang umum yang butuh pekerjaan. Yang kutahu adalah kenyataan bahwa seorang penenun sejatinya akan sulit berpindah ke alat ATBM. Tak mudah mengubah conditioning, kebiasaan dengan alat tenun tradisional yang sudah lama ditekuni, yang alatnya diciptakan sendiri (dibantu suaminya) sesuai dengan tubuhnya dan kebutuhannya, kini harus berhadapan dengan alat asing yang bukan ciptaannya. Semula alat yang menyesuaikan dirinya, kini dialah yang harus menyesuaikan alatnya. Semula duduk dalam posisi meditatif di lantai atau di tanah merapat ibu bumi, kini harus duduk dikursi seperti main piano. Belum lagi menyangkut segala macam penghayatan tentang seni tenun yang ia yakini. Ibarat seperti memaksakan seorang filsuf atau seniman idealis untuk jadi kuli di pabrik. Praktis bagi kaum usaha dan ekonom, merekrut penenun tradisional untuk jadi pekerja ATBM malah mengganggu hukum efektivitas dan efisiensi yang berarti mengganggu laju industri. Apalagi atas standart “time is money”. Bagi mereka merasa lebih nyaman merekrut orang-orang baru, yang muda-muda, yang lebih energetik, yang butuh kerjaan, diajari sebentar langsung jadi. Apalagi industri ATBM lebih memungkinkan bagi masuknya kaum pria dibanding tenun tradisional yang dimanapun sejak dulunya identik dengan wanita. Hal ini berbeda dengan batik tulis ketika menjadi industri, karena alat utamanya tetap sama, yaitu canting. Lalu ke mana para penenun tradisional pada saat ledakan industri ATBM? Barangkali mereka yang tinggal sedikit itu masih tetap menenun secara leluhur mewarisi, meski di tengah keadaan yang semakin sulit, tanpa ada yang peduli. Makin lama jumlah mereka pun makin menyusut karena usia, sakit dan mati. Seni tenun tradisional punah bersama keberpulangan mereka dari dunia yang fana, dunia yang akhirnya bagi mereka tidak punya arti lagi.

alat tenun gedogan
Menanggapi krisis tenun tradisional di negri ini Sandra menuliskan demikian :
Gedogan adalah penting bagi tradisi tenun dan sejarah Indonesia. Perangkat ini menentukan semua langkah awal persiapan benang dan peralatan yang terlibat. Jika gedogan tidak lagi digunakan, satu bab dalam warisan tekstil lenyap. Dalam tantangan untuk memenuhi kebutuhan dan bersaing dengan produk komersial, penenun telah didorong dalam berbagai cara untuk mengadopsi perangkat yang lebih cepat seperti alat tenun semi-mekanik (ATBM) dan mekanik (ATM/Alat Tenun Mesin). Pasar lantas menjadi primer bagi budaya. Gedogan kemudian digambarkan sebagai sesuatu yang 'sederhana' dan diremehkan lebih rendah ketimbang alat tenun Barat. Sayangnya, pemahaman tentang sentralitas tenun sebagai perangkat keberagaman warisan budaya dengan kapasitas yang unik dan varitas spektakuler kurang dalam masyarakat umum. Alat tenun (semi) mekanik boleh saja mencetak kain kelihatan seolah sama, tetapi tidak dapat menghasilkan tekstil Indonesia yang dihidupi tradisi.
Penenun yang memanfaatkan alat tenun gedogan adalah pahlawan budaya tanpa tanda jasa namun mereka hampir selalu dibayar secara buruk oleh pasar dan dengan status sosial yang rendah. Akibatnya pemuda enggan untuk mengambil alih seni yang merupakan hak lahir mereka itu. Biasanya penenun bekerja terpencil bagi pasar yang berada di luar dunia lokal mereka.

Penenun Kerek Tuban(dok. mja nashir)
Di Pulau Jawa satu-satunya yang masih menenun kain-kain tenun dan kain putih untuk bahan batik dengan alat gedogan adalah para penenun di daerah Kerek, Tuban. Pun para pembatiknya adalah warga setempat. Hanya di daerah ini tenun dan batik masih hidup bersama. Rienske Heringa, seorang peneliti independen lulusan Universitas Leiden yang telah lama meneliti tradisi kain di Kerek menambahkan informasi penting di sini, sebagai berikut:
Ada beberapa hal yang sudah lama tidak dilakukan di daerah yang sudah terbiasa memakai benang toko, mengingat hal-hal penting ini tidak terdapat di buku karya Jasper & Pringadie. Namun masih dilakukan oleh para penenun ini. Misalnya yang berkait dengan “likasan”, alat untuk menggulung benang hasil pintalan). Fungsinya sebenarnya lebih rumit apalagi sebagai pangkal dari pengertian sistem kekrabatan setempat. Likasan bukan sekedar alat pengukur benang lungsi atau pakan, tetapi sekaligus untuk menyiapkan "ukel" (gulungan benang) untuk fungsinya sebagai bakal “kain talenan”, kain ikat yang khusus dipakai oleh keturunan Bakalan. Bakalan adalah leluhur para penenun ini yang pertama membuka dan menggarap tanah setempat. Sesudah diangkat dari likasan, gulungan benang tersebut akan "ditaleni" (diberi motif melalui proses tali-temali dengan belahan klobot). Proses tersebut harus mengikuti peraturan kompleks yang memerlukan konsentrasi tinggi. “Naleni” juga harus dijalani "langsung", dengan kata lain benang dikerjakan dalam keadaan "mentah". Sesudah ditaleni gulungan benang akan diwarnai (pencelupanan dengan nila) dulu. Setelah penjemuran seluruh pertalian harus dibuka satu per satu dengan penuh teliti. Baru sesudah itu ukel boleh dicuci, dikanji dan disikati! Padahal pada proses persiapan benang untuk tenunan dengan berbagai teknik yang lain, ukel biasanya selalu langsung diwarnai, dicuci, dan seterusnya. Sedangkan proses ikat yang dilakukan para penenun ini merupakan tahapan penting, memiki makna yang dalam; pembagian kelompok-kelompok kecil dari benang, perhitungan benang dan seterusnya menggambarkan sistem kekrabatan lokal.

penenun Kerek Tuban menggulung benang hasil pintal tangan dengan “likasan”
Selain Tuban, yang masih relatif kuat dengan tradisi menenunnya adalah suku Baduy di Lebak Banten. Di luar dua daerah itu, memang masih ada orang-orang tua yang masih tetap menenun. Kuteringat lima tahun silam sahabatku, An Dri di Yogya, pernah memperlihatkan dokumenternya tentang kain lurik Jawa. Di situ kulihat penenun tua yang sedang menenun dengan gedogannya di Klaten, di tengah lingkungan yang telah lama berubah menjadi unit-unit ATBM. Kurasakan sebuah keterasingan yang terucap dari tubuhnya. Keterasingan dari kampung halamannya sendiri.

Menenun Lurik (Klaten), dokumentasi Andri, “Lurik Jawa”
“Masih ada juga penenun gedokan seperti di daerah Wates dan di Troso Jepara. Yang di Wates sekarang ini kebanyakan menenun kain-kain mirip stagen, tapi fungsinya bukan untuk kain. Pesanan itu untuk bahan pelapis antara velg dan bagian dalam ban truk. Sedangkan penenun gedogan di Troso Jepara masih mending, mengerjakan pesanan-pesanan luar Jawa karena di sananya kuwalahan, penenun semakin langka,” tambah Andri padaku.
Demikian keadaan tenun tradisional di Jawa. Secara umum telah surut, ‘tergeser’ oleh ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin, yang bila kurang tahu sejarahnya, maka dianggap sebagai alat tenun tradisional. Lantaran “jebakan” kata “bukan mesin” yang lantas dimaknai sebagai ‘tradisional’.

Penenun Simalungun, Opung Hotmalina Simarmata, usia 85 tahun yang tetap masih menenun (dok. mja nashir)
Kutuliskan ini, agar bagi daerah-daerah di Nusantara tercinta yang masih ada tenun tradisionalnya, masih ada para penenunnya, jagalah dan lestarikan semua itu. Jangan mereka paksa untuk berpindah ke ATBM, atau memberikan mereka bantuan berupa alat ATBM. Itu tindakan yang bodoh. Jangan paksa mereka untuk berpacu dengan mesin-mesin indusri. Jangan eksploitasi mereka, apalagi menguras warisan kain mereka, referensi mereka dan menukarnya dengan harga yang sangat murah, lalu hidup dengan itu memperkaya pribadi meniup pencitraan diri. Itu sama saja dengan berdiri membusung dada di atas penderitaan mereka yang sesungguhnya, tak peduli hidup mereka. Lebih baik dukung mereka semampu mungkin agar mereka bisa menciptakan kain-kain tenun terbaik yang mereka bisa kerjakan. Yang demikian ini yang kutahu dan kubelajar dari perjalanan bersama Sandra Niessen dengan proyek-proyek yang telah kami melakukan bersama. Bantu para penenun tradisional secara empatik untuk mengurai masalah-masalah mereka agar tercipta jalan terbaik bagi mereka. Mereka kebanyakan telah lama dibelit dan didekte oleh “tuntutan pasar” dan para toke yang mengeksploitasi, sehingga mereka terpaksa melupakan keahlian-keahlian hebat yang tersimpan dalam tangan-tangannya. Maka hargailah mereka dengan sebaik-baiknya pula, agar mereka senang dan bahagia! Belajarlah sedalam-dalamnya dari mereka agar tenun tradisi bisa lestari dan agar keahlian mereka ada yang mewarisi. Senantiasa terakan dan hidupkan nama mereka agar mereka bukan lagi yang tak bernama, agar atas tradisi budayanya mereka bisa bangga. Merekalah penjaga warisan budaya. Pahlawan budaya yang sesungguhnya.
***
MJA Nashir, Batang, Jawa Tengah Januari-Februari 2017
===

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s