Peneliti Kembali Temukan Reruntuhan Candi Peninggalan Mataram Kuno di Magelang

Standard

Peneliti Kembali Temukan Reruntuhan Candi Peninggalan Mataram Kuno di Magelang

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Warga Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang mendadak digemparkan dengan penemuan sejumlah bebatuan, yang diduga merupakan reruntuhan candi.

Penemuan itu di sebuah lahan perkebunan di kawasan setempat.

Penemuan tersebut, berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Dwi Yatimantora, seorang Pemerhati Budaya dari Paguyuban Sastro Jendro Hayuningrat.

Pria yang dalam kesehariannya akrab disapa Tora itu, sebelumnya juga pernah menguak beberapa peninggalan purbakala lain di wilayah Magelang.

Salah satu yang terbesar tentu saja penemuan pemandian raja-raja, atau sering disebut sebagai taman sari, di Dusun Bendungan, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, pada kisaran bulan Okteber tahun lalu.

Sejak saat itulah, dirinya semakin intens dalam melakukan penelitian.

Tora mengatakan, penggalian di Dusun Andong, pada Rabu (18/1/2017), dilakukan berdasarkan informasi yang ia dapat dari sebuah prasasti, yang telah ditemukan sebelumnya.

Yaitu, Prasasti Salingsingan yang tertera di Candi Asu, di Desa Sengi, Kecamatan Dukun, serta Prasasti Tihang, di Kecamatan Srumbung.

“Jadi, dalam prasasti itu dituliskan, kalau raja Mataram Kuno terdahulu, pernah memberikan hadiah kepada para selir, berupa bangunan suci yang didirikan di daerah asalnya. Setelah kami telusuri, salah satunya ada di Dusun Ngandong ini,” katanya.

Di samping itu, lanjut Tora, selain menggambarkan bangunan suci, dalam dua prasasti tersebut, dijelaskan juga tentang tanah dan persawahan perdikan, atau bebas pajak.

Dari informasi yang sama pula, ditemukan bebatuan berbentuk Yoni di Dusun Kwayuhan dan Tegal Surat, lumpang dan lesung di Dusun Ndemo, serta bebatuan yang diduga merupakan reruntuhan candi, di Dusun Gintur.

Ketiganya terletak di Desa Kalibening, Kecamatan Dukun.

Sebelum melakukan penggalian di sebuah perkebunan yang terletak di Lereng Gunung Merapi itu, Tora terlebih dulu menyisir, sekaligus survei di beberapa area di Dusun Ngandong.

Beberapa kali menemui kegagalan, usaha Tora akhirnya membuahkan hasil ketika menggali sebuah gundukan yang sudah lebih dulu dicurigainya.

“Sebelum survei kami sudah memohon izin kepada Kepala Dusun (Kadus). Sewaktu saya bersama tim hendak melakukan penggalian pun beliau juga turut mendampingi,” tuturnya.

Akhirnya, penggalian dilakukan setelah mendapat restu dari sang pemilik tanah, Sutopo, yang merupakan warga setempat.

Dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam penggalian, sampai reruntuhan candi seperti yang tertuang dalam prasasti itu ditemukan, di kediaman kurang lebih satu meter.

“Ada sekitar 15 bongkahan yang kami temukan. Tidak tersusun rapi, posisinya sudah berserakan. Kemungkinan merupakan pecahan dari bagian selasar candi. Kami menduga, radius 50 meter dari titik ini, masih ada bebatuan serupa,” cetusnya.

Menurut Tora, jika dilihat dari bentuk dan teksturnya, bangunan tersebut merupakan candi Hindu, peninggalan kerajaan Mataram Kuno.

Kini, sembari menunggu tindak lanjut dari pemerintah, bebatuan tersebut, telah dipasangi garis polisi, guna menghindari perbuatan oknum-oknum tak bertanggung jawab.

Sementara itu, Kadus Ngandong, Suratno, memaparkan jika penemuan semacam itu baru sekali ini terjadi di wilayahnya.

Pria 58 tanun tersebut mengaku kaget, karena tidak ada satupun warganya yang pernah menemukan batu sejenis.

Padahal, kawasan itu merupakan lahan perkebunan yang setiap hari digarap.

“Lahannya milik Pak Topo, selama ini dipakai untuk menanam cabai. Tapi, belum pernah ditemukan bebatuan semacam itu,” tandasnya.

Pascapenemuan, Suratno lantas melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa Ngargomulyo untuk melakukan tindak lanjut.

Ke depannya, ia memiliki harapan agar kawasan ditemukannya bongkahan batu yang diduga merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno tersebut, dapat menjadi objek wisata sejarah.

“Pemilik lahan mengaku tidak keberatan kalau nanti bakal dilakukan penggalian tahap berikutnya. Sebab, kalau bisa menjadi tempat wisata, secara otomatis, perekonomian warga pun dapat terangkat,” pungkas pria yang sudah 11 tahun menjabat sebagai Kadus itu. (tribunjogja.com)

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

One response »

  1. Pingback: Peneliti Kembali Temukan Reruntuhan Candi Peninggalan Mataram Kuno di Magelang | | di Magelang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s