SEPUR KLUTHUK ITU KEMBALI MENJEJAK REL

Standard

Nampak di kejauhan sebuah loko berwarna hitam berjalan melambat menuju emplasemen Stasiun Ambarawa. Dibelakangnya tampak 2 gerbong berwarna di hijau kompak mengikuti.
Asap hitam pekat mengepul keluar dari corong lokonya. Seorang petugas memasukkan batangan kayu jati ke tungku pembakaran yang ada di loko tersebut. Perlu waktu 2 jam untuk mendidihkan air agar loko tersebut dapat beroperasi.
Ya, setelah selama 3 tahun “beristirahat” melayani jalur wisata antara Ambarawa ke Bedono, kereta uap atau yang biasa di sebut dengan sepur kluthuk tersebut kembali beroperasi.
Peluncuran kembali kereta wisata primadona ini dilakukan oleh Direktur Komersil & IT PT KAI (Persero) M. Kuncoro Wibowo Kamis (27/10) lalu di Museum Ambarawa. Peluncuran tersebut di tandai dengan penyiraman air bunga dan pemecahan kendi oleh Kuncoro di loko uap seri B2503 yang disaksikan oleh tamu undangan.
“Kereta uap ini merupakan primadona wisatawan di Museum Ambarawa ini. Karena itu kereta uap ini di aktifkan kembali,” tutur Kuncoro. Menurut Kuncoro, kereta uap ini “istirahat” selama 3 tahun karena kondisi jalur antara Ambarawa hingga Bedono mengalami beberapa kerusakan, terutama pada bagian “balas” dan penggantian bantalan rel dari kayu menjadi besi. Terlebih kondisi Museum Kereta Api Ambarawa yang pada saat itu sedang dalam tahap revitalisasi.
Dengan di aktifkannya kembali kereta uap ini di harapkan kunjungan wisatawan ke museum meningkat kembali. “Kereta wisata rel bergerigi ini merupakan keistimewaan dan daya tarik untuk menarik wisatawan terutama wisatawan asing”, kata Kuncoro.


Hal senada juga di sampaikan oleh Kepala Dinas Parwisata dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah Prasetiyo Adiwibowo yang mengatakan bahwa diprediksi di tahun 2017 akan tiba 30 kapal pesiar dari luar negeri yang akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, meningkat dari tahun 2016 yang cuma 25 kapal pesiar saja.
“Ini peluang bagi Jawa Tengah untuk meraih devisa dari wisatawan asing melalui wisata”, tandas Adiprasetiyo.
Sesudah resmi diluncurkan, para tamu undangan di ajak “menjajal” sepur kluthuk tersebut menuju Bedono.
Beberapa peserta bahkan ada yang berpakaian tempo doeloe ala priyayi dan meneer Belanda, sebagaimana yang dipakai oleh personel Komunitas KOTA TOEA MAGELANG.
Dengan 2 gerbong dan kapasitas penumpang 80 orang para tamu undangan di ajak bernostalgia melewati rel bergerigi sejauh 9 km.
Loko B2503 sendiri sudah berusia lebih dari 100 tahun dan menjadi andalan bersama loko B2502 untuk melayani jalur wisata antara Ambarawa ke Bedono.
Perjalanan menuju ke Bedono di tempuh dalam waktu 1,5 jam untuk berangkat dan 1 jam untuk pulangnya. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang indah berupa lanskap Rawapening, perbukitan dan kebun kopi.
Uniknya sesudah sampai di Stasiun Jambu loko yang tadinya berada di depan berpindah di belakang gerbong. Fungsinya untuk mendorong gerbong menuju tanjakan melalui rel bergerigi.
Sebagaimana diketahui, ketinggian Stasiun Ambarawa ada di 474,4 dpl, sedangkan Stasiun Ambarawa di 711 dpl. Karena perbedaan ketinggian yang sangat besar dan kemiringin jalur rel sebesar 35 derajat maka pada jalur rel antara stasiun Jambu memakai rel bergerigi.
Di Indonesia terdapat 2 tempat yang memakai rel bergerigi. Selain di Ambarawa juga ada di Sawahlunto Sumatera Barat. Sedangkan di luar negeri cuma ada di India.
Salah seorang peserta dari Komunitas KOTA TOEA MAGELANG bahkan sangat menikmati perjalanan ini. “Saya baru pertama kali naik sepur kluthuk ini. Sensasinya luar biasa. Meskipun berjalan lambat tapi asyik banget”, tutur Pakde Wotok.
Pemandu perjalanan Sudono mengatakan bahwa booking kereta wisata memakai loko uap ini sangat mahal.
“Dulu sewanya 15 juta untuk 2 gerbong dengan kapasitas 80 orang, tapi setelah peluncuran ini harganya akan naik. Tapi belum tahu berapa harga sewanya sekarang, tetap harus di booking dulu”, imbuh Sudono.
Meski demikian jika masyarakat ingin menaiki kereta dengan harga terjangkau bisa naik kereta diesel jurusan Ambarawa ke Tuntang seharga 50 ribu rupiah.
Tetapi hanya beroperasi di hari Minggu saja yaitu pada jam 10.00, 12.00 dan 14.00 dengan langsung membeli di loket Stasiun Ambarawa.

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s