BALAI KONSERVASI BOROBUDUR (BKB) LUNCURKAN TRILOGI BUKU

Image

“Oleh UNESCO Candi Borobudur sebagai World Heritage kebanggaan bangsa Indonesia harus dipertahankan. Sudah berdiri sejak ribuan tahun yang lalu sebagai karya adiluhung nenek moyang. Sudah seharusnya dan menjadi kewajiban kita untuk melestarikannya untuk ribuan tahun yang akan datang”, tutur Marsis Sutopo Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB). Hal ini dikatakannya dalam peluncuran buku Trilogi “100 Tahun Pascapemugaran Candi Borobudur beberapa waktu yang lalu.
Acara yang di adakan di kawasan Kota Lama Semarang ini sekaligus menandai rangkaian peringatan 25 tahun penetapan warisan budaya Candi Borobudur sebagai World Heritage di tahun 1991.

20161121_063840-1
Seratus tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1907-1911, Candi Borobudur dipugar oleh pemerintah Hindia Belanda di bawah pimpinan Th. Van Erp. Tentunya peristiwa ini merupakan peristiwa penting dalam sejarah Candi Borobudur dari awal dibangun pada sekitar abad VIII Masehi, dimanfaatkan dan kemudian ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya, kemudian ditemukan kembali, dipugar, dan dimanfaatkan kembali sampai kondisinya sekarang.
Selain itu peluncuran buku tersebut juga untuk memperingati 100 tahun Lembaga Purbakala Indonesia. Dua peristiwa sejarah yang bertautan saling memberi makna.
“100 tahun pemugaran Candi Borobudur (1911-2011) dan 100 tahun Lembaga Purbakala Indonesia (1913-2013)”, imbuh Marsis.
Ketiga buku trilogi tersebut berjudul “Menyelamatkan Kembali Candi Borobudur”, “Dekonstruksi dan Rekonstruksi Candi Borobudur” dan “Candi Borobudur dalam Multiaspek”.


Dalam buku tersebut juga memuat cerita dan tulisan dari para sejarawan dan arkeolog dalam sudut pandangannya terhadap Candi Borobudur. Salah satunya adalah tulisan dari cucu Th. Van Erp yaitu A. J. Th (Guus) van Erp yang menceritakan perjalanan hidup Theodoor (Theo) van Erp dalam tulisannya yang berjudul “Life and Work of Theo van Erp”.

Sebagai World Heritage bersama dengan Situs Sangiran, Candi Prambanan, Keris, Batik dan Wayang yang merupakan bukti pengakuan dunia terhadap bangsa Indonesia.

Marsis menambahkan bahwa kini pihaknya juga sedang mengajukan usulan kepada UNESCO tentang arsip restorasi tahun 1983 sebagai “memory of the world” dimana saat pelaksanaan restorasi di tahun 1983 Candi Borobudur memiliki arsip-arsip penting di antaranya 75 ribu foto lama, 65 ribu film, 15 ribu gambar dan peta. Dimana pada saat proses restorasi tersebut juga menjadi kampanye pelestarian cagar budaya tingkat dunia. Salah satunya adalah proses dan teknis restorasi Candi Borobudur menjadi rujukan buat restorasi Angkor Vat di Kamboja.

Buku trilogi pertama yang disusun oleh Balai Konservasi Borobudur (BKB) berjudul “Menyelamatkan Kembali Candi Borobudur”. Buku setebal 170 halaman ini mengungkapkan Candi Borobudur dan kawasan Borobudur di masa lalu.
Ada beberapa penulis yang menorehkan tintanya, diantaranya adalah Helmy Murwanto dengan judul “Situs Danau di Sekitar Bukit Borobudur, Jawa Tengah”. Menurut Helmy bahwa dahulu di ribuan tahun yang lalu lingkungan geologi danau pernah terbentuk di sekitar Candi Borobudur.
Bukti-bukti tersebut antara lain dengan ditemukannya endapan batu lanau dan batu lempung pasiran yang berwarna coklat kehitaman yang banyak mengandung serbuk sari (pollen) dari tanaman komunitas rawa, fosil, serta gas rawa.
Bahkan menurut lelaki kelahiran Muntilan yang kini aktif mengajar di Teknik Geologi UPN Jogja ini mengatakan bahwa dari hasil kajian menunjukkan bahwa Candi Borobudur itu berdiri di atas bukit kecil berbatuan beku dan vulkanik yang sangat lapuk berumur Tersier.
Di sekitarnya terdapat dataran luas yang diperkirakan sebagai dataran lakustrin bekas “Danau Borobudur”.
“Bahkan hingga kini masih ada sungai purba yang masih mengalir yaitu Sungai Sileng,” kata Helmy menegaskan. Di Sungai Sileng atau masyarakat sekitar menyebut dengan Kali Sileng ini masih bisa ditemukan fosil-fosil kayu yang sudah berumur ribuan tahun yang lalu.
Meski Kali Sileng ini kini beralih aliran dari awal aliran ribuan tahun yang lalu, tetapi Kali Sileng merupakan kali terpenting dalam pembentukan danau purba ini.
Yang sangat mengejutkan lagi adalah adanya rembesan air asin pada rekahan-rekahan batulanau yang menunjukkan bahwa sebelum terbentuknya lingkungan danau, di daerah sekitar Candi Borobudur tersebut membentuk lingkungan laut.
Secara perlahan sejak ribuan tahun tersebut secara berangsur-angsur danau purba tersebut mengering. Dan pada akhirnya Candi Borobudur ini didirikan di sebuah bukit di tengah bekas danau tersebut pada sekitar abad VIII sampai awal abad IX pada masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra.

Stupa sewaktu direstorasi oleh van Erp

Danau Purba

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s