Pasar Paingan-Pengajian Masjid Kauman Semringah Lagi

Standard

Sejumlah warga membeli makanan tradisional di Pasar Tiban Paingan saat berlangsung pengajian Minggu Paing di Masjid Agung Kauman Kota Magelang, Minggu (4/9). (Hari Atmoko/dokumen).
Magelang, Antara Jateng – Nur Hasanah, perempuan berjilbab itu, dengan wajah semringah (berseri-seri) bergegas mendekati Koordinator Forum Masyarakat Peduli Paingan Kota Magelang, Danu Wiratmoko, yang sedang berdiri persis di depan pintu gerbang Masjid Agung Kauman di kawasan alun-alun setempat.

Sejumlah lelaki, antara lain, Taufik Ahmad, Saefudin, dan Suroso juga demikian. Wajah-wajah semringah mereka menunjukkan ungkapan gembira karena boleh berjualan lagi bertepatan dengan umat Islam mengikuti tradisi pengajian Minggu Paing (35 hari sekali) di Masjid Kauman Kota Magelang, Jawa Tengah.

Mereka dan puluhan pedagang lainnya tahu dengan baik para pegiat forum yang selama 4 bulan terakhir berjuang secara kultural meyakinkan pemerintah kota setempat agar tidak memindahkan aktivitas pedagang pasar tiban tersebut ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro, sekitar 1,5 kilometer dari alun-alun.

“‘Matur nuwun pon angsal dodolan malih teng ngriki’ (Terima kasih sudah boleh berjualan lagi di tempat ini, red.),” kata Nur, pedagang pakaian yang berasal dari Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.

Taufik Ahmad asal Borobudur selalu menggelar dagangan berupa kaus kaki saat pengajian Minggu Paing Masjid Kauman, sedangkan Saefudin asal Kajoran berdagang buku-buku dan kitab suci, serta Suroso asal Kelurahan Rejowinangun Selatan, Kecamatan Magelang Selatan berjualan pakaian anak-anak.

Para pedagang lainnya yang diperkirakan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Pemkot Magelang Joko Budiyono pada hari Minggu Paing (4/9) hingga sekitar pukul 08.00 WIB sudah menggelar dagangannya di separuh jalan depan masjid itu berjumlah 50 orang. Mereka, antara lain, menjual aneka makanan tradisional, minuman, sandal, sepatu, pakaian, kuliner, dan berbagai wujud mainan anak.

Pengajian Minggu Paing disertai kehadiran pasar tiban berlangsung sejak sekitar 1958, dirintis sejumlah kiai berpengaruh dari beberapa pondok pesantren di sekitar Kota Magelang.

“Yang Minggu Paing kemarin (31/7) saya tidak berani jualan karena tidak boleh. Akan tetapi, sekarang ternyata diperbolehkan lagi,” katanya.

Dinas Pengelolaan Pasar Pemkot Magelang mengeluarkan surat edaran tertanggal 11 April 2016 yang intinya mulai Minggu Paing (31/7) pedagang dilarang berjualan di kawasan alun-alun saat pengajian Minggu Paing Masjid Kauman dengan alasan untuk menjaga kebersihan, kerapian, dan keindahan kota, termasuk agar suasana pengajian tetap khusyuk.

Akan tetapi, para pegiat forum itu dengan 12 aktivis utamanya menempuh berbagai langkah kultural selama 4 bulan terakhir untuk meyakinkan pemkot bahwa aktivitas pasar tiban dan pengajian tidak bisa dipisahkan, serta sebagai nilai budaya tak bendawi yang khas Kota Magelang.

Para pedagang itu bukan semata-mata berjualan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, melainkan mereka menjadi bagian dari umat lainnya yang “ngalab” (mendapatkan, red.) berkah dari pengajian yang berlangsung selama beberapa jam. Begitu pengajian selesai, mereka “menggulung” dagangannya untuk selanjutnya datang lagi 35 hari kemudian.

Pada Kamis (1/9) malam, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito melakukan dialog dengan para pegiat utama forum di Pendopo Pengabdian Rumah Dinas Wali Kota Magelang dan akhirnya memutuskan untuk menghidupkan lagi pasar tiban dengan penataan pedagang oleh aparat didukung forum itu.

Pedagang yang selama ini menggelar berbagai barang jualannya di trotoar selatan dan barat alun-alun, kemudian dipindahkan lebih dekat ke masjid, yakni di separuh jalan depan Masjid Kauman. Arus lalu lintas umum yang biasanya melewati jalan tersebut, dialihkan oleh petugas melewati jalur lain.

Pemkot juga menyediakan puluhan tikar untuk umat Islam yang mengikuti pengajian dengan duduk di bagian barat alun-alun, di bawah pepohonan rindang, sementara ratusan lainnya di dalam masjid terbesar di kota setempat.

Asisten Ekonomi, Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakya Sekretaris Daerah Pemkot Magelang Sumartono dan Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Joko Budiyono memantau aparatnya melakukan pengaturan pedagang bersama para pegiat forum yang juga dikenal dengan sebutan “Save Pahingan” itu.

Seorang pegiat forum tampak mendekati Arofah, perempuan tua yang membawa tampah berisi penuh geblek berjalan ke bagian barat alun-alun, untuk mengingatkan bahwa tempat itu tidak boleh untuk menggelar dagangan.

“‘Kulo mboten manggon teng riki Mas, niki namong nawakke mawon’. (Saya tidak menggelar dagangan di sini Mas, ini hanya menawarkan keliling saja, red.),” kata warga Desa Kaliabu, Kecamatan Salaman itu, sambil tersenyum ramah kepada seorang pegiat “Save Pahingan”.

Setelah menjual geblek kepada sejumlah perempuan yang duduk bergerombol di atas tikar di bawah pohon rindang alun-alun, perempuan berwajah semringah itu pun kemudian kembali ke tempatnya menggelar dagangan di jalan depan masjid.

Begitu mendapat kabar dari forum bahwa pemkot membuka lagi aktivitas pedagang pasar tiban mulai Minggu (4/9), Muhsin, koordinator pedagang Pasar Paingan yang juga penjual sandal, mengaku segera mengabari secara “gethok tular” (dari mulut ke mulut) dan melalui layanan pesan singkat telefon seluler kepada kawan-kawannya.

“Masih ada yang belum tahu, tetapi Minggu Paing depan (9/10) tentu sudah lebih banyak yang tahu,” ujarnya seraya menunggui dagangannya yang digelar di dekat pintu gerbang Masjid Kauman.

Ia juga mengemukakan pentingnya mengorganisasi pedagang Pasar Paingan menjadi suatu peguyuban untuk memudahkan penataan dan meningkatkan kesadaran bahwa aktivitas mereka tidak boleh melupakan pentingnya menjaga kebersihan, keindahan, dan kerapian kawasan.

Saat sinar matahari makin bergerak naik dan terasa menyengat, terlihat sebagian besar pedagang kemudian membuka peneduh dagangan berupa payung warna-warni yang mereka bawa sendiri-sendiri. Sejumlah lainnya, tampak mendirikan penutup dagangan dengan menggunakan tenda terpal.

Bersyukur
Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Magelang Joko Budiyono menyatakan bersyukur atas penataan pedagang Pasar Tiban Paingan pada pengajian Minggu Paing Masjid Agung Kauman yang berjalan lancar.

“Hari ini (4/9), alhamdulillah bisa kami tata PKL (pedagang kaki lima) Paingan. Sudah kami atur antara kegiatan pengajian dan kegiatan PKL yang mendukung pengajian. Ada sinergitas,” ujarnya di sela berbicang ringan dengan seorang pegiat utama “Save Pahingan”, Muhammad Nafi, di bawah pohon rindang alun-alun.

Raut wajah Joko Budiyono dan Muhammad Nafi pun tampak semringah. Tidak tampak ketegangan mereka, sebagaimana saat Minggu Paing (31/7), ketika ketentuan larangan itu mulai diberlakukan.

Demikian pula, Asisten Sekda Kota Magelang Sumartono. Dengan wajah berseri-seri, dia menghampiri sejumlah pegiat “Save Paingan” yang duduk bersila di atas tikar, lalu membuka telepon selulernya untuk memfoto mereka.

Ketua Takmir Masjid Kauman Miftachussurur juga menyampaikan syukur kepada Allah Swt. karena kehadiran umat Islam dalam pengajian Minggu Paing yang sekaligus sebagai saat kembalinya pasar tiban.

“Alhamdulilah, ramai, kita bersama-sama pengajian,” katanya saat membuka pengajian itu seraya mengajak umat untuk mendoakan warga Magelang yang pada saat ini sedang beribadah haji di Tanah Suci.

Pengajian Minggu Paing (4/9) dipimpin pengasuh Pondok Pesantren Usnuludin Desa Bawang, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang K.H. Mansyur Khadiq.

Danu Wiratmoko mengatakan Tim “Save Paingan” menyambut positif keputusan pemkot menghidupkan kembali pasar tiban.

Pihaknya juga terus mengawal penataan pedagang Pasar Paingan agar mencapai suasana yang ideal, makin kondusif, dan bahkan bisa berkembang menjadi salah satu destinasi wisata religi Kota Magelang.

“Memang hari ini belum semua pedagang berjualan kembali. Jenis dagangannya sebaiknya tidak perlu dibatasi. Mereka otomatis tahu sendiri dagangan apa yang bisa dijual di sini. Itu tidak mengurangi kecerdasan,” katanya.

Ihwal yang justru dibutuhkan, ucapnya, kecerdasan dalam mengakomodasi pedagang agar memiliki kesadaran kuat terhadap pentingnya penataan mereka berjualan di pasar tiban.

Joko memastikan surat edaran tertanggal 11 April 2016 secara otomatis tidak berlaku, sedangkan petugas tetap menjaga dan menata pedagang supaya selalu tertib, memperhatikan kebersihan, dan keindahan kawasan.

“Yang ‘ngelak’ (haus, red.) bisa beli minuman, yang butuh makanan bisa beli kacang, geblek, dan sebagainya. Kolaborasi ini kita atur untuk kepentingan yang terbaik,” ujarnya.

Sebagaimana para pedagang semringah beraktivitas, hal itu pula menjadi wajah Pasar Tiban Paingan bertepatan pengajian Minggu Paing Masjid Agung Kauman yang berseri-seri lagi. Bukankah wajah semringah itu juga berkah?

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © 2016

foto : Danu Sang Bintang

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s