Jean Andries Schell de Nijs : Perjalanan dari Barcelona ke Magelang, Sebuah Kisah Anak Magelang Nan Mengharubiru

Standard

Di akhir bulan April ini tepatnya pada 26-29 yang lalu, Komunitas KOTA TOEA MAGELANG kehadiran tamu sekaligus “saudara” dari Barcelona [Spanyol] yang bernama Jean Andries Schell de Nijs. Andries, demikian sapaan akrabnya sebenarnya adalah orang Magelang karena dahulu lahir di kota ini.

Andries lahir sekitar tahun 1939 dari seorang ibu berdarah Jawa yang bernama Aerda dimana neneknya yang bernama MIra berasal dari Ambarawa. Aerda adalah seorang perawat yang bekerja di hospitaal militair [rumah sakit tentara].

Ayahnya bernama Schell seorang tentara KNIL yang berdarah Indo. Keluarga ini di karuniai 5 orang anak, Andries anak ke 4. dan tinggal di sebuah rumah militer di kawasan Badaan. Keluarga Schell mengalami masa-masa suram saat Jepang masuk ke Magelang di tahun 1943. Ayahnya di tawan oleh Jepang di Kaderschool.

Ibunya berupaya menyelamatkan keluarganya, dengan di bantu oleh pembantunya, mengungsilah keluarga ini di Kampung Tulung Wot [sebelumnya Andries menyebutnya di kampung Dukuh, tetapi setelah di telusuri ternyata tinggal di Kampung Tulung Wot, tepat di pinggir Kali Progo].

Kedatangan Andries di Magelang bukan sekedar bernostalgia semata, akan tetapi salah duanya adalah mencari rumah yang dulu di tinggalinya, yaitu di Badaan dan Kampung Tulung. Termasuk di Paten Jurang, tempat yang juga pernah di tempatinya dulu.

Bersama dengan Koordinator KOTA TOEA MAGELANG Bagus Priyana, Andries berupaya melakukan penelusuran dan pelacakan.

Bagaimanakah kisah selengkapnya?

Mari kita ikuti kisah Andries Schell de Nijs berikut ini.

Saat perjalanan untuk mencari rumahnya dahulu yang ada di Badaan (27/4/2016) Andries Schiell de Nijs [75] saya ajak sejenak mampir di rumah pak Edi Sumardi alias pak Edi Londo (85) di depan SMP 4 Jl. Pahlawan.
Saat bertemu, pak Edi Londo menjabat erat tangan Andries sambil berbicara dengan bahasa Belanda.Gelak tawa dan tanya jawab hangat seolah bagai kawan lama yang sekian tahun tidak bertemu.Padahal keduanya belum pernah ketemu dan tidak kenal sebelumnya. Saya hanya bisa melongo tidak tahu arti dari pembicaraan yang mereka berdua sampaikan.
Pak Edi Londo adalah seorang Indo (keturunan Belanda) sebagaimana halnya dengan Andries. Andries merasa menemukan sahabat di tempat ini. Apalagi saat keduanya menceritakan kembali latar belakang keluarga dan masa lalunya. Bagaikan sebuah episode sinetron.

Saat bertemu dengan Pak Edi Londo, suasana akrab yang penuh gelak tawa bagaikan kawan lama.

Saat di rumah militer di kawasan Badaan secara perlahan2 saya kembali mengajak Andries untuk mencoba mengingat dan membuka kembali memorinya yang telah terpendam puluhan tahun silam.
Beberapa rumah sudah kami lalui dan Andries juga belum merasa yakin kalo itu rumahnya. Andries mengatakan kalo rumahnya memiliki 2 pintu persis di samping kanan kiri rumahnya. Saat di depan gerbang masuk rumah ini, Andries kembali tertegun dan diam sejenak. Saya yakin bahwa di balik kacamata hitamnya dia sedang berpikir keras untuk mengingatnya.

Apa ini rumahku ya?


Seperti biasa, saya membiarkannya sejenak agar memori itu kembali lagi padanya.
Rumah ini tepat di tikungan antara Museum Sudirman dan Plengkung Baru di timur Badaan. Persis di selatan rumah dinas Gubernur Akmil.
Tapi lagi2, Andries mengatakan bahwa rumah itu bukanlah rumahnya dahulu.
Saat di depan rumah ini, saya berusaha untuk tidak menunjukkan lokasi Plengkung Baru itu. Karena saya akan membuatkan sebuah kejutan padanya. Kejutan yang akan membuatnya berbahagia tentunya.

Lalu dari pertigaan jalan yang ada di timur Badaan (selatan rumah dinas Gubernur Akmil), saya mengajaknya bergegas menuju ke arah Plengkung Baru.
Saat tiba di rumah paling pojok timur sebelum Plengkung Baru saya meminta Andries untuk berhenti sejenak. Andries terpaku ketika saya menunjukkan adanya 2 rumah yang ada di utara dan selatan jalan.
Andries berupaya lagi untuk mengorek lagi memorinya. Dari 2 rumah itu Andries malah menuju sebuah rumah yang ada di selatan jalan. Sayapun mengikutinya dari belakang.
Saat di depan pagar rumah itu Andries berhenti berdiri terpaku, terdiam membisu. Seolah-olah Andries sedang berusaha keras untuk berpikir. Sayapun juga berdiam diri berusaha untuk tidak mengganggu Andries.
Ujung jemari telunjuk tangan kanannya mengacung-acungkan ke arah rumah itu. Saya tahu, ada sesuatu yang menarik dari rumah ini.
Dan tiba2 Andries setengah berteriak kepada saya, “Iya, ini rumah saya Bagus !”
Saya terperanjat dan kembali bertanya kepadanya, “Apa benar Andries, apa yang anda lihat?”
“Iya ini rumah saya !, 2 pintu di kanan dan kiri rumah ini yang jadi penandanya !”
“Dulu di depan rumah ini di sebelah sana ada Pohon Cemara yang besar. Di belakang rumah ini ada banyak pohon.”
Lalu Andries bercerita banyak tentang rumah ini. Saya yakin di balik kacamata hitamnya dia sedang terharu. Sayapun memberikan ucapan selamat kepadanta. Andriespun senang bahagia.

Aku berdiri di depan rumah di masa kecilku dulu.

Aku berdiri di antara Plengkung Baru dan rumahku [sebelah kanan]


Setelah puluhan tahun akhirnya dia bisa menemukannya dan kembali lagi di rumahnya yang pernah di diaminya dulu.

Sesudah berhasil menemukan rumah yang pernah di tinggalinya 70 tahun yang lalu, Andries berjalan menuju ke atas Plengkung Baru. Di atas bangunan inilah dia sering bermain dengan kawan2nya dulu. Ah alangkah indahnya ya.
Lalu beranjaklah Andries menuju ke timur menyeberang jalan untuk melangkahkan kaki ke RST (Militair Hospitaal) tempat dimana dahulu ibunya yang bernama Aerda pernah bekerja menjadi perawat.
Dengan berfoto di depan bangunan ini sudah cukup buat Andries untuk mengobati rasa kangennya.
Lalu berjalanlah Andries menelusuri jalan beraspal yang berdampingan dengan sebuah sungai buatan menuju lapangan nan luas yang berada di tengah2 tangsi militer. Tempat ayahnya dahulu bekerja sebagai tentara KNIL berpangkat kapten.

Andries berdiri dan menatap Kali manggis yang ada di sebelang lapangan tangsi. Mengenang masa kecilnya dahulu. Kakak-kakaknya mandi di kali ini.


Di sebelahnya mengalirlah sungai kecil. Menatap tajamlah dia ke kali buatan. Iya di Kali Manggis inilah dia juga memiliki kenangan tersendiri.
Saya bertanya padanya,”Andries, apa yang anda lihat?”
“Sungai itu mengingatkan saya pada masa dahulu. Kakak2 saya sering mandi di situ.”
Lalu saya bertanya kepadanya,”apakah anda ikut mandi juga di situ?”.
“Tidak, saya tidak berani karena saya masih kecil”, jawabnya sambil tertawa ringan.

Di sebelahnya mengalirlah sungai kecil. Menatap tajamlah dia ke kali buatan. Iya di Kali Manggis inilah dia juga memiliki kenangan tersendiri.
Saya bertanya padanya,”Andries, apa yang anda lihat?”
“Sungai itu mengingatkan saya pada masa dahulu. Kakak2 saya sering mandi di situ.”
Lalu saya bertanya kepadanya,”apakah anda ikut mandi juga di situ?”.
“Tidak, saya tidak berani karena saya masih kecil”, jawabnya sambil tertawa ringan.

Penelusuran di hari kedua adalah mencari rumah pengungsiannya yang pernah di tempati oleh Andries Schiell de Nijs bersama ibunya, kakak beserta adiknya.
Rumah yang di carinya berada di Kampung Dukuh (selatan Badaan/perempatan Balai Pelajar).
Menurut penuturan Andries bahwa sesudah Jepang datang di Magelang pada tahun 1943 dan menawan ayahnya yang seorang tentara KNIL, yang membuat keluarganya mengungsi di kampung Dukuh ini. Pengungsian ini berkat jasa dari pembantunya yang tinggal di kampung ini.

Aku berdiri di depan Gang Dukuh

“Saya lupa nama babu saya (babu berasal dari kata Belanda yang artinya pembantu perempuan). Dia yang membawa keluarga kami mengungsi dari rumah militer di Badaan”.
Andries mengatakan bahwa dari pintu masuk kampung Dukuh ini harus berjalan kaki cukup jauh.
Bahkan pada waktu kecil Andries pernah di ajak menuju rumah pengungsiannya ini dengan naik mobil jeep. Dan itu juga membutuhkan waktu tempuh yang tidak sebentar.
“Dari sini menuju ke rumah harus berjalan kaki cukup jauh,” begitu imbuh Andries Schiell de Nijs.
Saya mengerinyitkan dahi tentang penjelasan Andries ini. Saya sendiri asli wong Kampung Dukuh ini sehingga bikin agak bingung saya sendiri. Karena panjang kampung ini cuma 100 meter saja antara pintu masuk di Gang Dukuh ini menuju Kali Bening sebagai perbatasan dengan Kampung Tulung. Artinya penjelasan Andries ini belum sinkron dengan fakta yang ada di lapangan.
Andries lalu mengatakan,” Bagus, rumahku dekat dengan sawah, dekat dengan sungai Progo. Rumahku berdinding gedek (bambu)”.
“Wow, itu kampung Tulung Wot !”, teriak saya.
Sebagaimana di ketahui, di sebelah barat Kampung Dukuh ini masih ada sebuah kampung yaitu Kampung Tulung (masuk Kelurahan Magelang sekarang ini). Nah di sebelah barat Kampung Tulung yang berbatasan dengan Kali Progo terdapat deretan rumah2 yang di sebut dengan nama Kampung Tulung Wot. Wot itu artinya jembatan, kemungkinan dahulu di sekitar kampung ini ada jembatan yang melintang di atas Kali Progo ini.
“Kita ke sana Andries !, tapi kita harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer. Anda mau?”
“Tentu saja Bagus, tidak apa2 kita ke sana”,
Ku lihat Andries tersenyum lebar. Seperti halnya saya yang juga tersenyum selama mendampingi selama kegiatan pencarian ini.
Akhirnya saya, Andries, pak Thomas Panjanghari & mbak Maria berjalan bersama menelusuri jalan kampung menuju kampung Tulung Wot ini.

Berjalanlah kami menuju ke Kampung Tulung yang letaknya ada di sebelah barat Kampung Dukuh.
Jalan kampung menuju ke kampung tersebut agak menurun dengan di apit rumah2 di sepanjang kanan dan kirinya.
Senyum Andries selalu tersungging selama perjalanan ini. Saya yakin bahwa senyumnya bagian dari kebahagiaan saat bisa menemukan kepingan2 memori masa kecilnya.
Meski begitu saya juga meyakini bahwa dia sedang berpikir keras membuka memorinya itu.
“Hallo, saya Andries“, begitu sapa Andries sambil mengulurkan tangannya pada salah seorang warga setempat.
Andries merasa bahwa di sinilah dia bisa menemukan salah satu kebahagiaannya.
Saat tiba di jembatan Kali Bening, Andries berhenti sejenak di atasnya. Jembatan ini merupakan perbatasan antara Kampung Dukuh dan Kampung Tulung.
Termenunglah dia sambil menatap ke arah hilir dari Kali Bening tersebut.

Keakraban Andries Schell de Nijs dengan salah seorang warga Kampung Dukuh

Andries berdiri di atas jembatan Kali Bening


Lalu sayapun bertanya kepadanya, “Andries, kenangan apa yang pernah terjadi saat anda kecil dulu ?”
Andries menjawab, “saya lupa, tetapi yang saya ingat dahulu Kali Bening ini airnya banyak & bening. Kenapa sekarang airnya cuma sedikit dan banyak sampahnya?”.
Saya cuma tersenyum malu dan sayapun cuma menjawab, “karena sekarang sudah masuk musim kemarau. Sehingga airnya cuma sedikit.”
Dan saya berusaha untuk menghindar menjawab soal sampah itu.
Cukup lama Andries ada di atas jembatan ini. Kacamata hitamnya tak mampu menutupi bolamatanya. Saya yakin, meski dari sedikit demi sedikit dia sedang mene
mukan dunianya yang dulu. [bersambung]

 

 

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s