LODGE (Loji) Tidar : Kala Freemason Hidup di Tanah Tidar

Standard

Salam Mblusukmen!!

Kali ini saya akan sedikit memberikan informasi mengenai sebuah gedung yang sekarang sudah tidak ada jejaknya sama sekali. Gedung ini dulunya dipercaya sebagai gedung setan. Namun sekarang bekas gedung ini berada sudah berubah menjadi sebuah gedung pertemuan serbaguna di Kota Magelang. Siapa yang mengira, organisasi yang identik dengan teori konspirasi global ini pernah eksis di bumi Magelang. Organisasi persaudaran internasional ini adalah Freemason atau Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda.

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2016/03/a04f3-2101504mosaik-jan-troop780x390.jpg?w=524&h=262

Mosaik porselen Freemason karya Jan Toroop di gedung Algemeene Maastchappij Levensverzekering En Lijferente di Jalan Jembatan Merah , Surabaya

Sumber: National Geographic Indonesia

 

Lebih dikenal dengan organisasi dengan tingkat eksklusifitas yang tinggi, Freemason memasuki kancah peradaban modern pada 1717 dengan pendirian Grand Lodge di London. Sebagian sejarawan barat percaya bahwa sebenarnya organisasi ini sudah berdiri jauh sebelum itu di Skotlandia sekitar abad 14. Pasca sekembalinya para Kesatria Tempelar dari Tanah Suci Yerusalem akibat dari kekalahan melawan Salahudin Al Ayubbbi dalam perang salib, mereka pulang ke daratan Eropa dan menebar terror dimana –mana. Hal tersebut pada akhirnya membuat Paus Klemens V marah besar dan memerintahkan untuk menumpas mereka semua. Para kesatria Tempelar yang berhasil kabur dari kejaran Paus memilih Skotlandia sebagai lokasi pelarian mereka dan mendirikan sebuah kuil dan mengganti identitas mereka sebagai tukang batu atau mason. Sehingga mereka menyebut diri mereka sebagai Freemason (tukang batu yang bebas).

Lambang Freemason

Sumber: perkumpulanrahasia.blogspot.com

 

Organisasi ini pada awalnya sangat sulit untuk dilacak karena tingkat kerahasiaannya yang sangat tinggi, terstruktur dan rapi. Dalam Kongres Freemansory Internasional di Paris pada tahun 1900, tujuan utama para kaum masonic ini adalah mendirikan sebuah negara internasional anti agama yang satu dalam naungan freemason.

Loji Tidar (Lodge Tidar) Si Loji Setan Magelang

Loji atau Lodge adalah sebuah tempat pertemuan kaum masonik untuk beribadah memuja Yang Maha Terang (Lucifer = Raja Iblis) dimana mereka menyanyikan kidung – kidung pemanggilan arwah orang mati. Orang – orang pribumi lebih akrab menyebut Loji ini sebagai Loji Setan karena ritual – ritual aneh yang sering dilakukan para penganut tarekat freemason. Tak jarang suara – suara aneh dan hal – hal ganjil terjadi disekitar loji kaum masonik ini.

Loji Tidar sendiri merupakan loji yang dibangun kaum freemason Magelang tahun 1891 dan merupakan loji ke-14 dari 20an loji (ada yang mengatakan 22 loji, ada yang 25 loji) yang dibangun diseluruh Hindia Belanda. Loji Tidar ini juga merupakan loji ke-82 yang dibangun diseluruh dunia. Oleh karena itu, Loji tidar bernomor 82 yang menunjukan urutan pembangunan loji di dunia, bukan nomor alamat Loji Tidar berada. Loji Tidar berada dibawah naungan Organisasi Freemason Hindia Timur yang berpusat di Batavia. Freemason Hindia Timur mulai aktif sejak 1762 hingga tahun 1962 sebelum dilarang oleh Presiden Soekarno (yang nanti pada era Gus Dur aturan pelarangan ini dicabut).

https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2016/03/ee929-428777_2859067189032_1464287816_n.jpg?w=652

Vrijmetselaarsloge Tidar te Magelang. Bangunan Loji Tidar Magelang pada 1927. Tampak lambang freemason di fasade depan bangunan utama loji.

Sumber: KITLV 

 

Bangunan Loji Tidar sendiri dulunya berlokasi diantara timur Balai Kota Magelang (Kantor PDAM Magelang) dan sebelah barat Hotel Nitaka (Kantor Polwil) dengan muka bangunan menghadap selatan. Bangunan ini berarsitektur gabungan antara neoklasik dan tropis. Bagian fasade depan berbentuk pilar – pilar besar khas bangunan romawi dengan atap belakang bergaya tropis.

Loji Tidar nampak dari sebelah kanan dengan arah pengambilan foto serong menghadap barat laut pada 1924.

Sumber: KITLV

 

Pada bagian interior Loji Tidar dipenuhi oleh alat – alat ritual masonik dan penuh dengan simbol – simbol organisasi freemason. Bisa dilihat dalam foto ubin catur berwarna hitam putih dengan pataka masonik, kursi yang mengelilingi dinding ruangan, alatar dan lilin.

Interior Loji Tidar yang penuh dengan barang – barang ritual masonik

Sumber: Buku Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat Hindia Belanda dan Indonesia 1764 – 1962

Jamaat Tarekat Freemasonry

Anggota jamaat freemason tidak hanya didominasi oleh warga kulit putih eropa saja, banyak warga pribumi yang masuk dan ikut menjadi anggota freemason. Sebut saja, raja – raja jawa dan trah ningrat seperti Sultan HB VIII, Paku Alam VIII, RAS. Soemitro Kolopaking Poerbonegoro, RMAA, Tjokroadikoesoemo, politisi nasional seperti Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Dr. Teuku Mansyur, dan banyak anggota organisasi Boedi Oetoemo. Bahkan, bapak seni lukis modern, Raden Saleh pun adalah salah satu anggota Freemason pribumi pertama di Hindia Belanda. Orang – orang tersebut tercantum dalam buku karya Dr. T.H. Stevens yang merupakan seorang sejarawan asal Belanda.

Sumber: Indocropsecircle.wordpress.com

 https://kotatoeamagelang.files.wordpress.com/2016/03/f4096-380px-collectie_tropenmuseum_portret_van_een_javaanse_regent_en_vrijmetselaar_tmnr_60042766.jpg?w=652

Salah satu bupati anggota Freemason dari jawa.

Sumber: Troppenmuseum

 

Potret Raden Saleh Sjarif Boestaman (Raden Saleh) 1872

Sumber: Troppenmuseum

 

Group portrait bersama Resident L.F. Dingemans dan Sultan Hamengkoe Boewono VIII dalam sebuah acara di Loji Mataram pada 21 November 1925

Sumber: Troppenmuseum

 

Loji Tidar juga pernah menjadi saksi seorang Master Mason besar bagi kaum freemason dunia. Namanya adalah Hermannus Van Tongeren. Ia adalah seorang mayor jendral berkebangsaan Belanda yang memulai karir masoniknya sebagai anggota freemason pada tahun 1909 di Loji De Ster in Het Ootsen atau “Bintang Timur” di Batavia. Kontak pertama Van Tongeren pada Freemason sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1896 pada usia 20 tahun. Namun ia ditolak berkali – kali oleh organisasi ini. Akhirnya, berkat kegigihan yang ia tunjukkan selama 12 tahun, ia berhasil diterima sebagai anggota Tarekat Freemason.

Karir nya sebagai anggota Freemason mulai terlihat ketika pada tahun 1911 ia mendapat promosi menjadi pendamping Loji di Loji ‘Prins Frederik’ di Kota Radja. Pada tahun 1914, van Tongeren mendapat promosi lagi sebagai pengajar di Loji Tidar, Magelang hingga 1917. Setelah ia selesai menjalani tugasnya di Magelang, van Tongeren kembali ke Amsterdam dan masuk menjadi anggota Loji ‘Nos Vixint Libertas’. Dari sinilah karir masoniknya melesat cepat, sehingga pada tahun 1919 setelah akhir perang dunia pertama ia menjadi uskup kedua freemason. Dalam jangka waktu satu tahun, yaitu pada 1920, ia sudah menjadi uskup pertama dan antara 1922 sampai 1936 ia menjadi Uskup Agung Jamaat Tarekat Freemason dunia.

Foto diri Hermannus van Tongeren pada tahun 1903

Van Tongeren dengan pakaian Master Mason

Sumber: Redeenportret.nl

Ketika Sinar Masonik Meredup di Tanah Jajahan

Berkobarnya perang asia timur raya pada awal 1942 membawa dampak yang cukup besar pada aktivitas organisasi tarekat Freemason di Hindia Belanda. Dikuasainya kota – kota besar di Hindia Belanda oleh tentara – tentara Jepang menuntut beberapa loji seperti Loji Matahari di Padang, Loji Mataram di Yogyakarta, Loji Prins Frederik di Kota Radja, dan beberapa loji lain di kota Makasar, Blitar, Malang, Tegal, Jember dan lainya harus berhenti beroperasi. Ditengah banyaknya loji di kota lain yang tutup, Loji Tidar masih tetap bisa menjalankan aktifitasnya seperti biasa hingga akhir perang dunia kedua berakhir.

Dengan keluarnya Lembaran Negara nomor 18/1961, Loji Tidar baru ditutup oleh Soekarno pada tahun 1960an. Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan kembali oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 untuk semua organisasi yang tidak mendukung langkah politik Soekarno dengan Manifesto Politiknya dengan dalih organisasi sejenis Freemason tidak sesuai dengan cita – cita dan pribadi bangsa. Maka sejak saat itu, bangunan bekas loji – loji Freemason ini diakuisisi oleh negara.

Gedung bekas Loji Mataram di Yogyakarta yang sudah diakuisisi negara dan menjadi gedung DPRD DIY

Sumber: dprd-diy.go.id

Kisah Lain Loji Tidar

Sebuah potongan Lotre pada surat kabar ini dikeluarkan oleh Loji Tidar yang berfungsi pada pagi hari jam 9 tertanggal 30 Agustus untuk dapat pergi ke Gedung Societet Soembing.

Foto potongan kupon dari Loji Tidar

Sumber: Upload foto dari Alm. Tony Kusmahadi 18 Juli 2012 Group KTM

Demikinalah sekelumit kisah kiprah Freemason di bumi Magelang. Kisahnya tentang konspirasi untuk menguasi dunia ternyata pernah meninggalkan jejaknya di kota Magelang. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Salam Mblusukmen!!

[penulis : C.Gusta Wisnuwardana di 05.05.

sumber : http://mblusukmen.blogspot.co.id/2016/01/lodge-loji-tidar-kala-freemason-hidup.html?m=1

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

2 responses »

  1. Ini artiket yang saya tunggu sejak saya tau bahwa di magelang pernah ada loji milik freemason.
    Namun apakah TS tau sekarang letak persis bangunan ini, atau sekarang bagunan ini sudah menjadi bagunan apa?
    Jujur saya penasaran hehehe thanks for info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s