Seri Ke-4 Djeladjah Petjinan Diikuti Peserta Luar Kota

Standard
Sabtu, 27 Peb 2016 11:40:16  WIB

Satu bangunan lama di kawasan Pecinan Kabupaten Temanggung tampak bersih dan terawat, Sabtu (27/2). (Anis Efizudin/dokumen).

Magelang, Antara Jateng – Para peserta dari luar Kota Magelang menyatakan keikutsertaan dalam wisata sejarah diselenggarakan Komunitas Kota Toea Magelang untuk seri keempat “Djelajah Petjinan” dengan tujuan kawasan Pecinan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

“Ada sekitar 120 orang yang sudah mendaftarkan diri untuk ikut besok (Minggu, 28/2). Mereka tidak hanya dari Magelang, tetapi juga dari Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan bahkan ada 10 orang dari Temanggung sendiri karena senang dengan seri wisata sejarah ini,” kata Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana di Magelang, Sabtu.

Seri pertama dan kedua wisata sejarah diselenggarakan oleh komunitas tersebut, pada 2013 dan 2014, dengan sasaran berbagai tempat dan bangunan milik warga keturunan Tionghoa di Kota Magelang, sedangkan seri ketiga pada 2015 dengan sasaran Kota Muntilan, Kabupaten Magelang.

Pihaknya menggelar wisata sejarah seri “Djelajah Petjinan” tersebut setiap Februari atau masih dalam suasana Tahun Baru Imlek. Sebelum berangkat ke Temanggung menggunakan kendaraan bermotor, peserta berkumpul terlebih dahulu di “Tugu Aniem” atau titik nol kilometer Kota Magelang, di depan Kelenteng Liong Hok Bio di ujung Jalan Pemuda, kawasan pusat pertokoan Pecinan Kota Magelang.

Ia mengatakan berbagai persiapan telah dilakukan komunitas tersebut terkait dengan wisata sejarah seri keempat “Djelajah Petjinan” di Temanggung, terutama berkoordinasi dengan para pemilik dan pengelola bangunan bergaya Tionghoa di kawasan Pecinan Temanggung.

“Malah yang peserta dari Temanggung sendiri, sebenarnya sudah lama ingin melihat-lihat bangunan-bangunan tersebut secara detail dan mendapatkan ceritanya, tetapi ternyata selama ini mereka sungkan dengan pemiliknya. Padahal ketika kami berkoordinasi, para pemilik itu menerima dengan terbuka dan ramah,” ucapnya.

Peserta lainnya dari luar kota, katanya, mendapatkan informasi tentang agenda wisata sejarah tersebut melalui media sosial yang dikelola Komunitas Kota Toea Magelang.

Sejumlah lokasi di kawasan Pecinan Temanggung yang bakal dikunjungi para peserta tersebut, antara lain rumah keluarga Lie di Kota Temanggung yang dibangun pada 1870 dan sekarang ditempati generasi ketujuh, Pabrik Cerutu “Rizona” yang telah berusia lebih dari 100 tahun didirikan oleh Ho Tjong An. Pabrik cerutu tersebut hingga saat ini masih beroperasi.

Ia menjelaskan sosok Ho Tjong An pada masa lampau menjadi pemborong, khususnya dalam pembangunan rel sepur di jalur Ambarawa (Kabupaten Semarang) melewati Secang (Kabupaten Magelang), Kota Magelang, Temanggung, hingga Parakan (Kabupaten Temanggung).

Objek kunjungan lainnya, ujarnya, satu rumah berarsitektur khas, di dekat bangunan milik Lie dan Pabrik Cerutu “Rizona” yang hingga saat ini masih terawat dengan baik, serta bekas gedung Bioskop “City” Temanggung.

Gedung tersebut dibangun sekitar 1945 oleh seorang pengusaha keturunan Tionghoa di kota setempat dan waktu itu menjadi tempat hiburan favorit warga setempat.

Selain itu, katanya, bekas Stasiun Temanggung yang pada masa lalu menjadi pusat perekonomian daerah di kawasan Gunung Sumbing dan Sindoro itu. Pemborong pembangunan stasiun yang selesainya pada 1903 itu juga Ho Tjong An.

“Sampai sekarang bangunan itu masih bagus dan cantik, dan menjadi salah satu ikon Temanggung,” ujarnya.

Peserta juga akan mengunjungi pusat aktivitas budaya dan keagamaan warga keturunan Tionghoa di kota itu, yakni Kelenteng Kong Ling Bio yang dibangun pada 1890 dan hingga saat ini masih dimanfaatkan dan dijaga warga dengan baik, walaupun sudah mengalami beberapa kali renovasi.

Selain itu, lanjutnya, bangunan tempat tinggal khas Tionghoa di dekat kelenteng tersebut yang oleh pemiliknya sekarang juga digunakan sebagai toko obat.

“Masih khas banget gaya bangunannya, aslinya untuk tempat tinggal, tetapi kemudian alih fungsi untuk toko obat. Tetapi bangunannya tetap lestari dan terjaga,” tuturnya.

Ia menjelaskan wisata sejarah seri “Djelajah Petjinan” bukan sekadar mengajak masyarakat belajar sejarah kehidupan masyarakat keturunan Tionghoa di berbagai daerah yang dikunjungi, akan tetapi juga memperkuat semangat keragaman hidup sebagai sesama Bangsa Indonesia.

“Bahwa kita menyadari dengan baik, Indonesia ini beragam. Antara satu pihak dnegan pihak lain saling mengisi dan menempati. Keragaman ini menjadi pemersatu,” imbuhnya.

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © 2016

[sumber : Antara Jateng]

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s