Jalur Spoor Setengah Terabaikan

Standard

Acara Djeladjah Djaloer Spoor yang diselenggarakan oleh komunitas Kota Toea Magelang ( KTM ) seolah menjadi agenda tahunan yang dilakukan tiap bulan September. Hari Kereta Api di Indonesia yang diperingati setiap tanggal 28 September menjadi salah satu alasannya.

Tahun lalu saya bergabung dengan KTM menelusuri jalur kereta api mati dari Stasiun Bedono menuju Stasiun Umbul, cerita lengkapnya bisa klik di sini. Sedangkan tahun ini di bulan yang sama ( 13 September 2015 ), saya bergabung dengan seratus peserta yang lain menelusuri jalur kereta api tidak aktif yang lain, yaitu jalur kereta dari Stasiun Bedono menuju Stasiun Ambarawa.

Tak jauh dari titik kumpul peserta di “Alfamart – Pahlawan – Magelang”, telah berjajar sepuluh angkot atau angkutan kota yang akan membawa semua peserta ke Stasiun Bedono. Perjalanan dari Jalan Pahlawan, Magelang menuju Stasiun Bedono yang terletak di Kabupaten Semarang sendiri membutuhkan waktu sekitar 40 menit.

Stasiun Bedono
Stasiun Bedono
ruang tunggu Stasiun Bedono setelah direnovasi
ruang tunggu Stasiun Bedono setelah direnovasi

Kondisi Stasiun Bedono sekarang sungguh manglingi, sudah terlihat lebih cantik. Berbeda dengan ingatan setahun yang lalu di mana bangunan terlihat kusam, cat tembok banyak yang terkelupas serta kursi-kursi kayu di ruang tunggu yang belum layak pakai. Kini jauh lebih bersih dan rapi. Bahkan toilet dan menara air juga sudah dibenahi dengan petak-petak taman di depannya yang menunggu dihijaukan. Rupanya PT KAI tidak lupa dengan janjinya untuk menghidupkan beberapa jalur mati kereta api yang telah dibangun semasa pemerintahan Hindia Belanda di Nusantara.

Dari Stasiun Bedono, kami mulai berjalan ke utara arah Ambarawa. Akan melewati beberapa stoopplaast ( pemberhentian untuk mengisi persediaan air ) seperti stoopplaast Tempuran, Stasiun Jambu, stoopplaast Ampin Wetan, dan stoopplaast Karangkepoh. Peta dunia maya mencatat jaraknya hanya sekitar sepuluh kilometer saja, namun waktu tempuh malah dirasa lebih lama dibanding jelajah sebelumnya. Tentu ada pelajaran dan keseruan yang berbeda dengan sebelumnya, baik pemandangan maupun lintasan yang terbilang cukup membahayakan jika pejalan lengah.

jalur kereta api membelah bukit
jalur kereta api membelah bukit

Keluar dari Stasiun Bedono yang terletak di ketinggian 711 mdpl langsung disambut oleh rack railway atau rel gigi, pertanda akan ada tanjakan maupun turunan di jalur tersebut. Sistem rel pegunungan ini digunakan untuk membantu laju lokomotif uap saat melewati dataran lebih tinggi ataupun lebih rendah dengan kemiringan sekitar 6% dari jalur sebelumnya. Sama seperti rel gigi yang pernah saya lihat di jalur Stasiun Bedono – Stasiun Gemawang. Bedanya rel gigi di sini masih mencuat di atas tanah, tidak tertimbun aspal apalagi tertutup oleh pemukiman warga.

Memang betul jalan sedikit demi sedikit terasa menanjak, kadang disertai turunan dan sesekali belokan yang menyuguhkan pemandangan perbukitan yang mengagumkan. Jalur membelah bukit tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dengan pekerja yang banyak pula. Seperti jalur Secang – Umbul yang pernah saya jelajahi bersama KTM dua tahun silam, cerita lengkapnya baca –> Jalur Spoor Yang Terabaikan.

Berbicara tentang biaya jalur kereta api Magelang – Ambarawa, pernah ada seorang aanemer atau insinyur asal Temanggung bernama Ho Tjong An. Beliau lahir di Tungkwan, Canton pada tahun 1841 yang sejak kecil merantau ke Hindia Belanda bersama keluarganya. Sempat menetap di Semarang hingga mendirikan Toko Besi Thay Thjiang di Temanggung di usia senjanya.

Tahun 1899 pertama kalinya beliau menerima pekerjaan borongan membuat jalur kereta api jurusan Rembang-Blora-Cepu yang digagas oleh SJS – Samarang Joana Stoomtram Maatschappij dengan total biaya sekitar f 95.000,-. Proyek berikutnya datang dari NIS – Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij sekitar tahun 1900, beliau dipercaya membuka jalan kereta api antara Willem I – Secang, Magelang – Secang, dan Secang – Parakan dengan biaya borongan sebesar f 350.000,-. Angka yang terbilang sangat besar waktu itu. Karena luasnya area yang harus dikerjakan, Ho Tjong An memutuskan pindah rumah ke Temanggung.

Proyek itu diselesaikannya tiga tahun kemudian dan stasiun-stasiunnya mulai aktif antara tahun 1903-1905. Meski terbilang sebagai Tionghoa totok, Ho Tjong An terkenal sebagai pribadi yang menghargai kepercayaan lokal. Dulu masih banyak masyarakat yang percaya dengan batu, makam dan kawasan yang dikeramatkan, sehingga mereka mogok kerja jika diperintahkan membuka jalur di sekitar sana. Maka dari itu Ho Tjong An berulang kali membelokkan beberapa jalur hingga mengadakan selamatan di area tertentu agar ribuan pekerjanya mau meneruskan pekerjaannya.

Jalur kereta sepanjang Bedono menuju Jambu diwarnai pemandangan perbukitan dengan jalur rel gigi yang berkelok-kelok. Hamparan sawah dan beberapa jembatan ikut mengusir kebosanan selama satu setengah jam perjalanan menuju Stasiun Jambu. Sesekali terlihat penduduk lokal yang mendorong kereta rakitan sederhananya berisi penuh daun-daunan untuk ternak di sepanjang rel gigi.

melihat peta lama jalur kereta api Jawa Tengah
melihat peta lama jalur kereta api Jawa Tengah

Berjalan di atas rel kereta, memangnya nggak takut tertabrak kereta api yang melintas? Oh iya, lupa bilang jika jalur kereta dari Stasiun Bedono menuju Stasiun Ambarawa sudah tidak aktif lagi. Mulai dari Magelang – Secang – Temanggung – Bedono – Jambu – Ambarawa – Kedungjati jalurnya berhenti beroperasi sejak tahun 1976. Jalur Bedono – Ambarawa – Tuntang sempat diaktifkan sebagai jalur kereta wisata, namun sayangnya beberapa tahun terakhir jalur tersebut vakum sementara akibat renovasi Museum Kereta Api Ambarawa.

akhir dari rel gigi jalur Bedono - Jambu
akhir dari rel gigi jalur Bedono – Jambu

Akhir dari rel gigi menandakan bahwa jarak menuju Stasiun Jambu tinggal sedikit lagi. Stasiun Jambu yang terletak di ketinggian 479 mdpl sebenarnya merupakan halte, namun cukup besar dan bisa disinggahi layaknya stasiun yang dibangun di tengah jalur Bedono hingga Ambarawa. Di sinilah lokomotif uap yang semula berada di ekor guna mendorong gerbong-gerbong selama melewati tanjakan akan berpindah posisi di bagian kepala guna menarik gerbong-gerbong. Berlaku sebaliknya jika kereta melaju dari Ambarawa menuju Bedono.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, akibat renovasi museum yang berlangsung sejak empat tahun silam berimbas terhadap Stasiun Bedono maupun Stasiun Jambu. Nasib mereka setengah terabaikan, sudah tidak seramai dulu saat dipenuhi oleh wisawatan lokal maupun asing yang tengah menyewa kereta wisata dari maupun menuju Ambarawa.

Menurut Pak Adhitya Hatmawan, salah satu pegawai PT KAI di Stasiun Ambarawa yang ikut berjalan bersama rombongan KTM, jalur Bedono –  Jambu – Ambarawa akan diaktifkan lagi mulai tahun 2016 mendatang sebagai jalur kereta wisata. Mudah-mudahan rencana tersebut tidak meleset.

jembatan rel kereta api
jembatan rel kereta api

Kami kembali berjalan menelusuri jalur kereta api tidak aktif dari Jambu menuju Desa Karangkepoh dan Desa Ngampin hingga Ambarawa. Jalur yang kami lalui sudah lurus tanpa tanjakan lagi selama satu setengah jam ke depan, tapi betis rasanya sudah terlanjur pegal minta dioles balsem. 😀

Total waktu yang dihabiskan dari Bedono menuju Ambarawa yang menurut peta dunia maya hanya berjarak sepuluh kilometer adalah sekitar tiga setengah jam! Memang jaraknya terdengar tidak terlalu jauh, namun kenyataannya medan berkerikil tidak beraspal mulus, tanjakan halus hingga menyeberangi jembatan rel kereta yang bikin deg-deg ser menjadi faktor penghambat selama perjalanan.

Bentangan alam yang indah serta senyuman yang ditebarkan oleh penduduk setempat menjadi penyemangat untuk tiba di titik akhir Djeladjah Djaloer Spoor. Sama semangatnya menunggu janji PT KAI yang tengah giat menghidupkan jalur mati kereta api di Indonesia. Semoga janji tak tinggal janji belaka.

sumber : http://jejak-bocahilang.com/2015/09/22/jalur-spoor-setengah-terabaikan/

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s