Catatan perjalanan CHULALONGKORN, raja Siam, selama di Magelang. (disarikan dari buku Perjalanan ke Jawa di tahun 1896)

Standard

Catatan perjalanan CHULALONGKORN, raja Siam, selama di Magelang. (disarikan dari buku Perjalanan ke Jawa di tahun 1896)

1 Juli 1896, jam 8 pagi, raja Siam mengunjungi Borobudur dengan didampingi Dr. Groneman. Jam 13 makan siang, ,jam 14 menuju ke Magelang. Untuk mencapai Magelang kami harus menyeberangi sungai Progo hingga mencapai persimpangan ke arah Magelang. Dalam perjalanan terlihat di dua sisi jalan kebun ketela, indigo, dan tebu. Di jalan kami mengganti kuda-kuda. Tempat mengganti kuda, jaraknya 8 Paal dari Magelang. Tiba di magelang jam 15. Saat tiba di Magelang kami melewati pecinan dengan rumah-rumah pada dua sisi jalan seperti di Bandung. Kiri dan kanan jalan banyak bendera. Agak jauh terdapat pekuburan eropa dan pemukiman orang eropa. Disini ada hotel yang bagus. Di pinggir jalan banyak juga rumah dengan kebun, barak, rumah pegawai dan lapangan untuk berlatih militer. Pertama-tama kami mengunjungi rumah sakit, banyak orang menunggu kami diatas rumput. Kami melewati lantai dasar dimana terdapat gudang. Orang-orang melemparkan bunga ke kereta kami. Rumah sakit terlihat seperti rumah sakit jiwa di Buitenzorg tapi rumah sakit ini lebih besar. Atap bangunan saling berdekatan. Selasar tidak rata dan terlihat bahwa atap tidak sama tingginya. Aku terkagum-kagum dengan ruang operasi yang tertata modern. Dr. Reyther memuji ruang operasi itu dan menurutnya sangat bagus tatanannya. Kami mengunjungi juga kamar mandi dan ruang pasien. Tiap ruang pasien dipisahkan dengan anyaman bambu seperti rumah sakit di Batavia. Rumah sakit ini punya 700 tempat tidur, saat itu terdapat 200 pasien. Masih banyak kamar kosong.

Aku mengamati gunung Merapi yang menurutku adalah gunung tercantik dari semuanya. Mereka ingin mengajakku kesana tapi aku terlalu lelah. Saat itu sudah jam 16 dan aku mengunjungi ruang perawatan untuk pasien tentara. Aku tidak menceritakan tentang kamar itu karena terlihat sama seperti yang di Buitenzorg. Rumah sakit ini memakai kayu, batu, besi sebagai konstruksinya, sedangkan rumah sakit di Buitenzorg tidak memakai kayu.

Jam 17 aku ke rumah residen, tetapi aku merasa bahwa residen baru saja terbangun dari tidur sehingga tidak bisa segera menyambutku. Lalu aku berjalan-jalan. Rumah residen sangat nyaman. Didepan fasad yang menghadap barat terdapat kebun yang luas dengan sebuah patung singa dari batu. Istri dan anak-anak residen menyambutku. Mereka menjamuku champagne dan air belanda. Kami bercakap-cakap 30 menit tentang kota Jogja. Kemudian kami pergi ke kebun dimana terdapat bunga mawar yang berbunga sedikit. Terdapat juga 2 jenis pohon yang tidak biasa, yaitu pohon kayu manis dan kenanga yg tingginya kira-kira 10 hasta dan batangnya kurang lebih 1,5 kepal tangan dan daunnya berbentuk oval. Pohon kenanga dari atas ke bawah penuh bunga dan harum. Harumnya sangat kuat bahkan tercium ketika kita belum melihat pohon itu.. Aku memetik bunga-bunga itu. Jika aku memetik semuanya aku bisa memenuhi 1 keranjang bambu. Aku tidak percaya diri untuk memetik semua bunga karena aku seorang laki-laki. Mae lek tidak bersamaku sehingga aku tidak bisa bertanya apakah aku harus memetik bunga untuknya. Aku meninggalkan beberapa bunga tetap di pohon dan bertanya apakah besok bisa memetiknya lagi. Kemudian aku berjalan-jalan dan sejauh mata memandang semuanya terlihat indah. Aku duduk, menguap dan menggoda residen apakah aku bisa tidur disini. Aku tidak perlu buru-buru kembali ke penginapanku. Seseorang menunjukkan foto Borobudur dimana baru saja mulai terbenahi. Sebelum aku pulang, aku bercakap-cakap dengan Dr. Groneman. Kami berdiskusi panjang dan berhenti hingga kami punya pandangan yang sama. Aku meninggalkan Magelang 5 menit sebelum matahari tenggelam. Dan jam 19 kembali ke pesanggrahan. Di atas meja, terletak bunga kenanga dan harumnya memenuhi ruangan.

2 Juli 1896, Ratu Siam berjalan-jalan di pagi hari ke rumah residen Magelang untuk memetik bunga kenanga dimana pada sore hari sehari sebelumnya raja Siam sudah memetiknya.

2 Juli 1896, Raja Siam mengunjungi Borobudur di pagi hari untuk memilih stupa yang ingin dibawa pulang dan memahatkan inisialnya di candi Borobudur. Siang harinya ke candi Mendut yang berjarak 30 menit dari candi Borobudur. Kemudian kembali ke Borobudur bersama bupati. Mereka berbicara tentang proyek kereta api yang akan menghubungkan Magelang dengan Jogja.

[eva mentari ]

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s