Liputan Event DJELADJAH DIPONEGORO #2 14 JUNI 2015

Standard
LAPORAN KEGIATAN “DJELADJAH DIPONEGORO” 14 JUNI 2015
bersama Komunitas KOTA TOEA MAGELANG
I. PENGANTAR
Komunitas KOTA TOEA MAGELANG adalah sebuah komunitas yang bergerak di bidang penggalian sejarah/history dan pelestarian cagar budaya/heritage di wilayah Magelang. Komunitas ini selalu aktif mengadakan berbagai kegiatan baik bersifat indoor maupun outdoor. Berbagai kegiatan sudah di laksanakan dengan tema yang beragam. Seperti misalnya berkaitan dengan perkeretaapian, percandian, budaya Tionghoa, kepahlawanan, tradisional, dll.
Acara-acara tersebut misalnya DJELADJAH SPOOR, DJELADJAH SITOES & TJANDI, DJELADJAH PETJINAN, DJELADJAH DIPONEGORO, DJELADJAH MUSEUM, dll. Kegiatan-kegiatan tersebut di rancang sedemikian rupa agar menarik, menyenangkan, rekreatif dan edukatif. Sehingga peserta mendapatkan pengalaman yang menarik dan mengesankan. Kegiatan tersebut rutin di adakan setiap bulan dengan tema yang berganti-ganti sehingga tidak membosankan.
II. LATAR BELAKANG “DJELADJAH DIPONEGORO”
Event tahunan yang di gelar di antaranya adalah DJELADJAH DIPONEGORO. Tujuan di adakannya jelajah dengan tema Perjuangan Pangeran Diponegoro ini salah satunya adalah menumbuhkan jiwa nasionalisme di kalangan generasi muda. Sebagaimana di ketahui bahwa Perang Diponegoro ini tercatat dalam sejarah sebagai peperangan yang sangat dahsyat. Perang yang terkenal dengan sebutan “JAVA OORLOG” ini berlangsung dari tahun 1825-1830 yang berkecamuk di wilayah Jawa bagian tengah.
Peperangan ini memakan koban ribuan jiwa dia antara kedua belah pihak pihak. Bahkan mampu membuat Belanda bangkrut. Sistem perang gerilya yang di lakukan oleh Diponegoro beserta laskarnya mampu membuat kalang kabut Belanda sehingga diterapkanlah sistem Benteng Stelsel yaitu sebuah sistem peperangan dengan banyak membangun benteng dalam upaya mempersempit pergerakan pasukan Diponegoro. Upaya ini cukup berhasil meski peperangan harus di akhiri dengan cara yang licik yaitu Belanda berpura-pura mengajak berunding Diponegoro tatapi ternyata cuma skedar tipu muslihat saja. Di rumah Residen Kedu di Magelang Pangeran Diponegoro di tangkap pada tanggal 28 Maret 1830. Peristiwa licik inilah yang akhirnya mengakhiri perjuangan Diponegoro.
Jelajah dengan tema ini sudah di adakan untuk yang kedua kali, sedangkan seri pertama di adakan di tahun 2014 dengan mengambil lokasi kunjungan sbb : – Museum Diponegoro di Gedung eks Residenan/Bakorwil II Kedu-Surakarta di Jl. Diponegoro No. 1 Kota Magelang, – Langgar Agung Diponegoro di Salaman, – Goa Lawa (tempat persembunyian Pangeran Diponegoro) dan – penyimpanan Kuluk Pangeran Diponegoro di Desa Kalirejo di Menoreh Salaman.
Di tahun 2015 ini kembali di adakan DJELADJAH DIPONEGORO #2 dengan mengambil lokasi kunjungan seputar Perbukitan Menoreh sisi selatan yang masuk wilayah Kulonprogo.
Lokasi kunjungan tersebut di antaranya sbb :
1.  Monumen Patung Pangeran Diponegoro di Aloon-aloon Kota Magelang
2. Makam Nyi Ageng Serang di Bandarharjo Kalibawang Kulonprogo
3. Makam Laskar Bulkiyo di Dusun Ngipikrejo Desa Dekso Kulonprogo
4. Goa Upas dan Goa Sriti di Dusun Dukuh Purwoharjo Kulonprogo
5. Batu Petilasan di Dusun Beteng Desa Candirejo Samigaluh Kulonprogo
III. PESERTA “DJELADJAH DIPONEGORO #2”
Peserta jelajah kali ini dikuti peserta dari berbagai tempat, kalangan umur, jenis kelamin.
1. Asal peserta : Magelang, Jogjakarta, Semarang, Batang, Ungaran, Kulonprogo.

2. Jenis kelamin :

– Laki-laki : 60 orang
– Perempuan : 31 orang
– Anak-anak : 4 orang [3 laki-laki, 1 perempuan]
3. Umur :
– Termuda : 8 tahun
– Tertua : 70 tahun
Sedangkan proses penjelajahan dilakukan dengan bersepeda motor dengan perincian sbb :
1. Merek Motor
– Honda : 38 buah
– Yamaha : 14 buah
– Suzuki : 2 buah
– Kawazaki : 1 buah
– TVS : 1 buah
2. Jenis Motor
– Matic : 22 buah
– Bebek : 31 buah
– Sport : 3 buah
IV. KRONOLOGIS “DJELADJAH DIPRONEGORO #2″
“DJELADJAH DIPONEGORO #2” di adakan pada hari Minggu Wage 14 Juni 2014. Sebagai titik kumpul adalah di titik 0 kilometer Kota Magelang yaitu di Tugu Listrik ANIEM di depan Kelenteng Liong Hok Bio. Titik kumpul di sini di pilih karena berada di tengah kota dan mudah di akses dari segala penjuru wilayah.
– Pukul 06.30 WIB :
Peserta berkumpul sekaligus untuk mendaftar ulang sebagai peserta. Selain mencatatkan nama, alamat dan nomer hp di lembar daftar ulang, peserta juga di wajibkan mengisi MEREK & JENIS MOTOR yang di pakai. Hal ini di lakukan untuk mengetahui dan mendata kendaraan yang di pakai oleh peserta. Tercatat sebanyak 90 orang terdaftar. Para peserta mendapatkan fasilitas berupa :
– vandel/bendera kecil berwarna oranye sebagai penanda kepesertaan,
– pin cantik bergambar Pangeran Diponegoro,
– snack,
– air mineral,
– makalah
– buku panduan berkendaraan sepeda motor yang merupakan sumbangan dari Yayasan ASTRA HONDA MOTOR. Buku ini memuat cara berkendaraan sepeda motor untuk tertib di jalan agar aman dan selamat. Mengingat proses jelajah kali ini melibatkan banyak orang dan menggunakan sepeda motor sebagai sarana penjelajahan.
– Pukul 07.15 WIB :
Di lakukan briefing dan pemaparan petunjuk teknis dari Koordinator Komunitas KOTA TOEA MAGELANG. Tujuan briefing ini untuk menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan, termasuk tentang rute penjelajahan yang akan di lakukan.
 
Penyampaian briefing juga di lakukan oleh Ketua Yayasan ASTRA HONDA MOTOR Bapak Hari Sasono kepada peserta, di antaranya mengharapkan agar peserta mematuhi peraturan lalu lintas agar aman, tertib dan selamat dalam bersepeda motor di jalan. Tidak lupa Bapak Hari Sasono mengajak peserta untuk meneriakkan yelyel penyemangat kegiatan.
Untuk mengawali kegiatan Bapak Soli Saroso selaku penasehat dan sesepuh Komunitas KOTA TOEA MAGELANG mempimpin doa agar proses penjelajahan di berikan kelancaran dan keselamatan mulai dari awal dan akhir kegiatan. Kegiatan di titik kumpul ini di akhiri dengan foto bersama dengan membentangkan spanduk kegiatan.
 
– Pukul 07.30 WIB :
Peserta menuju Monumen Patung Diponegoro di Aloon-aloon Kota Magelang. Monumen ini sudah berdiri sejak tahun 1977 sebagai bentuk penghargaan atas jasa, perjuangan dan pengorbanan Pangeran Diponegoro beserta pasukannya dalam melawan penjajah Belanda. Disini dilakukan pemotretan sebagai kunjungan pertama jelajah.
– Pada pukul 07.45 WIB :
Peserta menuju sepeda motor masing-masing untuk persiapan pemberangkatan jelajah. Kelengkapan bersepedamotor para peserta di cek benar, termasuk penggunaan helmet dan surat-surat yang diperlukan (SIM, STNK, KTP)
– Pukul 08.00 WIB :
Peserta berangkat menuju lokasi kedua yaitu di makam Nyi Ageng Serang di Kalibawang sejauh kira-kira 30 km. Rute jelajah mengambil jalan sbb : – Aloon-aloon Kota Magelang – Mertoyudan – Blondo – Kota Mungkid – Candi Pawon – Candirejo Borobudur – Bligo – Kalibawang – Makam Nyi Ageng Serang.
– Pukul 08.45 WIB :
Peserta sampai di Makam Nyi Ageng Serang. Di tempat ini sudah menunggu Ki Roni Sodewo, keturunan/trah Pangeran Diponegoro ke 7 yang sekarang tinggal di Wates Kulonprogo. Beliau akan memandu selama kegiatan berlangsung. Di tempat ini peserta menerima penjelasan mengenai sejarah perjuangan Nyi Ageng Serang dalam membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Di dalam makam di adakan pembacaan doa untuk [alm] Nyi Ageng Serang. Penjelajahan berlanjut menuju Makam Laskar Bulkiyo di Dekso sejauh 8 km.
– Pukul 09.45 WIB :
Kunjungan di area komplek Makam Bulkiyo di Dekso. Makam ini merupakan area pemakaman massal dari pasukan Diponegoro yang gugur sewaktu peperangan di area persawahan di sebelah barat kampung ini. Di ceritakan bahwa dahulu ketika Belanda berniat menyerbu kawasan Perbukitan Menoreh tempat Diponegoro berlindung, sesudah sampai di area persawahan di barat Dusun Ngipikrejo di serang oleh Pasukan Diponegoro. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Dari pihak Laskar Diponegoro yang gugur adalah Kyai Bulkiyo, Kyai Sampar Wangke, Kyai Sampar Wadi dan Raden Mas Atmojo dan sejumlah prajurit dengan jumlah keseluruhan mencapai 104 jiwa.
– Pukul 11.00 WIB :
Perjalanan menuju Goa Upas dan Goa Sriti sangat menantang karena setelah melewati jalan raya maka akan melewati jalan kampung yang menanjak dengan sudut kemiringan yang tajam. Mengingat lokasi goa berada di area perbukitan Menoreh.
Goa Upas merupakan tempat berlindung untuk 2-3 orang saja. Dahulu kondisinya berbeda dengan kondisi sekarang. Karena runtuh maka kondisi goa sudah berubah sama sekali. Lokasi goa ini sekitar 250 meter dari jalan kampung tetapi lokasinya berada di bawah dari jalan kampung itu. Melewati kebun jati dan bebatuan kapur, sehingga peserta harus berjalan kaki untuk menuju ke goa ini.
Sedangkan Goa Sriti terletak 30 meter dari jalan kampung tersebut. Goa ini sangat unuk dan menarik. Meski terlihat dari luar hanya berupa pintu kecil, akan tetapi ketika masuk ke dalam goa ruangannya sangat luas sekali. Area goa seluas 3 kali lapangan basket dan mampu menampung ratusan orang. Tempat ini dahulu sebagai perlindungan Laskar Diponegoro beserta keluarganya.
– Pukul 13.00 WIB :
Perjalanan menuju ke Dusun Beteng Samigaluh dengan jarak sekitar 25 KM dengan waktu 25 menit. Dengan melewati jalanan beraspal antara Dekso – Samigaluh – Loano Purworejo. Jalan ini berliku-liku dengan tanjakan dan turunan yang tajam mengingat kawasan ini masih termasuk Perbukitan Menoreh. Kondisi jalan ada yang berlobang dan membahayakan peserta jika tidak waspada dan kehati-hatian.
– Pukul 14.00 WIB :
Peserta sampai di Dusun Beteng Desa Candirejo Kec. Samigalug Kab. Kulonprogo. Peserta sudah di sambut oleh masyarakat di antaranya adalah Kepala Desa dan Kepala Dusun setempat. Sambutan dari masyarakat sangat tidak di duga-duga oleh peserta. Sajian makanan kecil menjadi pendamping dalam mengiringi sambutan dari masyarakat.
– Pukul 15.00 WIB :
Peserta menuju ke batu petilasan Pangeran Diponegoro yang ada di sungai kecil di bawah dusun tersebut. Jarak menuju situs tersebut sejauh 400 meter tetapi harus di tempuh melalui jalan kampung dan jalan setapak menuruni tebing terjal. Peserta banyak mengalami kelelahan karena medan yang berat dan jarak yang sudah di tempuh sebelumnya. Tetapi semua bisa berjalan dengan baik sesuai dengan yang di rencanakan.
– Pukul 16.00 – 17.00 WIB :
Pengundian doorprise buat peserta jelajah. Dalam jelajah kali ini bisa di katakan sangat spesial karena baru pertama kali ini ada pemberian hadiah buat peserta. Hadiah buat peserta merupakan sumbangsih dari Yayasan ASTRA HONDA MOTOR yang di ketuai oleh Bapak Hari Sasono.Bentuk doorprise ini sebagai stimulan buat peserta agar bersedia tertib, aman dan selamat dalam bersepedamotor di jalan raya.
Bentuk doorprisenya berupa :
– 3 buah helmet eksklusif
– 6 buah jaket
– 12 kaos tangan
Daftar perincian penerima doorprise sbb :
Helmet 1 di terima Chandra Gusta dari Bandongan
Helmet 2 di terima oleh Ayu Kusuma Dewi
Helmet 3 di terima oleh Ainun Novita
Selain itu dari pihak keluarga besar trah Pangeran Diponegoro juga menyumbang beberapa buah buku bertema Diponegoro yang di bagikan buat para peserta melalui kuis.

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s