MENELUSURI JEJAK PEMBANGUNAN TANGSI MILITER MAGELANG (SEKARANG KAWASAN RINDAM) BAGIAN I

Standard

Perang Diponegoro (1825-1830) sebagian besar berlangsung di wilayah Kedoe.Bahkan di distrik Probolinggo, semua penduduk terlibat dalam pemberontakan itu (Pemberontakan adalah sebutan Belanda untuk perang Diponegoro). Selama lima tahun yang menghancurkan infrastruktur di Kedoe, pemerintah Belanda memobilisasi pasukan yang sangat besar. Bahkan Jenderal HM De Kock sampai bermarkas di rumah Residen Kedoe (Karesidenan) selama dua tahun (1928-1930).

Dimata pemerintah Belanda, Kedoe punya dua sisi. Satu sisi wilayah ini sangat subur dan banyak penduduknya, di sisi lain, wilayah Kedoe rawan pemberontakan. Oleh sebab itu, Belanda memutuskan tidak mengembalikan pasukan yang sudah ada di Kedoe selama perang Diponegoro. Oleh sebab itu kebutuhan akan tangsi dan rumah tinggal tentara menjadi perlu.

Gambar Situasi Rancana Pembangunan Tangsi Militer di Magelang (1880-1881) (Sumber: buku Nederlandsch Oost Indie (1882)

Hingga tahun 1870, tentara KNIL di Magelang mendiami barak-barak dari bambu dan sebagaian dari kayu. Baru pada tahun 1880, pemerintah mulai membangun tangsi dan rumah tinggal permanen untuk anggota KNIL. Bangunan yang direncanakan di kawasan itu sejumlah 50 bangunan yaitu untuk 4 Bataillons Infanterie (termasukr 1 depot-bataillon), dan 2 Batterijen Artillerie. Tetapi hingga tahun 1883 yang terbangun baru 8 gedung.

Rencana Pembangunan Markas di kawasan Tangsi Magelang 1880-1881 (Sumber : Ned.Oost Indie 1882)

Rencana Pembangunan Markas di kawasan Tangsi Magelang 1880-1881 (Sumber : Ned.Oost Indie 1882)

Yang menarik dalam rencana pembangunan kawasan tangsi ini adalah soal Manggis-Leiding atau saluran Kali Manggis. Banyak orang mengira bahwa Saluran Kota Leiding (Boog Leiding) mengambil air dari Kali Manggis yang melewati kawasan RIndam sekarang ini. Perkiraan itu persis terbalik. Saluran Manggis yang dikerjakan mulai tahun 1856 dan selesai tahun 1870 adalah saluran dari bendung kali Elo di desa Manggis (Pleret), melewat kawasan rumah bupati (kabupaten), masjid kauman dan terus ke selatan (saluran ini adalah saluran Manggis yang benar). Saluran Kali Manggis yang melewati kawasan RINDAM, Poncol, Gelangan dan seterusnya justru dibangun untuk memenuhi kebutuhan air kawasan tangsi itu. Jadi saluran ini yang mengambil air dari Kota Leiding. Oleh sebab itu saluran ini dulunya disebut Tangsi Leiding. Oleh karena di Kedoe ada dua saluran irigasi yang bernama Tangsi Leiding, maka saluran yang melalui RINDAM ini kemudian ikut disebut sebagai Manggis Leiding. Hingga tahun 1882, saluran Kali Manggis yang baru ini berhenti di kawasan tangsi ini.

Melalui filter-filter tertentu, air dari Kali Manggis itu ditampung dalam sebuah watertorn dan dipakai untuk memenuhi kebutuhan air minum, mandi dan sanitasi kawasan tangsi.

[penyusun : Denmaz Didotte – KOTA TOEA MAGELANG]

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s