Mengenal Ko Kwat Ie, Sang Raja Cerutu (Liputan DJELADJAH SANG RAJA TJEROETOE)

Standard

Mengenal Ko Kwat Ie, Sang Raja Cerutu (bagian pertama)

Meskipun pertumbuhan industri di Magelang tidak sepesat industri di kota-kota besar lainnya, namun jejak sejarah menyatakan, pada masa Kolonialisme Belanda, Magelang mempunyai industri yang tidak kalah penting, yaitu Pabrik Cerutu Ko Kwat Ie, yang sangat besar dimasanya.

 

Bersama rombongan DJELADJAH SEDJARAH SANG RADJA TJEROETOE, dari Komunitas Kota Toea Magelang, sebuah komunitas pelestari sejarah Magelang, pada hari Minggu pagi yang cerah, sekitar 50 orang menyusuri sebelah timur kawasan Pecinan Kota Magelang.

Tepat di Jl Tarumanegara terdapat bangunan megah dengan arsitektur gaya kolonial Belanda, menjadi salah satu tujuan utama dalam jelajah tersebut. Bangunan dengan luas tanah kurang lebih satu hektar tersebut adalah bekas pabrik pengolahan cerutu milik Ko Kwat Ie.

“Ko Kwat Ie & Zonen Sigarenfabrieken” adalah nama resmi pabrik tersebut, yang merupakan pabrik legendaris spesialis memproduksi cerutu. Pabrik yang berdiri sejak tahun 1900 dan berlokasi di Pawirokoesoeman Wetan/sekarang jalan Tarumanegara dan dengan kondisi fisk gedung masih tegak berdiri di sebelah timur kali Manggis, dimana gedung itu pernah di pakai untuk sekolah tiga bahasa.

Adapun produk dari Pabrik ini adalah cerutu yang bermerk Panama-Ster, Deli-Havana, Missigit-Deli dan Carnaval. Produk tersebut ekspor ke Eropa. Termasuk dipasarkan sampai ke Bremen di Jerman. Pada puncak jayanya pada tahun 1927 dan 1928, Ko Kwat Ie memiliki 2-3 ribu karyawan, suatu jumlah pegawai yang sangat banyak saat itu.

Rombongan jelajah seakan dibawa ke masa lalu, oleh penuturan Andreas Candra Wibowo, adalah seorang generasi ke 4 keturunan dari Ko Kwat Ie. Dengan penuh semangat menjelaskan peran pabrik tersebut selain untuk memproduksi cerutu, ternyata pabrik itu juga turut membantu perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda.

“Dulu ketika ada operasi dari pasukan Belanda, banyak pejuangan kemerdekaan yang bersembunyi didalam pabrik, tepatnya dibawah tumpukan Tembakau, termasuk membuat persenjataan yang dipasok ke gerilyawan.

Ditambah Sekitar tahun 1930 pabrik itu pernah dijadikan penampungan pengungsi saat Gunung Merapi meletus hebat,” ucap Candra.

Proses produksi pabrik tersebut pada jamannya menggunakan mesin rokok yang tergolong modern. Namun pada tahun 1950an, mesin dijual satu persatu, dikarenakan kekalahan Belanda terhadap Indonesia, membuat eksport cerutu terhenti.

Kini ruangan mesin produksi rokok cerutu hanya berupa ruang kosong yang luas dialam pabrik, padahal dulu penuh dengan mesin produksi cerutu. Mesin tersebut mengolah bahan baku Tembakau, yang diambil dari Magelang dan sekitarnya, khususnya untuk Tembakau terbaik tetap dari daerah Temanggung.

“Memang saat itu dari cerutu hendak beralih ke rokok kretek, namun ada rasa kekawatiran rokok kretek kemasan pabrik tidak laku.

Sebab masyarakat kala itu banyak yang merokok melinting sendiri. Ternyata sekarang rokok kemasan pabrik malah paling laku dipasaran,” ungkap Candra.

Koordinator Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, menuturkan, pabrik cerutu Ko Kwat Ie, merupakan salah satu sasaran kunjungan jelajah, selain rumah Ko Kwat Ie yang berada di Jl Sri Wijaya dan makamnya di Gunung Tidar.

“Perjalanan jelajah ini kurang lebih menempuh jarak sekitar 4 km pulang pergi, dari titik awal berangkat di Alun-alun Kota Magelang hingga ke Gunung Tidar kemudian kembali ke titik start.

Yang jelas kegiatan ini bertujuan sebagai penambah wawasan bagi pecinta sejarah Magelang tentang jejak sejarah yang membanggakan bahwa Magelang pernah menjadi pemasok Cerutu terbaik dijamannya,” tutur Bagus.

PABRIK CERUTU. Komunitas Kota Toea Magelang dalam kegiatan DJELADJAH SEDJARAH SANG RADJA TJEROETOE, mengunjungi pabrik cerutu Ko Kwat Ie.

Mengenal Rumah Sang Raja Cerutu Magelang, Ko Kwat Ie (Bagian 2)

Magelang mempunyai banyak bangunan peninggalan era kolonial Belanda yang syarat akan sejarah. Salah satunya adalah rumah bergaya arsitektur kolonial terletak di Juritan Kidul Jl Sri Wijaya No 16 Magelang Tengah, dimana pemilik rumah tersebut adalah raja cerutu Magelang, yang bernama Ko Kwat Ie.

Rumah megah berhalaman cukup luas untuk ukuran bangunan di tengah kota tersebut, masih terlihat orisinil ornamen bangunan rumahnya, dari tegel lantai, daun pintu jendela, hingga plafon masih asli.

Secara kasat mata orang awam akan menilai pemilik rumah itu bukanlah orang sembarangan, sebab dijaman penjajahan teramat mampu membangun rumah semewah dan senyaman itu.

Benar saja, pemilik rumah tersebut adalah seorang pebisnis bernama Ko Kwat Ie, bergerak dalam bidang industri tembakau, dengan produk yang dihasilkan berupa cerutu dengan penjualan sampai ke benua Eropa, benar-benar cerutu yang berkelas.

Istimewanya lagi tidak hanya bangunan yang masih asli, tetapi juga perabotan dalam ruangan, kebanyakan merupakan peninggalan Ko Kwat Ie, berupa meja kursi, almari, termasuk perabot makan masih terjaga dengan baik.

Berkesempatan mengunjungi rumah Ko Kwat Ie, serasa memasuki lorong waktu kembali ke masa silam. Apalagi sambil mendengar penjelasan dari Andreas Candra Wibowo, generasi ke 4 Ko Kwat Ie yang bersemangat memberikan penjelasan ketika rombongan Komunitas Kota Toea Magelang berkunjung dalam kegiatan DJELADJAH SEDJARAH SANG RADJA TJEROETOE, Minggu (25/01).

“Luas tanah 1000 meter persegi, proses bangun sekitar tahun 1900an dengan arsitek dari Belanda hasilnya bangunan bergaya Eropa.

Dirumah ini banyak barang peninggalan yang masih asli, seperti bathup air panas, minyak lampu, plafon terbuat dari seng dengan motif tertentu, dan perabotan lainnya yang unik,” ucap Candra.

Seperti rumah bargaya Eropa kebanyakan, rumah tersebut mempunyai ruangan yang luas, terdiri beberapa kamar, ruang keluarga, ruang tamu, dapur dan lain-lain. Dengan plafon yang tinggi, ditambah ukuran pintu dan jendela yang besar, suasana klasik sangat terasa diruangan rumah tersebut.

Yang menarik rumah tersebut mempunyai ruangan bawah tanah atau bungker, sebagai tempat berlindung ketika ada serangan dari Belanda, dimana kala itu ketika sirene berbunyi datang serangan dari Belanda, maka orang yang berada didalam rumah itu bisa masuk kedalam bungker. Saat ini bugker itu berfungsi sebagai gudang.

“Karena masa itu dalam situasi perang, maka dibangun bungker, dulu diatas bungker ini banyak kantung pasir berisi air, yang bertujuan bila bom Belanda jatuh diatasnya apinya bisa segera padam.

Di bungker itu terdapat lubang kecil yang menghubungkan bagian atas bungker, sebagai tempat memasok makanan, untuk skenario terburuk bilamana Belanda membom bagian atas bungker sehingga orang didalam tidak bisa keluar, maka masih bisa selamat dengan pasokan makanan lewat lubang yang sudah disediakan,” papar Candra.

Terdapat juga alat pemadam api, yang masih tersimpan dengan baik. Berbentuk seperti lampu bolam, berisi cairan kimia, dengan cara penggunaan dilemparkan kearah api bila terjadi kebakaran. Termasuk meja kerja Ko Kwat Ie masih tersimpan rapi, dengan beberapa foto kegiatan Ko Kwat Ie menghiasi tembok-tembok ruangan utama.

Adapun pabrik cerutu Ko Kwat Ie, berada di Jl Tarumanegara, yang juga terlibat dalam sejarah perjuangan bangsa.

“Dulu pabrik cerutu ini sebagai tempat para pejuang bersembunyi dari operasi Belanda. Pabrik ini juga memasok senjata untuk pejuang. Termasuk menampung pengungsi bencana Merapi tahun 1930.

Pabrik mulai tidak berproduksi ketika Belanda sudah tidak mengekspor cerutu ke Eropa, dan mesin pengolah cerutu mulai dijual satu persatu pada tahun 1950. Dan saat ini pabrik sudah berpindah kepemilikannya,” ungkap Candra.

RUANG KELUARGA. Rombongan Komunitas Kota Toea Magelang melihat ruang santai keluarga Ko Kwat Ie sang raja cerutu dengan ornamen yang masih orisinil bergaya Eropa.

[penulis : Chandra Yoga Kusuma]

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s