Hindari Kerusakan, Jubah Akan Ditempatkan Miring 45 Derajat

Standard

Jubah Pangeran Diponegoro adalah satu dari sekian koleksi di museum Bakorwil II Magelang yang cukup menarik perhatian. Jubah kebesaran itu tak hanya mewakili kekhasan busana sang pangeran, namun juga menjadi saksi sejarah perang Jawa hingga penangkapan Diponegoro.
SEBUAH jubah berwarna kecoklatan nampak mencolok di balik gantungan almari ruangan bernama “Kamar Pengabadian Diponegoro”. Jubah yang menurut petugas pemandu museum berukuran 162 sentimeter x 110 sentimeter itu menyimpan misteri dan perdebatan sejarah di beberapa kalangan. Bahkan jubah ini tidak ikut dipamerkan di pameran ”Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini” di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis lalu.
Misteri yang paling banyak menjadi pertanyaan adalah bercak-bercak kecoklatan yang melekat di jubah kebesaran itu. Beberapa diantaranya ada yang berpikir bahwa bercak itu adalah diduga bercak bekas darah saat Diponegoro memimpin perang Jawa atau Sabil dalam kurun waktu 1825 hingga 1830.
“Namun, itu bukan bercak darah. Hanya memang karena faktor usia sehingga ada bekas kecoklatan seperti itu,” ujar Kozin, salah satu pemandu museum Bakorwil II kepada Tribun Jogja, Senin (9/2).
Jubah yang sebenarnya berwarna krem putih itu kini semakin berwarna coklat. Di beberapa bagian ada lubang dan sobekan. Seperti di bagian dada kanan, dan bagian bawah kanan dan kiri, serta bagian belakang. Meski demikian, jubah yang kerap dikenakan Diponegoro itu seolah hidup karena nilai sejarahnya yang cukup tinggi.
Budi Suroso, pemandu lainnya mengatakan, jubah itu merupakan pemberian dari seorang kaisar China. Berbahan kain santung, jubah itu kemudian dikenakan Diponegoro memimpin perang sabil yang diawali tanggal 20 Juli 1985.
Dari sumber referensi lain, kala itu, Diponegoro selalu berpakaian layaknya pemuka perang Sabil, bergaya Arab. Yakni, mengenakan surban, jubah, dan baju putih. Busana ini mungkin saja diusulkan oleh penasehat Arabnya, Syeh Ahmad Al-Ansari yang berasal dari Jeddah.
Kisah di balik jubah berumur ratusan tahun itu juga menarik. Dari referensi itu menyebut, jubah tersebut dirampas saat penyergapan oleh Mayor AV Michiels di wilayah pegunungan Gowong, sebelah barat Kedu, 11 November 1829. Setelah perang, jubah dengan tepi brokat yang konon dijahit oleh gundik Chinanya disimpan putra menantu Basah Ngabdulkamil. Selama lebih seabad keluarga Diponegoro menyimpan jubah itu dan dipinjamkan permanen pada tahun 1970-an kepada Museum Bakorwil II.
Budi menjelaskan, perang yang berlangsung selama lima tahun itu merupakan perang terbesar dan menguras pundi-pundi keuangan Belanda saat itu. Belanda akhirnya membuat strategi untuk menangkap Pangeran Diponegoro dalam sebuah perundingan yang dilakukan di rumah Residen Kedu (sekarang bakorwil II) Magelang tanggal 25 Maret 1830.
Di situlah Pangeran Diponegoro ditangkap dan kemudian diasingkan ke Makassar hingga akhir hayatnya. Jubah kebesaran itu, ujar Budi juga dipergunakan untuk melakukan perundingan bersama Belanda di bawah pimpinan Jenderal De Kock.
“Bahkan, karena Diponegoro marah, ada bekas tanda kemarahan pada kursi yang dipakainya. Beliau marah karena Belanda sangat licik,” ujarnya sambil menunjukkan guratan kuku di bagian kursi tersebut.
Petilasan DIponegoro
Selain menyimpan jubah kebesaran Diponegoro, di ruangan tersebut juga terdapat beberapa macam barang petilasan Diponegoro. Seperti, bale-bale tempat salat Pangeran Diponegoro, selain itu ada empat kursi dan sebuah meja yang nampak sudah kuno dan kusam. Meja dan kursi itu merupakan tempat Pangeran Diponegoro berunding dengan Jendral De Kock dan didampingi dua ahli bahasa.
Kursi yang digunakan Pangeran Diponegoro itu ditempatkan khusus di lemari kaca dan ditutup kain putih. Menurut pemandu museum, penempatan kursi di lemari kaca itu untuk menghindari tangan jahil. Lantaran, banyak pengunjung yang mengambil potongan rotan dari kursi bekas Diponegoro yang kono dipercaya memiliki tuah.
“Agar tidak semakin rusak, kami menempatkannya di dalam lemari kaca. Adapun kain putih ini sudah lama menutupi kursi. Pembuatnya sudah meninggal dan hingga kini belum diganti,” ujar Budi.
Selain beberapa benda tersebut, terdapat tujuh gelas keramik Pangeran Diponegoro untuk minum tujuh  macam minuman seperti dingo bengle, dadap serep, kopi, teh, air putih, air putih matang, dan jahe. Diantara benda tersebut juga terdapat kendi kecil dan besar.
Sebuah kitab Ta’rib yang berumur ratusan tahun dengan tulisan huruf arab gundul atau aksara pegon juga ada di ruangan itu. Selain itu terdapat empat macam lukisan Diponegoro seperti karya Raden Saleh yang menggambarkan suasana penangkapan Diponegoro, lukisan Diponegoro dengan kudanya Kyai Gentayu, lukisan diri Diponegoro, serta lukisan Diponegoro saat berada di peperangan.
Mengkaji Perawatan
Kasubag Umum dan Kepegawaian Museum Bakorwil II Magelang, Ismun Winarno menjelaskan, pihaknya sejauh ini masih melakukan konsultasi pada Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jateng dan Balai Konservasi Borobudur (BKB) mengenai perawatan peninggalan Diponegoro tersebut. Pihaknya mengaku masih belum menemukan bahan kimia atau pengawet agar peninggalan seperti buku, jubah agar tidak rusak.
“Kami terus melakukan perawatan dengan pembersihan. Permasalahan sekarang, kami belum menemukan ada bahan kimia agar tidak rusak. Kami berkoordinasi dengan BPCB dan BKB untuk mengkaji bahan kimia yang membuat jubah agar tidak merusak warna atau keuletan bahan,” jelasnya.
Khusus untuk jubah, pihaknya berencana untuk tidak menggantung jubah pada hanger dengan posisi berdiri. Namun, akan ditempatkan secara miring dengan kemiringan 45 derajat, sehingga jubah tetap awet.
“Ini agar tidak rusak. Rencana tahun ini juga akan ada perbaikan gedung karena menjadi daya tarik dan menyimpan sejarah,” tandasnya. (Agung Ismiyanto)

 

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s