Liputan DJELADJAH DJELOER SPOOR #3 : Stasioen Bedono – Tjandi Oemboel 28 September 2014

Standard

PETUALANGAN JALUR KERETA API: BEDONO – CANDI UMBUL

Sepertinya sudah cukup lama event ini berlangsung, namun baru “sempat” saya ulas secara pribadi. Lebih tepatnya, mood ini baru datang…. biar lambat asal selamat…. hehe….
Magelang tidak akan pernah kehabisan cerita, baik masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Pada hari Minggu 28 September 2014 adalah kali ketiga treking bertemakan perkeretaapian Indonesia, khususnya di kawasan Magelang kembali dilaksanakan. Acara yang sudah dinanti para peserta Kota Toea Magelang (KTM) mendapat apresiasi yang istimewa. Kurang lebih 70an peserta yang mengikuti agenda Kota Toea Magelang kali ini. Ya, banyak alasan mengapa para peserta mengikuti acara ini. Antara lain: belum pernah, ingin bertemu kawan, murah meriah, dan juga jalan-jalan outdoor.
Tajuk: “DJELADJAH DJALOER SPOOR 3” menjadi acara utama, dimana acara ini diselenggarakan trekking dengan berjalan kaki sejauh 15 Km dari Stasioen Bedono sampai Stasioen Tjandi Oemboel. Deskripsi singkat:
“Perkeretaapian di wilayah Magelang memiliki sejarah yang sangat panjang. Lebih dari 100 tahun lalu “ular besi” menjelajahi bumi Kedu Utara, menghubungkan wilayah Magelang – Temanggung – Parakan dan antara Magelang – Ambarawa. Kawasan Kedu Utara merupakan dataran yang berbukit-bukit, yang elok terbentang pada wilayah antara Magelang dan Ambarawa. Udara sejuk terasa, turun dari Gunung Andong dan Telomoyo menyelimuti kawasan tersebut.

Begitu kental kisah manis di masa lalu, terlihat “si ular besi” melintasi rel berjalan lurus. Asap hitam membumbung pekat di antara persawahan, tegalan dan perkebunan kopi. Kadang berjalan tertatih ketika melewati jalan menanjak antara Jambu menuju Bedono ataupun antara Gemawang ke Bedono. Itulah sang kereta api yang dahulu menjadi raja transportasi. Lalu seperti apa jejak-jejak sejarahnya di masa kini setelah berhenti selama kira-kira 40 tahun … ???”

Wow !!! amazing sekali kegemilangan perkeretaapian Magelang – Kedu ketika itu. Coba deh sedikit membayangkan gambaran masa lalu tentang dimana suara sirine lokomotif membuncah dan memecah kesunyian kebun kopi dan persawahan. Pasti syahdu terasa, dan kebanggaan tersendiri naik kendaraan baja termegah ketika itu. Hmmm, sekarang tinggal kenangan saja bagi yang pernah merasakan…. dan kenangan itu KTM bangun kembali dalam kemasan yang berbeda.

Pukul: 07.30 WIB
Selain registrasi ulang yang diikuti 70an peserta, Pak Gub Bagus Priyana menjelaskan regulasi acara sembari memperkenalkan para peserta. Yang tak kalah pentingnya, dengan biaya registrasi para peserta dibekali amunisi (arem-arem, gorengan dan air mineral), booklet acara, dan transportasi pergi-pulang. Kami mencarter 6 angkot dalam perjalanan menuju check point pertama, stasiun Bedono.
Brifing Pak Gub
Oh iya, acara kali ini sangat spesial karena dihadiri pula oleh Komunitas MAGELANG KEMBALI. Komunitas Magelang Kembali merupakan komunitas dari Magelang yang berfokus pada penggalian semangat juang 1945 dalam melawan penjajahan kolonialisme di Magelang.
Pukul: 08.30 WIB
Kami sampai pada check point pertama, Stasiun Bedono (kabupaten Semarang). Karena tidak sabar melihat keindahan atas kejayaan stasiun tersebut, kami sedikit berpencar melihat spot terbaik. Tak diragukan lagi, stasiun Bedono ini sangat membelalakkan mata. Stasiun yang sedang direstorasi ini belum 100% selesai. Namun itu tak membuat kami berhenti untuk mengagumi kemegahan bangunan ini. Seseorang ternyata sudah menunggu kami. Dialah Pak Jumadi, sang penjaga sekaligus kepala stasiun Bedono. Sosok pria ini tak disangka asli kota Magelang. Pak Jumadi menjelaskan tentang stasiun Bedono yang dibangun sekitar tahun 1874 – 1875. Memang sedikit info tertulis yang valid tentang kisah stasiun Bedono. Bahkan pak Jumadi mengetahui info tersebut, karena ayah pak Jumadi selaku mantan penjaga dan kepala stasiun Bedono ini menceritakan kepadanya.
Pak Jumadi
Cukup mencengangkan stasiun Bedono ini. Stasiun ini tergolong stasiun penting, melihat rel double track dan terdapatnya turntable (semacam kolam lingkaran, untuk memutar lokomotif secara manual tenaga manusia) mendandakan stasiun ini merupakan stasiun yang cukup sibuk di eranya.
Double Track
Turntable
Pukul: 09.30 WIB
Kami mulai perjalanan yang “sebenarnya”…. petualangan dimulai !!!
Baru beberapa meter meninggalkan stasiun, kami menjumpai buah kopi yang sedang dijemur. Ini mendandakan bahwa tidak jauh dari stasiun ada beberapa pohon dan kebun kopi. Ya, pohon kopi ini tak lepas dari sejarah kolonialisme pada masa itu, Cultuurstelsel (tanam paksa salah satunya pohon kopi). Salah satu fungsi transportasi kereta api pada masa itu sebagai sarana transportasi pengiriman bahan pangan dan hasil bumi menuju pelabuhan, yang kemudian akan dikirimkan ke Belanda.
Tak jauh dari stasiun pula ditemukan sisa-sisa rel bergerigi yang masih terlihat jelas. Memang secara fungsi, tak banyak ditemukan rel bergerigi di era jaman sekarang. Rel bergerigi berfungsi untuk trek jalur berbukit. Selain menahan lokomotif dan gerbong, namun sebagai pengunci apabila di jalan naik ataupun turun agar tidak tergelincir. Walaupun hanya bisa berjalan 10-20 Km per jam,  teknologi rel bergerigi ini besar di jaman itu, mengingat kawasan berbukit sangat banyak di jalur kereta api seputaran Magelang – Kedu.
Panas terik tidak menjadi halangan kami dalam mengarungi dan menjelajahi rel kerata api menuju stasiun Candi Umbul di hamparan kebun cokelat dan kebun kopi. Sepanjang jalanan memang tidak ada kisah yang sangat penting untuk diceritakan. Namun hal itulah yang menyebabkan kami menjadi akrab satu sama lain. Spekulasi demi spekulasi acap kali terlontar antar peserta. Sehingga kawan yang lain pun ikut berkomentar. Ya, memang komunitas ini tidak mengarahkan peserta untuk saling berinteraksi, namun melatih tiap individu untuk saling berinteraksi secara pribadi-sosial tanpa harus disuruh terlebih dahulu.
Di tengah perjalanan kami menemui sisa-sisa kejayaan pembangunan di era kolonial, yaitu bekas saluran air Viaduct talang air dari plat baja, dan salah satu tiang penyangganya dari rel kereta api. Namun sekarang, diubah menjadi jembatan penyebrangan manusia oleh masyarakat setempat. Viaduct ini berada di dusun Selo, dimana rel bergerigi  masih menjadi pedoman perjalanan kami.
Viaduct
Pukul: 10.30 WIB
Para peserta sudah berpeluh terlihat lelah. Kami memutuskan untuk istirahat di check point 2. Perjalanan tak semudah yang dibayangkan. Ada tantangan nyata dalam perjalanan ini, yaitu melewati peternakan ayam. Kandang ayam yang sangat besar, terlihat 2 bangunan kandang yang memanjang yang harus kita lewati. Bahkan kawan kita Hamid Anwar hampir “gumoh” karena bau kandang ayam yang cukup ekstrim. Ini menjadi cerita yang unik bahkan tak mungkin kami lupakan dalam event KTM…. hehe….
Di check point ke-2 kami sejenak melepas lelah dan mengisi tenaga dengan amunisi yang sudah kami bawa. Acap kali kami bercanda, di dalam istirahat inilah semacam gambaran masa lalu rombongan pengungsi yang sedang istirahat di tengah perjalanan jaman penjajahan Belanda….
20 Menit yang cukup mengisi tenaga, kami pun melanjutkan perjalanan. Banyak aset kereta api yang digunakan warga sekitar. Contoh saja, bekas jembatan yang digunakan sebagai jemuran, rel yang menjadi tiang lapangan voli, bahkan bekas rel yang disusun menjadi jembatan penyeberangan. Memang kreatif bisa menggunakan barang bekas, namun di sisi lain tidak dibenarkan pula kegiatan seperti ini…. hehe….
Pukul: 11.30 WIB
Terik matahari hampir pada puncaknya, kami memutuskan untuk istirahat sejenak untuk mengistirahatkan otot dan laju darah. Banyak peserta yang kehabisan amunisi logistik air mineralnya. Namun tak mengurangi semangat kami dengan saling menghibur satu dengan yang lain. Oh iya, di perjalanan menuju check point dadakan ini, ada tragedi pilu dan lucu. Kawan kita Hamid Anwar yang terkenal suka bercanda ini terperosok dalam menuruni pematang. Namun masih beruntung masih ada Pakdhe Wotok yang menolong. Kami yang melihat hanya tertawa terkekeh-kekeh, karena sebelum dia terperosok sempat menertawakan peserta yang lain. Dengan kata lain kena karma…. (sori bro)😀
adegan berbahaya… haha…
Check point dadakan ini tidak berlangsung lama. Kami melanjutkan perjalanan melewati hamparan sawah dan petani yang sedang menyiangi padi. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa patok putih bertuliskan P.T KAI, yang merupakan pembatas aset milik P.T KAI. Ini menjadi keseriusan P.T KAI dalam wacana pengaktivan kembali jalur Kedu yang sudah lama mangkrak sejak era tahun 1970an. Tidak bijaksana kalau saling menyalahkan, karena jaman lah yang menjawab adanya keadaan tersebut. S E L A
Pukul: 11.55 WIB
Kami mencapai check point ke-3 hampir tepat jam 12.00 WIB. Kami sudah cukup kelelahan, bahkan nampak beberapa peserta enggan melanjutkan perjalanan menuju stasiun Candi Umbul yang berjarak 45 menit. Check point ke-3 ini eks stasiun Grabag Merbabu. Stasiun ini tidak cukup besar, hanya stasiun perlintasan saja. Kini stasiu ini sudah dialihfungsikan sebagai sekolahan SMP Maarif Grabag. Adapun SMP ini berletak di Pagonan No. 15 Sidogede Grabag, Kabupaten Magelang.
Tawa canda menjadikan obat lelah sementara, yang berlagak menunggu kereta lewat. Tak disangka datanglah rombongan Mbak Ayu dan rombongan Om Andreas yang memberikan suntikan amunisi berupa Jenang Blendhong khas Magelang (seperti grontol jagung, namun diberi bubur jenang manis). Menjadikan spirit kami bertambah ketika amunisi tambahan datang.
Pukul: 13.15 WIB
Sesuai perkiraan setelah istirahat 30 menit, kami sampai pula pada check point terakhir Stasiun Candi Umbul yang berletak di desa Kartoharjo, Grabag kabupaten Magelang. Tak hanya di stasiun Candi Umbul, kami juga menikmati keramahan air hangat air mata Candi Umbul. Lelah kami terpuaskan dengan mencelupkan kaki ke air hangat tersebut. Disebutkan Candi Umbul, karena di kawasan tersebut ditemukan candi berupa kolam air yang menyembul air hangat dari dasar tanah.
Pukul: 15.00 WIB
Suatu pengalaman yang tak terlupakan mengikuti event jelajah kali ini. Badan terasa capek, namun terpuaskan dengan cerita sejarah, epiknya suasana alam dan harmonisnya kearifan lokal. Pada pukul 15.00 pula acara event ini berakhir. Selama perjalanan bertemakan jelajah jalur kereta api yang pernah jaya, kami memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada pahlawan masa lalu pembangun jalur kereta api yang sudah menyumbangkan darah, air mata dan nyawa, dalam bentuk doa bersama.
Hmm, tak ada salahnya kita bersyukur atas nikmat karunia setitik surga di muka bumi, yang bernama: Magelang.
DATA DAN FAKTA
Perkeretaapian Jalur Secang – Ambarawa
Dialah Baron Sloet Van Den, seorang Gubernur Jendral Hindia Belanda yang mengabulkan permohonan NIS (Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschappij) dalam membangun jalur kereta api dengan rute Semarang – Kedungjati – Solo – Yogyakarta pada tahun 1862. Hindia Belanda membutuhkan jalur tersebut untuk kepentingan militer. Untuk kepentingan itulah alasan Magelang yang sebagai pusat militer Jawa Tengah dilewati sarana transportasi kereta api. Magelang sendiri merupakan percabangan dari rute: Kedungjati – Ambarawa – Secang – Magelang.
  • Jalur rute Semarang – Kedungjati – Solo – Yogyakarta selesai dibangun dan beroprasi pada 10 Juni 1872.
  • Rute cabang Kedungjati – Ambarawa selesai pada tahun 1873.
  • Jalur Secang – Magelang beroprasi pada 15 Mei 1903.
  • Jalur Secang – Ambarawa beroprasi pada 1 Februari 1905.
Khusus rute Ambarawa – Secang – Magelang menggunakan lebar rel kereta api 1.067 milimeter. Ini dikarenakan kondisi medan yang berbukit-bukit, serta guna menekan biaya agar tidak terlalu tinggi. Daripada penyesuaian rel kembali yang dinilai berbiaya mahal, penghematan biaya ini dilakukan dengan membangun rel bergerigi (diletakkan di tengah rel) pada tahun 1902, dan juga membeli lokomotif uap khusus B25 dengan penahan gigi di tengahnya yang berfungsi menahan di rute menanjak dan menahan laju ketika jalur menurun tajam. Oleh Hindia Belanda melalui NIS menetapkan lebar rel tersebut sesuai dengan topografi Indonesia yang sebagian besar berbukit.
Pict Source: Klik
Rel bergerigi yang masih bisa dijumpai di Indonesia adalah di Ambarawa (Jawa Tengah) dan Sawahlunto (Sumatera Barat) yang dimanfaatkan oleh kereta api untuk sektor pariwisata.
Tokoh Penting Pembangunan Jalur Kereta Api 
repro majalah Sinpo
Dalam majalah Sinpo tahun 1901 bertajuk “Satoe aannemer kereta api Tionghoa”, mencatatkan satu tokoh penting dalam sejarah perkeretaapian. Dialah Ho Tjong An, seorang pemborong berketurunan Tionghoa yang mengerjakan jalur kereta api antara Ambarawa – Secang dengan biaya besar f 390.000 (Guilders Belanda) dan membangun jalur kereta api Magelang – Secang , Secang – Parakan dengan biaya f 350.000 (Guilders Belanda), jumlah nilai yang sangat besar ketika itu. Dalam pembangunan rute tersebut melibatkan kurang lebih 3.000 orang pekerja.
CANDI UMBUL
Tidak banyak literatur yang menuliskan tentang Candi Umbul. Yang diketahui, pemandian ini baru dibuka sekitar tahun 1870an. Itu pun setelah Belanda memerintahkan untuk menggali peninggalan sejarah tersebut. Dinamakan Candi Umbul karena di kawasan tersebut ditemukan candi berupa kolam air yang menyembul air hangat dari dasar tanah.
Source: KITLV
Candi yang berletak di desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang ini merupakan peninggalan Wangsa Syailendra (kerajaan Mataram Kuno) yang diduga pembangunannya tidak jauh dari tahun dibuatnya candi Borobudur. Situs yang ditemukan berbahan baku batuan andesit dengan ornamen arca tumbuh-tumbuhan dan binatang. Kolam Candi Umbul terbagi menjadi dua bagian, kolam pertama airnya cukup hangat dan mengandung belerang, sementara kolam yang kedua airnya sedikit dingin dan lebih rendah.
Pict Source: Klik
Konon, kolam Candi Umbul ini merupakan pemandian putri raja-raja setelah melakukan ritual di candi Borobudur. Bahkan hingga kini pun masih dipercaya dan digunakan sebagai ritual mandi oleh masyarakat yang disebut dengan padusan untuk membersihkan diri (secara spiritual) menjelang bulan Ramadhan untuk umat Muslim. Selain itu tak sedikit pula warga yang beragama Hindu melakukan ritual upacara Melasti dalam rangka menyambut hari raya Nyepi.
Diduga kompleks Candi Umbul pernah rusak akibat Letusan gunung Merapi Tahun 1906. Kabarnya ada kolam dibagian belakang kompleks percandian, yang terletak ditepian aliran kali Elo, imbasnya mengakibatkan kerusakan parah bahkan terpendam oleh material vulkanik yang mengalir melalui kali Elo.
Pict Source: Klik
Dilewatinya situs Candi Umbul oleh jalur kereta api dan dibangunnya stasiun di seberang Candi Umbul, karena ketika era kolonial Belanda tidak sedikit orang Belanda yang berlibur ke Candi Umbul sebagai destinasi wisata pemandian air hangat.
#NB:
event ini diulas pula oleh National Geographic Online: Napak Tilas Rel Mati Stasiun Bedono hingga Candi Umbul (Klik aja)

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

2 responses »

  1. Wow,Notalgila.Sayang aku sudah 72 ,jadi untuk ikut jalan jalan Kodok kalung kupat.Anyway Bravo MKT.Kok ada Komunitas Magelang Kembali?,apa tahu lagunya Magelang Kembali?.Kalo di bikin Jingle RRI Magelang bagus sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s