MELACAK TOPONIM NAMA KAMPUNG TEMPO DULU DI KOTA MAGELANG

Standard

Penamaan daerah, tempat atau jalan dikenal sebagai toponim dan sudah dikenal masyarakat sejak awal keberadaannya. Kata toponim berasal dari bahasa Yunani topos dan nomos. Topos berarti tempat, sedangkan nomos berarti nama. Jadi pengertian toponim adalah nama suatu tempat. Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian toponim tidak hanya pada nama suatu tempat tetapi lebih luas yaitu pada upaya untuk mencari asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologi nama suatu tempat/daerah.
Kajian tentang toponim/asal muasal nama suatu tempat sangat erat kaitannya dengan kajian sejarah. Latar belakang penamaan suatu tempat/daerah tentu tidak lepas dari proses menemukan hal-hal yang khas yang dapat menjadi identitas suatu tempat/daerah atau pemukiman.Toponim mampu memberikan gambaran mengenai latar belakang dinamika masyarakat dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di suatu tempat yang ingin diabadikan atau diingat oleh masyarakat. Pelacakan toponim tempat /daerah mempunyai peran dalam menelusur latar belakang kesejarahan dan aktivitas atau kondisi awal saat tempat/daerah itu terbentuk.

“Magelang”, dari mana berasal ?

“Magelang” menurut beberapa sumber dan penelusuran seperti halnya oleh MM. Sukarto K Atmojo yang teringat adanya nama sebuahdesa kuno yang rupa-rupanya terletak di antara Parakan, Temanggung dan Yogyakarta. Nama desa kuno itu adalah Glang-glang, Galang dan Glam (Glang). Dalam prasasti yang berasal dari abad X Masehi di katakan bahwa desa Glam (Glang) adalah sebuah sima dan di daerah itu di puja tokoh dewa [bhatara]. Lalu di perkirakan nama Glang-glang itu yang kemudian mendapat imbuhan prefiks ma lalu menjadi Maglang = Magelang. Nama Glang berarti lingkaran = gelang. Lingkaran itu melambangkan mandala = daerah suci, lambang kosmos, yang di tengah-tengahnya terletak sebuah lingga atau sebuah gunung. Lalu di perkirakan bahwa Gunung Tidar yang di anggap sebagai paku pulau Jawa itulah sebagai titik tengahnya.
Menurut Ir.R.C.A.F.J. Nessel van Lisa, Burgemeester Magelang dalam Majalah “Magelang Vooruit” No. 10 Juli 1936, nama Magelang berasal dari kata “Mahagelang” atau gelang yang sangat besar. Magelang merupakan wilayah yang di kelilingi oleh gunung-gunung yang seolah-olah merupakan gelang yang sangat besar. Yaitu Menoreh, Sumbing, Sindoro, Ungaran, Telomoyo, Merbabu dan Merapi.
Menurutnya juga bahwa Magelang berasal dari kata-kata Jawa yaitu “Atepung temu gelang”. Ini terjadi pada abad ke 16 atau tahun 1575 pada jamannya Panembahan Senopati raja Mataram. Diceritakan pada waktu Panembahan Senopati memperluas daerah untuk penghunian di daerah hutan Kedu [Babad Alas Kedu], Raja Jin yang berkuasa di hutan Kedu selalu mengadakan gangguan yang banyak menimbulkan banyak korban manusia. Penangkapan Raja Jin ini dilakukan secara pengepungan rapat atau pagar betis atau bahasa Jawanya “atepung-temugelang”. Kata “Atepung Temugelang” inilah yang kemudian menjadi sebutan nama Magelang.
Lalu sejak kapankah sebutan Magelang itu muncul ? Apakah nama itu di ambil nama dari Glang-glang atau dari Maha Gelang atau dari Atepung Temu Gelang atau dari kata cumlorot karena indahnya atau dari magele wis ilang ? Semua itu hanyalah perkiraan saja, tetapi menurut Mardjaban yang pernah menjabat sebagai Residen Kedu, suatu daerah sudah dapat di namakan kota bila sudah ada penduduknya, ada pemerintahannya dan tentaranya. Yang jelas Magelang ini dahulunya merupakan sebuah desa, yang kemudian di kembangkan menjadi sebuah kota, lalu di jadikan sebagai ibukota Karesidenan Kedu dan juga ibu kota Kabupaten Magelang. Lalu menjadi Kota Gemeente dan setelah kemerdekaan menjadi Kotapraja, Kotamadya dan Kota.
Beberapa nama desa kuno yang tercantum dalam prasasti batu maupun prasasti tembaga yang di buat pada abad IX atau X Masehi [Prasasti Mantyasih, Poh dan Gilikan] antara lain menyebutkan adanya nama desa Mantyasih yang sekarang menjadi Meteseh. Ada pendapat lain yang menyebutkan jika kata Meteseh merupakan perubahan dari istilah Belanda yaitu MOOI UITZICHT yang berarti pemandangan yang bagus karena letak kampung ini berada di sisi Kali Progo dengan pemandangan yang indah ke Gunung Sumbing dan Perbukitan Giyanti. Lalu orang Jawa menirukannya sesuai dengan lidah orang Jawa menjadi Meteseh.
Kalau dalam prasasti-prasasti maupun dalam penulisan sejarah tidak ada yang menyebut nama “MAGELANG”. Namun menurut Ir.R.C.A.F.J. Nessel van Lisa, nama Magelang baru di bicarakan orang pada permulaan abad ke 19. Dahulu wilayah ini di sebut dengan “kebondalem” yang di perintah oleh seorang “demang” hamba Sri Susuhunan. Kebondalem artinya “kebon raja” karena wilayah ini merupakan kebun milik raja Susuhunan Surakarta. Menurut cerita, dahulu kala Sri Susuhunan di Solo mempunyai kebun yang luas yang di tanami kopi, sayur mayur dan buah-buahan. Sebagai upeti maka Demang Kebondalem setiap bulan harus mempersembahkan sebagian hasil kebun itu kehadapan raja.
Kebun milik raja ini di tanami dengan kopi, sayur-sayuran dan buah-buahan. Sisa-sisanya tempat ini masih dapat di temui, yaitu Botton Kopen [dahulu kebun kopi], Kebonpolo [bekas kebun pala], Kemirikerep/Kemirejo [bekas kebun kemiri], Jambon [bekas kebun Jambu], Bayeman [bekas kebun Bayam].
Dalam majalah “Magelang Vooruit” bulan November 1935 menyebutkan :
Almarhoem R.A. Danoeningrat I jang mendirikan roemah Kaboepaten dan seboeah mesdjid, boleh dipandang sebagai jang mendirikan negeri Magelang. Doeloe roemah Kaboepaten jang didirikan itoe ditempat Geredja Protestan sekarang ini letaknja, dalam daerah desa Magelang. Asal moelanja tempat itoe bernama “Keboendale”, diperintah oleh seorang “Demang” hamba Seri Soesoehoenan.
Kebondalem artinya “keboen radja”. Menoeroet tjeritera dahoeloe kala Seri Soesoehoenan di Solo berkeboen jang loeas di tanami kopi, sajoer-majoer dan boeah-boeahan. Sebagai oepeti maka Demang Kebondalem tiap-tiap pendoedoek Magelang tahoe, maka kampoeng Keboendalem itoe hingga sekarang masih tetap adanya.

Asal usul/toponim nama kampung.

Kawasan perkampungan di Kota Magelang terbentuk dari beberapa unsur yaitu jalan dan kampung-kampung kecil yang ada di dalamnya. Sedangkan penamaan kampung-kampung yang ada mempunyai beberapa ciri yaitu :
– Nama kampung berkaitan dengan perkembangan aktivitas ekonomi dan pekerjaan
[Tukangan, Nambangan, Keplekan]
– Nama kampung yang menggambarkan situasi dan kondisi alamiah atau lingkungan
setempat/geografis
[Kedungsari, Tegalsari, Cacaban, dll]
– Nama kampung yang berkaitan dengan tokoh masyarakat yang ada di daerah tersebut [Prawirokusuman, Bogeman, Potrobangsan, dll]
– Nama kampung yang terkait dengan flora
[Kemirirejo, Kebonpolo, Bayeman, dll]
– Nama kampung yang terkait dengan etnisitas tertentu
[Pecinan]
Dari uraian di atas maka dapat diperkirakan beberapa nama kampung dapat di ketahui asal muasal penamaannya. Berikut ini berdasarkan tulisan Sumartono, BSc berjudul “Sekilas Menelusuri Sejarah Magelang” 1988, sebagai berikut :

– KRAMAT : tempat tinggal Kyai Kramat
– DEKIL : tempat berhenti/istirahat “ngendhek sikil”
– NGEMBIK : tanah yang lembek
– RINGINANOM : kebun/tempat tumbuhnya pohon Beringin muda
– KUPATAN : tempat orang membuat kupat
– KEDUNGSARI : tempat rendah yang rendah dan banyak air
– PUCANGSARI : banyak tumbuh Pohon Pucang
– KEBONSARI : kebun yang indah dan banyak air
– POTROBANGSAN : tempat tinggal Kyai Potrobongso
– POTROSARAN : tempat tinggal Kyai Potrosaran
– TUGURAN : pos tempat menyampaikan informasi “tugor”
– KEBONDALEM : kebun kepunyaan raja/”dalem”
– WATES : tempat pos penjagaan “wates”
– SANGGRAHAN : tempat singgah dan sanggrah/istirahat dan tempat tinggal Kyai Sanggrah
– CANGUK : tempat :ingak-ingok” yaitu tempat mengintai/melihat kemungkinan yang ada
– JAMBESARI : tempat yang banyak di tanami jambe/pinang
– KEBONPOLO : kebun yang banyak di tananmi pohonm Polo/Pala
– PINGGIR : tempat yang paling tepi/pinggir dan letaknya di atas Kali Elo
– BOTTON : tempat tinggal Kyai Sembotho
– GELANGAN : tempat tinggal Kyai Melik yang dapat membangun tempat itu bagai atemu gelang
– PONGANGAN : “gua lempung kang menga” atau gua tanah yang terbuka
– KWAYUHAN : tempat tinggal Kyai Surowidjojo dan mempunyai istri kedua [mewayuh]. Pada jaman Belanda banyak orang perempuan yang tinggal di kampung ini diselir [di wayuh] oleh orang-orang Belanda
– NGENTAK : tanah gersang yang luas dan kalau pada musim kemarau bukan main panasnya [ngentak-ngentak]
– PONCOL : tanah yang menonjol
– PANJANG : tempat tinggal Kyai Sepanjang
– JURITAN : tempat menampung para prajurit.
[Ada beberapa versi di antaranya menampung prajurit Diponegoro setelah penangkapannya dan tempat tinggal prajurit Kadipaten Magelang].
– SAMBAN : dari bahasa Cina “sam ban” yang artinya tiga puluh ribu prajurit yang di butuhkan
– BOGEMAN : tempat tinggal Kyai Bogem
– CANDISARI : tempat yang akan didirikan sebuah candi
– REJOWINANGUN : dahulu bernama Karang Punthuk karena milik Mangunrejo maka namanya di ganti Rejowinangun
– PATEN GUNUNG : tempat meninggalnya Joko Pati
– KLIWONAN : tempat meninggalnya Kliwon yang sakti dan gagah berani tetapi antek Belanda
– JARANAN : tempat meletakkan/kandang kuda/jaran dan banyak orang di sini yang memelihara kuda/jaran
– KEPLEKAN : bekas tempat orang bermain judi
– KARANGGADING : tempat meninggalnya Roro Gading anak Mangunrejo dan juga di tempat ini tumbuh Pohon Kelapa Gading
– KARANG KIDUL/LOR: tanah kering yang banyak di tumbuhi tumbuhan besar dan kecil
– TUKANGAN : tempat para tukang
– NAMBANGAN : tempat tukang tambang
– TUGU WOLU : disini ada delapan/wolu buah tugu
– MALANGGATEN : tempat tinggal Kyai Malanggaten
– PRAWIROKUSUMAN: tempat tinggal Prawirokusumo
– TIDAR : letaknya di sekitar Gunung Tidar
– KRINCING : jatuhnya “terbang” yang di gunakan Syeh Subakir berbunyi “krincing-krincing”
– SAWE : tempat untuk tanda sesuatu/tempat menyebarkan sesuatu
– CAMPUR : bermacam-macam barang ada di tempat ini
– NANGGULAN : tempat tanggul sungai/kali
– DUDAN : tempat tinggal Kyai Duda
– MAGERSARI : banyak para pendatang yang mendirikan pondok-pondok yang diwarnai banyaknya para batur/abdi
– JATEN : tempat menumpuk kayu jati
– MIJIL : berdiri gunung kecil/gumuk yang “mijil”/menyendiri dari gumuk- gumuk yang lain
– JURANGOMBO : alur rendah di lereng Gunung Tidar yang luas/”ombo”
– KARET : banyak ditumbuhi Pohon Karet
– JAGOAN : tempat tinggal Kyai Sawunggalih yang mempunyai ayam jago yang menangan kalu di adu
– KEMIRIREJO : banyak ditumbuhi pohon Kemiri
– BAYEMAN : banyak ditumbuhi sayuran bayam
– MUDAL : sumber air yang yang besar tak pernah berhenti [mudal-mudal]
– TENGKON : tempat tinggal Tengku Safuan
– KEBON : tempat kebon [berasal dari kata :kebon kantil]
– SINGORANON : tempat tinggal prajurit Mataram Singoranu
– CACABAN : tempat yang tergenang air bila Sungai Progo banjir dan banyak orang di sini yang di cap abang
– JAMBON : banyak di tumbuhi/kebon jambu
– NGUPASAN : tempat tinggal para opas
– KERKOPAN : tempat makam Belanda/”Kerkhoff”
– JENDRALAN : perumahan para Jenderal
– KAUMAN : tempat para kaum/dekat masjid
– JAYENGAN : tempat tinggal Kyai Jayeng
– KEJURON : tempat para pendidik/guru
– KEJAKSAAN : tempat tinggal para Jaksa [biasa di sebut dengan Kampung Jeksaan]
Selain nama kampung seperti di atas, di beberapa tempat juga dapat di ketemukan toponimnya. Seperti halnya sebagai berikut :
– DUMPOH : dari kata “kedung poh” yaitu “kedung” yang berarti tempat yang dalam di sungai dan “poh” yang berarti pohon poh. Kampung Dumpoh sendiri terletak di tepi Sungai Progo
– BOTTON KOPEN : dahulu merupakan kebun Kopi dan hingga kini di wilayah ini masih dapat di ketemukan sisa-sisa perkebunan kopi di Kampung Botton Tegal/sebelah utara Botton Tegal
– BOTTON BALONG : tempat yang dahulu merupakan tambak/balong
– BOTTON NAMBANGAN : tempat orang menambang
– TEGALSARI : kebun/tegal yang indah
– MAGERSARI : tanah milik keraton
– DUKUH : sebuah kampung kecil/dukuh
– KEBON KANTIL : kebun Pohon Kantil
– PECINAN : tempat tinggal orang-orang Cina
– PASAR TELO : tempat pasar yang menjual ketela/telo
– BARAKAN : tempat yang banyak baraknya, kemungkinan dahulu di gunakan untuk penampungan para pengungsi bencana Merapi
– DJATEN : tempat menimbun kayu jati
– GROBAGAN : tempat menyimpan grobag
– KAWATAN : tempat menimbun/menyimpan kawat
– TULUNG WOT : kampung yang ada jembatannya [wot]

Nama kampung yang tidak diketahui toponimnya.

Beberapa kampung bahkan belum diketahui toponimnya, seperti halnya :
SEKERTEN, KRIYAN, BUTEKAN, DALANGAN,  SENTUL, GLONO, GARONGAN,
PAJANGAN, BODONGAN, SANDEN, SIDOTOPO, DEKIL, MENOWO, SEMPLON,
BADAAN,  KIRINGAN, CAWANG, NGAGLIK, SANTONGAN, PLALANGAN

Nama kampung yang kurang dikenal.

Perkembangan jaman yang senantiasa dinamis membuat beberapa nama kampung menjadi
Kurang dikenal karena sesuatu hal. Antara lain
– WATES : GARONGAN
– PANJANG : BALEKAMBANG, DANUDURJAN, GENDINGAN, KARET, NGEMPLAK
– KEMIRIREJO : JAGALAN, KEMIRIREJO KRAJAN, BAYEMAN TEGAL
– JURANGOMBO : KARANGKULON, JURANGAN
– REJOWINANGUN : TEGALSARI, GLINDINGAN, GROBAGAN, NGENCIKAN, SANTONGAN, SLETERAN, JATEN, MAGERSARI MIJIL, MAGERSARI TEGAL
– MAGELANG : BOTTON LOR, BOTTON KIDOEL, PANGGOENGSARI
– TIDAR : KARANGGADING DUWED
– POTROBANGSAN : SEKERTEN, BUTEKAN
Selain itu ada juga beberapa nama kampung yang namanya semakin “pendek” karena untuk memudahkan pelafalan/penyebutan, yaitu :

– TULUNG DUWUR menjadi TULUNG
– KEBON KANTIL menjadi KEBON

Bahkan ada yang berubah sama sekali yaitu :
– TEGALSARI menjadi TUKANGAN KULON
Kampung yang hilang

Selain itu pada sebuah arsip berjudul “Notulen der vergaderingen, Verhandelingen, Mededeelingen en Verslagen” dari Koninklijk Instituut 1880-1881 terdapat sebuah peta kuno yang memuat tentang pembangunan komplek militer baru di Magelang di mana di wilayah yang akan di jadikan tangsi militer ini terdapat beberapa kampung, yaitu :
– KEPOETREN
– PRENTAHAN
– DJOERANGAN
– GRIENTING
– NGEMPLAK

Nah karena akan di bangun sebuah komplek militer yang luas maka warga di kampung itu di pindahkan. Kampung Kepoetren dan Prentahan menjadi komplek Hospitaal Militair/rumah sakit tentara. Kampung Djoerangan menjadi mess militer di Jl. Ambon dan Jl. Seram di depan Pasar Kebonpolo sekarang ini. Sedangkan kampung Grienting sebagian berubah kompleks tangsi dan kampung Ngentak.
SAVE HISTORY & HERITAGE IN MAGELANG !

[di paparkan dalam acara sarasehan sejarah Bersama Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kota Magelang
Kamis Wage, 6 Nomveber 2014 di Gedung Perpustakaan, Arsip dan Dokeumentasi Kota Magelang]

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

5 responses »

  1. sekedar info : wates garongan adanya di sekitar daerah yang sekarang dikenal dengan wates jambesari.

    dan wates butekan adanya di sekitar daerah yang sekarang dikenal polosari pabrik es kebon polo
    saudara wates butekan yaitu wates beningan masih ada

  2. magersari tegal sekarang menjadi kampus umm. dulu jaman saya kecil tempat itu buat tegalan yang petaninya penghuni lapas magelang.anak anak kampung mengenal sipirnya dengan istilah pak penjara…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s