Djeladjah Petjinan #2, Mengenal Lebih Dekat Komunitas Tionghoa di Magelang

Standard

Pagi ini Kelenteng Liong Hok Bio yang berada di kawasan Alun-alun Magelang telah ramai oleh berpuluh anggota Komunitas Kota Toea Magelang (KTM) yang 98,2 persen menjalankan kewajibannya dengan mengenakan dresscode warna merah, tak terkecuali saya. Saat jam tangan menunjukkan pukul 07.30 saya telah sampai untuk berkumpul bersama mereka. Ya, hari Minggu (2/2/2014) ini kami hendak mengikuti event Djeladjah Petjinan.

Nampaknya antusias peserta kali ini terasa sedikit overload. Tercatat di absen pendaftaran, ada 66 anggota yang ikut serta, belum lagi yang telat. Para peserta ada yang hadir selain dari Magelang adalah dari Semarang, Temanggung, Jogja, Jakarta, Solo dan bahkan dari Malaysia !

Setelah membayar 10,000 dan mendapatkan booklet, saya bergegas menyalami beberapa teman yang sudah saya kenal. Menyambut tahun Kuda Kayu ini, nampak hiasan di depan Kelenteng berupa patung kuda dan perahu kayu berasal dari gabus dan ornamen-pohon dengan dedaunan berwarna merah muda menambah semarak suasana.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan oleh Koordinator KTM “acara jelajah pecinan kali ini merupakan acara rutin tahunan dimana tahun lalu juga diadakan acara yang sama dengan rute yang sedikit berbeda” buka Bagus Priyana. Dia menjelaskan secara ringkas tentang pecinan dan komunitas Tionghoa di Magelang. Selanjutnya kami disambut oleh Pak Jum dari perwakilan Pengurus Kelenteng. Beliau sangat mengapresiasi kunjungan kami dan menyambut baik atas kegiatan yang kami lakukan. “Saya merasa sangat senang dan sangat berterimakasih atas kunjungan anda sekalian”. Beliau juga mengajak kami untuk masuk ke dalam Kelenteng dan menjelaskan tentang fungsi masing masing ruang dan penjelasan tentang Dewa-dewa.

Koordinator acara memberi briefing kepada peserta

 

Pak Widoyoko, fotografer KTM Jaya

 

Pak Jum

Berdoa dengan Ciamsi
Sementara itu, saya merasa sedikit tertinggal dengan rombongan dan kurang mendengar penjelasan dari beliau. Saya mengobrol dengan Koh In yang saya temui di depan semacam rak kayu kotak kotak dengan buku kecil di masing masing kotaknya. Jumlahnya ada 60 kotak. “Namanya ciamsi” Jawab Koh In disambung dengan penjelasan yang sangat mendetail.

Ciamsi ini digunakan untuk berdoa. “Seperti ini” sambungnya seraya mengambil sebuah tabung dengan isi beberapa puluh batang semacam sumpit tipis dengan angka angka tulisan cina. Tabung tersebut bertuliskan “Penanya Nasib” . beliau kemudian memberikan contoh cara berdoa. Pertama kocok tabung tersebut  di depan Dewa sambil sedikit di miringkan supaya salah satu batang tadi keluar. Bila keluar lebih dari satu, maka harus diulang. Angka yang keluar tadilah yang harus kita ambil di kotak ciamsi. Kemudian, proses berdoa selanjutnya adalah dengan mengambil dua kayu kecil yang masing masing mempunyai dua sisi. Kayu tersebut diputar sebanyak tiga kali diatas dupa di depan Patung Dewa kemudian dijatuhkan. Bila kedua sisi dalam menghadap ke atas, maka artinya adalah Sang Dewa belum bisa menangkap pesan kita. Atau hati kita masih belum bersih. Sementara bila keduanya menghadap kebawah, berarti hal yang kita lakukan tidak mendapat “persetujuan” dari Sang Dewa. Yang diharapkan adalah jawaban iya dengan tanda salah satu kotak menghadap ke bawah dan satunya lagi keatas.

Makhluk Penyangga Tiang
Dekat dengan pintu utama, bila kita menoleh ke atas sebelah kiri dan kanan, tepat dibawah sebuah tiang horisontal, akan ada sebuah patung kerdil dimasing masing sisi dengan posisi menyangga tiang tersebut. Masih menurut Koh In, patung ini dimalam-malam tertentu akan bisa bergerak turun dari tempatnya. Suatu saat, makhluk ini bahkan turun dan membeli sate di depan kelenteng. Setelah berlalu, alangkah kagetnya si penjual sate mendapati bahwa uang yang diterimanya berubah menjadi daun.
“Konon, mimik muka patung ini juga bisa berubah-ubah. Mereka dahulunya dihukum karena berbuat sebuah kesalahan dan disuruh menyangga tiang” tambah Ryan Adhyatma.

Foto keluarga KTM di depan Liong Hok Bio

Bah Ting Lok, Bos Bioskop Kresna yang Mempunyai Opelet
Selesai dari Kelenteng, kami melangkahkan kaki menyeberang Jalan Pemuda dan diisi penjelasan tentang sekilas perbioskopan di Magelang oleh Pak Soli Saroso. Dahulu perbioskopan di Magelang sudah sangat menjamur. “Namun sayangnya, kini tidak ada satupun yang tersisa” tutup Pak Soli. Sementara, dibelakang kami adalah bekas Bioskop Kresna yang dibangun pada tahun 1950an oleh Bah Ting Lok, seorang pengusaha Tionghoa yang juga mengelola bioskop Bima dan Arjuna. Rumah tinggal Bah Ting Lok yang berada tepat di belakang Bioskop Kresna rupanya masih cukup terawat dengan gaya Kolonial dengan teras super luas. Pak Soli menjelaskan bahwa disebelah rumah utama tersebut, dahulunya merupakan garasi opelet milik Bah Ting Lok.

 

Pak Soli Saroso ikut menjadi nara sumber acara

Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju ke Pasar Tukangan di kawasan perempatan Jl Pajajaran. Gang sempit dengan panjang kurang lebih 100 meter tersebut penuh oleh pedagang yang rata-rata menjual bahan bahan masakan dan bumbu-bumbu. Selain itu, juga ada beberapa penjulan Tenongan – jajanan pasar yang bisa kami beli dengan cuma-cuma karena sudah di tanggung oleh panitia. Tapi maksimal per peserta hanya boleh mengambil jajanan maksimal 3 ribu rupiah. Beberapa dari kami termasuk saya ada diurutan belakang sehingga harus rela kebagian sisa sisanya saja.

Dokter Gigi itu Bernama Oei Hong Kian
Tepat di ujung jalan Jenggala pertemuan dengan Jl Tidar, ada sebuah rumah mewah. Ya, saya rasa sampai saat ini rumah dengan halaman luas tersebut masih bisa saya kategorikan mewah. Dengan menara pandang di sisi selatan, cukup untuk memandang lepas ke arah Gunung Tidar, dan juga gunung-gunung di seputar Magelang. Jangan salah, rumah bergaya eropa tersebut bukanlah milik orang Belanda. Adalah dokter gigi lulusan Utrecht Belanda  yang tinggal dirumah tersebut. Oei Hong Kian nama dokter kelahiran Magelang tersebut. Beliau merupakan peranakan Tionghoa-Jawa yang mendapatkan pendidikan ala Belanda. Pada masa pemerintahan Bung Karno, rupanya beliau ini menjadi dokter gigi pribadi sang Presiden. Bahkan mendekati akhir kekuasaannya, sang dokter juga menjadi tempat keluh kesah Bung Karno.

Koordinator acara sedang menunjukkan buku biografi Oei Hong Kian

 

Rumah sang dokter Bung Karno itu

 

Menara pandang di rumah bagian depan

Berbicara mengenai gaya bangunan, Bagus Priyana menilai bangunan tersebut sangatlah istimewa. Dengan ruang usaha yang terpisah (sekarang Apotek Pendowo), dahulu digunakan sebagai gudang tembakau, maka kompleks rumah ini menjadi kompleks yang ditata dengan matang. Ada satu yang lucu ketika diketahui rumah yang dibangun tahun 1934 tersebut dibangun selama empat tahun. “Kabarnya, bahwa pengerjaan pembangunan selalu telat karena ayah dari Oei Hong Kian ini bila bangun tidur selalu jam 9 pagi sehingga pekerjaan baru bisa dimulai dari jam 10” papar mas Bagus.

Lepas dari rumah Oei Hong Kian, kami menyusuri trotoar Jalan Tidar dan menuju titik selanjutnya. Berdasar jadwal, kami sekarang akan mengunjungi SMK /SMIP Wiyasa. Bagi saya, sekolah ini tentu saja sekolah yang muridnya lucu-lucu dan cantik. Hehehe. Ternyata, sekolah ini dibangun dikisaran 1911-1916 sebagai sekolah HCS – Hollandsche Chinneese School.

Selasar teras SMIP Wiyasa

 

 

Dengan gaya bangunan dilengkapi dengan kolom-kolom lengkung serta plafon yang tinggi, terasa sekali bahwa sekolah ini peninggalan era Belanda. Sembari keliling, kami mendapatkan penjelasan dari pihak sekolah dan juga mas Bagus Priyana. Tampaknya bagian belakang sudah ditambah dengan bangunan dua lantai untuk menampung siswa yang semakin banyak. Sayangnya, bangunan ini saya lihat kurang selaras dengan bangunan aslinya. Di beberapa ruangan, masih dapat dijumpai tegel asli. Satu yang special adalah tegel traso yang ada di halaman utama. Masih asli dengan desain yang unik.

 

Pada masa pemerintahan Belanda, golongan yang bisa bersekolah hanyalah golongan elit dan ningrat saja. Akhirnya karena kondisi tersebut, beberapa warga Tionghoa memutuskan untuk membuat sekolah khusus orang cina. THHK namanya. Lokasinya sekarang menjadi SMA N 3 Magelang. Dalam waktu yang singkat saja, THHK telah popular dan memiliki beberapa sekolah di beberapa kota. Melihat perkembangan tersebut, Belanda merasa khawatir hingga akhirnya dibangunlah HCS untuk kaum Tionghoa dengan pengantar bahasa Belanda. Tujuan pembangunan sekolan ini untuk meminimalkan pengaruh Tionghoa serta mendoktrinisasi paham paham Belanda kepada murid Tionghoa.

Mengunjungi Rumah Pembuatan Kue Keranjang

Hari semakin siang. Beberapa dari kami telah menghabiskan air mineral yang dibagikan di awal acara. Alhamdulillah, kami sampai di Jl Brigjend Katamso untuk mengunjungi rumah pembuatan Kue Keranjang. Sayang seribu sayang, kue keranjang sudah tidak diproduksi lagi karena sudah selesai hari Imlek. Sedianya kue ini harus dibuat sebelum hari Imlek. Tapi toh tak mengapa. Ditengah kebingungan saya di tempat luas ini, kami disambut dengan beragam makanan mulai dari minuman bersoda, kue cokelat, nasi kuning, beef steak, opor kambing, hingga es krim Bie Sing Ho.

Koordinator acara sedang berbincang dengan seorang peserta dari Malaysia

 

 

Foto bersama di Katering Sari Rasa

Tempat yang kami kunjungi sekarang ternyata merupakan Katering Sari Rasa milik saudara dari mbak Nana Listiyani, salah satu member aktif di KTM. Dan kunjungan siang ini, kami dijamu tepat saat jam makan siang. Dengan peserta yang sungguh banyak, saya pribadi mengucapkan terimakasih banyak dan mohon maaf apabila merepotkan. Semoga menjadi berkah untuk pemilik rumah. Amin😉

Pemberian kenang-kenangan.

Asal Usul Naga
Sebagaimana rute tahun lalu, point terakhir kami adalah mengunjungi rumah Koh Sandi, seniman dan maestro seni dari Magelang. Di rumahnya yang beralamat di Jalan Daha ini, kami disambut dengan ramah. Dalam kesempatan ini beliau menjelaskan tentang asal usul naga yang dalam bahasa aselinya disebut dengan Long/Liong. Pada jaman dahulu, hidup beberapa suku bangsa di lembah aliran sungai Kuning. Masing masing suku mempunyai hasil bumi dan peternakan sendiri-sendiri. Suatu ketika, maka dipersembahkanlah hasil bumi dan ternak itu kepada sang Kaisar. Terinspirasi dari hasil ternak tersebut, sang Kaisar akhirnya menggambarkan sosok naga sebagai paduan dari ikan (bersisik), kijang (bertanduk), ayam (berkaki). Penggambaran naga diibaratkan sebagaimana berkelak-keloknya sungai Kuning yang memberi penghidupan kepada masyarakat.

Koh Sandi

Koh Sandi juga meyakinkan bahwa Liong bukanlah makhluk khayalan dan mitos belaka. “salah satu buktinya adalah ditemukannya Liong dalam kondisi hidup oleh tentara amerika serikat” Ceritanya. Namun sayangnya dalam perjalanan ke AS, naga tersebut mati.

Dalam pandangan masyarakat Tionghoa dan Jawa secara umum, sosok naga adalah sosok yang memberi keselamatan dan keberkahan. Sehingga kisah tentang Naga Liong ini sampai sekarang dilestarikan salah satunya dalam seni Liong. “Siapapun boleh menanggap Liong untuk acara apa saja yang bersifat positif. Tapi nggak boleh diundang dalam rangka pembukaan pelacuran atau tempat judi. Hehehe” canda koh Sandi diikuti tawa dari para peserta.

Salah satu bukti berkah keselamatan dari sosok Naga ini adalah saat diadakannya selamatan di pantai Marina Semarang pada masa Gubernur Ismail. Lebih lanjut Koh Sandi bercerita bahwa dalam menolak balak tsunami yang akan menerjang Kota Semarang, maka diadakan ritual tarian Liong. Kemudian, Liong tersebut dibakar dan apinya membentuk Naga kemudian menyedot tsunami yang datang. “Dan sampai sekarang Semarang aman-aman saja kan?” Tutupnya. Cerita yang kurang bisa diterima nalar ini mempunyai bukti dalam foto yang di arsipkan disemua/beberapa kelenteng. Kami pun hanya bisa manggut-manggut dan berdecak kagum.

Sebelum penutupan, beberapa dari kami dipersilahkan untuk mencoba dan diajari memainkan tarian Liong, barongsai maupun mencoba memainkan alat musik pengiring.

Mas Yusuf Susilo

 

 Mas Mameth Hidayat    

 

Foto didepan kediaman Ko Sandi

 

 

Pukul 14,30 acara selesai saat kami, rombongan yang tersisa berhasil sampai kembali di halaman Kelenteng Liong Hok Bio. Acarapun ditutup dan sampai jumpa di event selanjutnya🙂

Foto-foto : pribadi, Widoyoko Magelang, Mameth Hidayat

Artikel lainnya

Djeladjah Petjinan #1
Sejarah Bioskop Magelang

 

 

Patung Dewa di depan Kelenteng

 

 

 

Papan poster film, sisa kejayaan Bioskop Kresna

saat melewati gang Lengkongsari Pecinan

 

Fotografer2😀

 

 

Foto di rumah Ko Sandi di Jalan Daha Tengkon
Editor : BP

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s