Riwayat Singkat Pendirian Kabupaten Magelang

Standard

Gubernur Jenderal Janssens menggantikan Herman Willem Daendels (1808-1811) sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Janssens pada masa pemerintahannya menghadapi kesulitan untuk memulihkan pertahanan yang belum stabil. Pada tanggal 3 Agustus 1811, Inggris yang dipimpin oleh LORD MINTO meminta agar Janssens menyerahkan Jawa kepada Inggris, tetapi di tolak sehingga terjadilah peperangan diantara keduanya.

       Lord Minto memimpin Inggris dan berhasil mengalahkan Janssens yang menyerah di Tuntang pada tanggal 17 September 1811. Hal ini di tandai dengan penandatanganan REKAPITULASI TUNTANG yang isinya bahwa Belanda menyerah dari Inggris. THOMAS STAMFORD RAFFLES akhirnya di tugaskan menjadi gubernur jenderal di Hindia Belanda.

       Saat masa pemerintahannya, Raffles mengembalikan wilayah Kedu kepada Kasultanan Jogjakarta. Pada bulan April 1812 Raffles melakukan penyerangan ke Kasultanan Jogjakarta karena Sultan Hamengkubuwono telah bersekongkol dengan Kasunanan Surakarta untuk memberontak terhadap Inggris (terkenal dengan nama Gegeran Sepoi/Sepei). Yang pada akhirnya Kasultanan Jogjakarta di paksa membayar dan menanngung beaya perang yang telah dikeluarkan oleh Inggris.

       Pada tanggal 1 Agustus 1812 Raffles merampas beberapa wilayah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta, termasuk wilayah Kedu (yang saat itu meliputi Kabupaten Magelang dan kabupaten Temanggung). Melihat begitu strategisnya Magelang yang berada ditengah-tengah Jawa, maka dipilihlah kawasan ini menjadi ibukota nagari Kabupaten Magelang oleh pemerintah Inggris saat itu. Dan pada tanggal 30 November 1813 Inggris mengangkat bupati kepatihan pada Kasultanan Jogjakarta yang bernama ALWI BIN SAID ABDAR RAHIM BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar MAS NGABEHI DANUKROMO.

       Pada masa pemerintahannya Mas Ngabehi Danukromo membangun Aloon-aloon, masjid dan rumah bupati di utara Aloon-aloon. Hal ini diperjelas dalam majalah MAGELANG VOORRUIT terbitan tahun 1936.

“Danuningrat I ( Danukromo) mendirikan rumah kabupaten (regentwoning), masjid (groote moskee) dan Aloon-aloon. Boleh dipandang sebagai yang mendirikan negeri Magelang.” (MAGELANG VOORRUIT, TENTOONSTILLINGSUITGAVE 1936)

       Pemerintahan Raffles di Hindia Belanda berlangsung tidaklah lama. Karena di Eropa terjadi perubahan politik. Dalam perjanjian London di jelaskan Belanda akan menerima kembali daerah jajahannya di Hindia Belanda yang dahulu direbut oleh Inggris.

       Penyerahan wilayah Hindia Belanda dari Inggris kepada Belanda dilakukan pada tanggal 19 Agustus 1816 di Benteng Willem I Ambarawa. Dengan Inggris diwakili oleh JOHN FENDALL sedangkan Belanda di wakili oleh BUYSKES, ELOUT dan VAN DER CAPELLEN. Maka berakhirlah kekuasaan Inggris di wilayah Hindia Belanda. dan kembalilah pemerintah kolonial Belanda.

       Meski kekuasaan Inggris sudah berakhir, tetapi Belanda mengangkat kembali Mas Ngabehi Danukromo sebagai Regent atau Bupati Magelang dengan gelar RADEN ARYO DANUNINGRAT. Pada masa bupati ini dilakukanlah pembenahan tata kota dengan membuat jalan-jalan sehingga menjadi lebar dan baik.

       Saat terjadi Perang Diponegoro (Java Oorlog, 1825-1830), Danuningrat terlibat dalam perang besar melawan pasukan Diponegoro. Saat berperang di Dimaya (Jumoyo Salam Magelang) Danuningrat meninggal, peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 September 1826.

       Untuk mengatasi kekosongan kekuasaan , pemerintah Belanda mengangkat putra Danuningrat yang bernama HAMDANI BIN ALWI BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar RAA DANUNINGRAT II. Tetapi sayang pada tahun 1862 Danuningrat II melepaskan jabatannya yang di pegang selama 36 tahun. Dan di gantikan oleh puteranya bernama SAID BIN HAMDANI BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar RT DANUNINGRAT III. Tetapi pada tahun 1878 Danuningrat III melepaskan jabatannya dan pemeritah Belanda mengangkat puteranya yang bernama SAYID ACHMAD BIN SAID BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar DANUKUSUMO.

       Pada tahun 1908 Danukusumo mengundurkan diri dari jabatannya dan digantikan oleh saudaranya yang bernama MUHAMMAD BIN SAID BACH CHAIBAN menjadi Bupati Magelang dengan gelar RAA TUMENGGUNG DANUSUGONDO yang memerintah sampai tahun 1935. Dimana Danusugondo merupakan keturunan terakhir dari trah Danuningrat yang menjadi Bupati Magelang. Danusugondo pada masa pemerintahannya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap rakyatnya.Sampai tahun 1935 Danusugondo memerintah Kabupaten Magelang dan digantikan oleh SOSRODIPROJO hingga tahun 1945.

About komunitaskotatoeamagelang

Komunitas ini merupakan kumpulan sekelompok masyarakat yang peduli keberadaan peninggalan sejarah yang ada di wilayah Magelang dan Sekitarnya. Nilai sejarah dan arsitektur yang menyimpan nilai luhur merupakan sesuatu yang bukan hanya dikenal namun tetap perlu dilestarikan... Semangat inilah yang akan terus dipunyai oleh komunitas ini

One response »

  1. Pingback: Mari Membasmi Tradisi | masyhadul

  2. Saya mau tanya…jadi awalnya wilayah magelang dulu masuk dalam wilayah kasultanan ngayogyakarta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s